Little blue

By : Ohirabo

Warning : AU, boyxboy, Yaoi, Typo (s), NC.

Pairing : ChanBaek. Hunbaek.

Chapter 6


Ini hari kamis, Baekhyun pulang lebih awal. Karena biasanya ia akan menghabiskan waktu sorenya berbicara dengan Chanyeol di taman. Membahas tentang novel-novel yang mengagumkan.

Chanyeol adalah pencerita yang handal menurut Baekhyun, karena setiap Chanyeol bercerita entah mengapa cerita itu menjadi begitu nyata, begitu tak dapat di lupakan. Novel favorite Chanyeol adalah harry potter yang bercerita tentang sekolah penyihir dengan tiga orang sahabat yang memiliki latar berbeda. Jadi Baekhyun di buatnya juga memiliki keinginan ingin menjadi penyihir dan memiliki sahabat seperti si pintar Harmione dan si rambut merah Ronald Weasley.

Begitu hebatnya Chanyeol di mata Baekhyun sampai membuat Baekhyun tersenyum sepanjang hari.

"Baekhyun..."

Suara lembut menyapa, menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. "Ada apa pak Lee?"

"Kemarilah.."

Baekhyun melangkah mengikuti langkah pak Lee ke Taman belakang. Baekhyun tak bertanya dan Pak Lee juga tidak mengatakan apapun saat tibalah Baekhyun di dekat gazebo sebelah kolam renang. Disana telah berdiri beberapa orang maid yang Baekhyun kenal betul.

"Selamat ulang tahun Baekhyun!!"

Mereka berucap serempak, membuat Baekhyun yang melihat itu hanya bisa berdiri kaku. Otaknya belum bisa merespon apa yang terjadi. Ini terlalu tiba-tiba dan sangat membahagikan.

Satu tetes air mata bahagia jatuh saat teman-teman maid disana memeluknya dan mengucapkan 'selamat ulang tahun' yang begitu membahagiakan.

"Te-terima kasih semua" Baekhyun masih menangis yang membuat suaranya sedikit serak.

"Baekhyun berhentilah menangis! Kemari, tiup lilin mu sebelum kuenya terkena tetesan lilin." Itu seruan dari salah satu maid yang ada disana.

Baekhyun mendekat ke arah kue yang berisi dua puluh satu lilin yang sedang menyala.

Baekhyun tersenyum saat berdoa sebelum meniup semua lilin.

Semua yang berada disana ikut berdoa, doa yang sama "Semoga Baekhyun bisa terbebas dari neraka dunianya."

"Lebih banyak tersenyumlah Baekhyun, karena setiap masalah pasti ada titik akhirnya. Dan berdoalah jika itu adalah kebahagiaan." Pak Lee berkata samabil menyerahkan sebungkus hadiah dengan kertas kado berwarna beby blue. "Hadiah dari kita semua untuk mu, semoga kau menyukainya."

Baekhyun mengangguk cepat, sambil berucap terimakasih terus menerus.

Terlihat tidak sabaran saat membuka hadiah yang diberikan teman-teman maidnya. Yang membuat semua orang disana itu tertawa melihat betapa menggemaskannya tingkah Baekhyun.

Kadang kala mereka berpikir apa yang membuat tuan muda Oh sangat membenci Baekhyun? Padahal anak ini begitu menggemaskan dan sangat polos.

"Wowohhah ini sebuah tas!" Baekhyun berteriak saking semangatnya saat mendapatkan sebuah tas sebagai hadiah. "Aku akan memakainya saat berangkat belajar nanti!!"

Acara itu terkesan sederhana, hanya ada sebuah kue tar , sup rumput laut dan beberapa makan kecil. Mereka semua menikmati sajian itu terutama Baekhyun yang terus menerus tersenyum bahagia.

Malam itu adalah malam yang indah sampai Baekhyun tak ingin datangnya mentari besok pagi.

Karena mungkin sebuah badai telah menunggu untuk mengamuk.


"Baekhyun tolong tata alat makannya..." Pak Lee memerintah karena tuan muda Oh akan makan siang di rumah hari ini.

"Baik pak Lee."

Baekhyun melalukan sigap, membersihan dan menata sendok dan garpu dengan rapi. Memastikan tidak ada kesalahan dalam menata. Dia tak ingin itu menjadi alasan Sehun untuk menyiksa Baekhyun.

Setelah itu Baekhyun ikut membersihkan dapur setalah para Chef keluarga Oh, menyelesaikan masakan mereka.

"Istirahatlah dulu, sebelum tuan muda datang." Salah satu maid memberitahu.

Baekhyun mengangguk sambil berjalan keluar dari arah dapur. Baekhyun mengambil hp flipnya ingin memeriksa apa ada pesan dari Chanyeol karena sedari tadi hpnya terus bergetar.

Baekhyun terkekeh kecil saat membaca pesan yang di kirim Chanyeol. Tentang mengapa dia tak membalas pesannya Chanyeol dan kata-kata khawatir yang menjadi pesan spam.

Belum Baekhyun dapat mengetik balasan hp flipnya telah berpindah tangan.

Sehun berdiri didepan Baekhyun sambil membaca pesan yang ada di ponsel itu.

"Kembalikan..." Baekhyun berkata dengan suara bergetarnya.

"Park Chanyeol? Huh?"

Sehun maju selangkah yang membuat Baekhyun mundur

"Kau melacurkan diri ke Park Chanyeol juga?" Sehun berkata remeh.

"Tidak...buk-an begi-tu..." Baekhyun menjawab dengan suara gemetar menahan tangis.

"Wahh, bahkan sekarang kau berani menjawab pertanyaan ku?" Sehun melangkah mendekat, memperhatikan bagaimana kaku badan Baekhyun sekarang.

"Apa kau pikir si Park ini benar-benar peduli denganmu?"

"Kumohon kembalikan ponselku..." Baekhyun memohon bukannya menjawab pertanyaan dari Oh Sehun.

Dan Baekhyun tau, dia telah melakukan sebuah kesalahan.

Sehun murka dan menjambak helaian rambut Baekhyun yang memuat Baekhyun meringis sakit.

"Maaf...ma-af..." Baekhyun menangis.

Sebuah dering dari ponsel flip itu mengalihkan perhatian Sehun dan membuat kesempatan untuk Baekhyun meraih ponsel itu kembali.

Sebelum Baekhyun sempat menjawab panggilan itu. Perut Baekhyun sudah di tendang dan membuatnya tersungkur ke lantai marmer yang dingin.

Baekhyun meringis menahan sakit. Hp flipnya juga sudah diinjak-injak dan rusak.

Entahlah, Baekhyun sudah berpikir tak akan mempunyai harapan saat di lihat lima teman Sehun sudah ada di depannya.

Baekhyun yang masih meringkuk di lantai hanya bisa pasrah saat tendangan-tendangan itu menghujami tubuhnya. Baekhyun dapat melihat bagaimana Sehun hanya duduk dan melihat dengan sebuah senyum meremehkan. Menikmati bagaimana penyiksaan itu di lakukan atas kehendaknya. Menonton dan mendengarkan suara teriakan histeris putus asa yang minta pertolongan.

Baekhyun berharap ada sesorang yang akan menolongnya kali ini. Baekhyun memohon dalam doanya. Memohon agar Chanyeol menolongnya lagi. Tapi Baekhyun tau Chanyeol tak akan bisa menolongnya saat ini. Tapi Baekhyun masih ingin terus berharap.

"Sehun, kurasa sudah cukup pemanasannya. Bukan begitu?!" Salah satu dari teman Sehun berkata.

Dan Baekhyun tau artinya jika nerakanya akan segera dimulai.

Entah sudah berapa banyak sperma yang memenuhi anal Baekhyun. Tetapi mereka seakan tak mau berhenti. Baekhyun bahkan tak bisa merasakan kaki dan bagian bawahnya lagi.

Berpikir sudah berapa lama mereka melakukan ini. Berapa permaianan yang telah mereka lakukan. Bahkan Baekhyun sudah tak dapat menangis lagi. Air matanya telah di gantikan oleh tetesan tetesan darah yang mulai mengering diatas spari.

Sehun mendekat setelah sekian lama ia hanya melihat bagaimana Baekhyun di setubuhi dengan brutal oleh ke lima orang itu.

Yang terlihat di tubuh Baekhyun hanya memar dan bengkak di beberapa bagian wajah dan tubuhnya. Bekas sprema dan darah juga ada yang sudah mengering di tubuh atau pun sprai yang menjadi saksi bisu pemerkosan itu.

Jambakan lagi yang membuat Baekhyun terpaksa mendongak ke arah Sehun.

"Ini hukuman karena kau berani menentangku. Dan lihat , apa si bangsat Park itu datang? Apa kau berharap si pengecut itu datang menolongmu? "

"Itu hanya sebuah lelucon, Byun baekyun!"

Seakan akal sehat Baekhyun sudah menguap entah kemana, Baekhyun tak suka saat salah satu temannya dihina.

Baekhyun dengan keberanian dari mana, Baekhyun dengan kurang ajarnya meludahin wajah tuan muda Oh dengan ludahnya yang bercampur darah.

"Bangsat!!!" Sehun dengan membabi buta menghajar wajah Baekhyun yang sudah hampir tak berbentuk itu.

Salah satu pemikiran Baekhyun sebelum kesadarannya diambang batas.

'Apa aku akan mati? Aku harap begitu'

Tapi sebuah suara lain yang Baekhyun kenal menjadi penutup saat kesadarannya benar-benar hilang.

--


Dia terganggu di mimpi panjangnya, suara bising yang di dengar memaksanya kembali kedunia nyata. Suara langkah kaki yang bergema dilorong, percakapan yang entah apa, suara mesin yang menyakitkan telinga, tetes-tetesan air yang ikut menjadi harmoni yang memecah konsentrasi dan suara teriakan kesakitan yang terdengar menyayat hati.

Gesekan pada kulit tangannya, menyadarkan indranya untuk berfungsi kembali. Membuat sebuah opini sedang berada di mana ia sekarang.

Nafasnya berat dan sebuah sensasi dingin masuk melalui hidung menuju paru-paru. Mata masih tak ingin terbuka, masih terlalu nyaman dengan lelapnya. Tapi suara berisik itu menyakitkan indra pendengaran.

Otaknya bekerja, tentang kemungkinan yang terjadi kenapa ditempatnya sekarang sangat berisik dan itu cukup membuat yang berada di perut mendesak ingin keluar. Mual dan pusing entah kenapa semua terasa menyiksa bahkan detik berikutnya ia sadar bahwa tubuhnya kaku.

Jemari dia coba gerakan dengan susah payah bahkan untuk menggerakan jari telunjuk saja ia menghabiskan banyak energi. Nafas memberat, kerutan di kening terlihat dan mata masih tertutup.

Bibir terbuka sedikit menghirup lebih banyak oksigen dan merasakan sesuatu di wajahnya. Suara gesekan pada lantai terdengar , di sertai derap langkah yang terburu-buru. Dia dapat menghitung ada lebih dari empat orang disana. Dan sebuah tangisan yang memilukan.

Nafas makin memberat saat kelopak matanya di paksa terbuka. Buram adalah hal pertama yang dilihat, matanya belum sepenuhnya fokus tentang dimana dia sekarang. Samar yang dia lihat hanya bayangan dari sebuah ruangan dengan pintu putih yang tertutup, cahaya yang masuk saat kelopak matanya mengerjap sekali adalah cahaya dari sisi lain tubuhnya.

Leher coba dia gerakan kesisi lainnya, menemukan sebuah jendela dengan gorden putih tipis. Mengdipkan matanya perlahan untuk membiasakan dengan cahaya yang ada. Di luar jendela yang dia lihat, menunjukan gelap dengan gradasi kuning dan oranye.

Pikirannya mendapatkan dua kemungkinan : sore hari, atau pagi hari.

Nafas dia atur sedemikian rupa karena dia sangat kelelahan hanya karena menggerakan lehernya saja. Dia memutuskan kembali memejamkan mata untuk beristirahat karena lelahnya.

Suara pintu di buka memaksa dia kembali membuka mata, menemukan seseorang sedang masuk ke dalam ruangan. Masih samar di pengelihatan siapa orang itu? tapi dia terlalu lelah hanya untuk membuat orang itu sadar bahwa dia telah membuka matanya.

Mata di bawa menutup kembali karena lelah yang membuat kelopak matanya tak mau membuka lebih lama. Kesadaran masih ada saat sebuah benda kenyal dan sedikit hangat menyentuh kening. Dan sebuah suara yang familiar terucap setelahnya.

Iya, dia mengenali suara itu!

Park Chanyeol.

End.

Hohoho

Maaf tidak memuaskan gue lupa ini jalan ceritanya ngomong-ngomong. -.-)v

And Happy Birthday uri Baekhyune. I LOVE YOU *

Ps : ada yang suka nonton BL thailand? Plis gue lagi ngebucinin si MewGulf nih mereka kyk real banget gitu gak sih?

Dan gue belum bisa move on dong dari adegan es batu di eps 12 T.TSama adegan pas si mas tharn beli boba itu ngakak parah guee :'

Win gue ngebucinin win tapi bukan BW hohohoWin Only *

Oyaoya follow aku di ig sama twitter yukk kita ngegibahin CB or Thailand BL hohoho

Ig : ohirabo_

Tw : ohirabo_

Terimakasihh

Ohirabo/