My World Full Of Lemon

Chapter 6

Dia tersenyum. Pertama kali setelah bertahun-tahun akhirnya Sakura melihat Sasuke tersenyum. Ini keputusan sulit, tapi Sakura pada akhirnya mengerti. Cinta tak bisa diraih hanya dengan perjuangan semata. Untuk apa terus berusaha dan bertahan bila semua ini semakin menghancurkannya. Apa dia benar-benar mau seperti ini? Semua orang berhak bahagia bukan? Begitu pula dirinya, Sasuke dan Sarada.

Selama ini dia enggan untuk melepaskan meski tahu dia tak memiliki harapan. Dia memang keras kepala, terlalu yakin dirinya mampu mencairkan sebuah gunung es. Oh, betapa salah pemikirannya. Tak butuh waktu lama untuk membuat kepercayaan dirinya runtuh. Jelas sudah, Pernikahan ini tak memiliki masa depan selain membuat mereka berdua terperosok dalam kebusukan. Mereka telah menjelma menjadi racun bahkan bagi orang-orang disekitar mereka. Menyeret keluarga dan rekan terdekat dalam pertikaian mereka. 'Cukup sudah' putusnya dalam hati. Dia tidak datang ke ruang studi Sasuke untuk memulai konflik baru, tapi untuk mengakhiri semua ini.

"Kau mau menceraikan aku?" tanya Sasuke tidak percaya. Sakura yang begitu bersikeras untuk menikahinya, menggunakan segala cara untuk mengatur dan menekannya sekarang memutuskan untuk meninggalkannya. Dia sudah menantikan ini lima tahun lamanya.

Sakura tanpa dipersilahkan langsung duduk di kursi berwarna cokelat yang letaknya berhadapan dengan sofa tempat suaminya duduk membaca buku. Wanita itu menyilangkan kaki dan menyandarkan punggungnya. Mencoba terlihat santai sementara membicarakan keputusan paling besar yang dia ambil dalam hidupnya.

"Aku tak mau hidup dalam neraka ini lebih lama. Kau benar , sandiwara ini hanya akan menghancurkan kita. Persetan dengan nama keluarga, aku sendiri sudah muak melihat kebejatanmu. Aku lelah mengejarmu." Akunya dengan suara pelan. Bahunya merosot dan punggungnya tak lagi tegak. Dengan binar mata sedih tapi penuh kepastian ia menatap Sasuke yang akhirnya menunjukan kesenangan dari wajah merenggut yang selalu ia tunjukan padanya. Kesehatan mentalnya jauh lebih penting dari pembalasan. Lagi pula dia juga tak akan puas dan bahagia membuat Sasuke kesulitan. Yang ada pria itu makin membencinya dan berbuat semakin jauh.

"Kau tahu, Aku bertindak lebih buruk dari bajingan karena memang sengaja mau menyakitimu. Aku hanya ingin kau mengakhiri pernikahan ini secepatnya, tapi siapa duga kau bertahan selama lima tahun."

"Apa kau akan minta maaf atas perlakuanmu padaku?" Tanya Sakura tanpa emosi.

"Tidak, Kau layak mendapatkannya. Aku tak akan pernah minta maaf padamu." Ujar pria berambut raven itu dengan dingin.

Sakura menghembuskan nafas pelan. "Aku tahu kau membenciku sejak kita saling mengenal di bangku sekolah, tapi aku selalu berilusi suatu hari kau akan menyukaiku."

" Dulu aku tak membencimu, Aku hanya menganggap kau dan gadis-gadis yang mengejarku sedikit mengganggu. Kita berteman dan seharusnya kita tetap seperti itu. Hanya menjadi teman. Aku sempat tak percaya kau menghasut orang tuaku untuk menerimamu jadi menantu memanfaatkan statusmu sebagai gadis yang dekat denganku dan membawa-bawa koneksi keluarga Haruno. Aku tak menyangka kau bisa jadi manipulatif seperti itu, padahal kau juga tahu Naruto menyukaimu dan aku sama sekali tak punya perasaan lebih padamu."

"Aku juga tak menduga, Pria yang dulu begitu baik bisa jadi orang brengsek seperti ini."

"Pernikahan ini racun, membuat kita bertindak buruk. Apa kau sadar sekarang? Tak ada gunanya kita bersama. Kau dan aku layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik."

"Akhirnya kita bisa setuju dalam satu hal." Ucap Sakura tertawa hambar.

"Tak perlu lagi saling menyakiti. Bila saja kau tak keras kepala, mempertahankan apa yang tak pernah ada. Kita tak akan begini."

"Ya, Ya semua Salahku." Ucap wanita itu emosi. Ia hampir marah sebab Sasuke seakan melimpahkan semua kesalahan padanya. Padahal pilihan dan sikap pria itu sama sekali bukan tanggung jawabnya "Dan sekarang aku memutus lingkaran setan ini. Kau dengan sengaja melukai hatiku, membuatku menjadi pahit dan kehilangan kepercayaan."

"Dan kau mengupayakan segala cara agar bisa menguasai semua hal yang aku raih dengan kerja keras. Kau membuatku keluargaku berpaling dan membenciku. Ini tentunya ini bukan hal baik yang normal dalam pernikahan."

Ketakutan Sakura merasakan hatinya hancur tidak terjadi. Dia lupa cintanya telah bertahun-tahun ditolak, tapi karena dia keras kepala dia tetap mencoba mengambil hati Sasuke. Bila ia menyayangi diri sendiri harusnya ia berhenti sejak lama dan bila ia benar-benar cinta pada Sasuke harusnya dia ikhlas dan membiarkan pria itu pergi mencari kebahagiaannya sendiri. Bukan Ino saja yang bodoh, ternyata dia juga. Mereka berdua sama-sama dibutakan oleh cinta pada pria yang tak pernah menganggap mereka berarti.

"Mengapa kau tak berusaha mencintaiku?" tanya wanita berambut merah muda itu dengan suara lirih.

Sasuke menjawab apa adanya, ia sendiri tidak tahu. Di luar kesalahannya, Sakura bukan wanita yang buruk, tapi setiap ia mengingat bagaimana mereka menikah ia merasa seperti hewan liar yang dirantai dan seketika dia menjadi marah.

"Karena aku tak bisa, cinta bukan hal yang bisa dipaksakan. Apalagi ketika aku tak lagi menaruh hormat dan kepercayaan padamu. Kau sendiri mengapa tak melepaskanku?"

"Aku pikir aku tak bisa. Aku jatuh cinta padamu sejak lama, tapi setelah begitu banyak pertengkaran dan sakit hati aku merasa cukup. Aku harus mencintai diriku sendiri. Boleh aku bertanya satu hal lagi padamu?"

"Apa yang ingin kau tahu?" Sasuke menutup buku ditangannya. Baru kali ini pria itu benar-benar memberi perhatian pada Sakura.

"Apa kau mencintai Ino?" Sakura punya asumsi, tapi ia ingin mendengar dari mulut pria itu sendiri. Sasuke meninggalkan Ino begitu saja, bahkan tak berusaha membela wanita yang menjadi selingkuhannya sedikitpun.

Sasuke mendesah, "Aku sangat bersalah padanya. Aku hanya memanfaatkannya untuk menusukmu. Aku tahu kau akan sangat sakit hati kehilangan sahabat baikmu. Awalnya hanya keisengan belaka tapi aku tak pernah menduga ia menyambut tawaranku."

"Jika hanya iseng dan untuk mengangguku mengapa kau melanjutkan perselingkuhan itu hingga bertahun-tahun dan menyembunyikannya?. Ini tak masuk akal."

"Itu karena aku ingin kau mengira aku mencintainya dan Ino juga tak ingin imagenya rusak. Aku baru berniat membuat kejutan manis untukmu. Memberitahumu secara pribadi. Sayangnya orang lain malah merusak rencanaku dan membuat ini menjadi berita nasional. Sama sekali bukan hal yang aku harapkan."

"Kita berdua benar-benar menyedihkan dan berhati kredil. Sungguh salah kau menggunakan Ino sebagai pionmu. Kalau saja kau tak menganggu Ino dengan memberi harapan kosong dia mungkin akan berpaling pada pria lain dan tidak menyianyakan waktunya untuk lelaki sepertimu."

"Kau tak bisa menyalahkanku saja. Ino juga tak suci. Aku tak memaksanya dan lagi dia menikmati kebersamaannya denganku."

"Itu karena kau membuat Ino berpikir dan percaya kau membalas perasaannya. Padahal kau hanya peduli pada dirimu sendiri. Kau membuat Ino menyia-nyiakan Sai."

"Tunggu…Maksudmu Shimura menyukai Ino sejak dulu? Dia selalu terlihat tak peduli selama Ino menjaga imagenya."

"Kalau dia memang tak peduli dengan Ino untuk apa dia bicara padaku."

"Apa dia yang pertama memberitahumu aku berselingkuh dengan Ino?"

Sakura menggelengkan kepala. "Tidak, Dia menemuiku setelah berita itu meledak. Dia begitu terpukul dan sakit hati. Memohon padaku agar aku menekanmu untuk mengakhiri perselingkuhan kalian dan melarang kalian bertemu."

"Lalu siapa yang memberitahumu berita itu akan dipublikasikan?" desak Sasuke.

"Mengapa kau begitu ingin tahu?"

"Karena aku merasa semua ini bukan kebetulan. Rahasiaku bukanlah hal yang bisa dibongkar dengan mudah."

"Apa tujuan orang itu? Menjatuhkanmu? Keluarga Uchiha? Skandal keluarga ini tentunya bisa dijual mahal." tanya Sakura.

"Kalau dia berniat menjatuhkan kita dan merusak reputasi kita. Orang itu tak akan repot-repot memberitahumu."

Sakura lama berpikir. "Apa dia mengincar Ino? Dia tahu aku akan berekasi dan menyalahkan Ino."

" Aku sendiri menyelidikinya karena penasaran, siapa yang berani dengan lancang menganggu kehidupan pribadiku Lalu aku menemukan fakta selama ini Ino selalu diawasi oleh seseorang."

"Apa kau pikir orang ini sedang membahayakan Ino?"

Sasuke mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, sebenarnya ini bukan urusan kita."

"Bisakah kita memperingatkannya? Aku tak yakin Ino masih mau bicara pada kita, tapi sebaiknya kita memberitahunya. Kau paham, Kau dan aku punya dosa besar padanya sebaiknya kita melakukan sesuatu."

"Mengapa kau tiba-tiba mau menolong Ino setelah membencinya setengah mati?"

"Aku membencinya gara-gara kamu meski begitu dia temanku, bila dia dalam bahaya aku tak akan berdiam diri."

"Jadi siapa yang memberitahumu?" desak Sasuke Lagi.

Sakura menyerah, "Aku tak tahu namanya hanya saja pria itu berambut perak. Ia menyerahkan sebuah amplop padaku."

"Kau masih menyimpannya?"

Sakura mengangguk.

.

.

.

Ino yang sedang duduk di meja kerjanya dikejutkan oleh kemunculan Gaara. Wajah pria itu tampak khawatir.

"Ada masalah apa, Bos?" Tanyanya mengerutkan kening. Ia tengah menyelesaikan proposal dan materi rapat besok. Instingnya mengatakan kemunculan Gaara di sini berarti ada hal yang salah.

"Ada yang mencarimu. Aku merasa kau tak ingin menemuinya, tetapi dia tetap bersikeras. Katanya ada hal penting yang harus dia sampaikan. "

"Siapa?"

"Sakura Haruno."

Wajah Ino langsung kecut mendengar nama wanita itu. Dia tak mau lagi berurusan dengan Sasuke maupun Sakura. "Hn..Mau apa lagi Sakura?" Merasa penasaran Ino bangkit dari duduknya. "Di mana dia?"

"Di ruanganku. Apa kau yakin mau berbicara dengannya? Apa aku perlu berjaga-jaga?"

Ino berjalan di lorong dan Gaara membuntutinya. "Kalau dia datang untuk memakiku. Tak masalah. Aku juga akan balas memakinya."

Ino mendorong pintu kantor Gaara. Wanita itu langsung waspada melihat mantan sahabatnya.

"Sakura, Mau apa mencariku? Bukankah persahabatan kita berakhir karena aku tidur dengan suamimu?"

"Aku kemari dengan niat baik Ino. Aku ingin minta maaf telah memojokkanmu di depan media. Aku hanya tak ingin mereka tahu Sasuke tak pernah mencintaiku dan menghancurkan ilusi rumah tangga kami yang sempurna."

"Tak perlu minta maaf. Wanita manapun pasti akan marah suaminya direbut. Aku juga salah, termakan oleh janji manisnya."

Sakura menggeleng. "Kau hanya dimanfaatkan oleh Sasuke. Bukankah begitu Ino?"

"Aku tak mau membicarakan itu lagi. Aku sudah bahagia sekarang."

"Aku ikut senang untukmu. Aku sendiri baru memulai proses perceraianku. Semoga saja aku bisa memulai kembali kehidupan yang baru."

Ino terkejut ia tahu betapa posesifnya Sakura pada suaminya. Tak mungkin rasanya Sakura melepas Sasuke begitu saja. "Mengapa?"

"Karena situasinya kian memburuk. Apapun yang aku usahakan, Sasuke menjadi tambah membenciku dan membuat sosoknya kian jauh dari sosok pemuda yang aku cintai. Aku membuatnya menjadi seorang bajingan dan bila aku memaksa dan bertahan bukan tak mungkin Sasuke akan menjadi kriminal hanya untuk melepaskan diri dariku." Wanita berambut merah muda itu tersenyum miris. "Kedatanganku untuk memberikan ini." Sakura menyerahkan amplop coklat.

Ino memeriksanya. Di dalam penuh foto pertemuan rahasianya dengan Sasuke. "Mengapa kau memiliki foto-foto ini?"

"Seseorang memberikannya padaku sebelum berita itu tersebar. Kau tahu apa artinya ini? Seseorang mengikuti kalian dan mengambil foto-foto ini. Tak hanya satu kali. Jadi ini bukan kebetulan."

Ino melempar amplop itu ke tempat sampah. "Masalah ini sudah berlalu dan aku sudah bukan seorang selebriti lagi. Paparazi tak akan mengikutiku."

"Bagaimana kau yakin itu pekerjaan Paparazi? Kalau memang iya, pastinya mereka akan meminta uang padaku kan atau memeras Sasuke, tapi tidak. Yang mereka inginkan aku menghancurkan kariermu."

"Apa kau mau bilang ada orang lain selain dirimu yang ingin aku jatuh?"

"Aku khawatir iya. Sasuke tak akan berusaha menyelidikinya bila tak ada hal yang terasa janggal. Coba pikir hubungan kalian begitu rahasia. Bagaimana Paparazi tahu soal itu dan mendapatkan foto-foto ini."

"Mengapa kau memberitahuku? Apa yang kau inginkan dari semua ini?"

"Sejujurnya tidak ada, Semuanga telah kandas. Aku tidak berharap kita bisa menjadi teman lagi, tapi mengingat hubungan kita di masa lalu aku hanya ingin kau tetap waspada. Sasuke yang sangat terusik dan ingin mengungkap siapa yang menyebarkan skandal itu. Saat ini dia masih belum menemukan petunjuk, tetapi dia mengetahui seseorang selalu mengikuti dan mengawasimu."

"Jangan mengada-ada Sakura. Aku yakin ini hanya muslihat kalian untuk membuatku curiga dan paranoid. Bukankah kau yang mengirim surat ancaman pada Gaara dan Sai? Meminta mereka untuk mengabaikan aku bila tak mau sesuatu yang buruk terjadi. Apa kau berencana untuk melukai semua orang yang berusaha membantuku?" Teriak Ino kasar, perkataan Sakura sama sekali tak masuk akal dan dia tak percaya sedikitpun wanita bersurai merah muda itu bermaksud baik. Dia paling tahu, Sasuke dan Sakura sama busuknya.

Kening Sakura berkerut dituding seperti itu. "Demi Tuhan aku tak pernah mengancam Sai atau Gaara. Kau tahu aku merasa aku hanyalah bidak dari siapapun yang mendalangi masalah ini. Yang aku tahu target mereka adalah kau, bukan Sasuke maupun aku. Kau boleh percaya atau tidak, tetapi aku mohon padamu untuk hati-hati dan memperhatikan sekelilingmu."

Tak lagi punya hal lain untuk di sampaikan. Sakura melenggang dari kantor Gaara. Sebelum ia pergi ia sempat melemparkan sebuah tatapan pada Gaara yang bersandar di tembok. Pria itu tak bermaksud menguping, dia hanya berjaga-jaga. Seandainya dua orang wanita itu berkelahi.

"Kau mendengar semua yang kami bicarakan?" tanya Sakura.

"Maaf, Aku tak bermaksud menguping. Apa benar kau tidak mengirimkan surat kaleng itu padaku?"

Sakura menggeleng lemah. "Bukan aku dan bukan juga Sasuke. Aku hanya meminta semua rekananku untuk tak lagi menggunakan Ino. Bila kau temannya. Kau harus menjaganya."

"Sai Shimura akan tersinggung bila aku ikut campur urusan Ino. Pria itu sangat cemburuan dan posesif."

"Benarkah? Dia tak tampak seperti itu."

"Kita tak bisa menilai seseorang dari tampilan luarnya. Oh iya. Aku harap kau tidak datang lagi ke kantorku."

"Aku tak akan datang lagi, Ino sudah mendengar apa yang aku sampaikan. Sekarang terserah dia. Maaf, aku membuat masalah di kantormu. Permisi." Sakura melenggang melintasi koridor yang kosong dengan perasaan lega. Segala hal yang mengikat dan membebaninya telah terputus dan dia merasa ringan. Seandainya dia tahu melepas Sasuke membuatnya merasa lebih baik dia akan melakukannya sejak dulu. Tidak berkubang dan terjebak dalam drama yang dia ciptakan sendiri.

.

.

Ino tak membicarakan tentang kedatangan Sakura pada suaminya. Wanita itu merasa lebih baik menyimpan informasi ini sendiri karena tak ingin menyulitkan Sai lebih jauh. Tetapi kalimat Sakura terlanjur masuk dalam kepalanya membuatnya bersikap lebih waspada dari sebelumnya.

Seperti biasa pukul lima sore Ino menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan langsung pulang ke rumah. Wanita itu menyetir mobilnya keluar dari areal parkir perusahaan menuju jalan raya. Setelah mengemudi beberapa saat wanita itu lantas berpikir 'Apa benar aku diikuti?' Ino mengamati kaca sepionnya. Tak ada yang aneh, sebuah mobil hitam yang tak begitu mencolok berada di belakangnya. Tapi aneh setelah beberapa perempatan dan tikungan Ino baru sadar mobil hitam dengan nomer plat Shinagawa itu masih berada di dekatnya. Ino tak jadi pulang. Dia pun berputar haluan menuju sebuah pusat perbelanjaan hanya untuk menguji teorinya dan benar saja mobil hitam itu ikut berbalik.

Ino mencengkeram kemudinya. 'Mungkin hanya Paparazi.' Untuk melihat siapa pengendara mobil hitam itu. Ino parkir dan berjalan menuju pintu masuk mal. Dengan berhati-hati dia mengamati areal parkir. Lelaki bertubuh jangkung, mengenakan topi base ball dan jaket bomber abu-abu turun dari mobil yang dari tadi mengikutinya. Wajah pria itu tidak jelas terlihat karena di tutupi oleh masker berwarna hitam.

Ino melangkan pelan, seakan tidak ada apa-apa, tapi mata wanita itu tetap awas pada keadaan di sekelilingnya. Ino masuk ke sebuah toko dan memilih pakaian dalam. Mungpung dia di sini sebaiknya dia membeli sesuatu untuk mengejutkan Sai. Pria bermasker itu tampak mengantri di stall yang menjual bubble tea.

Kakashi membeli milk tea macha, targetnya sedang masuk ke toko pakaian dalam. Ia tak paham mengapa wanita itu tak langsung pulang karena biasanya Yamanaka Ino selalu berbelanja di akhir minggu. Ponselnya berdering.

"Di mana Istriku? Harusnya dia sampai di rumah sepuluh menit yang lalu." Tuannya terdengar gusar.

"Istri anda sedang berbelanja di mal. Saya masih membuntutinya."

Dari balik kaca etalase toko. Ino mengamati gerak-gerik pria bermasker itu. 'Hm…mencurigakan.'

Ino membayar pakian dalam yang dia pilih dan melangkah ke toko berikutnya. Pria itu juga ikut pindah. Masker hitamnya di turunkan dan wajah pria itu terlihat. Ino mencoba mengingat-ingat apa dia pernah melihat wajah itu, tapi ia tak mengenalnya. Sambil berjalan wanita itu mengigit bagian dalam pipinya. Beranikah dia mengambil resiko? Tempat ini ramai, tak ada salahnya dia mencoba mengkonfrontasi penguntit itu.

Ino bersembunyi di balik papan iklan. Lelaki itu berhenti sebentar, tampak kelimpungan.

"Hei kau!" Ino mendekati pria bertopi itu.

Kakashi terpaku. Ia tak menyadari Ino mengetahui keberadaannya. "M…m.. Saya?" Kakashi pura-pura bodoh.

"Iya kau, Siapa lagi. Apa kau membuntutiku?"

"Tidak-tidak, Anda salah. Saya hanya sedang berjalan-jalan."

Mata Ino menyipit tak percaya. "Oh, begitu. Apa anda yakin anda bukan orang mesum yang suka mengambil foto seseorang diam-diam."

"Nona, anda memang cantik. Tapi tuduhan anda tak berdasar. Begitu banyak orang di sini, tapi anda menuduh saya mengikuti anda. Apa ini cuma alasan anda untuk bisa berkenalan dengan saya?" ujar Kakashi genit.

Ino langsung mengernyit. Oke dia akan mundur dari situasi ini, tapi dia sudah melihat wajah pria ini dengan jelas. Jadi lain kali bila Ino masih melihatnya berkeliaran dia bisa memanggil polisi.

"Sepertinya saya memang salah paham." Sakura ternyata tidak berbohong. Jadi selama ini dia diikuti? Mengapa? Kalau itu fans atau paparazi dia mengerti, tapi ini tak ada hubungan dengan ketenarannya.

Melihat Ino pergi, Kakashi tidak melanjutkan pengintaiannya. Mengapa dia bisa ketahuan? Bertahun-tahun menguntit Ino dia tak pernah ketahuan. Wanita itu tadi bersembunyi di sana. Mencoba menangkap basah dirinya. Sial bila tuan Sai tahu ia sudah ketahuan, bisa-bisa pria itu akan marah besar dan tak lagi membayarnya. Kakashi hanya menarik nafas panjang. Mungkin ia bisa mengantongi cek dari Sasuke Uchiha sebelum ia melarikan diri dan cuci tangan dari masalah ini.

Ino tak repot-repot memencet bel pintu rumahnya. Dia memasukan kunci dan membuka pintu. Ketika sampai di ruang tamu dia baru ingat tas belanjanya tertinggal di kursi belakang.

"Kau terlambat hampir satu setengah jam." Sai berdiri di ambang jendela yang terbuka. Sebatang rokok menyala terselip di tanggan kanannya.

"Maaf, Apa setiap saat aku harus melaporkan keberadaanku padamu?"

"Apa susahnya meneleponku untuk mengatakan kau mampir ke mal sebentar. Mengapa kau suka membuatku khawatir, Ino kau sedang hamil. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?"

"Tunggu, Bagaimana kau tahu tadi aku mampir ke mall? Padahal tas belanjaanku masih tertinggal di mobil."

Sai mengacak-acak rambutnya. Berusaha tidak terlihat resah karena tadi dia keceplosan. "Oh, Itu hanya tebakanku. Ke mana lagi kau akan pergi pulang kerja kalau tidak ke mall. Apa kau sudah makan malam? Kalau belum ayo kita makan. Aku sudah selesai memasak dari tadi."

Ino menurut saja dituntun ke meja makan. Meski begitu otaknya berpikir kenapa Sai bisa menebak dia pergi ke mana. Ino tidak mengecualikan suaminya dari kecurigaan.

Mereka berdua menikmati hidangan dengan tenang dan Ino memilih untuk membicarakan hal-hal ringan. Oh dia harus mennyenangkan hati suaminya yang gusar.

"Apa kau masih merasa mual hari ini?" tanya Sai sambil meletakkan beberapa potong daging dalam piring istrinya.

"Hm, Tidak. Gejala morning sickness-nya tidak muncul lagi. Mungkin karena usia kandungannya sudah tiga bulan."

"Pokoknya kau harus hati-hati. Tidak boleh angkat yang berat-berat. Jangan naik tangga dan simpan semua high-heelsmu. Mulai besok aku akan mengantarmu ke kantor. Jadi kau tak perlu menyetir sendiri."

"Ayolah Sai, tak perlu over protektif begitu."

"Aku tak mau ambil resiko atas keselamatan istri dan anakku."

"Kau berlebihan."

"Aku tidak berlebihan. Ini namanya jadi suami siaga."

Ino tertawa melihat ekspresi serius suaminya. "Kau lucu sekali. Aku yang hamil tapi kau yang sibuk."

"Apa kau tidak suka aku mengurusmu?"

"Tumben kau bertanya? Biasanya juga melakukan hal semaumu. Kadang aku merasa pendapatku tidak berarti."

"A..a Aku tak tahu kau berpikir demikian. Aku hanya bertindak demi kebaikanmu dan anak kita."

"Sudahlah, Aku tahu kau gusar aku pulang terlambat, tapi aku punya alasan bagus untuk itu."

"Apa?" Sai bangkit dari duduknya dan membawa semua piring kotor ke tempat cuci. Semua pekerjaan rumah tangga memang dia yang mengerjakan.

"Aku meninggalkan tas belanjanya di kursi belakang mobil. Bisa kau ambilkan?"

"Baiklah."

Mata Ino menyipit mengamati punggung suaminya. 'Mungkinkah?' Wanita itu pun menggelengkan kepala.

'Tidak, Tak mungkin. Kau tak boleh mencurigai suamimu Ino.'

Ketika Sai kembali dan menyerakan tas berisi pakaian dalam itu Ino bertanya. "Menurutmu, apa alasan lelaki mengirim orang untuk mengawasi istrinya?"

"Mengapa tiba-tiba kau bertanya hal seperti itu?"

"Kebetulan saja teman kantorku bercerita."

"Mungkin saja dia curiga istrinya berselingkuh."

"Bisa jadi, Soalnya aku mendengar gossip dia punya affair dengan kepala bagian."

"Kenapa Bos mu belum memecat wanita itu. Bukankah tidak boleh membuat skandal di kantor?"

Ino mengangkat bahu. "Gaara berpikir itu hanya rumor. Aku juga digosipkan di kantor. Katanya aku mencoba menggoda Gaara."

"Benarkah. Aku malah merasa dia berusaha merayumu."

Ino langsung berkacak pinggang. "Gaara itu bos-ku dan dia pria baik. Sampai kapan kau mau cemburu padanya?"

"Aku bercanda."

"Apa kau baru merasa senang kalau bisa mengikat dan mengurungku di rumah?"

"Mm…m apa tidak salah? Bukankah kau sendiri yang senang diikat?"

Wajah Ino langsung jadi merah jambu. "Kita tidak sedang membicarakan hal itu!"

"Tas di tanganmu itu, bukannya toko pakaian dalam. Kejutan apa yang kau siapkan untukku?"

"tak jadi ah, Kau membuatku kesal."

"Ayolah sayang." Rajuk Sai sambil merapatkan tubuhnya pada punggung Ino. Kedua tangannya dengan nakal menyusup dalam blouse putih yang Ino kenakan. Dengan pelan memebelai perut yang mulai tampak membuncit.

"Aku berjanji akan jadi anak baik." Bisiknya menggoda.

"Oke, Tunggu aku di kamar. Aku mau mandi dulu."

"Yes, Madam." Dengan patuh Sai berjalan ke kamar dan menggulingkan tubuhnya di kasur. Ia menanti dengan antusias. Sayangnya Ino tak ambil pusing ia membiarkan suaminya menunggu dan berendam lama di bak mandi. Ia terkikik sendiri.

Sai masih menanti. Ia tak berani beranjak dari ranjang ini mengingat tadi dia bersedia untuk patuh. Setelah nyaris satu jam berkutat dengan pikiran macam-macam yang membuat darahnya mengalir ke selangkangan. Akhirnya Ino muncul. Wanita itu mengenakan jubah mandi. Rambutnya telah kering dan kulitnya berwarna pink. Aroma yang menguar dari tubuh istrinya membuat Sai menutup mata. Ia menikmati perpaduan jasmine dan lavender yang menjadi ciri khas Ino.

"Hey, Buka mata dong!"

Ino melepaskan jubah mandinya. Seketika Sai lupa cara bernafas.