My World Full Of Lemon

Chapter 7

Kakashi tidak menduga dia akan diterima memasuki kediaman Uchiha tanpa membuat janji sebelumnya. Dia berusaha mengontak nomor telpon yang ditinggalkan Sasuke tapi nomor itu tak lagi aktif. Dia sudah putus asa. Sai Shimura telah mengetahui kegagalannya menjalankan tugas dan Kakashi memilih untuk pergi jauh-jauh sebelum dia mendapatkan celaka. Dia tak tahu segila apa kliennya, tapi mengenal Sai selama beberapa tahun ia paham hidupnya tak akan aman bila Ino Yamanaka tahu semuanya. Kakashi mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia tak menduga malah akan bertemu Sakura Haruno.

Sakura bisa melihat punggung sosok jangkung yang berdiri di tengah-tengah ruang tamunya. Meski pria itu kelihatan sedang mengamati lukisan besar yang terpampang di dinding sang nyonya rumah bisa menebak tamunya sedang merasa tegang.

"Ada urusan apa dengan suami saya?" Mendengar seseorang ingin bertemu suaminya, Sakura berinisiatif menyambut sang tamu. Sasuke sendiri sejak minggu lalu telah angkat kaki dari rumah. Memang belum ada yang tahu prihal perpisahan ini selain kedua orang tua mereka sebab mereka ingin perceraian ini berlangsung serahasia mungkin. Ketika sosok jangkung itu berbalik Sakura terkejut sebab dia mengingat wajah itu. "Aku mengingatmu." Ujarnya seketika.

"Nyonya, Saya tidak berharap untuk bertemu anda. Apa ini artinya Tuan Uchiha tidak ada di rumah?" Mungkin keberuntungan Kakashi memang sudah habis. Dia telah datang ke kantornya dan mereka bilang Sasuke Uchiha tidak dapat ditemui, bahkan dengan koneksi serta kemampuan detektifnya dia tidak dapat menemukan lelaki itu. Posisinya sedang genting, Sai Shimura bukan orang biasa dan Kakashi tak punya sesuatu yang bisa melindunginya, jika tuannya berniat menghukumnya.

"Tidak, Suamiku sedang liburan. Boleh aku tahu mengapa kau mencari Sasuke? Padahal kau yang memberikanku semua bukti-bukti perselingkuhannya padaku dan memintaku menyalahkan Ino. Apa maumu kali ini? Apa kau sedang mencoba memeras Sasuke lagi dengan skandal baru yang kau temukan?"

"Tidak-tidak, Kami punya urusan lain. Kalau memang tuan Sasuke tidak ada, Saya permisi."

Sakura menghalangi jalan Kakashi, Ia tak akan membiarkan pria itu pergi sampai dia tahu apa urusan mereka. " Aku akan membayarmu untuk mendengar secuil informasi. Aku tahu kau mencari suamiku karena urusan uang dan aku lebih kaya darinya."

Kakashi menatap sang Nyonya kaya dengan pertimbangan. Apakah penting dengan siapa dia bicara? Dia membutuhkan uang dan pergi jauh dari kota ini segera. Tidak penting uang itu bersumber dari siapa. "Baiklah. Kau ingin tahu siapa yang memperkerjakan aku dan merancang semua ini kan?"

Sakura mengangguk. "Berapa yang kau mau?"

"Satu juta dollar dalam bentuk cash."

"Baiklah, Apa kau mau bicara sekarang. Kau hanya perlu menyebutkan sebuah nama."

"Tidak sampai uangnya ada di tanganku." Kakashi bersikukuh.

Sakura mendesah, Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Satu jam lagi uangnya akan tiba. Silahkan menunggu. Bila kau membutuhkan sesuatu silahkan panggil pelayan." Ia meninggalkan pria asing itu sendiri untuk menyelesaikan hal lain. Sakura merasa pria itu tak berbahaya, tapi lebih tepatnya putus asa. Dia hendak menjual informasi tetang dengan siapa dia berkerja. Pria itu mengkianati kepercayaan kliennya dan Sakura sendiri tidak mudah percaya begitu saja. Siapa yang tahu dia mungkin berusaha menipunya.

.

.

Ino turun dari mobil. Rambut pirangnya tertutupi wig berwarna merah, tak lupa ia menggenakan kaca mata hitam berlensa lebar untuk menyamarkan penampilannya. Temari yang duduk di kursi kemudi terheran-heran. "Mengapa kau harus menyamar seperti ini untuk pergi ke rumah sakit."

"Aku takut ada orang mengenaliku."

Alis pirang Temari mengernyit "Kau bukan artis lagi, Masih ada paparazzi membuntutimu?"

"Aku memergoki satu orang minggu lalu, entah dia paparazzi lepas atau bekerja untuk tabloid aku tidak tahu. Yang jelas aku jadi trauma."

"Ah.. sunguh merepotkan ya."

Ino tertawa. "Sekarang kau terdengar seperti Shikamaru. Terima kasih sudah repot-repot mengantarku kemari."

"Aku bisa menemanimu ke dalam."

"Tidak usah Temari, Aku tak ingin lebih merepotkanmu. Aku hanya perlu memeriksakan kandunganku. Bukan hal besar."

"Mengapa tidak bersama Sai?"

"Pria itu merasa tak perlu mencari second opinion dan aku tak ingin bertengkar dengannya. Aku kemari juga berbohong. Aku bilang bertemu denganmu untuk makan siang."

"Aku pikir dia selalu memuja dan memanjakanmu."

Ino menggeleng. " Tidak selalu. Kadang aku merasa jenuh dia mengontrolku dan Kalau Sai cemburu, dia menakutkan."

"Dia tak terlihat seperti itu."

"Wajah bisa menipu."

Kali ini Temari menatap Ino dengan serius dan khawatir. "Apa benar kau baik-baik saja? Dari awal aku tak suka dengan keputusanmu untuk menikahinya. Apalagi Gaara juga bercerita bagaimana suamimu bersikap memusuhi dan terlalu over protektif."

"Mungkin Gaara terlalu sensitive, Aku bisa mengatasi suamiku, Temari. Aku pergi dulu ya." Ino menutup pintu mobil dan melangkah menuju pintu masuk rumah sakit, tetapi Temari memanggilnya. Wanita yang lebih tua itu menurunkan kaca jendela mobilnya.

"Ino. Kalau kau dalam kesulitan. Aku, Shikamaru dan Gaara pasti akan membantumu."

Ino tersenyum. "Terima kasih." Teriak wanita pirang itu.

.

.

Sakura menutup mulutnya dengan terkejut. Ia tak bisa mempercayai informasi yang dia terima. Dalang semua ini adalah Sai sendiri. Apa ini benar? Kalau begitu Ino harus tahu kalau dia menikahi seorang psikopat.

"Jadi kau bilang Sai sudah mengintai Ino selama bertahun-tahun? Mengapa kau pikir aku akan percaya?"

"Saya bisa memberikan bukti." Kakashi menyerahkan sebuah ponsel hitam pada Sakura. "Semua percakapan dan informasi yang saya sampaikan pada tuan Shimura ada dalam ponsel ini, Saya akan menyerahkannya pada anda dan lebih baik segera dihancurkan, sebab tuan Shimura pasti tahu saya berada di sini."

"Sepertinya kau benar-benar ingin cuci tangan dari masalah ini. Mengapa kau menjual nama tuan yang memberimu makan selama bertahun-tahun?"

"Ino telah mengetahui keberadaan saya, Saya takut tuan Shimura tidak lagi menganggap saya berguna."

"Dan kau takut dia akan melenyapkanmu." Putus Sakura menarik kesimpulan.

"Saya bekerja untuknya dan saya tahu pasti Sai Shimura itu pria berbahaya."

"Aku harus menyelamatkan Ino."

"Tak usah mengkhawatirkan Nyonya Ino. Saya pikir Tuan Shimura tak akan menyakitinya. Transaksi kita sudah selesai. Saya akan pergi." Kakashi mengambil koper yang penuh berisi uang dari atas meja.

Ketika dia hendak melangkah keluar, sepuluh orang body guard keluarga Haruno mencegatnya.

"Maaf tuan Hatake, Aku belum menyuruhmu pergi."

Perkelahian tidak terelakkan. Meski terlatih dalam bela diri Kakashi tak bisa menghadapi sepuluh orang sendirian. Setelah berjuang untuk lolos selama lima belas menit Kakashi roboh ketika seorang body guard menghantam rahangnya. Sakura sama sekali tidak panik melihat keributan di ruang tamunya.

"Nyonya, Apa yang harus kami lakukan?" Tanya salah seorang bodyguard.

"Ikat dan kurung dia digudang. Jangan sampai lepas."

Kakashi tak percaya dia dibodohi seperti ini. "Apa yang kau inginkan dariku lagi Nyonya?"

"Oh, Kau harus bicara pada Ino. Sebab dia tak akan percaya dari kata-kataku saja."

Sakura merenung sesaat. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Menyelamatkan Ino?, tapi Apa Ino ingin diselamatkan. Sakura ingin membantu. Mungkin dia harus menunggu keputusan Ino, tapi pertama dia perlu menghubungi Sasuke. Wanita yang sedang berbaring di ranjangnya itu mendesah berat. Kali ini mantan suaminya mungkin bisa berguna.

Ino pulang ke rumah dengan hati galau. Kandungannya tidak apa-apa, tapi dokter mengatakan tidak ada alat IUD tertinggal di rahimnya. Ino tak pernah melakukan prosedur pengangkatan alat kontrasepsi itu. Tidak juga ketika dia memeriksakan dirinya pada dokter Shizune. Kalaupun alat itu lepas sendiri masa Ino tidak tahu. Seseorang telah melakukan sesuatu pada tubuhnya dan Ino tidak ingin percaya Sai yang melakukannya. Mengapa? Ino sudah bilang berkali-kali dia belum ingin menjadi seorang Ibu dan Sai setuju untuk menghormati keputusan Ino.

Dia tak bisa menatap pria itu lagi, Ino menunduk tatkala sang suami menyapanya. Tubuhnya tak bergeming merasakan Sai mencium keningnya. Ino merasa ingin mendorong pria itu, Ino merasa marah dan dia benar-benar tertipu. Sai tidaklah sebaik yang dia gambarkan.

"Ada apa Ino? Mengapa kau begitu murung dan diam?"

"Sai aku lelah." Ucap Ino pendek. Segera ia melangkah menuju kamar tidur mereka.

"Mau aku pijat dan siapkan air hangat?" Sai menawarkan bantuannya. Ia sama sekali tak suka melihat istrinya seperti ini.

"Tak perlu, Aku mohon biarkan aku sendiri sebentar saja." Ino menutup pintu. Dia belum siap menghadapi Sai. Wanita itu menyandarkan punggung di kepala tempat tidur. Wajahnya tertunduk dengan dahi menyentuh lutut yang tertekuk. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Haruskah dia marah dan berbicara pada Sai tentang apa yang ia tahu atau dia bisa diam saja pura-pura tidak tahu dan menjalankan harinya seperti biasa.

Di luar pintu Sai berjalan mondar-mandir. Hari ini dia membiarkan Ino pergi dengan Temari, Ia berusaha menghubungi Kakashi Hatake tapi detektif sialan itu malah menghilang. Dia tahu Ino pergi ke rumah sakit. Yang Sai tidak mengerti mengapa istrinya jadi seperti itu? Apa Ino mengetahui sesuatu. Sai mengigit bibirnya yang tipis. Dia hendak marah, Apa dia kurang perhatian pada Ino, Apa dia kurang supportive? Demi dewa, Ia telah melakukan segala hal untuk membuat Ino senang. Apa lagi sekarang? Pria pucat itu menggeram frustasi. Melampiaskan kemarahanya hanya akan membuat sang istri semakin takut. Dia menahan diri untuk tidak menggebuk dan mendobrak pintu. Sai menarik nafas pelan dan mengetuk pintu.

"Ino, apa kau mau bicara denganku?" Dia berbicara dengan lembut dan perlahan.

Untuk saat ini dia tak bisa membuat suaminya curiga. Ino tak boleh menunjukan keraguan pada suaminya sedikitpun sebab Sai mungkin akan mencengkramnya lebih erat lagi. "Masuklah."

Sai terdiam melihat sosok Ino yang menyedihkan. "Kau menangis? Siapa yang membuatmu sedih." Tanpa berpikir Sai duduk di dekat sang istri dan memeluknya.

,

"Aku mengerti proses kehamilan tidak mudah, tapi aku akan selalu berusaha menjagamu. Kau akan baik-baik saja. Oke..percaya padaku." Balas Sai dengan manis.

Ino mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, tapi hatinya menjerit. 'Bagaimana aku bisa mempercayaimu setelah tahu apa yang kau lakukan padaku. Mengapa Sai?'

Ino yang terlalu lelah berpikir tertidur pulas dan wanita itu bermimpi seseorang merantai tangan dan kakinya.

.

.

Sepanjang indra pengelihatannya tak ada warna lain yang terlihat selain biru. Rasanya dunia begitu lapang dan tiada batas. Sesekali terdengar pekik burung camar di udara. Dia merasa damai meski gelombang laut membuat perahu yang dia naiki sedikit bergoyang. Sayangnya kedamaian itu tak berlangsung lama llantaran suara ponsel memecah lamunannya.

"Hn…lebih baik ini hal penting." Gerutu Sang Uchiha. Hanya Sakura dan orang tuanya yang tahu bagaimana cara menghubungi dirinya yang tengah melanglang buana. Berlayar dan menghindar dari semua publikasi dan efek negatif perceraiannya dengan Sakura.

"Sakura, Ada apa? Apa dokumen pembagian asset sudah beres?"

"Aku menghubungimu bukan untuk membahas urusan perceraian, tapi apa kau mau balas dendam?"

"Dendam, pada siapa?"

"Aku tahu siapa yang menjebak kita dalam skandal Ino. Kau kembali sekarang."

"Bagaimana bila aku bilang aku tidak berminat?"

"Terserah, Jadi kau sudah berlapang dada menerima kenyataan jatuh dalam perangkap orang yang lebih lihai darimu?" Sakura memancing. Dua pria brengsek saling menjatuhkan bukanlah ide buruk di mata wanita berambut pink itu.

"Jadi siapa pelakunya?"

"Tak lain dan tak bukan Sai Shimura. Rival cintamu." Desisnya sinis.

"Aku sudah mencurigainya. Pria itu aktor yang cakap."

"Aku sendiri tak menduga dia berbuat sejauh itu untuk mendapatkan Ino. Apa rencanamu sekarang?"

"Aku tak berniat memberitahumu, tapi aku heran apa yang kau inginkan dengan memberitahuku?"

Sakura dengan santai bersandar si kursi kantornya. Dari jendela yang besar dia menatap pemandangan kota. Entah mengapa kali ini ia tak merasakan emosi apa pun bicara pada Sasuke. Pernikahan mereka memang sudah berakhir, tapi ia tak keberatan untuk memanfaatkan Sasuke untuk ini. Bila kedua pria itu hancur mungkin dia dan Ino-lah yang akan tertawa di atas derita para lelaki berengsek ini.

"Oh itu, Aku sedang mencari kepuasan. Kau menipunya dan sekarang Sai juga. Aku ingin melihat Ino jatuh lagi."

" Tsk…Kau masih saja kejam."

"Bukankah kita semua begitu." Sakura mengakhiri pembicaraan mereka, Ino mungkin sedih mengetahui kebenaran, tapi temannya itu harus tahu. Bila sahabatnya itu bukan wanita cerdas, dia tak akan memilih hidup bersama seorang psikopat.

.

.

.

Gedung perkantoran masih ramai seperti biasa, para pegawai sibuk bekerja di dalam kubikel mereka berkonsentrasi menatap layar komputer menyelesaikan tugas sebelum deadline nya tiba. Seharusnya pimpinan mereka ikut sibuk, tetapi Sabaku Gaara bukannya bekerja malah melamun. Ia bingung memikirkan e-mail yang dikirimkan Haruno Sakura padanya. Mengapa wanita itu memintanya bicara pada Ino? Mengapa tidak bicara langsung? Ia tak bisa mengabaikan pesan wanita berambut pink itu lantaran dia menyebut-nyebut nama Sai Shimura.

Suara ketukan pintu membuyarkan segala pertimbangannya untuk ikut campur atau tidak, sebab Ino sudah berdiri diambang pintu. Ia tak suka ikut campur masalah pribadi orang lain, tapi kali ini mungkin lebih bijak dia menjadi pembawa pesan.

"Boss, Ini laporan yang kau minta." Ino meletakan folder yang dia kerjakan selama berhari-hari di atas meja kerja Gaara.

"Ino, Bagaimana hubunganmu dengan Sakura?"

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya?"

"Hari ini dia mengirimikan pesan untukmu, Aku tak tahu kau mau mengubrisnya atau tidak."

"Memang dia bilang apa?"

"Kalau kau ingin berniat tahu tentang hal yang disembunyikan suamimu. Kau harus pergi ke rumahnya."

Ino berpikir sejenak, Dia memang curiga pada Sai. Apa dia ingin mencari bukti? Apa dia benar-benar siap untuk menerima kebenaran apa pun itu? Selama Ino tidak menemukan bukti dia masih bisa menjalani hidupnya dalam penyangkalan. Bisa tetap berpura-pura mereka baik-baik saja dan suaminya tetap sosok baik hati juga pengertian, tapi bisakah dia hidup selamanya dalam kebohongan? Saat ini tersenyum pada Sai menjadi tugas yang sangat berat.

"Aku akan bicara pada Sakura, Permisi bos."

Setelah Ino bicara ditelepon pada mantan sahabatnya dia buru-buru mengambil jas yang tersampir di kursi dan tasnya. Dia melangkah melintasi koridor sambil memesan uber. Semenjak perutnya membulat Sai tidak mengizinkannya membawa kendaraan dan sekarang dia membutuhkan tumpangan untuk pergi ke rumah Sakura. Di dekat pantry Gaara mencegatnya.

"Mau ke mana buru-buru?"

" Aku harus ke rumah Sakura, Maaf aku jadi harus permisi."

"Biar aku antar."

"…, tapi Gaara."

"Suamimu sudah memperingatkanku, tapi aku tidak peduli. Kau temanku. Bukankah lebih baik pergi ke sana berdua. Barangkali ada hal yang mencurigakan."

Ino pun setuju membiarkan Gaara mengantarnya. Gaara benar, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Ino juga tak mempercayai Sakura.

Perjalanan mereka berlangsung singkat, Hari ini lalu lintas tidak terlalu padat. Ino duduk di sebelah Gaara. Memperhatikan pria berambut merah itu mengendarai mobilnya. Dia masih kepikiran pada kalimat Gaara yang tadi.

" Sai berkata apa padamu? "

Pria itu mendesah, "Dia mengancamku agar tidak mendekatimu. Istrinya. Apa menurutmu kecemburuan Sai masuk akal? Apa kau merasa aku menggodamu? Aku tak pernah punya niat buruk."

"Tidak, Sai memang agak aneh. Aku sendiri tak bisa memahaminya. Aku minta maaf jika prilakunya membuatmu merasa tak nyaman. "

"Apa yang hendak dibicarakan Sakura?"

"Aku juga tak paham. Gaara kau tahu aku merasa Suamiku bukanlah orang yang aku kenal."

"Maksudmu?"

"Sai penuh kepalsuan." Air mata Ino hampir bergulir mengucapkannya.

.

.

.

Rasa simpati, Mungkin hanya itu yang saat ini mereka bisa tawarkan kepada wanita pirang yang wajahnya kian pias mendengar penuturan pria yang sedang terikat di kursi. Tangannya mengepal erat mencoba mencerna tiap kepingan informasi yang menghancurkan kepercayaan yang dia berikan dengan hati-hati. Ino mengigit bibir bawahnya, Amarah serta rasa kecewa menghempas semua emosi positif yang tersisa ke dasar jurang. Semua ini telah direncanakan bertahun-tahun lamanya? Sai memang penuh dedikasi.

"Aku mau pulang." Ucap Wanita pirang itu.

" Ino, Bagaimana kau akan menghadapi Sai? Tuan Hatake bilang dia berbahaya. Apa kau tidak medengarnya?"

"Sai tidak akan menyakitiku Sakura, tidak secara fisik. Aku ingin mendengarnya mengakui semua ini."

"Hati-hati." Sakura tidak mengikuti Ino keluar dari gudang itu, Tapi ia sempat berkata pada Gaara yang menyusul Ino pergi. "Tolong, jaga dia."

Gaara hanya mengangguk dan menyusul Ino keluar dari kediaman Haruno.

Kakashi terbatuk-batuk , tenggorokannya kering dan lebam yang menghiasi tubuhnya kian nyeri. "Apa anda akan melepaskanku segera?" Tanya sang detektif dengan parau.

Sakura berdiri dihadapan Pria yang tampak tak berdaya. Lari sejauh apa pun. Sai pasti akan menemukan Kakashi. " Tinggallah di sini, Aku menawarkan perlindungan. Sai Shimura tak akan seenaknya mengacak-acak rumah ini."

"Mengapa kau begitu yakin?" tanya Kakashi pada Sakura.

"Oh. Aku dan Sasuke bisa membuat bisnis keluarga mereka bangkrut. Aku juga bisa mempengaruhi orang-orang penting untuk tidak lagi menganggap Danzo. Tanpa uang dan nama Sai bisa apa? Tentunya ia mesti berpikir ribuan kali untuk menantang secara langsung."

"Aku berterima kasih Nyonya Haruno."

"Aku lihat kemampuan bela dirimu tidak buruk. Mulai hari ini Tuan Hatake. Kau menjadi body guardku. Kepala keamanan akan mejelaskan semua tugasmu."

Sakura lantas memanggil butler dan meminta pria tua itu melepaskan Kakashi.

.

.

.

"Sialan…Sialan…Sialan." Teriak Sai sambil membanting lap top yang baru saja dia gunakan ke lantai. Benda itu pecah dan rusak. Bagaikan binatang liar ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia baru melacak keberadaan ponsel yang di gunakan Kakashi Hatake dan dia sangat geram mengetahui bukti kejahatannya mungkin jatuh pada rivalnya.

"Si brengsek Uchiha selalu saja menghalangi, Harusnya aku menyingkirkan Kakashi segera. Ia tahu terlalu banyak."

Sai amat sangat panik. Apa Mereka berniat memberitahu Ino? Pria itu memutuskan untuk cepat pulang. Ia harus mencegah Ino bicara pada Sakura maupun Sasuke. Ia harus bisa meyakinkan istrinya. Semua itu hanya kebohongan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka. Ya. Ino pasti lebih mempercayainya ketimbang orang-orang yang pernah menyakitinya.

.

.

Ino memasuki rumah dengan tergesa, tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya. Waktu yang dia punya dia gunakan untuk mencari sesuatu. Kakashi memberitahunya tentang ruang kerja suaminya. Berlajan berjingkat tanpa suara Ino memasuki Studio Lukis pria itu. Ia langsung merasa terserang vertigo. Dinding-dinding ruangan itu seakan berputar dan semua yang dia lihat hanyalah wajah dirinya. Ino ingat ia pernah menjadi model untuk lukisan Sai, tapi ia tak tahu sang suami juga membuat ratusan gambar lainnya. Semua ini membuat Ino bergidik.

Ino melangkah menyusuri dinding, mengabaikan keindahan yang dilukisan oleh suaminya. Apa ini cinta? Ino menjatuhkan sebuah lukisan berukuran dua meter yang bersandar di dinding. Dia menemukannya. Sebuah pintu yang dia tidak tahu keberadaannya. Dengan gemetar ia meraih gagang pintu. Tak ada jalan untuk kembali. Kembali dia dikejutkan oleh keberadaan photo-photo dirinya yang saat itu bahkan belum mengenal Sai. Ino membuka laci dan menemukan pakian dalamnya yang hilang. Benar, Sai menstalkingnya sejak lama. Apa ini cinta? Ini kegilaan. Ino semakin ketakutan. Ia mengelus perutnya yang membulat. Sekarang ia paham. Sai berniat mengikatnya dengan seorang anak.

"Ino…" Wajah Sai lebih pucat dari mayat menemukan rahasianya terbongkar

"Katakan sesuatu Sai!" Bentak Ino dengan nada marah. Mengapa dia harus berkali-kali dibohongi dan dipermainkan? Mengapa harus dia yang memiliki nasib seperti ini.

"Kenapa kau diam? Jelaskan maksud semua ini." Ino dengan kesal melemparkan celana dalam berenda ditangannya ke muka sang suami.

Author's Note : Maafkan author yang sudah kian tak produktif ini lama banget nulis satu chapter. Cuma warning buat pembaca. Ini kisah tentang psikopat, stalking, conditioning, manipulating, gaslighting, it's a dark romance that will end darkly, bitter sweet… apakah lelaki obsessive seperti Sai yang saya gambarkan disini pantas mendapatkan happy ending? Well check next chapter.