Disclaimer: Haikyuu © Furudate Haruichi

Untuk readers yang diem-diem ngeship Kuro dan Kenma. Happy reading!

.

.

Kereta Pagi

.

.

Ada satu kisah tentang sepasang pemuda di dalam kereta pagi yang biasa membawamu ke sekolah.

Pertama kali kau lihat, dua orang pemuda itu ibarat dua warna cerah di antara warna-warna kelabu membosankan yang memadati kereta. Terlihat mencolok dan seketika menarik perhatianmu, tepat di hari pertama kau memasuki jenjang SMA.

Kau perhatikan, mereka selalu berdua. Yang satu bertubuh jangkung, berambut jigrak macam ekor ayam, dan berwajah menyeramkan. Yang satu lagi bertubuh lebih mungil, rambut gerai dicat pirang, dan tak pernah lepas dari konsol gim. Keduanya mengenakan jas biru yang kau ketahui adalah seragam SMA Nekoma, sekolah yang terletak beberapa blok jauhnya dari sekolahmu. Mereka berangkat dari stasiun yang sama denganmu dan turun satu pemberhentian lebih dulu. Kadang mereka ada, kadang mereka tak ada. Dan setiap kali mereka ada, kau jadi punya tontonan menarik sepanjang perjalanan.

Di tengah-tengah deru mesin, tak banyak yang bisa kau tangkap dari pembicaraan mereka, namun gelagat dan gerak-gerik mereka membawa anekdot tersendiri. Kau perhatikan, si jangkung gemar mencuri-curi pandang pada si pirang. Karena mereka duduk bersisian, si pirang tak pernah sadar dirinya diamati. Namun dari sisi seberang, kau bisa melihatnya dengan jelas. Betapa sorot mata itu lembut dan seakan menyimpan berjuta makna. Garis wajahnya bahkan melunak, tak lagi menyeramkan seperti yang biasa ia tampilkan. Membuatmu penasaran, apakah gerangan yang ada di dalam kepala si jangkung saat menatap si pirang seperti itu.

Butuh waktu beberapa minggu sampai kau mengetahui nama mereka. Dari kilas-kilas pembicaraan yang kau curi dengar saat kebetulan duduk cukup dekat, kau tahu nama si jangkung adalah Kuro, dan si pirang adalah Kenma.

Tanpa kau sadari, kegiatan mengobservasi Kuro dan Kenma sudah menjadi rutinitasmu setiap pagi. Sebelum berangkat, kau asyik menerka-nerka, kisah apa yang sekiranya akan mereka bawa di dalam kereta hari ini. Sengaja kau mencari mereka di peron terlebih dahulu, supaya bisa duduk di gerbong yang sama. Kemudian di dalam kereta, mereka akan menyuguhkan pemandangan manis yang selalu berhasil membuat kupu-kupu di dalam perutmu beterbangan.

Kuro senang menggoda Kenma. Entah perangainya yang memang tengil alami, atau hanya Kenma seorang yang jadi sasarannya, kau tak tahu pasti. Kerap kali kau mendapatinya bicara dengan sorot mata menggoda dan seringai menyebalkan di bibir. Dan Kenma akan bersikap seolah tak acuh, perhatian tercurah pada game di tangan, sementara alisnya mengkerut dan bibir mengerucut macam anak kecil yang kesal lantaran digoda orang dewasa. Tanpa sadar kau pun tersenyum, sebab kau tahu, menggoda orang bisa jadi tanda kasih sayang. Suatu wujud rasa cinta yang paling sederhana—selayaknya bocah SD yang senang mengganggu orang yang disayang dalam cerita-cerita cinta monyet.

Di lain hari, tak jarang Kenma begitu mengantuk sampai jatuh tertidur di bahu Kuro. Dan Kuro akan tersenyum maklum, membiarkannya terlelap, sambil sesekali mengelus-elus kepalanya. Kenma terlihat nyaman di sana. Namun saat pemuda berkepala puding itu terbangun, Kuro akan berubah jadi galak dan menghujaninya dengan berbagai nasihat. Sudah kubilang jangan main game semalaman, demikian ia selalu berkata, cukup keras sampai kau mendengarnya.

Ketika kereta sampai di pemberhentian dekat Nekoma, Kuro selalu berjalan di belakang Kenma dan memastikannya baik-baik saja. Sekali waktu, ada seorang pria yang berjalan tergesa keluar kereta, nyaris saja menyenggol Kenma, namun Kuro sigap menarik lengan Kenma dan merangkul bahunya dari belakang. Ada kesan protektif yang kau tangkap, seakan-akan Kenma adalah benda yang rapuh dan berharga dan Kuro tak mau ia tergores barang sedikit saja.

Mendekati waktu-waktu ujian, kau lihat Kenma sering membawa buku pelajaran, dan Kuro menjelaskan sesuatu padanya sambil menunjuk-nunjuk tulisan dalam buku. Dari sinar mukanya, dari gerak bola matanya, dari caranya berbicara, kau simpulkan Kuro adalah anak yang pintar. Kau sempat mengira ia adalah anak berandalan. Kau rupanya salah menilai. Kuro adalah pemuda baik-baik. Ia peduli pada Kenma, bahkan membantunya belajar.

Dari hal-hal sederhana itu, perlahan-lahan kau mulai menyadari, bahwa sejatinya, Kuro menaruh rasa pada Kenma. Sebab seumur-umur, belum pernah kau melihat tatapan yang sedemikian memuja, kepedulian yang begitu kentara. Segala hal yang kau lihat tentulah cara Kuro membungkus kasih sayangnya pada Kenma.

Kau diam-diam membayangkan seandainya dirimu jadi Kenma. Pasti sangat bahagia punya seseorang seperti Kuro di sampingmu. Kalau waktunya tiba nanti, kau berjanji akan mencari seseorang yang menatapmu seperti Kuro menatap Kenma. Menjagamu seperti Kuro menjaga Kenma. Satu harapan tumbuh dalam hatimu, kau berharap mereka bahagia bersama.

Demikianlah tahun pertamamu di SMA berjalan, dibumbui kisah manis dari sepasang pemuda asing yang kau temui di dalam kereta. Setiap kali mereka ada, pagi harimu jadi sedikit berwarna, manis seperti habis mencicip gula. Hanya beberapa menit di pagi hari, singkat, sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam di hati.

Menginjak tahun kedua, Kuro menghilang. Kau kira ia hanya absen selama satu atau dua hari. Seminggu, dua minggu, sebulan, enam bulan, Kuro tak pernah terlihat lagi. Setiap hari, Kenma duduk seorang diri di sana. Wajahnya muram, tak bersinar seperti dulu. Kadangkala, ia melirik ruang kosong di sebelahnya, seakan-akan merindukan sosok yang senantiasa hadir di sana.

Tak bisa dipungkiri, kau pun merasa gamang—sekaligus penasaran. Ke mana perginya Kuro?

Sudahkah ia mengutarakan perasaannya pada Kenma?

Pagi harimu yang dulu berwarna, kini terasa kelabu—lebih suram dari kelabu, malahan. Terbiasa melihat mereka selalu berdua, berjalan bersisian, kini hanya tinggal Kenma sendiri, kau turut merasa ada yang hilang. Tak ada lagi yang menggoda Kenma, menjadi sandaran dalam lelapnya, menjadi perlindungan saat diterjang arus manusia.

Tak pernah sekali pun kau berpikir kisah mereka akan berakhir seperti ini.

Berbagai spekulasi bermunculan dalam benakmu. Mungkin Kuro pindah sekolah. Atau mungkin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Mungkin ia terbaring di rumah sakit karena suatu sebab. Atau malah lebih buruk lagi, ia sudah tak ada di dunia ini.

Kau serasa ingin menangis memikirkan kemungkinan itu—tetapi tidak. Kau menggeleng keras-keras. Wajah sedih yang Kenma perlihatkan setiap kali melirik ke bangku sebelahnya, tanpa sadar sudah memancing pikiran-pikiran buruk. Kau meyakinkan dirimu sendiri, berharap Kuro baik-baik saja di mana pun ia berada.

Sampai suatu pagi di musim gugur, kau akhirnya menemukan jawabannya.

Pagi itu langit cerah. Awan setipis kapas menghiasi langit biru pucat. Tubuhmu terasa hangat diterpa cahaya matahari keemasan. Dalam perjalanan menuju stasiun, kau melintasi taman. Jalanan sepi, suasana tenang. Saat itulah, kau tak sengaja melihatnya. Di antara pepohonan rimbun dan daun yang berguguran, ada dua pemuda yang tampak familier, sedang berciuman.

Angin menerbangkan helaian rambutmu dan kau terpana.

Sosok jangkung itu telah kembali, dalam balutan busana kasual. Ia membungkuk demi memangkas perbedaan tinggi badan, kemudian mengecup bibir Kenma. Lembut, namun dalam. Kedua tangan mereka saling bertautan.

Seketika pipimu memerah dan kupu-kupu yang sudah lama terdiam di dalam perutmu kini kembali beterbangan. Kuro dan Kenma, memadu asmara di bawah naungan pohon maple. Daun-daun beterbangan, daun-daun memerah, semerah wajahmu, semerah wajah mereka.

Kau tak tahu lima detik bisa terasa seindah ini.

Ketika kedua bibir itu akhirnya terpisah, matamu tanpa sengaja bertemu dengan mata Kenma. Ia membeku di tempat, dan kau lekas-lekas memalingkan pandangan seolah tak melihat, kemudian berlalu pergi. Kau tak ingin merusak suasana indah yang sudah tercipta di sana.

Namun, kau tidak benar-benar pergi. Kau bersembunyi di balik pohon demi melihat kelanjutannya.

Dari kejauhan, kau bisa melihat Kuro dan Kenma berbicara. Raut wajah mereka terlihat bahagia. Tak lama, mereka berpelukan erat, kemudian berpisah. Lambaian tangan, kaki melangkah. Kenma menuju stasiun dan Kuro menuju arah berlawanan.

Akhirnya, kau tahu ke mana Kuro selama ini. Ia tidak ke mana-mana, tidak pula sekarat karena suatu sebab. Ia hanya lebih tua dari Kenma. Ia lulus lebih dulu dan Kenma tertinggal di Nekoma. Dan pemandangan yang baru saja kau saksikan, sudah cukup bercerita bahwa kisah mereka tak berakhir begitu saja. Selepas Kuro lulus, entah apa yang terjadi, namun kini mereka telah menjadi satu. Menjadi sepasang kekasih yang berbahagia, seperti yang kau harapkan.

Kau tak bisa menahan senyummu. Kau turut berbahagia untuk mereka berdua. Dengan hati berbunga-bunga, kau melanjutkan perjalanan ke stasiun.

Pagi itu, seperti biasa, kau duduk satu gerbong dengan Kenma. Pemuda pirang itu nampaknya tak sadar dengan kehadiranmu. Ia sibuk berkutat dengan gawainya. Namun di satu titik, ia mengangkat wajah, kemudian mata kalian bertemu untuk yang kedua kalinya.

Kenma terpaku selama beberapa detik. Tentu ia ingat kau, orang yang telah memergokinya berciuman dengan Kuro. Namun kemudian, pelan tapi pasti, ia menyunggingkan senyum tipis. Telunjuk terangkat di depan bibir. Ada binar-binar jenaka di matanya, dan seketika kau mengerti arti tatapannya.

Jangan bilang siapa-siapa ya.

Kau balas tersenyum. Tak ada kata yang terucap, namun kau yakin ia mengerti arti senyumanmu.

Mendadak, satu gelombang kesadaran menghantam kepalamu. Satu fakta yang baru kau sadari, yaitu bahwa selama ini Kenma tahu dan sadar betul sedang kau amati. Naif kalau kau menganggap dirimu macam penyihir yang punya kekuatan super untuk tak terlihat. Hampir dua tahun lamanya kau dan ia duduk di gerbong yang sama, bahkan tak jarang kau memilih tempat duduk yang dekat dengannya. Tentulah ia menyadari kehadiranmu. Apalagi, manusia punya radar misterius yang bisa mendeteksi ketika tatapan orang lain sedang terarah padanya.

Ya, Kenma sadar betul. Ia hanya berpura-pura tak peduli dan membiarkan dirimu menyimak perjalanan cintanya dengan Kuro. Dan mungkin juga ia sengaja berpura-pura sedih saat Kuro tak ada, demi menambah kesan dramatis dan membuatmu penasaran setengah mati. Aih, kau sudah terperangkap dalam permainannya.

Memalukan, memang. Tetapi rasa malu itu tak lebih besar dari rasa senangmu mendapati mereka kini sudah menjadi sepasang kekasih. Ya, kisah mereka sungguh manis meski hanya diamati dari sudut pandang orang asing sepertimu. Kau berharap suatu saat nanti, kisah cintamu akan semanis milik mereka.

Kereta terus berjalan dan kau tak sabar menanti kisah apa lagi yang akan kau temui pada pemberhentian-pemberhentian selanjutnya.

.

END

.