Epilogue
"Shikadai kau bawa yang ini." Inojin menyerahkan sapu dan kemoceng pada temannya. "Dan kau Cho-cho bantu aku membawa ini." Remaja pirang itu menunjuk ember dan kain pel yang tergeletak di lantai.
"Mendokusai, Katamu kita akan bermain tapi mengapa kau mengajakku untuk kerja bakti."
"Aku tak mau bersih-bersih." Keluh Cho-cho Akimichi.
"Kalian sahabatku tidak? Mamaku bilang kalau kita membersihkannya, ruangan itu bisa kita gunakan sesuka hati. Artinya kita bisa latihan musik, main game, rebut-ribut tanpa perlu diusir dan aku akan punya studioku sendiri."
Inojin kerap kali berdebat dengan papa-nya soal seni. Meski anak itu belajar melukis dari Sai pada akhirnya Inojin mengembangkan art-style nya sendiri. Inojin bahkan menekuni seni digital yang menurut ayahnya bukan karya seni sejati. Inojin mengagumi papa nya, tapi sebagai bocah remaja labil dan berdarah panas dia malas mendengar kritikan papa atau omelan mama.
"Ruangan yang mana? Yang di basement dan selalu terkunci itu?"
"Yup-Yup."
"Ih, Bukannya itu gudang. Kalau ada kecoa bagaimana."
"Aku janji akan membunuhnya untukmu. Itu bukan gudang, katanya itu studio lama papa ku."
Ketiga remaja itu berjalan menuruni tangga. Inojin memasukkan kunci yang tampak berkarat ke anak pintu. Ketika dibuka pintu kayu itu berderit dengan keras. Melirik ke dalam ruangan yang gelap, Mereka disambut oleh lukisan Komainu bermata merah yang terlihat hidup.
"Hi..i… apa itu?" Cho-cho merasa ada yang bergerak di kegelapan. Belum lagi ada suara berderak.
Inojin, Aku takut." Gumam cho-cho.
"Itu cuma lukisan. Aku yakin banyak tikus di sini." Inojin menyalakan senter untuk mencari saklar lampu. Aroma apek, debu dan cat kering tercium oleh hidung mereka.
"Woah, Kotor sekali." Komentar Shikadai melihat kondisi ruangan itu. Debu menumpuk, sarang laba-laba muncul di setiap sudut. Dindingnya kusam dan berjamur. "Ini dibersihkan seharian pun gak akan bersih."
"Maklum saja, tempat ini diabaikan lebih dari lima belas tahun."
"Kenapa sampai selama itu."
"Papa bilang kuncinya hilang dan dia sudah malas melukis ditemani cahaya buatan jadi dia membuat studio baru di lantai atas."
"Banyak sekali lukisannya" Komentar cho-cho menatap ke empat dinding yang dipenuhi puluhan lukisan. Ada yang kondisinya masih bagus dan ada yang sudah rusak karena kelemban. "Bukannya ini bibi Ino?" Cho-cho menunjuk portrait wanita bergaun putih yang terlihat seperti peri. "Oh sepertinya yang itu juga. Banyak sekali gambar bibi Ino. Paman Sai memang romantis."
"Jadi bagaimana Inojin? Kita bersihkan tidak? Kalau aku sih malas." Ucap Shikadai sambil mengelilingi ruangan. Tanpa sengaja dia menyenggol sebuah lukisan besar yang cuma disenderkan saja di dinding. Tidak digantung menggunakan paku seperti yang lainnya.
"Brr..aa.K " Kanvas itu terjatuh dan memunculkan sebuah pintu.
Otak lancar Shikadai langsung bekerja "Sepertinya pintu ini sengaja disembunyikan. Ada apa ya di dalam sana?"
"Paman Sai punya rahasia. Ayo kita lihat." Cho-cho juga ingin tahu ada apa di balik pintu.
"Paling juga terkunci." Inojin memutar gagang pintu dan secara mengejutkan pintunya terbuka. "Bagaimana kalau aku saja yang masuk duluan. Kalian tunggu di sini oke."
Inojin menyalakan senternya kembali. Ruangan itu tidak besar dan ia menemukan foto-foto mamanya sewaktu muda terpajang memenuhi di dinding. "Mama pernah cantik toh, pantas papa tergila-gila, tapi ini mah keterlaluan namanya. Kayak orang nge-fans berat." Komentar remaja pirang itu sambil menyusuri ruangan. Inojin tahu mamanya mantan artis. "Mujur sekali ya papa, Menikah dengan Idolanya."
Inojin lalu menemukan sebuah lukisan tertutup kain putih yang telah usang. "Kira-kira ini lukisan apa ya? Sampai ditutup seperti ini. Jangan-jangan lukisan terkutuk." Meski takut tapi dia penasaran. Inojin pun menarik kain pembungkus itu. Dia sama sekali tidak siap melihat apa yang terpampang di depannya.
"Tidak!" Inojin berlari keluar dengan wajah pucat dan menutup pintu dengan kencang. Kedua sahabatnya terkejut.
"Kau melihat apa?" Tanya Shikadai.
"Kalian tak boleh masuk. Oh aku harap aku tidak melihat itu. Mengerikan sekali."
"Setan?"
"lebih buruk dari setan, dan sekarang aku tak bakal bisa hidup tenang lagi."
.
.
Sai kembali dari kebun dengan membawa sekeranjang lemon. Ino suka bercocok tanam dan hobi istrinya itu menular kepadanya. Jadi mereka berdua di sela-sela kesibukan bekerja dan mengurus anak menyempatkan diri menanam bunga, sayur dan buah.
Ino menyerahkan segelas air dingin pada suaminya. "Kau pasti lelah. Apa rumputnya sudah disiangi?"
"Belum, Nanti aku lanjutkan pekerjaan di kebun. Aku lihat banyak lemon jadi aku petik. Mungkin anak-anak akan menyukai lemonade di hari sepanas ini."
Ino lanjut menyiapkan makan siang mereka. Karena hari sangat panas dia mengikat rambutnya dan hanya mengenakan daster tipis berbahan katun.
"Apa kau ingat hari apa besok?"
"Hari buang sampah bukan?"
"Tega sekali kau istriku. Besok itu hari pernikahan kita."
Alis Ino mengerut " Pernikahan yang mana? Yang pertama atau yang kedua?"
Benar mereka menikah dua kali. Setelah Sai kembali ke Jepang, Dua tahun kemudian dia melamar Ino lagi. Kala itu tak ada pesta pernikahan mewah. Mereka memilih melakukannya dengan sederhana hanya dihadiri oleh teman Ino dan keluarga. Tentu saja awalnya ada banyak ketegangan antara Sai dan sahabat-sahabat Ino. Mereka bahkan takut Ino hanya akan mengulang kisah pilu, tapi sekian tahun berlalu Sai memang telah berubah.
"Kau tahu sendiri pernikahan pertama kita adalah bencana, Aku berpikir bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat berdua? Bukankah sudah lama kita tidak berkencan."
Ino meletakkan pisau nya dan melangkah ke kursi tempat sang suami duduk. Tiba-tiba wanita itu duduk di pangkuan Sai dan mengalungkan lengannya di leher sang suami. "Kangen nostalgia?"
Sai mengecup ujung hidung Ino. Setelah sekian lama menikah dia bersyukur mereka masih bisa mempertahankan romantisme dan keintiman meski jarang-jarang. "Kita belum terlalu tua kan?"
"Nyaris setengah abad." Ujar Ino terkekeh.
"Anak-anak itu di mana? Bisa-bisa mereka syok melihat kita mesra-mesraan begini."
"Aku meminta mereka membersihkan basement. Dulu kau bilang kuncinya hilang dan malas mengganti kunci, tapi kemarin aku bersih-bersih di kantormu aku menemukan kunci itu."
"Ini gawat."
"Kenapa gawat."
"Ruangan itu tak tersentuh. Aku membiarkannya sama seperti dulu."
Ino berdiri berkacak pinggang. "Aku pikir kau sudah membuang semuanya ketika memmintaku kembali ke rumah ini."
"Aku masih tak ikhlas berpisah dengan koleksi dan karya seni ku."
" Aduh sebaiknya kita melihat mereka."
Ino dan Sai menuruni tangga dan mendengar teriakan putranya.
"Sepertinya kita terlambat." Ujar Sai pasrah.
Inojin tak berani menatap Ino, tapi remaja itu memberikan tatapan ngeri pada Sai. Dia benar-benar berharap bisa membasuh mata dengan pemutih, atau sekalian amnesia mendadak.
"Inojin ada apa?" Tanya Ino.
"Inojin tak mau bilang pada kami ada yang ada di dalam." Ucap Cho-cho sedikit kecewa.
"Papa, jelaskan apa yang ada di dalam itu?"
"Ah, Itu benda-benda yang aku koleksi ketika muda dulu."
"Tak usah terkejut Inojin, papa mu selalu rajin membuntuti mama diam-diam."
"Woah, romantis sekali. Aku juga ingin dikuntit cowo tampan" Komentar Cho-cho dengan mata berkilauan. Gadis itu selalu suka mengkhayal punya pacar.
Ino tertawa, karena dia tahu kenyataan tak seindah khayalan gadis remaja.
"Bukankah menguntit itu illegal?" Tanya Shikadai.
"Dan juga mengerikan. Oh papa lebih baik aku tidak tahu sejarah kalian." Keluh Inojin.
"Ayolah Inojin, Papa mu hanya sedikit anti-mainstream dalam mendekati gadis pujaannya." Bela sang Ibu.
"Aku pastikan aku tidak akan meniru cara papa yang ini."
"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan Inojin, Tapi bukan kah buku gambarmu penuh dengan gambar Himawari." Celetuk Cho-cho tanpa diminta. Wajah Inojin langsung jadi merah jambu.
"Jangan sampai Boruto tahu kau diam-diam mengamati hime-chan."
"Arrgh kalian ini, sudah kita pergi saja ke tempat lain. Tak usah bersih-bersih." Inojin cepat-cepat keluar sebelum sahabatnya mengolok-olok dirinya lebih lanjut."
"Sepertinya anak kita sedang puber" Ino menggulum senyum melihat trio Ino-shika-cho pergi.
"Ino, Apa semua ini tak membuatmu teringat kenangan buruk?" Sai melangkah masuk ke ruang tempat mereka berdebat sebelum Ino memutuskan meninggalkannya.
"Tidak lagi, Sebab sekarang kita memiliki lebih banyak kenangan manis."
"Terkadang aku masih tak percaya kau mau menerimaku lagi. Tempat ini menjadi bukti semua dosaku padamu."
Ino mengandeng tangan suaminya. "Aku sudah memaafkanmu waktu itu. Aku rasa keputusanku sudah tepat dan sekarang aku punya suami hebat."
"Kau menggubahku."
"Salah, Kau menggubah dirimu sendiri. Bila saja kita tak berkaca dan mengakui kesalah masing-masing. Aku pikir kita tak akan seperti sekarang."
"Meski tak selalu berjalan mulus aku sangat bersyukur. Waktu kau memperkenalkan aku pada Inojin, aku takut dia akan membenciku, tapi dengan tenang dia memelukku dan memanggilku papa. Kadang aku merasa tak pantas menjadi ayahnya."
"Sai, Anak itu menjadikanmu sebagai panutan. Jangan biarkan kesalahan di masa lalu membuatmu berkecil hati. Kau sudah mendedikasikan diri untuk kami dan aku selalu bersyukur karena kau menjadi suamiku."
"Mengapa?" Tanya Sai polos.
Ino memasang wajah jengkel. "Apa kau perlu affirmasi?"
Sai mengangguk pelan. " Mendapatkan pujian darimu selalu menyenangkan."
"Kalau begitu dengar baik-baik karena aku tak akan mengulanginya. Kau membuatku sangat nyaman karena tak pernah sekalipun melirik wanita lain. Kau selalu memprioritaskan aku, membuatku merasa bagaikan ratu."
"Terus?"
"Aku tak perlu complain urusan ranjang karena kau tahu betul apa yang mesti dilakukan dan Sai Shimura, setelah bertahun-tahun dirayu, diperhatikan dan dimanjakan mau tidak mau aku jadi mencintaimu."
Sai tersenyum lebar. Ia menarik Ino dan menciumnya. "Usaha tak mengingkari hasil."
"Atau mungkin kau cuma beruntung."
"Ya, Beruntung aku mencintai wanita yang baik hati dan pemaaf."
"Ngomong-ngomong apa yang di lihat Inojin tadi sampai dia berteriak seperti itu."
"Aku rasa itu." Sai menunjuk lukisan keramatnya.
"Oh tuhan pantas dia syok, bakar saja lukisan itu aku juga tak ingin melihatnya."
"Jangan, itu salah satu karya terbaikku."
"Pokoknya jangan sampai ada yang lihat lagi."
"Aku akan menyegel ruangan ini rapat-rapat."
Trio remaja yang batal bersih-bersih itu terlihat nongkrong di kios es krim. Cho-Cho sibuk menghabiskan ekstra larga parfaitnya sembari mendesak Inojin memberitahu isi ruangan rahasia yang mereka temukan.
"Kalian benar-benar ingin tahu?"
"Apa yang membuatmu berteriak sampai seperti itu?" Tanya Shikadai
"Lukisan nude mamaku. Arrgh…Aku merasa akan jadi cacat seumur hidup."
" Untung kita tak ikut masuk" Gumam Shikadai penuh rasa syukur.
A/N : Ini bonus chapter. Maaf buru-buru Up dan gak aku edit lagi. Sampai jumpa di cerita lainnya.
