Disclaimer: Saya tidak memiliki hak atas kepemilikan semua karakter yang ada di dalam cerita. Cerita ini akan memiliki unsur dari anime Naruto, DxD, dan sebagainya.


Chap 2 - Iblis Tua

"Enghhh ..." Naruto mengerang kesakitan saat berusaha membangunkan tubuhnya yang kaku.

Naruto melihat dirinya sedang berbaring di atas kasur kamarnya. Bangun dari posisi tidur, Naruto berjalan ke arah cermin dan melihat hampir seluruh tubuhnya terbalut oleh perban, meskipun begitu, ia sadar seluruh luka fisiknya sudah sembuh. Bahkan, luka bakar akibat api phenex tidak ada lagi di sana.

"Yah, meskipun kepalaku agak pusing sih," Ucap Naruto sedikit menggoyangkan kepalanya.

"N-naruto?!"

Mendengar seseorang memanggil namanya, berbalik ke samping dan melihat ibunya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.

"Hai Bu, bisakah kau membant--" Naruto tidak menyelesaikan perkataannya saat Layla tiba-tiba memeluknya. Ia bisa merasakan air matanya mulai membasahi wajahnya.

"Syukurlah kau baik-baik saja, Sayang. Kupikir sesuatu yang buruk akan terjadi kepadamu, ini hampir satu minggu kau telah pingsan."

'Satu minggu? Wah, aku tidak menyangka akan tidur selama itu,' Pikir Naruto.

Naruto yang tidak ingin ibunya terus menangis, memutuskan untuk membalas pelukannya, "Tenanglah bu, aku baik-baik saja sekarang. Aku minta maaf ya telah membuat ibu sangat khawatir ..., Ibu? Ouch!!"

"Berapa kali aku harus mengatakan ini, Naruto?! Jangan melakukan sesuatu dengan seenaknya saja! Kalau kau ingin berlatih kau bisa memberitahu orang tuamu ini!" Ucap Layla menjewer telinga Naruto dengan keras.

"Aww ... aww ... iya bu, iya aku mengerti kok. Aku tidak akan melakukannya lagi, jadi bisakah ibu melepas telingaku?" Layla hanya menghela nafas lelah mendengar permohonan anaknya.

"Dasar, sepertinya kau mendapatkan sikap buruk ini dari ayahmu."

"Maafkan aku, Bu." Layla melihat anaknya kembali meminta maaf hanya tersenyum lembut dan kembali memeluknya.

"Yah itu tidak masalah, selama kau menyesali perbuatan bodohmu, ibu akan selalu memaafkanmu kok."

Sebelum Naruto bisa menikmati momen hangatnya, ia terganggu saat melihat seorang pria berambut putih berdiri bersama ayahnya di depan kamarnya. Naruto memincingkan matanya saat mengenali orang tersebut. "Bukankah dia ..."

"Tampaknya kau sudah bangun, Naruto Phenex."


Kaum Iblis telah mengalami sejarah sangat panjang di dunia ini. Kisah kaum iblis tidak akan pernah lepas dari orang yang menyandang title, Lucifer.

Lucifer asli sudah mati ratusan tahun lalu, ketika dirinya dengan bodoh memberontak terhadap Tuhan dan berusaha menghancurkan Surga. Meskipun begitu, nama Lucifer tidak akan pernah mati selama keturunannya masih hidup di dunia ini.

Orang yang ada dihadapannya ini adalah anak dari Lucifer pertama, Rizevim Livan Lucifer.

Rambut putih berantakan yang ia biarkan tergerai sampai bawah lehernya, badan yang tinggi dan tegap, mengenakan armor kebangsawanan Lucifer, dan seringai nakal terpaut di wajahnya akan membuat siapa pun terpersona dan takut dengannya. Tapi, teman kita Naruto Phenex hanya memandanginya dengan datar.

"Jadi pak tua, apa yang kau inginkan denganku?"

"Naruto?!"

"Ahh, kau tidak perlu menegurnya Lady Phenex. Aku bisa melihat anakmu ini adalah individu yang menarik, kebanyakan para pewaris Pillar Iblis hanya akan berusaha bersikap sopan dan menjilat egoku. Ini sangat menyegarkan ada bocah seberani ini, hahahaha ..." Lord dan Lady Phenex hanya diam saja mendengarnya.

"Sebelum aku masuk ke dalam topik utama, aku ingin memberimu ucapan selamat karena telah berhasil membangunkan kekuatan api phenexmu yang unik ini."

"Unik?"

"Ya, benar. Mungkin kau belum menyadarinya, tapi dari saksi orang tuamu sendiri, mereka mengatakan kau telah berhasil membangun kekuatan api phenex yang baru. Kalau kau tidak keberatan bisakah kau memanggil api putihmu sekali lagi?"

Naruto awalnya memandang Rizevim dengan curiga, tapi ia kesampingan pemikiran itu sebentar. Lagipula, ia juga sama penasaran dengan kekuatan api phenex barunya.

"Tentu, aku akan melakukannya untukmu, Pak Tua."

"Hmph, dasar anak tak tahu sopan santun."

Mereka ber-empat pergi ke lapangan. Naruto berdiri di tengah-tengah rumput dan mengangkat tangan kanannya, dan membayangkan api putih keluar dari telapak tangannya. Tidak memakan usaha terlalu banyak, Naruto berhasil memanggil bola apinya.

Selagi fokus memperhatikan api putihnya, Naruto gagal menyadari dengan perubahan yang terjadi di sekitar tempatnya berdiri. Rizevim melihat perubahan itu sedikit terperangah dengan intensitas yang dikeluarkan dari bola api tersebut.

'Bocah nakal ini memiliki api putih yang puluhan kali lebih panas dari pada api phenex biasa. Di masa depan ia akan menjadi seorang monster,' Pikir Rizevim yang masih menatap bola api Naruto penuh perhitungan.

"Aku masih tidak menyangka anak kita berhasil mendapat garis keturunan baru," Ucap Layla dengan nada kagum di dalamnya.

"That's ma boi." Raven menarik istrinya ke dalam pelukannya dengan bahagia dan menatap bangga anaknya.

"Itu sudah cukup, Naruto. Kau bisa menghentikannya sebelum lapangan ini sepenuhnya terbakar."

Naruto tersetak dengan ucapan Rizevim dan melihat rumput, dan berbagai barang lainnya berubah menjadi abu karena panas apinya.

"Ini prestasi yang sangat luar biasa, Nak. Tidak hanya mendapatkan kekuatan variasi api phenex yang baru, kau bahkan berhasil memanggil apimu dengan mudah tanpa memerlukan intruksi dari orang lain," Ucap Rizevim sambil berjalan ke arahnya.

"Mungkin aku agak beruntung?" Ucap Naruto dengan sembarang.

"Heh, kalau kau hanya mengandalkan keberuntungan saja, kau mungkin akan cepat tereliminasi saat melawan pewaris pillar iblis lainnya."

"Tunggu, jangan katakan kalau ini adalah apa yang ingin kau bicarakan," Tebak Naruto.

"Mungkin kau hanya terlihat seperti anak nakal, tapi intuisimu cukup tajam yah. Ya, memang inilah yang akan ku bicarakan denganmu, dalam kurun waktu 6 tahun yang akan datang, kau akan bertanding dengan 72 Pillar Iblis lainnya."

"Tapi, kenapa? Kenapa kami harus repot-repot bertanding? Memangnya apa yang akan kudapatkan dalam permainan bodohmu ini?"

Mendengar respon dari pewaris muda phenex, Rizevim kembali menyeringai ke arahnya, "Permainan bodoh? Kosa katamu terisi dengan sangat baik, brat. Alasan kenapa aku melakukan ini untuk melihat potensi dari kekuatan para iblis muda, terlebih lagi untuk para pewaris pillar sepertimu. Sebagai seorang Lucifer aku tidak ingin melihat generasi iblis muda menjadi lemah hanya karena kalian hidup seperti anak manja dan apa yang akan kau dapatkan setelah memenangkan permainan bodohku ini adalah ..., rahasia."

"Dasar, pak tua pelit."

Rizevim tidak menanggapi ejekan dari Naruto. "Lord Phenex, anak Anda memiliki karakter yang unik yah. Aku tidak sabar melihatnya beraksi di turnamen."

"Yah, mau bagaimana lagi ia mendapatkan sifat itu dariku," Ucap Raven sambil tersenyum kikuk.

Raven dan Layla memberitahu kepada Naruto kalau mereka akan pergi berbincang dengan Rizevim sebentar. Setelah mereka sepenuhnya menghilang dari pandangannya, Naruto menatap telapak tangannya dengan serius.

"Ada sesuatu yang aneh dengan api ini, mungkin aku akan berekperimen sebentar."

Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi Naruto untuk menemukan sesuatu yang mengejutkan tentang apinya dan ia senang tidak ada yang tahu selain dirinya.

'Yah, ini akan mengejutkan semua orang,' Pikir senang Naruto.


Di tengah-tengah ruangan besar muncul lingkaran sihir Lucifer yang menampakkan Rizevim dengan segala kemuliaannya. Semua pelayan menundukkan badannya kepada Rizevim.

"Lucifer-Sama, selamat atas kedatangan anda." Tidak jauh dari posisinya, berdiri seorang pria berambut coklat panjang yang menutupi mata kanannya, pria ini adalah Shalba Beelzebub.

"Tidak perlu terlalu formal, Shalba."

"Bagaimana dengan kunjungan Anda di rumah Phenex, Lucifer-Sama?"

"Menarik dan sedikit menjengkelkan," Ucap Rizevim dengan santai.

"Apa yang orang-orang Phenex lakukan kepada Anda?" Rizevim mendengar nada permusuhan di dalam suaranya hanya tertawa dan berjalan ke singgasananya.

"Tidak, tidak berhentilah menjadi orang yang terlalu serius, Shalba. Ini hanya akan melukai harga diriku jika kau dan aku menganggap bocah itu dengan serius."

"Bocah?"

"Anggap saja ia sedikit mengejekku seperti anak nakal yang bodoh, namun yang menariknya bocah ini tidak bisa diremehkan. Memiliki api yang puluhan lebih panas daripada phenex biasa, memiliki intuisi yang tajam, tidak kenal takut, dan keberuntungan yang sangat tinggi. Aku hampir menganggapnya sebagai orang bodoh karena memanggilku pak tua dengan ceroboh, tapi aku pikir itu hanyalah kebanggaannya yang terlalu tinggi untuk menghormati seorang Lucifer terhormat sepertiku."

"Bukankah ini ancaman? Rencana kita tak akan berjalan dengan baik jika bocah ini memiliki sifat pemberontak."

"Santai, Shalba. Aku sudah memiliki beberapa skenario yang sangat bagus di otakku untuk menaklukannya. Lagipula, ia hanyalah bocah naif yang belum mengetahui sifat sejati dari iblis itu sendiri. Seperti yang bocah itu katakan, ini hanyalah sebuah permainan bodoh." Beelzebub diam tak menanggapi lebih lanjut, ia sangat mempercayai pemimpinnya, sehingga ia tidak meragukan pendapatnya.

"Ngomong-ngomong, Shalba. Bagaimana kabar Leviathan dan Asmodeus? Apakah mereka berhasil melakukan tugasnya?"

"Ya, mereka berhasil mendapatkan bahan eksperimen yang kita butuhkan, meskipun saat ini mereka sedang sibuk menghadapi fraksi pahlawan."

"Cih, para manusia itu tumbuh cepat seperti kecoa yang sedang berkembang biak, kalau mereka tidak segera diatasi aku khawatir manusia akan memiliki kekuatan untuk menghadapi fraksi supranatural seperti kita, bahkan pemimpin mereka sudah sangat menyebalkan sekali. Ya sudahlah, mari kita lupakan pemimpin bucin itu. Bagaimana dengan kabar anak-anak?"

"Ya, Euclid sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Ke-sepuluh anak itu sudah dilatih dengan keras, terakhir kali aku ingat masing-masing dari mereka mampu menghadapi iblis kelas tinggi dengan mudah." Rizevim tersenyum bahagia mendengarnya.

"Di molto! Sekarang satu-satu pekerjaan yang harus kita lakukan hanyalah mencuri beberapa informasi militer dari fraksi malaikat dan malaikat jatuh. Dalam beberapa puluh tahun kekuatan tempur militer kita akan sebanding dengan kekuatan dua fraksi tersebut."

"Aku turut senang mendengarnya, Lucifer-Sama."

Rizevim memandang ke ornamen kaca istananya dengan penuh suka cita. Ukiran dari kaca yang mengambarkan kemenangan iblis atas seluruh fraksi membuatnya merinding. Merasakan kemenangan dan pembalasan yang didambakan leluhurnya membuat Rizevim semakin bersemangat untuk mengencarkan seluruh rencananya.

"Aah, apakah kau melihatnya itu ayah? Anakmu yang selalu kau anggap lemah dan tidak berguna ini akan membuktikan eksistensinya di dunia supranatural! Dan aku akan menjadi Lucifer sejati yang jauh melebihi dirimu, ayah bodoh! Ngahahahahahahahahahah ..."

Tawa sang Lucifer menggema ke seluruh lorong istana. Para pelayan dan Beelzebub menundukkan kepalanya menghormati ambisi besar yang dimiliki pemimpinnya. Dan tidak ada satu pun yang berani mengganggu momen bahagianya.

Setelah puas menertawakan Lucifer pertama, Rizevim menghentikan tawanya dan kembali tenang, "Kalau begitu, mari kita tingkatkan stage ini ke tahap yang lebih tinggi."


Oh, hai. Bagaimana kabar kalian, apakah baik? Baguslah kalau kalian semua baik-baik saja ...

Holy shit! sekeras apa pun gw berusaha buat nambahin word di chap 2 ini jadi 4k susah banget bjir.

Gimana yah, gw pikir ini sudah cukup buat chap 2, karena sesuai dengan titlenya Iblis Tua. Kalau gw paksain buat nambah beberapa adegan yang menurut gw gak penting buat chap ini bakalan aneh jadinya.

Err, gw gak bisa bayangin gimana caranya para senpai yang di luar sana bisa buat masing-masing chap berisi 5 atau lebih wordnya dan feelnya ceritanya bagus banged. Duh, emang masih nubb gw yah, respect buat para senpai ...!!

Ngomong-ngomong aku cukup senang ada beberapa orang menyukai ceritaku, jadi aku agak cepet updatenya, hehe..

Kalau ada beberapa kekurangan di cerita ini yang ingin kalian sampaikan, silahkan ketik aja lewat review. Dan bolehkah aku bertanya sesuatu, aku melihat beberapa komen dari guest telah berhasil masuk ke dalam kotak emailku tapi tidak di dalam review aplikasinya. Kenapa itu bisa terjadi yah? Apakah respon aplikasi terhadap guest agak lambat atau gimana? Yah, lupakan saja.

Btw, gw minta maaf yah kalau masih ada kekurangan di cerita ini, lagipula gw masih nubb ..., seriusan.

Mungkin hanya itu yang ingin gw sampaikan jadi, bay~~