(Un)dying Soul

.

.

.

Teruntuk semua orang yang pernah merasa kehilangan arah hidupnya. Dan juga dia yang telah menemukan jalan hidupku kembali.

.

.

.

Warning(s): All characters are belong to Mr. Masashi Kisimoto, OOC (mostly in Sasuke's part)

.

.

Saat itu cuaca sedang dingin. Kurasa hanya tinggal menghitung hari lagi hingga salju pertama turun, aku memang tak pernah cocok dengan keadaan seperti ini. Ujung hidungku dan pipiku berwarna merah. ditambah harus berjalan kaki sejauh 1 mil pada pukul 7.30 pagi.

Jaket yang ku pakai cukup untuk memblok udara dingin ini. Tapi mungkin ketika bersalju nanti aku harus menggantinya menjadi yang lebih tebal.

Bekerja di Uchiha Corp tidak membuatku kaya. Banyak orang yang mengira jika separuh permasalahan hidupmu sudah teratasi jika kau bekerja di Uchiha Corp. Nyatanya masih ada seorang karyawan dari Uchiha Corp yang hampir mati kedinginan ditengah jalan yang licin, aku.

Mereka tak pernah melihatku sebagai contoh. Aku sudah 3 tahun bekerja disana tapi masalah hidupku tak berkurang.

Tapi itu semua tergantung pada individu yang menjalankannya. Kurasa keberuntungan belum memihak padaku. Aku masih perlu banyak uang untuk membiayai kehidupanku, dan keluargaku tentunya.

Aku tak ingin mengeluh bagaimana beratnya hidupku ini. Aku tak ingin dicap sebagai seorang yang tak tahu bersyukur. Karena pada dasarnya aku pernah menikmati hidup dimana aku bisa membeli harga yang kini sudah terlalu mahal untuk ku beli.

Lucunya, di masa lalu aku mampu membeli barang dengan harga 2 kali lipat dibanding dengan harga-harga itu. Ah tapi itu dulu, tak ada gunanya untuk menyesalinya sekarang.

Jika kau ingin bertanya bagaimana perasaan ku sekarang, aku tak bisa mengatakan aku baik-baik saja. Aku lelah, terutama pada mental. namun fikiran ku terus maksaku untuk tetap berjuang. Aku tau aku harus mengikuti yang mana, karna tak ada yang sia-sia pada akhirnya jika aku terus berjuang.

Dan hangat dari dalam gedung Uchiha Corp ini langsung masuk ke sela-sela jaketku sesaat setelah aku masuk melalui pintu kaca bangunan ini.

Aku langsung menuju lantai tempatku bekerja. Sudah ada Ino dan Temari disana. Ya, mereka memiliki kendaraan pribadi tentu saja akan lebih cepat sampai.

Jika dilihat, jam masuk kantor adalah pukul 8 dan aku harus sudah bergegas pergi pukul 7. Dibutuhkan waktu 30 menit untuk berjalan dan mengendarai bus kota hingga sampai disini.

"Sakura, kau mau teh?" Ino dengan baik hatinya bersiap untuk bangkit dari kursinya, aku tersenyum lalu menggeleng. Sambil melepaskan syal dan menggantung jaketku pada sandaran kursi milikku.

"tak apa Ino, aku bisa membuatnya nanti." Ino mengangguk lalu kembali duduk. Aku sangat bersyukur Ino ada dalam hidupku yang sekarang. Ia selalu bersikap baik. Ino tahu permasalahan yang sedang ku alami, itu mengapa Ia sering membantuku. Aku merasa tak enak padanya, terasa seperti membebani seseorang yang tak seharusnya ku bebani.

Aku baru saja merapikan penampilanku setelah beberapa helai rambutku sedikit berantakan akibat berjalan kaki tadi. Mengatur tempat dudukku senyaman mungkin dan mulai mengoprasikan komputerku.

"Sakura, ada rapat dengan pemegang saham dari Cina dan Jepang di jam 10. Uchiha-san memintamu membawa salinan berkas untuk meetingnya." Temari yang meja kerjanya hanya berjarak beberapa kaki dari tempatku menutup sambungan teleponnya. Kurasa itu tadi dari Sasuke.

Aku melirik ke arah jam dinding, menunjukkan pukul 8.40.

Aku menghela nafas. Sudah kuberikan padanya kemarin. Mungkin ia meninggalkannya entah dimana. Aku mencetak ulang dokumen yang perlu ia tanda tangani. Hanya butuh beberapa menit. Setelah selesai ku bungkus data itu dengan map kuning yang ada di mejaku.

Aku bangkit lalu merapikan bajuku yang sedikit tertarik keluar dari rok ku saat duduk tadi.

Aku berjalan keluar dari ruangan ini dan menaiki lift yang membawaku pada lantai teratas gedung. Lift ini sebenarnya tidak mengharuskan penggunanya untuk memiliki ID Card. Namun pengecualian untuk siapa saja yang mencoba mengakses ruangan teratas, karena lift ini langsung terhubung dengan ruangan dimana Sasuke Uchiha berada. Dan yang mempunyai ID Card nya hanya aku, Temari dan Sasuke Uchiha sendiri. Aku memilikinya karena akulah sekertaris lapangannya, sementara Temari adalah sekertaris untuk urusan dalam kantor saja.

"Uchiha-san." Ucapku setelah mengetuk kayu yang menempel sebagai dekorasi di dinding dekat pintu lift. Tak ada pintu lain disini selain pintu lift tadi. Ia mengalihkan wajahnya yang semula menunduk menatap berkas diatas mejanya menjadi melihatku.

"Sakura, silahkan duduk." Katanya menyuruhku duduk di bangku yang bersebrang dengannya. Dengan sebuah meja setinggi dadanya menjadi penghalang antara tempatku duduk dengan dia.

Aku menaruh map kuning itu di hadapannya sebelum duduk.

"Maaf telah merepotkanmu, kurasa aku meninggalkan berkas yang kemarin kau kirimkan padaku dirumah." Ucapnya lalu mengambil map kuning yang kuletakkan didekatnya.

"Tidak apa-apa, Uchiha-san. Sudah menjadi tugas saya." Aku tersenyum sopan dan menunggunya untuk berbicara mengenai meeting yang akan berlangsung.

Keheningan menyelimuti ruangan ini, Sasuke masih mengecek kembali berkas-berkas dari dalam map kuning itu. Memastikan tak ada satu berkaspun yang ketinggalan nanti. Sasuke memang teliti dengan hal-hal seperti ini.

Lalu beberapa saat berikutnya, ia mengeluarkan pulpen berwarna silver dari sebuah kotak mewah. Pulpen yang tak pernah kulihat sebelumnya –bukan pulpen yang biasanya ia gunakan. Yang terlintas diotakku pertama kali adalah tebakan dari harga pulpen ini. Ada sebuah ukiran yang bertuliskan Sasuke U. di badan pulpen itu. Ah kurasa hadiah dari seseorang.

"Sakura sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu. tapi aku takut kau keberatan." Ada sebuah senyum ragu diwajahnya. Aku langsung menyanggahnya, mengatakan aku tak akan keberatan selama itu masih menyangkut tugasku sebagai sekertaris lapangannya.

"Setelah meeting ini selesai aku harus menghadiri pembukaan pertandingan Golf. Jika dilihat dari waktunya mungkin tak akan sempat jika harus kembali kesini untuk mengantarmu." Katanya. Ya, Sasuke juga menanam modal pada salah satu Golf Club yang terkenal di kota ini. Sasuke menyukai Golf, jadi tak heran.

Sasuke biasanya tidak mencampuri urusan Golf dengan pekerjaannya. Memang ia menanam modal tapi tujuan sebenarnya adalah karena ia sangat menyukai golf dan hasil pertandingan golf tersebut akan di donasikan ke panti sosial. Jadi aku tidak punya tanggung jawab untuk menemani nya mengikuti acara seperti itu.

"Ah tidak apa-apa, lagipula itu memang hal yang penting Uchiha-san. Saya bisa menyewa taksi, jangan khawatir." Aku tersenyum namun menelan ludah. Menyewa taksi? Aku tak yakin dengan jumlah uang didompetku saat ini.

"Tapi kalau kau tidak keberatan, bagaimana kau ikut mendampingiku kesana. setelahnya aku akan mengantarmu pulang. Lagipula aku juga tak punya pendamping untuk hal-hal seperti itu dan harga sewa Taksi menuju rumahmu mungkin akan sedikit lebih mahal. Simpan saja uangmu itu." Kata-katanya membuatku langsung menatap matanya, Sasuke Uchiha sepemikiran denganku dalam masalah biaya taksi.

"Baiklah Uchiha-san." Aku menyerah, lagipula aku tak bisa menyanggahnya dengan jumlah uang yang ada padaku ini. Aku juga perlu membeli bahan makanan yang lain, karena kusadari tadi malam ada beberapa bahan yang sudah habis.

"Kalau begitu ambilah barang-barangmu, kita pergi sekarang. Aku ingin melihat tempat reservasi nya sebelum mereka datang."

Aku mengangguk dan beranjak dari tempat duduk ku tadi. Saat mau melangkah Sasuke menghentikan ku.

"Ohiya Sakura, kita akan berhenti sebentar di toko kue dan kedai kopi. Kau belum sarapan 'kan?" katanya.

"Uh?" aku yang tidak mengira pertanyaan itu keluar dari mulutnya terheran. Alisku terangkat sedikit.

"Aahh tidak usah memikirkan tentangku, Uchiha-san. Tapi kalau itu untuk keperluanmu maka silahkan." Aku merasa tidak enak dengannya dan juga ada perasaan sedikit malu.

"Yasudah, kalau begitu temui aku di tempat parkir 10 menit lagi."

"Baik, Uchiha-san." Aku memberinya hormat dengan membungkukkan badanku sebelum keluar dari ruangannya.

Sasuke terlihat senang saat ini. Tentu saja, dia akan melakukan apa yang ia sukai sekarang. Golf. Dan dengan tambahan bisa menghasilkan banyak uang untuk disumbangkan kepada panti social, menambah kesenangan pada dirinya. Sasuke memang memiliki jiwa yang besar

Melihatnya seperti ini membuatku merasa bahwa saat ini yang duduk menyetir disebelahku bukanlah Sasuke Uchiha pemimpin perusahaan di tempatku bekerja, melainkan Sasuke Uchiha yang diam diam kuanggap seperti temanku selama 3 tahun belakangan ini.

Sebenarnya hubungan antara aku dan Sasuke sama seperti karyawan dan bos nya. Yang membuatku lebih dari yang lain adalah karena Aku sering menemaninya untuk menghadiri rapat diluar gedung Uchiha Corp. Salah satu hal yang menjadikan hubunganku sedikit lebih dekat dengannya.

kami sudah melewati masa dimana memanggil dengan nama depan saja sudah menjadi biasa. Bisa dilihat dari bagaimana dia dengan entengnya memanggilku dengan Sakura. Aku? Aku tak sekonyol itu, memanggil atasanku sendiri dengan namanya.

Walau sasuke tak pernah melarangku untuk memanggilnya hanya dengan Sasuke saja, Aku masih tak bisa melakukannya. Aku tak ingin di lihat sebagai karyawan yang kurang etika dan merasa di istimewakan di depan karyawan lain. Juga Temari yang bekerja lebih lama daripada aku masih memanggilnya dengan nama belakangnya. Lagipula Sasuke berumur 5 tahun lebih tua dariku.

Seperti yang dikatakannya sebelumnya, Sasuke berhenti pada salah satu kedai kopi yang juga menjual produk patiseri. Aku hanya menunggu di mobil sedangkan dialah yang turun membeli. Betapa kagetnya aku saat ia membawa sebuah paper bag berukuran sedang dan dua buah minuman dengan kemasan untuk minuman panas.

Bukannya aku sudah menolak tadi?

Dia mengetuk kaca jendela tempatku duduk. Aku membukanya dan dia langsung menyodorkan salah satu dari cup kopi itu dan paper bag tadi. Aku tak bicara apa apa, hanya mengambilnya. Setelah itu dia memutar untuk masuk ke tempat pengemudi.

"Uchiha-san tidak perlu repot repot seperti ini." Kataku, masih memegang kopi di tangan kanan ku dan paper bag di tangan kiriku.

"Tadinya aku hanya ingin membeli satu, tapi tak enak hanya makan seorang diri sementara kau disebelahku. Lagipula tidak repot, aku hanya membeli. Mereka yang membuatnya." Katanya enteng. Aku tak bisa menyanggahnya.

"Terima kasih, Uchiha-san." Aku menaruh paper bag tadi di tengah antara tempat duduk ku dan dia.

"Minumlah selagi hangat. Dan makan croissant nya juga."

Sasuke menjalankan mobil nya menuju tempat rapat yang sudah dijanjikan. Kopi nya tadi ia simpan pada cup holder. Sesekali ia menyeruputnya.

Aku menyeruput sedikit kopi ku. Aahhh sungguh lezat. Tak ada yang sehebat kopi hangat di pagi hari yang dingin seperti ini. 12° celcius dan aku dihangatkan oleh segelas kopi dan kebaikan oleh seorang Sasuke Uchiha.

Ada banyak cara untuk menyayangi. Salah satunya dengan bersikap baik kepada orang lain. Dengan semua kebaikan Sasuke padaku, aku tak bisa tidak menyukai nya. Bukan aku ingin bilang bahwa aku salah dalam memahami kebaikannya, tapi ada sesuatu di dalam diri Sasuke yang membuatku menaruh sedikit perasaan padanya.

Tapi walaupun begitu sudah seharusnya aku memberi jarak padanya, melihatnya secara profesional –bahwa dia adalah atasanku–. Aku tidak pernah mengatakan hal ini padanya. Juga tidak menunjukkan padanya. Tidak seorangpun tau. Aku bahkan tidak memberi tahu Ino. Karna bisa jadi ini hanya kekaguman biasa. Mungkin jika aku mengabaikannya, perasaan ini akan pergi begitu saja.

.

.

.

.

TBC