My World full of Lemon.

Chapter 3

"Ino, Aku tak setuju kau bekerja untuk orang lain. Kau tak perlu memikirkan uang. Milikku adalah milikmu. Bukankah kita akan segera menikah?"

Sai bersandar di pintu kamar menatap sang kekasih yang tengah menyikat rambut pirangnya. Dia tidak merasa senang. Rencananya memang berjalan sempurna. Memisahkan Sasuke dan Ino dengan mengekspos perselingkuhan mereka, lalu membuat Ino kehilangan segalanya dan ia akan muncul sebagai penyelamat. Sampai di sini perhitungannya benar. Ia berhasil menunjukan pada Ino betapa ia adalah pria yang simpatik dan pengertian. Di saat yang sama ia juga berhasil membuat Ino percaya bahwa belajar mencintainya adalah keputusan yang benar, tetapi ada satu faktor penganggu yang tak pernah dia duga akan menginterupsi rencananya. Sabaku Gaara. Apa motivasi pria itu menawarkan pekerjaan bagi Ino? Sai merasa geram, ia tak akan membiarkan Ino-nya berurusan dengan pria lain lagi. Dia cukup bersabar untuk menghadapi hubungan Ino dengan Sasuke dan sekarang ketika wanita itu sudah mendarat ke pelukannya ia tak akan membiarkannya lepas lagi.

Ino mengambil tas tangannya dan melangkah. Ia mencium pipi Sai. "Haruskah kita berdebat tentang ini lagi? Aku tak Ingin terus-terusan menjadi modelmu dan aku juga tak bisa kembali bekerja menjadi artis. Aku ingin punya kesibukan."

Sai melingkarkan lengannya di pinggang Ino dengan posesif. Menyurukan kepalanya di leher wanita itu untuk menghirup aroma jasmin dan lavender yang menguar dari tubuhnya. "Kau akan sibuk setelah menjadi nyonya Shimura dan melahirkan anak-anakku."

Ino terkekeh, "Ayolah, Sai. Aku setuju menikahimu, tapi aku belum siap untuk punya anak." Ino melepaskan dirinya dari pelukan sang kekasih "Kita bicarakan ini lain waktu. Aku tak ingin terlambat di hari pertama."

Sai membiarkan wanita itu pergi. Tangannya terkepal dengan geram. Ia ingin agar Ino bergantung padanya, selalu membutuhkannya sehingga wanita itu tak akan pernah berpikir untuk pergi dari sisinya. Ia telah membuat Ino dikucilkan bahkan oleh ayahnya sendiri dan ia tak mau Ino menemukan kekuatan untuk membebaskan diri dari jeratannya.

Ino berdendang dengan riang mengikuti alunan lagu dari audio mobilnya. Jiwanya terasa ringan dan semangatnya membumbung tinggi. Ia akan mengawali sebuah karier baru. Sampai di gedung Suna Corp. Ia di sambut oleh Gaara dan tim-nya. Senyum Ino merekah bertemu dengan adik Temari itu.

"Aku senang kau menerima tawaranku."

"Aku yang harus berterima kasih atas kesempatan ini. Aku harap aku akan beradaptasi dengan cepat."

"Aku yakin kau bisa. Ikuti aku, Aku akan menunjukan ruang kerjamu."

Ino dengan patuh mengikuti langkah pria itu melintasi koridor. "Aku dengar kau akan menikah." Tanya pria itu sambil berjalan.

"Kau mendengar hal itu juga?"

"Bagaimana tidak, Kalian menjadi pembicaraan media. Aku tak menduga Shimura memaafkanmu setelah skandal itu."

"Aku juga tidak menduga Sai adalah orang yang baik dan penuh pengertian. Aku rasa dia akan menjadi suami yang baik untukku."

"Apa kau mencintainya?" tanya pria berambut merah itu.

"Pengalaman dengan Sasuke mengajarkan aku cinta tak selamanya indah."

"Itu karena kau mencintai pria yang salah. Aku terima jawabanmu itu sebagai tidak."

"Tapi Sai mencintaiku. Lebih baik dicintai daripada mencintai kan?"

"Good for you jika itu membuatmu bahagia."

Langkah mereka berhenti di sebuah pintu. Gaara membukanya. Sekitar selusin kubikel mengisi ruangan itu. Seorang wanita berambut cokelat mendekati mereka.

"Bos," Wanita itu menyapa Gaara dan langsung menatap Ino dengan pandangan menilai. Ino merasa wanita muda itu tak menyukainya.

"Matsuri, Ini Ino Yamanaka."

"Hai," Sapa Ino dengan senyum ramah.

"Siapa yang tak kenal dengan artis perusak rumah tangga orang." Celetuknya ketus.

"Matsuri, Aku memperingatkanmu untuk bersikap baik. Mulai hari ini Ino akan bekerja di divisi pemasaran. Aku berharap kau bisa membantunya."

Gadis itu memasang muka masam, tapi ia tak membantah.

"Karena hari ini adalah hari pertama Matsuri akan menjelaskan tugas -tugasmu. Bila kau menemui kesulitan hubungi saja aku."

"Baiklah, Gaara."

Sepeninggalan pria berambut merah itu. Matsuri menatapnya dengan masam. "Mengapa orang sepertimu mengambil pekerjaan seperti ini? Bukankah kau sudah punya banyak uang."

"Apa salah aku ingin punya pekerjaan baru?"

"Aku bahkan tak yakin kau punya kualifikasi untuk mengerjakan pekerjaan ini. Aku benci orang yang memanfaatkan koneksi." Matsuri menunjukan permusuhannya dengan terbuka.

Ino bersikap tenang. Dia sudah terbiasa dengan orang yang membencinya dan ia juga tidak mudah diintimidasi. Apalagi hanya satu orang. "Aku tak peduli pendapatmu tentang diriku, tapi kau punya tugas untuk menjelaskan tugas-tugasku. Apa kau mau aku melapor pada Gaara kau tidak menjalankan pekerjaanmu?" Ancam sang mantan artis.

Dengan bersungut-sungut Matsuri menunjukan pada Ino kubikelnya. Ino berniat untuk tidak menyerah begitu saja. Dia ingin memiliki sesuatu yang bisa ia pegang. Tentu seperti kata Sai ia bisa memakai uang pria itu, tetapi Ino ingin punya kemerdekaannya sendiri. Ino mengakui Sai adalah kekasih yang penuh perhatian, Ia memanjakan Ino tapi entah bagaimana Sai tak pernah membiarkannya sendirian. Ini adalah hari pertama ia keluar rumah tanpa ditemani tunangannya dan Ino merasa lega. Seakan dia bisa bernafas dengan leluasa.

Meski Matsuri hanya memberikan penjelasan singkat. Ino cukup cerdas untuk mengerti dan mengerjakan tugas-tugasnya. Ia pernah magang di bagian pemasaran waktu kuliah dulu. Gaara tentunya maklum ia tak akan bisa langsung menyerap dan mengerti sistem kerja perusahaan ini dalam satu hari.

Ketika jam kerja usai. Gaara muncul di ruangan Ino.

"Bagaimana? Apa Matsuri sudah membantumu?"

"Gadis itu tidak banyak membantu. Aku akan mempelajarinya sendiri." Ino menutup laptop dan mengemasi barang-barangnya.

"Aku akan memberikannya peringatan." Gaara hendak melangkah mencari Matsuri, tapi Ino mencegatnya.

"Jangan, Kau akan membuat mereka tambah tidak menyukaiku. Jangan memperlakukan aku dengan istimewa Gaara. Aku sadar kau memberikanku pekerjaan ini karena kau mengenalku. Bukan karena kompetensiku. Izinkan aku membuktikan pada mereka aku bukan wanita yang hanya bisa jual tampang saja."

"Kau ini…" Gaara tidak melanjutkan kata-katanya. Melihat ekspresi memohon Ino. Gaara pun tak jadi memprotes pegawainya. "Baiklah…Bagaimana bila kita makan malam? Ada Temari dan Shikamaru juga. Kau mau ikut?"

Tanpa berpikir dua kali Ino setuju. Sudah lama ia tak bercakap dengan teman-temannya. Ia melupakan seseorang menunggunya di rumah.

Sai melihat jam dinding sekali lagi. Pukul tujuh lewat lima belas. Setelah berkali-kali ia memainkan poselnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Ino. Betapa kesalnya pria itu saat Ino tak menjawab panggilannya. Dia pun menghubungi seseorang dengan mengunakan nomor pribadinya.

"Dimana Ino?"

"Distrik selatan." Jawab pria itu singkat.

"Apa dia sendirian?"

"Tidak, Bersama Sabaku Gaara." Kakashi berdiri di seberang jalan. Ia mengamati Yamanaka Ino yang turun dari mobilnya disambut oleh Sabaku Gaara.

"Terus awasi." Perintah Sai singkat.

"Baik tuan."

Sai mematikan telepon, tiba-tiba dia membanting lampu hias di dekatnya. Dia benar-benar merasa marah. Tak lama kakashi mengirimkannya beberapa foto. Pria itu tak bisa mengontrol kecemburuannya melihat Ino tertawa pada pria yang bukan dirinya. Beraninya wanita itu. Ia sudah bersabar sekian lama, membiarkan Ino menikmati fantasinya bersama Sasuke. Sekarang gilirannya. Dia tak akan membiarkan pria lain menganggunya. Sai memutuskan untuk menghubungi seorang teman lama.

"Ada apa menghubungiku?" Terdengar suara berat dan serak dari reciever telpon.

"Menagih utang. Apa kau lupa?"

Suara gerututan terdengar, sepertinya orang yang ditelpon Sai merasa keberatan. "Apakah kali ini aku juga harus melakukan pekerjaan kotor untukmu?"

"Kau hanya perlu menakut-nakuti seseorang. Aku akan memberikan detail targetmu."

"Aku tak mau lagi. Polisi sedang mengawasiku."

"Apa kau lupa siapa yang menyelamatkanmu."

"Oke kalau begitu. Aku tak paham mengapa kau berbuat sejauh ini."

"Aku mencoba mempertahankan hal berharga yang aku miliki."

.

.

Ino begitu senang bertemu dengan Temari dan Shikamaru mereka mengobrol lama. Untung saja setelah ia meninggalkan agensi media tak lagi mengusik perusahaan Nara. Skandal Ino telah membuat banyak kerugian. Tak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang-orang terdekat. Ia merasa amat lega mengetahui bisnis kembali berjalan normal bagi Temari. Begitu mereka berpisah ia baru ingat untuk mengecek ponselnya. Ino lupa ponselnya tengah dibisukan. Dia tak mendengar sejumlah panggilan dari Sai. Apakah dia akan marah karena Ino pulang selarut ini? Ino mengetikkan pesan singkat. Memberitahu Sai ia sedang dalam perjalanan pulang.

Duduk di ruang tamu. Ditengah-tengah kegelapan, Pria berkulit pucat itu membaca pesan Ino. Ia tidak membalas. Cemburu berkecamuk di dadanya. Ia ingin memberikan wanita itu sedikit pelajaran agar tidak mengabaikannya lagi. Bertahun-tahun ia berpura-pura tak peduli. Berpura-pura tenang melihat kemesraan Ino diam-diam bersama Sasuke, tapi situasi sekarang berbeda Sai berhak menunjukan emosinya, ketidaksukaannya mengetahui Ino menghabiskan waktunya bersama pria lain.

Ino memencet kode, Rumah dalam keaadaan gelap. Wanita itu berpikir mungkin Sai sudah tidur. Memang ini sudah hampir tengah malam. Ia melepas sepatunya dan berjalan berjingkat. Tak ingin membuat suara yang bisa memecahkan kesunyian rumah ini.

"Dari mana saja?"

Suara Sai mengejutkan Ino. Buru-buru wanita itu mencari saklar untuk menyalakan lampu. Ia menemukan Sai duduk di sofa berpakaian santai menantinya.

"Maaf, Aku lupa memberitahumu. Tadi aku pergi makan malam bersama Temari dan Gaara."

"Kau juga lupa kalau aku menunggumu."

Ino langsung mengernyit dengan nada sepat yang dilontarkan pria itu, tapi Ino tak suka dipersalahkan ia pun membalas kata-kata Sai sama sepatnya. "Aku tak merasa kita punya janji. Aku tak memintamu untuk menunggu."

Sai mendekati Ino. Meraih dan mencium helaian rambut pirangnya yang wangi. "Apa aku bukan kekasihmu? Apa aku tak punya hak untuk khawatir?. Betapa mudahnya kau mengabaikanku ketika hidupmu kembali dalam gengamanmu. Selamat karena sudah mendapatkan pekerjaan baru. Sepertinya kau bisa bersenang-senang tanpa diriku."

Senyuman Sai tampak begitu manis, tetapi tatapan tajamnya membuat bulu kuduk Ino meremang. Ia tak pernah tahu Sai bisa tampak begitu menakutkan.

"Mengapa kau berlebihan begini? Aku hanya menghabiskan waktu dengan teman-temanku." Ino melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur, Mengabaikan Sai dan kemarahannya. Pria itu tidak masuk akal. Keseimbangan Ino hilang tatkala Sai mencengkram dan menarik lengannya dengan kasar. Wanita itu terjatuh dalam pelukan tunangannya.

"Teman? Suatu hari orang-orang itu akan mencampakanmu juga seperti halnya Sasuke yang meninggalkanmu dan memilih menyelamatkan rumah tangganya atau seperti ayahmu yang tak lagi mengakuimu ketika kau mencoreng nama baik keluarga. Fans yang katanya mengagumimu, dimanakah mereka saat kau jatuh? Mereka berbalik menghujatmu. Mereka pikir kau tak berharga, tapi aku selalu berpikir sebaliknya.

Kata – kata Sai menguak ketakutan yang tersimpan di jauh dipikiran Ino Yang belakangan merasa kecantikannya dan kepribadiannya tak cukup untuk membuat orang tidak mencampakkannya dan Ino takut sendirian. Rasa kesepian dan terbuang mengerogoti hatinya yang hampa dan Sai adalah satu-satunya orang yang berusaha menambalnya. "Apa yang membuatmu begitu marah? Aku ingin mengerti."

Sai melepaskan Ino, membalikan tubuhnya tak ingin wanita pirang itu melihat ekspresi wajahnya ketika membuat pengakuan soal kecurigaannya. "Aku tidak yakin motif Sabaku Gaara memberikan pekerjaan padamu tulus. Aku khawatir ini hanya skemanya untuk mendekatimu."

Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya mengatahui semua drama ini hanya karena Sai cemburu dengan hal kecil, tapi di sisi lain dia merasa takut akan sifat Sai yang begitu posesif. Seakan pria itu mencoba untuk menguasai dan mengolahnya.

"Kau cemburu? Sungguh tak ada apa-apa di antara kami. Bila kau mau aku bisa mengenalkan kalian. Jadi kau bisa menilai sendiri pria seperti apa Gaara itu."

"Aku tak mempercayai pria-pria disekelilingmu."

Ino meneluk Sai dari belakang berharap amarah dan kecemburuan tak beralasan pria itu luruh. "Apa kau tak mempercayaiku juga? Aku tidak punya niat mencari pria lain."

Ino-nya tentu tidak bersalah, tapi dia akan memberi peringatan bagi siapapun yang berani dekat-dekat dengan kekasihnya.

"Aku percaya kau tak punya niat buruk, tapi tetap saja kau bersalah karena membuatku khawatir."

"Apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah lagi. Bagaimana aku harus meminta maaf?"

Senyum mengembang di bibir pria itu. "Berlutut Ino, Aku akan menghukummu."

"Serius? Aku lelah."

"Jangan membantah. Kau meninggalkanku terlalu lama."

Tak lama kemudian ruangan itu dipenuhi oleh rintihan-rintihan lirih dan jeritan dari mulut Yamanaka Ino bersaman dengan suara tubuh yang berpalu.

.

.

Gaara tak habis pikir siapa yang zaman sekarang masih mengirimi surat kaleng. Amplop-amplop tanpa nama terselip di pintu rumahhya. Isinya kurang lebih sama. Meminta dirinya mengeluarkan Ino dari perusahaan. Siapa kira-kira yang mengirimkannya. Pria berambut merah itu memutar otak. Ia tahu sebagian besar pegawai tak menyukai Ino lantaran dia masuk lewat koneksi. Lalu ada pula gadis-gadis yang cemburu karena ia mungkin terlihat terlalu memperhatikan Ino. Gaara tak punya maksud apa pun. Dia hanya ingin Ino bekerja dengan baik dan sejauh ini. Ino menunjukan potensi. Ia bukan pria bodoh yang berniat merusak persahabatan untuk mengejar emosi sesaat. Lagipula bulan depan Ino akan menikah. Mengejar wanita yang sudah memiliki pasangan tidak ada dalam kamusnya. Ia hanya ingin Ino bahagia. Bukannya ia tak sadar akan rasa ketertarikannya. Suka bukan berarti harus memiliki. Hidup Ino penuh drama dan Gaara tak ingin ambil bagian.

Kembali fokus dengan surat-surat kaleng itu. Sepertinya ia harus mengulik CCTV untuk melihat siapa yang meletakkannya di sana. Gaara menemukan dirinya melangkah ke bagian pemasaran. Seharusnya ia tidak ke sana tapi ia ingin melihat Ino.

Matsuri tersenyum manis melihat Gaara memasuki ruangan. Boss nya memang tampan luar biasa. Andai saja ia mendapatkan pekerjaan sebagai assistennya dia akan senang sekali. Tapi Gaara malah memilih lelaki sebagai assisten pribadi.

"Pak, Apa yang anda butuhkan?"

"Apa Yamanaka Ino sudah datang?"

Dalam hati Matsuri memisuh. Mengapa Gaara mencari Ino terus. Bukankah pernikahan wanita itu sudah di depan mata. Menyebalkan sekali. Sekalinya genit selamanya genit. Mengapa Gaara tergoda dengan wanita yang seperti itu.

"Sepertinya dia masih coffee break."

Gaara menemukan Ino di pantry sedang membuat kopi.

"Aku mencarimu."

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pekerjaanku?"

"Tidak, tapi ada yang mengirimkan ini padaku." Gaara menyerahkan surat itu pada Ino. "Siapa kira-kira yang tidak suka kau bekerja padaku?"

Ino membaca sebaris kalimat itu. "Kau tahu satu ruangan itu terutama para wanitanya tidak suka padaku."

"Aku sadar soal itu. Kira-kira ada yang lain? Seperti tunanganmu?"

"Sai? Awalnya ia tak suka aku bekerja, tapi melihatku sibuk dan bahagia dia melunak dan mendukungku."

"Mengapa dia tak ingin kau bekerja? Apa yang salah?"

"Dia tak ingin aku bekerja padamu sebab dia cemburu. Curiga kau menginginkan sesuatu dariku."

"Dia kedengaran begitu posesif dan kekanak-kanakan?"

"Aku rasa wajar-wajar saja. Dia tidak mengenalmu karena itu dia berpikir buruk. Lagipula masalah Sasuke masih terekam jelas diingatannya. Aku tak menyalahkan Sai bila dia cemburu."

" Sepertinya punya kekasih cantik memang merepotkan. Ngomong-ngomong. Apa kau akan datang pada gala yang diadakan hari sabtu ini? Uchiha mungkin juga akan datang sebab dia klien perusahaan. Aku mengerti kalau kau tak mau hadir."

"Tergantung pada Sai. Bila dia mau menemaniku aku akan datang. Aku tak bisa menghindari Uchiha Sasuke selamanya bukan?"

"Pria itu memperlakukanmu dengan buruk bahkan dia berani menyalahkanmu untuk melindungi wajahnya. Aku tak pernah mengira Sasuke seorang pengecut. Bahkan Naruto enggan bicara padanya sekarang."

"Semuanya sudah berlalu Gaara. Pada akhirnya aku mengerti bagi Sasuke aku bukan apa-apa. Apa yang akan kau lakukan dengan surat-surat itu?"

"Tidak ada, Aku tak akan memecatmu karena teror kecil macam ini. Aku akan mencoba memcari pelakunya."

Ino menghabiskan kopinya. "Sebaikanya aku kembali bekerja. Bila tidak meraka akan semakin menggangap kau memberikanku keistimewaan."

"Oke. Beritahu aku bila mereka menganggumu."

Ino tidak akan mengadu. Dia bisa mengatasi sendiri masalahnya dengan rekan kerja terutama Matsuri.

.

.

"Sai, berapa lama lagi aku harus mendiamkan Ino? Aku merindukan putriku." Inoichi mengeluh pada calon menantunya. Sudah lebih dari setengah tahun dia putus kontak dan tak menggubris putrinya. Dia memang marah pada Ino. Skandal itu mempermalukan dirinya. Ia kehilangan muka di depan Danzo dan juga Fugaku yang notabene adalah rekannya, tapi seiring waktu dia mulai merasa bersalah. Meninggalkan putrinya sendirian di posisi sulit. Ino adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Sulit menerima putri cantiknya berbuat bodoh, tapi lebih sulit lagi hidup tanpa melihat Ino.

"Sebentar lagi paman, Sampai Ino menikah denganku."

"Mengapa kau ingin aku mengacuhkan darah dagingku sendiri. Keuntungan macam apa yang kau dapat, Nak Sai?"

"Saya sadar cinta Ino pada Sasuke sudah berlangsung lama. Saya ingin dia mengerti berbuat bodoh membuatnya kehilangan semuanya. Bila paman memaafkannya begitu saja dan bersikap permisif dan supportif apa itu tidak akan membuat Ino mengejar Sasuke lagi karena ia tahu tindakan bodohnya tidak memiliki konsekuensi tinggi."

"Selama ini kau tahu apa yang terjadi mengapa kau diam? Hingga akhirnya hal memalukan itu menjadi skandal besar. Kita bisa mencegah hal seperti ini terjadi bila saja kau memberitahuku."

"Dan apa yang akan paman lakukan bila aku mengadu? Memaksa Ino memutuskan hubungannya dengan Sasuke itu mustahil. Yang ada Ino akan semakin membenciku karena aku menjual rahasianya. Aku hanya bisa bersabar dan membiarkan Ino sadar menjadi wanita simpanan Sasuke bukan hal yang benar. Saat ini syukurnya perlahan dia mau membuka diri untukku."

"Nak, Sai kau begitu baik. Paman lega kau akan menjaga Ino dengan baik. Bagaimana dengan kakekmu? Apa dia masih marah?"

"Nanti juga kakek akan luluh. Apa yang bisa dia lakukan? Aku cucu satu-satunya. Mau tak mau dia akan menerima pilihanku."

"Maaf atas semua kesulitan yang disebabkan oleh Ino. Sekarang paman mengerti seberapa besar kau mencintainya."

"Aku membutuhkan Ino paman. Sebab itu aku mohon paman bekerja sama denganku. Ini semua untuk kebaikan Ino juga. Jadi tolong tahan diri untuk menghubungi Ino dulu. Abaikan dia hingga hari pernikahan."

"Aku mengerti. Jaga Ino baik-baik."

"Tenang saja paman. Aku permisi dulu. Hari ini kami harus menyelesaikan detail pesta pernikahannya."

Sai meninggalkan kediaman keluarga Yamanaka dengan hati senang. Inoichi mendukung rencananya. Dia berpikir bila mereka semua tahu dia lah dalang dari kebocoran skandal itu di media. Apa Ino dan ayahnya tetap akan bereaksi positif. Ino tak boleh tahu Sai sedang memanipulasinya. Mengetahui tabiat dan tempramen Ino. Sai sadar begitu rahasianya ketahuan maka Ino akan meninggalkannya dan ia akan mencegah semua itu terjadi.

.

.

Author Note's : Akhirnya saya terbebas dari writer's block. Selama sebulan lebih saya sanggup menulis satu kalimat pun. Akhirnya saya bisa menulis lagi berkat membaca fic nya Suu dan Yagami San. Saya pikir cerita ini akan menjadi dark fic deh.. I hope you'll still enjoy it.