ATTACK ON TITAN © Hajime Isayama
SIZE © Himevaille
"Ah.. Levi.. Levi.."
"Ghh.. Erenn.."
"Ahhh.."
Dua pemuda memadu kasih terengah-engah, menikmati klimaks yang menggetarkan tubuh. Penis dicabut, pemuda yang mendominasi bergerak kesamping untuk berbaring.
"Levi! Aku sudah bilang kan aku ada kelas pagi ini"
"Kau pikir aku tidak ada kelas?"
"Lalu mengapa kau memaksa melakukannya?"
"Tch. Berisik, bocah. Kau juga menikmatinya, kan?"
Eren bungkam, pemuda yang lubangnya ditusuk nikmat berbalik membelakangi sang seme.
Levi mendekat, memeluk tubuh telanjang itu dibalik selimut hangat. CUP. Satu kecupan dipundak yang berkeringat.
"Ohayou"
"O-ohayou, Levi"
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Olahraga dipagi hari memang sangat menyehatkan, bukan? Ya, sehat fisik dan batin.
.
.
.
"Eren!"
"Oh, Armin!"
Eren berlari kecil menghampiri sahabatnya yang telah menunggu di depan gedung utama Universitas Maria.
"Kukira kau tidak hadir hari ini"
"Hehehe aku hanya telat bangun"
Eren Yeager dan Armin Arlert, mereka bersahabat sejak SD dan akhirnya memutuskan masuk ke universitas yang sama. Sebenarnya Eren yang membuntuti Armin. Ia tidak terlalu pandai belajar dan tidak ingin repot, bersama dengan Armin ia akan mudah mencontek.
"Ayo kit—"
Ucapan Armin terhenti. Ia menatap kearah belakang Eren.
Eren berbalik dan mengikuti arah pandang Armin.
Dari arah gerbang, dosen paling popular di universitas tersebut melangkah masuk. Khalayak mahasiswi tidak berhenti menatap dan mengaguminya.
"Ohayou gozaimasu, Sir Levi" sapa Armin kala dosen itu melewatinya.
"Hm"
Levi melirik sejenak pada Eren yang sengaja membuang pandangan kearah lain. Eren memang selalu menghindari Levi di area kampus. Alasannya sederhana, hubungan dia dengan dosen itu yang sekaligus adalah kekasihnya tidak diketahui siapapun.
Ya, Levi dan Eren berada di universitas yang sama, tetapi sayangnya mereka harus berbeda gedung.
Eren mengikuti Armin mengambil jurusan Ekonomi Industri yang fakultasnya terletak di gedung C, sementara Levi mengajar program studi Matematika Terapan di gedung A. tetapi keduanya tidak pernah mempermasalahkan itu, toh selesai belajar mengajar mereka tetap akan bertemu di apartemen yang mereka tinggali.
.
.
.
"Oi, Eren, cepatlah. Menu hari ini adalah steak yang lezat"
"Ya, ya, kau dan Jean duluan saja. Aku ingin ke toilet"
Eren berjalan malas meninggalkan ruang kelasnya. Langkahnya diseret-seret menuju toilet di ujung koridor. Mata kuliah hari ini bersama sangat menyebalkan.
"Huh.. harusnya aku bolos saja hari ini" keluh Eren sembari kemaluannya mengucurkan air mancur.
"Bolos?"
GLEK! Sontak Eren terkejut. Suara dari belakangnya sangat ia kenali. Buru-buru ia mengancing celananya kemudian berbalik dan mendapati seseorang bersandar dipintu bilik toilet.
"S-sir.."
"Tch. Sudah kubilang, Levi saja"
"Tapi ini dikampus"
Levi memang tidak terlalu suka kekasihnya harus memanggilnya dengan panggilan formal. Bagi Levi, hal itu sama saja dengan menegaskan perbedaan umur diantara mereka. Levi sudah berusia 34 tahun, sementara Eren hanya 19 tahun.
"Hanya kita berdua disini"
"T-tapi—"
"Tidak ada yang akan datang ke toilet pojokan selain bocah nakal seperti kau dan teman-teman mu"
"Tapi mengapa Levi ada disini? Tempatmu kan di gedung A"
"Erwin memintaku menemuinya dan kebetulan aku melihatmu berjalan ke toilet" jelas Levi singkat.
Levi melangkah lebih dalam dan mendekati Eren yang was-was.
"Levi, jangan macam-macam"
Seolah mampu membaca pikiran dosennya itu, Eren pun berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding toilet.
"Sampai kapan kau akan terus menghindariku di kampus?"
"Tentu saja sampai aku tamat"
Levi berhenti. Ia berdiri angkuh dengan melipat tangan didada. Eren menghindari tatapan Levi, ia tidak sanggup menatap penampilan Levi yang menggoda iman. Celana kain hitam dan sepatu pentofel, kemeja putih dengan lengan dilipat hingga ke saku. Levi pantas di idolakan siapapun.
"Kau tahu aku tidak keberatan jika hubungan kita terekspos"
"Ap—" Drrtt.. Drrtt.. Ucapan Eren terpotong oleh getaran ponsel disaku celananya.
Eren tidak menjawab panggilan telepon yang masih menyala, ia memilih menunjukkan layar ponsel itu kepada Levi.
"Tch" Levi mendecih tidak suka melihat nama yang terpampang di ponsel Eren. Mikasa Ackerman, masih satu marga dengan Levi tetapi tidak akrab dengannya. Dan lagi, Mikasa menyukai Eren. Salah satu alasan mengapa Levi tidak akan pernah akrab dengan gadis itu.
"Maaf, Levi. Kita bicarakan saja dirumah nanti"
"Hooh, kau memiliki janji dengan si bedebah itu?"
"Jangan menyebut Mikasa seperti itu! Dia telah banyak membantuku"
"Jadi—" Drrt. Kini giliran ponsel Levi yang bergetar. Tidak menunggu lama setelah matanya menatap panggilan yang diterima, Levi menempelkan ponselnya ke telinga.
"Levi, kau dimana? Jangan bilang kau lupa unt—"
"Ya. Aku segera kesana"
Suara khas diujung telepon terdengar oleh Eren. Eren kenal pemilik suara itu. Eren membuang nafas kasar lalu berjalan melewati Levi tanpa memandang kekasihnya tersebut.
"Oi, Eren.."
"Levi juga sangat dekat kan dengan Sir Erwin" ucap Eren sebelum meninggalkan toilet.
.
.
.
Padahal Eren mengawali pagi dengan baik, tetapi kejutan selalu saja tidak dapat diprediksi. Kelas berlanjut dan Eren sama sekali tidak berminat menghiraukan.
Hubungan Levi dan Eren telah berjalan selama dua tahun sejak Eren masih menjadi mahasiswa baru. Semua bermula ketika Eren mendapat hukuman membersihkan gedung olahraga hingga larut malam. Kebetulan Levi juga sedang mengerjakan laporan bulanannya. Tanpa sengaja mereka bertemu di gerbang depan saat keduanya selesai dengan kegiatan masing-masing.
Eren memang sudah lama menyoroti Levi. Gossip tentang dosen terpopuler benar-benar menyita perhatiannya. Sementara Levi, sejak upacara pembukaan untuk mahasiswa/i baru telah penasaran dengan sosok Eren Yeager. Malam itu keduanya berbincang singkat hingga halte di persimpangan.
Sebelum berpisah, keduanya bertukar nomor ponsel dan setelah itu hubungan mereka mulai terjalin.
Drrt Drrtt
1 Pesan Diterima
Lamunan Eren buyar. Dengan hati-hati ia membuka ponselnya dari balik buku.
From: LEVI
Aku akan pulang larut. Tidak perlu menungguku, istirahatlah duluan.
Pesan singkat itu menambah buruk suasana hati Eren mengingat Levi tadi menerima panggilan dari seseorang. Ya, Eren cukup cemburu atas kedekatan Levi dengan salah satu rektor kampus, Erwin Smith. Bahkan Eren lebih mengkhawatirkan hal tersebut daripada kepopuleran Levi dimata para mahasiswi atau dosen wanita.
Tentu saja itu karena Levi adalah gay.
.
.
.
Levi duduk diam di sofa ruang tengah. Ia lirik jam dipergelangan tangannya, pukul 09.20 PM. sejak tadi ia tidak dapat berkonsentrasi karena pikiran penuh dengan sang kekasih. Levi menerka-nerka Eren pasti salah paham dan berfikir yang tidak-tidak. Levi putuskan pulang secepatnya tetapi sayang, ternyata apartemen nya kosong.
CKREEK..
"Tadai—"
"Kemana saja kau, bocah?"
Eren yang baru tiba membeku didaun pintu. Manik hitam dari balik sofa mendelik kearahnya.
"L-Levi? Bukankah kau bilang kau akan pulang larut?"
"Hoh, jadi kau juga ikutan pulang larut?"
"Bukan begitu.." Eren menutup pintu, melepas sepatunya dan melenggang masuk kedalam. "… Mikasa memaksa untuk makan malam dirumahnya, jadi—"
"Kau kerumahnya?"
Levi berdiri. Meskipun ia tidak lebih tinggi dari Eren, namun tatapan nya sangat tajam.
"Oh, ayolah, Levi. Kau sendiri juga menghabiskan waktu dengan Sir Erwin kan"
"Aku sudah tiba sejak pukul 5 sore"
Eren terdiam. Jam 5 sore adalah jam pulang para dosen. Itu berarti Levi pulang tepat waktu?
"Tapi kau bilang..—"
"Ya. Kubatalkan"
Eren jadi merasa tidak enak. Seharusnya ia tidak menerima ajakan Mikasa hanya gara-gara ingin melampiaskan mood buruknya.
"Sudah kubilang berkali-kali, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Erwin atau siapapun selain dirimu, bocah sialan" Sejujurnya Levi lelah. Ia malas memperdebatkan hal ini setiap waktu. Selalu saja nama Erwin atau Mikasa akan hadir ditengah-tengah hubungan mereka.
"Aku juga tidak ada hubungan apa-apa dengan Mikasa"
"Kuharap kau tidak lupa pernah mengatakan kau tidak 100% gay"
"I-itu.."
Eren tergagap. Benar ia pernah berkata demikian, tetapi lambat laun seiring hubungan nya dengan Levi, Eren juga tidak memikirkan bahwa ia akan menyukai wanita lagi.
"Tetapi saat ini aku milikmu, Levi"
Levi tidak punya segudang kesabaran untuk menghadapi bocah labil seperti Eren. Meski demikian, tidak sedikitpun terfikir olehnya untuk mengakhiri hubungan ini. Eren terlalu manis dan attractive untuk ditinggalkan.
"Hooh.." Levi mendekati Eren. Tangan nya meraih kerah kemeja yang Eren pakai dan dengan satu tarikan, kepala yang lebih tinggi itu sejajar dengan kepalanya.
"Kalau begitu, buktikan bahwa kau milikku" bisik Levi tepat ditelinga Eren.
.
.
.
Levi tidur terlentang diatas kasur, ia menunggu aksi Eren yang akan membuktikan bahwa lubang Eren tidak akan ditusuk penis lain, atau penis Eren tidak akan menusuk lubang manapun.
Egois, Levi tidak peduli. Ia terlalu menyukai Eren.
Eren bergerak ragu menaiki ranjang. Pesona Levi membuatnya gugup. Satu kaki nya melangkahi tubuh Levi, membuatnya menindih sang seme. Tangannya yang bergetar ia paksa untuk membelai wajah tampan Levi. Perlahan, ia mendekatkan bibirnya.
Ranum bertemu ranum, keduanya terpaut candu. Eren mencium seraya menjilat bibir Levi meminta akses lebih dalam. Levi berikan, ia turut mengeluarkan lidahnya dan mengajak lidah Eren berdansa.
Mereka saling melumat, bunyi kecupan basah memenuhi ruangan. Levi terlalu alih bermain lidah, Eren sampai kewalahan meski merasa nikmat.
Ciuman terhenti. Levi menatap lekat pada wajah Eren yang merona.
"Shit! He's cute!"
Eren meraih ujung kaos yang Levi kenakan, ia menarik nya keatas untuk dilepas. Detik berikutnya, Eren menelan ludah susah payah, posisinya dari atas dengan jelas memandang abs Levi yang luar biasa.
"Kau suka?" Levi menarik smirk dibibirnya.
"L-levi!"
Levi puas mendapati Eren nya malu-malu namun terpana.
"Lanjutkan"
Eren mengangguk kecil. Jemarinya mulai menelusuri dada bidang Levi. Satu tangan mengusap perpotongan leher Levi dan satu lagi bermain-main disekitar area dada.
Selama ini Levi selalu mendominasi permainan mereka, wajar saja Eren sangat malu apabila harus ia yang beraksi.
Eren mulai mengecup setiap inci dari tubuh Levi. Aroma khas pria itu menaikkan gairahnya. Eren sangat suka dengan aroma Levi. Terasa mendebarkan dan sexy.
Eren mencium dan menjilat perut kotak-kotak yang terawat dengan baik. Levi bisa merasakan darahnya berdesir menerima sentuhkan Eren.
Eren kembali meneguk ludah. Selankangan Levi sudah membola. ia usap perlahan dari balik celana, menggoda sang empu untuk perlahan merasa nikmat.
Tidak sabar dengan Eren yang terlalu malu-malu, Levi membuka sendiri kancing celananya. Eren paham, ia membantu Levi melepas celana yang dipakai.
Sekali lagi, Eren harus meneguk ludah susah payah. Penis Levi tegang sempurna, kepala penis yang tebal bak jamur sangat memukau. Ditambah aroma jantan yang memabukkan.
Eren mengenggam penis Levi. Hangat dan keras. Kemudian tanpa aba-aba Eren memasukkan penis besar itu kedalam mulutnya.
"Shhhh.. ohh.." Desis Levi.
Eren membasahi penis itu dengan lidahnya, menjilat dan menggoda dengan sensual. Jempolnya membelai-belai kepala penis yang berkedut.
Levi menyanggah tubuh dengan lengan, ia ingin melihat bagaimana kebanggaannya dilumuri saliva milik sang kekasih.
Entah mengapa ditatap seperti itu malah membuat Eren semakin terangsang. Celananya juga terasa semakin sesak. Eren memberanikan diri membalas tatapan Levi sembari menghisap kuat-kuat.
"Ghhh.. shh"
Eren menaik turunkan kepalanya dengan cepat. Pipinya dicekungkan agar hisapannya semakin kuat. Eren suka melihat ekspresi Levi yang kenikmatan karena perbuatannya.
"Oh! Eren.. You shitty brat"
Eren menyudahi acara blow job. Ia membuka pakaiannya sendiri. Setiap gerak geriknya tidak lepas dari tatapan Levi yang siap melahap dirinya.
Lega membebaskan juniornya, Eren kembali menindih Levi. Ia sendiri tidak tahan lagi, ia menginginkan Levi.
Eren segera memposisikan penis Levi ke lubang anal nya.
"Nghh.." perlahan, sedikit demi sedikit lubangnya terbuka. Eren selalu kesusahan menghadapi penis besar Levi.
"Aghh.. besar sekali, LEVIII"
"FUCK!"
Levi mencengkram kuat pinggang Eren. Sialan, lubang Eren tidak disiapkan terlebih dahulu dan tiba-tiba melahap seluruh penis Levi memberi sensasi yang luar biasa. Levi bisa merasakan penisnya langsung bergesekkan dengan dinding-dinding dalam lubang Eren.
Eren menengadah menikmati penis Levi yang memenuhi lubangnya. Meski bukan pertama kali melakukan hubungan seks dengan Levi, tetap saja penis Levi membuatnya deg-deg an.
Setelah beberapa lama diam, Eren mulai menggoyangkan pinggulnya, memperat sedotan dalam lubangnya.
"Oi, Eren ggh.." Levi mengeram nikmat.
Eren menaik turunkan pinggang, sensasi keluar masuk penis dilubangnya sudah membuat kepalanya kosong. Sungguh nikmat.
"Levi.. Levi.."
Seolah memberi minyak pada api, Eren mendesahkan nama Levi dengan sensual. Menambah panas permainan mereka.
"SHIT! Kau.." Alis Levi bertaut, sesekali ia memejamkan mata.
".. Kau selalu menghindariku dikampus, tetapi lihat atraksimu saat ini, bocah"
"Ah ah.."
Eren tidak mampu membalas komentar Levi. Mulutnya terlalu sibuk menyuarakan desahan manja. Persetan dengan hal lain, kenikmatan telah menguasai dirinya.
Levi tertarik untuk meraih penis Eren yang bergelantungan mengenai perut Levi sesuai ritme goyangan Eren. Levi kocok penis Eren dengan cepat membuat tubuh Eren melengkung indah dan otot analnya yang menguat.
"AH LEVI.."
"Hmm nghh.."
Levi tidak tahan lagi, pinggulnya ikut bergoyang menusuk lubang Eren dengan keras.
Mata Eren terbelalak, tabrakan kulit terdengar keras kala penis menyodok hingga dalam.
"AH AH AH.. LEVI LEVI"
"Eren.."
Sodokan semakin kuat, Eren hampir mencapai klimaksnya.
"Tch.."
Levi juga demikian. Pinggulnya semakin cepat, tangannya juga mengikuti irama.
"AHHH.." sperma menyembur ke perut Levi dari penis Eren sangat banyak.
"OH FUCK" Levi mengeram, penisnya seperti diperas dengan kuat. Beberapa sodokan kasar dan tubuh Levi bergetar seiring klimaks yang datang.
Lubang Eren terasa hangat oleh cairan. Eren ambruk ke dada Levi. Ia berusaha menetralkan nafasnya.
"Hah.. hah.."
Levi memejamkan mata. Nikmat masih memenuhinya. Ia bersumpah tidak akan menyerahkan Eren kepada siapapun apapun tantangannya. Ia telah mabuk cinta oleh kenikmatan yang hanya bisa ia dapatkan dari kekasihnya.
"Levi.."
"Hmm"
Eren tidak tahu mengapa ia merasa nyaman dengan Levi, mengapa ia sungguh menyukai pria yang beda 15 tahun dengannya itu. mungkin karena penis besar Levi sangat memuaskan, atau karena pesona Levi yang tidak bisa dihilangkan. Yang jelas Eren tidak akan mau kehilangan Levi.
"Sekali lagi"
Levi sempat tersentak sedikit. Bocah kesayangannya itu selalu saja menggerutu jika Levi memaksa bermain, selalu saja menghindar dari Levi di publik, selalu saja malu-malu dan memancing emosi Levi, tetapi nyatanya, Eren ketagihan. Dan Levi tidak keberatan berapa kalipun.
"Kau.. Bocah binal.."
Tidak peduli berapa banyak sperma yang harus mereka kuras atau berapa banyak posisi yang mereka coba, Levi dan Eren sangat mencintai satu sama lain dan mereka membiarkan gairah menambah bumbu pada hubungan mereka.
Malam itu diakhiri dengan selimut hangat yang membalut dua tubuh yang berpelukkan.
"Aku milkmu, Levi"
"Aku tahu. Kau milikku, dan aku milkmu"
.
.
.
END
Minna-san, gokigenyo~
Terimakasih buat yang mau meluangkan waktu untuk membaca/ mereview/ memfavorite/ memfollow. Saya sangat senang dan menghargai itu ^^
Btw, Levi itu my top 1 husbando loh hehe.. pesona Levi memang bahaya ya!
Minna-san tetap jaga kesehatan dan terus semangat ya!
Arigatou Gozaimasu. ^^
