Awan hitam menggantung di atas langit, menjadi selimut tebal berkapas bagi angkasa. Angin pun tak kalah untuk segera beraksi. Berhembus kencang membisikan keramaian dari kata-kata yang tersembunyi. Rerumputan bergoyang dan ranting yang saling bergesek pun memberikan aksen simponi dimana mendatangkan ketidaknyamanan di hati.
Dikala cuaca buruk begini, sebuah ruangan dengan pemanas yang mengebulkan kehangatan selalu menjadi persinggahan. Mendudukan diri di atas tatami, menyembunyikan kaki dibalik selimut tebal dan memilih secangkir minuman hangat, tak ketinggalan pula sepiring kecil cemilan ringan untuk dijadi teman terbaik.
Tidak ada waktu yang lebih baik seperti saat-saat ini. Walau badai datang sekalipun, kenyamanan dari rumah akan meredahkan kekhawatiran di tengah cuaca buruk.
Harusnya memang begitu, namun tak berlaku sama bagi setiap orang. Melewati badai dengan kebiasaan masing-masing, tak sama persis. Mungkin orang yang tak sempat berpaling dari perkerjaan akan memilih untuk bermain opera dengan dirinya sendiri. Membuat sebuah cerita khayalan dimana mereka dapat mengistirahatkan badan dibalik selimut atau bercanda bersama keluarga untuk melewati ganasnya hujan.
Namun dilain sisi, dibawah jelaga hitam, seorang pemuda berdiri. Sekujur tubuhnya bergetar hebat akibat dari tangisan. Di depannya sebuah batu yang menjulang tegap di atas permukaan tanah menjadi kian kabur dari pengelihatan. Air matanya mengucur deras seakan tengah menantang hujan, berlomba siapa yang dapat menumpahkan cairan bening lebih banyak.
Alih-alih menemukan tempat pelindungan untuk menunggu badai reda, laki-laki itu tak bergeming dari tanah lapang yang kental dengan kesuraman. Tidak ada ruangan, tidak ada coklat panas, dan tak ada penghangat badan, tubuhnya dibiarkan terguyur hujan lebat di tengah kesedihan. Barangkali memang pemuda itu gila, membiarkan tubuh dengan imun yang tak seteguh binatang, harus dipertarungkan ditengah-tengah hujan dan angin kencang yang berhembus membawa kejahatan.
Dibalut pakaian serba hitam, ditusuk ribuan jarum hujan, pria muda itu masih enggan meninggalkan tempat peristirahatan raga tanpa jiwa.
Hanya tinggal dirinya dan dua teman setianya yang masih betah menemaninya dikala duka.
Tidak ada yang menyakitkan selain harus kehilangan orang yang tersayang dan begitulah yang tengah dialami Kuroo Tetsuro; remaja berumur sekitar sembilanbelas tahun, tengah dirundung duka.
Dengan sabar pun tak terlepas dari kesedihan, temannya; Bokuto Kotarou memberikan pelukan hangat, mendekap bahu rapuh Tetsuro, sedangkan temannya yang lain; Akaashi Keiji melindungi kedua temannya dari hujan. Walaupun, ia tahu usahanya akan sia-sia sebab ketiganya telah basah, pelindungi dibalik benda berwarna hitam yang diangat tinggi-tinggi itu masih tetap ia lakukan.
Ketiganya berdiri dengan linang air mata di depan sebuah makam dimana baru saja telah selesai menerima upacara penghormatan.
Makam itu jelas tercetak figura seorang remaja laki-laki yang memiliki senyum miring penuh keangkuhan, dan dia yang berada dibalik figura, kini telah terbaling. Tsukishima Kei, begitulah nama dari orang yang meninggal. Teman dari Kotarou dan Keiji serta orang yang dicintai Tetsurou.
Tetsurou sendiri jelas masih belum percaya dengan suratan yang tengah ia hadapi, bagaimana dirinya bisa percaya? Perpisahan itu terjadi terlalu mendadak. Tetsurou ingat kemarin Tsukishima masih tertawa bersamanya, namun sekarang hanya menyiksakan abu yang telah bercampur aduk dengan alam.
Sungguh kematian yang terlalu mendadak, sulit untuk dipercayai kebenarannya.
Tsukishima, dia meninggal karena kecelakaan yang dialaminya tempo hari, dimana pemuda malang itu harus kehilangan nyawanya. Tetsurou benar-benar tidak mempercayai kenyataan. Semua tidak benar, apa yang dia lihat sekarang tidak nyata, ini hanya bagian kecil dari mimpi, Tetsurou yakin ini pasti bunga tidur, dan ia yakin jika dirinya yang lain tengah tertidur pulas dibalik gulungan selimut.
Derap langkah menggema, suara cipratan dari genangan air hujan yang diinjak secara kasar memantulkan bunyi tak tenang. Tetsurou lari meninggalkan makam, mengiadahkan teriakan dari Kotarou.
Dan itu sudah terjadi sekitar tiga minggu lamanya. Pemakaman temannya yang Tetsurou hadiri selama itu pula dia tidak bisa melupakan tentang Tsukishima. Cintanya telah pergi meninggalkan dia dengan kehancuran di hati. Oh betapa teganya dia.
Ketika Tetsurou tidak bisa menyangkal kebenaran, ia mendapati dirinya tenggelam dalam kesedihan. Dia melupakan bagaimana dia harus hidup. Hanya mengurung diri di kamarnya, menolak saat disuruh makan, menjadi sosok tuli dimana tidak memperdulikan segala bujukan yang dilakukan oleh orangtua dan teman-temannya. Orang itu tetap keukeh di dunianya sendiri dimana ia tengah meratapi kesedihannya.
Tetsurou terlihat seperti zombie, ia kehilangan semangat hidup. Tubuhnya semakin mengurus, surai hitam yang selalu ia jaga dan ia rawat pun kini menggumpal, gimbal tanpa terurus dan dari tubuhnya keluar aroma tak sedap. Terakhir Tetsurou mandi seminggu yang lalu, itupun ia lakukan karena kedua temannya tiba-tiba datang dan menyekapnya kemudian berakhir dengan melemparkannya ke bak mandi.
Berbaring di atas kasur ukuran single bed, Tetsurou menatap kosong langit-langit kamar selama sejam lebih. Jam di sampingnya berkerja keras demi memindakan jarum yang melekat pada angka 03.30 ke angka berikutnya. Selain enggan makan dan mandi, Tetsurou akhir-akhir ini mengalami sulit tidur. Pemuda itu akan terjaga semalaman suntuk tanpa melakukan apapun, hanya berbengong diri. Namun, pada akhirnya ia lelah dengan apa yang dia lakukan. Pelahan kelopak mata itu mulai menutup, menyembunyikan sepasang netra hitam.
"Jika saja waktu bisa diputar kembali" gumannya sebelum benar-benar terlelap dalam dunia fana.
Timer to Mirai
Sang surya telah berhasil menerobos masuk melalui jendela kaca, memberikan kehangatan penuh di ruang bercat merah. Sinar matahari itu rupanya membuat tidur seseorang terganggu karna kesilauannya.
Diluaran sana, kicauan burung yang sudah bertengger manis diatas pohon mulai berkicau menciptakan sederet baris nada yang abstrak, bernyanyi dengan membusungkan dada berlomba satu sama lain untuk menunjukan siapa yang memiliki suara terbaik.
Aroma sedap dari uap makanan yang sedang dimasak pun menjadi suatu ciri khas penyambut datangnya pagi. Jika burung memiliki suara yang indah di pagi hari, maka berbeda dengan bunyi apa yang biasanya ibu rumah tangga ciptakan. Suara mengiris sesuatu, suara nyaring benda saling membentur, dan kebisingan lain dari kegiatan pagi, begitulah nada yang para ibu rumah tangga lantunkan. Mereka akan menyibukan diri dengan masakan yang tengah dibuat untuk dijadikan sarapan.
Sungguh pagi yang damai, kehangatan dari sang surya serta dari semua makhluk yang ada di muka bumi membuat hati seakan merasakan langsung kenyamanan yang tersebar ke penjuru dunia.
Menggulung diri dalam selimut, Tetsurou berusaha menghindar dari cahaya matahari. Tetsurou ingin melewatkan betapa menajubkannya pagi hari. Tidurnya belum cukup lama, semalam dia bergadang. Ingin kembali ke dalam mimpi, namun tarikan di kedua kakinya membuat Tetsurou mau tak mau kembali tersadar dan mengeluh atas tindakan barusahan.
Dengan mata yang masih mengantuk, Tetsurou mengintip orang yang mengganggu tidurnya. Tidakkah orang itu tahu bahwa ia baru tidur jam setengah empat pagi dan sekarang, dipagi-pagi buta begini harus dibangunkan. Tetsurou ingin sekali mengumpat namun niatnya ia urungkan ketika mendapati sosok ibunya yang berdecak pinggang berdiri memelototinya.
"Horaa Tetsurou, cepat bangun dan berangkat sekolah!" seru nyonya Kuroo membangunkan putra sematawayangnya yang pemalas.
Tetsurou hanya menghela nafas gusar, ia tidak ingin pergi ke tempat dimana banyak kenangan bersama Tsukishima. Itu hanya akan membuat kesedihannya bertamah saja. Sayangnya niat tersebut tidak bisa ia laksanakan lantaran nyonya Kuroo menyeret Tetsurou ke kamar mandi, dan mengguyurkan air dingin. Jelas saja Tetsurou kaget, ia harus diseret pasa dan ia juga harus dimandikan (diguyur) tanpa perasaan.
Di kamar mandi, Tetsurou berdiri di bawah pancuran yang mengeluarkan rintik air. Dia berdiri membisu, tidak melakukan aktifitas mandi dengan benar. Pikirannya kacau, penuh dengan beberapa pertanyaan yang berputar-putar layaknya gasing yang berhasil ia lepaskan dari pegasnya.
Mengapa ibunya menjadi pemaksa? bukannya kemarin-kemarin dia masih membiarkannya terhanyut dalam kesedihan? Bukannya kemarin-kemarin ibunya tak peduli dengan dia yang sekolah atau tidak. Mengapa pagi ini berisik sekali?
Tetsurou tak habis pikir, apa mungkin ibunya sudah mulai bosan dengan kegalauan yang ia buat? Ahh.. entahlah, ia sudah merasa pening.
Mengacak ramputnya dengan cukup kasar, Tetsurou tersadar akan satu hal. sesuatu yang janggal ia rasakan. Harusnya dia yakin rambutnya akan terasa lengket dan menggimbal walau air telah membasuhnya sekalipun, pasti masih ada sisa-sisa kotoran yang tidak dapat diuraikan begitu saja. Rambutnya sekarang sangat harus seperti dia tak pernah sekalipun melewatkan perawatan pada surainya. Bahkan saat dia menggosok tubuhnya, harus kulit yang terisi penuh masih ia rasakan. Padahal sudah tiga minggu Tetsurou sedikit makan, lemaknya seharusnya menyusut banyak. Tidak mungkin kondisinya pulih dalam semalam, Tetsurou masih bingung dengan kondisinya yang terlihat baik-baik saja.
Gedoran diluar pintu membuat Tetsrou menoleh ke sumber suara, disana ibunya dengan ganas berteriak menyuruh agar cepat menyelesaikan acara mandi secepat mungkin, ibunya takut jika anaknya akan telambat ke sekolah. Merasa terganggu, Tetsurou pun memilih untuk mengakhiri mandinya. Menyambar handuk yang tergulung di balik tirai kamar mandi.
"Kaasan mengapa kau begitu heboh?" seru Tetsurou keluar dari kamar mandi sembari melihat ibunya yang berdiri melipat tangannya di depan dada.
"Cepatlah berpakaian dan segera ke meja makan, kami telah menunggu mu!"
Nyonya Kuroo berdecak pinggang, keluar dari kamar putranya. Dia ingin memberikan privasi untuk putranya agar bisa segera berpakaian dan lekas turun untuk makan bersama.
Ketika Tetsurou turun ke lantai bawah dimana ruang makan berada, kedua orang tuanya duduk dengan rapi di kursi depan meja yang penuh dengan sajian makanan. Mereka rupanya menunggu kedatangannya padahal ia telah telambat lebih dari sepuluh menit, mengapa orang tuanya tetap menunggunya? Mereka harusnya memulai acara sarapan terlebih dahulu.
Kebiasaan yang benar-benar kolot. Keluarganya telah memegang aturan kuat tentang kebersamaan diantara mereka jadi seperti inilah hasil dari kebiasaan itu. Orang tuanya tidak akan memulai acara makan terlebih dahulu. Jika pun harus telambat ke tempat kerja, aturan tetaplah aturan. Pernah sekali, ayahnya dipecat karena ketelambatannya yang melebihi standar kantor dan semua itu karena Tetsurou yang selalu bangun kesiangan. Kekolotan itu sebenarnya juga mendatangkan kebaikan, sejak kejadian dipecatnya ayahnya, Tetsurou menjadi anak baik yang mau bangun pagi.
"Kalian menungguku, bagaimana dengan ayah? Kau bisa saja telambatkan." seru Tetsurou menyeret salah satu kursi dan mendudukinya.
"Lekaslah makan jangan hanya banyak bicara!" ujar ayahnya mulai memakan apa yang telah di masak istrinya.
Nyonya Kuroo mengambil mangkuk, mengisinya dengan nasi lalu meletakannya di depan anaknya. Selain suaminya, makanan putranya haruslah dia ambilkan. Pelayanan dari seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang, memberikan nasi lebih dan memilah lauk terbaik untuk putranya.
Di meja makan tersaji beberapa lauk yang menggugah selera. Tamagoyaki di masak dengan matang sempurna, markaler goreng memancarkan aroma gurih, dan taburan natto dengan aroma tajam diatas tumpukan nasi dalam mangkuk serta jangan lupakan semangkuk sup sayuran yang mengembulkan uap hangat. Makanan sederhana khas orang Jepang dan rasanya sungguh nikmat. Memang ibunya itu sangat pandai memasak, semua terasa sempurna bahkan jika menu yang tersaji sesederhana mungkin, Tetsurou yakin rasanya akan tetap terasa sangat enak.
Tetsurou makan dalam diam sembari mendengarkan obroran ke dua orang tuanya. Masalah pekerjaan yang harus dilakukan di luar negeri untuk beberapa pekan. Ibunya menyuruh agar menolak tawaran kerja tersebut, namun ayahnya berkata bahwa itu kesempatan untuk menunjukan kemampuannya dalam pekerjaan sehingga jika hasilnya baik mungkin bosnya bisa saja menaikan pangkatnya.
Tetsurou yang mendengarkan semakin jauh hanya bisa mengerutkan kening, ia bingung dengan apa yang orang tuanya obrolkan. Bukan keanehan tentang topiknya namun mengapa orang tuanya mengungkit masalah yang sama sebanyak dua kali? Tetsurou yakin ia masih mengingat obrolan tersebut telah dibicarakan dan akhirnya sang ayah akan mengalami kekalahan. Lalu sekarang, mengapa mengungkitnya lagi? bukannya sudah diputuskan bahwa ayahnya tidak jadi menerima tawaran yang bosnya berikan.
Tidak tahan untuk dibuat penasaran, Tetsurou memilih untuk angkat suara. "Mengapa kalian membahas topik yang sama sebanyak dua kali?" tanyanya menatap bingung kedua orang tuanya.
Ibu dan ayahnya seketika diam, mereka membalas tatapan Tetsurou dengan sama bingungnya. "Apa yang kau maksud dua kali? kami baru saja membicarakan hal ini," seru ibunya menjawab pertanyaan aneh dari anaknya.
Tetsurou tak mengerti, ibunya jelas saja tidak mengalami kepikunan atau menjadi bagian dari orang-orang yang mudah lupa tetapi mengapa ibunya berkata demikian? Apa mungkin dia yang salah mengingat? itu suatu kemustahilan tentunya.
"Pertama apanya? tiga minggu yang lalu kalian telah membahasnya dan hasilnya ayah mengalah," ucap Tetsurou membela diri jika ia memang benar dalam mengingat.
Ayahnya dengan kasar meletakan sumpit di samping mangkuk nasi. Tatapan keduanya bertemu. Terlihat raut yang menyimpan sedikit emosi kesal membakar wajah. "Jika kau memang merasa enggan dengan tawaran pekerjaan yang ayah miliki, kau bisa langsung berkata seperti kaasan mu itu," ujar ayahnya yang kemudianq mengambil secangkir kopi untuk diminum.
"Tapi.. " Belum selesai mengatakan sesuatu, perkataan Tetsuro segera dipotong oleh ibunya yang menyuruhnya cepat kembali makan sebab ia telah ditunggu oleh Kenma yang entah datang sejak kapan, remaja dengan surai puding itu telah duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Kenapa Kaasan tidak memberitahuku jika kenma menungguku?" tanya Tetsurou bangkit dari duduknya. Dia sudah selesai makan, saatnya untuk berangkat sekolah.
Dengan langkah yang cepat, Tetsurou melangkah menuju ruang tamu. Memang benar disana Kenma tengah duduk sembari memainkan konsol gamenya.
"Hei, Kenma cepat kita berangkat."
Mendengar suara temannya, Kenma segera memasukan konsol gamenya ke dalam tas dan mulai bangkit berdiri. "Mengapa kau ribut dengan orang tuamu?" tanya Kenma yang tak sengaja mendengar keributan yang dipicu temannya itu.
Tetsurou menghendikan bahu, "Mereka membahas masalah yang sama sebanyak dua kali dan mereka mengelak hal itu." terang Tetsurou.
Keduanya berjalan bersama menjahui perkarangan rumah Kuroo. Berangkat bersama merupakan rutinitas bagi mereka sebab rumah keduanya berdekatan dan bukan hal yang mustahil mendapati Kenma berada di rumahnya secara tiba-tiba. Ibunya itu tidak mengunci rumah saat pagi karena ia tahu jika teman anaknya akan datang dan ibunya tak mau repot-repot untuk membukakan pintu.
TBC(ω)
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR
