Normal POV
Kisah ini akan dimulai dengan malam sebagai suasana.
Udara dapat terasa melalui ruangan akibat jendela yang masih terbuka lebar. Tirai putih bergerak pelan, mengikuti arah angin menuju selatan. Kegelapan terkesan berkuasa, mengingat lampu yang ada terlihat dimatikan. Meja yang berada di tengah-tengah telah berisikan camilan dengan remah berantakan, kaleng soda yang menggelinding hingga mengenai sudut kamar, serta ponsel hitam yang tiba-tiba menyala karena terisi penuh oleh aliran listrik yang menguasai setiap sudut rumah.
Naruto Uzumaki adalah manusia yang memiliki status sebagai penghuni, sedang tertidur dengan posisi menyamping. Kedua mata tertutup damai, memberikan hipotesis bahwa dirinya masih berada di dalam dunia mimpi. Bibir terbuka, menciptakan dengkuran yang terkesan tidak nyaman untuk didengar. Kaus biru tampak tersibak karena tangannya sibuk menggaruk perut akibat digigit oleh hewan kecil yang menyukai darah.
Getaran pada ponsel menjadi salah satu alasan mengapa iris biru perlahan terlihat. Kegelapan adalah hal pertama yang menjadi tujuan, mengingat dirinya baru saja terbangun dari sebuah mimpi indah. Ia mengerjap, mencoba untuk menarik nyawa yang masih menyebar. Udara malam tidak membuat pemuda itu menggigil. Ia hanya heran karena waktu berputar begitu cepat dan tidak memberikan kesempatan untuk kembali terjun ke dalam dunia penuh imajinasi.
Naruto pun bangkit, mencoba untuk bertapa dalam waktu beberapa detik. Ia tertidur karena terlalu banyak bermain dengan teman-temannya saat siang hari. Ini adalah musim panas, suasana yang cocok untuk memacu daya tahan. Ia menyukai olahraga; sepak bola adalah salah satu hal yang membuat dirinya bahagia. Kiba mengajaknya untuk bermain bersama, mengingat Sasuke Uchiha, salah satu anak dari lingkungan tetangga, akan pindah ke luar kota bulan depan. Naruto tidak pernah peduli dengan Sasuke, mengingat dia selalu mendapat perhatian dari para perempuan saat mereka berada di sekolah untuk menuntut ilmu. Ia lebih fokus pada permainan mereka yang dapat membuat bocah pantat ayam itu merasa malu.
Jika Sasuke Uchiha adalah pemuda yang cerdas dalam logika dan pelajaran, maka Naruto Uzumaki adalah sosok yang dapat melawannya menggunakan tenaga serta keterampilan.
Naruto menguap begitu lebar, merenungi nasib karena tidak bisa melanjutkan tidur akibat perut yang berbunyi. Ia menyalakan lampu dan menatap datar kamarnya yang seperti kapal pecah; dipenuhi oleh kotoran hingga debu di setiap sudut kamar. Ia membereskan meja, membuang sampah ke tempatnya, menyusun komik tentang pahlawan botak yang menyukai diskonan, hingga meletakkan tas sekolah di samping lampu meja. Ia melakukan pemanasan sebentar, mengambil bola sepak yang terletak di sebelah lemari pakaian; memainkannya dengan kaki serta menyundul menggunakan kepala.
Naruto berhenti saat perut kembali berbunyi. Ia menggerutu, bingung mengapa kesenangannya diganggu oleh sesuatu yang tidak bersifat ambigu.
"Aku lapar," Ia berucap, entah kepada siapa. "Ibu masak apa, ya?"
Naruto menendang bola tersebut dengan pelan hingga mengenai tembok kamar. Ia membuka pintu untuk mengecek menu makan malam yang telah sang ibu siapkan.
.
.
.
FRIDAY NIGHT
Naruto by Masashi Kishimoto
Friday Night by stillewolfie
Naruto U. & Kushina U.
OOC, Alternate Universe, Typos, etc.
.
.
Dedicated for Stay at Home FanFiction Challenge by Kaizumi Ayame on 2020
.
.
Naruto menuruni tangga dengan wajah terheran. Ia segera menyalakan lampu depan dan ruang tengah saat tahu bahwa dua ruangan itu terlihat gelap. Ia berkeliling, mencari salah satu objek yang menjadi tujuan untuk saat ini.
"Ibu?"
"Ada apa, Naruto?"
Naruto mengerjap. Ia pun segera mengikuti dari mana arah suara tersebut berada. Ia menemukan Kushina Uzumaki, sang ibu, membelakanginya, tampak menuangkan sesuatu dari atas kompor yang menyala; harum masakan dapat tercium ke segala tempat. Ia memasuki dapur dan mengintip dari pundak Kushina. "Ibu masak apa?"
"Tempura dan sup miso, Sayang." Kushina menjawab. Uap dari sup terlihat menutupi wajahnya yang masih muda. "Duduklah. Ibu akan menuangkan ini sebentar."
Naruto merengut. "Aku ingin ramen."
"Tidak ada ramen untuk malam ini."
Pemuda berusia lima belas tahun hanya bisa menggembungkan pipi. Ia sadar bahwa mengonsumsi makanan instan hampir setiap hari merupakan hal yang tidak baik, namun rasa gurih serta lezat itu tidak dapat dipungkiri. Naruto hanya bisa menuruti, pergi ke meja makan dan menopang dagu, menatap punggung Kushina yang begitu ramping dan kecil.
"Ibu," Naruto memanggil lagi. "Kapan Ayah pulang?"
"Hmm," Kushina telah selesai menuangkan sup ke dalam mangkuk besar, meletakkan makanan tersebut di atas meja. Ia berbalik lagi, menyiapkan nasi untuk mereka berdua. "Ibu tidak tahu. Lembur lagi, mungkin?"
"Hari ini ada pertandingan sepak bola. Ayah sudah berjanji untuk menontonnya bersamaku."
"Ayahmu sedang bekerja, Sayang. Kita tidak bisa mengganggunya hanya karena masalah sepele seperti itu."
Naruto melihat Kushina yang hanya mampu tersenyum maklum. Ia mengalihkan pandangan, mengerutkan alis; tampak tidak suka. "Apa sih asyiknya bekerja? Aku bingung kenapa semua orang ingin bekerja setelah lulus dari sekolah."
Kushina meletakkan satu mangkuk nasi di depan Naruto. Ia pun duduk di seberang sang anak tunggal, mengambil lauk. "Kau pun juga harus melakukannya, Naruto. Itulah hukum alam. Bekerja bisa membuat kita bertahan hidup."
"Aku tidak ingin bekerja," Naruto mengambil dua tempura sekaligus, menggigitnya tanpa rasa malu. "Aku akan menjadi pemain sepak bola yang terkenal. Aku tidak ingin seperti Ayah yang duduk di tempat yang sama terus-menerus."
"…itu termasuk bekerja, Sayang." Kushina terkekeh. Ia mendorong satu mangkuk sup miso ke arah Naruto, agar anaknya itu mendapat asupan nutrisi yang cukup. "—tapi di bidang olahraga. Naruto ingin menjadi bintang sepak bola, berbeda dengan Ayah yang lebih suka bekerja sebagai pegawai kantoran."
"Huh, tetap saja berbeda."
Kushina pun menatap Naruto yang sibuk melahap makanan yang telah dimasak. Wanita itu tertawa pelan. "Jadi, bagaimana?"
"Apanya?"
"Sasuke-kun," Naruto terdiam, menghentikan kunyahan. Ia menggigit ujung sumpit dengan wajah terheran-heran. "Kapan akan pindah?"
Naruto mengerjap; sekali, dua kali. "Minggu depan, mungkin." Ia berkata. Entah mengapa, ada sirat keraguan di sana. "Aku sudah bertemu dengannya siang ini. Tetap saja, dia sombong sekali."
"Meski sombong begitu, dia tetap temanmu." Kushina menjawab, ia meletakkan mangkuk miso yang telah dicicipi. "Kau harus menjenguknya sekali-kali. Tidak ada salahnya kalau untuk terus berteman, 'kan?"
"Tidak mau," Naruto menjawab, spontan. "Dia sudah merebut Sakura-chan dariku, Bu. Dia itu hanya lelaki bodoh yang unggul dari wajahnya saja."
"Dari awal Sakura-chan memang bukan milikmu." Naruto membeku seketika. Ia tidak bisa mengelak karena perkataan tersebut memang benar.
Naruto tidak menjawab celetukan Kushina. Mereka berfokus pada makanan yang ada di atas meja. Sesekali, Kushina menceritakan hal yang membuat anak itu tertawa, bercanda mengenai hal-hal tidak penting yang pernah dilakukan sang ibu saat berada di universitas. Naruto mengangguk-angguk ceria, menerima celotehan Kushina meski cerita tersebut tidak memiliki moral.
"Bagaimana makanannya? Enak?"
"Hmph! Sangat enak!" Naruto menyeruput sup untuk terakhir kali. Ia meneguk air sebagai penutup untuk makan malam pada hari ini. "Terima kasih atas makanannya!"
Naruto segera berdiri, meninggalkan Kushina tanpa sepatah kata. Ia menaiki tangga begitu cepat, mengabaikan teriakan sang ibu untuk mencuci piring secara bersama-sama. Pemuda itu mengabaikannya dan memilih memasuki kamar, terdiam dengan tubuh mematung di depan pintu, membeku seperti merasakan sesuatu.
— sekedar perasaan, dirinya tidak percaya dengan segala hal yang bersifat astral.
Naruto pun terkekeh tanpa alasan. Tidak mungkin, 'kan?
Ia segera mengambil bola sepak dan kembali bermain secara individual; menendang, menggiring, menyundul, dan melakukan mengontrol bola itu dengan hebat. Pemuda itu melakukan berbagai hal untuk menghilangkan firasat itu. Perlahan, dirinya mulai fokus dengan dunia masa depan yang terlihat cemerlang hingga getaran ponsel membuatnya langsung merengut tidak jelas.
Naruto berhenti bermain. Ia mendekati meja, membuka dua pesan yang belum dibuka.
— seketika, ia sadar bahwa keganjalan tadi bukanlah perasaan semata.
Naruto segera bergegas. Ia mengambil ponsel dan keluar dari kamar. Ia menuruni tangga seperti orang kesetanan, hampir terjatuh saat melewati ruang tengah. Ia pun hampir sampai ke pintu depan sebelum suara seseorang terdengar ke telinga.
"Naruto," Yang dimaksud terdiam, melirik dengan napas memburu. "Mau ke mana malam-malam begini?"
Kushina mengintip dari celah dapur. Ia melihat anaknya yang tampak terdiam bingung. "Kau kenapa, sih? Ada yang ingin disampaikan pada ibu—"
"Maaf, tapi aku harus pergi!" Naruto kembali berlari dan mengambil sepatu, memakainya buru-buru. "Aku—em, mau ke tempat Sasuke, Bu! Dia mengadakan pesta dadakan! Ya! Pesta dadakan, hehehe—" Ia terkekeh bodoh. "Aku pergi dulu—"
Naruto membuka pintu, namun bisikan pada telinga mampu membuat dirinya seketika mematung.
"Ingin ke tempat Sasuke—" Iris biru membulat tanpa diperintah; keterkejutan, ketakutan, kecemasan. "—atau karena sudah tahu?"
Naruto tidak berani menjawab. Ia lebih memilih untuk berlari kencang agar bisa keluar dari keanehan yang mencekam.
.
.
ended
.
.
.
.
omake
.
.
05/08/19 – 18.27
Ibu: Naruto, Ibu mendadak ada urusan. Ibu harus pergi karena Bibi Mito mengalami kecelakaan. Nanti masak sendiri, ya. Ada ramen di dalam kulkas. Ingat, jangan lupa sayuran! Ibu mencintaimu, Sayang.
05/08/19 – 20.01
Ibu: Ibu cemas karena kau tidak menjawab, Nak. Apa ada masalah? Masih tidur? Jangan kebanyakan tidur, Sayang. Nanti Ibu takut kau malah bermain game semalaman. Oh, jangan lupa untuk ke rumah sakit, ya. Bibi Mito merindukanmu, lho. Ayah sudah sampai lebih dulu, kebetulan hari ini dia diberikan jatah pulang lebih cepat, hehe. Ibu yakin kau masih punya uang untuk naik kereta, 'kan? Hati-hati, ya. Ibu mencintaimu.
...
Tanpa melihat dua pesan tersebut, Naruto memang sudah tahu.
"Sialan! Beraninya dia menyamar jadi ibuku!"
— bahwa wanita tadi bukanlah sang ibu.
Ia meneguk ludah. Lalu, yang tadi itu siapa?
.
.
A/N: saya tahu ini nggak serem.
mind to review?
