My World Full of Lemon.
Chapter 8
Sai tak menduga dia bisa merasakan emosi yang kuat dan menyakitkan. Dia selalu berpikir tidak akan ada yang mampu menyakitinya, akan tetapi semua fakta dilemparkan wanita itu serasa menusuk relung hati. Padahal dia selalu yakin tak akan pernah menyesal melakukan hal yang telah dia lakukan. Dia pernah berpikir tak kenapa Ino menganggapnya rendah asal wanita itu bersamanya. tapi yang dia hadapi sekarang adalah wanita yang tengah kecewa, yang hidupnya dia manipulasi untuk percaya dia adalah seorang yang baik. Andaikata dia memang baik apa Ino akan menerimanya dengan tangan terbuka? Apa Ino akan mencintainya? Sai tahu jawabannya tetap tidak. Jalan apapun yang dia ambil Ino tetap tidak melihatnya. Melihat Ino berdiri di sana dengan marah, Sai tak sanggup berkata bibirnya terkunci sebab apapun alasan yang dia kemukakaan Ino tak mungkin mengerti.
"Mengapa kau membisu?" Teriak gadis itu marah. "Apa sulit mengakui kebusukan yang sudah kau perbuat? Aku sudah tahu semuanya. Kau ternyata lebih bejat dari Sasuke!"
Sai mendekati istrinya. Rasa sedihnya perlahan berubah menjadi amarah, Kekesalannya memuncak. Mengapa Ino tak pernah mau mengerti posisinya. Dia melakukan semua ini untuk membuat Ino bahagia. Dia mengumpulkan informasi demi mengenal sosok Ino sesungguhnya. Dia jauh lebih baik dan lebih tulus daripada bedebah yang hanya memanfaatkan Ino sebagai mainan belaka. Apa dia salah mencoba mencari tahu sosok wanita yang membuatnya tertarik tapi tak sudi untuk membuka diri pada tunangannya. Setiap saat Ino hanya menunjukan sikap dingin dan bermusuhan berusaha untuk membuatnya mundur dan menyerah. tapi Sai hanya menginginkan satu hal di dunia. Mendapatkan cinta Ino.
"Jangan pernah bandingkan aku dengan dia. Aku sama sekali tak punya niat untuk mempermainkanmu atau sekedar menjadikanmu batu loncatan. Apa kau tak tahu betapa aku menderita melihatmu menghabiskan waktu bersamanya, Melihatmu tersenyum padanya sementara aku berpura-pura tak peduli dan buta. Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Jangan menyalahkan aku."
Ino menggeleng pelan. Sekarang dia sepenuhnya sadar Sai tak bisa membedakan cinta dan obsesi. Ino merasa sedang bercermin, melihat Sai sekarang bagaikan melihat dirinya sendiri yang dulu begitu ingin mendapatkan cinta Sasuke.
"Salah, Ini bukan cinta. Lihat sekelilingmu, seluruh dinding ruangan ini kau peruntukkan seluruhnya untuk memajang gambarku. Iya benar kau memujaku, memanjakan aku tapi di matamu aku tak lebih dari sekedar objek. Di mana hakku untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan. Seharusnya aku bersamamu karena aku memilih begitu, tapi kau menjebakku dengan rasa bersalah dan utang budi" Ino nemunjuk perutnya yang membulat " Lalu ini, Kau berencana memasungku dengan menggunakan anak ini, Kau pikir aku tak sanggup melenyapkan anak yang tak aku minta? Kapan kau akan mengerti cinta itu tak bisa dipaksakan." Wajah Ino memerah tak bisa menahan emosi, tanpa sadar dia berucap tanpa berpikir panjang.
"Aku mengira anak akan membuatmu berpikir dua kali untuk meninggalkanku. Aku sudah tahu cepat atau lambat kebenaran akan terungkap tapi aku tak menyangka akan secepat ini. Kata-katamu sangat kejam. Aku tak mengira kau mampu berkata akan membunuh darah daging mu sendiri hanya karena merasa dijebak. Jangan membenci anak tidak berdosa. Ino, Aku sadar kau tak mencintaiku, tapi aku tak ingin menyerah dan kehilanganmu. Katakan padaku pilihan apa yang aku punya? Sejak kita bertemu apa pernah kau berpikir untuk memberikan aku kesempatan? Tidak, kau bahkan tak pernah sudi untuk melihatku. Apakah salah jika aku membuat kesempatan untuk diriku sendiri dengan menghancurkan hubunganmu dan Sasuke? Aku ingin kau membuka mata dari cintamu yang buta dan aku ingin kau melihatku, memilih bersamaku."
"Kau bisa bilang cintaku pada Sasuke buta, tapi kau tak bisa menilai cintamu padaku elusif. Kau dengan caramu memanipulasi keadaan untuk mendapatkan hasil yang kau inginkan, tapi bagaimana kau bisa berharap aku akan memiliki perasaan nyata bila semua ini hanyalah hasil tipuan belaka. Aku bahkan tak tahu siapa dirimu lagi. Bagaimana aku bisa mencintaimu yang seperti ini." Balas Ino lirih. Dadanya sesak. Ia tak sanggup lagi melanjutkan perdebatan ini. Dia ingin mejauh dari Sai, menjauh dari segalanya yang bisa meracuninya.
"Ini bukan permainan. Aku memang salah menjebakmu seperti ini, tapi bukankah aku berusaha memberikanmu kehidupan yang baru sebagai istriku? Aku selalu memberikan segalanya untukmu. Tidakkah kau lihat perasaanku ini tulus."
"Tulus? Bila memang tulus kau tak akan berusaha menjauhkan aku dari keluarga dan teman-temanku. Kalau memang tulus kau tak akan membayar seseorang untuk membuntutiku. Hubungan ini tidak nyata kalau tak pernah ada kepercayaan di antara kita. Aku tak sanggup lagi melihatmu. Kebohongan demi kebohongan yang kau buat membuatku muak." Ino menanggis. iya hanya ingin cepat pergi tidak terjebak lagi dalam pusaran yang membingungkan.
"Berhentilah menanggis Ino. Jangan buat aku merasa telah menyakitimu. Aku meminta Kakashi mengikutimu karena aku ingin tahu segalanya tentang wanita yang aku cintai. Aku tak akan pernah melakukan hal yang bisa membahayakanmu. Kapan kau akan membuka mata dan berusaha melihat semuanya dari kacamataku." Sai berusaha mendekap Ino. Dia tak tahan melihat istrinya bercucuran air mata dan semua ini karena dirinya. Ia berharap membuat Ino nyaman, tapi tubuh istrinya malah kian kaku.
"Cinta? Berhentilah bicara soal cinta. Ini murni kegilaan. Lihatlah disekelilingmu. Kau memiliki obsesi yang parah. Maaf, Apa pun yang kau katakan aku tak lagi merasa aman berada di dekatmu." Ino mendorong Sai dengan keras, menyingkirkan suaminya dari pandangan. Dia buru-buru melangkah pergi, sebab ia merasa Sai mungkin akan mengambil tindakan drastis
"Jika aku salah, Aku mohon maafkan aku." Sai mengejar Ino.
"Sungguh kau meminta terlalu banyak. Kau memintaku belajar untuk mencintaimu dan sekarang kau ingin aku memaafkanmu. Semudah itu? Sai, Aku tak ingin lagi bersamamu. tolong hargai keputusanku."
Kata-kata Ino membuat langkah pria itu terhenti. "Kau mau meninggalkanku begitu saja. Tidak Ino, kau tak bisa pergi dari rumah ini dengan membawa anakku dalam perutmu."
"Kau tak bisa memaksaku untuk tinggal!"Teriak Ino
Sai mencegat Ino di pintu keluar. "Aku bisa dan aku tak akan membiarkanmu pergi."
"Aku pergi atau tidak, bukan kau yang membuat keputusan."
" Aku mohon padamu, Maafkan aku. Aku janji akan menebus kesalahanku." Sai berlutut menghalangi pintu keluar. Ekspresinya bersungguh-sungguh, tapi hati Ino tak terenyuh. Wanita pirang itu tak tergerak hatinya melihat pria yang berkuasa berlutut dan memohon di depannya.
Ino tahu percuma dia bicara. Kata-katanya tak akan masuk di kepala lelaki yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Bukankah cinta tidak egois, tapi Sai merasa dia paling benar.
"Minggirlah, Aku tak akan merubah keputusanku." Ino tak bergeming dan dia tak akan luluh. Kebohongan tetaplah kebohongan. Melanjutkan hubungan yang didasari oleh tipu daya hanya akan menghancurkan dirinya lebih jauh. Dia masih bisa pergi dan menjauhkan bayi ini dari seorang ayah psikopat dan menyelamatkan dirinya dari hubungan yang toxic.
"Mengapa kau tak mau mendengarkan aku? Mengapa kau begitu keras kepala? Apa pengorbananku selama ini tidak cukup untuk meyakinkanmu?"
"Pengorbanan? Apa yang pernah kau lakukan untukku? Merampas dan menghancurkan masa depanku."
"Sasuke tak akan pernah jadi masa depanmu, Bila aku tak ikut campur kau tak akan pernah sadar cuma dijadikan mainan. Aku menyelamatkanmu dan begini caramu berterimakasih? Dengan menginjak-injak perasaanku? "
Mengapa sekarang Sai bicara seakan Ino-lah yang jahat. "Jangan buat aku tertawa. Di saat seperti ini kau masih berusaha membuatku merasa bersalah. Sai Shimura, menyedihkan sekali ternyata kau tak tahu apa-apa soal cinta. "
Kata-kata Ino membuat Sai sakit hati. "Itu tidak benar, Aku menjagamu dengan hati-hati. Aku berusaha memberikan yang terbaik, Aku telah berusaha keras membuatmu bahagia. Kau tak bisa merendahkan usahaku dengan berkata aku tak tahu cara mencintai."
Ino frustrasi, berdebat dengan Sai tak ada gunanya. Tapi dia juga tidak bisa keluar karena pria itu menghalangi pintu. "Lihat aku. Apa ini wajah wanita yang bahagia? Bila benar kau mencintaiku sebaiknya biarkan aku pergi. Bila kau memang memberikan segalanya untukku biarkan aku bebas. Saat ini aku tak punya harapan apapun padamu dan kau tak mengerti terikat padamu membuatku menderita."
Sai mengeretakkan giginya. Mengapa Ino tidak mau mengerti, dia membutuhkan wanita itu seperti manusia membutuhkan udara. Sai tak ingin kembali pada dunianya yang suram. Pria itu pun marah merasa Istrinya begitu keras kepala. "Cukup, Sudah Cukup. Pembicaraan ini tak di matamu aku benar-benar jahat. Biarlah aku menjadi Jahat sekalian." Sai meraih lengan Ino dan menyeret wanita pirang itu ke kamar tidur.
"Lepaskan aku...Lepaskan. Kau menyakitiku." Teriak Ino sambil berusaha melepaskan cengkraman Sai, tapi pria itu lebih kuat darinya.
Sai menahan diri untuk tidak membanting tubuh istrinya ke tempat tidur, tapi dia harus tetap memberikan istrinya sedikit pelajaran. Ia menjambak rambut pirangnya. tidak cukup kuat untuk membuat Ino meringis, tetapi cukup untuk membuat istrinya mendongak dan menatap matanya.
Ino gemetar, wajah pucat Sai kian mengelap. Murka, Suaminya tampak amat sangat marah dan Ino mempersiapkan dirinya untuk dipukul. Ino menanti Sai melayangkan tamparan di wajahnya tapi pukulan itu tak pernah tiba. Ino hanya merasakan kulit kepalanya menegang akibat rambutnya ditarik cukup kencang.
"Bila aku bilang kau tetap tinggal maka kau akan tinggal. Jadilah istri yang baik dan patuhi tidak akan ke mana-mana sampai aku muak padamu." Sai keluar dan mengunci pintu kamar tidur. Ia tak lantas pergi. Dengan lesu dia bersandar di pintu. Bahunya merosot dan tatapannya suram. Ia bisa mendengar sumpah serapah Ino. Pria pucat itu menarik nafas panjang. Entah mengapa ia merasa kehabisan energy menghadapi semua ini. Dadanya terasa sakit. Ino tak hanya ingin pergi. Dia juga mengancam akan mengaborsi anak mereka. Ino yang dia kenal tak akan pernah bicara sejahat itu. Mungkin Ino benar-benar membencinya. Bayangan keluarga bahagia dalam benaknya hancur berantakkan. Tanpa terasa air mata pria itu menetes. Seharusnya mereka bahagia. Ini semua salah Uchiha sialan itu. Bila kebenaran tidak terkuak mereka akan baik-baik saja. Sekarang dia hanya bisa mengurung istrinya dan berharap Ino akan menyerah.
Gaara merasakan firasat buruk. Ino tidak datang ke kantor selama tiga hari. Ia sudah mencoba menelepon tapi semua panggilannya tidak terjawab. Mau tidak mau dia merasa khawatir. Dia juga ada di sana mendengar penuturan Kakashi. Meski detektif itu yakin Ino tak akan disakiti oleh Sai. Gaara meragukan semua itu. Dia tumbuh dengan melihat Ibunya dianiaya oleh pria yang katanya mencintainya. Ketika tiba-tiba Ino menghilang tanpa bisa dihubungi, ia mendapatkan firasat buruk. Pastinya sesuatu telah terjadi antara wanita itu dan suaminya. Bibir Gaara membentuk garis tipis sementara dahinya mengkerut. Pria berambut merah itu sedang berpikir tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang. Gaara pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Ino nanti siang.
Matsuri yang kesal masuk ke ruangan Gaara tanpa permisi, Gadis meletakkan tumpukan dokumen di atas meja atasannya dengan kasar. "Dengar Bos, Aku kewalahan. Aku tak bisa mengerjakan bagianku dan bagian Ino sekaligus."
"Kau datang dengan tidak sopan hanya untuk mengeluh? Minta saja bantuan orang lain di departmentmu." Jawab Gaara datar.
"Aku mengeluh sebab ini tidak adil, kau begitu menganak emaskan Ino. Dia sudah tiga hari masuk tanpa kabar. Kalau itu orang lain kau pasti sudah memecatnya."
"Ino sedang menghadapi masalah pribadi yang berat."
"Semua orang juga punya masalah bos, Selama dia tidak sakit dia tak boleh lepas tanggung jawab begini."
Gaara tak ingin berdebat panjang dengan Matsuri, "Dengar Matsuri. Kalau kau tak suka dengan keputusanku, orang yang menggajimu. Silahkan tulis surat pengunduran diri dan serahkan pada HRD hari ini juga."
Matsuri tercengang, "Kau memecatku?"
"Aku memberimu pilihan. Perbaiki sikapmu dan silahkan bekerja kembali atau tetap seperti ini dan silahkan angkat kaki. Aku tak punya waktu untuk mendengarkan keluhanmu. Sekarang keluar dari kantorku!" Gaara menunjuk pintu mengusir pegawainya yang kian lama kian menyebalkan. Mungkin ia mentolerir sikap Matsuri terlalu lama.
Ino menggulung tubuhnya dalam selimut ia menatap langit-langit kamar bercat putih dengan hampa. Sayup-sayup ia mendengarkan suara Sai yang berat dengan nada frustasi, tapi Ino memilih untuk tidak bereaksi dan tidak peduli. Pikirannya kosong dan tubuhnya lelah. Ia ingin menutup mata. Apa seseorang akan menyelamatkannya? Tidak, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.
"Ino makanlah, Jangan seperti ini. Kau membahayakan dirimu dan anakmu." Sai merasa selama tiga hari ini ia tidak melakukan apa-apa selain membujuk, memohon dan memelas. Akan tetapi Ino tidak bergeming. "Kau boleh mengabaikanku, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri."
"Aku tak keberatan mati bila itu membebaskan diriku darimu." Ucapnya Lemah.
Kalimat Ino membuat Sai makin tertusuk dan putus asa. "Kau begitu membenciku ya."
"Semakin kau menahanku seperti ini, semakin aku membencimu."
Sai terdiam. Ia tersiksa melihat Ino seperti ini, tapi ia juga akan tersiksa membiarkan Ino pergi. Pria itu meninggalkan Ino dengan langkah gontai. Ia merebahkan dirinya di sofa dan menyulut selinting ganja. Dia perlu merasa lebih baik. Dia perlu memberangus semua emosi negatif yang mengancam untuk meledak dan mungkin akan membahayakan Ino. Terkadang kekecewaannya membuat Sai berpikir ingin mencekik wanita itu, mematahkah tangannya yang rapuh. dan mengores kulitnya yang mulus. ia terkadang ingin membuat Ino merasakan sakit dan pedih yang ia tanggung karena mencintai wanita yang menolaknya. Mengapa Ino tak merasa berterima kasih pada dirinya? Dia yang mencintai Ino sempai nyaris gila seperti ini. dia yang rela melakukan segalanya demi mendapatkan hatinya, tapi setelah semua ini dia tetap tak mendapatkan apa-apa selain luka, dan anehnya Sai tak mampu melepaskan Ino. Semuanya akan lebih baik bila dia menyerah, tapi ia tak mampu. ino adalah arti dari hidupnya. Sebelum dia bertemu Ino dia tak pernah merasakan apa-apa. Begitu mengenalnya Sai kini mengenal kebahagiaan meski palsu dan singkat.
Lambat-laun asap beraroma manis memabukkan dirinya. Otot-otot yang kaku menjadi lemas. Begitu pula pikirannya yang tadinya bergejolak bak laut berbadai kini menjadi tenang. Tubuhnya terasa ringan, dia merasa melayang terbungkus dalam kehangatan yang tidak nyata, mengapung mengikuti arus lautan yang tak tampak. Sai menutup mata membiarkan dirinya tersesat dalam ilusi, melarikan diri dari kenyataan pahit yang harus dia terima. Ino masih tetap keras kepala tapi dalam pikirannya yang telah terpengaruhi narkotik dia merasa istrinya tercinta sedang memeluknya dengan hangat membuatnya merasa damai dan tentram. Ino seharusnya menjadi rumah yang memberikan dia kenyamanan. Bel pintu yang berdering memaksa Sai membuka mata, tapi ia enggan berdiri. Ia masih berhalusinasi. Sai mengabaikan entah siapa yang berniat mengunjunginya. Semenit dua menit berlalu bel itu tetap berbunyi dengan terpaksa dan langkah terseret ia membuka pintu.
"Enyah dari sini!" Bentak pria berwajah pucat itu saat melihat rupa sang tamu. Sai hendak membanting pintu tapi tangan Sabaku Gaara menahannya.
"Di mana Ino?" Mata jade-nya memperhatikan penampilan Sai dengan seksama. Rambut hitam pria itu lepek dan awut-awutan. Dia tampak begitu tak terurus dengan mata memerah yang tak fokus.
"Istriku bukan urusanmu."
"Ino temanku. Aku harus tahu kalau dia baik-baik saja."
Sai melangkah maju mencoba mengintimidasi pria berambut merah itu. "Katakan sejujurnya, Apa kau kekasih istriku? Aku tak akan terkejut."
"Kau menuduh istrimu berselingkuh denganku?"
"Alasan apa lagi? Ino Ingin membuangku dan sekarang aku mencoba menyelamatkan pernikahanku. Apa kau tahu berapa besar pengorbananku agar bisa menikahinya? Agar bisa memilikinya? Dan sekarang kau muncul dan merasa dirimu lebih baik dariku dan mencoba menyelamatkannya? Aku bukan setan!" Ujarnya meracau. Efek ganja yang dihisapnya tentu tak hilang begitu cepat. Untuk saat ini Sai benar-benar terputus dengan realitas, yang dia lihat dan rasakan hanya ancaman di depan mata. Wajah Gaara berubah menjadi monster menakutkan dalam benaknya.
"Shimura, Aku tak mengerti kau membicarakan apa. Aku datang kemari hanya untuk bertemu Ino. Bukan mencari masalah denganmu."
Sai menarik Kerah baju Gaara dengan agresif " Enyahlah, Jangan ganggu aku dan Istriku. Aku tak butuh keberadaan orang lain yang juga mencintai Ino. Oh.. aku bisa melenyapkanmu."
"Aku tak peduli pada ancaman kosongmu."
Sai tersenyum layaknya seorang maniak. Ekspresi itu membuat Gaara merinding. Jelas-jelas pria ini tidak dalam kondisi normal. " ini buka ancaman, Aku akan membunuhmu jika kau mencari-cari Ino lagi." Sai mendorong Gaara lalu mengunci pintu. Ia benar-benar berpikir untuk menyingkirkan lelaki itu. Ia tahu cepat atau lambat orang-orang akan mencari Ino. Dia musti membuat alasan yang masuk akal untuk membuat mereka berhenti mencarinya. Oh, iya dia bisa beralasan pergi ke luar negeri.
Sai mengunci semua pintu dan jendela agar istrinya tidak mempunyai kesempatan untuk kabur. Pria itu segera memesan tiket menuju New York. Sekarang dia bisa mengusir Gaara, tapi esok dan hari lainnya ia tak akan bisa mencegah orang lain berkunjung tanpa menimbulkan kecurigaan. Jadi lebih baik dia pergi.
Ino terduduk lesu kala suaminya datang membawa makan malam. Ia tak bisa begini terus dan membahayakan tubuhnya. Mungkin dia harus mengubah strategi dengan pura-pura setuju dan menunggu kesempatan lain untuk meminta pertolongan.
"Tolong makanlah." Sai berusaha menyuapi Ino.
"Aku bisa sendiri." Ino meraih mangkuk berisikan kaldu hangat dari tangan sang suami dan mulai makan dengan perlahan. Sai tak memalingkan muka, ia menatap Ino lekat-lekat dan tertegun melihat kondisi istrinya yang layu.
' Tidak ini semua bukan karena diriku. Ini semua salah Ino, dia yang enggan bicara, dia sendiri yang menolak untuk makan. Aku tidak menyiksanya, aku tidak menyakitinya' Sai tidak mau merasa bertanggung jawab.
Sai mencoba kembali menggengam tangan Ino yang dingin. Sejak pertengkaran mereka Ino selalu menolaknya, bahkan enggan menatapnya. Itu menyakitkan, tapi kali ini ia bisa bernafas lega sebab Ino membiarkannya.
"Apa kita bisa berbaikan?"
"Baiklah." Ujarnya lemah. Saat ini Ino merasa jalan yang terbaik adalah mengalah. Sampai dia bisa menghubungi ayahnya atau seseorang. Ia tak bisa melawan Sai sendirian.
Sai tersenyum kecil, kali ini ia menang, tapi dia tahu kata-kata Ino bukan jaminan bahwa dia sudah dimaafkan dan dalam hati dia berjanji akan berusaha lebih baik lagi.
"Aku berterima kasih kau memberikan kesempatan sekali lagi. Aku akan membuktikan jika aku benar-benar sayang padamu."
Ino terdiam, meski Sai mungkin berniat tulus, meski Sai benar mencintainya, ia tetap tak akan bisa melupakan cara busuk pria itu untuk mendekatinya. "Kali ini aku harap kau jujur padaku. Tidak ada rahasia dan tipuan lagi. Aku tak mau dimanipulasi."
"Aku sungguh minta maaf. Sebisa mungkin aku akan menebus kesalahanku. Omong-omong besok kita harus pergi ke Luar negeri."
"Mengapa tiba-tiba?" Ino kaget. Ia tak mau meninggalkan tempat ini.
"Tadi Gaara mencarimu, Aku mengusirnya dan aku rasa teman-temanmu yang lain akan muncul untuk menanyakan prihal keberadaanmu."
"Kau masih berniat untuk tak mengizinkan aku bertemu orang lain?"
"Meski kau bilang kau mau memperbaiki hubungan kita, Aku tak mempercayaimu begitu saja."
"Jadi kau membawaku ke Luar Negeri agar kita tidak diganggu. Benar begitu?"
"Iya. Sekarang hubungi ayahmu, katakan kau akan pergi ke prancis bersamaku." Sai menyerahkan ponselnya pada Ino.
Dibawah tatapan mengawasi suaminya Ino tak bisa apa-apa. Dengan patuh ia menelepon sang ayah untuk memberitahu tentang kepergiannya. Keberadaan Sai di ruangan itu membuat Ino tak mampu untuk bicara jujur.
"Iya ayah, Ponselku rusak jadi aku memakai nomornya Sai untuk sementara. Jangan khawatir, kami baik-baik saja dan akan menghubungimu lagi bila aku dan Sai sudah sampai di Paris. Jaga kesehatanmu juga. Bye." Ino bicara dengan singkat kemudian mengakhiri panggilannya.
"Bagus dengan begitu ayahmu tak khawatir dan mencari kita." Sai cepat-cepat mengambil kembali ponselnya dari tanggan Ino. "Sebaiknya kau istirahat sekarang, besok akan jadi hari yang panjang." Pria pucat itu mencium kening Ino lalu pergi. Dia cukup senang Ino mau bicara lagi padanya.
Ino tak bisa tidur meski kegelapan menyelimutinya. Bersyukur Sai memilih untuk tidak tidur di ranjang ini bersamanya. Bagaimana pun Ino berusaha melihat masalah ini dari berbagai sudut. Ia tetap berakhir pada kesimpulan bahwa suaminya tak lebih dari monster yang hanya berpikir untuk memaksakan kehendaknya sendiri. Dia sangat ingin lari. Besok adalah kesempatannya. Bila Sai berhasil membuatnya meninggalkan jepang maka mau tak mau Ino harus bergantung kembali padanya.
Pagi itu dia memaksakan dirinya untuk mandi dan berganti pakaian. Suaminya juga tampak dalam mood yang lebih baik. Ino sadar apa yang dia lakukan dan katakan berpengaruh besar pada Sai tapi tidak cukup untuk menguasai lelaki itu. Mungkin dia bisa mengubah dinamika ini bila ia membuat Sai mempercayainya. Tapi berapa lama waktu yang akan dia butuhkan?
Sai memuat koper-koper mereka kedalam mobil. Kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dia melihat seseorang mendekati mereka.
"Kelihatannya kau akan pergi Shimura. Sayangnya untuk sementara kau tidak akan bisa kemana-mana. Aku sudah melayangkan tuntutan padamu."
Ino terkejut melihat lelaki itu muncul kembali di depannya. "Sasuke?"
"Kau, Mau apa lagi denganku?"
"Aku sudah melaporkanmu ke polisi. Kau menyuruh orang membuntutiku, meretas data pribadi dan melakukan pencemaran nama baik dengan menyebarkan isu-isu yang menyebabkan kerugian dari pihakku."
"Tuduhanmu tak beralasan. Aku tidak melakukan semua itu. Aku tak pernah menargetkanmu."
"Jadi kau menargetkan Ino? Ini lebih bagus lagi. Kami berdua telah kau rugikan secara moral dan financial."
Ino terdiam melihat interaksi di antara keduanya. Mengapa Sasuke bisa muncul di saat yang tepat seperti ini dan mengumumkan dirinya menuntut Sai atas isu pelangaran privasi, peretasan data pribadi dan pencemaran nama baik. Permainan apa lagi yang direncanakan Sasuke? Tapi situasi ini menguntungkannya. Dengan adanya tuntutan makan Sai tidak dapat pergi ke luar negeri.
"Ino, Bagaimana menurutmu. Sebagai pihak yang juga ikut dirugikan apa kau akan berdiri untuk membela suamimu atau bergabung denganku?"
"Kau jangan menghasut istriku. Ino tak akan kembali padamu." Sai geram.
"Aku bertanya pada Ino bukan padamu dan jangan coba macam-macam padaku. Polisi sudah mengelilingi tempat ini. Kau tahu Shimura. Pengaruhmu tak ada gunanya dalam situasi seperti ini."
Ino mengerti dia harus mengambil sikap sekarang juga. Dia tak bisa membaca motif Sasuke melakukan ini. tapi bila ia tak mau berpikir lama bila ia bisa bebas sekarang juga maka dia akan memanfaatkannya.
" Aku ingin bebas darinya." Sasuke mengulurkan tangan dan Ino meraihnya.
Sai merasakan kembali mimpi buruk, semua yang telah ia perjuangkan sia-sia. Dia patah hati sekali lagi. Ino mengkhianatinya. " Ino kau tak bisa pergi." Sai hendak meraih lengan istrinya, tapi Sasuke menghalangi.
"Kau tak bisa melarang wanita dewasa membuat keputusannya sendiri."
Sai melayangkan pukulan pada Sasuke, tapi dia terlalu letih dan lemah. Dengan mudah Sasuke menyerang balik dan memukul rahang pria yang tampak begitu marah. Sai terkapar di tanah dan Sasuke berjongkok memberi satu peringatan lagi. "pikirkan baik-baik, kau bisa membuat dirimu berada di posisi yang lebih buruk, bila kau tak hati-hati. Tak hanya Ino. Harta, pengaruh dan reputasimu juga akan ikut lenyap dan kau tahu aku akan tertawa di atas kehancuranmu. Kau salah memilih lawan Shimura."
Ino hanya menatap Sai dengan kasihan. Dia pun melangkah keluar. Ingin segera jauh-jauh dari kedua pria bajingan itu, tapi Sasuke menyusulnya.
"Ino, mau ikut denganku. Aku akan mengantarmu ke mana kau mau."
Ino berhenti berjalan dan memutar badannya menghadap Sasuke. "Sekarang apa maumu? Aku rasa kau datang kemari bukan untuk jadi pahlawan."
"Bukan, aku kemari hanya untuk membuat masalah dengan Shimura, tak ada niat baik untuk menolongmu. Sakura mendapat telepon dari atasanmu dan dia memaksaku untuk bertindak secepatnya. Sekarang aku mengerti mengapa. Sepertinya situasimu dan Sai tak sebaik kita dulu."
"Kalian berdua tak ada baiknya."
Sasuke berdecak "Kau benar, Apa rencanamu sekarang?"
"Memutus semua hubunganku dengannya dan memastikan dia tak akan dekat-dekat dengan anak ini."
"Cukup bijaksana, Ayo masuk."
Ino menaiki mobil sedan hitam yang dikendarai Sasuke. Saat mobil melaju melintasi jalanan kota wanita berambut pirang itu memejamkan mata. Ia merasa mati rasa dan sangat lelah. Wajah terpuruk Sai kembali terbayang di benaknya. Betul pria itu tak pernah menyakitinya tapi apa yang dia lakukan sangat salah. Sekelumit rasa sedih merangkak menyelimuti hatinya. 'Mengapa harus begini?'
A/N : Tinggal satu chapter lagi. Menulis angst membuat aku mewek sendiri. maafkan aku Sai selalu menyiksamu di banyak fanfic-ku, sepertinya aku tipe yang suka karakter favorite menderita.
anyway habis ini tamat fic mana yang enaknya di lanjutin? atau ada yang tertarik baca cerita Isekai?
Stay save at home ya readers sekalian. Masa pandemik ini emang ngebosenin tapi ada hikmahnya juga. banyak penulis balik dari hiatus dan asupan Ino-chan semakin bertambah.
