My World is Full of Lemon.
Chapter 5
'Satu gelas lagi.'
Ino menuangkan sedikit sherry dalam gelas yang diselundupkan Temari ke ruangannya. Ia begitu tegang, Bahkan di hari debutnya sebagai model ia tak merasa seresah ini. Sang pengantin wanita mencoba menemukan ketenangan dalam kegelisahan yang melanda sambil menahan diri untuk tidak mengisi gelas yang kini sudah kosong. la tak mau mempermalukan dirinya dengan berjalan sempoyongan ke altar.
Menanti waktu berlalu, Ino berjalan mondar-mandir mengitari ruangan yang didesain dengan mewah sembari menyeret ujung gaun putihnya yang menyentuh lantai pualam. Sesekali wanita pirang itu menatap jam besar yang jarumnya tak berhenti berdetak. Dalam lima menit ia akan menikah. Demi Tuhan, Ia merasa tidak siap. Ketika ia melihat pintu Instingnya untuk lari kian besar. Ia masih tidak bisa membayangkan masa depan seperti apa yang akan mereka miliki. Visinya tentang pernikahan ini begitu samar sama seperti kemampuannya untuk menerima Sai seutuhnya.
Meski Sai belakangan sangat baik dan selalu berusaha untuk selalu membuatnya bahagia. Ino tak merasakan perasaan hangat dan berbunga-bunga seperti saat ia bersama Sasuke. Sai telah membuktikan dia akan selalu ada untuknya. Pria itu melakukan banyak hal, tapi Ino tak bisa memberikan perasaan yang tulus dan Sai tahu soal itu. Apa memang ada yang salah dengan dirinya? Ino menggigit bibir bawahnya mau tak mau teringat pada orang yang menyebutnya tak tahu diri dan tak tahu terima kasih. Ino menggelengkan kepala, mencoba mengosongkan otaknya dari pikiran negatif dan kemungkinan gila yang mungkin menyebabkan dia lari dari semua ini.
Dia telah membuat pilihan yang sadar, bukan dijebak atau terpaksa. Pengecut bila ia lari dari komitmen yang ia buat sendiri. Lagi pula Sai adalah pria yang murah hati. Sangat bodoh bila dia mencampakkan satu-satunya pria yang menolongnya selama ini. Anggap saja pernikahannya dengan Sai sebagai sebuah balas budi untuk menyenangkan pria itu dan sebuah jaminan bagi dirinya ia tak akan menghabiskan hidupnya sendirian dan merasa tak diinginkan.
Ia tak punya risiko. Sai tak akan bisa menyakitinya dan tidak akan pernah, sebab ia tak mencintai pria itu. Ino tidak mencintai Sai seperti ia mencintai Sasuke dan dia tak akan pernah mau lagi jatuh cinta. Cinta pria itu cukup untuk mereka berdua dan Sai sadar Ino tak bisa memberikan lebih banyak dari sekedar tubuh dan hasratnya. Perasaannya sudah terkunci bersamaan dengan hatinya yang hancur berkeping-keping dan ia tak perlu berpura-pura.
Takdir bekerja dengan aneh. Apa yang dia harapkan tidak terjadi dan kini dia berakhir dengan pria yang dulu amat dia benci. Pria yang dia anggap sebelah mata, penganggu dan tak simpatik. Menghabiskan waktu dengan Sai membuat Ino sedikit mengerti sifat calon suaminya, tapi Sai tetaplah sebuah pribadi kompleks serta penuh kalkulasi. Ino tak percaya ada manusia yang begitu baik bertindak tanpa motif. Sebab itu Ino merasa Sai menyembunyikan sesuatu. Tak hanya sekali Ino melihat ekspresi kelam melintas di wajahnya ketika mereka memiliki pendapat berbeda. Ino hanya mengasumsikan ketidak puasan Sai tak lebih dari ego pria yang selalu merasa benar dan lebih baik. Enggan merasa kalah dan enggan menurut.
Sebuah ketukan di pintu mengakhiri rentetan pikirannya. Mungkin Temari memintanya untuk bersiap-siap. Sebentar lagi upacara pernikahannya akan dimulai.
"Masuk." Ucap wanita berambut pirang itu.
Ino tercengang, bukan Temari yang berdiri di pintunya. Wanita itu ingin menangis tapi ia menahannya, tak ingin air mata merusak riasan wajah yang diaplikasikan dengan sempurna. Ini kejutan besar yang tak pernah ia duga akan terjadi.
"Ayah kau datang!" Ino masih tak percaya. Ayahnya yang mendiamkan dan memutus hubungan mereka berdiri di depannya, merangkulnya dengan hangat. Membuat Ino teringat kembali dengan kedekatan mereka.
"Aku tak mungkin melewatkan hari pernikahan putriku. Kau terlihat sangat cantik. Andai Ibumu masih bersama kita, ia pasti akan bangga." Inoichi menatap putrinya dengan senyum. Setitik air mata haru tampak di sudut mata pria yang separuh rambutnya kini berwarna kelabu.
"Kau memaafkan aku?"
"Kau putriku satu-satunya. Tak mungkin aku mengabaikanmu selamanya."
"Terima kasih ayah, Aku lega sekali kau datang."
"Aku juga lega karena putriku memilih jalan yang lebih baik. Bila saja aku tahu apa yang kau sembunyikan aku akan berusaha mencegahmu berbuat bodoh. Kau tahu, hal ini membuat hubunganku dan Fugaku memburuk. Ia bilang aku gagal mendidikmu dan aku tentu saja membelamu dan menyuruh orang itu menyalahkan putranya juga. Belum lagi komplain yang aku terima dari Danzo. Kau membuatku berdiri di posisi yang sulit."
Ino hanya bisa menunduk malu. "Aku tak pernah berpikir masalah ini akan menyeretmu dalam kesulitan."
"Tidak apa. Semoga hal ini membuatmu sadar, tidak semua keinginan harus dikejar. Aku harap mulai hari ini kau bisa lebih menghargai Sai. Dia pria yang baik dan dia akan selalu menjagamu."
"Mengapa ayah begitu mempercayainya?"
"Aku melihat dia begitu sabar menunggumu. Bukalah hati dan berikan Sai sebuah kesempatan. Sai pria yang tak pernah bicara omong kosong. Bila ia berjanji padaku untuk membahagiakanmu maka aku yakin dia akan melakukannya."
"Terkadang aku merasa sebal karena dari dulu ayah selalu berdiri di belakang Sai dan memojokkanku. Seakan dia adalah anak kandungmu sendiri."
"Pernah kah ayah menyalahkanmu ketika kau tidak berbuat salah? Apa pun alasanmu, mencintai pria yang beristri tidak benar. Aku lega semua berakhir meski harus menjadi skandal besar. Setidaknya kau sadar ada pria yang lebih layak mendapatkan perhatianmu daripada Sasuke Uchiha." Ujar pria itu lega.
Ketukan di pintu membuat percakapan ayah dan anak itu terhenti. Temari bersama Hinata muncul untuk memanggil sang mempelai lantaran acara sudah akan dimulai.
"Oh, Paman Inoichi. Apa anda akan mengantar Ino ke altar?"
"Tentu saja. Jangan membiarkan Sai menunggu terlalu lama."
Ino menurunkan cadar berenda untuk menutupi wajahnya. Mengamit lengan sang ayah, wanita pirang itu menemukan keberanian. Alunan string quartet melantunkan lagu thousand year menyambut kedatangannya di kapel mungil yang dipenuhi rangkaian bunga, pita satin dan lilin yang menyala. Ino tak berani menegakkan wajah. Ia berjalan lurus dibimbing sang ayah menuju sosok pria yang akan menjadi suaminya.
Ino berdiri di samping Sai yang terlihat elegan dalam tuxedo hitam. Tatapan mata wanita itu menyapu lantai berkarpet merah marun. Dengan hikmat ia mendengar pria itu mengucapkan sumpah pernikahannya. Berbeda dengan Sai yang terdengar pasti. Suara Ino bergetar mengucapkan kalimatnya. Meski ia lulus kelas akting ia tak bisa mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tak yakini dengan mantap. Keraguan mengantung bak awan gelap yang menutupi mentari. Apa ini langkah yang benar? Ia tahu tidak seharusnya ia memulai hubungan apalagi pernikahan berdasarkan rasa takut atau sekedar mengisi kekosongan, tapi ia tak mampu berkelit. Memang terkadang ada rasa sesak, rasa terkekang tetapi di sisi lain genggaman tangan pria itu juga bisa membuatnya merasa kuat.
Pendeta mengumumkan mereka resmi menjadi suami istri setelah Sai menyematkan cincin emas sederhana di jari manis Ino. Suasana dalam kapel cukup hening, tamu-tamu yang mengisi kursi hanya kerabat dan teman mereka. Segera setelah ini Ino harus menuju ke hotel tempat resepsi. Menyambut tamu yang jumlahnya ratusan dan sejujurnya ia tidak merasa antusias menghadiri pestanya sendiri.
Sai perlahan menaikkan tudung berenda yang menutupi wajah pengantinnya. Ino mengangkat dagu untuk menatap pria yang sekarang resmi memiliki dirinya. Jantungnya berdetak kencang ketika pandangan mereka beradu.
Selama ini Sai telah menatapnya dengan berbagai cara. Dari tatapan dingin dan apatis hingga tatapan sensual yang membuat Ino menjadi liar. Saat ini sepasang mata hitam yang tertuju padanya membuat Ino merasa terpukau. Ia tak pernah tahu Sai bisa menunjukkan wajah yang benar-benar bahagia. Emosi yang kerap ia sembunyikan, tampak begitu jelas dan transparan. Perasaan Sai untuknya melimpah ruah. Ino merasa tenggelam dalam kehangatan dan tak ingin kembali. Keraguan dan ketakutannya sirna. Pada momen itu Ino merasa menjadi wanita sempurna dan suaminya pasti berpikiran sama.
Sai mencondongkan tubuhnya, memberikan ciuman pada wanita yang sekarang adalah miliknya. Ia merasa begitu lega. Lega semuanya berjalan lancar. Meski ciuman itu singkat, tapi berasa penting dan manis. Caranya mungkin kotor, tapi ini adalah perjuangannya untuk mendapatkan Ino dan sekarang Ia tak akan membiarkan apa pun merusak kebahagiaannya.
"My dear wife." Bisiknya pelan di telinga sang Istri.
Melihat senyum Sai. Ino pun ikut tersenyum. Ini hari bahagia mereka, sebuah awal yang baru bagi Ino. Di tangan pria ini dia telah meletakkan kepercayaan dan sedikit harapan. Semoga yang ayahnya bilang benar. Sai pria yang tepat untuknya.
Riuh tepuk tangan bergema. Sebelah tangan Sai merangkul pinggang Ino membimbingnya menuju pintu keluar. Kerabat mengerumuni mereka mengucapkan selamat. Di luar sana puluhan wartawan sibuk meliput. Ino sadar Sai tak melepaskan genggamannya sedikitpun. Dia selalu protektif.
Sebuah limosin hitam terparkir menanti sang pengantin baru. Sai membukakan pintu mempersilahkan Ino masuk. Wanita itu mengangkat roknya yang panjang dengan hati-hati melangkah menaiki mobil sebelum akhirnya dengan lemas menyandarkan punggungnya di jok berlapis kulit mahal. Tangannya dengan malas menarik satu persatu bobby pin yang menahan kerudung dikepalanya. Ia tak sabar ingin keluar dari kungkungan gaun yang indah dilihat tapi tidak nyaman dipakai ini.
"Kita menuju hotel sekarang?" tanya Ino dengan tidak antusias. Saat ini Ia hanya ingin beristirahat.
Sai ikut membantu Ino melepaskan jepit-jepit itu. Membiarkan rambut pirang Ino terlepas bebas dari tata rambut rumit yang disarankan oleh penata rias. Ia bisa melihat kelelahan di wajah istrinya.
" Aku tahu kau lelah. Kita harus ke sana, tapi aku berjanji kita akan kabur sebelum acara selesai."
Mata Ino menyipit "Serius."
Sai mengangguk, lalu menyiapkan dua gelas champagne. Beberapa jam tanpa menyentuh air membuatnya kehausan.
"Omong-omong, Kita belum memutuskan tentang bulan madu. Kau ingin pergi ke mana?"
Ino meminum isi gelasnya. Gelembung-gelembung dalam cairan keemasan itu membuat perutnya terasa hangat. "Mengapa tidak kau saja yang memutuskan?" Ino balas bertanya.
Sai menyandarkan kepalanya di bantalan kursi "Aku tak ingin kau berpikir aku egois dengan memutuskan semuanya sendirian. Aku ingin dengar pendapatmu juga."
"Aku tak peduli kita pergi ke mana. Bukankah yang kau inginkan itu bisa berduaan denganku tanpa gangguan."
"Aku ingin kau bersamaku selamanya dan tak akan pernah pergi." Ucap Sai, meraih Ino agar duduk di pangkuannya. Ia memeluk sang istri dengan erat. Dalam hati Sai takut bila Ino tahu apa yang ia telah lakukan, akankah dia berubah? Saat ini Ino begitu manis. Istri yang sempurna bagi dirinya. Pelan-pelan Sai ingin memenangkan hatinya.
"Aku tak paham, Mengapa kau berpikir aku mungkin pergi? Kita baru saja menikah kan."
Sai memejamkan mata. "Aku tahu kau belum mencintaiku itu mengkhawatirkan, tapi aku akan berusaha."
Ino menggenggam tangan Sai yang melingkari pinggangnya. "Aku minta maaf, Aku berharap bisa memberimu lebih banyak."
"It's Ok, With time you will."
.
.
.
Terbangun ditemani kicauan burung, Ino menatap sisi lain tempat tidur. Senyum tipis mengembang di bibirnya melihat Sai yang masih terlelap. Dua minggu mereka berkeliling Eropa, membuat memori di berbagai tempat. Makan malam romantis, menonton Opera atau sekedar jalan berdua melintasi deretan bangunan tua. Semakin banyak waktu yang mereka lewatkan bersama. Semakin Ino merasa Sai menyayanginya hingga nyaris membuat Ino melupakan sifat Sai yang posesif.
Jika dipikirkan lebih jauh, kekhawatiran Sai terlihat wajar. Mencintai orang yang tak mencintaimu tentunya menakutkan, mereka bisa pergi kapan saja dan Ino telah berjanji untuk belajar membuka hatinya lagi. Dia pernah terluka dan sama sekali tak berharap dirinya menjadi penyebab penderitaan orang lain. Sekarang dia sadar, betapa egoisnya dia tak pernah mau melihat penderitaan Sakura dan Sarada ketika ia memutuskan menjadi pihak ke tiga dalam rumah tangga mantan sahabatnya.
Ayahnya mungkin benar, Ia bisa bertobat dengan menjadi istri yang baik bagi Sai. Ino menatap jari manisnya yang berhiaskan cincin, berharap pernikahan ini cukup menjadi obat penenang bagi mereka dan membuat Sai berhenti terlalu posesif. Ia tak akan pergi ke mana-mana.
Wanita itu turun perlahan, tidak ingin membangunkan sang suami. Ia berjalan perlahan menuju dapur dan memulai harinya. Gaara sungguh baik membiarkan dia mengambil cuti selama dua minggu. Sambil bersenandung, Ino membuat kopi tidak sabar kembali menjalani rutinitasnya dan menjadi produktif.
Sai berjalan menuju dapur sebab ia tak menemukan Ino di kamar mandi. Begitu berdiri di ambang pintu aroma kopi yang nikmat menyentuh indra penciumannya.
"Maaf, Seharusnya aku yang membuatkanmu sarapan." Memang sudah jadi rutinitas Sai menyiapkan makanan, lantaran dia tak harus buru-buru keluar rumah.
Ino menoleh melihat sosok suaminya yang masih tampak mengantuk. "Tak masalah, Aku tak tega membangunkanmu. Kau tidur seperti bayi."
"Aku merasa sangat lelah." Ia melingkarkan tangannya di pinggang Ino yang sibuk membalik telur dadar di penggorengan.
"Oh, Akhirnya aku bisa membuatmu merasa lelah."
Sai tersenyum di antara helaian rambut pirang Ino. "Jangan merasa bangga dulu. Nyonya Shimura. Aku yakin rasa lelahku karena jet lag bukan karena kewalahan melayanimu." Canda pria itu.
" Kau ini mengganggu saja." Ino menyikut perut Sai pelan, membuat pria itu melepaskah pelukannya dan mundur selangkah. "Bagaimana kalau kau duduk dan aku akan menjadi istri yang baik dengan memberikanmu makan."
"Baik-baik." Sai dengan patuh duduk di kursi. Mengamati istrinya memasak. Semua yang ia inginkan ada di sini. Sempurna.
.
.
Dilihat dari luar jendela, pasangan Uchiha tampak harmonis dan elegant. Sakura Haruno duduk tegak di atas kursi mahoni bergaya Prancis, dengan anggun menyapukan serbet di sudut bibirnya. Di hadapannya Sasuke sibuk memainkan gelas anggur merah yang telah kosong, berusaha untuk tidak mengindahkan tatapan Sakura yang tidak setuju dengan prilakunya. Jujur saja, tadi dia sempat berupaya untuk kabur, tapi wanita sial itu mengambil kunci mobilnya dan bersikeras agar mereka bicara. Dalam hati dia mendecih pelan. Diskusi dalam kamus Sakura berarti melayangkan tuntutan-tuntutan yang enggan dia penuhi dan dengan dukungan orang tuanya wanita itu akan terus menekannya. Sungguh lebih mudah dan menyenangkan bersama Ino. Entah dosa macam apa yang ia perbuat dikehidupan sebelumnya hingga dia dijodohkan dengan wanita ini.
"Bisa kah aku mendapatkan perhatianmu lima menit saja?"
"Katakan apa yang perlu kau katakan." Balas Sasuke dengan tak acuh. Tiga puluh menit bersama Sakura membuatnya muak.
"Kau boleh membenciku, tapi jangan abaikan tanggung jawabmu pada Sarada. Untung saja dia terlalu kecil untuk merasa malu atas perbuatan ayahnya. Beruntung juga aku tahu lebih dulu soal perselingkuhanmu sebelum terkuak oleh media hingga kita bisa membuat rencana untuk menyelamatkan reputasimu. Aku membayar banyak uang pada mereka agar mau memelintir sedikit cerita mereka."
Sepenggal kalimat Sakura menarik perhatian Sasuke. "Jadi siapa yang memberitahumu? Apa aku kenal?"
"Siapa yang memberitahuku bukan urusanmu. Aku memintamu untuk menjaga sikap dan bila terjadi lagi. Aku tak yakin kita akan bisa melindungi reputasimu."
Sasuke tertawa dengan ironis sebab ia tak perlu diselamatkan. "Bukankah kau cuma mau melindungi dirimu sendiri. Bila kau benar-benar baik kau akan mencegah berita itu tersebar, tapi kau malah mengarang cerita Ino sebagai wanita jalang membuat dirimu sebagai korban dan melampiaskan kekesalanmu dengan menghancurkannya. Aku tak punya masalah bila dunia memandangku sebagai lelaki bejat, tapi kau tak ingin dunia tahu kalau kau seorang istri yang gagal dan tidak kompeten. Istri yang tak memuaskan hingga suaminya mencari wanita lain."
Perkataan Sasuke membuat Sakura marah. Ekspresi tenangnya retak. Tubuhnya gemetar akibat emosi yang lama tertahan. Wanita bermata hijau itu melayangkan tangannya menampar sang suami. "Kau yang membuatku seperti ini. Aku pernah memberikanmu segalanya, aku pernah melakukan semua yang kau minta meski begitu kau berbuat seenaknya tanpa menghargai status dan perasaanku sedikitpun. Kau tak sekalipun pernah memandangku sebagai istrimu."
"Kau merebut pilihan dariku. Memaksakan dirimu dan hubungan ini. Apa yang kau harapkan? Siapa diantara kita yang egois? Aku tak terarik sama sekali padamu." balas Sasuke sambil memegangi pipinya.
"Kau punya pilihan, Sasuke. Kau tak perlu menikahiku tapi kau terlalu takut menerima konsekuensinya."
"Kau juga punya pilihan, Sakura. Kita bisa keluar dari Neraka yang kita buat bersama. Tentang Sarada, Dia putriku dan aku tak akan pernah mengabaikannya." Sasuke melangkah keluar tak sekalipun menatap sang istri yang tampak putus asa.
Sakura mengetatkan kepalan tangan hingga kuku jarinya yang panjang menusuk telapak tangannya sendiri Ia tahu pria itu tak akan pulang. Sasuke terlalu sering menyakitinya dan apa benar ini semua salahnya sendiri? Melihat tak ada siapa-siapa di ruangan itu. Sakura membiarkan air matanya tumpah. Dia sudah lelah mencoba mendapatkan perhatian suaminya. Pada akhirnya usahanya sia-sia. Apakah dia harus bercerai?
Sasuke yang masih kesal memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di atas jalanan kota yang mulai sepi. Dari pada memikirkan Sakura dia lebih fokus memikirkan orang yang berani mengadu pada istrinya dan menjual cerita perselingkuhannya pada media. Dia penasaran siapa yang berani mengusiknya dan tidak takut menerima murka keluarga Uchiha. Sepengetahuanya hanya sedikit orang yang tahu dan mereka adalah orang-orang kepercayaannya. Mereka tak akan berani membuat masalah dengan dirinya atau mencoba memerasnya. Di luar lingkaran sosialnya, Hanya satu orang yang tahu rahasia ini. Sai Shimura yang tanpa sengaja pernah memergoki mereka. Ino meyakinkan dirinya Sai tidak akan bicara karena mereka berdua telah membuat kesepakatan. Entah imbalan macam apa yang pria pucat itu minta dari Ino. Dia tidak tahu.
Sepengetahuannya, Sai tak penah peduli pada Ino selain menjadikan wanita itu sebagai pajangan di setiap even sosial. Yang dia tak mengerti mengapa sekarang Sai menjadi simpatik dan bahkan menikahinya. Padahal pria itu tak mendapatkan keuntungan apa-apa dengan menikahi wanita yang reputasinya tercoreng, Danzo Shimura bahkan marah besar. Ini tidak sesuai dengan naratif yang dibuat oleh Sai kecuali pria itu dari awal menginginkan Ino dan pertemuan di Paris bukan sebuah kebetulan.
'Bisa jadi semua masalah ini direncanakan olehnya' pikir Sasuke lagi. Sai punya uang, koneksi dan kekuasaan. Mengawasi Ino dan membuat sensasi perkara mudah baginya.
Pemain besar macam Sai Shimura tak akan pernah turun tangan sendiri. Bagaimanapun ia harus menemukan bukti keterlibatan pria itu dalam masalah ini. Sasuke yang tidak suka dikalahkan tersenyum licik. Sai Shimura mengira dirinya begitu cerdas. Berani ikut campur dalam urusan pribadinya dan merebut mainannya. Dia tentunya tak akan diam. Sai berani mengusiknya dan dia akan menghancurkan pria itu.
.
.
"Selamat pagi, Matsuri." Sapa Ino dengan ceria.
"Pagi, Ino. Ini dokumen yang harus kau kerjakan." Matsuri menyerahkan setumpuk file ke tangan Ino. Gadis itu melirik cincin yang melingkari jari Ino. "Apa kau masih akan menggoda Gaara-sama meski sudah menikah?"
Mata aquamarine Ino terbelalak. "Pertanyaan macam apa itu? Aku tak pernah menggoda Gaara. Dia temanku dan satu hal Matsuri, Aku tidak pernah menganggap enteng sebuah pernikahan. Jadi berhenti memusuhiku. Aku bukan sainganmu untuk mendapatkan perhatian Gaara."
"Apa kau tak sadar kata-katamu terdengar hipokrit karena muncul dari mulut wanita yang berusaha merusak rumah tangga orang."
Ino berdiri tegak membusungkan dada. Ia tak akan menerima dihina seperti itu oleh Matsuri. " Iya, Aku pernah membuat kesalahan, tapi manusia bisa berubah. Masalahmu bukan aku, tapi rasa rendah dirimu. Apa aku pernah mengintimidasimu? Yang kau lakukan Matsuri, hanya berusaha menjatuhkanku disetiap kesempatan. Pikirkan sekali lagi, Gaara tak akan terpesona oleh sikapmu yang seperti itu."
Ino membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ruang kerja. Ia tak peduli Matsuri tampak marah dengan kata-katanya. Masa bodoh dengan gadis yang menganggap Ino sebagai saingan cintanya. Ia tak butuh drama dengan rekan kerja.
Diam-diam Gaara mengamati karyawannya dari jendela, mencatat dalam hati siapa yang terlihat malas dan benar-benar bekerja. Tanpa sadar ia mengamati Ino lebih lama dari yang lainnya. Kepala pirang wanita itu tertunduk dengan serius mengamati layar komputer dan jari-jarinya dengan cepat mengetik di atas tombol keybord. Dia tidak buta akan perasaannya sendiri, tapi dia tahu perasaan ini tak boleh dibiarkan berkembang. Apalagi sekarang, ketika wanita itu telah bersuami.
Dia selalu menyukai Ino, tapi tak pernah ada kesempatan bagi dirinya. Wanita itu selalu terikat pada yang lain. Hingga Gaara tak pernah bisa mendekatinya. Hal terbaik yang bisa dia lakukan bagi Ino adalah menjadi teman. Tak ada gunanya dia berharap lebih.
Ino berjalan menuju pantry. Dia sangat butuh kopi. Ditinggal cuti dua minggu pekerjaannya jadi menumpuk dan deadline sebentar lagi, artinya dia harus lembur. Ino langsung cemberut membayangkan reaksi Sai jika dia pulang larut dan melewatkan makan malam. Pria itu kadang seperti anak kecil saja. Ino mendesah, lalu menuangkan kopi ke dalam cangkirnya. Sepanjang hari ia belum bertemu sang Bos, padahal dia mau memberikan oleh-oleh dari perjalanan bulan madunya.
Yang Ino tunggu-tunggu akhirnya muncul. Gaara memasuki pantry dengan membawa bungkusan kertas berwarna cokelat.
"Mentang-mentang Bos, Kasual sekali." Komentar Ino mengamati cara berpakaian Gaara. Sang bos dengan santainya ke kantor hanya dengan sweater dan jeans.
"Tidak ada jadwal meeting dengan klien hari ini." Gaara bukan orang yang suka berpakaian formal. "Coffe Break? Aku membawa croissant dari bakery sebelah. Apa kau mau?"
"Tidak, terima kasih. Dua minggu jalan-jalan membuatku jadi gemuk." Komentar Ino.
Langsung saja Gaara mengamati Sosok Ino dengan pandangan naik turun. "Kau masih langsing. Aku tak paham soal obsesi wanita dengan berat badan."
"Kalian para lelaki tak akan pernah mengerti wanita." Ucap Ino sambil menyesap kopinya.
"Well, Aku tak pernah mencoba mengerti."
"Karena itu kau masih Jomblo, Bagaimana bila kau berbaik hati mengencani Matsuri?" Saran wanita pirang itu. Dia sebenarnya lelah dengan tingkah polah gadis penggemar Gaara.
"Berkencan dengan bawahan dilarang. Lagi pula aku tak berminat."
"Kau tahu, Matsuri menyusahkan hidupku gara-gara kamu. Dia pikir kita ada sesuatu."
"Aku akan memperingatkannya untuk tetap professional. Aku tidak bisa mentolerier hal seperti ini."
"Ayolah, Matsuri itu kompeten. Departement pemasaran akan kesulitan juga kalau kehilangannya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Beri dia perhatian dan jelaskan kita cuma berteman. Aku heran dari mana dia mendapatkan asumsi aku menggodamu. Aku ini istri yang berbahagia."
Gaara menarik sudut bibirnya. "Kau terlihat bahagia sebagai wanita yang mengaku tak punya perasaan untuk suaminya."
"Sai jauh lebih baik dari yang aku duga. Jika dia tidak sedang berusaha mendominasi dia semanis anak kucing."
"Aku ikut senang."
"Tunggu di sini, Aku membawa oleh-oleh untukmu." Ino kembali ke mejanya dan menyerahkan sebuah kotak pada Gaara.
"Penjepit dasi?" Tanya pria berambut merah itu dengan heran.
"Aku tahu kau jarang memakai dasi, tapi aku ingat kau tetap berpakian formal di acara-acara tertentu. Lihat desainnya bagus kan. Ini hand-made dari Italia. Sebenarnya aku tak ada ide mau membelikanmu apa. Jadi maaf kalau oleh-olehnya tak berguna."
"Aku suka oleh-olehnya. Terima kasih." Gaara menyimpan kotak itu di saku celananya. Gaara melewati Ino untuk mengoprasikan mesin pembuat kopi. Tapi Ino buru-buru mendahuluinya.
"Biar aku saja, Bos. Mengapa tak menyuruh sekretarismu membuatkan kopi?"
"Aku butuh keluar dari ruang kerjaku." Pria itu duduk di kursi terdekat dan mengunyah roti yang dia bawa. Ino menyodorkan secangkir kopi hitam pekat padanya. "Thanks."
Ino meraih cangkirnya yang juga masih berisi kopi. Waktu istrirahatnya sudah habis dan dia musti kembali bekerja.
" Apa kau masih menerima surat ancaman itu?"
Ino tidak melupakan ada orang yang ingin dia menderita. Tidak masalah baginya bila orang yang membencinya berusaha untuk menjatuhkannya, tapi mencoba menyakiti orang yang tak ada hubungannya seperti Gaara sudah sangat keterlaluan. Dia harus tahu dalang dari semua ini. Dalam hati ia mencurigai Sakura. Mantan Sahabatnya tentu punya seribu alasan untuk membenci Ino hingga tujuh turunan.
"Tidak, belakangan ini aku tak menerima apa pun. Polisi juga masih tidak menemukan petunjuk. Coba kau tanya suamimu juga. Sai berkata padaku dia kerap menerima teror dari orang tak dikenal."
"Oh..Sai tak pernah memberitahuku. Dia juga tak terlihat gelisah."
"Mungkin dia tak mau kau khawatir. Fokus dari ancaman ini adalah dirimu."
"Demi Tuhan, apa yang mereka sebenarnya inginkan dengan menganggu orang yang dekat denganku. Aku tak ingin hidup dalam ketakutan."
"Tenang saja Ino. Aku sangsi ancaman ini serius. Aku rasa surat-surat itu cuma geretakkan kosong. Bila memang ada niat buruk pastinya sudah terjadi sesuatu padaku."
"Aku minta maaf. Mencoba menolongku malah membuatmu terlibat dalam kesulitan."
"Jangan terlalu kau pikirkan. Aku tak menyesal membantumu. Ayo sana kembali bekerja."
.
.
Dua bulan berlalu sejak hari pernikahan Ino. Hidupnya berjalan tanpa hambatan, Mungkin menikahi Sai membawa keberuntungan baginya. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi pencekalan. Ia sendiri merasa aneh karena kehidupannya mendadak menjadi tenang. Bukankah ada orang yang akan berbuat apa saja agar dia tak bahagia. Kenapa sampai sekarang orang itu tak berusaha memisahkannya dari Sai. Atau mungkin orang itu sedang menunggu.
Sai datang meletakkan sarapan si meja untuk istrinya. Mencium aroma telur, mendadak Ino menjadi mual. Buru-buru wanita itu lari menuju tempat cuci piring dan memuntahkan cairan asam.
Sai tampak khawatir mengurut-urut punggung istrinya. "Kau tak apa-apa?"
Ino berkumur dan menyeka bibir dengan tangannya. "Tidak apa-apa, Mungkin hanya masuk angin. Aku lupa membawa jaket kemarin malam."
"Mungkin sebaiknya kau tidak bekerja." Saran Sai yang tak yakin Ino baik-baik saja.
"Aku tak apa-apa." Ino tetap kukuh.
Setibanya di Kantor. Kondisi Ino tak kunjung membaik. Wanita pirang itu bolak-balik ke toilet untuk muntah. Ino merasa sangat lelah dan mengantuk meski ini baru jam sebelas siang. Dua dua gelas kopi yang ia minum juga tidak membantu. Sulit sekali baginya untuk berkonsentrasi dengan kondisi seperti ini.
Ino merebahkan kepalanya di atas meja, dan memejamkan mata. Kalah bertarung dengan rasa ngantuk yang amat sangat. Tubuhnya tidak demam. Apa dia ada salah makan? Tapi seharusnya dia mengalami diare kan kalau keracunan makanan. Duh, Mungkin seharusnya dia mendengar saran Sai untuk tinggal di rumah.
Gaara mengunjungi ruangan Ino lantaran Matsuri mengeluh koleganya sedang bermalas-malasan dan tidak menyelesaikan dokumen yang dia minta. Pria bermata Jade itu tentu saja tidak percaya, tapi Matsuri tidak akan berani mengadu bila memang tak ada masalah. Benar saja Gaara menemukan Ino tertidur di mejanya. Dengan lembut ia mengguncang-guncangkan pundak pegawainya.
"Ino bangun."
Wanita itu terkejut dan meluruskan punggungnya seketika.
"Ada apa denganmu sampai tertidur di tempat kerja."
Ino tak sempat meresapi kalimat Gaara. Rasa mual kembali menyerangnya. "Aku ingin muntah." Ino menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Gaara panik, dengan cepat ia meraih tempat sampah dari kolong meja dan menyodorkannya ke wajah Ino.
"Hoek…Hoek."
Gaara menatap Ino dengan simpati. "Sepertinya kau sakit. Sudah kuduga keluhan Matsuri tidak benar."
"Aku tak tahu akan separah ini. Aku berniat menyelesaikan laporanku tetapi malah tak bisa mengerjakan apa-apa." Ujar Ino setelah meneguk segelas air. Ia merasa bersalah pada teamnya. Wajar Matsuri marah. Laporan yang dia kerjakan penting untuk strategi pemasaran produk berikutnya.
"Sudahlah, Lebih baik kau pulang. Aku akan minta yang lain mengerjakan bagianmu."
Ino merasa akan makin tak disukai oleh rekan kerjanya. Gaara terlalu banyak membantu dan memberinya kelonggaran.
" Aku akan menghubungi Sai sekarang."
"Tak usah, Aku akan mengantarmu pulang. Lagi pula aku juga akan pergi menemui Temari."
"Terima kasih. Lagi-lagi aku merepotkanmu, tapi bukankah lebih baik kau tidak memperlakukan aku dengan special?"
Gaara hanya tersenyum. "Tidak ada hal yang special, Ino. Kalau pegawai lain sakit aku juga akan membantu memulangkan mereka. Di perusahaan ini pegawai aku anggap sebagai keluarga."
Ino sangsi Gaara akan mengantar pegawai lainnya secara pribadi seperti ini, tapi ia tak membantah.
.
.
Sai sama sekali tidak suka melihat Ino diantar oleh Gaara, apalagi melihat Istrinya dipapah oleh pria itu. Buru-buru ia menghampiri mereka dan mengendong Ino yang lunglai.
"Sai.. Aku lemas."
"Sudah ku bilang jangan ke kantor. Kau malah tak mau dengar." Omelnya dengan suara rendah.
"Sejak kapan dia sakit begitu?" Tanya Gaara mengikuti mereka masuk ke rumah. Dia merasa tak bisa pergi sampai melihat Ino beristirahat.
"Baru tadi pagi dia muntah-muntah. Aku pikir hanya flu perut tapi kenapa dia lemas begini? Aku akan membawanya ke kamar dulu." Sai mendorong salah satu pintu dengan kakinya. Kemudian merebahkan Ino di ranjang mereka. Begitu kepalanya menyentuh bantal Ino langsung terlelap seakan semua energinya habis tersedot sesuatu.
Sai kembali menemui Gaara untuk mengucapkan terima kasih. Sai menyimpan wajah tidak sukanya untuk diri sendiri. "Seharusnya Ino meneleponku. Kami jadi merepotkanmu."
"Tak masalah Sai, Aku juga mau ke tempat Temari. Masih satu arah."
"Aku hargai perhatianmu pada Ino, tapi sekarang dia punya suami untuk bergantung. Jadi pertolonganmu tak dibutuhkan."
"Sepertinya kau salah paham."
"Gaara, Aku bisa menjaga Ino dengan baik. Bukankah kau punya urusan lain?"
Bila pria berambut merah itu peka, ia pasti mengerti Sai memintanya untuk pergi.
"Sai, Apa kau tersinggung aku mengantarkan Ino pulang? Aku ini atasan dan temannya jadi selama dia berada di kantorku aku juga bertanggung jawab atas keselamatannya."
"Aku tak tersinggung. Selamat tinggal Gaara." Balas Sai sambil menutup pintu rumahnya. Gaara terlalu memperhatikan Ino , bahkan sejak Ino berkerja bersama Temari.
Di dalam mobil Gaara mengerutkan kening. Sai kesal padanya karena ia mengantar Ino yang sedang sakit pulang? Bukankah itu sedikit keterlaluan? Sai Shimura ternyata pria yang cemburuan. Dia bertingkah seperti anjing paranoid yang tulangnya hendak dicuri. Memamerkan taring pada setiap orang yang mendekat. Pria itu menginjak pedal gas dan keluar dari parkiran. Mana mungkin ia berniat mengejar wanita yang sama sekali tak memperhatikannya.
.
.
"Ino, Sebaiknya kita ke dokter. Ini sudah dua hari." Sai mendesak sang Istri yang masih bergelung dalam selimut. Bila kecurigaan Sai benar, Maka dia boleh senang. Tentu saja ide itu tak akan terbesit dalam benak Ino.
"Nanti siang saja, Aku masih mual. Jangan masak telur oke! Aku tak tahan dengan baunya."
Sai yang duduk di pinggir ranjang menepuk-nepuk kaki Ino. "Baiklah, Nyonya besar. Silahkan tidur lagi."
"Oh ya Sai, Tolong carikan aku acar timun. Aku ingin makan acar. Nasi dan miso sup."
"Sekarang?"
"Iya, Sekarang. Aku mau sekarang."
"…Tapi, Bahannya tidak ada."
"Tidak mau tahu. Begitu aku turun dari ranjang ini aku mau sarapanku siap." Ino ngambek. Ia pun menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Sai turun ke dapur dan membuka kulkas. Tak ada bahan-bahan untuk membuat miso sup. Ia mengambil ponselnya.
"Detektif Hatake."
"Ada apa tuan?" Kakashi mengucek matanya. Ia baru tidur beberapa jam yang lalu. Mengapa tiba-tiba kliennya menelepon sepagi ini? Bukankah dia tidak ada pekerjaan lantaran Ino Yamanaka tak beranjak dari kediamannya. Oh, Menyebalkan sekali.
"Tolong temukan miso sup dan acar timun. Taruh di depan pintu rumahku. Selesaikan segera."
"Tapi itu bukan pekerjaan saya. Lagipula mana ada restoran buka sepagi ini."
"Saya tidak mau tahu. Apa kamu mau saya berhenti menggunakan jasamu? Tuan Hatake. Anda lupa saya ini klien yang royal dan murah hati."
"Baiklah, Baiklah. Pesanan anda akan saya bawakan." Ucap sang Detektif mengalah. Kakashi dengan malas menyeret kakinya dan berpakaian. Sai Shimura merupakan sumber penghasilan Kakashi satu-satunya jadi mengecewakan pria absurd itu bisa jadi bencana finansial untuknya. Meski dulunya dia adalah investigator handal di kepolisian, Kakashi Hatake tetaplah pria malas yang cuma ingin santai. Jadi selama ini dia hanya mengerjakan permintaan dari Shimura yang memberinya terlalu banyak uang dan menolak pekerjaan lainnya.
Aroma miso sup membuat Ino nyaris meneteskan liurnya. Ia berjalan menuju dapur dan menemukan Sai menunggunya di meja makan. Pria itu mengenakan jeans dan tshirt hitam polos, menatap Ino dengan tersenyum.
"Sepertinya kau sudah baikan."
"Ya, Apa Kau benar-benar menyiapkan makanan ini untukku?"
"Tentu saja, Apa ini cukup untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Nyonya Shimura?" Ujarnya bercanda.
"Kau baik sekali, Aku merasa tak pantas." Mendadak Ino berurai air mata membuat Sai kebingungan.
"Apa yang terjadi padamu?" Ia menghampiri Ino dan memeluknya.
"Hiks..Hiks. Aku sendiri tidak tahu. Aku terharu juga sedih dan merasa sangat emosional."
"Tak apa-apa. Mari duduk dan makan setelah itu aku akan membawamu ke Dokter."
Ino mengangguk. Wanita itu pun menghabiskan tiga mangkuk sup dan nasi.
.
.
Setelah hampir satu jam berkendara mereka sampai di sebuah klinik kecil. Ino mengernyitkan dahi tak mengerti mengapa Sai membawanya kemari. "Sai, katamu kita akan ke dokter?"
"Ya, Kita sudah sampai."
"Mengapa ke klinik kecil seperti ini? Bukankah kita punya banyak uang untuk membayar rumah sakit yang lebih baik."
"Ino, Aku ingin kau diperiksa oleh dokter Shizune. Dia pernah menjadi kepala rumah sakit pusat kota dan juga menjadi asistent professor Tsunade yang terkenal itu. Dia dokter yang ahli."
"Lalu mengapa bekerja di klinik kecil di kawasan miskin seperti ini?"
"Panggilan kemanusiaan untuk menolong orang tak mampu. Ayo kita masuk."
Di dalam ternyata lebih bersih dan modern dari yang Ino kira. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka
"Tuan Shimura, anda datang lagi. Sumbangan anda yang waktu itu sangat membantu."
"Ah, Dokter Shizune ini istri saya. Ino Yamanaka, sudah tiga hari ini dia merasa tidak enak badan."
"Kalau begitu mari saya periksa, Nyonya silahkan ikuti saya."
Setelah menjawab pertanyaan dan serangkaian pemeriksaan Ino kembali berdiskusi dengan Sang dokter. "Apa yang terjadi pada saya dok? Sepertinya bukan flu atau keracunan makanan."
"Nyonya Ino, Dari gejala yang anda derita kemungkinan anda sedang hamil."
Mata Ino terbelalak, dia begitu terkejut. "Tak mungkin dokter, saya memakai alat kontrasepsi."
"Nyonya, Alat kontrasepsi memang bisa mencegah kehamilan tapi tidak seratus persen. Pada pengunaan IUD keefektifannya memang mencapai 99,2 % tapi tetap saja bisa terjadi kehamilan dan untuk benar-benar memastikan kondisi kandungan anda kita perlu melakukan tes darah."
Ino tak tahu harus berkata apa, punya anak sama sekali tidak termasuk dalam rencana. Ia hanya termanggu, bahkan tidak menyadari Sai menghampirinya sampai pria itu menepuk pundak Ino.
"Ada apa?"
"Kata dokter, Aku Hamil. Apa yang harus aku lakukan?"
Sai tak menyembunyikan kebahagiaanya. "Aku tahu kau bilang tidak siap, tapi bila sudah seperti ini bukankah kita harus bersyukur dikaruniai mukjizat kecil oleh Tuhan."
"Tapi, Aku khawatir."
"Tak perlu khawatir, Kau tinggal bergantung padaku. Aku akan menjaga kalian."
.
.
Sasuke melihat pria yang dia cari duduk di sudut café membaca sebuah buku. Dia berjalan melintasi meja-meja lainnya dan duduk di hadapan si pria berambut perak. Sontak Kakashi menurunkan buku erotica yang dia baca guna mencari tahu siapa yang tengah menganggu waktu santainya. Sasuke melepas kaca mata hitamnya dan Kakashi langsung mengenalinya.
"Apa yang diinginkan orang terhormat seperti anda?"
"Ah, kau mengenalku. Tuan detektif?"
"Tentu saja."
"Sumberku mengatakan sering melihatmu di lokasi syuting dan juga berkeliaran di tempat yang sering dikunjungi oleh Ino Yamanaka. Aku hanya perlu nama orang yang membayarmu untuk melakukan itu."
"Tidak bisa, Aku bersumpah untuk merahasiakan nama klienku."
Sasuke merogoh lembar cek dari saku jasnya lalu menuliskan angka. Ia menyodorkan lembaran itu pada Sang detektif. "Pikirkan lagi, atau aku bisa menyuruh Ino untuk membuat laporan polisi tentang penyadapan, pelanggaran privasi dan stalking. Bukankah anda dikeluarkan dari satuan kepolisian dengan tidak hormat. Tentunya sulit mencari pekerjaan dengan reputasi buruk. Aku bisa membuat hidup anda jadi lebih sulit detektif." Ancam Sasuke dengan halus.
Kakashi menatap lembar cek itu sambil berpikir keras. Ini pilihan yang sulit, tapi uangnya cukup menggoda. Dia bisa meningalkan kota ini dan hidup enak dan tak berurusan lagi dengan orang-orang kaya eksentrik.
"Bagaimana?" Tanya Sasuke.
"Hm.. Baiklah."
