Disclaimer: I Wanna Be U / I Want To Be You, Just For A Day by SAM
Warning: typo(s), cheesy, dan lain-lain.
Summary: Keduanya mencintai orang yang sama. Namun terkadang seseorang harus memilih salah satunya. Biasanya di situlah kita dapat belajar bagaimana caranya mencintai tanpa harus memiliki.
Enjoy.
.
.
.
Musim semi.
Musim semi selalu diikuti oleh musim debut para gadis bangsawan untuk terjun ke dalam dunia para sosialita, berlomba-lomba menjadi sang kupu-kupu sosial dalam berbagai macam kelompok. Musim semi juga dirayakan dengan festival untuk memperingati kembalinya dewi Persephone, yang ceritanya kembali tanah bumi untuk menyuburkan Kerajaan. Meskipun begitu, apapun ceritanya, festival itu sendiri merupakan ajang untuk memamerkan diri dan untuk mencari romansa. Itulah alasan terbesar mengapa musim semi sangat ditunggu oleh para muda mudi kelas atas di seantero Kerajaan.
Namun kali ini berbeda.
Aku sudah menyebutkan sebelumnya bahwa festival musim semi juga merupakan ajang pencarian romansa. Para bangsawan akan diundang ke Istana, mereka membawa serta anak gadis dan anak laki-laki mereka yang masih belia yang nantinya akan berpesta dan berdansa di aula kerajaan. Di waktu-waktu tertentu, memberikan bunga pada orang terkasih juga merupakan esensi dari festival musim semi itu. Mirip hari Valentine, namun ini dilaksanakan pada musim semi kedua.
Dalam hidupku, aku sudah pernah mendengar tentang kisah cinta segitiga. Aphrodite, Adonis dan Persephone; Phaedra, Hippolytus dan Theseus; Apollo, Zephyrus dan Hyacinthus, dan lainnya.
Namun aku tak menyangka suatu saat nanti aku adalah salah satu pemeran dari kisah cinta segitiga ini.
.
.
.
Hap, hap, hap.
Aku memetik bunga-bunga di taman belakang mansion dengan gerakan pelan. Pikiranku melayang, selagi tubuhku ada disini. Para pelayan nampak tak memperhatikannya. Pikir mereka aku sangat menikmati kegiatanku di sini. Yah, mereka tidak sepenuhnya salah mengenai hal itu, aku memang menikmati kegiatanku. Namun pikiranku tak dapat berhenti memikirkan suatu hal.
Hap.
Satu lagi bunga yang kupetik di pagi hari itu. Aku meliriknya, kali ini bunga freesia. Salah satu pelayan mendekatiku, tersenyum selagi aku menyelip bunga itu di belakang telinga.
"Nona tampak manis mengenakan bunga itu." pujinya. Aku tersenyum cerah. Ia memandang dengan penuh kekaguman pada bunga-bunga yang kusimpan di keranjang kayuku. "Bunganya banyak sekali, Nona. Apakah Nona akan memberikan semua itu pada seseorang hari ini?"
Hap. Kali ini jemariku memetik antanan kembang. Pikiranku seketika tertuju pada mata ungu cerah yang senada dengan bunga yang berada dalam genggamanku, yang kerap kali membayangi pikiranku ketika terlelap.
"Entahlah." Nadaku lembut, tak yakin. Memandang kembali bunga ungu itu, aku lantas menimbang-nimbang.
Apakah ini hari yang tepat?
"Hari ini festival musim semi," ucapku. "Barangkali bunga untuk orang yang kusayangi akan cocok untuk meramaikan acaranya."
.
.
.
Ketika memandang ke wilayah taman kota, kita akan melihat pemadangan bunga-bunga yang indah di bawah cahaya matahari. Dari balik jendela kereta, aku dapat melihat mereka yang beraneka warna; merah, putih, ungu, biru, kuning. Bagaikan pelangi yang berkilau-kilau.
Sekelompok gadis bangsawan yang kuperhatikan adalah para debutante tengah terkikik di sisi taman bunga, saling menyelipkan bunga di rambut dan bonet masing-masing, menghiasnya sedemikian rupa. Pembicaraan mereka tak jauh-jauh tentang impian mereka menikahi seorang Duke.
Aku hanya tersenyum tipis.
Festival musim semi begitu ramai, dan akan lebih meriah lagi ketika Istana telah membuka gerbangnya di siang hari nanti. Tradisi memetik bunga sebenarnya sudah cukup untuk menjadi pewarna bagi hari yang indah ini, meskipun tahun-tahun sebelumnya aku tak ikut memetik. Bukannya aku tak mau, hanya saja aku tak tahu harus memberikannya pada siapa.
Tidak. Bukan seperti itu juga, sih. Lebih tepatnya aku tahu harus memberikannya pada siapa, hanya saja aku malu melakukannya. Sebab tradisi memetik bunga adalah tradisi yang dilakukan oleh orang yang memiliki perasaan cinta romantis terhadap seseorang. Itulah mengapa tradisi ini umumnya dilakukan oleh pasangan suami istri dan pasangan kekasih.
Aku segera memerintahkan kusirku untuk berkendara lebih cepat lagi, membuat pemandangan taman kota berlalu dengan cepat di depan mataku.
Ketika menyaksikan tukang kebun sedang merawat bunga-bungaku saat tiba di mansion, aku terpikir sesuatu. Maka kulangkahkan kakiku menghampiri sekumpulan mawar merah jambu. Aromanya begitu semerbak, ujung-ujung durinya berkilau. Aku menyentuh kelopaknya.
Apakah ini akan cocok jika seandainya aku memberikan mawar padanya?
Ada satu hal yang aku khawatirkan jauh sebelum datangnya pesta musim semi ini. Salah satunya adalah perasaanku terhadap dia. Jika seandainya aku mengakui perasaanku suatu hari nanti, apakah persahabatan kami akan luntur? Di sisi lain, perasaan ini juga sudah kupendam lama. Menyakitkan apabila terjebak dalam zona pertemanan ini. Pada akhirnya aku memilih untuk mengakuinya, tepat di musim semi kali ini.
Hanya saja masalahnya aku tidak tahu bunga apa yang harus kuberikan untuknya.
Ada banyak bunga yang melambangkan tentang cinta yang romantis. Apakah kubawakan saja semua itu di hadapannya?
Maka aku beralih ke tulip di berada di sisi seberang. Bunga itu masih terlihat segar, berdiri tegak di atas tanah. Warna yang berada pada kuncupnya membuatku teringat akan sepasang matanya yang berwarna ungu cerah, kunci keelokan yang berada pada dirinya. Haruskah aku memberi bunga yang berwarna dengan ungu?
Di tengah pergulatan batin yang sudah cukup lama, salah satu kelompok bunga yang berada di sudut taman lebih menarik perhatianku. Kelopaknya mirip mawar. Menurutku bunga ini tidak secantik mawar ataupun tulip, begitu mirip dengan pandanganku terhadapnya. Dia tidak begitu rupawan di mataku. Namun sebuah karya seni tidak harus indah.
Masih ada nilai-nilai yang jauh lebih dihargai dalam sebuah karya seni dibandingkan hanya keindahan bentuknya semata, begitu pula nilai-nilai lain yang kukagumi dari dirinya terlepas dari fisiknya.
Bunga ini lebih mewakili pandangan dan perasaanku untuknya selama ini. Kurasa kini aku sudah tahu yang mana yang akan kuberikan sebagai perlambang cintaku padanya.
.
.
.
Sebelum pesta berlangsung di siang hari itu, aku tengah sibuk merangkai bunga-bunga yang kupetik tadi pagi. Sebagian dari bunga-bunga itu dikeringkan untuk menjadi hiasan sampul buku dan amplop surat, sebagiannya lagi dirangkai untuk menjadi mahkota bunga. Aku sempat kebingungan memilih antara bunga gardenia, melati, anyelir dan lavender sebelumnya, sebelum aku mengambil salah satunya dan kutempatkan di buket kecilku. Bunga itulah yang akan kubawa sebagai bentuk pengakuanku padanya.
Segera aku mengambil bunga khusus itu dan merapikannya. Jemariku cekatan memperbaiki kelopaknya, mengikatnya dengan sedemikian rupa menggunakan tali rami pendek agar sisi estetiknya lebih menonjol. Aku melakukannya sembari kembali memikirkan tentang dirinya.
Mungkin pengakuanku agar terdengar mengejutkan baginya. Aku sudah bisa memprediksinya dengan baik. Namun aku penasaran bagaimana responnya. Apakah ia akan tetap tenang seperti yang dia tampilkan dalam raut wajahnya setiap saat, ataukah mata ungu itu akan melebar dan menampilkan kilasan lain disana?
Permainan menebak-nebak apakah ia mencintaiku juga atau bukan sungguhlah permainan yang berbahaya."
"Tuan mencintai Nona Medeia, ya?" ucapku di hari itu. Aku seketika bertanya, sekaligus berharap dalam hati. Meskipun begitu, apa aku masih bisa mendapat kesempatan?
Aku memanggil para pelayan untuk mendandaniku setelah ini. Aku harus segera bersiap.
.
.
.
Pesta dimulai ketika jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Aku dapat membayangkan suasana pestanya; ramai, penuh jamuan mulai dari anggur hingga kudapan ringan, hangat. Lagipula ini sudah jam dua, hampir setengah tiga sore.
Aku sendiri bukan lagi seorang debutante di usiaku yang sudah mencapai dua puluh tiga, usia yang sudah sangat matang untuk menikah. Mencari pasangan karena sudah keburu tua sudah cukup kuat menjadi alasanku untuk pergi ke sana. Akan tetapi aku tidak peduli. Aku sudah pergi ke pesta itu selama bertahun-tahun, sudah tidak peduli lagi dengan desain, konsep, dan tema pestanya yang diperbaharui tiap tahun. Juga aku belum ingin menikah. Karena itulah aku tidak menyesal lantaran memilih tidak pergi hari ini.
Aku meminta para pelayan untuk meninggalkanku ketika aku hendak menenangkan diri ke taman. Di sana jauh lebih menenangkan ketimbang di ruang depan yang sebelumnya kutempati untuk duduk.
Sesampainya di sana, pemandangan tanaman hijau yang menghiasi taman segera menyapa. Angin musim semi yang dingin menyapu wajahku tatkala aku memilih duduk di ayunan gantung. Pandanganku terarah ke meja dan kursi tempatku biasa minum teh, papan catur beserta para bidaknya tak berubah dan tak berpindah tempat. Persis kala aku meninggalkannya sejak seminggu yang lalu.
Mungkin saja orang-orang yang mengenalku di pesta akan bertanya-tanya mengapa aku tidak hadir kali ini, mengingat aku tidak pernah absen tiap tahun di festival musim semi. Namun aku meragukannya, mengingat semua orang pasti akan bersenang-senang di pesta sehingga tak punya waktu untuk memikirkan kenalan mereka.
Benar, kan?
Ketika aku sibuk mengayun, angin berhembus dengan cukup kencang, menerbangkan kelopak-kelopak bunga yang gugur dari tanaman rambat yang tumbuh di sepanjang dinding-dinding tua ini. Aku mendengar langkah kaki di belakangku. Tubuhku refleks menegang, aku menoleh ke belakang.
Oh. Aku tidak terkejut. Ternyata kamu.
Senyum simpul tersungging ketika melihat sosoknya berdiri tak jauh di depanku, tangannya menggenggam bunga yang sepertinya kukenal, bunga anyelir bergaris. Sebuah pertanyaan muncul dalam benakku. Apakah ia baru saja pulang dari pesta setelah bertukar bunga dengan seseorang?
Ia menyerahkan bunganya padaku. Determinasi yang menghiasi matanya membuatku sungguh bingung. Bibirku terkatup rapat. Jangan bilang––
"Nona. Saya..." Ucapnya. "Saya mencintai Nona Medeia."
.
.
.
Derap sepatu kuda terhenti kala aku sampai di depan sebuah mansion megah. Langkahku stabil ketika turun dari kereta, kurasakan sebuah rasa gugup yang kukenal ketika berhasil melewati pintu masuk. Aku memanggil pelayan yang saat itu sedang melintas membawa baki minuman. "Iya, Tuan?" tanyanya.
"Di mana Nona Medeia sekarang?"
"Dia ada di taman, Tuan."
Aku segera mengucapkan terima kasih singkat pada gadis itu sebelum melangkah ke taman. Pikiranku membayangkan jutaan kemungkinan yang akan terjadi ketika tiba waktunya menyerahkan bunga ini pada orang yang menjadi sumber kebahagiaan dalam hidupku.
Letak taman berada di sisi utara mansion, tempat itu merupakan tempat favorit Nona untuk bersantai. Namun ketika aku sudah hampir sampai di tempat itu, sebuah sosok juga memasuki taman. Alisku berkerut ketika melihat siluet rambut keemasan dan gaun renda ketika sosok itu menghilang ke taman.
"Psyche?" tanyaku dalam hati. "Apa yang dia lakukan di dalam taman?"
Secepatnya aku segera masuk ke sana. Perasaanku mengatakan bahwa Nona sedang berada di ayunan ketika melihat meja catur dan kursi yang kosong. Namun langkahku terhenti, sebab suara Psyche yang khas segera memasuki indra pendengaranku.
"Saya mencintai Nona Medeia."
Aku segera bersembunyi di balik salah satu dinding tua yang tidak jauh dari pintu taman, menguping apa yang dikatakan Psyche dan Nona Medeia dengan perasaan setengah tak percaya. Benarkah itu yang barusan kudengar tadi?
Kurasakan kekehan pelan Nona Medeia. "Aku juga mencintaimu, kok."
"Tidak, Nona." Psyche menyangkal. Nona Medeia berucap bingung, "Apa maksudmu, Psyche?"
"Saya mencintai Nona Medeia lebih dari seorang teman." Tiap katanya mewakili setiap kebenaran pahit. Psyche mengutarakannya begitu persis dengan perasaan yang ingin kuungkap. "Saya mencintai Nona secara romantis. Kumohon terima lah bungaku ini untuk Nona."
Ada keheningan selama beberapa saat. Kali ini aku memberanikan diri untuk mengintip. Di sana, Psyche menyerahkan bunganya pada Nona Medeia. Yang cukup mengejutkan adalah Nona menerima bunga itu dengan pandangan yang tak dapat kujelaskan. Hatiku lantas terasa berat.
Nona Medeia mencintai Psyche. Juga sebaliknya.
Rasa sedih menggelayuti dadaku untuk detik selanjutnya. Aku meraba bungaku yang kusimpan di balik saku mantel, bunga yang hendak kuberikan yang mungkin sekarang tak ada artinya. Aku ingat mata ungu cerah milik Nona selalu bersinar kala memandang Psyche dengan tulus, kurasa itu adalah pertanda jika aku sudah kalah. Terlebih lagi Nona juga menerima bunga cinta Psyche.
Tak sanggup, aku memilih keluar dari taman dengan langkah tenang.
.
.
.
Aku memandangi bunga yang kini berada di genggamanku, kemudian ganti memandang gadis yang tertunduk malu di hadapanku. Pipinya yang merah membuatnya tampak manis. Aku tak tahu harus berkata apa setelah ia mengakui perasaannya yang begitu jujur padaku.
"Maafkan aku, Psyche." Aku berucap lirih.
Psyche mengangkat wajahnya menghadapku. Rasa sedih yang sudah kuduga akan muncul kini membayangi matanya yang sewarna batu yakut kuning cerah. Tanpa diduga sebuah senyum malah tertarik di bibirnya.
"Jujur saja saya senang. Saya sungguh senang bisa mengakui perasaan saya yang sudah lama saya pendam pada Nona," ucapnya. "Dilihat dari sorot mata Nona, saya sudah tahu bahwa perasaan saya selama ini hanya sepihak. Jadi kupikir tak sia-sia jka saya membawa anyelir bergaris sebagai perlambangan cinta saya untuk Nona."
Angin semilir lagi-lagi menyapu wajahku. Jadi begini rasanya berusaha tersenyum ketika hatimu sedang sedih.
"Apakah itu Tuan Helio?" tanya gadis itu. Aku terdiam, hanya memandangnya lurus-lurus tepat di mata madu cerahnya. Psyche tampaknya semakin yakin, "Apakah itu Tuan Helio yang selalu berada di pikiran Nona?"
Psyche sudah tahu itu semua, membuatku segera mengalihkan pandangan. "Sudah saya duga."
Kurasakan tubuhku dipeluk oleh Psyche untuk beberapa waktu setelahnya. Kurasakan pundakku basah ketika ia menguburkan wajahnya di sana. Aku balas mengelusnya dengan canggung, sungguh jarang dipeluk seperti ini oleh seseorang.
"Aku hanya ingin Nona bahagia." Bisik Psyche lembut, membuatku tersenyum sendu. "Saya menyayangi Nona dengan sepenuh hati, begitupun Tuan Marquis. Maka Nona berbahagia ya."
"Ini bukanlah akhir persahabatan kita." Ucapku. "Kau masih tetap sahabatku setelah semua ini."
Tangis Psyche makin menjadi. Aku hanya terkekeh seraya mengelus kepalanya. Dia bagaikan bayi kecil ketika menangis seperti ini, membuatku ingin memeluknya lagi. "Sudah ya, gadis manis."
Psyche tertawa di sela-sela tangisnya. Kemudian memelukku lagi. "Aku sayang Nona."
.
.
.
Aku sedang melangkah keluar mansion dengan langkah gontai ketika Psyche memanggilku dari kejauhan. Gadis itu berlari ke arahku, tersengal-sengal seraya mencengkeram sisi bawahan gaun. Aku memberinya waktu untuk beristirahat sejenak sebelum ia kembali berdiri tegak dan sudah bisa kembali menguasai diri. Gadis itu melirik bunga yang ada di genggamanku sejenak sebelum berganti memandangku.
Tangan Psyche menunjuk area mansion. "Nona Medeia ada di dalam taman." Ucapnya. "Saya yakin bunga yang dipegang tuan bukanlah sekedar pemberian semata jika Tuan membawanya di festival musim semi ini."
Nampaknya dia mengetahui niatanku datang kemari. Tanganku segera membuka saku di balik mantel, menyelipkan bungaku kembali ke dalam sana dalam waktu singkat. Senyum kecut tertarik di bibirku, teringat tatapan tulus Nona yang diberikan pada gadis di depanku ini. "Sudah terlambat, Psyche. Aku sudah kalah."
"Apa maksudmu, Tuan?"
Tanganku bersandar di pagar. "Nona mencintaimu. Aku tak sengaja mendengar kalian tadi. Aku bisa lihat bahwa dia mencintaimu dengan tulus." Mengangguk pada Psyche sebagai tanda perpisahan, aku segera mendorong pagar berat ini, membukanya dengan pelan. "Sampai nanti, Psyche."
"Tuan Helio." Ucap Psyche pelan. "Nona Medeia memang mencintai saya dengan tulus,"
Aku lantas berhenti melangkah. Psyche seakan hendak mengatakan sesuatu lagi, maka aku segera berbalik menghadapnya, menunggu kalimat yang akan diucapkannya itu. Rasa cemas tanpa sadar menyapu dadaku untuk kesekian kalinya ketika melihat cahaya sendu yang bersinar di matanya yang berwarna kekuningan.
"Namun cara Nona mencintai saya tidak seperti cara dia mencintai Tuan."
Aku terdiam seribu bahasa. Mencerna tiap katanya. Tanpa sadar harapanku melambung naik dan aku pun sadar. "Jadi maksudmu..."
Psyche mengangguk. "Segera temui Nona, Tuan. Buat Nona Medeia bahagia." Senyumnya terkembang, senyumnya yang tulus.
.
.
.
"Nona."
Panggil sebuah suara lembut yang kukenali selama bertahun-tahun. Aku berbalik ke belakang, mendapati Halley berdiri tak jauh di hadapanku dengan napas terputus-putus. Apa dia baru saja berlari kemari?
Aku mengerutkan alis seraya melangkah mendekatinya. "Halley, mengapa kau tersengal-sengal?" tanyaku.
Butuh waktu sejenak agar Halley bisa kembali tenang. Pria itu menatapku dengan tatapan tegas dan intens, tanpa sadar membuatku merinding. Jemariku tanpa sadar mengelus tangkai bunga yang diberikan Psyche untukku.
"Nona, bolehkah saya memberikan sesuatu untuk Anda?"
"Apa itu?"
Halley mengeluarkan bunga dari saku mantel dan menyerahkannya padaku dengan sorot mata penuh harap. Aku melirik bunganya, anyelir berwarna merah terang dan merah gelap. Tiap warna melambangkan makna berbeda, merah gelap untuk cinta kasih yang dalam sedangkan merah terang untuk rasa kagum. Jantungku berdebar-debar. Aku menggigit bibirku gugup.
"Hati saya sepenuhnya milik Anda, Nona."
Aku terdiam. Aku sungguh-sungguh terdiam kendati sedang menjerit dalam hati. Aku sudah pernah mendengar tentang kisah cinta segitiga. Aphrodite, Adonis dan Persephone; Phaedra, Hippolytus dan Theseus; Apollo, Zephyrus dan Hyacinthus, dan lainnya. Namun aku tak menyangka suatu saat nanti aku adalah salah satu pemeran dari kisah cinta segitiga ini, di mana aku adalah pemeran utamanya.
Jujur saya aku tak yakin apakah para dewa sedang memberiku hadiah atau tipuan dengan memberiku dua pengakuan cinta di waktu yang sama, juga dengan lambang bunga yang sama. Ada apa dengan hari ini?
Kupandangi Halley lekat-lekat di matanya yang berwarna ungu cerah. Banyak aspek dari diri kami yang membentuk kesamaan satu sama lain, mulai dari kemampuan hingga penderitaan yang serupa. Itu menjadikan kami lebih dekat sehingga tanpa sadar perasaan di antara kami muncul. Aku mencintai pria di hadapanku dengan sepenuh hati, tapi di saat yang sama aku juga tak menyangka ternyata perasaanku akan bersambut.
"Aku sudah jatuh cinta pada Nona sejak usiaku masih empat belas tahun. Keberanian, kemandirian dan rasa tangguh Nona yang membuat saya terpesona sejak awal dan itu adalah nilai yag menjadikan Nona sangat berharga di mata saya."
Tanganku mengelus kelopak bunga anyelir merah dengan lembut setelah menerimanya. Senyumku mekar, kali ini senyum yang tulus yang tak pernah kuperlihatkan pada orang lain selain Bibi, Halley, dan Psyche.
"Saya tak sengaja mendengar Psyche mengakui hal yang sama. Saya pikir Nona mencintai Psyche dengan romantis, namun ternyata aku salah. Saya mencintai Anda, Nona."
Kekehan lolos dari bibirku saat aku mendengar pernyataannya. Sejak dahulu aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Sejak dahulu aku sudah tahu bahwa kau lah orang yang ingin kujaga selama sepanjang hidupku. Tangannya meraih tanganku.
"Begitupun diriku." Aku tersenyum. "Selamat hari musim semi, Halley."
.
.
.
Aku merasa lega ketika mendengar Tuan Helio dan Nona Medeia saling mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Aku bersandar di balik dinding taman sebelum akhirnya melangkah pergi tanpa suara. Sembari melayangkan pandang pada dua insan itu, senyumku tersungging ketika menyaksikan Nona Medeia dan Tuan Helio sedang berciuman lembut di tengah angin berhembus.
Meskipun rasanya jauh lebih sakit di dalam. Namun itu tidak apa. Kebahagiaan itu sederhana, salah satunya adalah melihat orang yang kau cintai juga bahagia.
Aku ingat pernah berkata pada Tuan Helio, "Tuan mencintai Nona Medeia, ya?" ketika salju turun untuk pertama kalinya ketika aku masih berusia sembilan belas tahun. Di saat yang sama muncul sebuah pertanyaan dalam hatiku, masihkah aku masih bisa mendapat kesempatan di hati Nona Medeia meskipun Tuan Helio adalah sainganku?
Padahal sebenarnya aku sudah tahu jawabannya sejak awal.
Bunga yang kuberikan pada Nonaku adalah anyelir bergaris, sesuai dengan lambangnya yakni cinta yang tak bisa dibagi pada siapapun, cinta Nona Medeia yang hanya untuk Marquis Helio Tropium seorang.
Aku dan Tuan Helio, kami berdua mencintai orang yang sama. Namun terkadang seseorang harus memilih salah satunya, dan Tuan Helio adalah orang beruntung itu. Hidup terkadang pahit, namun biasanya di situlah kita dapat belajar, atau dalam kisahku belajar bagaimana caranya mencintai tanpa harus memiliki.
Setidaknya harapanku terkabul. Kebahagiaan Nona Medeia adalah harapanku yang terbesar. Sembari melangkah naik ke kereta, aku memandang mansion Keluarga Beliard sebelum keretaku semakin menjauh pergi.
Senyumku kali ini tulus dan lapang. Lagipula ini bukanlah akhir dari persahabatan kami. Berbahagialah.
.
.
.
Cheesy? Yes (nutup muka). Saya sedang bucin dengan komik ini, apalagi couple MedeHeli merupakan couple favorit saya selain MedePsyche. Sayang banget fandom ini penghuninya masih jarang, jadi ramaikan aja dengan fic ini. Jangan lupa kritik dan sarannya ya...
