My World Full of Lemon
Chapter 9
Is there happiness?
Warning : Subtance Abuse, Implisit sex scene, Suicidal Though/ Attempt
Dalam ruangan yang temaram tercium aroma pekat alkohol dan parfum wanita. Vanilla dan lavender yang lembut menguar dari tubuh molek yang sedang menggelinjang. Suara ranjang berderik disusul dengan desah rendah dan seksi memecah kesunyian di malam itu. Dua tubuh berpeluh menjadi satu dalam irama yang disebut birahi. Mencari pemuasan jasmani dalam dunia yang dipenuhi lara.
Pria itu telah terperosok terlalu dalam. Merasa telah kehilangan semuanya. Batinnya tak pernah tenang, Hatinya tak bisa ikhlas. Manakala jari-jemarinya menyentuh seuntai rambut pirang yang tampak rapuh jiwanya menjadi sedikit lebih tenang. akan tetapi dia tak tersenyum melihat sang wanita melenguh merasakan kenikmatan sebab dia tahu dia sedang berpura-pura membohongi dirinya sendiri. Tanpa memedulikan kata hatinya. Ia menggerakkan pinggulnya lebih keras. Melampiaskan rasa frustrasi. Mengubur dirinya dalam liang hangat dengan harapan menemukan secercah kedamaian. Dia berniat menenggelamkan perih hatinya dengan pekikan seorang wanita. Ketika alkohol dan narkotik tak lagi mampu memupus bayangannya. Dia hanya bisa berpura-pura, Memeluk seseorang yang dia inginkan meski dalam imajinasi. mencintainya masih menjadi satu hal yang tak bisa dia lepaskan.
"Ah, It's feel good." Desah sang wanita.
Sai menutup mata. Membiarkan dirinya semakin liar. Sepasang kaki jenjang bersandar di bahunya dan tangannya sendiri mencengkram pinggul yang telanjang.
Nah, Dia tak perlu alasan atau pembenaran. Tak ada yang akan tersakiti kecuali dirinya nanti. Ia mengejar fatamorgana, meraup euphoria yang hanya berlangsung beberapa detik saja sebab dia tahu mengejar kebahagiaan sejati tidak lagi mungkin. Dia berhasil mengapai klimaksnya dan tanpa sadar sebuah nama meluncur dari bibirnya.
"Ino." Bisiknya lirih.
Sepasang mata biru menatapnya dengan terkejut tapi Sai mengharapkan mata biru yang berbeda. Aquamarine.
"Rachelle. Namaku Rachelle."
Wanita berambut pirang itu bergegas turun dari ranjang dan dengan terburu-buru berpakaian. Dia tampak marah. "Aku tahu kau punya masalah, tapi memanggilku dengan nama wanita lain sungguh tidak sopan. Sudahlah aku tak mau berurusan denganmu lagi."
Sai membiarkan wanita itu pergi dan ia tak peduli telah membuatnya marah. Hampa, Perasaan yang amat sangat dia kenal. Ratusan hari telah berlalu dan Ia masih tak bisa lepas dari obsesinya. Ino ada dimana-mana. Bahkan ketika ia tak sadar sekalipun, Sai masih bisa melihat senyum secerah mentari itu. Tak ada alkohol dan narkotik yang bisa menghapus bayangan Ino dari pikirannya. Ia ingin kembali, tapi pada siapa? Wanita itu tak menginginkannya. Sai menarik nafas panjang dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Pria itu menyalakan shower dan bersandar di dinding kaca. Hidupnya tak berbeda dari lubang neraka dan dia benar-benar tersesat tanpa tujuan. Saat seperti ini membuatnya berpikir untuk mati. Tak ada hal berharga yang membuatnya ingin tetap hidup dan ia lelah tersiksa oleh perasaannya sendiri. Mengapa hingga saat ini dia belum bisa merelakan sesuatu yang bahkan tak pernah dia miliki.
Lima tahun sudah Sai pergi meninggalkan Jepang. Lima tahun sudah ia menandatangani surat perceraian. Entah bagaimana kabar Ino. Ia bahkan tidak tahu apa anak itu lahir atau Ino memilih untuk mengaborsinya. Ia tak lagi diperkenan untuk mendekati Ino Yamanaka. Saat itu dia rela kehilangan harta asal dia bisa mempertahankan Ino, tapi kenyataannya meski ia hancur dia tak akan bisa mempertahankan istrinya. Istri yang tak pernah mencintainya. Istri yang memilih pergi dari sisinya, tapi sekarang dia sadar mengapa. Dia bukan pria baik. Mungkin bila dia mendekati ino dengan cara berbeda hasilnya juga akan berbeda. saat ini tak ada gunanya dia berpikir soal andai dan jika. Masa lalu sudah menjadi debu.
Apa gunanya dia sekarang?. Melukis pun dia tak mampu, sebab setiap kali ia mengoreskan pensilnya tanpa sadar ia akan mengambarkan lekukan wajah yang terlalu ia kenal. Mengapa dia jadi begini menyedihkan? Sai memutuskan untuk kembali ke Jepang. Dia tak bisa terus-menerus menjalani hari-hari yang sia-sia.
.
.
Sakura dan Ino duduk di beranda rumah keluarga Yamanaka. Sekarang mereka kembali seperti dulu dua orang sahabat yang kerap kali menghabiskan waktu bersama. Musim semi sudah tiba dan taman keluarga Yamanaka selalu tampak luar biasa. Dipenuhi oleh bunga-bunga yang Ino tanam dan rawat sendiri. Pemandangan di depan mereka menyegarkan mata. Cuaca juga menjadi sehangat persahabatan mereka. Sakura dan Ino senang, setelah semua goncangan yang terjadi satu dekade ini mereka masih bisa tertawa bersama.
"Sudah lama kita tak bertemu."
"Iya, Kita terlalu sibuk."
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat, sibuk membesarkan putraku." Ino menatap sosok bocah mungil yang berlarian diawasi oleh seorang pria. "Bagaimana denganmu? Kapan kalian akan menikah?"
Sakura tersenyum, "Aku dan Kakashi tidak terburu-buru. Kami cukup puas seperti ini. Aku tak menduga akan menemukan kebahagiaan lagi."
"Beruntunglah dirimu. Aku turut senang. Setelah apa yang kita alami aku rasa kita pantas mendapatkan kebahagiaan."
"Apa kau bahagia?" Sakura mengamati temannya dengan serius.
"Inojin sumber kebahagiaanku. Dia adalah segalanya untukku." Saat Inojin lahir ditengah-tengah traumanya. Ino menemukan pengobatan. Cinta tulus tanpa syarat antara ibu dan anak mengisi hatinya yang terluka. Begitu bayi Inojin mencoba menggapai jarinya. Ino tahu ia mencintai anak ini meski wajah Inojin mengingatkan dirinya pada Sai. Ino tak sanggup membencinya seperti yang sudah dia rencanakan. Meski terkadang berat membesarkan anak seorang diri tapi Ino mendapatkan banyak dukungan dari ayah dan sahabatnya. Kadang bocah kecil itu memberikan pertanyaan polos yang tak bisa dia jawab dengan jujur. Dia kerap kali menanyakan di mana ayahnya dan Ino akan memberitahu bocah itu sang ayah mungkin berada di surga. Terkadang dia memikirkan apa yang terjadi dengan Sai. Seiring waktu berlalu Ino kembali mempertanyakan kebencian nya pada pria itu.
"Apa kau tak berkencan dengan seseorang?"
"Tidak lagi, Aku enggan jatuh cinta. Cinta selalu membawa derita."
"Aku juga berpikir begitu setelah hubungan ku dengan Sasuke hancur, tapi kau lihat Kakashi mengubah pemikiran ku. Bagaimana dengan Gaara?"
"Tak ada hal romantis di antara kami. Dia teman baikku."
"Sangat disayangkan, padahal dia pria yang baik."
"Kau tahu sendiri Sakura, perasaan tak bisa dipaksakan."
"Hm…Kau benar."
"Bagaimana ya kabar Sasuke?"
"Aku tak tahu banyak, Mungkin sedang di hutan amazon atau di antartika. Itachi bilang Sasuke melepas semua tanggung jawabnya dan pergi berkeliling dunia. Aku tak percaya pria brengsek dan licik itu malah sibuk mendirikan yayasan kemanusiaan. Ternyata dia bisa bertobat."
"Kita sama-sama mengenal Sasuke sejak taman kanak-kanak. Waktu itu meski dingin dia tak pernah jahat. Mungkin dia menemukan sesuatu yang membuka matanya."
"Kau benar, Dia jadi brengsek setelah menikahi ku. Andai saja aku tidak begitu bodoh waktu itu." Keluh Sakura. "Apa kau tak pernah memikirkan Sai? Kemana dia pergi setelah menjual semuanya?"
"Aku tak pernah memikirkan nya. Tapi kadang aku merasa mungkin Sai sebenarnya butuh pertolongan. Entahlah, yang berlalu sudah berlalu."
"Benar, Biarlah masa lalu hanya menjadi cerita."
"Mama..Mama." Bocah kecil itu berlari diikuti seekor anak anjing pug berwarna cokelat. "Paman Kakashi hebat. Bisa mengeluarkan pakkun dari bajunya."
" Kau membawa anjing itu?"
"Aku pikir Inojin akan senang bermain-main dengan pakkun."
"Tapi Kakashi, Pakkun bukan boneka. Mengapa kau menyembunyikannya dalam jaketmu." Omel Sakura.
Kakashi mengaruk-garuk rambutnya membalas omelan Sakura yang dia tahu selalu galak. "Um..bukankah yang penting dia tidak mati."
"Urhg…" Pelipis Sakura berkedut.
Ino terkikik, "Sepertinya kalian sangat mesra."
"Oh, Sakura tak ada bandinganya. Dia membuat mataku lebam selama satu minggu ketika menemukan aku sibuk membaca."
"Wajar, Kau masih anak buah ku. Apa yang harus aku lakukan menemukan kepala keamanan rumahku yang juga pacar ku meninggalkan pos penjagaan nya demi bermalas-malasan membaca buku porno."
"Sakura, jangan menghina masterpiece buatan tuan Jiraya. Itu buku erotis. Bukan porno dan aku belajar banyak dari situ."
"Belajar Ilmu mesum? Aku tak tahu apa yang membuatku suka padamu."
"Mungkin karena aku tampan dan keren."
"Geez… sekarang kau terdengar seperti temanmu si Guy itu. Sana Jaga Inojin. Awas sampai dia tercebur ke kolam."
"Siap, Boss."
Ino tertawa melihat temannya. "Kakashi membuat mu pusing juga ya?"
"Ha…ah. Namanya juga lelaki. Kapan sih mereka tak menyusahkan."
.
Sai tiba di Jepang disambut dengan mekarnya bunga Sakura. Pria pucat itu tak tahu harus memulai dari mana. Dia tak mungkin mendekati Ino meski telah mendapatkan informasi kalau wanita itu sekarang tinggal bersama ayahnya. Mengenakan celana jeans, t-shirt hitam disertai topi dan kaca mata Sai berjalan menuju taman yang dipenuhi orang-orang yang sedang piknik dan melihat bunga Sakura.
Sai berjalan melewati jalan setapak, tanpa sengaja ia melihat seorang bocah menangis. Dia pun mendekatinya. Sai bingung kenapa tak ada orang dewasa yang menemani bocah itu. Ia melihat balon berwarna merah tersangkut di pohon. Dengan sigap ia melompat meraih balon yang talinya terlilit di sebuah ranting. Beruntung balon itu tidak tersangkut di dahan yang lebih tinggi.
"Apa ini balon mu?" Sai sedikit lemah dengan anak-anak. Tiap kali ia melihat anak-anak ia jadi teringat dengan bayi yang dikandung Ino. Bagaimana nasib anak itu? Bila dia lahir dan tumbuh dengan sehat mungkin anaknya seusia dengan anak ini. sekitar empat tahun. Rambut pirang bocah ini mengingatkannya dengan rambut Ino. Seberapa banyak orang dengan rambut pirang di kota ini?
Bocah yang menangis itu menatapnya. Sai merasa bak tersambar petir. Apa mungkin ini kebetulan? Ia melihat miniatur wajah nya dengan warna rambut dan mata seperti Ino.
"Makasih paman. Mama bilang tak boleh bicara dengan orang asing, tapi karena paman mengambilkan balonku aku harus mengucapkan terima kasih."
'Mungkinkah bocah ini anakku?' Pikir Sai. "Jaga balonnya baik-baik ya, kalau sudah lepas dan terbang ke angkasa kau tak akan bisa menemukannya lagi."
Bocah kecil itu mengangguk-angguk. Kemudian dengan sebelah tangan ia merogoh saku celananya dan menyerahkan permen pada Sai. "Paman terlihat sedih. Ini untuk paman."
"Permen?"
"He-eh, Kalau Inojin sedih pasti sedihnya hilang setelah makan permen."
Sai tersenyum hangat. Anak ini memang anaknya. 'Inojin' Pastinya nama yang menuruti tradisi keluarga Yamanaka. Entah bagaimana dia merasa menemukan cahaya kembali. Dia akhirnya menemukan harapan. Mungkin dia harus tetap hidup untuk melihat putranya tumbuh. Sai mencintai anaknya bahkan sebelum anak itu lahir, tapi tentunya akan sulit. Ino pasti tak akan mengizinkannya bertemu, tapi dia masih bisa menemuinya diam-diam.
"Inojin…Inojin!"
Sai melihat wanita bergaun ungu berteriak dengan panik.
"ah itu mama."
Bocah itu berlari ke arah sang wanita dan langsung memeluknya. Sai cepat-cepat bersembunyi di belakang pohon. Jika Ino tahu dia berada di Jepang, di dekat mereka, Ino pasti akan bersikap defensif. Sai memandangi ibu dan anak itu dengan mendamba. Dua hal yang tak akan pernah dia miliki. Kebahagiaan menemukan sebuah keluarga hanya tinggal ilusi.
Secercah harapan singkat yang Sai miliki sirna seketika. Ketika Inojin memeluk pria berambut merah yang Sai kenal sebagai Sabaku Gaara. Dia lalu sadar tak ada ruang bagi dirinya dalam kehidupan Ino dan Inojin. Mengapa dia berani berharap? Sai teringat kembali tujuannya datang kemari. Dari jauh dia melihat tiga orang itu tersenyum bahagia. Mungkin memang lebih baik seperti ini. Kebahagiaan tidak ditakdirkan untuknya.
Sai melangkah pergi di tengah kelopak bunga Sakura yang berguguran. Menjauh dari keluarga yang terlihat bahagia itu. Dia sudah tahu tak ada lagi yang tersisa baginya dan dia merasa amat lelah menjalani hari-hari tanpa harapan, tanpa arti.
Ia teringat saat pertama kali melihat Yamanaka Ino. Persis dibawah pohon Sakura. Dia melihat gadis itu berdiri dengan wajah sendu dan tanpa sengaja melukisnya. Waktu itu dia hanya remaja sakit-sakitan yang tak bisa bersekolah lantaran harus mendapatkan perawatan. Dia selalu sendirian dan melukis satu-satunya hal menyenangkan yang bisa dia lakukan.
Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelahnya dan mengajaknya bicara.
"Kau pasien rumah sakit ini?"
Sai mengangguk, terlalu malu untuk bicara. Tak ada orang lain selain Shin, Kakeknya dan para suster yang mengajaknya bicara. Kakeknya bilang Shin sudah meninggal, tapi mengapa Sai terus melihat Shin berbicara dengannya dan selalu muncul tiba-tiba. Terkadang ia mendengar Suster mengatakan dia trauma karena menjadi satu-satunya yang hidup dalam kecelakaan itu, tapi Sai tak ingat mengalami kecelakaan.
"Kau tak terlihat sakit, tapi kau memang sedikit pucat."
"Mereka bilang aku sakit di kepala."
"Kalau begitu cepat sembuh ya. Temanku juga sedang di rawat di sini juga dan itu karena salahku makanya aku sedih."
Sejak hari itu Sai tak melupakannya. Gambar yang dia buat menjadi salah satu barang berharga yang dia simpan. Ia tak pernah tahu nama gadis itu Sampai akhirnya ia menemukan identitas gadis impiannya di televisi dan dia seketika ia mulai terobsesi. Ketika Danzo menyerahkan photo Ino sebagai calon tunangannya Sai tidak menolak. Ia merasa takdir berpihak padanya, takdir akan membuat mereka bersama. tapi ternyata dia salah. Wanita yang dia cari selama ini telah mencintai pria lain. Bahkan tidak mengingatnya. Mungkin pertemuan kecil mereka di masa lalu tak ada artinya bagi Ino dan dia bersikeras mengubah keadaan. Berusaha mengubah nasib dengan cara apapun dan dimana dia sekarang? Gaara memiliki semua hal yang seharusnya dia punya. Sai merasa pasrah, dia menerima kenyataan mungkin Ino bukan jodohnya. Meski sudah tahu begitu dia masih tak bisa berlalu dan melupakan Ino sementara sosoknya sendiri telah tergantikan.
Sai melanjutkan langkahnya yang gontai. Dia sudah memastikan Ibu dan anak itu bahagia, tapi ia masih punya keinginan satu lagi. Bicara dengan Ino dan mengucapkan selamat tinggal selamanya.
Ino menggendong putranya, kepanikannya sirna karena Inojin telah ditemukan.
"Inojin, Berapa kali mama bilang jangan main jauh-jauh. Taman ini luas. Bagaimana kalau kami tidak menemukanmu?"
"Aku mencoba mengejar balon yang lepas."
"Sudah, Jangan dimarahi dia hanya anak kecil." Ucap Gaara menengahi.
"Gaara kau terlalu memanjakan anak-anak. Pantas saja Temari enggan membiarkanmu mengajak Shikadai. Kau selalu menuruti keinginan bocah-bocah ini."
"Aku cuma tak suka mendengar mereka menangis meraung-raung kalau tidak dituruti maunya."
"Inojin, Kau bilang balonmu lepas, mengapa sekarang masih ada di tanganmu?"
"Ada paman baik yang mengambilkannya dari pohon. Tadi dia disana." Inojin menunjuk deretan pohon di dekat jalan setapak, tapi Ino tak melihat siapa-siapa.
"Sudah hampir sore, Ayo kita pulang."
"Tidak mau…" Bocah itu mulai ngambek.
"Kenapa tidak mau." Tanya Ino.
"Paman Gaara bilang mau mengajak aku ke rumah Shikadai setelah ini. Aku mau main bareng Shika."
"Aduh, Gimana ini? Gaara mengapa kau membuat janji sembarangan."
"Ayolah Ino, Kita pergi saja ke rumah Nara. Mereka tak akan marah kalau kita berkunjung sebentar."
"Oke, kita kerumah Shikadai."
"Yey.." Inojin bersorak bahagia.
Mungkin dia memang punya kebiasaan menjadi penguntit. Sebulan ini dia diam-diam mengikuti Ino. Mengamati setiap gerak-gerik dan rutinitasnya. Wanita itu masih bekerja di tempat Gaara dan setiap pagi mengantar Inojin ke play group. Dia sudah hafal kemana saja wanita itu pergi, tapi Sai masih belum berani menunjukan wajahnya. Ia masih ingin mengamati mereka lebih lama. Sai memarkirkan mobilnya di depan sekolah Inojin. Ia termanggu cukup lama di depan gerbang. Mungkin karena tampak mencurigakan seorang penjaga keamanan mendekatinya.
"Apa anda perlu bantuan?"
"Bisakah saya menemui seorang anak. Inojin Yamanaka?"
"Maaf, apa anda keluarga? Kami tidak mengizinkan orang asing untuk bertemu anak-anak."
"Aku ayahnya."
"Maaf, Setahu saya anak itu tak punya ayah . tanpa persetujuan Nyonya Yamanaka. Kami tidak bisa membuarkan putranya bertemu dengan anda."
Seorang wanita paruh baya turun dari mobil dan mendekati mereka. "Ada masalah apa Yamato?"
"Tuan ini ingin bertemu Inojin Yamanaka. Mengaku sebagai ayahnya."
"Anda? Mantan suami Ino. Sai Shimura?"
Sai mengangguk. "Maaf, Saya hanya ingin melihat Inojin satu kali saja, tapi kalian benar Ino tak mungkin mengizinkannya."
Tsunade merasa kasihan. Dia merasa lelaki ini tak punya niat buruk. Hubungan Ino dan mantan suaminya pasti amat buruk hingga wanita yang begitu baik hati tega melarang seorang ayah menemui anaknya. "Saya bisa membuat pengecualian. Saya tsunade kepala sekolah play group ini. Mungkin kita bisa bicara di dalam."
Sai memberitahu tsunade keadaannya. Dia tak ingin identitasnya terekspos atau memberitahu Inojin siapa dia. Yang dia inginkan hanya berbicara sebentar saja.
"Sepertinya saya bisa mengabulkan permintaan anda, tapi demi keamanan anda harus bertemu di ruangan ini di bawah pengawasan kami."
"Tidak masalah."
"Yamato, Tolong suruh gurunya membawa Inojin kesini."
Bocah kecil itu bingung, Mengapa tiba-tiba dia diajak pergi dari ruang kelas menuju ruang Nenek Tsunade padahal dia sedang asyik bermain bersama teman-teman. Di sana dia melihat lagi paman yang ada di taman.
"hei, paman."
"Apa kabarmu, Nak?"
"Baik, Apa paman masih sedih?"
"Tidak Inojin. Permenmu waktu itu membuatku senang. Boleh aku memelukmu?"
Inojin menoleh ke arah orang dewasa di dekatnya meminta persetujuan. Dia ragu-ragu sebab mama bilang tak boleh dekat-dekat dengan orang asing.
"Tidak apa-apa Inojin. Paman ini temanku."
Inojin tidak ragu lagi. Ia melingkarkan tangannya yang mungil di pundak Sai yang berlutut di lantai. Sai balas memeluk bocah itu. Dia merasa senang. Ini sudah lebih dari cukup baginya. "Jadilah anak baik."
"Pasti paman, apa pelukan juga membuatmu senang? Kalau aku bermimpi buruk mama selalu memeluk dan menciumku. Lalu monsternya akan pergi."
"Sepertinya mamamu sayang padamu."
"Tentu saja, Aku juga sayang pada mama. Mama juga bilang papa di surga pasti akan menyangiku."
Hal itu membuat Sai sedih. Bagi Ino dia sudah mati. Mungkin lebih bagus Inojin tak tahu sama sekali tentang ayahnya. "Ya. Paman juga yakin. Papa-mu pasti akan menyayangimu. Jangan bilang pada siapa-siapa kau bertemu denganku Inojin. Ini rahasia."
"Paman siapa?"
"Hanya seorang ayah yang kehilangan anaknya. Bila anakku sudah besar dia pasti seusiamu."
" Ah. Anak paman ada di surga seperti papaku?"
Sai mengganguk pelan. "Selamat tinggal Inojin." Sai berdiri melepaskan anak itu. "Terima kasih Nyonya Tsunade sudah membuat pengecualian untukku." Dengan berat hati dia melangkah pergi. Senang dan sedih dia rasakan di saat yang bersamaan. Tidak apa-apa. Inojin akan baik-baik saja bersama Ino.
"kasihan sekali." Komentar Yamato.
"Aku tak tega melihatnya, datang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal." Nyonya Tsunade mendesah. Dalam hidupnya ini bukan pertama kalinya ia melihat kasus seperti ini. "Hanabi, Bawa Inojin kembali ke kelas."
"Baik ibu kepala."
Inojin dengan patuh tidak menceritakan pertemuannya dengan Sai.
Hujan di bulan mei bukanlah hal yang aneh, tapi yang membuat ino sebal mengapa ban mobilnya harus kempes di tengah cuaca buruk seperti ini. Ino melihat jam di ponselnya. Sudah pasti dia akan terlambat menjemput Inojin di tempat penitipan. Buru-buru wanita pirang itu menghubungi Shikamaru yang biasanya menjemput Shikadai di jam yang sama.
"Hallo, ada apa Ino?"
"Shikamaru aku kena musibah, Ban mobilku kempes dan sekarang aku parkir di pinggir jalan."
"Apa aku perlu ke sana membantumu? Tapi aku harus menjemput Shikadai sekarang."
"Aku tahu, karena itu aku menelepon. Aku tak bisa menjemput Inojin. Jadi kau sekalian saja menjemput anakku dan bawa pulang oke."
"Beres, tapi bagaimana dengan mobilmu?"
"Aku akan menghubungi orang lain untuk mengatasinya. Jemput saja anak-anak dulu."
Ino membuka payung dan keluar dari mobil untuk memeriksa ban-nya yang kempes. Dia sama sekali tak tahu cara menganti ban mobil.
"Kenapa tiba-tiba kempes, padahal tadi pagi baik-baik saja." Keluh wanita itu.
Jalan tempat dia berhenti cukup lenggang. Ino menoleh ke kanan dan kiri tidak ada orang berjalan di padestrian. Mungkin dia harus menelpon bengkel, atau mungkin dia bisa memesan taksi dan meninggalkan mobilnya di sini. Tapi ia tak merasa tempat ini aman. Di sekelilingnya hanya ada bangunan apartemen yang terlihat sepi. Di seberang jalan ada café yang buka. Mungkin dia bisa berteduh di sana sambil mencari solusi. Ino bergegas menyebrangi zebra cross dan dari arah yang berlawanan seseorang datang menuju ke arahnya. Café yang dia tuju tinggal sepuluh meter lagi jadi dia tak memikirkan pejalan kaki lainnya.
Belum sempat Ino berbelok, pria yang Ino duga akan menyebrang malah menghalangi jalannya.
"Maaf, Permisi." Ino berkelit dari tubuh yang menghalanginya. Tapi tangan pria itu sudah menggengam lengannya. Sebilah pistol diam-diam di tempelkan ke punggung Ino.
"Jangan berteriak." Bisik si penyerang. "Ikuti aku."
Ino dibimbing menuju gang gelap. Wanita itu takut apa dia akan dirampok, atau jangan-jangan dia akan diperkosa atau dibunuh.
"Lepaskan aku." Ino meronta. "Aku akan memberikan semua isi tasku dan uang asal kau melepaskan aku."
Pungung Ino menempel di dinding dan lelaki bertopi itu mengukungnya dengan memanfaatkan tubuhnya. "Aku tak membutuhkan uang, yang aku butuhkan dirimu. Tapi aku tahu kau tak akan memberikannya."
Suara itu membuat Ino terkejut. "Sai." Ino menarik topi yang menutupi kepala pria itu.
Sai tersenyum kecut. "Hallo Ino." Ujarnya pelan.
"Untuk apa kau kembali?" Ino melirik pistol yang masih berada di tangan kanan mantan suaminya. "Apa kau mau membunuhku?"
"Apa aku berniat begitu?" Sai dengan main-main menempelkan senjata itu di dagu Ino. "Aku yang dulu pasti memilih membunuhmu ketimbang melihatmu bersama pria lain. Paling tidak dengan begitu kau akan selamanya jadi milikku."
Ino dibuat merinding dengan kalimat itu. "Kau masih tetap gila."
"Aku tidak gila." Sai menurunkan pistolnya. "Sebenarnya aku kesini hanya untuk melihatmu terakhir kalinya. Setelah aku pergi aku banyak merenung aku baru sadar ternyata kau benar Ino dan Aku salah. Aku tak sebaik apa yang aku pikirkan."
Butiran hujan membasahi tubuh mereka, tapi Sai sepertinya tidak peduli. Ia hanya ingin bicara pada Ino. Meski harus mengancamnya seperti ini. "Aku pikir aku akan membahagiakanmu, tapi aku sudah lihat kau bisa bahagia tanpa aku."
Ino menatap Sai, dia lebih pucat dan kurus dari yang Ino ingat.
"Lima tahun ini aku berusaha melepaskanmu, tapi aku tetap tak bisa. Apa kau pikir aku suka tersiksa seperti ini Ino? Aku juga tidak ingin terus-menerus memikirkan dirimu. Tapi aku tak kuasa menghentikan perasaanku. Kali ini aku tak berniat memaksamu untuk menerimaku atau membuat rencana busuk lainnya. Aku hanya ingin kau tahu sampai saat ini.."
"Kau tak berhenti mencintaiku." Ucap Ino menyambung kata-kata pria itu.
"Tak ada yang berubah, selain aku telah merelakanmu bahagia." Pedih baginya untuk mengakui tapi yang dikatakan Ino benar. Saat ia melihat ketiga orang itu di taman. Dia merasakan cemburu. Di sisi lain dia juga lega melihat Ino dan anaknya tersenyum meski bukan karena dirinya. Sai tak ingin lagi menguasai. Dia tak berniat lagi untuk mendominasi. Mencintai seseorang tidak harus memiliki tapi mengharapkan kebahagiaan bagi mereka.
Ino melihat semuanya di mata pria itu. Penderitaan, kesepian, kekosongan. Tak ada nyala dan setitik harapan. Ino sadar pria di hadapannya ini sedang putus asa. Tak bisa mundur dan tak bisa melangkah ke depan. Sai terjebak dan tersesat. Saat ini dia tak lagi menganggap Sai menakutkan. Lamanya waktu berlalu membuat Ino berpikir tetang mengapa Sai melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan dia pun menemukan kebenaran dalam argument terakhir mereka.
"Aku sudah bertemu dengannya."
"Siapa?" Tanya Ino.
"Anak kita. Dia terlihat sepertimu dan juga periang. Aku berterima kasih kau merawatnya." Pria itu meluruskan pungungnya melepaskan Ino dan mundur beberapa langkah. "Sekarang aku lega."
Sai memberikan Ino seulas senyum. Dia membidikkan pistol itu ke pelipisnya sendiri. "Selamat tinggal, Ino."
"Tidak…." Dengan cepat Ino bereaksi. Ia lari dan menubruk tubuh mantan suaminya sebelum pria itu sempat menarik pelatuk pistolnya. Mereka berdua terjatuh basah kuyup dalam hujan. Ino memeluk Sai. Dia tak ingin melihat pria itu mati di depannya.
Sai menahan nafas. Air mata mereka berbaur dengan lelehan hujan.
"Maafkan aku." Ucap Ino lirih.
"Untuk apa minta maaf?"
" Karena tidak sanggup membalas perasaanmu waktu itu. Apa yang kau katakan ada benarnya, aku tak pernah memberimu kesempatan atau berniat untuk mengerti. Aku hanya merasa tertipu."
"Apa kau tak berpikir mungkin aku memang tak layak mendapatkannya? Aku kemari tidak untuk menggangu kehidupanmu. Aku hanya ingin lenyap dari penderitaan ini. Hidupku tak ada hubungannya lagi dengan kalian."
"dan berpikir untuk mati dihadapanku lalu membuatku merasa bersalah selamanya? Aku tak akan membiarkanya. Dengar, Kali ini aku memberikanmu kesempatan terakhir."
"Mengapa? Bukankah kau sudah bersama Gaara?"
"Sepertinya banyak orang salah paham, Dia sudah seperti saudara bagiku."
"Ino, Kau tak perlu memaafkanku. Aku tak perlu dikasihani."
"Aku tak ingin mendendam dan terus membencimu. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk berpikir. Saat itu kita sama-sama tak mau mengerti."
"Tapi semua tindakan yang aku lakukan padamu sudah termasuk tindakan kriminal. Aku memang sudah keterlaluan."
"Hal paling buruk yang kau lakukan padaku adalah menghamiliku dan sekarang Inojin malah menjadi sebuah kebahagiaan bagiku. Menurutmu mengapa kau tidak berakhir di penjara bahkan tidak sekalipun dipanggil ke pengadilan? Aku memaksa Sasuke membatalkan tuntutan itu karena aku tak mau melihatmu berada di balik jeruji besi. Aku ingin jauh darimu sembari berharap mungkin kau bisa berubah."
"Kau terlalu baik."
"Apakah kau mau mengambil kesempatan ini. Tidak hanya untukmu tapi juga untuk Inojin."
"Bagaimana denganmu?"
"Entahlah, mungkin aku trauma atau bagaimana. Tak ada pria lain setelah dirimu."
"Aku takut aku akan menyakitimu lagi."
Ino mengengam tangan mantan suaminya. "Aku sudah menjadi lebih kuat. Aku tak akan membiarkanmu menyakitiku."
Sai tak tahu harus berkata apa. Dia datang kemari untuk mati, tapi ternyata Ino malah mengulurkan tangan dan memberikannya harapan.
"Terima kasih. Kali ini aku akan mendengarkanmu. Berusaha memenangkan hatimu dengan cara yang jujur."
Hujan mereda dan Ino masih memeluk Sai.
"Yah, Kita akan baik-baik saja. Jangan biarkan yang lalu terulang."
Tamat.
A/N : Ah.. Lega. Selesai sudah. Awalnya aku berniat mengakhiri cerita ini dengan sad ending. Membuat Sai sebagai full psycho dengan pulang ke jepang dan membunuh Ino. Tapi ujung-ujungnya gak tega. Setelah dipikir-pikir kejahatan Sai bukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan. Dia hanya seorang creepy stalker dan manipulator yang aku pikir mungkin masih bisa berubah. Banyak orang baru mau bercermin setelah gagal. Ada pula yang tetap kukuh dan tidak mau mengakui kesalahan. Syukurnya Sai masuk kelompok yang pertama.
Anyway saya harap pembaca puas dengan fanfic saya yang ini. Sampai jumpa di kisah lainnya.
