Disclaimer: Saya tidak memiliki hak atas kepemilikan semua karakter yang ada di dalam cerita. Cerita ini akan memiliki unsur dari anime Naruto, DxD, dan sebagainya.
Chap 4 - Bunga yang Terbeku
Kalau kalian bertanya siapa orang yang paling dibenci Serafall saat ini, maka orang yang beruntung tersebut adalah Naruto Phenex.
Serafall Sitri, seorang gadis berumur 7 tahun adalah pewaris dari klan rumah iblis, Sitri. Kalau dinilai dari penampilan, bisa dikatakan ia adalah gadis paling cantik untuk kebanyakan anak seusianya. Rambut hitam panjang tergerai di atas punggungnya, poni yang terbelah dua, mata biru yang menunjukkan rasa dingin dan ketegasan di dalamnya membuat gadis itu dikeliling karisma aneh yang membuat siapa pun takut dan patuh kepadanya.
Sejak kecil, Serafall selalu berlatih, berlatih, dan berlatih untuk mewujudkan ekspektasi orang tuanya. Berbeda dari kebanyakan klan sitri yang berspesialis dalam pengendalian elemen air, Serafall di anugerahi penguasaan elemen tambahan angin, yang membuatnya berpotensi membangun kekuatan es.
Sejak berumur 5 tahun Serafall sudah memiliki kontrol yang tinggi atas elemen air dan anginnya, meskipun begitu sampai sekarang ia masih belum berhasil menguasai kekuatan es itu secara sempurna. Ia memang bisa menciptakannya, tapi itu tidak bisa bertahan lama bahkan belum bisa digunakan untuk bertarung.
Hal ini mengundang sedikit kekecewaan di kerabat keluarganya terutama ayahnya sendiri. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Serafall selalu dituntut ayahnya untuk meraih prestasi yang tidak bisa didapatkan iblis muda seperti dirinya. Ia memang melakukannya, meskipun begitu ayahnya selalu saja tidak puas dan semakin menambah beban yang dimilikinya.
Hal ini menyebabkan dirinya tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan agak kejam dibeberapa aspek tertentu. Karena masa kecilnya Serafall beranggapan orang yang tidak serius membangun karir iblisnya dan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna akan dianggapnya sebagai sampah.
Dan seorang Naruto Phenex adalah terburuk dari semua itu.
*Kilas Balik*
Acara sambutan pembuka dari Lucifer telah selesai. Kini Serafall dengan seluruh pewaris pillar iblis lainnya berjalan ke ruangan besar di tempat tersebut. Ia bisa melihat deretan pasang kursi dan meja tersusun dengan rapi.
Serafall mengalihkan perhatiannya dan melihat seorang pria memakai pakaian butler berwarna hitam dengan dalaman putih. Aksesoris kacamata yang menempel di wajahnya menambah kesan khas untuk seorang pelayan.
"Tolong perhatiannya sebentar!" Mendengar teriakan keras itu, mereka semua termasuk Serafall berpaling ke arahnya dan berusaha mendengarkan apa yang dia ingin bicarakan.
"Namaku adalah Euclid Lucifuge. Sekarang aku telah ditugaskan untuk membimbing kalian ke acara selanjutnya seperti yang telah Lucifer-Sama katakan. Di hari pertama kalian, kami tidak berencana langsung mengajar secara formal, sebaliknya kami ingin mengetes kecerdasan dan interaksi kalian terlebih dahulu melalui permainan catur."
Ctak ...!
Secara bersamaan papan catur sebanyak 36 buah muncul secara ajaib di atas setiap meja yang tersedia di sana. Mendengar kata "permainan catur" membuat Serafall tersenyum dengan penuh percaya diri.
Bukan bermaksud untuk sombong, tapi bisa dikatakan Serafall adalah iblis muda yang terpintar setelah pewaris dari klan Agares. Tapi tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar pintar di antara keduanya. Perbandingan antara keduanya muncul karena mereka berdua sama-sama terlahir dari klan yang kejeniusannya lebih menonjol daripada pillar-pillar iblis lainnya.
Dan sekarang ini adalah kesempatannya untuk mengalahkan pewaris dari klan Agares.
"Ngomong-ngomong sebelum memulai permainan aku ingin 36 orang diantara kalian mengambil gulungan kertas di dalam kotak ini terlebih dahulu."
Tanpa banyak bertanya, Serafall dan 35 pewaris lainnya mengambil satu gulungan kertas, kemudian membukanya.
"Phenex? Jadi, aku akan bertanding dengan orang dari phenex yah?" Euclid mendengar pertanyaan itu mengangguk ke arahnya.
"Ya, setiap nama yang kalian dapatkan dari kotak ini akan menjadi lawan tanding kalian nantinya. Kalian semua bebas memilih meja mana yang akan ditempati. Anggap saja pertandingan catur ini sebagai bahan hiburan, karena aku yakin sekali di antara kalian semua masih ada yang tidak mengerti dengan permainan ini, oleh karena itu kami sudah menyediakan buku panduan cara bermain catur untuk kalian. Tapi kami akan tetap menggunakan sistem turnamen untuk mengetahui tingkat kecerdasan di antara kalian. Aku harap kalian semua mengerti dengan penjelasanku."
Melihat tidak ada yang ingin ditanyakan, Euclid mulai mengumumkan siapa saja lawan tanding mereka dan menyuruhnya untuk segera bersiap-siap. Serafall berjalan kesalah satu meja yang ada di sana dan duduk menunggu orang yang akan menjadi lawan tandingnya.
1 menit ...
2 menit ...
3 menit ...
"Kenapa orang itu masih belum datang juga? Apakah dia tidak mendengar pengumumannya?" Ucap Serafall yang mulai jengkel.
Melihat hampir semua orang kecuali dirinya sudah mulai bermain, Serafall berusaha menenangkan rasa kesalnya dan memutuskan untuk menunggu beberapa menit lebih lama.
Ok, ia sudah cukup dengan semua ini.
"Permisi Euclid-Sensei, tampaknya orang dari phenex tidak ada di sini. Aku sudah menunggunya kurang lebih selama 5 menit, tapi dia masih belum muncul juga."
"Oh, benarkah?"
Euclid mengambil daftar absen dan melihat deretan nama pewaris yang ada di sana.
"Ehem! Apakah di antara kalian ada yang tahu di mana Naruto Phenex berada?" Seluruh orang diam tidak tahu harus menjawab apa, hingga seorang anak berambut merah berdiri. Sepertinya dia tahu ke mana Naruto berada.
"A-ano Sensei, Naruto-San barusan izin pergi ke kamar mandi."
"Disaat seperti ini? Seharusnya dia meminta izin kepadaku terlebih dahulu."
"Katanya dia sudah tidak tahan lagi dan menyuruhku untuk memberitahu Sensei, tapi sepertinya aku malah kelupaan."
"Huh, dasar. Sitri-San kau bisa duduk terlebih dahulu sambil menunggu Naruto Phenex datang. Tidak masalahkan?"
"Oh tentu, sama sekali tidak masalah Euclid-Sensei." Euclid berkeringat mendengar nada kesal yang dikeluarkan gadis itu dan membiarkannya pergi menjauh darinya.
Serafall kembali duduk di atas bangkunya sambil menopang wajah kesalnya menggunakan kedua tangannya. "Hah, kenapa aku tiba-tiba merasa sangat jengkel seperti ini sih? Ayolah Serafall jangan sampai kau kehilangan akal sehatmu hanya karena masalah sepele seperti ini," Kata Serafall seraya menepuk wajahnya dengan pelan.
Serafall yang terus bergumam tidak jelas, jadi terdiam ketika mata birunya tidak sengaja menangkap pemandangan seorang bocah berambut pirang cerah berjalan masuk ke dalam aula. Dia memiliki mata biru sama seperti dirinya. Badannya dibalut dengan pakaian berwarna jingga dengan garis-garis hitam dan mengenakan celana panjang hitam yang pas dengan ukuran kakinya hal itu membuat penampilannya terlihat menarik.
Serafall berasumsi dialah yang akan menjadi lawan tandingnya. Klan Phenex memiliki beberapa ciri khas tersendiri untuk setiap anggotanya. Orang-orang dari klan phenex cenderung memiliki rambut berwarna pirang, selain itu dari apa yang ayah katakan kepadanya, mereka punya temperamen yang membuat mereka terselalu bersemangat, hingga sering melakukan sesuatu yang ceroboh.
Mungkinkah itu berhubungan dengan afinitas elemen api mereka? Yah, siapa yang tahu.
Selesai berbincang dengan Euclid tentang masalah kamar mandi, Naruto berjalan ke arah Serafall dengan santai kemudian duduk dihadapannya. Serafall menatap Naruto dengan datar sedangkan dia hanya tersenyum ke arahnya.
"Sepertinya aku agak telat yah, hahaha ..."
"Hmph, kau sudah membuang-buang waktu berhargaku," Ucap Serafall memalingkan mukanya dengan cemberut.
"Tolong berhentilah cemberut, tuan putri. Seandainya saja ada trik atau sihir yang mampu membuat seseorang tidak buang air kecil selama satu hari penuh, maka aku tidak akan telat seperti ini."
"Masuk akal juga. Kalau begitu kenapa kita tidak langsung bertanding saja?"
"Errr ..."
"Ada apa? Tolong jangan katakan kalau kau tidak pernah bermain catur?"
"Aku benci mengakuinya, tapi ya aku belum pernah bermain catur sama sekali." Naruto menggaruk kepalanya dengan malu-malu.
"Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarimu tentang permainan ini? Seharus permainan strategi seperti ini sudah awam dimainkan untuk masyarakat iblis, terutama kepada pewaris muda." Serafall mengambil bidak raja lawannya kemudian dia main-mainkan lalu ia acungkan ke arah Naruto. "Biar aku tebak, kau pasti hanya seorang bocah manja yang kebetulan jadi pewaris iblis, kan?"
"Wah, wah kata-katamu sungguh melukai harga diriku. Kalau kau memang tahu dan ahli dalam permainan ini, kenapa kau tidak menjelaskannya saja kepadaku sehingga kita bisa menyelesaikan permainan ini, Sitri-Dono?" Bukannya marah, Naruto malah tersenyum manis ke arah Serafall dan mengambil bidak rajanya kembali dari genggamannya.
"Itu ... respon yang tidak terduga," Pikir Serafall.
"Baiklah aku akan memberimu waktu untuk membaca buku panduan itu sebelum kita mulai bertanding," Ucap Serafall seraya menunjuk buku yang ada di sampingnya.
"Hmm? Apakah kau tidak mau mengajariku secara langsung, Sitri-Dono?"
"Pewaris yang tidak kompeten seperti dirimu hanya akan membuang-buang tenagaku saja, lagipula kau pasti tidak akan mengerti dengan perkataanku."
"Benarkah? Berarti kau tidak bisa bermain catur dong."
"Apa maksudmu?" Naruto mengabaikan pertanyaan dari Serafall dan lebih memilih mengambil buku di sampingnya, kemudian di bacanya.
"Ada orang mengatakan, kalau kau tidak bisa menjelaskan sesuatu yang dapat dipahami bahkan untuk orang tidak kompeten seperti diriku, berarti kau tidak sepenuh ahli dibidang tersebut." Serafall menatap Naruto dengan pandangan cemberut.
"Yosh, aku sudah selesai mempelajari semua dasar-dasar dari game ini." Mendengar keyakinan dan rasa percaya diri yang keluar dari mulutnya membuat Serafall semakin jengkel.
"Kau sudah mempelajari semuanya? Tolong berhentilah menggertakku seperti itu. Paling-paling kau hanya paham dengan gerakan-gerakan dasarnya saja."
"Entahlah, siapa yang tahu." Naruto memutar papan caturnya dan membiarkan Serafall mengambil bagian putih.
"Ladies first."
Tanpa banyak protes Serafall menggerakkan buah kuda yang ada di sisi kanannya dengan gerakan L ke kiri. Serafall agak kaget melihat Naruto juga mengikuti gerakannya, namun yang membedakannya arah kuda bergerak ke tepi bukan ke tengah.
"Tampaknya kau memang hanya menggertakku, Phenex-Dono. Menggerakkan kuda ke tepi bukanlah ide yang bagus."
"Terimakasih atas masukanmu, Sitri-Dono. Aku sangat menghargainya."
Berpikir memancing emosi Naruto adalah hal yang sia-sia, Serafall memutuskan untuk tetap diam. Selama permainan ini berlangsung ia bisa melihat Naruto banyak melakukan kesalahan di beberapa gerakkan yang membuat formasi buah caturnya jadi amburadul, sehingga membuat gajah, benteng, dan ratu tidak bisa bergerak dengan maksimal yang membuat buah catur Serafall mudah memojokkan raja ke dalam jebakannya.
"Checkmate." Melihat bidak-bidak caturnya berhasil mengekang raja musuh, ia menatap ke arah Naruto dengan senyum sombong yang terukir di wajahnya.
"Jadi, bagaimana? Apakah kau ingin menarik kata-katamu kembali bahwa aku tidak ahli dalam bermain catur?"
"Woah, pewaris dari klan Sitri memang sangat hebat sekali yah. Tapi sayang sekali, aku tidak akan menarik kata-kataku. Hmm, mungkin aku akan menariknya jika kau berhasil mengalahkanku. Lagipula, kita masih punya dua pertandingan tersisa."
"Dua pertandingan? Mungkin maksudmu satu pertandingan yang tersisa," Kata Serafall yang masih tersenyum ke arahnya.
Sekarang ini akan menjadi giliran Naruto yang pertama bergerak. Serafall mengangkat alisnya dengan rasa penasaran, "Kenapa orang ini masih melakukan gerakan yang sama seperti sebelumnya? Apakah dia memang sebodoh ini?" Pikir Serafall.
Tak ...Tak ...Tak ...
Seiringnya gerakan buah catur berjalan, Serafall mulai melihat perbedaan yang terjadi dengan formasinya. Berpikir Naruto akan tetap melakukan kesalahan yang sama, Serafall menyadari dia sengaja melakukan itu untuk memancingnya untuk menggerakkan pola yang sama, sehingga membuat Naruto tahu cara melawan setiap langkah yang dibuatnya.
"Apakah kau mulai berkeringat, Sitri-Dono?"
"Cih, diamlah!"
"Tapi sayang sekali yah kau tidak bisa melakukan Castling, seandainya saja kau tidak dengan ceroboh membuka celah dan menggerakkan ratu dan pionmu ke depan, kau masih bisa menghalau lajur serangan dari gajahku sehingga tidak perlu repot-repot menggerakkan rajamu, tapi sayangnya kau terlalu meremehkanku, Sitri-Dono."
Serafall menggegam tangannya dengan erat saat menyadari posisi rajanya mulai terpojokkan. "Apa-apaan ini! Kenapa orang ini mulai bertingkah seperti seorang Pro?!"
"Heh?!"
"Terimakasih atas kecerobohannya, Sitri-Dono. Kau membuat pertandingan kedua ini menjadi jauh lebih singkat dan inilah dia Checkmate."
Serafall menatap papan catur dengan ekspresi tidak percaya. Maju, mundur, kanan, kiri, serong dan gerakkan manapun rajanya tidak bisa pergi dari lajur serangan lawan.
"Sepertinya perkataanmu sebelumnya itu salah, kita masih memiliki satu pertandingan yang tersisa loh."
Serafall mengigit ibu jarinya dengan frustasi. Berpikir akan kalah dengan seorang pemula agak melukai harga dirinya, bahkan walaupun dirinya menang di ronde selanjutnya, Serafall masih tidak menyukai fakta bahwa Naruto Phenex pernah berhasil mengalahkannya dalam permainan catur.
"Kau jangan sombong dulu, Phenex-Dono. Di pertandingan selanjutnya aku akan mengalahkanmu kurang dari 3 menit."
"Hn? Apakah kau ingin mengajakku bermain Blitz Chess? Tentu, itu tidak masalah, hitung-hitung sebagai pengalaman tambahan buatku."
Serafall mengambil jam catur di sampingnya, lalu ia atur menjadi 3 menit. Pergantian giliran pun terjadi, di ronde terakhir ini. Serafall akan memainkan buah catur putih, sedangkan Naruto memakai yang berwarna hitam.
Tanpa banyak babibu, mereka berdua langsung menggerakkan buah catur dengan cepat dan teliti. Suara ketukan jam catur yang terbentur secara berulang-ulang menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Maju, mundur, serang, bertahan mereka berdua berhasil memperhatikan pola catur dengan baik
Harga diri Serafall sebagai iblis muda yang terkenal dengan kecerdasannya dipertaruhkan di sini. Saking fokusnya ia sampai tidak memperhatikan gerombongan orang-orang yang sedang mengelilingi mereka berdua.
Tak ...! Tak ...! Tak ...!
Tak ...! Tak ...! Tak ...!
Tak ...! Tak ...! Tak ...!
Sudah 1 menit 35 detik berlalu. Baik dari kedua pihak sudah kehilangan hampir setengah buah catur mereka, bahkan ratu dikedua pihak sudah tereliminasi dari papan catur.
Selagi sedang melancarkan serangan, Serafall tersenyum melihat buah catur yang tersisa dari lawannya. Serafall masih memiliki 2 benteng, 1 gajah, dan 3 bidak. Dibandingkan punyanya Naruto hanya memiliki 1 gajah, 1 kuda, dan 4 bidak yang mungkin susah untuk menskak lawannya. Memiliki 2 benteng adalah keuntungan tersendiri bagi Serafall dengan begitu ia memiliki keuntungan lebih besar untuk memenangkan permainan ini.
Bahkan buah catur raja Naruto tidak memiliki pilihan lain selain terpojok ke tengah dan hanya mengandalkan bidak-bidaknya sebagai tameng untuk menghindari skak dari lawannya. Melihat keadaan lawannya yang sudah mulai terpojok membuat Serafall semakin bersemangat untuk memenangkan pertandingan ini.
"Kau masih belum menyadarinya juga yah, Sitri-Dono. Apakah kau tidak bertanya-tanya kenapa aku menyisakan bidakku berjajar dengan pola seperti ini?"
"A-apa?!"
"Daritadi kau hanya berfokus memojokkan rajaku saja, hingga kau tidak menyadari bidakku sudah hampir mencapai area promosi, walaupun kau menggerakkan bentengmu kembali mundur untuk mengancamku, bentengmu hanya akan aku makan dengan bidak yang ada di belakanganya. Yang artinya, promosi menjadi tidak terelakkan. Sebagai tambahan gajahmu juga tidak bisa berbuat banyak, karena hampir seluruh bidakku berada di kotak hitam. Gajahmu hanya bisa menyerang di titik putih saja."
Serafall menggertakkan giginya dengan kesal, karena ia terlalu ceroboh dalam menilai situasi lawannya. Kecerobohan fatal seperti ini ... hanya akan berlaku untuk pemula saja! Kenapa Serafall bisa melakukan kesalahan seperti ini?
"Aku akui kau memang terlihat tenang di luar, tapi dilihat dari matamu kau sama sekali tidak tenang dan terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Kau juga tidak mempertimbangkan apakah aku memiliki strategi atau tidak untuk menghadapimu. Hanya karena aku seorang Newbie, bukan berarti kau bisa meremehkanku seperti itu," Ucap Naruto dengan nada final.
Meskipun Serafall tahu ia sudah benar-benar dalam keadaan yang buruk, dirinya masih menolak untuk mengalah tanpa perlawanan. Naruto melihat Serafall ragu-ragu menggerakkan buah caturnya memutuskan membuka mulutnya.
"Serafall, kau sudah kalah."
"Aa ...?!" Serafall menyadari timer-nya berhenti berdetak melirik ke jam caturnya.
( Serafall) 00;00 s 05;34 s (Naruto)
Serafall gagal menggerakkan bidaknya setelah menyadari waktunya sudah habis lebih dulu. Menyadari dirinya sudah dikalahkan oleh lawannya membuat Serafall terjatuh di atas kursinya.
"Aku kalah ...?" Serafall menunduk ke bawah dan membiarkan wajahnya tertutupi oleh rambutnya.
Sebagai tanda kemenangannya, Naruto merobohkan raja Serafall dan meletakkan miliknya di tengah. Naruto berdiri dari atas kursi dan berjalan menghampiri Serafall.
"Hei tuan Putri, berhentilah murung seperti itu. Kalah dan menang itu sudah biasa dalam permainan, kau mungkin kalah hari ini, tapi kau masih bisa menantangku di lain hari." Naruto menjulurkan tangannya ke arah gadis bermata biru tersebut.
"Menantangmu bermain ...? Di lain hari ...? Ya, tentu saja!"
Naruto tersentak kaget ketika Serafall tiba-tiba berdiri dan menatapnya dengan wajah yang berlinangan air mata. Oh Naruto, kau itu suka sekali yah membuat perempuan menangis, aku penasaran dengan reaksi Lady Phenex tentang ini.
"Tentu saja, Sialan! Lihat saja nanti aku akan menantangmu bermain dan akan aku buktikan kalau aku lebih hebat darimu! Dasar ayam goreng menyebalkan!"
Plak ...!
Naruto hanya bisa mengaduh kesakitan saat Serafall melayangkan tamparan ke pipinya dengan keras. Bocah berambut pirang itu kaget dengan tamparan yang baru saja diterimanya.
"Apa-apaan dengan julukan itu, wajah datar!"
"Kau itu sangat menyebalkan, menyebalkan, dan menyebalkan! Lihat saja nanti, aku akan membuatmu mengakui kehebatanku dan akan kujadikan kau sebagai babuku, dasar ayam gosong!" Serafall pergi keluar dari aula dan meninggalkan Naruto yang masih memegang pipinya kesakitan.
"Pantesan saja sakit, si wajah datar itu menambah elemen angin di dalam pukulannya."
*Kilas balik berakhir
Serafall menutupi wajah merahnya menggunakan kedua bantal yang ada di kasurnya. Astaga, hanya dengan mengingat semua itu kadar kebencian Serafall kepada Naruto semakin meningkat drastis.
"Hari ini aku benar-benar sial bertemu dengan orang itu. Dan apa-apaan kenapa orang itu malah satu kelas denganku sih, Arrghhhhhhhhh ...!"
Serafall meredam teriakannya menggunakan selimutnya dan berguling-guling di atas kasurnya. Merasa sudah tenang, Serafall membiarkan dirinya berbaring sambil menghela nafas lelah.
Serafall mengalihkan perhatiannya ke kotak catur yang ada di sisi kiri kasurnya. Ia mengambilnya, membukanya, lalu menyusunnya sesuai dengan urutan.
"Hanya karena aku seorang Newbie, bukan berarti kau bisa meremehkanku seperti itu."
Serafall kembali teringat dengan ucapan Naruto sebelumnya.
"Aku tidak bermaksud sombong atau meremehkanmu ..., aku hanya tidak terima saja kalau ada orang yang berhasil mengalahkanku dalam permainan catur. Ayah bahkan mengakui kehebatanku dalam permainan ini." Serafall kembali menggenggam tangannya dengan erat, lalu ia lepaskan.
"Kalah dan menang dalam permainan sudah biasa yah? Kau bisa mengatakan itu, karena kau tidak memiliki beban yang sama denganku."
Kelopak matanya sudah mulai terasa berat. Serafall membiarkan kotak caturnya tetap terbuka dan memutuskan untuk pergi beristirahat.
"Aku pasti akan mengalahkanmu, Naruto Phenex ..." Serafall menutup kedua matanya dan berharap di dalam mimpinya ia akan berhasil mengalahkan orang itu dan membuat kedua orangtuanya bangga dengannya.
Yah, Serafall pasti akan mengalahkannya!
Err, hai bagaimana dengan kabarmu? Baik-baik saja kan? Yah syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja.
Aku tidak menduga membuat chap ini akan memakan waktu agak banyak. Mau gimana lagi, gw masih agak awam dalam buat cerita kyk gini. Sebelum aku akan menjawab beberapa pertanyaan dari review aku ingin mengatakan beberapa hal tentang beberapa perbedaan yang ada di canon untuk cerita ini.
1. Kalau di canon, Euclid seharusnya satu umur dengan Narutod dan posisinya itu sebagai adik laki-laki Grayfia. Tapi di cerita ini akan aku ubah dia menjadi kakak tertuanya Grayfia. Tentang kacamata itu hanya aksesoris sehari-harinya saja.
2. Kalau di canon seharusnya, Tsufaame Tereaku Leviathan, Bidleid Bashalun Beelzebub, Damaidosu Zereikel Asmodeus kan yang menjadi 3 pemimpin di samping Rizevim, tapi aku ubah keturunan mereka lah yang menjadi bawahan Rizevim menggantikan mereka. Karakter yang kusebutkan di awal itu tidak akan menghilang begitu saja, malahan akan aku pake untuk beberapa alur dalam cerita. (mungkin?)
3. Kalau di canon seharusnya hanya tersisa 35 Pillar iblis setelah Great War Pertama, tapi disini aku ubah tetap 72 pillar dengan catatan setiap rumah iblisnya kehilangan setengah populasi akibat perang.
Hanya itu saja perbedaannya untuk kali ini. Kalau ada yang masih janggal beritahu aja lewat reviem.
Untuk pasangan Narutod, belum bisa gw konfirmasi. Nanti kalian malah kena php kan sayang wkwkw. Aku mengerti ada banyak yang mendukung pasangannya Narutod itu Venelana, tapi yah liat aja ke depannya. Kebetulan gw juga suka ama chara Venelana wkwkw.
Dilihat dari timeline-nya udah jelas bukan kalau adik Narutod di phenex seperti Ruval, Un-named Chara lmao, Raiser, dan Ravel belum muncul.
Untuk penokohan sifat Narutod aku bisa mengerti kalau dia sedikit sombong, yah mungkin ini gara-gara chara fav gw kebanyakn sombong kyk Gilgamesh, Ozymandias, Reinhard Heydrich, Dio Brando, dan beberapa karakter asshole lainnya.
Mungkin aku akan menerapkan prinsip ini kepada Narutod, "Mata dibalas mata, taring dibalas taring, mulut dibalas mulut." Tapi selalu ingatlah ini, ia akan tetap menjadi Narutod yg agak naif. Untuk beberapa diaspek tertentu sih.
Kalau masalah gw hiatus ato enggak, yah liat aja ke depannya wkwkw. Aku paham kok kalau hampir kebanyakan cerita Narutod phenex itu sering hiatus malahan dari searchs yang aku lakukan tidak ada fanfic Narutod phenex yang tamat. (Beritahu kalau aku salah.)
Dan untuk sifat Serafall mungkin kalian akan beranggapan agak ooc kan? tapi yah gw gk yakin deh sikap Serafall udah ceria banged kyk gitu sejak kecil. Dilihat dari sikap Sona ketahuan banged klan sitri itu kyknya hampir mirip mirip lah kyk Sona. Cuman spekulasi sih.
Aku bisa paham kalau ceritaku bisa dikatakan agak membosankan, karena yah enggak ada konflik yang benar-benar muncul disini, tapi di chap chap awal kyk gini lebih suka buat masalah sepele yg nanti bakalan jadi masalah besar buat Narutod wkwkw.
Tambahan, klan-klan seperti Lucifer, The Six House Lucifer, Asmodeus, Beelzebub, dan Leviathan keturunannya memang akan muncul nantinya tapi bukan di akademi sih, kn tuh sekolah khusus buat 72 Pillar Iblis, mereka mah gk termasuk. Kecuali akan gw masukkan kalau demi kepentingan alur wkwkw.
Btw aku melakukan beberapa perubahan kecil yg gk berarti di chap-chap sebelumnya. Tenang aja itu gk merubah alur selanjutnya kok.
Errr, gw kebanyakan jelasinnya yah? wkwkw. Ya udah terimakasih yah udah mau baca cerita gw, padahal awal-awal buat nih cerita gw gk yakin kalau bnyk yg suka.
Kalau nih cerita masih banyak kekurangan tolong di review yah, buat bahan intropeksi. Dan misalkannya ada pertanyaan yang masih belum gw jawab, pm aja gw.
Mungkin hanya itu yg bisa gw sampaikan jadi, bay~~
Selamat menjalankan ibadah puasa.
Note: Panggil aja gw Kevin ato Apron-Senpai, jngn panggil gw om lah. Gw enggak setua itu woy wkwkw. Ya udah gw minta maaf kalau ada yang tersinggung.
bay~~
