Disclaimer: Saya tidak memiliki hak atas kepemilikan semua karakter yang ada di dalam cerita. Cerita ini akan memiliki unsur dari anime Naruto, DxD, dan sebagainya.


Chap 3 - Kepala Merah

Bagi Naruto, hidupnya itu penuh dengan kejutan.

Sebagai contoh dirinya tidak akan pernah menyangka ayahnya adalah seorang Hokage yang selalu ia idolakan sejak kecil. Naruto juga tidak pernah menyangka ada raksasa rubah ekor 9 di dalam perutnya. Dan ia juga tidak pernah menyangka akan mati dan hidup kembali menjadi seorang iblis di Neraka. Tapi, selalu saja ada kejutan yang menghampirinya, terutama yang selalu membuatnya jadi jengkel.

"Ibu, kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau aku akan pergi ke sekolah?!"

"Hmm, apakah Lucifer-Sama tidak memberitahumu sebelumnya?"

"Apa?! Pak Tua itu tidak memberitahuku apa-apa selain bertanding dengan 72 Pillar Iblis dan mengatakan omong kosong lainnya."

"Bukankah itu bagus? Hidup akan sangat membosankan jika tidak ada kejutan," Ucap Raven sambil tertawa ke arahnya.

Bukannya gimana yah, tapi Naruto sangat yakin kegiatannya di rumah jauh lebih produktif dibandingkan bersekolah di tempat membosankan lainnya. Palingan yang diajarkan di sana hanyalah dasar pengetahuan tentang iblis dan sihir, cara bertarung, dan mengendalikan mana-nya dan semua itu telah ia kuasai sepenuhnya!

"Ibu apakah aku boleh belajar di rumah saja?"

"Ehh, tapi kenapa?"

"Aku ragu pergi kesekolah adalah pilihan yang baik. Bukannya ayah dan ibu tahu aku sering berlatih dan membaca beberapa buku di perpustakaan, jadi kenapa aku harus pergi ke sana kalau hasilnya sama saja." Terlebih lagi saat ini ia sedang mengerjakan beberapa proyek manipulasi array sihir yang sedang dikerjakannya dan Naruto sangat berharap waktunya tidak akan hilang hanya karena ia harus pergi ke tempat membosankan seperti itu.

"Mungkin kau benar, lagipula kau sering membaca buku dan berlatih bersama ayahmu ..." Naruto tersenyum senang mendengarnya.

"Kalau begitu--"

"Tapi, kau tetap harus pergi ke sana. Ada beberapa hal yang tidak bisa kau dapatkan disini."

"Memangnya apa yang tidak bisa aku dapatkan disini?"

"Teman."

"Ibu, aku hampir kenal dan berteman dengan semua orang di rumah ini tahu."

"Bukan itu maksud ibu, aku ingin kau mencari teman sebayamu sendiri. Terus berada di dalam rumah tidak selalu bagus untukmu, ada kalanya kau harus keluar juga," Ucap Layla menyentuh pundak Naruto dengan penuh perhatian.

Melihat wajah memelas dari ibunya membuat Naruto tidak berkutik sama sekali dan hanya mengangguk pasrah kepada ibunya, "Baiklah Bu, aku mengerti. Kalau ibu memang sangat ingin aku pergi ke sekolah maka aku akan melakukannya untukmu."

"Bagus, kau memang anak yang baik, Naruto-Chan."

"Mouu~ berhentilah memanggilku seperti itu, Bu."

"Tentu saja, Sayang. Fufufu ..."


"Jadi, Naruto-Kun bisakah kau mengulangi semua perkataan Ibu?"

"Tentu saja, Bu. Pertama aku tidak akan pernah bolos dari kelas, kedua tidak buang sampah sembarangan, ketiga tidak akan melanggar aturan dan selalu dengarkan perkataan guru, dan yang terakhir tidak boleh berkelahi dengan teman sekelas."

"Aku meragukan bagian terakhir itu, kau tahu." Layla menatap tajam suaminya dan mengatakan sesuatu tentang hukuman.

"Jangan dengarkan perkataan bodoh dari ayahmu, Sayang. Ibu tahu kau akan selalu menjadi anak yang baik dan cobalah menjaga nama baik klan Phenex yah."

"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Bu." Layla kembali memeluk anaknya dan memberinya ciuman di dahi. Naruto membalas pelukan ibunya dengan senang hati.

Naruto berpikir ini rasanya hampir sama ketika dirinya akan pergi ke akademi ninja, namun ini jutaan kali lebih baik. Tidak ada memberinya ciuman dan pelukkan kasih sayang di kehidupan sebelumnya. Naruto hampir menangis di pelukan ibunya saat mengingat pengalaman pahit yang pernah ia rasakan.

Dulu orang-orang hanya akan menjauhinya dan mengejeknya tentang bagaimana tidak pantasnya ia hidup di dunia ini dan kebanyakan orang tua akan memperingatkan anak-anak sebayanya untuk tidak bermain bersamanya. Namun, sekarang ia telah mendapatkan semua keinginannya yang tidak pernah ia bisa dapatkan di masa lalu, kasih sayang dan cinta kasih dari orang tuanya.

"Naruto, apakah kau baru saja menangis?"

"T-tidak kok, mataku hanya kemasukan debu saja."

"Naruto, kalau kau memang tidak mau, ibu akan membiarkanmu--"

"Aku akan tetap pergi ke sekolah bu. Aku hanya sedikit sedih saat tahu akan berpisah dengan kalian."

"Ouh, Naruto-Kun. Kau tidak akan pernah meninggalkan kami berdua." Layla kembali memeluknya dengan erat.

Raven yang melihat interaksi istri dan anaknya, ikut memeluk mereka berdua juga, "Berhentilah menangis, Bodoh. Lagipula, kita semua tidak akan pernah terpisahkan. Kita ini satu keluarga tahu dan ikatan api yang terjalin tidak akan pernah terputus apapun yang terjadi."

Naruto menikmati pelukan dari keluarganya selama beberapa menit kemudian melepaskannya, "Sepertinya itu sudah cukup Ayah ..., Ibu ..., Tampaknya kita terlalu menarik banyak perhatian di sini."

Dan seperti yang Naruto katakan, hampir semua orang di sana menonton adegan mesra mereka. Ada yang tersenyum, menatap mereka dengan geli, dan beberapa berjalan acuh saja.

"Baiklah, Sayang. Kalau begitu, kami pergi dulu yah. Dan jangan pernah membuat kekacauan di hari pertamamu masuk sekolah yah, kalau tidak, akan ada konsekuensinya ... Bukankah begitu, Raven-Kun?"

"T-tentu saja, honey. Naruto berusahalah untuk tidak melakukan sesuatu yang aneh yah, hahahahahah ..." Entah kenapa melihat ayahnya seperti ini membuatnya merasa kasihan.

"Iya, iya aku mengerti kok."

Kedua orang tua Naruto memberi ucapan sampai jumpa, sebelum menghilang di telan lingkaran sihir. Ia mengambil nafas dengan perlahan kemudian dihembuskannya.

"Baiklah, mari kita hadapi omong kosong sialan membosankan ini."

Tanpa dirinya sadari, ia melangkahkan kakinya ke sebuah tempat dimana seluruh masalah akan mengincarnya, bahkan di masa depan masalah tersebut tak akan pernah hilang dari pundaknya.

O betapa malangnya Naruto Phenex.


Pindah dari sudut pandang tertentu. Ada seorang anak muda berumur 6 tahun sedang berjalan ke arah bangunan besar di sana. Ia memiliki rambut merah yang dibiarkan terurai ke bawah lehernya, memakai baju merah dengan corak hitam coklat di sekitar badannya, celana berwarna hitam pendek, dan mengenakan sepatu kesayangannya.

Ia salah satu pewaris dari pillar iblis, Sirzechs Gremory.

Sirzechs adalah anak dari Zeoticus yang berasal dari klan Gremory, sedangkan ibunya berasal dari klan Bael, bernama Caren. Meskipun begitu, ia masih memiliki hak untuk menjadi seorang pewaris pillar iblis Gremory.

Seperti anak-anak klan iblis lainnya, Sirzechs datang kesini untuk pergi ke sekolah dan ia sangat bahagia tentang itu. Sirzechs tidak memiliki banyak orang yang bisa dipanggilnya teman di rumah. Menjadi anak tunggal membuatnya harus hidup dikelilingi pelayan yang selalu bersikap formal kepadanya, yang menyebabkan Sirzechs memiliki sifat canggung dan pemalu di hadapan orang banyak.

Sirzechs terkesima dengan apa yang dilihatnya. Dibandingkan dipanggil sekolah, tempat ini lebih cocok disebut sebagai istana yang super mewah. "Wahh, ini bahkan terlihat lebih hebat dibandingkan apa yang kulihat di dalam foto."

Sirzechs mempercepat langkah kakinya dengan terburu-buru, hingga ia tak menyadari ada sesuatu yang menyandung kakinya.

"Aduhh!" Sirzechs mengaduh kesakitan saat wajahnya terbentur ke tanah.

"Bohoo~~ kenapa kau tiba-tiba terjatuh, Pecundang."

"Cobalah liat bagaimana dia terjatuh dengan mudah, ahahahahah ..."

Sirzechs mengangkat wajahnya dan melihat beberapa anak dengan tubuh besar mengelilinginya.

"S-siapa kalian? Kenapa kalian datang menggangguku?"

"Ooh, tolonglah. Berhenti menangis seperti bayi cengeng, Sepupu."

"Suara itu ..." Mata Sirzechs melebar mendengar suara gadis yang terdengar akrab di telinganya.

"Ya ini aku, Sirzechs. Sepupumu yang manis, Venelana Bael."

"Venelana-Chan, kenapa kau bersama dengan para pengganggu ini?" Tanya Sirzechs berusaha membangunkan tubuhnya.

"Venelana-Chan? Apakah kita benar-benar seakrap itu, Gremory?" Ia terkejut mendengar nada sinis keluar dari mulut sepupunya.

"Aku mendengar dari kakek, kau masih gagal membangunkan kekuatan penghancur milikmu. Bagaimana memalukannya, aku tidak menyangka sepupuku akan selemah itu. Bahkan, setelah memiliki darah dari klan Bael yang terkenal."

"Kenapa kau mengatakan semua ini kepadaku, Venelana-Chan? Padahal sebelumnya kau baik sekali denganku, apa yang berbeda?!"

"Kau tahu, semua itu hanyalah tindakan sopan santun formal saja untukmu. Seandainya mama tidak memaksaku untuk melakukannya, mungkin aku akan dimarahi," Venelana mengucapkannya dengan santai seakan-akan itu hanya hal remeh baginya.

"Huh ..., aku tidak mengerti kenapa bibi mau menikah dengan orang dari klan Gremory. Maksudku yang menonjol tentang kemampuan mereka hanyalah kontrol sempurna atas sihir iblis, sisanya mah ampas."

Sirzechs menatap sepupunya dengan marah, "K-kau berhentilah menghina klan ayahku!"

"Tampaknya ada yang marah nih, kalau kau benar-benar ingin menyuruhku untuk diam, coba saja lakukan, Gremory bodoh."

Sebelum Sirzechs bisa berlari ke arah sepupunya, anak buah Venelana lebih dulu memukulnya di perut kemudian memaksanya untuk kembali jatuh ke tanah. Sirzechs yang semakin termakan amarah menyalurkan kekuatan iblisnya dan berusaha menyerang balik mereka.

Meskipun Sirzechs masih belum memiliki kekuatan penghancur yang terkenal dari klan Bael, tapi ia masih memiliki kemampuan sempurna atas sihir iblisnya. Tidak mempedulikan orang-orang yang sedang memperhatikannya, Sirzechs berpindah ke belakang mereka dengan cepat dan menendang kepala orang yang telah menyerangnya dengan keras. Tidak memberinya kesempatan untuk menarik nafas, Sirzechs mengangkat tumitnya ke depan, lalu melontarkan pukulan berat berisi energi iblis ke wajah pengganggu lainnya.

"Lumayan juga, Gremory. Tapi jangan senang dulu yang kau kalahkan hanyalah anak-anak dari pelayanku, jadi wajar saja mereka berdua bisa dikalahkan oleh orang sepertimu."

"Aku akan menghancurkan wajah sombongmu, Bael!"

Sirzechs memompa kakinya dan menyerang Venelana menggunakan pukulannya. "Sepertinya kau harus memperhatikan sikapmu, kalau tidak kau hanya akan mendapatkan masalah, Gremory!"

Sirzechs terkejut melihat pukulannya dihentikan dengan mudah oleh Venelana dan tanpa ampun ia putar lengan Sirzechs lalu menyalurkan kekuatan penghancur ke tangannya yang membuat lengan Sirzech mati rasa. "Enghhh ..."

"Apa yang kau sentuh saat ini adalah energi penghancur, Gremory. Bahkan dengan seluruh kerja kerasmu kau tak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan dari klan Bael."

Venelana kembali tersenyum. "Hmm, cobalah kau tebak ini, Gremory. Kenapa aku berani memancingmu hingga sejauh ini? bukankah ini aneh."

"Apa yang kau bicarakan, Sialan."

"Maksudku kalau kau berusaha melaporkanku tentang masalah ini, maka kau hanya akan menggali kuburanmu sendiri. Lihat siapa orang yang paling pertama menggunakan kekuatan iblisnya di sini? Apakah dua orang yang telah kau kalahkan itu? Aku? atau dirimu, Gremory?"

Melihat ekspresi terkejut yang dikeluarkan Sirzechs, membuat Venelana kembali tersenyum penuh percaya diri. "Sepertinya kau mulai menyadarinya, bodoh."

Venelana menghentikan energi penghancurnya dan membiarkan Sirzechs keluar dari genggamannya.

"Aturan di sini lebih menyalahkan orang yang menggunakan sihir untuk kekerasan dibandingkan fisik. Aku menggunakan sihirku sebagai tindakan pertahanan diri jadi itu tidaklah masalah. Sebagai tambahan kau tidak perlu mencari saksi mata untukmu, lagipula siapa juga yang mau menentang pewaris keluarga Bael? Tidak adak--!! Auchh ... siapa yang melempar batu ke arahku?!"

Hanya keheningan canggung yang di dapatkannya. Venelana yang hendak kembali berteriak kembali di kejutkan dengan rasa panas mulai menyirami rambutnya, tunggu, bukankah itu kuah ramen?!

"Upss, tampaknya aku tidak sengaja menjatuhkan porsi makan siangku di kepalamu."

Venelana mencari asal suara dan mendapati seorang bocah berambut pirang dengan mata biru seperti laut berdiri di atas pohon sambil menyeringai bodoh ke arahnya.

"B-beraninya kau melakukan ini kepadaku! Apakah kau tidak tahu aku ini siapa?!"

"Memangnya aku harus peduli dengan siapa dirimu, gadis bodoh?" Sembari memakan beberapa mie yang masih tersisa di dalam mangkoknya, ia terjun ke bawah dengan santai dan berjalan ke arahnya.

"Gadis bodoh? berani sekali kau mengejekku seperti itu, aku ini pewaris dari klan Bael, namaku adalah Venelana Bael!"

"Oh."

"Oh? Apa-apaan ekspresi datar yang menyebalkan itu."

"Dengarkan aku yah, keledai. Aku tidak peduli dengan omong kosong yang kau katakan."

"B-berani sekali kau berkata kasar seperti itu, siala--! Epph!"

Spankkk ...!

"Hmm, ini menyedihkan. Pantat milikmu masih terlalu datar. Memangnya umurmu berapa sih? Ahh, ini bahkan lebih datar bahkan untuk seorang bay--"

Naruto menghentikan ejekkannya ketika puluhan bola penghancur melayang ke arahnya dengan cepat. Bukannya panik seperti orang normal, ia menghindar di antara celah serangan seperti sedang menari. Sirzechs yang melihat itu menatapnya seperti tidak percaya dengan apa yang ia lakukan.

"Bagaimana dia bisa menghindari semua serangan penghancur itu dengan mudah?!"

Venelana yang menyadari semua bola penghancurnya terbuang sia-sia, mengubah taktik dan memutuskan menyerang Naruto secara langsung. Dan itu adalah keputusan fatal.

Naruto menangkap lengan Venelana yang hendak memukul kepalanya, kemudian menyalurkan sedikit sentakan listrik ke dalam tubuhnya. Venelana tersentak kaget merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba melemah sesaat. Naruto memanfaatkan momen itu dan menyapu bersih kaki Venelana yang membuatnya terjatuh ke tanah.

"Pewaris klan terkenal apanya, strategi yang kau gunakan kepadaku terlalu sederhana. Tunggu apakah itu termasuk strategi juga?" Naruto tersenyum main-main ke arah Venelana yang masih menatapnya dengan marah.

"B-berani sekali kau merendahkanku seperti ini, aku akan melaporkanmu ke ayahku!"

"Woah ada apa ini, kenapa kau mulai bertindak seperti anak manja? Kemana hilangnya semua arogansimu yang menyebalkan itu, Venelana-Chan? Ups, apakah kita memang seakrab itu? Sayang sekali, aku rasa tidak, Bael," Ucap Naruto dengan sinis.

"Dan aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Jika kau ingin melaporkanku, maka itu akan menjadi kesalahan besar di pihakmu. Kenapa? Alasannya simpel, karena kau sudah menyerangku dengan sangat brutal, maksudku kau berusaha membunuhku menggunakan bola hitam menyedihkan milikmu itu. Dan kalau kau memang seorang pencundang yang tidak punya harga diri, kau bebas mengadu ke pihak sekolah, hukum, ataupun ayahmu itu."

Naruto memandangi mata ungu Venelana yang indah dengan rasa kasihan, "Padahal kau terlihat sangat manis dengan mata ungumu itu. Mengingatku pada seseorang yang kukenal."

Venelana kaget dengan apa yang di dengarnya. Tidak ada orang yang memuji matanya selain ibunya sendiri, bahkan ayahnya pun tidak pernah memujinya seperti itu.

"Tapi sayang sekali, sifatmu yang brengsek terhadap sepupumu itu telah menghilangkan pesonanya."

Naruto melangkahkan kakinya menjauh dari Venelana yang masih diam terbaring di tanah.


"A-apa itu?"

"Well, aku baru saja menendang pantat sepupumu."

"B-bukan itu, maksudku kenapa kau mau menolongku?"

"Hmm? Apakah aku harus memiliki alasan untuk membantumu?"

"Tidak sih, hanya saja apakah kau tidak khawatir jika ia benar-benar akan melaporkanmu?" Tanya Sirzechs dengan khawatir.

"Tuan putri manja itu tak akan bisa melakukannya. Tipe orang seperti dia tidak akan repot-repot mengadu, tidak setelah aku mengejek harga dirinya. Ngomong-ngomong apakah tanganmu baik-baik saja?"

"Hanya sedikit sakit, tapi tidak masalah kok."

"Sini julurkan tanganmu."

"Untuk apa?"

"Cepat lakukan saja."

Sirzechs menjulurkan tangannya ke arah Naruto dan memperhatikan tangannya mengeluarkan sesuatu yang berwarna putih mulai membasuhi area lukanya. Dan puwala, luka di lengan kanannya tiba-tiba menghilang seperti sihir ... ini memang karena sihir, bukan?

"Wah hebat, apakah kemampuanmu adalah teknik penyembuh? Ahh, maaf kalau ini sedikit terlambat, tapi perkenalkan namaku Sirzechs Gremory, senang berkenalan denganmu."

"Naruto Phenex, senang juga bertemu denganmu."

"Ehhh? Phenex? Aku tidak tahu kalau mereka memiliki teknik penyembuh selain air mata phenex."

"Memang tidak, anggap saja aku sedikit istimewa dibanding phenex lainnya, hahahah ..."

"Hmmm, jadi Phenex-San apakah kau pergi ke sekolah juga?"

"Sudah jelaskan aku datang ke sini untuk ke sekolah dan juga panggil aku dengan nama depanku saja."

"Apakah tidak masalah? Kata ibuku tidak sopan memanggil orang dengan tidak hormat seperti itu, apalagi dengan orang yang baru dikenal."

"Jezz, mari kita lupakan hal remeh itu. Anggap saja ini awal dari pertemanan kita."

"Te ... teman?"

"Apakah kau tidak mau berteman denganku?"

"Tidak, tidak bukan begitu maksudku. Hanya saja aku sedikit kaget. Soalnya, baru kali ini ada seseorang yang ingin berteman denganku. Kebanyakan anak-anak tidak berniat berteman denganku karena kepribadianku yang mereka anggap membosankan."

"Hei, tenang saja. Aku tidak menganggapmu begitu kok, kau hanya sedikit terlalu sopan saja dan menjadi sopan bukan berarti membosankan tahu." Naruto merangkul bahu Sirzechs dan menariknya untuk mendekat.

"Benarkah?"

"Ya, tentu. Meskipun tata krama dan formalitas agak menjengkel sih, tapi ya sudahlah mari kita lupakan itu." Naruto mengarahkan tinjunya ke arah Sirzechs dan mendapatkan tatapan bingung darinya.

"Sekarang sebagai tanda resmi pertemanan kita, bagaimana kalau kita melakukan brofist?"

"Brofist? Apa itu?"

"Anggap saja sebagai sapaan pertemanan kita." Sirzechs mendengar itu mulai menitikkan air matanya.

"Oi, oi kenapa kau tiba-tiba menangis?! Apakah aku memang seburuk itu?"

"B-bukan bodoh, aku hanya terlalu bahagia saja. Tolong jangan menganggap aku aneh, tapi ini pertama kalinya aku punya teman sepertimu, Naruto-San." Mendengar perkataan yang diutarakan Sirzechs mengingatkannya kembali dengan dirinya di masa lalu.

Mungkin jika ada yang ingin berteman dengannya dengan tulus seperti ini di masa lalu, Naruto pasti akan sama bahagia dan terharunya seperti Sirzechs sekarang. "Ya, kau juga teman pertamaku kok."

"Eh, benarkah?"

"Kembali di rumah Phenex, di sana kebanyakan hanya ada orang dewasa. Aku memang kenal dan berteman dengan mereka semua, yah hanya saja aku tidak memiliki teman sebaya. Hampir mirip sepertimu."

"Kalau begitu aku akan menjadi teman pertamamu, Naruto-San."

"Kalau begitu, tos?"

"Tos!"

Naruto tersenyum kecil saat mendengar Sirzechs mulai menceritakan tentang rumah dan orang tuanya. Merasakan pertemanan kecil ini membuat Naruto merasa rindu dengan dunia asalnya, tapi yah karena ini hidup keduanya, ia hanya akan menikmatinya dan terus berjalan maju seiring berjalannya waktu.

"Tampaknya pergi ke sekolah tidak terlalu buruk seperti yang kukira."


Huh.., lagi-lagi begini. Targetku untuk membuat chap 3 sebanyak 6k word gak berhasil juga wkwkwk ... yah tidak masalah, mungkin aku akan meningkatkan jumlah wordnya seiring cerita berjalan.

Jadi, bagaimana? Apakah alur ceritanya cukup bagus? Apakah ceritaku masih agak monoton? Ato ada kekurangan lainnya? Yah silahkan review aja.

Kalau ada yang bertanya apakah alur ini terjadi sebelum perang saudara, maka jawabannya ya.

Aku tidak mengerti kenapa aku bisa mengambil alur cerita sebelum perang saudara ... kebanyakan fanfic hanya akan mempersingkat atau menskip kejadian perang saudara, jadi yah gw main berani aja ngambil alurnya.

Aku menyadari ada banyak slot yang kosong untuk penempatan karakter di fic ini, jadi maklumin yang kalau ane ngambil beberapa karakter dari anime lain atau bahkan Oc yang sengaja gw ciptain biar gk keliatan kosong.

Venelana aku jadiin sebagai sepupunya Sirzechs, kenapa? yah waktu ngetik kebawa arus aja gitu, jadi gw tulis deh sepupu Sirzechs itu Venelana dan emaknya Caren (oc), lmao.

Sebenarnya 2 hari yg lalu gw pengen update nih cerita tapi ada kendala tugas yg gak bisa ditinggalin, jadi yaudah, updatenya agak lama.

Hold up, jika ada yang bertanya kenapa Rizevim yang terkenal kejam repot-repot bangunin sekolah, yah alasannya karena kepentingan alur dan dia itu seorang yang manipulatif.

Hmm, mungkin hanya itu yang bisa gw sampaikan, jadi bay~~

Note: Jangan anggap Narutod lolicon. Ia hanya sengaja melakukannya buat mancing emosi doang, lmao.