Sasuke mengempiskan perut secara refleks ketika sapu tangan yang dingin karena dibasahi alkohol ditempelkan pada bagian yang Sakura tonjok. Tangan gadis itu memutari tubuh Sasuke beberapa kali untuk memperkuat lingkaran perban sebagai penahan sapu tangan. Sesekali dia mendesis ketika ujung jemari Sakura menyentuh kulitnya. Hangat yang berkonduksi melalui sentuhan kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya lupa akan adanya sesuatu bersuhu rendah menempel di tubuhnya.
Sedari tadi, sorot mata Sakura ditujukan pada tangannya sendiri. Matanya benar-benar menghindari menatap tubuh Sasuke karena hal tersebut akan semakin memperkuat atmosfer canggung yang menyekap dirinya dan Sasuke. Dia hanya bisa berharap Sasuke tak menyadari ketegangan otot tangannya setiap kali bersentuhan dengan kulit lelaki itu. Mengingat pekerjaannya di bidang medis, seharusnya ini sangat, sangat normal. Bahkan klise. Namun, karena Sasukelah yang diurusinya, semuanya terasa asing dan membuat pergerakannya kikuk.
"Sementara begini dulu." Selesai dengan pekerjaannya, Sakura membenarkan posisi kaus Sasuke kembali. Tanpa disadari, keduanya sama-sama mengembuskan napas lega.
Sakura segera menarik mundur tubuh dan mengepal sebelah tangan. Ada sebersit penyesalan karena sudah mematahkan tulang Sasuke ketika fasilitas di sekitar tak mendukung untuk mengobatinya. Di tengah hutan seperti ini, tentu saja tidak ada yang namanya es. Padahal, dia sangat membutuhkan materi tersebut untuk tulang rusuk yang patah sehingga dia tidak perlu ada di posisi nyaris memeluk Sasuke yang tengah bertelanjang dada. Dengan adanya sekantung es, Sasuke hanya perlu memegangnya sendiri dan ditempelkan pada bagian yang nyeri. Tidak memerlukan Sakura untuk melingkari tubuhnya menggunakan perban sebagai penahan sapu tangan yang dingin dibasahi alkohol.
"Aku bisa memperbaiki patahannya, tapi itu akan melewati proses yang sangat menyakitkan." Sakura berusaha melawan gerak-gerik kikuknya. "Tidak, jangan bilang kau tidak masalah dengan itu. Aku tahu kau akan sanggup melewatinya. Namun, lokasi kita saat ini tidak mendukung. Percayalah, akan menjadi jauh lebih menyakitkan jika aku melakukan penyembuhan di sini, saat tubuhmu hanya bisa menyandar pada kerasnya batu dan tanah, atau kasarnya kulit pohon."
Sasuke tidak memberikan tanggapan dalam bentuk protes. Dia menuruti apa kata Sakura. Lagi pula, patahnya tulang rusuk sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan luka-lukanya saat perang. Mungkin Sakura bersikap berlebihan karena dialah yang menjadi penyebabnya. Meski Sasuke merasa ini bukan masalah. Dia bahkan berpikir Sakura tidak perlu mengobatinya karena dia layak menerima sakit fisik yang dirasanya sekarang.
"Ini sedikit lucu," kata Sasuke tiba-tiba.
Sakura melebarkan kedua matanya dan kembali menatap Sasuke. Sorot matanya sudah tidak setegang sebelumnya. Bahkan, kini ada kilat geli. "Whoa, kau punya selera humor! Mengejutkan sekali!"
Sasuke mendengus mendengar kata-kata Sakura. Dilemparkannya tatapan terganggu. Sakura ada benarnya memang. Namun, kebenaran itu disampaikan dengan cara yang membuatnya jengkel.
"Aku bercanda, Sasuke-kun." Melihat Sasuke yang begitu terganggu, Sakura terkekeh-kekeh. Matanya menyipit mendukung ekspresinya. "Apa yang lucu?"
Tarikan napas panjang dilakukan oleh Sasuke. "Kau yang melukaiku, dan kau jugalah yang menyembuhkanku."
"Kita impas kalau begitu."
"Impas?"
Sakura tersenyum sebagai tanggapan. Sekali-kali dia ingin menjawab pertanyaan Sasuke tanpa suara. Dia ingin tahu apakah Sasuke akan menangkap maksudnya atau tidak.
Oh. Sasuke langsung memahami apa yang Sakura maksud. Dia pernah melakukan hal yang sama, maka dari itu disebut impas. Ada sekelumit ikatan erat di perutnya yang membuat mual dan susah menelan ludah. Rasa bersalah, lagi. Namun, perasaan itu hilang ketika mengingat maksud kata impas. Bukankah berarti dia juga sudah menyembuhkan luka Sakura yang disebabkan oleh dirinya?
"Sejak kapan?"
Gelombang hangat menghantam hati Sakura saat sadar bahwa Sasuke memahaminya. "Kau meminta maaf. Kau kembali untukku, yah meski pergi lagi tanpa pamit. Kau memintaku ikut denganmu—yang ini kau melakukannya dengan sepenuh hati, 'kan? Kalau ternyata tidak, kita tidak jadi impas."
"Aku bersungguh-sungguh."
Sakura tersenyum lagi. Kali ini, disertai perasaan lega. Dia mengenal Sasuke. Tidak mungkin lelaki itu tidak bersungguh-sungguh jika mengingat suara lantangnya yang meminta Sakura ikut dengannya.
"Suatu hari nanti ... tulang rusukmu yang patah bisa jadi titik lemahmu. Kurasa tidak masalah jika mengingat kau memiliki susano'o. Intinya, bekas lukanya akan terus ada, meski sakitnya sudah tidak terasa." Ada jeda yang terbentang beberapa detik. Namun, tidak cukup lama sampai Sasuke sempat untuk menimpali. "Dan itu berlaku juga untukku."
"Aa." Segumpal ludah yang berusaha Sasuke telan kembali lagi ke dalam mulutnya. Kata-kata Sakura seolah menyumbat kerongkongannya. Dia tahu, seberapa besarnya pun dia berusaha memperbaiki Sakura, bekas lukanya akan terus ada, entah sampai kapan. Barangkali ... sampai gadis itu tak sanggup merasakan apa-apa lagi. Atau bahkan di saat itu pun, bilurnya akan terus ada sebagai pengingat atau pelajaran baginya. Pelajaran untuk jangan pernah mengulanginya lagi.
Menyadari tensi yang mulai tidak mengenakkan bagi keduanya, Sakura cepat-cepat memutar otak untuk mencairkan suasana. Apa yang melesat di benaknya membuatnya tersenyum simpul, merasa idenya cukup bagus untuk membawa topik ini sekarang.
"Naruto titip satu tinjuan di wajahmu. Dia mau wajahmu sampai bonyok seperti bagaimana wajahnya ketika dia terkena tonjokanku."
"Apa? Anak idiot itu ..." Sasuke menautkan alis dan menayangkan ekspresi terganggu. Bukan untuk Sakura, melainkan untuk lelaki yang namanya gadis itu sebut. Kepalan tangannya mengerat begitu saja. Dia mendengus. "Sebelum aku pergi, komunikasi kami masih baik-baik saja."
"Yah, itu karena dia marah setelah kau sudah pergi." Sakura mengedikkan kedua bahu. "Dia marah karena kau berbohong padanya dan Kakashi-sensei dengan mengatakan bahwa kau sudah bilang padaku sebelum kau pergi. Jangan lupa bahwa ikatan kami begitu kuat sampai cukup untuk membuatnya marah ketika tahu bahwa kau berbohong padaku. Lihat, ternyata masalah kau pergi diam-diam di belakangku jadi serumit ini!"
"Sakura," erang Sasuke. Sedikit menyebalkan memang membayangkan setelah ini dia akan punya dua titik rasa sakit. Wajah yang bonyok dan tulang rusuk yang patah. Bagus sekali.
Sakura tertawa melihat Sasuke yang kelihatan tidak suka. "Aku tidak akan melakukannya sekarang. Tidak sebelum tulangmu yang patah sembuh kembali," ucapnya berusaha menenangkan. "Namun, perlu kau ingat, aku pasti akan melakukan apa yang Naruto titipkan."
"Terima kasih."
Tanpa Sasuke sadari, dia mendesah lega. Meski dia mendapati kilat antusias di mata Sakura ketika mengatakan kalimat terakhirnya. Tak pernah terbersit di otaknya bahwa akan datang hari di mana Sakura begitu antusias membuatnya bonyok.
Sakura mengangguk dan tersenyum. Tetap saja, dia tak bisa setega itu. Namun, segelintir perasaan tak sabar akan kesembuhan tulang rusuk Sasuke tiba-tiba menyambangi dirinya.
"Aku ... masih tidak percaya kau sampai rela berbohong daripada bicara padaku." Sejahat apa pun pribadi yang pernah menyelubungi diri Sasuke, mulutnya bukanlah mulut seorang pendusta. Yah, meski ada kalanya dia berbohong juga untuk menyembunyikan perasaan aslinya. Atau memilih kata-kata lain hingga maksud kata-katanya tidak bisa langsung ditangkap dalam sekali dengar. Itulah sebabnya hal ini sulit Sakura percayai. Sasuke berbohong. Demi menghindari bertemu dengannya sebelum pergi. Entah Sakura harus merasa apa tentang ini.
Sasuke tertegun. Mengingat semarah apa dia pada Itachi karena sudah membohongi dirinya nyaris seumur hidupnya, dia pun sulit memercayai diri bahwa dia sudah berbohong demi ini. Demi keegoisan dan dia yang terlalu pengecut untuk menghadapi perpisahan. "Sakura, aku—"
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku mulai mengerti maksud kata-katamu tadi. Kalau aku harus pergi, aku akan sangat membenci perpisahan. Mungkin keadaan akan jauh lebih mudah tanpa perpisahan. Ya, 'kan, Sasuke-kun?"
Entah mengapa, Sasuke merasa sedang tertangkap basah. "Kau benar." Namun, dia mengakuinya juga.
"Meski tetap saja setidaknya aku akan berusaha mengabari, sih."
Dan cicitan terakhir Sakura sukses membuat Sasuke bungkam karena entah harus menanggapi seperti apa.
Sakura menutup ransel dan dipanggul di punggungnya kembali. Dia beranjak dari duduknya sambil memasang sarung tangan yang dibuka untuk memasang perban. Matanya tak terlepas dari Sasuke yang menyusul berdiri juga.
"Sekarang ke mana tujuan kita?"
Lupa dengan betapa dia tak ingin Sakura ikut dengannya karena beberapa pertimbangan, Sasuke justru menyukai tergelincirnya kata kita.
"Permukiman terdekat. Kita butuh makanan." Meski dalam tiga hari dia hanya makan sedikit, Sasuke memang tak membawa perbekalan banyak karena tergesa-gesa.
Sakura melepas tali ransel dari salah satu bahu hingga ransel tersebut ada di depan tubuhnya. Resletingnya dibuka. Suaranya menarik perhatian Sasuke. "Perbekalanku masih utuh. Kita bisa makan itu."
"Utuh?" Ditariknya sebelah alis. Sasuke menebak bahwa Sakura menyusul Sasuke di hari yang sama dengan ketika dia pergi. Bukankah berarti Sakura belum makan sama sekali selama tiga hari? Dan tenaganya sanggup membuat tulang rusuknya patah!
"Kau pikir aku punya waktu untuk makan ketika kau berjalan semakin menjauh? Sementara aku sadar bahwa kecepatanku jauh sekali di bawah kecepatanmu."
Sasuke sempat bertanya-tanya apa yang berubah dari wajah Sakura. Sekarang dia tahu, sedikit pucat. Mungkin karena tidak makan. Dia membayangkan berapa lama waktu tidur yang Sakura korbankan demi mengejar dirinya. Kalau kefokusan Sasuke tidak buyar, Sakura pasti akan sangat kesulitan untuk bertemu dengannya.
"Kau terlalu memaksakan diri, Sakura." Dan begitu pula dirinya. Dia sama-sama mengorbankan waktu tidur dan mempercepat proses makan atau tidak makan sama sekali untuk menjauh secepatnya. Namun, ketidakfokusan menghambat jalannya.
"Aku tahu." Setelah memastikan bahwa perbekalannya masih berada di tempatnya, Sakura menutup ranselnya kembali. Dia menunduk dan menelaah lahan sekitar. Kondisi di sini kurang cocok untuk menjadi lokasi makan. "Tanah di sini basah. Ayo cari yang kering."
Sasuke mengangguk. Kemudian keduanya melangkah mencari lokasi strategis untuk makan. Setidaknya tempat yang nyaman diduduki, tidak perlu setengah berjongkok seperti tadi. Atau setidaknya mencari tanah yang tidak membuat sepatunya dipenuhi lumpur seperti di sini.
Langit malam masih segelap sebelumnya. Sama sekali tak ada bintang. Cahaya rembulan pun sudah menghilang dihadang awan. Keduanya mengandalkan kejelian mata masing-masing untuk melangkah ke depan. Dan hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Tanah di daerah sini masihlah tanah basah.
Tak cukup dengan gelap, udara pun lebih dingin daripada malam biasa. Angin yang berembus cukup untuk membuat keduanya menyipitkan mata dan bergidik. Entah hanya perasaan Sasuke saja, tapi dia beberapa kali mendapati tubuh Sakura yang limbung ketika tertiup angin. Gadis itu tidak sekurus itu hingga tiupan cukup untuk menggoyahkan kakinya. Kalau Sasuke tidak salah, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kemudian asumsinya ditegaskan oleh Sakura yang memegangi kepalanya sambil setengah menahan langkah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke memastikan.
Bahu Sakura menegang. Segera dia kembalikan posisi tangannya ke samping tubuh. "Ya," jawabnya singkat.
Seharusnya jawaban Sakura cukup untuk membuatnya lega. Namun, ternyata tidak. Sengaja dia berjalan satu langkah di depan Sakura untuk menunjukkan jalan. Sasuke berpikir bahwa kali ini Sakuralah yang kehilangan fokusnya. Apalagi, Sakura kelihatannya lebih banyak mengabaikan istirahat dan makan dibanding dirinya.
Suara sesuatu yang membentur tanah menghentikan langkah Sasuke. Angin terasa langsung berembus ke tengkuknya, berarti tak ada apa pun yang berdiri di belakang tubuhnya. Dia segera memutar tubuh dan menahan napas ketika mendapati Sakuralah sumber bunyi benturan ringan tadi. Kedua matanya tertutup rapat. Gadis itu pingsan.
"Sakura?" Sasuke segera berjongkok dan menyentuh pipi dan kening Sakura. Panas. Tak butuh menjadi seorang ahli medis untuk mengetahui bahwa Sakura terkena demam. Mungkin hal ini sudah gadis itu alami sejak tadi, pantas saja aliran chakra-nya tidak stabil. Dan ketika penyembuhan kedua kali, Sakura lebih memilih menempelkan kain beralkohol ketimbang mengalirkan chakra. Dia mencaci Sakura dalam hati karena sudah mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri dan berpura-pura lupa bahwa dia melakukan hal yang sama. Setidaknya dia tidak memaksakan diri sampai pingsan.
Sasuke menepuk pipi Sakura perlahan dan memanggil namanya untuk membantunya sadar. Gadis itu masih bergeming. Dia menatap rambut Sakura yang tenggelam ke dalam tanah basah. Jelas-jelas mereka tidak bisa diam saja di sini. Mengingat kondisi Sakura saat ini, tidak mungkin jika gadis itu dipanggul di salah satu bahunya. Maka, Sasuke menatap tangan dan lengannya. Dia membisikkan harapan semoga dia sanggup menggendong Sakura di depan tubuhnya.
Pandangan Sasuke dilemparkan sejauh yang dia bisa. Ada cahaya-cahaya kecil di kejauhan, pertanda eksistensi permukiman. Setelah memantapkan diri, dia menyelipkan tangan kanannya di bawah kedua lutut Sakura. Setelah terangkat sedikit, lengan kanannya diselipkan di bawah punggung. Dia meringis ketika tubuh Sakura menekan tulang rusuknya yang patah. Wajah gadis itu menghadap ke dadanya, sebagai upaya Sasuke agar dia tak terjatuh dari tangannya. Setelah yakin bahwa dia sanggup membawa Sakura dengan segala keterbatasannya, Sasuke melangkah secepat yang dia bisa menuju titik-titik cahaya di kejauhan.
Tiba-tiba hujan turun begitu saja. Terjawab sudah latar belakang betapa gelap dan dinginnya malam ini. Sasuke mengumpat keras ketika merasakan bahwa hujan ini bukan dalam bentuk rintikan kecil, tetapi seolah diguyur dari gayung. Tenaganya tak cukup untuk melompat sejauh yang dia bisa. Maka, dia hanya melangkah selebar-lebarnya saja.
Dicondongkannya tubuh untuk menghalau air membasahi tubuh Sakura. Hasilnya sudah bisa ditebak: gagal. Dia menyadari bahwa Sakura memang benar-benar pingsan ketika air saja tak cukup untuk membuatnya sadar.
Embusan napas lega terlepas ketika dia sudah memasuki permukiman. Cepat-cepat dia mencari sebuah penginapan. Ketika pintu sebuah kamar sudah dibantu dibuka oleh pemiliknya, Sasuke melangkah ke dalam dengan langkah sigap. Lantai kayu ditetesi air yang terjatuh dari tubuhnya dan Sakura. Untunglah pemilik penginapan bukan ibu-ibu cerewet, melainkan seorang wanita yang pengertian. Bahkan, sampai dua helai handuk pun dipinjamkan.
Sasuke mengucap terima kasih pada wanita baik tersebut. Dia membungkus tubuh Sakura menggunakan handuk sebelum memedulikan tubuhnya sendiri. Tangannya disentuhkan pada kening gadis itu. Panasnya masih cukup tinggi, namun sedikit mendingin karena kulitnya dibasahi air hujan. Dia menatap handuk yang kini sudah basah sepenuhnya karena menyerap basah dari pakaian Sakura. Jelas handuk tidak cukup untuk mengeringkan pakaiannya. Gadis itu harus ganti baju sebelum dingin memperparah demamnya.
Dia melangkahkan kaki ke luar untuk meminta satu bantuan lagi pada wanita tadi untuk mengganti pakaian Sakura. Sayangnya, sosok yang dicarinya tidak ada di tempat sebelumnya. Tempat itu kini diisi seorang pemuda yang kemungkinan seusia dengannya. Tentu saja Sasuke tidak mungkin meminta tolong pada pemuda itu. Maka, Sasuke memutar tubuhnya kembali tanpa hasil.
Bibir Sakura membiru dan hal tersebut membuat Sasuke semakin bingung. Dia menatap handuk yang tadinya mau digunakan untuk dirinya sendiri, tetapi langsung sadar bahwa materi tersebut tidak cukup untuk dijadikan solusi. Sasuke memijat ujung hidungnya. Tatapan matanya menangkap tas Sakura. Dia meraih tas tersebut, tapi terlalu enggan untuk membukanya karena takut menemukan barang pribadi milik Sakura yang akan membuatnya semakin canggung. Maka, ransel tersebut ditaruh lagi. Sebagai pengganti, dia mengambil tasnya sendiri yang anti air. Sebuah kaus kering bertangan panjang sudah berada di tangannya. Kemudian, dia menatap tubuh Sakura yang tampak membeku dan mendesah pasrah.
Sasuke membuka handuk yang membungkus tubuh Sakura dengan tangan gemetar. Pergolakan dalam dirinya membuat tangannya tertarik kembali. Dia hanya punya dua pilihan: membiarkan Sakura memakai pakaian basah atau pilihan lain. Kemungkinan-kemungkinan berseliweran di dalam benak Sasuke. Maka, ditariknya sebuah keputusan. Bagaimana respons Sakura tentang ini bisa dia pikirkan nanti.
.
.
Kepala Sakura pusing bukan main sampai dia kesulitan untuk membuka matanya. Suhu kamar terasa hangat hingga menyelundup ke dalam pori-porinya. Mata Sakura langsung terbuka lebar ketika kenyataan membuatnya langsung melupakan pusingnya. Dia berpikir bahwa segala yang terjadi semalam adalah mimpi, dan kini dia terbangun di dalam kamarnya. Namun, setelah menyadari bahwa kamar ini merupakan ruangan yang asing, Sakura langsung membuang jauh-jauh asumsinya.
Cat dinding yang berwarna gading membuat cahaya dari jendela memantul begitu saja. Setiap sudut ruangan ini sudah dihiasi cahaya. Sakura langsung tahu bahwa dia bangun kelewat siang. Dia mengerang ketika menyadari semalam dia pingsan dan jelas-jelas membuat Sasuke repot. Dia mengutuki diri karena tidak sadar akan kondisi tubuhnya. Seharusnya dia sempatkan makan sekalipun sambil berjalan, daripada tidak sama sekali dan membuatnya tak sadarkan diri.
Sedari tadi Sakura sama sekali tidak mencium eksistensi Sasuke di ruangan ini. Kamar ini terlalu kecil jika Sasuke memutuskan untuk bersembunyi. Pikiran negatif langsung menyerang benak Sakura tanpa bisa dihadang. Dia takut Sasuke meninggalkannya lagi. Dan parahnya, kali ini di tempat yang sama sekali tak dia kenali.
Sakura berusaha mendudukkan diri melawan kepalanya yang terasa berat. Pandangannya dilempar ke seluruh sudut ruangan. Tak ada satu pun barang Sasuke yang berserakan di ruangan ini. Hal ini semakin memperkuat asumsinya. Dia mulai panik. Dia ingin sekali beranjak dari tempat tidur, tetapi kepala pusingnya langsung menghadang. Dia harus menemukan Sasuke. Sekarang juga.
Kemudian, paniknya langsung terserap sosok yang baru saja membuka pintu. Sasuke. Sakura langsung mengembuskan napas lega. Asumsinya benar-benar salah ketika melihat Sasuke membuka lemari dan meraih barangnya.
"Oh, astaga," gumam Sakura. Dia berdeham untuk mengubah suara parau khas orang baru bangun tidur menjadi suara normal. "Kau harus tahu semua rencana jahatku saat aku berpikir bahwa kau meninggalkanku di sini."
Sasuke memutar tubuhnya. Kelihatannya dia baru sadar bahwa Sakura sudah bangun dari tidur—atau pingsannya.
"Rencanaku jahat sekali." Sakura meneruskan kalimatnya ketika suaranya mulai normal. "Sampai aku tidak tega untuk menyampaikannya. Namun, kurasa aku harus. Mungkin hal ini bisa kau perhitungkan sebelum kau meninggalkan aku lagi?"
Sasuke menarik sebelah alis, melempar sebuah tatapan bertanya. Langkah kakinya memangkas jarak antar tubuhnya dengan tempat tidur.
"Katakan saja kalau itu membuatmu merasa lebih baik."
Salah satu sudut bibir Sakura tertarik. Pusing di kepalanya sudah mulai berkurang. "Aku ingin membunuhmu, Sasuke-kun. Tidak, tidak. Bukan bunuh. Menyiksamu pelan-pelan. Sangaaat pelan, sampai-sampai kau mungkin akan memohon padaku untuk membunuhmu saja ketimbang merasakan penyiksaan dariku. Aku tidak mau mengatakannya secara terperinci. Pokoknya aku lakukan itu agar kau tak akan pernah mau meninggalkanku lagi tanpa sepatah kata pun karena trauma!"
Kali ini, Sasuke yang menyeringai. "Kau benar-benar berpikir bahwa aku akan membiarkan itu semua terjadi?"
"Yah, sepertinya begitu." Sakura mengedikkan kedua bahunya.
"Aku tidak."
"Hm?"
"Kau tidak akan melakukan semua itu jika aku tidak meninggalkanmu."
"Tentu."
"Maka aku tidak akan melakukannya." Seringai di bibirnya menghilang. Sasuke menatap Sakura dengan pandangan serius. "Kalau memang aku terdesak harus pergi lagi, aku akan bilang. Sesulit apa pun itu."
Sakura membalas kata-kata yang membuatnya hatinya damai dengan sebuah senyum manis. Dia mengangguk dan menaruh kepercayaan baru. "Aku pegang kata-katamu."
"Hn."
"Ngomong-ngomong, Sasuke-kun," bisik Sakura. Dia menggigit bibirnya lamat-lamat.
Sasuke menatap wajah Sakura sebagai tanggapan. Bibirnya membentuk cekungan ke bawah melihat ekspresi Sakura.
"Aku ikut bukan untuk membuatmu repot. Maaf, ya."
Sasuke menggeleng, tidak setuju dengan pernyataan Sakura soal repot. "Lain kali pikirkan juga kondisimu."
Sakura mengangguk lemah. Dia semakin memperdalam tundukan kepalannya. Tangan yang dipangku di atas selimut memasuki indra penglihatannya. Dia langsung sadar bahwa kaus yang dikenakannya saat ini bukanlah miliknya. Hitam sama sekali bukan warnanya.
Diangkatnya tangan untuk memperjelas kaus yang melapisi tubuhnya. Dari wangi yang menguar, ada aroma tubuhnya sendiri yang bercampur dengan aroma lain. Aroma maskulin dari Sasuke. Tak butuh bertanya lagi untuk tahu siapa pemilik kaus ini.
Mata Sakura melebar ketika menyadari sesuatu yang sedikit janggal. Bagian dadanya terasa longgar dan nyaman. Jangan-jangan ...? Bahunya menegang ketika dia paham kondisinya sendiri. Kedua tangannya langsung disilang di depan dada secara refleks karena kain yang menutupi atasannya hanya satu helai.
Sakura melempar pandangan Sasuke yang tengah mendekati pintu dengan sorot mata panik. "Sasuke-kun?"
"Hn?" Sasuke memutar lehernya.
Sakura meneguk ludahnya. Pelukan di tubuhnya sendiri semakin erat. "Si-siapa yang mengganti pakaianku?"
"..." Genggaman tangan Sasuke mengerat di kenop pintu. Bahunya menegang tanpa dia kehendaki. Samar-samar kemerahan mewarnai wajah dan ujung telinganya. Dia harap Sakura tak menyadari tanggapan tubuhnya atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan.
Kedua mata Sakura membulat ketika mendapati jawaban apa yang diberikan dari gestur yang Sasuke perlihatkan. Ti-tidak mungkin! Dia bahkan tidak mengenakan bra. Sakura ingin teriak sekencang-kencangnya sekarang juga. Wajahnya memerah semerah-merahnya. Namun, segera dia tahan ketika ide yang lebih baik melesat di otaknya.
Tonjokan yang Naruto titipkan untuk Sasuke melalui dirinya sepertinya jauh lebih menarik daripada teriak.
Oh, Sakura jelas lupa bahwa tulang rusuk Sasuke sama sekali belum pulih (atau pura-pura lupa).
.
.
Bersambung
