My World Full of Lemon.
A/N : Warning, fic ini mengandung konten dewasa. Di bawah umur lom boleh baca ya.
Gatal pengen nulis yang asem-asem dan rindu dengan pairing favoritku. Jadilah ini. Tulisan hasil imajinasi mesum author.
Enjoy...
Tubuh wanita pirang itu mulai pegal sebab sudah lebih dari satu jam dia menahan pose yang sama. Ingin dia menguap tapi sang pelukis sudah pasti akan berang. Ino menatap keluar jendela studio. Langit musim dingin begitu kelabu. Syukur saja ruangan ini memiliki pemanas. Bayangkan saja apa jadinya bila tubuhnya yang terbalut kimono tipis ini terpapar hawa yang menggigit. Ia menginginkan uang tambahan bukannya mencari penyakit.
"Ino, jangan berkedip. Aku sedang menyelesaikan detailnya." Hardik sang pelukis di sela-sela ulasan tangannya yang presisi mengguratkan kuas menjadi garis dan bentuk.
"Katakan padaku Sai, mengapa aku setuju untuk berpose untukmu?" ujar Ino tanpa bergerak sedikit pun dari posisinya. Ia mulai mempertanyakan keputusannya untuk mengambil pekerjaan ini.
"Aku pun tak tahu. Selama ini kau menghindariku. Jadi aku juga merasa aneh kau tiba-tiba menawarkan diri jadi modelku. Apa ketenaran dan reputasimu benar-benar jatuh?"
Ino diam saja. Statusnya sebagai pesohor dan publik image memang sedang di ujung tanduk. Ini semua gara-gara Sasuke. Pria itu berjanji untuk menceraikan Sakura lalu menikahinya. Ino terus menuntut tapi Sasuke tak pernah meninggalkan Sakura sampai beberapa bulan yang lalu paparazi menangkap momen mereka dan perselingkuhan ini pun terkuak di media.
Ino sampai terpaksa menghapus akun sosial medianya karena tidak tahan dengan komentar negatif yang dia terima. Dunia menghujatnya sebagai pelakor. Mencoba mencuri suami sahabatnya sendiri.
Ino tak merasa bersalah. Dia mencintai Sasuke dan Sasuke juga mencintainya, tapi pada akhirnya Ino baru menyadari cinta Sasuke padanya tak semanis kata yang dia ucapkan. Ketika reputasi dipertaruhkan. Pria sialan itu malah membalikkan badan. Ia menuduh Ino menggodanya dan memohon ampun pada istrinya. Sakura tentu saja memaafkan Sasuke dan menuduh Ino mencoba merusak rumah tangga orang. Dia amat sakit hati dan menyesal mengejar cintanya untuk manusia sialan macam itu dan dia berniat melupakannya.
Sai meletakkan kuasnya saat mengamati perubahan raut wajah Ino. "Aku sudah bilang, jangan mengejar pria bersuami."
"Kau juga menyalahkan aku?" Mata aquamarine Ino membulat tidak percaya. Ia berdiri mengibaskan tangannya yang kebas akibat sejam menahan pose yang sama. Wanita berambut pirang itu pun melangkah ke sofa yang ada di ruangan itu dan menghempaskan tubuhnya.
Sai mengikuti Ino dan duduk di sebelahnya. Ia meraih dagu wanita yang tengah merenggut itu. "Siapa lagi yang mau kau salahkan Ino? Hidupmu, keputusanmu."
Ino menatap ke dalam mata hitam kelam yang baginya selalu penuh misteri. Ino takut pada Sai karena pria itu membuatnya tak bisa berpikir jernih. "Mengapa kau tak berusaha menghentikanku?"
"Ayahmu memilihku sebagai tunanganmu, tapi kau bersikeras mengejar cintamu. Apa kau pikir permohonanku akan membuatmu berubah pikiran. Kau tak menyukaiku."
"Kau benar aku memang bodoh dan tak mau dengar kata-katamu." Balas Ino lirih.
Mata Ino berkaca-kaca. Sesal dan sesak rasanya dicampakkan. Sai memeluknya. Pria itu mungkin kasihan padanya. Dia ingat pertama kali mereka dipertemukan. Senyum palsu dan basa-basinya terasa memuakkan. Ino langsung tak menyukainya meski pria itu berparas tampan. Dia bermuka dua. Sai Shimura mungkin hanya bersikap sopan pada Ino dan ayahnya. Ino tahu pria itu juga tak ingin berada di sana tapi dengan lihai dia menunjukkan antusiasmenya dengan perjodohan ini.
Lalu terus menerus mereka dipaksa menghabiskan waktu bersama dan Ino terkejut tanpa didampingi ayahnya dan Danzo. Pria itu menunjukkan wajah aslinya . Di balik senyum manisnya, Sai mampu mengutarakan kalimat-kalimat pedas yang menusuk tanpa rasa bersalah. Ino pun memutuskan menjauhi tunangannya. Ia memohon pada ayahnya untuk membatalkan perjodohan ini karena ia sudah mencintai orang lain, tapi Inoichi tidak mau
Sai mengusulkan mereka pura-pura saja bertunangan agar kakeknya juga berhenti mengganggunya dan pria itu tahu ia menjalin hubungan gelap dengan Sasuke dan ikut menjaga rahasianya. Entah bagaimana rahasia ini bisa bocor. Ino tidak tahu. Ayahnya sangat murka dan tidak menganggapnya anak lagi. Hal yang melegakan dari kasus ini hanya Danzo Shimura memutuskan Ino tak layak jadi istri cucunya.
Sai menatap wajah sendu Ino. Skandal yang menimpa wanita itu adalah ulahnya. Dia yang membocorkan ke mana Yamanaka Ino dan Sasuke Uchiha berlibur. Dia yang memaksa perusahaan membatalkan semua kontrak mereka dengan Ino. Ia ingin Ino jatuh dalam titik nadir sebab ia sudah tidak tahan melihat wanita yang ia cintai bersama pria lain yang bahkan tak menghargainya. Ino tak perlu tahu dialah dalang semua ini. Tak perlu tahu kalau dia memanipulasi situasi. Dia hanya perlu Ino bergantung padanya.
Saat ini Ino begitu manis dan rapuh. Sai mendekatkan bibirnya mengecup bibir Ino. Wanita pirang itu terlonjak kaget. "Sai, Apa yang kau lakukan?"
"Menghiburmu." Bisiknya di sela- sela kecupan yang ia labuhkan di leher jenjang modelnya.
Ino tak melawan. Ia terlalu remuk untuk bisa berpikir. Dua tahun penantian dan janji manis belaka. Kenyataannya Sasuke tak akan pernah meninggalkan Sakura dan putri mereka. Ia membiarkan Sai membuai dirinya. Ia ingin merasa enak. Ia ingin kembali merasa di puja setelah dicampakkan dan diinjak-injak. Sentuhannya ringan dan merayu. Ino menutup mata merebahkan dirinya di sofa. Menikmati tangan dan mulut itu merajah setiap jengkal kulitnya. Dia mengerang pasrah.
Sai diam-diam tersenyum. Tak menduga rencananya akan semulus ini. Ino tak memberi perlawanan. Ingin rasanya dia memukul wajah Sasuke, tapi dia juga bersyukur. Andai kata putra kedua keluarga Uchiha itu menceraikan istrinya maka tak ada harapan baginya untuk memenangkan Ino.
Dia menarik turun gaun chiffon yang Ino kenakan. Dia sudah menanti momen seperti ini selama bertahun-tahun. Bersabar dan pura-pura tak acuh agar Ino tak menyadari perasaannya. Ino tak tahu betapa ia harus mengontrol dirinya untuk tidak terangsang melukis wanita yang berpose dengan seksi di hadapannya. Dua tahun ini terasa menyiksa. Dia tak menduga akan jatuh cinta pada wanita yang ditunangkan dengannya. Ino terlalu gemerlap untuk menjadi pasangannya, tapi ia tak bisa menepis pesona wanita itu. Ino hanya bersikap sinis pada dirinya, tapi Sai paham mengapa. Di luar itu Ino selalu ramah dan baik. Siapa yang menduga tunangannya mampu menjadi wanita simpanan CEO ternama. Artis Ino Yamanaka yang terkenal dengan image alimnya ternyata menjalin hubungan gelap. Tentu saja hal itu membuat gempar. Cinta itu buta dan egois. Ia tak menyalahkan Ino sebab ia juga paham akan keinginan untuk memiliki seseorang. Ino membuatnya posesif dan obsesif.
Ia meremas sepasang payudara sekal yang menyembul dari balik gaun tipis itu. Puncaknya yang berwarna merah muda tampak begitu menggoda. Ino masih merintih pasrah. Terlalu manis untuk dilewatkan. Dia menjulurkan lidahnya di atas puncak yang sensitif itu. Ino menggelinjang. Pria berambut gelap itu meningkatkan rangsangannya dengan menghisap dan menjilat silih berganti. Berharap Ino melupakan kesedihannya dan menginginkan dirinya.
Ino tak tahu harus merasa apa atau memikirkan apa. Tubuhnya hangat di bawah sentuhan ahli pria itu. Sai bukan temannya, juga bukan kekasihnya. Pria itu tunangannya, sebuah tameng yang ia gunakan untuk menutupi perselingkuhannya. Ino menghindari Sai bagai sebuah plak dan Sai menganggap Ino sekedar aksesoris semata. Lalu mengapa sekarang mereka bercumbu di sini? Dalam ruang penuh aroma cat dan minyak dengan dinding dipenuhi lukisan. Lidah Sai membuat Ino tak mampu berpikir. Dia terangsang dan basah. Ino tak pernah mengira Sai mampu menunjukkan gairah seperti ini dengan wajah miskin emosi. Ino remuk redam. Kehampaan dalam dirinya menggerus eksistensi dan kepercayaan tentang cinta.
"Apa kau mau aku berhenti?" Sai bertanya pada Ino sebelum menarik lepas celana dalam wanita itu sebab Sai tahu bila ia sudah sampai di sana ia tak akan bisa berhenti.
Sudah terlambat bagi Ino untuk berpikir logis. Nafsu meredam rasa sakitnya dan ia lebih memilih tenggelam dalam gairah daripada larut dalam duka. Ia tak peduli konsekuensinya. Ia dan Sai sama-sama dewasa. "Jangan berhenti Sai." Pintanya lirih tanpa malu-malu.
Seolah membuka bungkusan hadiah yang berharga. Dengan perlahan ia menarik turun celana putih berenda itu melewati kaki jenjang Ino. Apa yang ia lihat membuatnya terpana. Ikal-ikal pirang yang terpotong dengan rapi menutupi inti dari kewanitaannya. Pemandangan itu mengalirkan semua darahnya ke bawah. Membuatnya berdenyut dan keras.
"Mengapa menatapku seperti itu?" Keraguan terpancar di mata Ino. Ia membangunkan tubuhnya untuk duduk kembali bersandar dan melipat kakinya.
Sai berlutut di lantai. "Kau begitu menakjubkan, Ino. Biarkan aku menghiburmu kali ini."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Ino menggigit bibir dan merona. Malu dirinya terekspos seperti itu
Ekspresi Ino membuat Sai gemas."Jangan berpikir atau berbicara. Biarkan aku mengambil kendali."
Dia mencium dan meletakan kedua telapak kaki Ino kembali di atas sofa. Dengan perlahan ia menyingkap kedua pahanya. Membuat matanya sejajar dengan inti sewarna kelopak mawar yang mengundang berkilap oleh kelembaban.
Ino menahan nafas melihat kepala Sai di antara kedua kakinya. Ia tak bisa menyembunyikan erangannya tatkala lidah pria itu menyibak organ intimnya. Nafasnya menggelitik mengirimkan getaran ke perutnya.
"Ahk...Ah..." Ino memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Sementara jari-jari kakinya melengkung. Tak seorang pun mampu membuatnya belingsatan seperti ini. Sensasinya kian tak tertahankan begitu mulut Sai menemukan klitoris nya.
Sai akan melakukan apa pun untuk membuat Ino melupakan Sasuke. Tangan pria itu melingkar di paha Ino mencegah wanita itu bergerak dan mulutnya menghisap dengan kuat bagian paling sensitif dari organ intimnya.
Secara otomatis Ino memajukan panggulnya. Dia melenguh dan mendesah tidak terbiasa dengan rangsangan sekuat itu. Intrusi dua jari tangan Sai dalam tubuhnya membuat dindingnya semakin berkontraksi.
"Aku tak tahan lagi." Gumamnya di sela-sela siksaan manis itu.
"Nikmati saja, Ino." Sai menyarankan wanita itu untuk relaks.
"Ah.. Aku mohon lebih cepat." Rintihnya sambil memejamkan mata. Ino mulai merasakan getaran-getaran aneh di sekujur tubuhnya. Sensasinya bagaikan listrik statis yang berkumpul di bawah pusarnya.
Menuruti permintaan Ino. Dia mempercepat gerakan tangannya dan menyelipkan jari manisnya. Berusaha merentangkan liang yang basah itu dengan maksimal. Sai ikut mengerang merasakan Ino menjepit jarinya dengan keras. Berharap seandainya dia sudah di dalam sana dilingkupi kehangatan dan lembut. Dia hampir saja keluar hanya karena memikirkannya. Sai memimpikan Ino terlalu lama. Menyimpan kecemburuan dan perasaannya. Kali ini ia akan mengikat wanita itu hingga tak bisa lagi berpaling darinya.
Dua rangsangan intens sekaligus membuat Ino melengkungkan punggungnya. Getaran-getaran kecil itu menjadi ledakan yang membuat seluruh tubuhnya berguncang ritmis dengan satu isapan kuat dari bibir Sai.
Cairan bening mengalir secepat lava. Membasahi bibir Sai yang masih memuja wanitanya. Dia puas melihat wanita pirang itu tergolek lemas menikmati orgasmenya. Dia akan selalu mengingat ekspresi Ino. Bibirnya yang setengah membuka, kulitnya yang lembab oleh keringat dan tampak merona. Di mata Sai, wanita itu sempurna. Ia menyingkirkan poni Ino yang menutupi dahinya dan mendaratkan sebuah ciuman.
Ino berkedip seakan baru menyadari keberadaan pria itu sekarang. Ia tak tahu apa motif Sai melakukan ini. Bahkan ketika mereka masih bertunangan mereka berdua tak pernah berpegangan tangan.
"Mengapa kau melakukan ini?" Ino memberikan tatapan curiga.
Sai melepaskan pelukannya dan berdiri. Ia tak bisa terlalu cepat menunjukkan rahasianya atau bersikap terlalu hangat.
"Untuk membantumu melupakan Sasuke."
"Dengan seks?"
"Kelihatannya manjur. Cukup bisa mengalihkan pikiranmu dari pria sialan itu."
Ino tertawa. "Yeah, It's fun." Matanya tak sengaja menangkap celana Sai yang terlihat terlalu ketat. Pastinya tak menyenangkan untuk pria itu hanya memberi tanpa mendapatkan timbal balik.
"Buka bajumu dan kemarilah." Ino menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya.
Sai menatap Ino seakan dia memiliki dua kepala. "Serius, Ino?" Sai tak ingin memaksakan keberuntungannya bercinta dengan Ino bisa menunggu.
"Yamanaka Ino tak suka berhutang. Cepatlah atau aku berubah pikiran." Ancam wanita pirang itu dengan nada memerintah yang Sai amat kenal.
Pria itu tersenyum dan menanggalkan sweternya. "Enjoy the show, Beauty."
Ino tak mengalihkan pandangannya dari Sai ketika pria itu meloloskan celana jeansnya. "Not much to look." Ujarnya dengan datar. Menyembunyikan apresiasinya dari tubuh liat berotot yang melangkah dengan percaya diri ke arahnya. Mengapa ia tak menyadari ini sebelumnya. Kulit sepucat pualam dipadu dengan rambut dan mata sehitam malam. Sai Shimura pria yang cukup menawan dan mantan tunangannya.
Ino berdiri menyambut Sai dengan pelukan. "Aku terharu. Ternyata kau peduli padaku."
Tangan Sai melingkari pinggang Ino. Merapatkan dada bidangnya dengan tubuh Ino yang telanjang. kontak antara kulit mereka memberikan kenyamanan. Dia kembali mencium Ino. "Bila aku tak peduli. Aku tak akan menasihatimu."
Ino menyandarkan kepalanya dengan lunglai di dada pria itu. "Aku menyedihkan ya?"
"Tidak, Cuma tolol." Jawabnya lugas.
"Sial kau, Sai."
"Dia tak pantas untukmu." Sai kembali mengusap kepala Ino. "Mengapa kau sedih lagi. Kau menghancurkan Mood-ku."
"Bohong, Aku masih merasakan kau tegang di bawah sana."
Sai tertawa rendah. "Lalu apa yang akan kau lakukan beauty?"
Ino mencium Sai. "Bermain dengan satu pria brengsek lainnya." Lalu ia mendorong pria itu hingga terduduk di sofa.
"Owh, Jadi aku brengsek?"
"Kadang-kadang. Kau tak bisa menjaga bicaramu." Ino memanjat dan mengangkangi paha pria itu.
"Tapi sekarang kau tahu hal lain yang bisa aku lakukan dengan mulut brengsekku."
Ino langsung merona. "Aku rasa kita berdua gila." Ino meludahi tangannya dengan saliva ia membasahi penis yang tegak dan keras. Sai mengerang akibat sentuhan tangan halus itu.
Tanpa ragu Ino menurunkan pinggulnya menyatukan tubuh mereka. Mengesampingkan fakta mereka tak punya hubungan dan tak pernah saling menyukai. Ino hanya ingin menambal ruang kosong yang ditinggalkan Sasuke.
Sai mendesis, Positif dia tak akan mau dan bisa melepaskan Ino setelah ini. Dia sudah tenggelam terlalu dalam. Hanya saja Ino belum tahu.
Mereka berdua bergerak dengan harmonis. Jari Ino terkait pada rambut Sai yang kelam. Membiarkan dirinya terhanyut dalam arus sensualitas yang ditawarkan. Ia terus mengambil dan mengambil apa yang pria itu berikan. Ino berhak untuk menjadi egois. Andai saja ia lebih mencintai dirinya sendiri. Ia tak akan mau jadi wanita ke dua. Ciuman mereka kian panas dengan lidah yang saling beradu. Sai membiarkan Ino melampiaskan agresinya.
Wanita yang sakit hati butuh pelampiasan dan dia tak keberatan. Sebab diam-diam dia juga meninggalkan tanda di tubuh Ino. Sai tak pernah menginginkan apa pun seperti ia menginginkan Ino Yamanaka dan kesabarannya sudah menyentuh limit. Kali ini wanita itu sudah masuk perangkap. Dia akan memastikan Ino tak bisa lari.
Sai mendorong lebih dalam membuat Ino merasa penuh dan sesak. Ia memekik dan meringis dengan setiap friksi yang ia rasakan. Rasa aneh membuncah di dadanya, Terus berkejaran bagai riak ombak lautan. Pria berkulit pucat itu mengangkat Ino dari sofa. Ino menyilangkan kaki dan mengalungkan lengannya di tubuh Sai. Berpegangan dengan erat seakan pria itu adalah jangkar yang membuatnya tetal stabil. Punggung Ino menyentuh tembok dan mereka tak berhenti berpacu. Sai terasa begitu besar dan lezat dalam tubuhnya. Oh Ino merasa melayang.
Manis dan cantik. Ia tak bisa berhenti menyentuhnya. Ia ingin menawarkan kenikmatan dan kebahagiaan. Sai begitu dekat dengan pelepasannya begitu pula Ino. Tubuh dalam gendongannya mulai bergetar. "Ah..Ah.. Cepat Sai, Lebih cepat aku Mohon."
Ia mengeratkan giginya. Berusaha bertahan sedikit lagi dari dinding-dinding yang menjepitnya. Ketika Ino mencapai klimaksnya. Dia membawa Sai bersamanya. Tanpa sengaja Ia memenuhi rahim Ino dengan benihnya. Ino membuka mata masih berkabut dengan kehangatan yang ia rasakan dalam perutnya. Aneh sekali ia merasa begitu sempurna.
Sai dengan lelah menurunkan kaki tubuh Ino dilantai dan ia merebahkan diri di atas panel-panel kayu. Dia hampir saja mengucapkan kata cinta tapi dengan sigap ia menahan lidahnya. Ungkapan emosional saat ini hanya akan membuat situasi makin membingungkan.
Ino ikut merebahkan dirinya di samping Sai. Mereka berdua menatap langit-langit yang berwarna putih.
"Apa kau tak berpikir ini kesalahan?"
"Salah? Kau wanita, aku pria. Kita tidak terikat dengan orang lain. Siapa yang kita rugikan?" jawabnya santai.
"Hm.." Ino berbaring menyamping untuk menatap Sai. "Maaf jika kau menjadi Pelarianku."
"Aku tak peduli. Pada akhirnya aku senang bisa mencicipi wanita cantik nan seksi idaman banyak pria."
"Cih, Jujur banget. Tapi lebih baik begitu dari pada mendengar janji palsu dan kebohongan." Ino berdiri dan mulai berpakaian.
"Besok kau bisa datang lagi?"
"Tentu saja Sai, aku masih butuh pekerjaan itu."
Sai mengantar wanita itu hingga ke pintu dan menahan diri untuk tak mencium Ino. "Sampai jumpa besok."
"Bye."
Sai resah melihat Ino pergi. Apa reaksi Ino bila ia tahu skandal yang menjeratnya akibat ulah Sai? Pria pucat itu enggan berpikir. Dia hanya berharap mulai hari ini Ino memikirkannya.
