PROLOGUE
XXX
Laki-laki yang masih terduduk di singgasananya tersenyum melirik pedang yang sudah diarahkan ke lehernya. Ia sempat melirik isi kerajaannya—Berantakan, hancur, dan seluruh pasukannya sudah terbunuh di tangan satu ksatria ini. Ia meringis saat melihat sebelah sayapnya sudah tergeletak di lantai aula dengan menyedihkan.
"Kau masih bisa tersenyum disaat seperti ini?" Tanya laki-laki yang sedang mengarahkan pedang kearahnya dengan nada tidak percaya. Wajahnya dipenuhi rasa kecewa, marah, dan sedih.
"Ini akan jadi saat terakhir kau melihat wajah ini, aku harus menunjukkan wajah terbaikku," Balas laki-laki yang duduk di singgasana, masih tersenyum.
"Kau—selama ini, apa semuanya palsu, yang mulia?" Laki-laki dengan baju besi dihadapannya menekan kata yang mulia. Yang dimana ini lucu, mengingat ia bukan raja yang laki-laki ini layani.
"Kau meragukanku?" Balas sang raja tenang. Si ksatria geram dan makin mendekatkan pedangnya kearah leher Raja dengan tanduk besar dikepalanya ini. Walau perawakannya kecil dan wajahnya sempurna, pria di depannya ini bukan manusia. Bukan juga mahluk bersahabat. Pria dihadapannya ini musuh abadi manusia, musuh kerajaannya dan musuh terbesar dirinya.
"Menipuku adalah kesalahan terbesar yang pernah kau lakukan. Kau harusnya merasa terhormat, karena setelah ini kepalamu akan digantung di tengah kota sebagai simbol kemenangan kerajaan kami, manusia."
"Kau melakukan ini demi kerajaamu atau melalukannya demi kau sendiri?"
Ia makin erat memegang pedangnya. "Kau terlalu banyak bicara untuk raja iblis yang gagal. Sepertinya kau tidak perlu kata-kata terakhir."
Sang raja menutup matanya. Ia tersenyum walaupun air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. "Aku menerima kekalahanku. Lagipula, aku sudah hidup terlalu lama. Yah, hidupku yang terakhir ini jadi tidak membosankan karena kau," Menghela nafasnya sejenak sang Raja melanjutkan, "Aku cuma ingin kau tahu, selama ini aku tidak pernah menipu siapapun atau berpura-pura."
Pria dihadapannya dengan wajah yang tak bisa di jelaskan sudah mengangkat pedangnya. "Aku harap di kehidupan selanjutnya, kita tidak akan pernah bertemu lagi."
"Sayang sekali, aku sangat mengharapkan itu terjadi."
"Selamat tinggal, Baekhyun."
BUK!
"Ayo hajar lagi!" Seru laki-laki didepannya, lalu pukulan itu kembali mengenai wajahnya.
Baekhyun terjatuh terduduk. Menatap bingung keadaan di sekitarnya. Ia meludah darah yang ada di mulutnya. Cepat-cepat melihat tubuhnya yang sama sekali tidak ada bekas luka tusukan atau pedang yang masih tertancap.
Ia mengusap pipinya yang kotor, tidak terasa sakit sama sekali walau dipukuli. Menatap sekumpulan laki-laki didepannya dengan terheran.
"Siapa kalian?"
Bukannya dijawab, pertanyaannya malah dibalas oleh suara tawa menggelegar.
"Hey, lihat bocah Byun ini. Sehabis dipukuli, ingatannya hilang!" Seru salah satu dari mereka. Baekhyun mengeryit melihatnya. Pakaiannya aneh. Mirip pakaian pelayan, namun ia tidak pernah melihat pakaian pelayan sejelek dan seberantakan ini. Gaya bicara dan penampilannya juga aneh.
"Sekarang dia malah melamun. Sepertinya kita harus mengobatinya dengan beberapa pukulan supaya ingatannya kembali!" Ujar laki-laki yang lain. Dengan cepat ia kembali melayangkan pukulan kepada Baekhyun, namun dengan sekejap mata ditahan oleh Baekhyun.
Baekhyun menggeram, habis kesabarannya. Ia tidak mengerti situasinya sekarang. Harusnya ia sudah mati ditangan ksatria itu. Tapi ia terbangun sedang dipukuli oleh beberapa orang dengan pakaian aneh. Baekhyun bangun dari jatuhnya, masih memegang tangan laki-laki itu dan menendang kakinya hingga terjatuh keras.
"Akkh—Gila, apa-apaan kau ini!" Seru laki-laki yang sekarang terduduk dibawahnya. Baekhyun menatapnya marah, membuat laki-laki ini terdiam membisu. Namun setelahnya berseru, "Kenapa kalian diam saja, bodoh! Cepat tahan dia!"
Orang-orang yang masih bingung dengan keadaan langsung tersentak dan berupaya mendekati Baekhyun. Namun hanya dengan tatapan mata Baekhyun, semua orang kembali terdiam, terjatuh terduduk karena ketakutan.
"Kau, manusia rendahan yang bahkan bukan tandinganku berani-beraninya menyentuhku dengan tangan kotormu. Apa kau tidak tahu siapa rajamu?" Ujar Baekhyun dengan nada marah.
Raut kebingungan langsung terukir di wajah setiap orang, namun mereka yang seakan melihat bayangan hitam besar menyelimuti Baekhyun terdiam tergagu.
"Si-si bangsat ini, akh–apa yang kau bicarakan sebenarnya. Kau sudah gila!" Ujar laki-laki yang tangannya masih ia pegang ini dengan terbata.
Kesabarannya habis, ia mencengkram wajah laki-laki dihadapannya, menatap tepat di depan matanya.
"Siapa kau?" Tanya Baekhyun sekali lagi. Matanya berubah memerah sedangkan mata laki-laki dihadapannya menghitam tidak menyisakan putih.
Baekhyun melihat dirinya sendiri di mata orang ini. Ia mengerutkan keningnya bingung. Ia seratus persen yakin orang dalam ingatan laki-laki ini dirinya. Tapi kemana tanduk, singgasana, dan rakyatnya? Ia malah melihat dirinya berpakaian sama dengan sekumpulan orang-orang ini. Memakai kacamata, tidak bertanduk, berambut hitam, membawa roti dan sebagian besar sedang dipukuli, ditendang atau dipermalukan.
Itu dirinya tapi juga bukan dirinya.
Baekhyun beralih menatap keadaan sekitarnya. Ini jelas bukan kerajaannya. Ini cuma gang sempit dekat gudang barang bekas yang biasa dipakai untuk anak-anak ini memukuli dirinya.
Tunggu, kenapa ia bisa tahu itu?
Ia langsung melepaskan cengkramannya dari wajah orang itu, menarik seluruh kekuatannya.
"Bos pingsan! Ayo cepat kabur dari sini sebelum si tukang roti itu semakin menggila!" Sekumpulan orang-orang itu, atau yang ia lihat dalam ingatannya adalah tukang tindasnya langsung lari tergopoh-gopoh menggotong orang yang katanya bos itu pergi dari hadapannya.
Kini tinggal Baekhyun sendiri. Ia langsung jatuh terduduk, keringat mengalir dari tubuhnya deras. Seluruh badannya terasa sakit. Ia menatap cermin retak yang tergeletak tidak jauh dari tempat ia duduk. Ia bisa melihat tangannya di penuhi lebam-lebam dan wajahnya penuh plester luka. Ia menatap cermin retak itu bingung. Ada pantulan pemuda ringkih, kurus, yang dipenuhi luka-luka disana. Rambutnya berantakan dan lepek hampir menutupi wajahnya. Tapi ia tahu pasti pemilik sepasang mata sipit, hidung mungil dan bibir kecil di depannya ini. Itu semua milik Lucifer ke-7, raja iblis terakhir yang nyawanya diambil secara sukarela oleh ksatria suci barusan sekali. Harusnya hari ini ia punah. Mati dan hilang. Raja iblis— Lucifer, beserta seluruh mahluknya binasa. Itulah titik terang dimana peradaban manusia mulai dibangun. Tapi kenapa, ia yang notabenenya Raja Iblis yang seharusnya sudah mati terbangun di tubuh anak kecil ringkih ini?
Tiba-tiba, ratusan memori seakan mengalir kedalam otaknya. Bagaimana ia dilahirkan, orangtuanya, teman-temannya dan seluruh kehidupannya di dunia ini terlintas. Baekhyun menggeram saat merasakan sakit kepala yang amat sangat sesaat sebelum semuanya berhenti.
Nafas Baekhyun tersengal. Ia kembali menatap pantulan dirinya yang ada di cermin. Melirik papan nama yang tersemat di bajunya—Byun Baekhyun, 2-2.
Baekhyun tertawa keras sebelum berangsur-angsur menjadi tawa frustasi.
"Astaga," Ujar Baekhyun tidak percaya. Ia menatap kedua tangan kecil dan lembut ini. Tidak percaya kedua tangan ini miliknya.
Baekhyun memejamkan matanya, mengusap wajahnya kasar. Ia, Byun Baekhyun. Umurnya enam belas tahun. Tahun kedua di SMA Ilsin. Orangtuanya membuka restoran ayam goreng di lantai bawah rumahnya. Ayah dan ibunya pekerja keras dan sangat menyayanginya. Baekhyun sendiri anak biasa. Ia tidak pandai dalam belajar, tidak jago olahraga dan tidak memiliki bakat spesial apapun kecuali membaca komik. Reputasinya sangat buruk di sekolah. Satu sekolah menyebutnya tukang roti, karena ia sering bolak-balik membelikkan roti atau makanan lainnya kepada para preman sekolah. Ia juga sering dipukuli, di bentak, dan dipermalukan oleh para preman sekolah. Tapi orangtuanya tidak mengetahui itu karena dirinya diancam oleh para preman, jika ia cerita mereka akan datang ke restoran ayam mereka.
Hari ini, tepat di hari pertama masuk sekolah, Baekhyun baru saja dipukuli dan ditendangi sebagai ritual masuk sekolah.
Harusnya, yang berada disini adalah Byun Baekhyun si pecundang tukang roti. Bukan Baek Cifer Blue, Keturunan terakhir Lucifer, Raja Iblis ketujuh yang seharusnya sudah mati ditangan ksatria suci.
Suasana lenggang sesaat. Baekhyun mendongak, menatap langit biru yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Juga burung gereja kecil yang terbang diatasnya. Suara bel sekolah terdengar nyaring diriingi suara riuh orang-orang satu sekolahnya.
Ia kembali menatap cermin rusak di sampingnya. Seragamnya kotor, wajahnya babak belur, rambutnya berantakan, dan ada kacamata tebal menempel diwajahnya.
Ia menarik nafasnya dalam. Bertanya pada pantulan dirinya sendiri.
"Sekarang apa?"
XXX
hmmmm apani, sok ngide banget bikin yang kayak gini tapi karena takut lupa tulis aja deh! Intinya tentang Baekhyun si raja iblis yang renkarnasi jd anak cupu x chanyeol yang belum ketuan dia apa dan siapa wkwk
Adios! Chanpawpaw.
