My World Full of Lemons
Chapter 4.
Uap panas mengembun di permukaan dinding kaca yang membatasi shower dan ruang tidur mereka. Air hangat mengucur deras membasahi kulit Ino yang lengket oleh keringat. Ia tak tahu apakah harus menganggap libido tinggi tunangannya sebagai kutukan atau berkah. Sai menginginkan dirinya kapan saja dan di mana saja. Seakan di dunia ini tak ada yang lebih penting dari Ino. Sai memperlakukan dirinya bak ratu dan membuat Ino tersanjung, tapi ada banyak hal aneh tentang Sai yang menjadi ganjalan dalam hatinya. Terutama sikap pria itu yang bisa berubah seratus delapan puluh derajat sewaktu-waktu. Dia bisa menjadi begitu dingin dan kasar. Mendebatnya dengan menggunakan kata-kata menyakitkan, menyudutkan dan mengulik semua kesalahannya yang perlahan mengikis kembali kepercayaan dirinya untuk kemudian merasa bersalah dan bersikap manis. Ino merasa menghadapi dua pribadi yang berbeda. Dia mulai berpikir apakah menikahi Sai adalah ide yang bagus? Ia bahkan tak mengenal pria itu dengan baik meski sudah beberapa bulan mereka tinggal bersama. Sai tetap saja membingungkan.
Pintu kamar mandi terkuak. Sosok Sai yang telanjang menatap tubuh Ino dengan apresiasi. "Bolehkah aku bergabung denganmu? Kita tak punya banyak waktu."
"Silakan." Ino tahu pertanyaan Sai hanya sekedar basa-basi sebab pria itu tak suka mendengar kata tidak. Ino menyingkir dari bawah kucuran air untuk memberi ruang bagi Sai. Ino hendak mengambil sabun, tapi tangan pria itu menduluinya.
"Biarkan aku memandikanmu." Sai menuangkan sabun cair itu ke telapak tangannya lalu menggosokkannya dengan perlahan di kulit Ino yang basah. Sai melakukan pekerjaannya dengan teliti, tangannya dengan sigap membersihkan tiap jengkal tubuh Ino tanpa terkecuali.
"Apa kau yakin mau pergi ke pesta? Bukankah kau tak menyukai keramaian?" Ino mencoba mengabaikan tangan Sai yang singgah terlalu lama di bagian dadanya.
"Kau bilang Sasuke mungkin datang. Ini saatnya kau menunjukan pada bedebah itu kalau kau sudah mendapatkan deal yang lebih baik."
"Hm…hm.. Kau pikir itu akan berguna?"
"Apa salahnya kau menunjukan pada dunia kalau kau sudah melupakan Sasuke. Benar begitu kan Ino, sayang?"
Dari Intonasinya, Ino mendugga Sai menginginkan pembuktian. Sebuah ujian untuk melihat apa hatinya sudah teguh meninggalkan Sasuke, Pria yang menjadi pujaannya sejak kecil.
Ino sadar seharusnya tak boleh takut berhadapan dengan bajingan itu lagi. Sebab kini matanya telah terbuka lebar melihat kenyataan, tidak lagi bersembunyi dibalik kaca mata merah muda yang mengidealiskan cinta. Demi harga diri dan hati yang telah hancur, Dia tak sudi memelas dan kembali menjadi wanita masokis yang dengan senang hati membiarkan dirinya dimanfaatkan hanya dengan sebuah janji manis semata.
Ino memejamkan mata membiarkan sentuhan Sai membuainya. Untuk sesaat apapun hal negatif yang dia pikirkan terkesampingkan. Dia bukan wanita yang tidak diinginkan. Dia bukan wanita yang terbuang. Dia tidak dibenci. Lihat saja, Sai menginginkannya. Seseorang mencintainya meski Ino setengah mati membenci dirinya sendiri dan kebodohannya. Apakah ini berarti dia memanfaatkan Sai untuk mengatasi problemanya?
Ino sendiri tak tahu apa yang dia rasakan bagi Sai. Pria itu punya cara untuk membangkitkan gairahnya. Membuatnya yakin bahwa aman untuk bersandar di bahunya. Ketika Ino berada di titik terendah hidupnya. Ia tak menduga Sai yang ia benci sepenuh hati malah menjadi penyelamatnya, Menjadi tempatnya untuk bergantung secara fisik dan emosional.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Wanita pirang itu sedikit tersentak merasakan jari Sai menyelip di antara kedua kakinya. "Aku masih harus berdandan untuk pesta itu. Bukankah kita tak punya banyak waktu?"
Sai menarik Ino kembali dalam guyuran air hangat. Membilas sabun yang tadi dia usapkan sambil mencium leher jenjang Ino. "Aku hanya butuh lima menit. Kau tak perlu berdandan. Tanpa make up pun kau tetap menawan."
"Oh…Sai." Ino mendesah. Memasrahkan dirinya pada nafsu yang sepertinya tak pernah padam.
.
.
Pesta yang diadakan Suna corp tak pernah bisa ia lewatkan. Ayahnya bersikeras dia harus muncul untuk menghormati kerja sama mereka. Gaara dan Naruto adalah partner bisnisnya. Ia tak begitu akrab dengan Gaara, tapi Naruto adalah sahabatnya dari kecil meski sekarang pria pirang itu enggan bicara padanya semenjak berita perselingkuhannya dengan Ino diketahui media. Naruto tentu saja tak terima dia menyakiti Sakura yang sudah dianggap saudari oleh putra tunggal keluarga Uzumaki itu. Ia bahkan sudah menerima pukulan akibat ulah bejatnya.
Menyesalkah dia berselingkuh? Antara iya dan tidak. Perselingkuhannya hanyalah sebuah pelarian dari pernikahannya yang tak bahagia. Dia dan Sakura tampak harmonis tapi sebenarnya tidak begitu. Rumah tangga mereka tak menyenangkan, penuh kepura-puraan.
Sakura menyalahkan dirinya dan keegoisannya karena tidak mencoba untuk belajar mencintai, tidak belajar untuk menerima. Bagaimana bisa dia mencintai wanita yang menjebaknya? Bukankah itu juga sebuah tindakan egois. Yang jelas, sehancur apapun rumah tangga mereka. Ia dan Sakura tak bisa bercerai sebab hubungan mereka mempengaruhi kelangsungan perusahaan bernilai miliaran dollar.
Mungkin ia jahat mengorbankan wanita lain guna menusuk perasaan Sakura. Ia sengaja memilih Ino sebab wanita itu adalah sahabat dekat istrinya, seseorang yang dia percaya. Tentunya lebih sakit dikhianati sahabat sendiri kan.
Ino sendiri tidak suci, Sebagai pria ia tidak bodoh. Senyum dan tatapan mendamba yang Ino lemparkan diam-diam padanya sudah menjadi sinyal positif untuk memanfaatkan artis cantik itu. Lelaki mana yang menolak menghabiskan malam-malam panas di ranjang wanita cantik. Ia tak rugi apa-apa. Bisa dibilang affairnya dengan Ino sangat murah. Hanya bermodal kalimat manis dan janji-janji palsu dan dia juga tahu dengan kekuasaan dan koneksinya dia juga akan dengan mudah cuci tangan dan memutar balikkan fakta. Media dapat dibeli dan opini bisa digiring. Yang dibutuhkan Cuma uang dan orang-orang yang tepat.
Ia dan Istrinya tengah berdiri di hall yang telah ramai oleh tamu undangan dan asosiat. Orang-orang mulai berkerumun untuk menyapa mereka. Istrinya dengan lihai tersenyum manis dan berbasa-basi sementara dia sendiri sudah dikenal sebagai pria yang tidak banyak bicara. Di tengah ketidak acuhannya, Tangan mungil yang melingkar di lengannya mendadak menekan dengan cukup keras. Kuku bermanicure sempurna tertancap dalam melewati lapisan kain jasnya, secara non verbal memperingatkan Sasuke untuk memberikan atensinya segera. Mata gelap penuh tanda tanya Sasuke bertemu dengan tatapan keras manik jade istrinya.
"Wanita itu di sini. Aku tak mau kau mempermalukan aku." Sebagai seorang istri Sakura merasa sangat marah. Entah berapa tahun Sasuke dan Ino membohonginya. Bila memang tidak mencintainya setidaknya Sasuke menghormati pernikahan dan anak mereka, tapi tidak. Ia diam-diam menjadikan Ino wanita simpanannya. Dimana letak moral suaminya? Sakura tidak menceraikan Sasuke sebab dia ingin memberikan suaminya kesempatan ke dua dan bila Sasuke tak berniat memperbaiki semuanya maka ia tak akan segan menjadikan kehidupan mereka berdua seperti neraka.
Sudut mata Sasuke menangkap sosok Ino yang mengenakan gaun unggu. Belahan roknya yang tinggi memamerkan kakinya yang Indah. Wanita itu sedang tertawa mendengarkan entah apa yang diucapkan oleh Naruto. Di sampingnya berdiri Sai yang terlihat puas melingkarkan lengannya di pinggang Ino. Sasuke dari awal tak pernah percaya kalau pria itu tak punya perasaan apa-apa pada Ino. Lihat saja, Sekarang tanpa dirinya di kehidupan Ino. Tuan muda keluarga Shimura itu dengan leluasa menunjukkan perhatiannya.
Sasuke merasa curiga bahwa yang membocorkan hubungannya dengan Ino adalah Sai. Hanya pria itu yang pernah memergoki mereka dan Sasuke selalu berhati-hati menjadwalkan pertemuannya dengan Ino. Dilihat-lihat dari sisi manapun situasi ini hanya menguntungkan Sai. Bahkan istrinya mengaku bertemu dengan pria berkulit pucat itu.
"Sakura, Ayo kita menyapa mereka."
Tawa Ino berhenti. Ia meraih tangan Sai seakan meminta dukungan. Dalam hati gadis itu berkomat-kamit mengulang mantra keyakinan bahwa Sasuke tak akan lagi mempengaruhinya. Sai tetap memasang muka datar. Mereka semua yang berdiri di sana tahu di tempat umum semacam ini mereka mesti menjaga sikap.
Ino menatap Naruto, Bibir pria pirang itu membentuk garis lurus ketidak sukaan. Diantara mereka semua memang Naruto yang paling bodoh dalam berpura-pura. Semua emosinya tergambar dengan jelas di wajahnya.
"Sasuke aku pikir kau tidak akan datang." Ucap sang tuan rumah.
"Ayahku akan mengomel bila aku tidak muncul. Pesta yang meriah."
"Di mana Hinata?"
"Dia merasa tidak enak badan jadi aku tak memaksanya kemari. Apa kau baik-baik saja Sakura?" tanya Naruto pada wanita bermata hijau itu.
Sakura memalsukan senyumnya. Merasa sedikit menyesal. Mungkin bila ia menerima cinta Naruto hidupnya akan lebih bahagia. "Aku baik-baik saja."
Sementara Gaara dan Sai mengamati interaksi yang terjadi, Ino cuma bisa menunduk. Dia tak ingin bertemu pandang dengan suami istri itu. Dia sebagai wanita merasa malu pada Sakura. Meski ia tahu rumah tangga Sakura sudah rusak meski tanpa campur tangan dirinya, tetap saja salah menjalin hubungan dengan pria beristri.
"Aku sudah dengar beritanya. Kalian akan menikah minggu depan ya. Selamat Ino dan Sai."
Sai menyambut uluran tangan Sasuke dengan senyum palsunya. "Terima kasih. Maaf, sepertinya kami lupa mengirimkan undangan pada kalian."
"Kami mengerti. Situasi juga tidak memungkinkan kami untuk menghadiri pernikahan kalian." Sakura kembali mengamit lengan suaminya. Meminta pria itu menyingkir dari sana.
"Kau sungguh beruntung Ino, Masih ada pria yang menikahimu."
Ino mengangkat wajahnya hanya untuk melihat senyum mengejek Sasuke. Wanita itu geram. Ia hendak membentak pria jahanam itu, tapi tangan Sai di pundaknya mengingatkan Ino mereka ada di tempat umum.
"Akulah yang merasa beruntung, sebab ada lelaki bodoh yang tak bisa membedakan permata dan batu biasa." Sai angkat bicara.
Ketegangan dan rasa canggung semakin meningkat. Sasuke tentu saja tak akan diam saja disindir seperti itu. "Shimura, Jika Ino menjadi istrimu lebih baik kau ikat dia erat-erat. Kau tahu sendiri reputasi Ino seperti apa."
"Wah, Beberapa saat yang lalu aku meningalkan pesan yang sama pada istrimu."
Merasa kedua pria itu sedang bersitegang Sakura cepat-cepat menarik tanggan Sasuke. "Ayo kita pergi. Masih banyak orang yang harus di sapa."
Sebelum pergi Sasuke bicara pada Gaara. "Besok aku akan datang ke kantormu. Ada hal penting yang perlu kita bahas."
"Baiklah." Jawab Gaara datar. Paling Sasuke mau membahas proposal proyek yang dia kirimkan beberapa minggu yang lalu.
Kelegaan dirasakan oleh semua orang melihat mereka menjauh. Tak terkecuali Ino, dari tadi tangannya gemetar. Semoga tak ada yang menyadari.
"Kurang ajar sekali sasuke itu, Kasihan Sakura." Ucap Naruto sambil menggelengkan kepala.
"Kau tak apa-apa Ino?" Gaara bertanya pada wanita pirang itu.
"Tak apa-apa, sepertinya aku haus." Percakapan singkat itu membuatnya merasa tegang dan kesal, tapi ia senang mengetahui Sai akan membelanya. Meski dunia menghujat dan membencinya. Sai akan selalu ada untuknya, tapi cinta pria itu menakutkan. Cinta Sai padanya bukannya tanpa pamrih. Kadang Ino merasa seolah kehilangan dirinya sendiri untuk mengikuti kemauan pria itu.
"Aku juga lapar, Bagaimana kalau kita ambil makanan?" Ajak Naruto.
"Aku di sini saja." Jawab Gaara menolak meninggalkan tempat Ia berdiri. Dia masih harus menyambut tamu.
"Ino, Kau pergi saja ke meja buffet bersama Naruto ada yang harus aku bicarakan dengan Gaara."
Ino menurut saja, Meski ia bingung apa yang Sai hendak bicarakan pada boss-nya. Mereka kan baru berkenalan hari ini. "Oke."
"Apa yang hendak kau sampaikan tuan Shimura?"
"Panggil saja Sai. Tak perlu terlalu formal. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah memberikannya kesempatan."
"Ino adalah sabahat Kakakku dan Shikamaru. Aku hanya ingin menolongnya. Bukakah kau tidak setuju dia bekerja untukku?"
"Dia memberitahumu ya?. Awalnya memang iya. Aku hanya khawatir dia akan mengalami tekanan mental di tempat kerja. Kau sadar kan sebagai seorang public figure Ino banyak memiliki haters dan kau memperkerjakannya tanpa tes dan rekomendasi yang tentunya menimbulkan rasa iri. Aku tak ingin dia semakin tenggelam karena cemoohan orang."
"Kau benar, ada orang-orang yang tak menyukainya. Tapi Ino lebih kuat dari apa yang kau pikirkan. Wanita itu begitu tegar."
Sai tidak menyukai sedikitpun nada kekaguman yang Gaara gunakan untuk mendeskripsikan calon istrinya. Yang boleh mengaggumi Ino hanya dia seorang.
"Kau benar. Mungkin aku salah mengangapnya terlalu rapuh. Ia terlihat bahagia menata kehidupannya kembali, tapi aku tetap khawatir. Ino memberitahuku kau menerima surat ancaman. Agar memecat dirinya. Apa kau sudah melapor ke polisi?"
"Sudah, tapi sampai saat ini tidak ada pentujuk."
"Sebenarnya aku juga menerima ancaman. Mereka memintaku untuk meninggalkan Ino atau nyawaku dalam bahaya. Aku tak memberitahu Ino tentang ini karena aku tak ingin membuatnya khawatir. Pernikahan kami tinggal menghitung hari."
"Sepertinya seseorang sangat menginginkan Ino kehilangan semuanya." Komentar Gaara. "Apa kau sudah melaporkan kasus ini pada polisi? Ancaman mereka nyata."
Sai menggeleng. "Aku melakukan investigasiku sendiri. Percuma melapor polisi bila dalang dibalik semua ini adalah orang berkuasa."
"Ah. Kau mencurigai mereka?"
"Siapa yang paling ingin melihat Ino hancur?"
Ino dan Naruto kembali. Wanita pirang itu menyerahkan segelas champagne pada tunangannya. "Apa yang kalian bicarakan? Kelihatannya serius sekali."
"Bukan apa-apa Ino. Hanya masalah bisnis."
"Oh.. aku tak tahu kau punya niat untuk berbisnis."
"Kau pikir bila Kakekku mangkat, siapa yang akan menjadi pemilik perusahaan Shimura? Lama-lama melukis hanya akan menjadi pekerjaan sampinganku."
"Duh.. kasihan sekali kau tuan muda." Ujar Ino berkelakar.
Suara musik terdengar mengalun merdu. Sai meletakkan gelasnya yang sudah kosong. Ia menarik tangan Ino. "Kami permisi dulu tuan-tuan. Aku akan mengajak wanita cantik ini berdansa."
"Oh. Silahkan. Aku harap kalian menikmati pestanya." Balas Naruto sambil menyengir lebar.
Sai pun menyeret Ino ke lantai dansa
.
.
.
Ino begitu sibuk mengurusi detail pernikahannnya yang tinggal tiga hari lagi. Ia merasa begitu tegang, takut bila acaranya berantakkan. Ino mengaduk-aduk makanan dipiringnya tanpa nafsu. Ia terlalu cemas untuk bisa makan.
"Aku merasa cemas."
"Soal pernikahannya? Tenang saja. EO yang kita gunakan sangat profesional. Kau tak perlu memikirkan apapun."
"Apa kau pikir ayahku akan datang?" Tanya Ino. Ia ingin agar ayahnya yang mengantar Ino menunju altar pernikahan seperti yang seharusnya.
"Aku tidak tahu, tapi udangan sudah aku kirimkan. Bila ayahmu tidak datang kita bisa meminta Shikaku Nara untuk mendampingimu. Bukankah keluarga kalian sangat dekat?"
"Paman Shikaku pasti tak akan keberatan. Aku hanya ingin berbaikan dengan ayah." Ujar Ino sedih. Sakit sekali rasanya diabaikan oleh satu-satunya keluarga. Memang skandal itu salahnya. Ayahnya berhak marah.
"Suatu hari ayahmu akan memaafkanmu oke. Sekarang habiskan makananmu?"
Ino menurut, Ia mengunyah beberapa potong daging dan menghabiskan jus lemonnya. Tiba-tiba dia merasa pusing dan mengantuk.
Sai tersenyum melihat Ino yang tampak pingsan di meja. Lalu pura-pura panik. "Ino, Kau tak apa-apa ? Ino sadarlah." Ia lalu menggendong tubuh wanita pirang yang terkulai lemas itu.
"Apa yang terjadi tuan Shimura?" Sang manajer tergopoh-gopoh menghampiri tamu VIP mereka.
"Tunanganku pingsan, Sepertinya anemiannya kambuh lagi. Tolong bawakan mobilku ke depan. Aku harus mengantarnya ke rumah sakit."
"Baiklah Tuan."
Sai menggendong Ino hingga pintu depan. Ia lega petugas valet sudah mempersiapkan mobilnya. Ia meletakkan gadis itu di kursi depan dan melaju menuju sebuah rumah klinik di pinggiran kota.
Dr. Shizune adalah dokter kandungan yang memilih meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit untuk mendirikan klinik di daerah pinggiran yang terlupakan untuk membantu wanita dan remaja-remaja yang kurang beruntung. Ia terkejut melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan klinik kecilnya. Seorang pria turun dari mobil membopong wanita pirang yang tampak tak sadarkan diri. Ia mengenali wanita itu. Artis Ino Yamanaka.
"Dokter tolong bantu saya."
"Baringkan gadis itu di sana." Sang dokter menunjukkan satu-satunya ranjang periksa yang ada di ruangan itu.
Sementara dokter itu memeriksa Ino. Sai mengambil sebuah koper dari mobilnya.
"Kondisi wanita ini baik-baik saja. Dia hanya tertidur." Sang dokter sedikit curiga seseorang telah membius wanita itu sebab ia tidur dengan begitu pulas. Tak terbangu oleh sentuhan, suara maupun guncangan.
"Dokter, Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Sai membuka koper yang ia bawa di atas meja. Tumpukan uang di dalamnya membuat terbelalak. "Uang ini bisa membantu proyek sosial anda. Yang aku inginkan hanya anda melepaskan IUD yang tertanam ditubuh tunanganku."
"Tapi ini melanggar aturan. Saya harus mendengarkan permintaan itu dari Nona Yamanaka sendiri."
"Dengar dokter, Kau punya dua pilihan. Lakukan pekerjaan ini atau aku akan menghancurkan klinik kecil dan reputasimu."
Shizune terdiam. Kata-kata pria di depannya bukan ancaman kosong belaka. Ia tahu siapa pria itu. "Baiklah."
Sang dokter bekerja mencabut alat kontrasepsi yang tertanam di rahim Ino. Sungguh aneh, Mengapa Sai Shimura memperlakukan tunangannya seperti ini.
"Dan tolong berikan juga suntikan hormon HCG." Perintah Sai pada dokter malang itu. Sai sudah menghitung kapan Ino akan mengalami ovulasi. Ia akan mencoba membuat Ino hamil, meski wanita itu berkali-kali mengatakan padanya ia masih tak berniat menjadi seorang Ibu. Apabila Ino mengandung anaknya meski rahasianya terbongkar ia tak perlu merasa cemas sebab Ino tak akan bisa lari darinya.
Ino terbangun dengan mata berat. Ia berbaring di ranjang mengenakan jubah tidurnya. Sai duduk di sampingnya berwajah cemas.
"Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan sayang. Kata dokter gula darahmu terlalu rendah. Kau membuatku cemas."
"Maafkan aku. Upacara pernikahan ini membuatku sedikit stress."
"Apa kau mau aku membatalkannya saja bila upacara Ini membebanimu."
"Apa kau sudah gila? Tidak, Sai…tidak. Jangan ekstrim begitu."
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia." Sai memeluk Ino.
"Kau sudah membuatku bahagia." Ino balas mendekap pria itu tanpa menyadari hal sinis yang bersembunyi dalam kedok cinta.
