Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Typo bertebaran, EYD parah,
Dont like? Up to you!
Happy Reading
CHAPTER 1
Konoha high school 2020
Keheningan menyelimuti, entah kapan ia terbiasa dengan keheningan yang ada di dunia ini.
"ohayou Sakura-chan, Hinata-chan. " Sapa seorang gadis manis yang memiliki mata indah bernama Yamanaka Ino.
"ah ohayou Ino-chan. " jawab Hinata menoleh kearah sumber suara yang Memanggilnya, sedangkan seseorang lagi yg di sapa hanya mengangguk kecil untuk menjawab sapaan dari teman nya.
Ino yg sudah terbiasa dengan sikap temannya yang satu ini tanpa basa basi langsung duduk di meja sakura dan mengambil buku yang sedang dibaca oleh sakura.
"ayolah sakura, bagaimana kau bisa dapat banyak teman jika sikap mu terus begini. " kata Ino santai
"aku tidak butuh banyak teman. " jawab sakura dingin.
"oke baiklah nona yang tidak butuh banyak teman, kau bisa kembali ke aktivitas mu yang cukup membosankan di pagi hari ini." Kata Ino menaruh buku yang dia ambil paksa ke pemilik bukunya. Dan mulai berjalan keluar kelas. Hinata yang melihat dari tadi hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua sahabatnya.
Pertengkaran seperti ini sering terjadi antara Ino dan Sakura. Hinata tau betul bahwa sifat Sakura yang dingin ke semua orang kecuali ke beberapa orang yang di anggap sakura sebagai keluarga dan dirinya . Sakura merupakan sahabatnya dari kecil, Sakura bukanlah orang yang jahat, sebenarnya dia adalah orang yang paling peduli dan lembut yang pernah Hinata kenal, tpi yah begitulah Sakura tidak semua orang bisa merasakan kehangatannya. Sedangkan Ino, ia berteman dengan Ino saat masuk kelas 2 SMA yah karena Ino merupakan siswa pindahan dari luar negeri, jadi Hinata berinisiatif untuk mengajak Ino berteman.
"kenapa kau tersenyum seperti itu? Jangan mulai berfikir yang aneh-aneh." Kata sakura tanpa menoleh sedikitpun.
"tidak ada. Oh iya sakura aku mau tanya sesuatu padamu." Sakura mulai menoleh kearah Hinata.
"apa? " tanya sakura datar
SRAAAKKKK Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di geser mengalihkan pandangan gadis berambut pink kearah sumber suara.
"Sakura, kau dipanggil oleh Karin-sensei keruang guru. " kata seseorang yang menggeser pintu tadi. Sakura hanya mengiyakan dan kembali menatap Hinata.
"pergilah keruang guru, soal pertanyaan ku tadi lupakan saja". Kata Hinata tersenyum manis. Tanpa membuang waktu lagi sakura langsung pergi menuju ruang guru.
Yak, disini lah dia sekarang kaki jenjangnya melangkah santai ke arah menuju ruang guru. Sedikit menghela nafas gadis musim semi ini kembali berfikir apa yang di katakan teman pirang nya tadi. Punya banyak teman? yang banar saja. Sakura akui mungkin ia tidak punya banyak teman dan hanya beberapa kenalan saja. Bukannya ia tidak punya alasan. Hanya saja menurut nya menjalin hubungan dengan seseorang itu menguras tenaga dan energi. Dia rasa lingkaran pertemanan nya sudah cukup sampai segini saja, dia nyaman bersama Hinata, dan tidak terlalu terganggu dengan Ino, ya seharusnya itu sudah cukup.
Tanpa disadari dirinya telah sampai di depan ruang guru, tangan putihnya langsung menggeser pintu berwarna coklat tersebut, butir emerald nya menyusuri ruangan untuk mencari seseorang yang memanggil nya kesini, kaki jenjang nya langsung melesat membawanya ke hadapan orng yang memanggil nya.
"ada apa Karin-sensei mencari saya? " tanya sakura tanpa basa basi.
" ah, Sakura-chan aku mau minta tolong pada mu. Adik sepupu ku akan pindah kesekolah ini. Jdi bisa kah kau tolong mengawasi dia? " tanya karin memberikan sebuah amplop besar yang berisi berkas.
"dia akan bersekolah di sini? Jdi ku fikir kenapa aku harus mengawasi nya? Tpi tentu saja kalau dia anak umur 5 tahun yang cukup cerdas untuk langsung masuk ke SMA. Tpi, kurasa anak umur 5 tahun yang jenius pun tidak perlu pengawasan." Kata sakura datar sambil membuka amplop yang berisi berkas data dari siswa pindahan tersebut. Sekilas ia melihat nama yang ada di sana.
'Uzumaki Naruto? ' batin sakura, seperti nya ia tidak asing dengan nama itu. Oke dia Uzumaki seperti yang dikatakan Karin-sensei tadi, dia adalah adik sepupu nya. Bearti juga ada hubungan dengan kepala sekolah yang notabene yaitu Uzumaki Minato, kalo sakura di suruh mengawasi nya berarti ada sesuatu pada anak ini.
"ya, kau tau dia cukup sedikit kekanak-kanakan. Dia anak dari kepala sekolah. Jdi akan sedikit merepotkan jika dia membuat sedikit masalah disini. " Yaps, tentu saja pasti karena hal itu kenapa sakura harus mengawasi nya.
"saya menolak. Ada banyak hal lebih penting dari pada mengawasi seorang anak kepala sekolah yang suka membuat masalah". Kata sakura memasukkan kembali berkas kedalam amplop dan meletakkan nya diatas meja karin.
"yahh... sudah kuduga kau akan menolak. Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan pada mu, dan yang pastinya kau tidak mau di tunjukkan pada Sasuke-kun." Kata karin kembali fokus pada komputernya. oke, sampai di sini perasaan sakura sudah tidak enak. Dan karin pun menunjukan sebuah foto melalui monitor komputer nya.
"aku tidak bisa bayangkan kalau Sasuke-kun tau kau merokok diatas atap, lalu bagaimana nanti pendapat orang-orang jika tau bahwa murid tercerdas di SMA ini merokok. " ancam karin santai.
Sakura terkejut melihat foto yang menampakkan dirinya sedang merokok diatas atap, persetan dengan orang orang yang tau hal tersebut. Asal jangan sampai sasuke-nii tau hal ini.
"tidak perlu tau aku dapat dari mana, yang jelas foto ini hanya ada padaku sekarang."ucap wanita berusia 25 tahun tersebut melihat tatapan penasaran dari sakura yang mungkin penasaran dari mana ia mendapatkan foto tersebut.
"Kufikir aku bisa menggunakan foto ini agar kau mau membantu ku, bagaimana? Atau kita buat kesepakatan saja. Kau awasi Naruto. Dan foto ini jadi milikmu." Kata karin kembali memberikan berkas yang tadi.
Sakura menghela nafas pelan, oke sampai sini sakura bersyukur kalau ia hanya ketahuan dengan Karin-sensei bukan oleh guru yang lain. Dan sialnya Karin-sensei mengenal Sasuke-nii, tentu saja sakura tidak mau melihat foto yang mungkin bakal buat sasuke-nii kecewa.
"baik lah, kau dapat kesepakatan nya. "kata sakura pasrah, sedangkan karin hanya tersenyum sumringah karena dia memenangkan kesepakatan nya.
"jadi kapan anak itu akan mulai bersekolah?"Tanya nya pada karin.
"hari ini, harus nya tidak lama lagi dia akan sampai ke ruang ini." Kata karin melihat kearah jam nya.
BRAKKK
"Karin-nee aku sudah sampai." Teriak seorang anak laki-laki yang cukup cempreng. Anak laki-laki itu berjalan menuju kearah sakura dan karin.
"sudah ku katakan pada mu kan, kalau di sekolah panggil aku Karin-sensei." Omel karin pada anak itu. Sedangkan sakura hanya menatap nya datar.
"nah sakura ini adik sepupu ku Uz... "
"Uzumaki Naruto." Potong Naruto, mengarah kan tangan kanannya kearah sakura.
"Sakura." Kata sakura singkat tanpa membalas jabatan tangan Naruto bahkan menoleh saja tidak.
"hanya sakura saja? Tidak ada nama keluarga?" Tanya Naruto sedikit heran.
"apa itu masalah untuk mu?" Kata sakura sedikit sinis.
"yak, kurasa sudah cukup dan kuharap kalian akan berteman baik. Nah Naruto, sakura akan membantu mu saat di sekolah, mungkin nanti saat jam istirahat dia akan mengajakmu berkeliling sekolah. Terimakasih sakura kau bisa kembali ke kelas sekarang. Oh iya dan satu lagi. Jangan lakukan hal itu lagi sakura, itu tidak baik untuk kesehatanmu." Kata karin mempersialahkan sakura pergi.
"kuharap sensei juga menepati janji untuk menghapus nya." Ucap sakura kemudian membungkukkan badan sopan, dan pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke kelasnya.
Sakura kembali ketempat duduk nya dan melihat Ino dan Hinata sedang berbincang, sadar dengan kedatangan sakura, Hinata berjalan kearah sakura.
"jadi kenapa Karin-sensei memanggil mu? "tanya Hinata sambil menyodorkan sebungkus cookie yang sudah terbuka kepada sakura.
"tidak ada apa-apa." Jawab sakura sambil mulai memakan cookie yang diberikan Hinata.
"hey , kudengar akan ada anak baru yang akan masuk ke kelas kita? Sakura apakah kau melihat nya di ruang guru ? Ku harap dia lekaki tampan dan cool. " Kata Ino membuka obrolan.
"hm, kau akan melihatnya nanti." Ucap sakura malas. Detik berikutnya terdengar suara teriakan melengking dari Ino, Hinata yang melihat reaksi Ino hanya tertawa geli melihat kelakuan nya. Mereka lanjut keacara ngobrol ringan. sebenarnya yang berbincang hanya Hinata dan Ino, sakura hanya menyimak dan menjawab singkat jika salah satu dari mereka bertanya.
Menit berikut nya bel sekolah berbunyi, Karin-sensei yang datang bersama Naruto dan disambut oleh beberapa teriakan dari anak perempuan di kelasnya.
"baiklah kita kedatangan murid pindahan. naruto silahkan perkenalkan dirimu." Kata karin menyuruh Naruto untuk maju beberapa langkah.
" hay semua nya, namaku Uzumaki Naruto. Semoga kita bisa berteman baik ya. " senyum tiga jari pun diperlihatkan oleh Naruto, dan menambah teriakan para kaum hawa yang ada di kelas.
"Naruto silahkan duduk di belakang Hyuga Hinata." Tanpa di suruh pun hinata mengangkat tangan nya agar Naruto dapat mengetahui di mana dia harus duduk, dan langsung menuju ke meja di belakang Hinata.
"salam kenal Hinata-san. " kata Naruto sambil tersenyum. Yang hanya di balas anggukan oleh Hinata. Naruto kembali melihat kearah sakura dan tersenyum, tapi sakura pura-pura tidak melihat dan hanya fokus ke depan saja.
SKIP TIME
Waktu sudah menunjukan waktu istirahat beberapa orang siswa langsung menuju ke kantin, dan beberapa ada yang bergerombol untk mengobrol seperti contohnya pada bangku Naruto yang di geromboli oleh beberapa orang yang penasaran tentang dirinya.
"ne, Uzumaki-san kau pindahan dari mana?" Tanya seorang anak bernama tayuya.
"aku dari sunagakure" jawab Naruto ramah.
"Naruto kenapa bisa kau pindah disaat tengah semester, apa kau kena masalah? Naruto kau memiliki nama keluarga Uzumaki apa kau punya hubungan dengan Karin-sensei atau kepala sekolah, atau jangan jangan kau anak dari kepala sekolah? Tpi setau ku anak kepala sekolah sudah lulus SMA. Atau jangan-jangan kau anak yang digosip kan itu." Tanya ino penasaran, namun Naruto kebingungan menjawab pertanyaan itu.
"Naruto ayo berkeliling sekolah, aku tidak mau waktu makan siang ku habis berkeliling dengan mu." Kata sakura berdiri dari tempat duduk nya dan mulai berjalan keluar tanpa menunggu Naruto.
"gomen ne minna, sakura tunggu aku." Kata Naruto keluar dari kerumunan dan mulai mengikuti sakura.
Sakura melangkahkan kaki nya dengan cukup cepat dan di ikuti oleh Naruto, jalan yg mereka lawati saat ini cukup sepi.
"Sakura terimakasih". Kata Naruto. Namun tidak ada balasan dari sakura, akhirnya Naruto menghentikan langkah nya.
Sakura yang merasa orang yang mengikuti nya tidak lagi melangkah kemudian menoleh kebelakang.
"terimakasih sudah mengeluarkan ku dari situasi tadi, kau sangat baik. Padahal kita baru kenal." Naruto mulai berjalan mendekati sakura dan memegang pundak nya.
"Naruto kau salah paham di sini, pertama aku bukanlah orang yang baik. Lalu yang kedua aku tidak berniat membantu mu. Sekarang kita lanjutkan berkeliling nya. Aku tidak mau Hinata menunggu lebih lama lagi." Kata sakura dingin, melepaskan tangan Naruto dari pundak nya dan lanjut berjalan kembali.
"mau kau orang baik atau tidak. Aku tetap berterima kasih. Kalo begitu ayo kita berteman mau ya? . " ucap Naruto mensejajar kan langkah nya dengan sakura. Sakura hanya diam tidak menjawab pertanyaan Naruto.
"kalau kau tidak berkata apa apa aku anggap kau setuju." Lanjut Naruto dengan cengiran khas tiga jari nya. Lalu mereka melanjutkan keliling sekolah dengan Naruto yang selalu mengoceh sendiri tanpa ada tanggapan dari sakura.
DI lain tempat, tepat nya di kantin Konoha High School terdapat dua orang gadis yang sedang berbincang, dan menunggu teman mereka yang sedang memandu seorang anak baru untuk berkeliling sekolah.
"hey Hinata kenapa kita tidak makan duluan saja?" Kata Ino pada Hinata dengan nada bosan. "kenapa kita harus menunggu sakura, lagian kan dia bukan anak kecil lagi." Lanjut Ino.
"kau bisa makan duluan Ino, tidak apa apa. Aku akan menunggu sakura." Ucap Hinata lembut pada Ino, sedangkan Ino hanya memasang wajah cemberut saja.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu tunggu datang, dan langsung duduk di hadapan Hinata, sedangkan orang yang mengikuti gadis itu dari tadi, duduk di sebelah wanita berambut pink itu.
"Maaf aku terlambat. Andai saja tidak ada orang yang ceroboh yang berlari di lantai yang baru d pel, sehingga aku tidak harus mengantarkan nya ke UKS, Mungkin aku akan sampai disini 10 menit yang lalu." Ujar sakura datar tanpa ekspresi. Dan orang yang sedang di bicarakan hanya menggarut wajahnya yang tidak gatal. Hinata kemudian membalas dengan senyuman sambil mengangguk melihat Naruto dan Sakura. Lalu kemudian mereka berempat menikmati makan siang nya dengan nikmat.
"hey Naruto-san aku masih penasaran dengan pertanyaan yang aku ajukan di kelas tadi, sebenarnya kau itu siapa nya kepala sekolah?" Tanya Ino memecah keheningan. Naruto yang awalnya makan dengan lahap kemudian terhenti dan memegang kepalanya karna bingung bagaimana menjelaskan pada gadis blonde tersebut.
"Ino cukup, Naruto kalo kau tidak ingin menjawab tidak usa dija-"
"aku tidak berbicara padamu sakura." Potong Ino yang sudah muak dengan tingkah sakura yang selalu mengatur.
Mendengar perkataan Ino, Hinata yang tadi makan dengan tenang langsung melihat kearah Ino.
"seharusnya kau tahan rasa keingintauan mu yang bisa membuat orang tidak nyaman saat bersamamu, nona Yamanaka." Oke, disini Hinata tau kalau sakura sudah mulai terganggu dengan sifat Ino.
"diam lah sakura, kau yang bahkan tidak punya nama keluarga saja tidak berhak mengatur aku. Atau jangan-jangan kau memang tidak punya keluar-"
BRAKKKKK
Perkataan Ino terputus dengan gebarakan tangan naruto yang menyentuh meja.
"tidakkah kau fikir kau telah keterlaluan Ino?" Naruto mulai meninggi kan suaranya.
"lihat sekarang, apa kau merasa tersinggung Naruto? Atau harus ku panggil tuan Uzumaki?, yah kurasa kalian cocok untuk menjadi teman. Silahkan nikmati makanan kalian." Setelah mengucapkan kalimat itu Ino bangkit dari duduk nya dan meninggalkan ketiga orang yang duduk disana.
"aku akan mengejarnya." Kata Hinata yang mulai bangkit juga dan mengejar Ino.
Hening, antara Naruto dan Sakura tidak ada yang mau membuka suara dalam beberapa menit.
"aku tidak akan berterimakasih untuk yang tadi. "Ucap sakura membuka pembicaraan
"aku tidak melakukannya untuk mu, itu untuk diriku sendiri." Balas Naruto melanjutkan makanan nya.
Hinata terus mengejar Ino dan memanggil nama nya, namun tidak di gubris oleh Ino. Hinata yang geram akhir nya menarik tangan Ino dan alhasil gadis blonde itu berhenti.
"bukankah ucapan mu sudah keterlaluan Ino? Ayo kembali ke kantin dan minta maaf pada Naruto dan Sakura." Kata Hinata lembut, agar Ino luluh. Ya Hinata memang sering jadi jembatan untuk hubungan sakura dan Ino, jika sakura berbicara keterlaluan pada Ino Hinata akan melakukan hal yang sama mengejar dan bilang ke sakura ia harus minta maaf, dan begitu juga sebaliknya. Dan selalu berhasil.
"wah lihat satu lagi orang yang membela sakura. Kenapa selalu saja sakura?" Ino mulai melepas genggaman tangan Hinata dari pergelangan tangan nya.
"cukup Ino aku bukan membela sakura atau apapun, tapi memang sikap mu cukup keterlaluan." Jelas Hinata
"kau hanya takut Hinata. Tidakkah kau penasaran? Selama aku berteman dengan sakura aku bahkan tidak tau nama keluarga nya. Tunggu, bukankah kau teman sejak kecil nya? Pastinya kau tau kan kenapa dia tidak menggunakan nama keluarga nya. Aaaa atau jangan-jangan dia anak haram atau dibuang oleh kelu-"
"INO CUKUP" habis sudah kesabaran Hinata. "Sakura punya alasan kenapa dia tidak menggunakan nama keluarga nya. Dan kau belum sampai di tahap itu untuk mengatahui apa yang terjadi padanya, dan tidak berhak menyebarkan spekulasi yang ada di otakmu dengan sembarang." Ino hanya terdiam, baru kali ini dia melihat Hinata marah dan membentaknya seperti tadi.
"sudah dua tahun kita berteman, dan apa katamu? Aku belum sampai di tahap itu? Apa hanya aku yang menganggap kalian teman? " Suara Ino mulai bergetar
"bukan itu maksudku Ino." Suara hinata mulai melembut kembali. Ino yang terlanjur kecewa meninggalkan Hinata.
Well, seorang Hinata juga dapat salah bicara kan. Hinata hanya menghela nafas pelan, kemudian kembali lagi ke kantin, sambil berfikir apa yang harus ia lakukan agar semua nya berbaikan . Namun, setelah sampai di sana Hinata hanya melihat Naruto yang makan seorang diri.
"Sakura kemana?" Tanya Hinata kembali duduk di tempat nya yang tadi.
"oh sakura di panggil oleh seorang laki-laki berambut merah dengan mata panda. Eee siapa ya tadi namanya" Kata Naruto menggarut pipi nya yang tidak gatal.
Tunggu, rambut merah mata panda " maksud mu gaara?" Tanya Hinata, Naruto mengangguk tanda ya, pria itu yang memanggil sakura. "kemana mereka?" Tanya Hinata lagi, namun Naruto hanya menggeleng tidak tau.
Hinata langsung bangkit lagi dari duduk nya mulai berjalan cepat menuju kelas nya, tpi sakura tidak ada di kelas, keaula juga nihil. Kebelakang sekolah juga tidak ada. Hinata hampir ingin menyerah saja, namun tiba-tiba ia melihat asap di atap gedung sekolah dan langsung berlari kesana. Dan yang benar saja, ia melihat sakura di sana berdiri menyandar pada kawat tinggi sambil menghisap rokok nya.
"ku kira kau sudah berjanji pada sasuke-nii untuk tidak merokok lagi. " Yaps, Hinata tau kalo sakura sudah mulai merokok saat ibu dan kakaknya pindah keluar negeri.
"aku janji untuk tidak merokok dan ketahuan di depannya." Jawab sakura tanpa menoleh kearah Hinata. Hinata hanya terkekeh melihat kelakuan sahabat nya itu.
"jadi apa yang gaara katakan padamu?" Tanya Hinata mendekati sakura dan ikut bersandar di sebelah nya.
"dia bilang sebentar lagi kami akan jadi saudara, dan ayah akan mengadakan pesta besok acara pertunangannya . " Kata sakura santai dan mematikan rokok nya yang masih setengah, gadis itu tau bahwa Hinata punya penyakit asma dan tidak tahan dengan asap rokok. Dengan sekejap Hinata langsung memeluk sakura dengan erat.
"hei jangan begitu, nanti kau bisa ikut bau rokok juga." Lanjut sakura dengan perlahan melepaskan pelukan Hinata padanya.
"apa yang akan kau lakukan? Lebih baik tidak usa pergi saja ya."
"itu tidak mungkin, sasuke-nii akan menyeret ku paksa untuk datang keacara itu. Lagian aku tidak sendirian keluarga Hyuga dan Uchiha pasti juga akan di undang sebagai kolega bisnis. Kau pasti menemani ku kan?" tidak perlu waktu lama, Hinata langsung mengangguk.
Hinata tau kalau sakura sangat rapuh saat ini, kabar pertunangannya ayah nya bukanlah hal yang baik. Perceraian kedua orang tuanya saat gadis itu berusia 10 tahun pun bukan hal yang menyenangkan untuk gadis musim semi itu, bahkan saat ibu nya mengalami kecelakaan tiga tahun lalu yang membuat ibu nya koma sampai saat ini hingga harus di rawat di luar negeri. ia harus memilih untuk ikut pada ibu dan kakaknya atau tetap tinggal bersama ayahnya. Namun, saat keputusannya sudah bulat untuk menjaga ibunya, kakaknya menyuruhnya untuk tetap tinggal menjaga ayah mereka. Sakura juga bersyukur bahwa kakak nya cerdas sehingga mendapatkan beasiswa S2 kedokteran di Jerman pada usia yang baru menginjak 23 tahun,jdi bisa merawat ibu nya dengan baik.
"bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan pada nii-chan. Aku tidak bisa menjaga ayah agar bisa kembali lagi pada ibu dan jadi keluarga utuh." Suaranya sedikit bergetar.
"kau sudah melakukan yang terbaik sakura. Sekarang ajo kita kembali ke kelas." Ajak Hinata dan di jawab anggukan oleh sakura. Mereka akhirnya kembali kekelas mereka.
Suasana kelas mereka seperti biasa, namun Ino memilih pindah tempat duduk, yang awalnya ia duduk d belakang sakura dan d samping Naruto, berpindah kebagian sudut belakang menjauhi sakura dan Hinata. Sakura tidak ambil pusing mengenai tingkah Ino, terlalu banyak hal yang harus di lakukan.
SKIP TIME
Sakura memasuki apartemen mewah nya yang ada di pusat kota konoha. Seperti biasa apartemen itu sangat sunyi, tidak ada orang. setahun yang lalu sakura memilih untuk keluar dari rumahnya, dan tinggal di apartemen milik kakaknya yang ditinggal kan saat ia mulai berkuliah diluar negeri. Sakura menghempaskan dirinya kesofa besar yang ada di sana. Ia melirik jam yang berada di dinding.
'jam setengah 7 malam, haa aku lapar' batin nya. Ia memang sengaja pulang terlambat berkeliling kota tanpa tau arah untuk membuang waktu.
Gadis musim semi itu berjalan ke area dapur dan membuka kulkas, yap tentu saja tidak ada yang bisa ia makan, sakura mulai merutuki dirinya yang tidak mampir dulu untuk membeli makanan. Sakura berpindah mulai mencari lagi dilemari dapur. Yah untungnya stok mie instannya masih ada. Sakura mengambil dua bungkus dan mulai memasak nya.
"miaw" seekor kucing berjenis Persia dengan bulu abu-abu dan putih mendekati sakura dan menggesekan badannya ke gadis itu.
"kau lapar bubble? Maaf aku melupakan mu. Ayo sini makan." Sakura mengambil sebungkus makanan basah untuk kucing nya. Ia mengelus kucing itu, hingga perhatiannya teralih oleh suara bel pintu yang berbunyi, dengan cepat ia melihat ke arah monitor dan tebak siapa yang datang. Uchiha Sasuke dengan menentang beberapa kantong plastik Di tangannya.
"yooo, kau pasti belum makan kan. Aku bawakan kau ayam goreng." Setelah melihat sosok sasuke, sakura langsung berlari kearea dapur untuk mematikan kompor dan membuang mie instan yang sedang ia masak, sasuke pasti akan mengomeli nya jika ia ketahuan sedang makan mie instan. Setelah itu ia berlari kecil menuju pintu dan membuka pintu itu.
"kenapa lama sekali? Kau tidak sedang menyembunyikan lekaki di sini kan?" Ucap sasuke berjalan kearah dapur dan meletakkan kantong plastik nya di meja makan.
"kau tau fitnah lebih kejam dari pembunuhan kan sasuke-nii. "Kata sakura yang mengekori sasuke dari belakang. Sasuke hanya ber hm ria mendengar perkataan sakura, sekilas sasuke melihat kekotak sampah dan terdapat mie instan yang di buang oleh sakura.
"kau bru pulang? Kenapa masih memakai seragam sekolah mu. Cepat mandi, ganti pakaian dan makan kesini." Perintah sasuke dan langsung di laksanakan oleh gadis musim semi itu tanpa protes sedikit pun.
Setelah mandi, Sakura langsung mengganti pakaiannya menggunakan baju kaos oversize abu-abu polos dengan celana lagging hitam. Gadis itu berjalan kearah sasuke yang masih menata meja makan dan duduk di salah satu kursi di sana.
"kau baru pulang kerja? Kenapa langsung ke sini?" Tanya sakura yang melihat sasuke masih menggunakan setelah kemeja kantor tanpa jas.
"aku harus memberi makanan bergizi pada seorang yang kurasa sudah beberapa hari makan mie instan." Kata sasuke santai sambil menunjuk ke arah kotak sampah, sedangkan sakura hanya mengangkat kedua bahu nya.
"kau tidak perlu kesini sering-sering sasuke-nii, pergi lah berkencan dengan seorang wanita. Aku bukan anak usia 12 tahun, usia ku sudah 18 tahun sekarang." Ucap sakura malas.
"kau tetap saja anak kecil bagi ku." Meletakkan sebuah potongan ayam goreng ke piring sakura.
"kau bahkan bukan kakak kandung ku." Sasuke menghela nafas mendengar perkataan sakura.
"kau itu adik sahabat ku, tidak mungkin aku tidak mengawasimu. Lagi pula aku sudah berjanji untuk menjaga mu pada sasori. Kita sudah membahasnya ratusan kali, sakura. Lagi pula ada hal yang lebih penting yng ingin kusampaikan." Sakura tidak menjawab lagi perkataan sasuke.
Sudah hampir tiga tahun ini sasuke selalu menjaga sakura dan menjadi wali nya jika terjadi sesuatu pada gadis ini. Lagi pula sasuke memang sayang pada sakura, sudah menganggap seperti keluarga sendiri. Jdi saat saat sasori meminta sasuke menjaga sakura, tanpa banyak berfikir sasuke langsung mengiyakan permintaan itu.
"jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya sakura cukup penasaran.
"oh iya, aku dapat telpon dari karin. Bukankah karin wali kelasmu?" Sakura sudah menebak apa yang akan di bahas oleh sasuke.
"dia bilang aku harus lebih memperhatikan mu, dan kau belum menulis rencana kuliah mu. Apa kau tidak berniat kuliah sakura." Tanya sasuke
'thanks god' batin sakura, dia fikir wali kelasnya akan memberitahukan kalo dia ketahuan merokok pada sasuke.
"aku akan menyusul sasori-nii dan ibu ke Jerman, kupikir kuliah di kedokteran tidak buruk." Jawab Sakura asal
"ke Jerman? Kau yakin? Bukankah di sini juga ada universitas dengan jurusan kedokteran yang bagus. Aku tidak yakin sasori akan mengizinkan mu." Jelas sasuke
"itu tugas sasuke-nii untuk membujuk sasori-nii agar aku boleh kuliah di sana. Lagi pula tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini." Sasuke terdiam sejenak mendengar penjelasan sakura.
"well, dengan otak cerdas mu aku rasa kau bisa kuliah d Jerman tanpa bantuan ku." Kata sasuke meengusap pelan rambut merah muda sakura.
"rambutmu sudah mulai panjang, kau tidak berniat memotongnya? ." Kata sasuke random
"benarkah?" Tanya sakura memegang rambutnya yang telah melewati bahu dan hampir sepunggung gadis tu.
"kau tidak berniat memotong nya? Setau ku kau tidak terlalu nyaman rambut panjang. Kalau kau mau aku bisa memotongkannya untuk mu."
"apakah nampak aneh?" Tanya sakura, sasuke hanya menggeleng. "kalau begitu biar saja seperti ini." Lanjut sakura. Sasuke hanya mengiya perkataan sakura.
"Sakura, untuk acara besok. Kau akan pergi? Aku sudah menelepon sasori tentang acara besok, tapi nampaknya ia tidak bisa pulang. Dia bilang akan pulang saat hari pernikahan saja." Jelas sasuke, sakura tampak sedikit berfikir.
"walaupun ku bilang tidak mau, kau pasti tetap akan memaksaku untuk pergi kan, apa aku punya pilihan sasuke-nii." Sasuke sedikit terkejut dengan respon sakura, ia pikir sakura akan menangis dan meronta untuk tidak pergi keacara ayahnya. Yah, gadis kecil yang ia kenal sudah mulai beranjak dewasa.
"kau sudah mulai dewasa ya, aku bangga padamu." Kata sasuke berjalan sembari membereskan piring yang mereka gunakan tdi.
"keadaan yang memaksa ku untuk harus bersikap dewasa." Suaranya terdengar sedikit bergetar di telinga sasuke yakin gadis ini menahan agar tidak menangis.
Setelah sejam sasuke menemani sakura, akhirnya pun pria berusia 23 tahun itu pamit untuk pulang.
"ingat besok aku akan menjemput mu jam setengah 7 malam, jdi jangan membuat ku menunggu nona." Kata sasuke sambil menggunakan sepatu nya. Dan Sakura hanya membalas dengan ber hmm ria.
"oh iya, ku lihat kau masih menyimpan sebungkus rokok di dalam lemari. Jadi aku mengambil nya. Sudah berapa kali ku bilang padamu untuk tidak merokok, itu tidak baik untuk kesehatan mu sakura." Sakura terdiam ia merutuki kenapa bisa sampai ketahuan oleh sasuke. Dia hanya bisa menghindari tatapan mata sasuke, sasuke akhirnya menyerah dan mengusap kepala pinky tersebut.
"sayangi diri mu sakura, itu penting. Mau sesayang apa pun orang pada mu, tpi kamu tidak sayang pada dirimu sendiri itu akan percuma, aku pergi dulu." Ucap sasuke lalu menghilang di balik pintu.
Sakura berbalik lalu berjalan menuju kamar nya dan mengambil tasnya, di rogoh nya kantong di tas nya dan mengambil sebungkus rokok yang masih terdapat beberapa batang. Gadis itu berjalan menuju balkonnya dan menghidupkan rokok nya dan melihat mobil sasuke menjauh dari area apratement. Sakura menghisap rokok nya sambil melihat kearah langit. Sasuke benar, seperti nya ia harus menyayangi diri nya sendiri. Gadis itu mematikan rokok nya, dan berjalan kearah tempat tidur. Dan berharap bahwa tuhan memberi kekuatan hingga masalahnya selesai, ya yang harus dia lakukan adalah bertahan.
Tbc
