Disclaimer: Saya tidak memiliki hak atas kepemilikan semua karakter yang ada di dalam cerita. Cerita ini akan memiliki unsur dari anime Naruto, DxD, dan sebagainya.
Chap 5 - Lolipop
Jujur saja, Naruto bukanlah orang yang paling jenius di dunia ini. Meskipun begitu, ia tidak perlu memiliki kecerdasan sehebat Shikamaru untuk menilai situasi yang sedang dihadapinya.
"Hmm, bisakah kalian berdua berhenti menatapku seperti itu?" Ucap Naruto dengan datar sembari menatap dua orang perempuan berambut hitam dan coklat secara bergantian.
Mereka berdua yang awalnya menatap Naruto dengan tajam kembali membuang muka yang membuat Naruto semakin jengkel dengan situasi yang sedang dialaminya. Ia tidak akan pernah berpikir akan duduk bersebelahan dengan dua orang perempuan yang pernah bermasalah dengannya, siapa lagi kalau bukan pewaris dari klan Bael dan Sitri.
Jujur saja, Naruto tidak masalah harus duduk bersampingan dengan mereka berdua. Namun masalahnya, dari tempat duduknya Naruto bisa mendengar dengan jelas sumpah serapah mereka dan sesekali menatap wajahnya seakan-akan ingin sekali membunuhnya.
"Kenapa sih tempat duduk kami harus di atur segala? Seharusnya mereka membiarkan kami bebas memilih tempat duduk," Pikir Naruto memijit kepalanya dan berusaha untuk tidak terlalu mempermasalahkannya.
Saking stresnya, Naruto bahkan tidak menyadari wali kelasnya sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa kau terlihat sangat stres, Naruto-Kun?"
"Uuwahh ...!" Naruto dikagetkan dengan wajah seorang pria di depannya.
"Woah, tenanglah kau tidak perlu sekaget itu tahu." Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari ia mengenali pria yang ada di hadapannya.
"Anoo, bukankah kau Euclid Lucifuge yang menjadi pemandu kami di hari sebelumnya yah?" Tanya Naruto yang ingin memastikan identitasnya, karena sekarang ini dia tidak memakai kacamata seperti kemarin.
"Ah ya itu benar, Naruto-Kun. Dan sekarang, aku telah ditugaskan oleh Lucifer-Sama untuk menjadi wali kelasmu." Euclid mundur beberapa langkah kebelakang dan menatap wajah setiap murid yang ada di sana.
"Halo semua, selamat pagi. Namaku Euclid Lucifuge, aku akan menjadi wali kelas kalian semua selama 6 tahun ke depan," Ucap Euclid sambil tersenyum ke arah mereka semua. Dia mengangkat tangan kirinya dan secara ajaib muncul buku kecil kemudian dibacanya dengan mantap.
"Hmm, kupikir sebelum kita mulai sesi belajar, kenapa kalian semua tidak mulai memperkenalkan diri terlebih dahulu? Bukankah itu jahat kalau kalian tidak mengenali teman sekelas kalian sendiri. Nah, apakah ada yang ingin secara sukarela maju ke depan untuk mulai memperkenalkan diri?" Tepat di tengah-tengah seorang gadis berkacamata merah dengan rambut coklat yang diikat menjadi dua bagian mengangkat tangan kirinya dan maju ke depan kelas setelah diberi izin oleh Euclid.
Gadis itu mengenakan baju berwarna hitam dengan hiasan merah muda melekat erat dengan tubuhnya mengungkapkan penampilannya yang langsing. Tanpa merasa gugup, dia berdiri menghadap ke 11 murid lainnya dan entah kenapa secara spesifik menatap ke arah Naruto.
"Kenapa aku merasa seperti sedang diperhatikan yah."
"Halo, selamat pagi semuanya. Perkenalkan namaku Mari Agares, umurku 7 tahun. Hal-hal yang kusukai adalah bermain catur, merakit robot-robotan, dan ayam goreng tertentu." Entah kenapa itu terdengar tidak asing di telinga Naruto.
"Kalau yang tidak kusukai sih orang yang ceroboh, terlalu membanggakan dirinya, dan tidak kompeten. Cita-citaku ..., apa yah? Ah, aku ingin membuat sebuah peralatan robot sihir yang dapat menyaingi kekuatan Four Great Satans di masa depan dan akan kutunjukkan kalau robot adalah sesuatu yang istimewa di dunia ini. Hehehe, aku harap kita semua dapat bekerjasama yah, mohon bantuannya~" Ucap Mari dengan ceria.
Euclid bertepuk tangan setelah mendengar perkenalan yang dilakukan oleh pewaris Agares, "Perkenalanmu sangat bagus sekali, Agares-San. Impian untuk menyaingi kekuatan para Satan adalah hal yang terpuji. Ambisi, hasrat, dan motivasi seperti itu sangat diharapkan dimiliki oleh iblis muda seperti kalian. Nah Agares-San, karena kau sudah mau maju lebih dulu, kau boleh menunjuk satu orang murid untuk maju ke depan."
"Oh, benarkah? Kalau begitu aku akan menunjukmu untuk maju, Pirang-San."
"Pirang-San? Maksudmu itu aku yah?" Ucap Naruto merasa ditunjuk olehnya.
"Yup, siapa lagi kalau bukan kau, Pirang-San. Aku izin kembali duduk yah, Sensei."
Melihat Mari telah duduk di bangkunya, Naruto berdiri dari atas kursinya dan berjalan maju untuk memperkenalkan diri seperti yang telah dilakukan oleh Mari.
"Yo, namaku Naruto Phenex, umurku baru 6 tahun." Serafall mendengar itu sedikit tersedak dan tentunya segera diabaikan oleh Naruto.
"Aku suka melakukan hal-hal menyenangkan seperti berlatih bersama ayah, belajar membuat sketsa, memasak makanan dengan ibu, dan mungkin menjahili rubah tertentu, yah itu sudah lama sekali sih. Aku tidak suka dengan orang yang selalu meremehkan orang lain dan bertindak seakan-akan dirinya adalah orang yang paling pintar di planet ini seperti keledai dan tembok datar." Baik ..., tampaknya Serafall dan Venelana merasa sedang disinggung oleh Naruto yang hanya tersenyum manis ke arah mereka berdua.
"Dan yang paling penting aku sangat membenci waktu tiga menit menunggu ramen instanku yang belum matang. Cita-citaku sih ingin terbebaskan dari segala masalah yang merepotkan." Tunggu, itu sih bukan cita-cita namanya, tapi lebih condong ke arah keinginan.
"Haha, perkenalanmu cukup unik, Naruto-Kun. Tidak heran orangtuamu memberi nama seperti itu ..., Naruto ..., Fishcake?"
"Berhentilah ngelawak! Itu tidak lucu sama sekali, Sensei. Dan arti namaku bukan kue ikan, tapi lebih bermakna sebagai pusaran," Ucap Naruto dengan nada ketus.
"Iya, iya aku mengerti kok, Naruto-Kun. Kalau begitu kenapa kau tidak beri kesempatan kepada yang lainnya untuk mulai maju memperkenalkan diri? Aku tidak ngelawak, btw."
"..."
"..."
"Suatu hari nanti, aku akan memberimu sebuah trik yang tak akan pernah kau lupakan, Sensei," Gumam Naruto.
"Trik apa?"
"Bukan apa-apa." Perkenalan kelas pun berlanjut setelah itu.
Satu persatu dari mereka mulai maju ke depan. Naruto cukup senang ada Sirzechs di kelas ini, itu akan membuat hari-hari sosialnya tidak akan berakhir dengan buruk.
Seperti yang ia lakukan sebelumnya, Sitri dan Bael juga memainkan kartu sarkasme dalam perkenalan mereka, seperti mengatakan ketidak kesukaan ekstrim terhadap ramen dan ayam goreng yang tidak baik untuk kesehatan. Dan tentunya ini direspon Naruto dengan cara yang sangat buruk, menghina ramen itu sama saja dengan menghina orang yang dikasihinya.
Naruto mendapat julukan "Fanatik Ramen" bukan karena apa-apa.
"K-kenapa mereka berani sekali mengatakan kalau ramen adalah makanan sampah?! Kalau kedua gadis sialan ini memang menginginkan perang, maka akan kutunjukkan apa itu perang yang sesungguhnya!"
Baik, mari kita lupakan topik tentang ramen untuk sejenak. Naruto berkeringat setelah mendengar seluruh perkenalan dari murid yang tersisa.
Ia tidak mengharapkan sebagian besar kelas berisi pewaris dengan kepribadian yang absurt. Maksudku mana ada coba pewaris yang ingin menjadi seorang preman, pegawai makanan cepat saji, neet, gacha lovers, dan kaum rebahan sejati, tapi setidaknya beberapa orang tersisa tampak-nya terlihat cukup normal.
Setelah selesai memperkenalkan diri masing-masing, Euclid memulai sesi belajar seperti yang sudah direncanakannya sejak awal.
Naruto menopang wajahnya dengan bosan. Seperti yang ia duga, materi yang sedang dijelaskan oleh Euclid sudah ia ketahui semuanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan melihat tidak hanya dirinya saja yang merasa bosan. "Kupikir aman kalau mengatakan sebagian besar dari kami semua sudah mempelajari hal ini di rumah masing-masing."
Serafall mengangkat tangannya. "Ada apa, Sitri-San? Apakah ada yang ingin kau tanyakan tentang materi ini?"
"Maafkan aku kalau ini terdengar tidak sopan, tapi materi yang diajarkan oleh Sensei sudah kami ketahui semua. Kalau boleh kenapa kita tidak beralih ke materi yang lebih tinggi saja? Tentunya Sensei pasti akan tahu tingkat pengetahuan setiap pewaris secara rata-ratakan?"
Euclid mengusap dagunya sambil mempertimbangkan pendapat dari Serafall. "Sepertinya kau benar juga yah. Tapi, untuk membuktikan apakah yang kau katakan itu benar, maka kita akan pergi mempelajari ini secara langsung."
Yah itu mudah, manipulasi energi iblis tahap awal sampai menengah tidak terlalu menyusahkan untuknya. Tampaknya Naruto harus berterimakasih kepada Serafall, karena berhasil membuat sesi kelas tidak berakhir dengan cara yang membosankan.
"Sepertinya aku harus berterimakasih denganmu, Sera. Seandainya saja kau tidak mengatakan itu mungkin kelas ini akan terasa sangat membosankan."
"Kau tidak perlu berbicara denganku seakan-akan kita sudah akrap, Phenex-Dono. Dan juga aku tidak melakukan ini demi siapapun," Ucap Serafall yang hanya menatap Naruto dengan datar.
" ... Okay, Tembok Datar-Dono."
"Epph! Apa-apaan dengan panggilan tidak hormat seperti itu?! Jangan memberiku julukan yang aneh-aneh!"
"Apakah kau sudah mulai pikun, Rata-Dono?"
"Bukankah sudah kubilang jangan panggil aku dengan julukan nyeleneh seperti itu, dasar Ayam Gosong Sialan!" Pekik Serafall.
"Nah, kau baru saja memanggilku dengan julukan AyAm gOsOnG, jadi apa salahnya aku memanggilmu seperti itu juga?"
"Tapi, kau yang memulainya lebih dulu!"
"Hah?! Bukannya kemarin kau menampar wajahku dan berteriak memanggilku ayam gosong lebih dulu? Mungkin kejeniusanmu sudah mulai menghapus fungsi otakmu yang paling penting ..., apakah kau ingin aku ajak ke dokter, Rata-Dono?"
"Apa?! Hanya karena kau pernah menang melawanku, jangan kira kalau kau lebih pintar dariku, Ayam-Dono."
"Ohh, ada apa ini? Apakah kau ingin menantangku lagi, tuan putri?"
"Kalau itu berhasil membuatmu terdiam dan mengakui kalau aku lebih hebat darimu, maka jawabannya adalah ya!" Kata Serafall dengan penuh percaya diri, kemudian mengeluarkan papan catur yang ada di bawah mejanya.
"Sayang sekali, tapi tidak hari ini, Honey."
"A-a-ap-a?!"
"Kau tahu ini sudah jam istirahat loh, jadi ini bukan waktunya untuk bermain-main dengan gadis kecil sepertimu." Naruto mengambil bekalnya dan berjalan ke arah Sirzechs sekaligus mengajaknya makan siang di luar.
"K-kau jangan bertingkah seakan-akan kau lebih tua dariku, Ayam Gosong!" Sayangnya, Naruto mengabaikannya saja seperti angin lalu.
Venelana yang sedari tadi hanya diam, menatap Naruto dari kejauhan sebelum beranjak pergi dari atas kursinya.
"Apakah tidak masalah kalau kita duduk di atap sekolah seperti ini, Naruto-San?" Sirzechs menatap Naruto dengan ragu-ragu setelah melihat tanda larangan yang tertempel di depan pintu atap sekolah.
"Kau tenang saja, Sirzechs. Selama kita tidak ketahuan itu tidak masalahkan? Lagipula tanda larangan masuk itu pasti cuman hiasan doang."
Sirzechs menghela nafas dan memutuskan tetap mengikuti perkataan Naruto. "Kalau kita ketahuan jangan salahkan aku yah," Ucap Sirzechs, lalu mulai memakan isi kotak bekalnya.
Alis Sirzechs mengerut dengan penasaran ketika bau makanan yang berasal dari kotak bekal Naruto masuk ke dalam hidungnya. Membuka kotak bekalnya, Sirzechs melihat potongan daging katsu berukuran cukup besar untuk menutupi bagian nasi yang ada di bawahnya. Sirzechs sendiri tidak tahu benda apa yang bertaburan di atas daging katsu, tapi apapun itu pasti akan berguna sebagai rempah pelengkap untuk makanannya.
"Woah, padahal aku tadinya berpikir kalau kau akan membawa ramen untuk makan siang." Naruto memandang Sirzechs dengan ekspresi sedih.
"Sebenarnya mama tidak memperbolehkanku makan ramen selama 1 bulan."
"Heh, emangnya ada apa? Apakah kau terlalu banyak makan ramen, sehingga kau tidak bisa memakannya lagi?"
"Tidak, tidak bukan itu masalahnya, saat 2 minggu yang lalu aku pergi berlatih tanpa izin dari orangtuaku, karena sesi latihanku berakhir dengan ending yang kurang baik, makanya aku dimarahi ibu habis-habisan dan diberi hukuman seperti ini," Ucap Naruto mengingat insiden sebelumnya.
"Tapi tidak masalah sih, meskipun katsu ini tidak lebih enak dari ramen, aku masih menyukainya kok." Naruto mengeluarkan saus di dalam kantong plastik berwarna hitam kecoklatan yang masih panas lalu ia tuang di atas daging katsu beserta dengan tumpukan rempah di atasnya.
Uap nasi yang bercampur dengan aroma saus yang ditumpahkan Naruto, bercampur dengan sangat baik. Bahkan Sirzechs merasa mulai lapar kembali, meskipun ia sudah habis memakan bekalnya.
Naruto tersenyum jahil melihat ekspresi kelaparan dari Sirzechs. Naruto potong sedikit daging katsu yang sudah tercampur dengan saus, lalu ia masukkan ke dalam mulutnya dengan khidmat yang semakin membuat Sirzechs tergoda untuk mengambil kotak bekal milik temannya.
"A-ano, Naruto-San. Bolehkah aku minta sedikit makananmu?"
"Ga."
"Ehh?!" Naruto terkekeh geli melihat ekspresi kecewa yang dikeluarkan temannya.
"Canda." Melihat Naruto yang ingin menyuapinya, Sirzechs membuka mulutnya dan membiarkan Naruto memasukkan sendoknya.
Brraakk ...!
Sebelum suapan itu berhasil masuk ke dalam mulutnya, mereka berdua dikagetkan dengan suara dobrakan pintu yang membuat Naruto menumpahkan makanan yang ada di sendoknya.
"Venelana?" Mendengar nama saudaranya disebut, Sirzechs berpaling dan melihat Venelana berdiri dihadapan mereka dengan wajah serius menatap Naruto.
"Aku ingin bertarung denganmu, Naruto Phenex!"
"Hah?!"
Berdasarkan tempo kejadian beberapa hari sebelumnya, Naruto tahu ia pasti akan mendapatkan masalah, karena berurusan dengan seorang pewaris Bael. Tapi, ia tidak akan menyangka Venelana akan menantangnya secepat ini di hari pertamanya masuk sekolah.
Sebelum Naruto berangkat sekolah, ia sudah berjanji kepada ayah dan ibunya untuk tidak berkelahi atau berbuat masalah yang akan menyangkut nama klannya. Melihat ekspresi marah yang dikeluarkan Venelana membuat Naruto yakin ia tidak akan bisa keluar dari masalah ini dengan mudah.
"Sepertinya aku harus menghadapi masalah ini sekarang juga," Pikir Naruto kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Aku paham kenapa kau ingin menantangku bertarung, Bael. Mengingat aku pernah menghajarmu sebelumnya. Tapi, itu bukan sepenuhnya salahku, bukan? Lagipula kau lah yang memulai masalah ini karena membuli temanku."
Venelana mendengar itu mengangkat suaranya, "Aku akui kalau itu memang kesalahanku, Phenex." Ia mengalihkan perhatiannya ke Sirzechs.
"Sepupuku, Sirzechs. Aku ingin minta maaf kepadamu atas perilaku-ku yang tidak berkenan." Si pewaris Gremory tetap diam, karena tidak tahu harus menjawab apa kepadanya.
"Aku mengerti kalau kau tidak akan memaafkanku dengan mudah, tapi mulai sekarang kau bebas melapor ke Lord Gremory atas hinaanku sebelumnya, aku tidak akan menyangkalnya. Tapi alasanku sebenarnya datang kesini bukan membahas masalah itu, tetapi aku ingin menantangmu bertarung untuk mengalahkanmu sekarang juga, Phenex!"
Naruto memiringkan kepalanya dan berusaha mencari tahu kenapa Venelana bisa sampai semarah ini kepadanya, "Kalau bukan tentang itu, berarti kau masih marah yah karena aku mengejek pantatmu datar?"
"Huh?"
"Aku paham setiap perempuan diejek seperti itu pasti akan marah, tapi tenang saja saat dewasa nanti aku yakin pantatmu akan berkembang dengan sempurna. Kau masih belum puberkan? itu berarti masih ada harapa--!" Naruto gagal menyelesaikan perkataannya ketika Venelana melempar tombak merah kehitaman ke arahnya, dengan cepat ia menarik Sirzechs dan dirinya keluar dari lajur serangan.
"Berhentilah mengatakan omong kosong seperti itu, Bodoh! Dan yang paling penting ayo bertarung denganku!"
"Haha, sepertinya Bael memang serius ingin mengalahkanku yah, tapi sepertinya sekarang dia sudah berubah pikiran ..., ingin membunuhku yah? Coba saja kau lakukan itu, Keledai!"
Naruto menatap Sirzechs yang ada di sampingnya. "Gadis itu sudah benar-benar gila tahu. Kalau tidak keberatan kau bisa membuat pelindung di area atap ini."
"T-tapi, bagaimana kalau yang lain--"
"Tidak masalah, kalau itu terjadi kau bisa menyalahkanku sebagai gantinya, Okay? Sekarang cepat buat pelindung sebelum yang lain menyadarinya!"
"B-baiklah."
Venelana mengumpulkan kekuatan penghancur keseluruh tubuhnya dan difokuskan kedalam tangannya sebelum ia luncurkan ke depan dalam bentuk tebasan.
Melihat kecepatan serangan yang diluncurkan Venelana tidak main-main, Naruto meningkatkan kecepatannya menggunakan angin, sekaligus mempermudahnya untuk menghindari setiap serangan yang ada.
Syuutt .. Syutt .. Syutt ..
Blaarrrr ...!
Gudang atap yang ada dibelakang Naruto seketika hancur setelah menerima setiap serangan yang diluncurkan Venelana.
Menyadari setiap serangannya gagal mengenai Naruto, Venelana kembali mengkompres energi penghancurnya dan terciptalah pedang ganda penghancur, lalu berlari ke arah Naruto yang tengah bersiap menyambut serangan dari pedangnya.
Setiap tebasan yang dilancarkan Venelana secara bertubi-tubi dapat dihindarinya dengan mudah. Venelana tidak dikenal dengan kemampuan berpedangnya, tapi lebih dikenal dengan kemampuan penghancurnya yang memiliki potensi lebih baik dari kebanyakan iblis Bael pada umumnya, bahkan ayahnya Zekram Bael mengakui hal tersebut.
Untuk saat ini Naruto lebih suka menghindar dan mengobservasi setiap langkah dan pola serangan yang dimiliki lawannya. Alasan Venelana mampu memegang pedang penghancur yang telah dipadatkan tanpa terluka, adalah ia telah melapisi tangannya dengan energi penghancur yang sama rata dengan pedangnya, sehingga efeknya berhasil dinetralisir.
Melihat ada celah Naruto mengirim gelombang angin di bawah kaki Venelana yang membuat postur tubuhnya sedikit linglung, lalu mengirim tendangan keras ke dagunya. Venelana meringis kesakitan saat menyadari tendangan Naruto telah diperkuat dengan elemen petir.
Tidak ingin terus terseret, ia menancapkan pedangnya ke lantai untuk menghentikan dirinya terpental keluar. Venelana meludahkan darah yang keluar dari rongga giginya akibat tendangan yang baru saja diterimanya.
"Kau masih belum mengeluarkan apimu. Apakah kau meremehkanku, Phenex!" Venelana yang mulai termakan amarah menciptakan puluhan tombak di atas kepalanya dan ia luncurkan ke arah targetnya.
[The Barrage of Spear Extinct!]
Puluhan lingkaran sihir meledak dalam cahaya ungu dan melepaskan puluhan, tidak ratusan tombak layaknya anak panah menghujani musuh-musuhnya.
"Ini buruk kalau terus berlanjut, gedung ini akan berubah menjadi abu ..." Gumam Naruto.
Melihat tidak ada pilihan lain, Naruto mengumpulkan api putih di setiap ujung jarinya, lalu ia hentakkan ke lantai. Api putih muncul seperti gelombang lembut kemudian menyebar dengan ganas untuk menutupi daerah sekitar dari serangan tombak penghancur.
Api putih menangkap dan menjilati setiap serangan yang dikirim Venelana kepadanya. "Apa-apaan?! energi penghancurku dinetralisir?! Tidak, itu mustahil!"
"Bisakah kita menghentikan pertandingan tidak berguna ini? Kumohon, Venelana," Bujuk Naruto.
"Tidak ..., aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir seperti ini. Aku akan membuatmu menyesal karena telah menghina dan merendahkan ..., mata-ku, Phenex!"
"...?!"
Venelana secara perlahan mengambang dari udara tipis dengan aura penghancurnya. Merentangkan kedua tangannya, tombak ungu kemerahan muncul dengan aura hitam megah menghiasi setiap sudutnya.
Naruto berpikir ini akan menjadi serangan pamungkasnya. Dilihat dari susunan energi yang sama sekali tidak stabil, ia berpikir Venelana akan menggunakannya dalam satu gerakan. Namun bukan itu yang dipermasalahkannya, tetapi seberapa kuatkah barrier ini menahan aura penghancur dari serangannya ini?
[Aurelios Spear of Extinct!]
"Holy Grail ..., ini benar-benar gawat, sialan!" Naruto melihat kearah Sirzechs yang mulai terengah-engah berusaha mempertahankan barrier yang diciptakannya dari kehancuran.
"Kenapa aku merasa anak-anak di dunia baru ini terasa sangat kuat yah? Ya sudahlah lebih baik aku fokus menghentikannya saja sebelum terlambat."
Naruto merentangkan sayap api putihnya dan berdiri setara dengan Venelana di udara. Ia tanpa ragu meluncur ke arahnya.
"Akan kutunjukkan seberapa hebatnya kemampuan gabungan dari Fuinjutsu dan Array sihir di dunia ini!"
Naruto mengambil puluhan kertas segel dari kantung dimensinya lalu ia lemparkan ke segala arah. Venelana yang hendak siap menarik dan mengirim tombaknya ke arah Naruto harus terhenti saat ada sesuatu yang mengekangnya.
"A-apa-apaan kertas ini?!"
[Transformation Array: Elimination Chains!]
"Enghh ...?! Energiku tersedot ...!" Rantai tipis yang berasal dari kertas secara perlahan mulai berubah jadi lilitan api yang mengekang setiap inci dari tubuhnya. Tidak hanya itu, energi iblisnya juga mulai tersedot keluar oleh api putih tersebut.
Naruto terbang perlahan ke arah Venelana yang tidak bisa bergerak sama sekali. "B-berhenti, menjauhlah dariku!"
Naruto menggerakkan tangannya ke depan. Venelana menutup matanya dengan khawatir dan berusaha mempersiapkan diri dari rasa sakit yang akan diterimanya. Bukannya pukulan atau tamparan, Venelana merasa sebuah tangan lembut mengusap pipinya dengan pelan.
"Sepertinya aku salah yah, mata ungumu itu adalah mata yang paling indah yang pernah aku lihat di dunia ini." Venelana yang mendengar pujian dari musuhnya tersentak kaget dan menatap Naruto dengan pandangan tidak percaya.
"Mungkin sebelumnya aku terlalu terbawa emosi, sehingga tidak bisa melihat kualitas sebenarnya dari dirimu, Venelana-Chan. Aku senang akhirnya kau mau menyesali dan mengakui perbuatanmu itu yang membuat matamu terlihat jauh lebih indah dibanding sebelumnya."
Naruto mendekatkan dahinya dengan Venelana, hingga kulit mereka saling bersentuhan. "Oleh karena itu, maukah kamu memaafkanku, Darling?"
Venelana mendengar semua pujian itu tidak bisa menahannya. Ia membiarkan dirinya jatuh lemas di antara rongga rantai dan melihat Naruto dengan wajah mulai berlinangan air mata. Bagus sekali, lagi-lagi kau membuat perempuan kembali menangis, Narutod!
Rantai yang mengekang dirinya perlahan mulai lenyap. Venelana merasakan sepasang lengan meraih tubuhnya dan menyadari Naruto tengah mengendongnya dengan posisi Bridal Style.
"K-kenapa kau tidak menyerangku saja? Padahal aku sudah hampir membunuhmu," Ucap Venelana yang tidak ingin menatap wajah Naruto karena masih malu-malu.
"Jadi, apa? Pada akhirnya kau tidak bisa membunuhku."
"T-tapikan ..."
"Ussstt ...! Kau tidak perlu mengatakan apapun, Venelana-Chan. Seburuk apapun perbuatanmu kepadaku, selama kau menyesalinya aku akan selalu memaafkanmu, kok." Mata Venelana kembali berkaca-kaca. Kini dia melihat Naruto dengan cahaya baru.
"B-benarkah begitu, Naruto- ... Kun?"
"Tentu saja, memangnya untuk apa aku berbohong kepadamu, Venelana-Chan."
Venelana-Chan ...
Venelana-Chan ...
Venelana-Chan ...
Dia yang tidak tahan menerima semua tindakan kasih sayang diberikan oleh Naruto baik secara verbal maupun non-verbal, hanya bisa jatuh pingsan kedalam genggamannya. Naruto yang melihat itu mendesah lega.
"A-aku tidak menyangka akan menggunakan taktik bodoh seperti yang dikatakan, Ero-Sennin. Tapi setidaknya, semua hal merepotkan ini berakhir dengan happy ending."
Barrier yang menutupi bagian atap sekolah lenyap dan menampakkan warna langit Underworld yang hampir menjelang malam hari.
"Waktu berlalu dengan sangat cepat yah ..., hmm?"
Naruto yang menyadari Sirzechs berjalan mendekat ke arahnya, menatapnya dengan kebingungan. "Kenapa dia terlihat sangat tertekan?"
"Yo, Sirzechs. Aku yakin kau pasti sangat kelelahan, kan? Sebagai tanda terimakasih, besok aku akan memberimu makanan persis seperti bentoku. Bagaimana? Apakah kau tertarik?" Naruto yang ingin kembali bertanya dikejutkan dengan kedua tangan Sirzechs yang memegang bahunya dengan erat.
"N-naruto-Kun, kau tidak perlu menanggung semua dosa ini yah. Aku akan berbagi beban denganmu atas konsekuensi dari masalah yang telah terjadi hari ini. Sebagai temanmu aku tidak akan lari seperti pecundang dan meninggalkanmu begitu saja!"
"S-sirzechs, apa yang kau bicarak--!!"
"Kenapa kau masih belum pulang dan kenapa Venelana-Chan ada dipelukanmu, Sayang ...?"
*Ba-dump*
Jantung Naruto berdetak dengan cepat ketika mendengar suara wanita yang familiar di telinganya. Dengan kondisi yang kaku, Naruto memaksakan wajahnya untuk berbalik dan melihat 3 orang wanita dewasa berdiri di depannya.
"I-ibu, t-tumben sekali yah datang, hahaha ..."
Sekuat apapun Naruto berusaha mengendalikan rasa gugupnya, kakinya terus bergetaran tidak terkendali. Bagaimana tidak di depannya itu adalah Nyonya dari klan Gremory, Bael, dan Phenex ibunya sendiri!
"Ibu, aku bisa jelask--!"
"Tutup mulutmu, Sirzechs-Kun. Kau dan Naruto-Kun akan kami bawa bersama-sama untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi di sini!"
"I-iya, Bu." Bahkan Sirzechs tidak berani menatap ibunya.
Naruto dan Sirzechs kembali merinding kaku saat melihat seorang wanita dengan wajah dan gaya rambut sama seperti Venelana berjalan ke arah mereka berdua. "Ara, ara kalian berdua pasti teman baiknya Venelana-Chan, kan?"
Senyum manis yang menjanjikan rasa sakit terukir dengan jelas di wajahnya yang cantik. Mereka berdua tetap diam sambil menundukkan kepala.
"Kalau begitu aku ada hadiah nih untuk kalian berdua."
Wanita yang dikenal sebagai Lady Bael merogoh sakunya dan mengeluarkan dua buah lolipop, lalu ia julurkan kepada mereka berdua. "Ambillah, ini lolipop apel khas klan Bael. Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku, karena sudah mau bermain dengannya, fufufu ..."
"Aa .. aaa ..." Baik Naruto ataupun Sirzechs sama-sama tidak mampu berbicara.
"Ahh, aku yakin kalian sekarang sedang kelaparan, kan? Kalau begitu kenapa kita tidak datang kerumah bibi saja? Disana banyak teh dan kue yang sangat enak loh."
Nyonya Bael merangkul bahu mereka berdua dengan tangan dinginnya. Ibu Naruto dan Sirzechs menghela nafas lelah melihat kelakuan anak mereka.
Lambang sihir klan Bael muncul di bawah kaki mereka semua, sebelum lingkaran itu benar-benar menelannya, Naruto berbicara kepada Sirzechs dan bergumam, "Kau tahu, aku tidak menyesal berteman denganmu, Sirzechs ..."
"Aku juga sama sepertimu, Naruto-Kun."
Naruto mengadahkan pandangannya ke atas langit yang tiada memiliki bulan dan bintang. "Walaupun tempat ini tidak ada bintang jatuh, aku tetap berharap semua ini hanyalah mimpi ..., kan?"
Naruto mengupas kemasan lolipopnya dan ia biarkan rasa manis khas buah apel Bael melumuri lidahnya yang hampa.
"Aah, lolipop ini sangat enak sekali." Dan itulah yang dipikirkan oleh Naruto, sebelum menghilang ditelan lingkaran sihir.
Ah yes, semuanya berakhir dengan Happy Ending.
Lmao.
New Chara
-Mari Agares (Mari Makinami dari Evangelion)
Ok, bagaimana kabar kalian? Apakah baik-baik saja? Aku harap begitu.
Jadi, bagaimana chap kali ini, terutama bagian battlenya? Apakah monoton? membosankan? banyak typo? bahasanya terlalu kaku? atau terlalu banyak bacodnya doang? Silahkan review aja jangan sungkan-sungkan.
Yeah setidaknya kali ini gw bisa bikin chap sebanyak 4k, berarti ada peningkatan dong. semoga aja gw gak WB kan asw jadinya, wkwkwk ...
Ngomong-ngomong ini adalah pertama kalinya gw buat adegan battle sepanjang ini. Jadi, gw gak bakalan heran kalau ada yang krisar, tapi memang itulah yang aku harapkan, wkwkwkw ... wajarlah kan masih newbie buat ginian, tapi kalau memang ada kesalahan gw usahain buat memperbaikinya.
Aku lupa mengatakan ini sebelumnya, tapi pasti ada diantara kalian ada yang bertanya apakah sekolah ini sama dengan root? kan Rizevim sama-sama manipulatif kayak Danzo.
Bruhh, tuh dua orang satu jenis tapi beda taktik dalam menjalankan keinginannya. Gimana coba jadinya kalau para Lord tahu kalau tuh sekolah dijadiin kyk root? auto perang saudara duluan mah, kwkwkw ...
Fun fact: Tuh sekolah adalah hasil usulan dari para Lord Pillar Iblis, bukan keputusan sepihak dari Rizevim. Satu-satu rencana hasil otak Rizevim hanyalah kompetisi antar pewaris pillar iblis yang akan terjadi 6 tahun ke depan di dalam alur fic ini.
Dan yup aku kembali melakukan beberapa perubahan kecil di chap sebelumnya, meskipun itu akan merubah alur ke depan, tapi aku yakin kalian pasti tidak akan menyadarinya, karena itu hanyalah hal yang kecil wkwkw ...
Well done, kurasa itu sudah cukup. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, jadi ...
Bay~~
Selamat menjalankan ibadah puasa yah.
