Little blue

By : Ohirabo

Warning : AU, boyxboy, Yaoi, Typo (s), NC.

Pairing : ChanBaek. Hunbaek.

Chapter 3

.

.

.

.

"Chanyeol?"

Sebuah panggilan membuat Chanyeol berbalik dan mendapatkan Suho sedang disana menatapnya tak percaya.

Bagaimana tak percaya, seorang Chanyeol melalukan hal heroik semacam menolong seorang maid bahkan dengan santainya menyiram vodka keatas kepala penerus Oh. Yang notabene adalah majikan dari maid yang di tolong Chanyeol.

Suho mendekat ke arah dua pria yang memiliki tinggi diatas rata-rata itu. Melirik sekilas kepada pria mungil yang masih sibuk mengelap air matanya.

"Sehun-ssi, maafkan kelakuan Chanyeol..." Suho berkata dan mendapatkan tatapan tak suka dari Chanyeol di sebelahnya. Mungkin karena merasa tak mendapat dukungan dari satu-satunya orang yang ia kenal di sana. "...tapi kau pantas mendapatkannya." Dan sebuah seringai mengejek yang sangat jarang bahkan tak pernah ditunjukan Suho.

Chanyeol di sebelahnya menatap takjub oleh perkataan dokter muda itu. Biasanya Suho hyung hanya dapat tertawa oleh lelucon tak lucu tapi sekarang Suho dapat mengatakan kata-kata pedas itu.

"Aku sering datang ke pestamu karena kau menggundangku..." Langkah Suho mendekat kearah Sehun dan Chanyeol hanya melihat bagaimana wajah kaku Suho terlihat menyeramkan. "Tapi kelakuanmu padanya..." Suho menunjuk kearah Baekhyun dengan dagu yang sedikit terangkat. "...sudah keterlaluan."

Chanyeol masih berdiri disana dan sesekali melirik pria berkemeja baby blue itu dengan ekor matanya. Hidung yang memerah karena sehabis menangis dan mata anak anjing yang berkaca-kaca membawa perasaan aneh menggelitik perut.

"Terimakasih telah menggundangku dan sukses untuk perusahaanmu Sehun-ssi"

Itu adalah kata-kata terakhir Suho sebelum melangkah meninggalkan pesta bersama Chanyeol di sebelahnya.

"Chanyeol apa kau mendengarkanku?"

Lamunan Chanyeol dibuyarkan oleh sebuah pertanyaan kelewat berisik dari sekretaris yang sedang duduk didepan kemudi.

"Iya , aku mendengarkanmu hyung..."

Luhan disana sedang memutar bola matanya malas, kelakuan adik sepupunya sering membuat ia naik darah dan bisa-bisa Luhan mengalami stroke di usia muda. Karena harus mengurus Chanyeol yang jiwanya sekarang entah sedang jalan-jalan kemana.

"Jika kau mendengarkanku, jawab pertanyaanku!!"

"Apa?" Sebuah pertanyaan polos dilontarkan adik sepupu yang merangkap menjadi atasan. Ingin rasanya Luhan menabrakan mobil yang sedang ia kendarai. Sebelum Luhan berpikir dia masih cukup muda untuk mati. Menikah saja belum.

"Meeting- Hah, sudah lah kau tak akan mendengarkanku..." Pada akhirnya Luhan yang menyerah. Menarik nafasnya untuk meredakan amarahnya. "...jadi apa yang sedang kau pikirkan?" Luhan mengganti pertanyaannya melihat bagaimana minat Chanyeol terhadap hal tentang pekerjaan hari ini.

Satu menit terlewatkan tanpa adanya jawaban dari seseorang yang sedang duduk di jok belakang, Luhan melirik ke kaca spion dan menemukan Chanyeol masih setia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

"Apa kau memikirkan kejadian seminggu lalu?" Hanya menebak dan melihat bagaimana Chanyeol menghela nafasnya, Luhan tau itu benar.

"Kenapa kau memaksaku ke pesta itu?" Bukan menjawab Chanyeol malah balik bertanya kepada Luhan yang masih sibuk dengan jalanan di depannya.

Cukup aneh melihat Luhan hyung yang terlalu keras memaksa Chanyeol untuk datang ke pesta itu. Karena bisanya Luhan yang akan menghadiri dengan senang hati. Mendapat minuman gratis itu adalah kesukaan Luhan sebenarnya.

"Kau diundang?!" Luhan mengangkat bahunya dan sedikit ragu terdengar dari jawaban yang ia ucapkan.

"Kau tau, bukan itu masudku!" Chanyeol beralih menatap pantulan Luhan dari kaca spion dan menemukan Luhan juga sedang melirik kerahnya.

"Baiklah..." Luhan mulai dengan pedal gas yang di injak pelan melajukan mobil setalah berhenti karena lampu merah. "Agar kau melihatnya..."

"Baekhyun masudmu?" Masih dalam minat yang besar Chanyeol bahkan terus menatap Luhan dan menuntut jawaban dari kakak sepupunya itu.

"Iya, Baekhyun pria malang itu..." Mata Luhan masih fokus menatap jalanan dan berbelok didekat persimpangan menuju kantor. "Tahun lalu aku yang ke acara lauching perusahaan Sehun, karena kau masih di inggris untuk gelar mastermu."

Chanyeol belum menanggapi apapun, masih menatap kakak sepupunya yang masih dalam konsentarsi dalam mengemudi. Tarikan nafas terdengar, sebelum Luhan kembali berbicara.

"Sehun tak nampak senang, melihatku yang hanya seorang sekretasris hadir untuk mewakili perusahaan. Aku berpikir dia merasa terhina, karena aku masih ingat senyum terpaksanya yang-sungguh menyebalkan itu."

Genggaman pada stir kemudi mengerat dan Chanyeol tau bagaimana kakak sepupunya itu sedang kesal. Biasanya Luhan jarang terlihat kesal oleh apapun kecuali dirinya. Luhan dengan pembawaan tenang itu bahkan mampu menghentikan aksi demo ratusan karyawan yang menuntut kenaikan gaji di China beberapa bulan lalu dengan kata sepakat.

"Kau terlihat kesal hyung?!" Hanya basa-basi, siapa saja yang melihat Luhan pasti tau dia sedang kesal.

"Kau tau aku kesal!" Luhan sedikit membentak di awal kalimat. "Tahun lalu Baekhyun juga disana. Menunduk dibelakang Sehun, awalnya aku tak peduli karena ku pikir dia salah satu dari karyawan perusahaan Sehun bukan maidnya." Luhan menginjak remnya saat sudah berada di depan pintu masuk lobi. Tapi belum ada niat dari dua orang di dalam mobil itu untuk keluar. "Aku merasa tak nyaman dan cukup kesal oleh senyum palsu penerus Oh itu sampai aku memutuskan pergi setengah jam setelah aku sampai!"

Luhan bersandar pada kursi di belakangnya, matanya masih menatap lurus kedepan seperti mengingat sebuah kejadian. "Tapi aku tak langsung pergi, aku ke toilet dulu sebelum keparkiran. Dan tau apa yang aku lihat disana?" Luhan melirik Chanyeol dengan ekor matanya, membuat otak Chanyeol menerka-nerka kelanjutan dari hyungnya ini.

Chanyeol tak bertanya, hanya mendegarkan bagaimana kelanjutan dari cerita hyungnya itu.

"Baekhyun yang diseret di basment parkir! Yang membuatku marah bukan itu saja, melainkan orang-orang disana tampak diam dan malah tertawa melihat Baekhyun di seret dengan pakian compang campingnya."

"Aku ingin membantu, tapi Suho mecegah ku..."

Chanyeol menatap keluar jendela, perkataan Luhan hyung seminggu yang lalu masih memenuhi pikirannya. Tentang Baekhyun dan kejadian setahun lalu.

Wajah Baekhyun yang memerah karena menangis menganggu tidurnya. Chanyeol resah entah karena apa.

Semua terasa aneh karena kenapa dia harus peduli? Pikiran itu juga menginfasi otaknya saling tumpang tindih mencari jawabannya sendiri.

Chanyeol memejamkan matanya lalu membawa tangan untuk memijit pelipis yang terasa sakit setelah rapat setengah jam yang lalu.

Bahkan sekarang ia bisa melihat Baekhyun sedang berjalan di atas trotoar dengan bungkusan plastik ditangan.

Tunggu?

Baekhyun?

"Berhenti!" Chanyeol bahkan sedikit berteriak dengan suara bass yang dia miliki. Menyentak sang sopir yang sedang berkonsentrasi pada jalanan.

Mobil di tepikan.

Chanyeol keluar dari mobil dan menemukan Baekhyun yang berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya yang kaget tak dapat di sembunyikan. Tapi Baekhyun merubah ekspresinya dengan cepat.

"B-baekhyun?" Chanyeol memulai memastikan orang di depannya ini memang orang yang sama yang hampir dua minggu ini menginfasi otaknya.

"H-hai?!" Suara terbata terdengar, dan wajah kelewat datar terlihat.

Untuk pertama kalinya Chanyeol mendengar Baekhyun barkata. Suara lembut meski terbata tapi Chanyeol menyukainya.

"Kau diluar?" Adalah pertanyaan pertama yang keluar setelah Chanyeol mengajak Baekhyun untuk duduk di bangku taman dekat jalan raya tadi.

Panjang bangku sekitar satu setengah meter, dan mereka duduk di setiap ujung menyisakan jarak yang terlampau lebar.

"Kau pikir aku tak boleh keluar?"

Chanyeol itu paling tak suka saat bertanya dan dijawab dengan tanya juga. Biasanya Chanyeol akan kesal karena hal itu tapi kenapa Baekhyun sedikit berbeda? Padahal Baekhyun menjawab Chanyeol dengan nada ketus yang kentara. Jadi Chanyeol merubah pertanyaannya saat melihat dua tumpuk buku senior High School di tas plastik yang Baekhyun bawa.

"Itu apa?" Chanyeol menunjuk tas plastik di sebelah Baekhyun.

"Hanya buku..." Baekhyun bergumam. Dan seketika mengambil buku itu, memeluk setelahnya.

Melihat bagaimana respon Baekhyun, Chanyeol kehabisan akal untuk bertanya lagi. Ia tak begitu mengenal Baekhyun hanya tau tentang dia adalah maid Sehun.

"Kita belum berkenalan. Perkenalkan aku Park Chanyeol..." Chanyeol memulai lagi dengan nada santai dan tangan yang terjulur.

Baekhyun hanya memandang tangan itu dengan tatapan yang bergetar meski wajahnya masih kelewat datar.

Lama tak mendapat respon Chanyeol seperti terabaikan. Juluran tangannya belum mendapat balasan.

"Aku Byun Baekhyun..." Baekhyun berkata dengan suara kecilnya dan dengan tangan yang masih memeluk tas plastik berisi buku itu. "Kotor..." Baekhyun bergumam.

Meski gumama Baekhyun cukup kecil tapi Chanyeol dapat mendengarnya. Kotor katanya. Oke sekarang Chanyeol merasa terhina oleh perkataan Baekhyun yang barusan. Jabatan tangan yang tak dibalas tak apa. Tapi apa-apaan dengan kata KOTOR itu! Tangan Chanyeol tak kotor dan pakian yang di kenakan juga bersih apa yang kotor?! Wajah Chanyeol sudah hampir merah karena amarah. Penghinaan Baekhyun itu tak dapat diterima oleh ego Chanyeol. Sebelum Chanyeol ingin beranjak pergi.

"A-aku kotor..." Katanya lagi.

Chanyeol menoleh seketika. Perasaan marahnya menguap entah kemana.

"Aku kotor!" Ulang Baekhyun lagi dengan nada yang sedikit gemetar. "K-kau tak pantas menyentuhku! Aku kotor..."

"O-oke... Kalau kau tak mau di sentuh..." Chanyeol dengan nada menenangkan dan sebuah senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.

Chanyeol tau yang di maksud kotor itu adalah tentang Baekhyun yang mungkin merasa kotor karena menjadi budak sex seorang Oh Sehun. Tapi sebenarnya itu tak masalah bagi Chanyeol, karena bisanya Chanyeol tak terlalu memilih untuk mencari seorang teman asalkan mereka tidak berpura-pura sudah cukup untuknya.

Keheningan terjadi setelah itu, baik Chanyeol maupun Baekhyun tak ada yang memulai percakapan. Baekhyun yang sibuk menunduk dan Chanyeol yang sibuk menatap Baekhyun sedari tadi.

Tubuh Baekhyun di selimuti oleh baju kaos kebesaran berwana putih tulang terlihat lusuh. Celana jeans hitam dan sebuah topi merah menjadi pelengkapnya. Baekhyun tampak mungil dengan pakian yang di ia kenakan.

Ini adalah jarak terdekatnya dengan Baekhyun. Chanyeol juga dapat melihat bekas luka membiru di dekat siku Baekhyun. Jadi Chanyeol memberanikan diri untuk bertanya.

"Apa Sehun yang melakukan itu?"

Baekhyun menoleh dan refleks menarik lengan kaos untuk menutupi luka itu membuat buku di tas plastik terjatuh ke tanah.

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya, mendekat untuk membantu Baekhyun mengambil buku-bukunya yang terjatuh.

"Jangan!" Baekhyun berteriak yang berhasil membuat Chanyeol terkejut ditempatnya.

Melihat bagaimana ekspresi Chanyeol, Baekhyun mundur selangkah-menjauh. "M-maaf... M-maaf maafkan saya..." Baekhyun berkata sambil menunduk meminta maaf dengan buku yang sedikit kotor karena debu, dipelukannya.

"Tak apa...tenanglah...duduklah kembali..." Chanyeol berkata lagi dengan senyum yang sama menenangkan.

"Maafkan saya tuan. Maaf..." Baekhyun masih ditempat menunduk dengan tubuh yang gemetar.

Ingin rasanya Chanyeol untuk mendekat dan memberikan Baekhyun kekuatan, tapi Chanyeol harus dapat menahannya jika tak ingin semua menjadi jauh lebih buruk.

"Panggil aku Chanyeol dan aku akan memaafkanmu..." Jadi Chanyeol mengambil jalan tengah. Tetap di tempatnya dan memperhatikan Baekhyun yang perlahan-lahan mulai tenang.

Meskipun tubuh Baekhyun tak gemetar lagi dan Chanyeol menyimpulkan jika Baekhyun sudah tenang sekarang tapi belum kembali duduk ditempatnya.

Chanyeol memperhatikan tangan Baekhyun yang mulai meraba-raba saku celana seakan mencari sesuatu dan sebuah handphone flip sekarang berada ditangannya.

"Aku harus pergi..." Baekhyun berkata yang membuatnya refleks menoleh ke arah Chanyeol dan menemukan Chanyeol yang juga sedang menatap ke arahnya . Detik itu juga Baekhyun kembali menunduk dan memasukan handphone flip warna abu-abu itu ke saku celana.

Chanyeol berdiri dari duduknya, tak ingin mencengah Baekhyun untuk pergi karena Chanyeol tak ingin membuat Baekhyun kena masalah karena kembali terlambat.

Jarak mereka sekitar dua meter saat Chanyeol berkata "tunggu" dan Baekhyun yang berkata "terimakasih" secara bersamaan.

"Terimakasih..." Baekhyun berkata terlebih dulu. "...karena telah menolongku saat itu." Masih dengan menunduk seakan sepatu yang dikenakannya lebih menarik dari pada lawan bicara di depannya.

Chanyeol tak berkata apapun karena masih sibuk memperhatikan Baekhyun yang mulai berbalik dan melangkah menjauh. Kata-kata yang ingin disampaikan Chanyeol lenyap entah kemana saat memperhatikan rambut coklat lembut itu tertiup angin sore. Chanyeol tak pernah seperti ini, tak ada yang pernah mengacaukan konsentrasinya selama ini. Itu sebelum ia bertemu dengan pria berkemeja baby blue dua minggu lalu.

Chanyeol ingin bertemu Baekhyun lagi. Tapi Chanyeol tak tau bagaimana cara untuk meminta Baekhyun meluangkan waktu untuk bertemu dengannya.

Chanyeol menunduk merutuki bagaimana pengecutnya dia. Sebelum sebuah suara lembuat berkata.

"S-setiap hari kamis jam 3 sore, aku bisa keluar..."

Bersambung...

A/n : sinetron ya sinetron. Ngebosenin ya.

Kenapa hari kamis? Soalnya hari rabu tingkat stres tertinggi jadi orang-orang akan terlihat jelek dihari itu. Sedangkan hari jumat tingkat stres yang kecil jadi orang-orang akan terlihat cantik/tampan di hari itu. Karena kamis berada ditengah antara rabu dan jumat membuat orang akan terlihat mempesona di hari itu. :v /apasih/

Gimana lihat Chanyeol nyamperin Baekhyun bawa-bawa starbak :v

Pacarable banget cy ya, beruntung bat kamu baek. :x

Big thanks to:

Velina kwon, milkybaek, MadeDyahD, Chusnul ChanBaekshipp, Fatihah Kim, mikaanggra, neomuchanbaek, xiaobee97, yuucchin, mamamiyeol, lily.kurniati.77, babebaekhyun, greenlight1208, ByunBaekkiehyun, whitebeaver, berrybyun, brinabaek, newbee3595, nurfadillah, guest, Park chan2, pcrpcy.

Ohi -_-)v