My World Full of Lemons.
Chapter 2
Author's Note : Guys jangan kaget kalau nemu adegan ena-ena di setiap chapter sebab ini dibuat memang khusus penuh lemon dan mungkin ke depannya lebih vulgar lagi. (Mesum banget loe thor)
Anyway, selamat membaca.
Ino meletakkan telapak tangan dan lututnya di kasur. Posisi yang membuatnya merasa lemah, sebab ia tak bisa meraih dan melihat pria itu. Sekarang semua terserah padanya untuk menentukan ritme dan momentum. Sebelah tangan pucat menekan punggungnya. Mengisyaratkan Ino untuk merendahkan tubuh bagian atasnya. Wanita cantik itu membenamkan kepalanya dalam bantal membungkam suara tak bermakna yang mengancam keluar dari bibirnya.
Ciuman ringan di sepanjang tulang belakangnya membuat dirinya bergetar senang lalu bibir tipis itu berbisik di telinganya dengan suara bariton yang terdengar sensual.
"Apa kau siap, Beauty?" Sai menggunakan nama panggilan yang ia sematkan pada Ino.
"Please, Jangan menggodaku terus menerus. Ah...ah...ah.. aku ingin lebih." Ino tak bisa tak merintih sebab dari tadi ibu jari pria itu sibuk melingkari kelentitnya.
"Katakan padaku dengan jelas. Aku mau dengar." Bujuk sang pelukis pada modelnya yang sudah terbakar nafsu.
Ino malu mengakuinya. Apalagi selama ini ia menganggap pria itu sebagai penganggu. Pria yang lebih baik tidak pernah muncul dalam hidupnya. Lelaki pilihan ayahnya, tetapi kekosongan di antara kakinya terasa menyiksa. Ia merasa bagaikan sedang sakau. Kebutuhan itu tak bisa diabaikan. Menelan harga dirinya Yamanaka Ino memohon. "Please Sai, Aku ingin kau mengisi diriku sekarang." Ucap Ino parau
Senyum kemenangan pria itu tak bisa Ino lihat.
"Baiklah." Jawabnya singkat.
Berdiri di pinggir ranjang. Pinggulnya sejajar dengan bokong Ino yang terangkat. Organ intimnya tampak jelas merekah dan basah menanti Sai memulai intrusinya. Dengan satu dorongan dia memasuki Ino. Wanita itu terasa seperti surga dan Sai tak membutuhkan hal lainnya.
"Owh..." Ino masih suka terkejut. Tubuhnya masih belum terbiasa dengan ukuran kejantanan milik pria itu.
Sai bergerak dengan pelan dan terukur. Sengaja memojokkan Ino hingga ke titik kesabarannya. Berbeda dengan dirinya. Ino tak pernah bisa sabar. Wanita itu spontan dan impulsif salah satu hal yang membuat Sai tertarik padanya. Sejauh ini rencananya berjalan lancar. Ino mencoba menghapus sakit hatinya dengan mencari kenyamanan palsu dan seks yang memuaskan sama berbahayanya dengan narkoba. Membuatmu kecanduan dan lama-lama Ino akan membutuhkannya tanpa ada jalan keluar.
Ino merasa lebih tersiksa. Ia merasakan orgasme sudah akan datang, tapi ritme perlahan dan manis ini tak akan membawanya ke sana. Di tangan Sai, dia telah menjelma menjadi wanita binal yang tak pernah merasa cukup puas. Ino selalu mengira Sai adalah pria egois yang mementingkan keinginannya, tetapi dalam berhubungan badan pria itu selalu memanjakannya. Ino tak bisa menghitung lagi berapa kali Sai membawanya ke puncak hanya dengan jari dan mulutnya. Dia begitu ahli. Ino sempat berpikir berapa banyak kekasih yang dia punya.
Ino yang tak sabar mulai ikut mengerakkan pinggulnya dengan frustrasi. Ia benar-benar butuh pelepasan.
"Apa kau masih bertemu dengannya?" tanya Sai di tengah-tengah pergumulan mereka.
"Tidak." Setiap kali Ino berpapasan dengan Sasuke pria itu pura-pura tak mengenalnya dan setiap kali Ino melihat Sasuke. Ia akan berlinang air mata. "Jangan merusak mood-ku dengan membicarakan orang itu."
Tidak ingin terkenang kembali. Ino fokus pada benda panas yang bergerak keluar masuk di antara pahanya menghasilkan friksi yang nikmat menghunjam hingga ke ulu hati. Ia mendesah membiarkan keresahannya tenggelam.
"Maaf."
"Daripada bicara lebih baik kau buat aku melupakannya."
Seringai lebar menghiasi wajah Sai. Dia bergerak dengan cepat, sudah waktunya untuk memuaskan ratunya.
Ino tak bisa berpikir, ranjang di bawah tubuhnya berderit dan suara dari tubuh mereka yang berpalu memenuhi ruangan itu. Ino mengerang membiarkan dirinya merasa bebas dan liar. Tubuhnya mulai bergetar dan dinding organ intimnya berkontraksi dengan kencang. Ketika Sai menyentuh titik yang tepat. Ino meledak.
Sai tidak berhenti dan menjadi lebih bersemangat. Tubuh Ino yang sudah sangat sensitif tak kuasa lagi menerima lebih banyak rangsangan. Tenggorokannya sudah begitu kering akibat merintih.
"Sai berhenti, Aku tidak sanggup."
"Aku akan membawamu lebih jauh." Kedua tangan Sai memegang erat pinggul wanita itu. Mempersiapkan diri untuk sprint terakhirnya. Ia menggenjot tubuh wanita itu dengan brutal.
Ino terengah-engah. Sedikit liur menetes dari bibirnya yang terbuka. Ia benar-benar tidak sanggup. Cairan cinta merembes turun membasahi pahanya.
"Oh..ah... Aku tak tahan lagi."
Desahan Ino membawa Sai ke batasnya. Dia mengeram menekan tubuhnya dalam-dalam dan mengisi wanita itu dengan air maninya. Orgasme keduanya begitu hebat. Ino melihat bintang dan pingsan.
'Le Petit Mort' Ino sekarang paham apa makna sepenggal kalimat berbahasa prancis itu.
Ino tersadar dalam pelukan Sai. Tanpa memedulikan bahwa lelaki itu sedang tertidur pulas. Ia melepaskan diri membuat sang pelukis tersentak dan terbangun seketika. Sai mengulurkan tangan meraih pinggang Ino. Menarik wanita itu kembali ke pelukannya.
"Masih tengah malam. Ayo tidur lagi."
Ino mendorong Sai menjauh dan turun dari ranjang. "Sai, Kau tak menganggap aku kekasihmu kan?"
Mata hitamnya menatap Ino dengan saksama. Tak mungkin ia mengutarakan perasaannya sekarang, di saat wanita itu masih limbung dan terluka. "Tidak."
"Jadi jangan bersikap mesra begitu. Aku tidak suka." Ino memunguti pakaiannya di lantai. Ia ingin pulang. Seks saja sudah cukup. Ino takut keintiman hanya akan membuat dirinya yang rapuh jadi semakin jatuh. Ino memilih menutup hati dan emosinya. Ia takut kebodohannya soal Sasuke terulang. Tanpa banyak kata dia merapikan diri dan pergi.
"Tunggu Ino. Ini sudah malam. Biar aku mengantarmu pulang." Sai turun dan mengambil boxernya.
"Tidak perlu. Aku sudah memesan taksi. Sampai kapan aku masih harus berpose untukmu?"
"Lukisannya sudah hampir selesai. Mungkin tiga atau empat kali lagi. Kalau kau mau aku ingin membuat beberapa potret lagi."
Ino tersenyum. "Lebih baik kau mencari model lain untuk karya berikutnya. Diam menjadi patung beberapa jam sungguh membosankan bagiku."
Sai mengantar Ino sampai ke pintu dan melihat wanita itu pergi. Ia merasa kecewa. Hari ini Ino begitu dingin dan tertutup. Ia harus lebih bersabar. Sai jadi tambah tidak menyukai Sasuke yang membuat Ino seperti ini. Mengapa berjanji bila tak mau ditepati? Sai berharap bisa mengembalikan senyum dan kepercayaan Ino.
.
.
Ino memikirkan Sai dan tidak bisa menepis perasaan aneh. Sebuah kecurigaan atau hanya kebetulan sebab pria itu selalu muncul di saat-saat yang salah. Sai mengetahui hubungan Ino dan Sasuke ketika mereka tanpa sengaja berada dalam hotel yang sama di Paris. Pria itu bilang berada di sana untuk sebuah pameran. Ketimbang marah dengan kebohongan Ino yang notabene berstatus tunangannya, dia hanya menyurukkan bahu dan berkata sebaiknya Ino tak lagi berusaha membatalkan pertunangan mereka karena itu akan mengurangi kecurigaan orang padanya. Ino pun setuju menjadikan hubungannya dan Sai sebagai kedok guna menghindari kecurigaan Sakura, tapi ia tak pernah membagi detail pribadinya dengan pria itu. Bahkan tidak dengan jadwal kegiatannya. Mereka hanya kelihatan bersama dan pura-pura akrab bila diperlukan demi membohongi Danzo, ayahnya dan publik.
Selama dua tahun itu Sai tak sedikit pun menunjukkan minat padanya, selalu bersikap masa bodoh sebab itu ia tak mengerti mengapa tiba-tiba sang pelukis ternama menawarkan pekerjaan terlebih lagi mencium dan menyentuhnya. Apa untungnya bagi Sai? Terutama sekarang ketika kakeknya tak mau lagi Ino terlihat lagi bersama sang cucu.
Barangkali ia berpikir terlalu banyak. Yang terjadi mungkin hanya dorongan biologis. Keinginan untuk mendapatkan kesenangan sesaat. Tidak ada yang aneh, banyak yang memandang casual sex sebagai rekreasi yang mampu mengurangi kepenatan jiwa. Yah, tak ada gunanya Ino memikirkan ini lebih jauh. Ia tak berniat menghabiskan banyak waktu dengan sang pelukis. Ino duduk sendirian sambil menunggu manajer agensi yang menaungi dirinya.
"Loh, Mana Temari?" Sabaku Gaara muncul di ruangan itu. Mengenakan kemeja merah marun dan celana jeans belel. ia sengaja tampil kasual di tengah-tengah suasana formal perusahaan yang dikelola oleh kakak dan iparnya.
"Dia sedang rapat mendadak dengan pihak Haruno. Aku menempatkan Temari dalam situasi yang buruk." Keluarga Haruno adalah Investor di agensi ini. Skandal Ino dengan Sasuke pastinya membuat geram pihak keluarga Haruno. Dia sudah bisa menebak mereka mendesak Temari untuk mengeluarkannya. Cepat sekali roda berputar, kurang dari tiga bulan yang lalu dia adalah artis dan model papan atas. Dengan cepat karier yang dia rintis dari SMA hancur hanya karena ia mengikuti emosi dan kata hatinya.
"Sulit pasti buat Shikamaru dan Temari. Dengan kejatuhan namamu, nama mereka juga ikut jatuh. Apa yang membuatmu begitu gila Ino? Bermain api dengan Sasuke."
"Cinta...atau kebodohan lebih tepatnya. Aku akan mengundurkan diri dan untungnya pamor Shion dan Tayuya sepertinya cukup untuk menyelamatkan perusahaan ini. Aku tak bisa ikut menyeret mereka dalam kesalahan yang aku buat sendiri."
"Serius kau mengundurkan diri dari dunia hiburan?"
"Apalagi yang bisa aku lakukan Gaara. Yang jelas karierku tamat. Ayahku sendiri tak mau bertemu dan memaafkanku karena dia merasa malu."
"Bagaimana dengan Sai, tunanganmu itu? Pastinya dia terkejut dan sakit hati. Membaca isi berita soal dirimu."
Ino tertawa. "Sai tahu apa yang aku lakukan. Pertunangan kami cuma kedok semata. Paling yang ia sesali kini kakeknya kembali menjejalinya dengan deretan wanita untuk dipilih."
"Kalau tak salah kau punya gelar di bidang administrasi dan bisnis manajemen kan?"
"Ya, memang kenapa?"
"Bagaimana kalau kau membuat lembaran baru dan bekerja untukku?"
"Apa yang kau pikirkan Gaara. Dengan reputasiku kau tak bisa menjadikan aku wajah perusahaanmu."
"Siapa bilang aku akan menggunakanmu sebagai alat pemasaran. Aku butuh asisten, Memang bukan pekerjaan yang glamor seperti artis dan model, tapi aku bisa membayarmu dengan layak."
Ino memikirkan kondisinya saat ini. Ia punya cukup banyak tabungan untuk hidup layak, tapi ia tentunya akan bosan tanpa kegiatan. Satu-satunya aktivitas Ino hanya menjadi model bagi Sai. Ia butuh lebih banyak kesibukan agar tidak memikirkan si keparat Sasuke itu.
"Akan aku pertimbangkan, tapi aku tak tahu apa aku akan cocok dengan pekerjaan itu."
"Kau bisa mencoba dan berhenti kapan saja. Tak ada kontrak yang mengikat."
"Terima kasih Gaara."
Temari muncul di kantornya dengan wajah gusar. Ino menebak pembicaraan itu tak berjalan lancar.
"Gaara, mengapa kau di kantorku?"
"Kau lupa ya. Kita berjanji makan siang."
"Oh iya, Bisa tunggu sebentar ada yang mau aku bicarakan dengan Ino." Ujar Temari dengan wajah lesu.
"Baiklah, Aku tunggu di luar."
"Jadi mereka memintamu untuk menendangku?" tanya Ino pada sang pemilik agensi.
"Aku tak bisa melindungimu. Uang mereka lah yang membuat perusahaan ini berjalan."
"Aku kemari untuk membicarakan pengunduran diriku. Bisakah kau mempersiapkan konferensi pers. Aku rasa ini sudah cukup."
"tapi Ino, kau berbakat dan menyukai pekerjaanmu."
"Tak ada artinya bila tak satu pun produser melirikku. Aku harus menerima karierku sudah tamat. Lagi pula aku tak tahan lagi dengan kritik pedas dan ujaran kebencian yang aku terima. Fans yang marah merasa aku mengkhianati dan menipu mereka."
"Aku tak tahu harus berkata apa. Entah apa yang ada dalam pikiranmu menjadi orang ketiga dalam hubungan pasangan paling dipuja oleh publik. Seketika kau menjadi musuh semua orang."
"Kenapa kau juga menyalahkanku Temari? Aku tidak merayu Sasuke."
"Benar?"
"Dia yang datang padaku. Bila ia sungguh-sungguh mencintai istrinya mengapa juga dia mencariku dan ini sangat tidak adil. Aku kehilangan karierku dan dia tidak kehilangan apa-apa." Ino mulai menangis. Mengapa hanya dia yang harus dihujat? Yang paling menyakitkan adalah cerita Sasuke pada media. Pria sialan itu berkata Ino lah yang melemparkan dirinya dalam pelukan Sasuke seakan dia wanita murahan. Pengecut itu berusaha menyelamatkan wajah dan pernikahannya dengan Sakura dengan pura-pura menjadi korban.
Temari yang sudah menganggap Ino sebagai adiknya memeluk wanita itu. "Tenanglah Ino. Kau hanya jatuh cinta pada orang yang salah. Situasi akan membaik. Cepat atau lambat kasus ini akan mereda."
Ino sesenggukan. "Semoga saja begitu". Ia tak lagi melihat media sosial, tak lagi membaca berita. Ino takut keluar rumah. Wanita yang simpati pada Sakura membencinya. Pernah ia sampai dilempari batu oleh seseorang, sampai diteriaki pelakor pula. Hidupnya yang indah menjadi sebuah mimpi buruk.
.
.
Sai membuang dan menginjak puntung rokok yang dia hisap ketika melihat pria berkaca mata hitam dan berjas panjang mendekati dirinya. Dia sudah menanti kemunculan lelaki itu sejak lima belas menit yang lalu
Dia lalu menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.
"Tuan Shimura, laporan Minggu ini."
Sai memeriksa dan membacanya sekilas. Tak ada hal penting.
"Apa Yamanaka Ino bertemu dengan Sasuke Uchiha?"
"Tidak tuan, Saya membuntuti Nona Yamanaka sepanjang minggu. Dia tidak banyak keluar dari apartemennya, Tetapi dia sempat bertemu di sebuah restoran dengan seorang pria berambut merah yang bernama Sabaku Gaara."
"Siapa dia detektif?"
"Adik dari manajer Nona Ino."
"Oke terima kasih. Tolong lanjutkan pekerjaanmu."
"Sama-sama Tuan."
Sai masuk ke dalam mobilnya dan meluncur menuju kantor Inoichi Yamanaka. Ayah Ino sudah menganggapnya sebagai putra yang tak pernah dia punya. Kepingan puzzle yang dia susun sudah hampir sempurna hanya satu hal yang kurang. Ino tidak mencintainya, tapi hal itu bisa diubah. Saingan terbesarnya sudah pergi dan semoga saja Sakura mampu menjerat leher suaminya lebih erat lagi. Ino terobsesi dengan Sasuke. Lelaki yang membuatnya jatuh hati sejak dia masih remaja dan Sai melihat sendiri semua hal yang dilakukan wanita itu demi cinta yang membutakan nalar dan logika. Dia tak menghakimi Ino dan mengerti perasaan seperti itu sebab dia juga sama. Menyimpan sebuah obsesi gelap yang berbahaya bagi wanita berambut pirang itu. Entah mengapa semakin Ino tak memedulikannya semakin gigih dia ingin mendapatkannya meski menghalalkan segala cara.
Kakashi melihat kliennya pergi sambil menggaruk kepala. Ini pekerjaan yang paling mudah dan paling aneh yang ia pernah jalani. Membuntuti seorang wanita dan juga artis ternama. Selama dua tahun ia dibayar untuk mengikuti gerak gerik Ino Yamanaka dan melaporkan setiap detailnya. Awalnya dia mengira Sai hanya kekasih yang curiga dan pencemburu. Kakashi pun berhasil menguak skandal besar hubungan gelap Ino dengan Sasuke. Dia mengira pekerjaannya akan selesai sampai di situ, mengungkap sebuah pengkhianatan. Anehnya Sai menginginkan tunangannya terus diawasi. Dia bahkan harus mencari tahu pakaian dalam apa yang artis cantik itu beli dan apa yang wanita itu makan. Dia tak habis pikir mengapa Sai memerlukan informasi seperti itu. Menurutnya ini sudah merupakan kegilaan, tetapi dia tak akan berkomentar. Selama Sai membayarnya dia akan melakukan tugasnya. Kakashi hanya khawatir melanggar privasi seseorang seperti ini sudah menjadi tindakan kriminal.
.
.
Ino kembali ke rumah Sai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seperti biasa lelaki itu tidak banyak cakap. Ia mengganti pakaiannya dengan gaun yang sama lalu berbaring miring di atas sofa menjadi sebuah manekin. Hanya suara goresan kuas yang terdengar. Wajah Sai tersembunyi di balik lukisan yang sedang dia kerjakan dan Ino dalam hati bertanya. Adakah yang berubah dengan hubungan mereka?
"Kurasa cukup untuk hari ini."
Ino menarik nafas lega dan meregangkan tubuhnya. Sai kini duduk di sebelahnya mencondongkan wajah untuk menciumnya, tapi Ino cepat-cepat menghalangi bibir pria itu dengan tangannya.
"Jangan."
"Mengapa? Bukankah kau menikmatinya."
"Ini salah. Aku tak bisa menghapus kesalahanku dengan membuat kesalahan lainnya." Ino mencoba bijak. Seks mungkin menyenangkan, tapi hubungan seperti ini selalu membawa kerumitan.
"Jadi sekarang kau mengakui mencintai Sasuke adalah hal yang salah."
"dan bermain-main seperti ini juga salah. Sai, aku tak butuh lebih banyak hal-hal rumit dalam hidupku."
"Kau ingin segalanya mudah dan jelas, jadikan aku kekasihmu."
Ino terenyak, "Kau bercanda kan? Kau tahu aku tak mencintaimu dan kau tak punya perasaan padaku."
"Apa yang membuatmu berpikir aku tak pernah memperhatikanmu. Tidakkah kau sadar mungkin saja aku menahan diri." Sai tahu ia harus menjadi lebih persuasif. Wanita yang patah hati mudah dimanipulasi.
"Maksudmu?"
"Akan sia-sia bila aku menunjukkan perhatian saat matamu hanya tertuju pada Sasuke, tapi sekarang situasinya berbeda. Kau membutuhkan seseorang dan aku bisa menjadi orang itu."
Ino menatap Sai dengan tidak percaya. "Mengapa kau begitu yakin kalau dirimulah yang aku butuhkah?"
Mata hitamnya balas menatap Ino. Mata yang begitu gelap melihat lurus menembus jiwanya. Hal itu mengirimkan getar sampai tulang sum-sumnya. Seketika Ino merasa takut.
"Aku mengenalmu lebih baik dari siapa pun." Jawabnya pelan.
Merasa tak nyaman begitu dekat. Ino berdiri dan melangkah membuat jarak dari pelukis itu. "Absurd, tak mungkin kau tahu. Kita bahkan tidak berteman. Hubungan kita hanya sebatas formalitas."
Sai mulai mengikuti langkah Ino. "Tidak percaya? Kau menyukai bunga lili dan coklat. Kau lebih suka film horor daripada drama. Kau selalu minum secangkir esspreso sebelum syuting dan kau adalah wanita yang sentimental sampai kini masih menyimpan ikat kepala yang Sasuke gunakan pada festival olahraga terakhir di SMA."
Ino tak pernah bercerita apa pun pada Sai, tapi mengapa pria itu tahu. Senyum di wajah pucatnya membuat bulu kuduk Ino meremang. Melihat pria itu kembali mendekatinya Ino melangkah mundur.
"Aku tahu ketakutanmu dan setiap rahasia kelam yang kau simpan."
Ino kembali mundur. Ia seperti kelinci yang terperangkap.
"Kau takut sendirian dan kau takut kesepian." Sai memojokkan Ino di dinding.
Ino tak kuasa memalingkan wajah dari tatapan pria itu. Matanya tahu dan menelanjangi jiwanya. Ino takut Sai mengetahui jiwa kerdilnya yang tersimpan rapat dan terkubur jauh dalam hati. Tangan dingin pria itu meraih dagunya. Perlahan mengelus pelan pipinya dengan ibu jari. Ino merasa gamang dan tak berkutik seakan ia jatuh dalam mantra sihir.
"Pikirkan baik-baik. Aku akan selalu menemanimu dan aku tidak akan pernah mencampakkanmu seperti yang Sasuke telah lakukan. Kau tak perlu khawatir tentang kesetiaanku. Aku tak menatap wanita selain dirimu."
Rayuan Sai begitu menghipnotis seolah Ino sedang berbicara dengan Iblis yang bersedia memberikan segalanya, tapi Ino lebih dari tahu, Sai Shimura selalu memiliki maksud terselubung.
"Apa yang akan kau dapatkan dariku?"
"Semua hal yang bisa kau tawarkan."
Ino tersenyum, "Meski aku cuma bisa memberimu sedikit?"
"Aku tak begitu peduli. Aku hanya ingin melihatmu senang."
Ino merasa perlu melakukan sesuatu supaya dia bisa melupakan obsesinya dan Sai bukan pilihan buruk. Dia terlihat mirip Sasuke dan Ino benci sendirian. Punya kekasih baru juga tidak buruk bukan berarti Ino harus mencintai Sai. Ini hanya modus untuk mencari kenyamanan.
"Baiklah, Aku setuju jadi kekasihmu sampai aku bosan."
"Oke, terserah. Kalau sudah begini apa kita bisa lanjut ke tempat tidur?"
"Dengan senang hati." Balas Ino pendek.
Dengan sigap Sai membopong Ino ke kamarnya. Tersenyum senang dengan sambutan hangat yang dia terima. Sebentar lagi wanita itu luluh. Hanya perlu sedikit kata-kata manis dan pemujaan untuk meyakinkan niatnya yang tulus. Malang bagi Ino tidak mengetahui Sai adalah penyebab kehancurannya.
