Sakura menyibak selimut yang menutupi pinggang sampai kakinya. Belum sempat dia memijak lantai, matanya mendapati handuk basah yang tersampir di kaki ranjang duluan. Pergerakan yang sudah direncanakan secara runtut terhenti seketika. Perlahan-lahan dia menunduk untuk menatapi pahanya, dan menyadari bahwa bawahan yang dia kenakan masih sama seperti sebelumnya. Dia yakin tipe celana yang dia pakai sekarang adalah satu-satunya yang dia bawa. Berarti Sasuke tidak mengganti bawahannya.

Setelah menetralisir respons tubuhnya terhadap pertanyaan Sakura, Sasuke melepas genggaman tangan pada kenop pintu. Dia urung menoleh, sedikit khawatir pikirannya akan berlarian ke mana-mana ketika menatap Sakura. Ludahnya terteguk dengan sulit. Disusul oleh suara tenggorokan yang dibersihkan. "Aku tidak melihat apa pun," akunya dengan nada canggung yang disembunyikan.

Sakura membeku. Niat jahatnya sedikit meluruh. Longgar di dadanya membuat tubuhnya menegang kembali. Otak Sakura langsung diisi bayangan lelaki itu memejamkan mata atau mengalihkan pandangan sembari mengganti pakaiannya, kalau Sasuke memang tidak berdusta soal tidak melihat apa pun. Dan bayangan itu jauh lebih membuatnya malu setengah mati. Bukankah berarti Sasuke pasti menerka-nerka ke mana tangannya harus menjalar?

"Ta-ta-tapi tanganmu ...!" Sakura berteriak histeris. Dia sudah lupa soal ide lebih baik yang melesat di otaknya tadi. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ketika Sasuke mengganti pakaiaannya membuatnya ingin masuk ke dalam lubang dan terus bersembunyi. Kedua telapak tangan menempel di pipinya yang bersemu sepenuhnya. Merasa kaus milik Sasuke merosot dari bahunya, kedua tangan itu berpindah kembali ke depan dada. Matanya bergerak liar dan terhenti ketika menatap punggung Sasuke yang masih tampak kaku.

"Aku tidak menyentuh apa pun selain untuk keperluan mengganti pakaian ..." Sasuke memasukkan tangan ke dalam saku. Tiba-tiba telapak tangannya diliputi rangsangan aneh. Dia menggigit lidah dan meneguk ludah. Sesuatu di dalam dirinya mendesak untuk berkata jujur. Pandangannya lurus ke depan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "... kecuali jika tidak disengaja."

Embusan napas lega sempat terlepas dari hidungnya, tapi langsung tergantikan oleh tatapan horor ketika mendengar penuturan Sasuke selanjutnya. Sakura refleks memikirkan tentang bra yang seharusnya masih dia pakai. Pikirannya sendiri nyaris membuatnya gila. Dia memejamkan mata erat-erat dan menyumbat telinga menggunakan kedua tangan. Suara teriakannya menggema tanpa memedulikan keadaan. Dan Sasuke tersadar bahwa kini bukanlah saatnya dia memaku diri di depan pintu.

Sasuke mendecakkan lidah. Dia menarik salah satu tangan Sakura yang menyumbat telinga. "Teruslah berteriak jika kau lebih suka terbangun dengan pakaian basah dan demam yang semakin meninggi!" sergahnya.

Teriakan Sakura berhenti. "Basah?" Kernyitan dahi terbentuk. Tatapan dialihkan pada jendela yang ditempeli rinai-rinai air yang jelas bukan embun. Tangannya menjalar pada bawahannya. Kain yang tebal di ujung celana dan di bagian pinggang masih terasa lembab meski bagian lainnya sudah kering. Dua handuk basah di kaki ranjang menjawab pertanyaan mengenai keringnya kain tersebut. Mungkin Sasuke enggan mengganti bawahannya, sehingga lebih memilih mengeringkannya dengan cara membungkus kaki Sakura menggunakan dua handuk secara bergantian. Terjawab sudah latar belakang Sasuke mengganti pakaiannya. Dia menyentakkan tangannya dari genggaman Sasuke. Tubuhnya masih gemetar karena rasa malu belum juga sirna. Matanya masih menghindari menatap Sasuke.

"Kau ninja medis, Sakura! Kau pasti mengerti keadaannya. Kalau aku yang ada di posisimu semalam, kau pasti akan melakukan hal yang sama," tandas Sasuke lagi. Dia merotasikan kedua bola mata mengingat Sakura yang juga membuka kausnya saat hendak menempelkan sapu tangan di perut bagian atasnya.

Kali ini Sakura bungkam. Kata-kata Sasuke disetujui akal sehatnya. Namun, emosinya masih belum mau mereda. Pori-pori di sekujur tubuhnya seolah-olah urung berhenti memproduksi rasa malu yang membuatnya merinding sendiri. Sakura yakin, kalau yang dihadapinya sekarang bukan Sasuke, dia tidak akan semalu ini. Sayang, yang dihadapinya memang tak lain dan tak bukan Uchiha Sasuke.

"Kau tidur di mana semalam?" Mata Sakura yang waspada sempat melirik Sasuke, kemudian cepat-cepat dialihkan kembali.

"Di kursi." Bahunya secara refleks mengedik ke arah kursi dari meja rias yang kini menempel ke dinding.

"Ka-kau tidak mengambil keuntungan apa pun, 'kan?" bisik Sakura, masih dengan wajah yang tersipu.

"Tidak." Sasuke menjawab tanpa ragu. Kecuali jika ketidaksengajaan dianggap mengambil keuntungan. Wajahnya terasa memanas begitu saja. Dia mengerang dalam hati atas pikirannya yang mulai merusak karakternya dari dalam.

Dengan gerakan lambat, Sakura memutar leher dan mengumpulkan keberanian untuk menatap mata Sasuke. Dia ingin mencari kebenaran dari sana. Dan yang terpancar dari sepasang netra berbeda warna tersebut adalah sesuatu yang cukup untuk membuatnya mendesah lega. Mendengarnya, otot di bahu Sasuke kembali merenggang.

Tak sanggup lagi terjebak di kondisi canggung seperti ini, Sakura berusaha beranjak dari kasur. Pusing yang tidak seberapa sudah bisa dia abaikan. "Aku perlu ke kamar mandi," ujarnya sembari memeluk ransel di depan dadanya.

Sasuke tak menjawab. Matanya tak terlepas dari uchiwa di punggung Sakura ketika gadis itu memutar tubuhnya. Ada sekelumit desiran aneh yang melanda sistem peredaran darahnya. Sebuah perasaan yang membuat napasnya bergetar, hingga dia putuskan untuk mengalihkan pandangan.

Setelah menutup pintu di belakangnya, Sakura menggantung ransel pada sebuah paku. Dia mengganti bawahannya dan mengenakan dalaman di balik kaus milik Sasuke. Entah mengapa dia enggan mengganti kain yang melapisi tubuhnya kini dengan pakaian yang berada di dalam ranselnya.

Langkah pertama Sakura di luar lantai kamar mandi disambut oleh segelas air putih di meja nakas. Gelas itu jelas untuknya jika melihat ada gelas lain di tangan Sasuke. Sakura segera membuka resleting ransel untuk meraih perbekalan. Dia duduk di pinggiran tempat tidur sembari mendorong sebuah makanan ke tangan Sasuke yang kini sudah bebas.

"Kau belum makan semenjak semalam, ya?" tanya Sakura. Rasa malu yang menyerangnya secara bertubi-tubi kini mulai diserap rasa bersalah mengingat pasti dirinyalah penyebab penundaan kegiatan makan Sasuke.

"Demammu sudah mereda." Ini bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Sebelum Sakura terbangun tadi, Sasuke melakukan pengecekkan akan kondisi tubuh gadis itu.

Sakura mengabaikan pernyataan Sasuke yang tak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaannya. Pipinya justru merona membayangkan Sasuke menempelkan tangannya pada kening, pipi, atau lehernya ketika dia tidur untuk memastikan temperatur tubuhnya. Tangan Sakura refleks memegangi keningnya sendiri untuk memastikan. Ketika menemukan kebenaran dari pernyataan Sasuke, dia mengangguk sebagai tanggapan.

"Setelah makan, aku akan pulihkan tulangmu yang patah."

"Jangan terlalu memaksakan diri."

"Tidak. Sebelum makan atau minum obat pun aku merasa kondisiku sudah baik-baik saja, apalagi setelahnya. Kurasa aku hanya kurang istirahat."

"Terserah apa katamu."

"Terima kasih sudah merawatku semalam, Sasuke-kun. Maaf tadi aku ... err ... eh—"

"Tidak apa-apa."

Sakura tersenyum melihat Sasuke yang sama sekali tidak terlihat keberatan. Kemudian, dia memasukkan makanan ke dalam mulut dan disusul menelan obat setelah habis. Makanan Sasuke bahkan sudah tandas terlebih dahulu.

Sakura pun memulihkan kondisi tubuh Sasuke. Dia berusaha mengabaikan rintihan yang terlepas dari bibir lelaki itu setiap kali melewati proses yang menyakitkan. Usapan peluh terakhir dari dahi Sakura menandakan bahwa penyembuhannya telah selesai.

Dan di detik itu, Sakura masih belum menyadari adanya uchiwa yang menempel di punggungnya sampai dia melepas pakaian untuk melangsungkan kegiatan mandi. Bibirnya tak kuasa menahan senyum memikirkan Sasuke mengizinkan lambang klannya yang begitu berharga menempel di punggungnya tadi.

.

.

Ada satu hal yang benar-benar Sakura yakini semenjak angkat kaki dari permukiman. Dia tahu Sasuke sudah menjadi pribadi yang lebih baik ketika pulang ke Konoha. Lelaki itu bukan lagi sosok yang sepenuhnya egois dan tidak peduli pada lingkungan sekitar. Sifat angkuh yang Sakura pikir sudah mendarah daging ternyata mulai berkurang seiring waktu. Dia semakin terasa seperti ... manusia yang benar-benar memijak bumi. Bukan lagi sosok yang tak tahu apa yang diinjak kakinya karena terlalu gelap untuk melihat.

Dan sekarang, dia melihat lebih jauh lagi seberapa besarnya Sasuke sudah berubah. Sakura tak akan pernah lupa betapa terkesimanya dia ketika mendapati Sasuke menjawab pertanyaan dari ibu-ibu pemilik penginapan tentang kondisi Sakura tepat sebelum Sakura membuka mulutnya tanpa adanya seringai bodoh atau nada ketus. Hangat di dadanya ketika melihat Sasuke menanggapi permintaan maaf dari seorang anak kecil yang tak sengaja melempar bola ke arahnya dengan sebuah anggukan ramah pun seolah-olah tak mau sirna. Dia tak pernah merasa Sasuke begitu dekat, lebih mudah diraih, sampai hari ini.

Bahkan pada Sasuke yang berdarah dingin dan seakan-akan tak memiliki emosi selain kebencian pun Sakura tak pernah bisa mengenyahkan cintanya. Dan kini, tanpa disadari, Sakura semakin jatuh hati pada lelaki yang kini berjalan beriringan dengannya. Hal tersebut membuat dadanya berdebar-debar bukan dengan tempo yang menyakitkan, melainkan tempo yang mendorongnya untuk tersenyum dan memerahkan wajahnya.

Bangunan buatan manusia sudah tak ada lagi di sekitar. Yang menjulang tinggi hanyalah makhluk hidup lain yang berfotosintesis menghasilkan gas sehat untuk dihirup. Sasuke bilang, dia ingin melakukan perjalanan yang santai karena memang tidak didesak garis mati apa pun. Maka, meski mereka berdiri di tengah hutan, cara mereka berkelana hanyalah berjalan di atas kaki, bukan melompati pohon atau menggunakan hewan panggilan.

Sinar matahari tidak cukup kuat untuk menerobos rimbunnya pepohonan, sehingga hanya terselip melalui celah-celah daun untuk mencium tanah. Temperatur di hutan tak melewati batas tinggi untuk menelurkan keringat dari pori-pori. Suasana benar-benar mendukung untuk melakukan perjalanan dengan santai memang.

Saking santainya tempo kaki yang dilangkahkan, pergantian hari ke malam pun sama sekali tidak terasa. Gelap seolah sekonyong-konyong datang tanpa aba-aba. Sakura tahu penyebab lainnya. Dia baru saja melewati waktu yang menyenangkan, karena dihabiskan bersama sosok yang dia cintai sedalam-dalamnya. Sementara ada hukum tak tertulis yang berbunyi: waktu akan berjalan cepat ketika kau menikmatinya, dan akan berjalan lambat ketika kau membencinya.

Sakura menunduk dan menendang-nendang kecil kerikil yang menghadang jalannya. Sepasang kaki milik Sasuke turut terekam ke dalam retinanya. Dia mengernyit ketika mendapati sesuatu yang sedikit janggal di salah satu alas kaki milik Sasuke.

"Sasuke-kun, sepertinya ada yang salah dengan sepatumu," terka Sakura.

Sasuke menghentikan langkahnya tanpa berpikir dua kali. Mungkin kata-kata Sakura ada benarnya karena dia merasa langkah kakinya aneh. Ditundukkan kepala untuk memastikan apa kata gadis di sampingnya. Dan tebakan Sakura tepat, sepatunya sobek di samping kanan luar. Pantas saja ketika mengangkat kaki, terasa ada sesuatu yang menggantung di bawah telapaknya. Ternyata hal itu terjadi karena penutup atas sepatu tidak menempel dengan solnya.

Sasuke mendengus kesal dan berjongkok. Dia menelaah seberapa parah rusak di sepatunya. Dan ternyata memang parah. Rasanya akan sangat terganggu untuk melanjutkan perjalanan dengan alas kaki seperti itu. Sayang, Sasuke tidak membawa cadangan lain.

Tali ransel dilepas dari sebelah bahu Sakura. Dia membuka ranselnya dan meraih sebuah kotak berbahan dasar logam. Resleting tasnya ditutup kembali, kemudian ditaruh di atas tanah.

"Bagaimana kalau kita istirahat dulu? Sekalian kujahit sepatumu. Kebetulan aku membawa alat menjahit," saran Sakura sembari menggoyangkan kotak logam tersebut hingga menimbulkan suara.

Tak ada penolakan dari Sasuke sama sekali. Tadinya dia mau sok keras kepala dan mempertahankan gengsi dengan cara mengukuhkan prinsip untuk melanjutkan perjalanan. Namun, keadaan tak bisa dipaksa demikian. Maka, dia berjongkok dan melepas sepatunya yang rusak.

Mengerti Sakura yang membutuhkan sumber cahaya, dia mencoba menyalakan api di tumpukan kayu yang kebetulan memang sudah ada di sekitar sana. Sakura bergerak mendekati Sasuke. "Biar aku saja," pintanya. Apa yang lelaki itu lakukan sudah diambil alih oleh Sakura. Kali ini Sasuke tahu diri lagi. Tangannya hanya satu. Proses menyalakan api pasti akan berlangsung lebih lama daripada ketika Sakura yang melakukannya.

Bara api mulai bermunculan. Sasuke membantu Sakura dengan meniupi api agar membesar. Dia menjauhkan tubuh dari tumpukan kayu agar angin dapat lewat dengan mudah dan memperdahsyat kobaran api. Ditelannya kembali erangan karena merasa payah yang bisa dilakukannya hanyalah ini.

"Untung tanah di sini tidak becek, ya," tutur Sakura dengan nada ceria.

Ujung benang dikaitkan ke dalam lubang pada jarum. Butuh waktu yang cukup lama karena penerangan yang tak seberapa. Sakura nyaris bersorak riang ketika prosesnya berhasil, tapi ditahan saat mengingat keadaan. Dia tahu bahwa sebenarnya jahitan ini tidak akan bertahan lama karena akan digunakan untuk mengembara. Namun, Sakura tetap berusaha yang terbaik yang dia bisa. Untung saja dia punya tenaga yang besar. Kalau gadis lain—yang tak punya tenaga super seperti Sakura—yang menjahitnya, pasti sudah menyerah duluan di tusukan jarum pertama pada sol karena saking keras teksturnya.

Suara derapan menggema ketika Sakura menaruh sepatu di atas tanah. Sasuke meraihnya tanpa ragu. Tak dilakukannya pengecekkan pada hasil tangan Sakura, karena dia memercayainya. Dia yakin apa yang Sakura lakukan tidak mungkin menghasilkan sesuatu seperti isapan jempol belaka. Dan ketika sepatu itu sudah dipakai kembali, dia tahu rasa percayanya pada Sakura memang tidak salah.

"Terima kasih, Sakura."

Sakura mengangguk. Bibirnya mengulas senyum ketika sadar betapa dua kata itu sangat mudah tergelincir dari bibir Sasuke sekarang.

"Karena api sudah terlanjur menyala—"

"Ya, kita istirahat di sini saja," potong Sasuke seolah baru saja membaca pikiran Sakura.

Sakura tertegun karena ketepatan Sasuke dalam memprediksi kata-kata yang mau dia ucapkan. Sebelumnya dia memang sempat ragu untuk mengajukan itu karena khawatir dianggap malas dan leha-leha. Namun, Sasuke seolah membaca pikirannya dan mengambil alih kata-kata tersebut agar perasaan itu tak perlu menghinggapi dada Sakura. Kepalanya ditengadahkan karena bingung harus menanggapi apa.

Apa yang Sakura lihat adalah langit yang bertaburan bintang. Dia senang lokasi yang diduduki saat ini terasa begitu strategis. Selain adanya tumpukan kayu, pepohonan pun sedikit jarang-jarang sehingga arah pandang ke langit menjadi cukup luas. Dan pemandangan pada bentangan di udara itu pun dibingkai dedaunan yang cantik.

Tiba-tiba Sakura teringat sesuatu yang sudah dia lupakan. Cepat-cepat dia merogoh tasnya lagi untuk meraih lembaran kertas dan sebuah pena. Suara kertas yang bergerak tertiup angin menarik perhatian Sasuke. Dia mengangkat sebelah alis ketika mendapati Sakura yang tengah menulis.

"Apa yang kau tulis?"

Sakura mengangkat pandangan dari kertas. "Surat untuk Naruto. Seharusnya aku menulis ini tepat saat aku bertemu denganmu. Namun, aku lupa. Lagi pula kemarin aku pingsan."

"Oh." Sasuke mengalihkan pandangan dari Sakura. Dia menggigit ibu jari dan ditempelkan pada tanah. Seekor burung elang hitam muncul dari kepulan asap. Kali ini, perhatian Sakura yang tertarik.

"Apa yang kaulakukan?"

"Biar elang ini yang mengantarkan surat. Untuk meyakinkan Naruto bahwa kau memang tengah bersamaku."

Sakura mengangguk penuh minat. "Terima kasih, Sasuke-kun."

Keheningan berdiri di antara mereka. Suara yang ada hanyalah gemerisik angin, suara kayu yang terbakar, dan suara alam lainnya.

Sasuke melirik ke arah Sakura yang tampak begitu serius. Elangnya masih bertengger di bahu. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan ketika gadis itu mengangkat dagu. Tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika tertangkap basah tengah memerhatikan.

"Selesai," ujar Sakura sembari menggulung kertas di tangannya.

Elang dari bahu Sasuke langsung menggigit ujung kertas yang Sakura gulung dan membawanya pada tuannya. Lelaki itu mengusap bulu elang hitam itu perlahan sebelum mengikat kertas pada kakinya. Sakura tersenyum lembut tatkala melihat satu lagi perilaku ramah dari Sasuke, meski kali ini pada hewan, bukan manusia. Dan surat tersebut pun ikut terbang saat sang elang mengepakkan sayapnya.

Merasa tak ada lagi yang bisa dilakukan, Sakura beringsut menjauh dari perapian. Dia membiarkan punggungnya menempel pada tanah untuk menatap taburan kristal kecil pada bentangan alam. Kepalanya diganjal tasnya sendiri. Ditepuknya spasi kosong di sampingnya sambil berkata, "Sasuke-kun, sini!"

"Apa?"

"Pokoknya sini!"

Sasuke masih bergeming. Kesal dengan pasifnya Sasuke, Sakura beranjak dan menarik tubuh lelaki itu mendekat padanya. Dengusan terlepas dari hidung Sasuke, tapi akhirnya dia memutuskan untuk tidak menolak. Dia bergerak mendekati Sakura dan melakukan permintaan gadis itu yang diberikan dengan isyarat. Dia berbaring di samping Sakura dengan jarak beberapa jengkal. Kepalanya sama sekali tidak diganjal.

"Katakan sesuatu," pinta Sakura.

"Apa?"

"Apa saja."

Sasuke menarik napas dan menutup mata. Pikirannya masih kosong. Apa yang mau dikatakannya selalu spontan, dan rasanya tak biasa ketika dia diminta bicara. Pejaman matanya mendongkrak sebuah kata. Kata yang entah bagaimana sanggup memengaruhi sistem di sekujur tubuhnya. Napasnya terputus-putus karena tubuhnya yang mulai gemetaran. "Gelap," bisiknya dengan suara serak. Itulah kata pertama yang muncul di kepalanya.

Kelopaknya ditekan semakin dalam. Dahinya mengerut karena tekanan tersebut. Sekujur tubuhnya terasa kebas dan dingin. Kini, sarafnya mulai mati rasa. "Kegelapan itu masih ada," imbuhnya.

Dulu, tujuannya ada di kegelapan, sehingga kelam tak pernah mengusiknya. Namun, sekarang semuanya sudah berbeda. Nyaris segala hal buruk yang menimpa hidupnya terjadi di kala gelap. Dan ... tujuannya dulu pun ternyata malah menyeret keburukan lainnya. Tak ayal jika ucapan itu tergelincir bersama kondisi tubuh yang tengah kehilangan fungsi pada sarafnya.

Sasuke tak pernah takut pada kegelapan di mana tak ada pantulan cahaya ketika dia melihat dengan mata terbuka, tapi kelam di sudut hatinya yang hanya bisa dilacak saat matanya tertutup selalu sanggup membuatnya gentar.

Sakura sontak menolehkan kepala. Dia tahu ucapan Sasuke mengindikasikan ke mana. Disentuhnya pipi lelaki itu dengan hati-hati, membuatnya membuka mata dan menoleh balik. Bahunya sempat tersentak sedikit ketika kedua pasang mata itu saling bersirobok. Namun, kali ini tak ada keinginan untuk mengalihkan pandangan sama sekali. Dia seolah tenggelam ke dalam iris hijau yang dipantulkan sinar dari perapian. Getaran pada napasnya dan gejala yang melanda tubuhnya tadi menghilang seketika.

"Hei," bisik Sakura, "aku tahu ini tidak mudah, meski aku tak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya. Dan kau boleh membagi apa yang kaurasakan padaku, kalau kau mau." Dia berusaha tersenyum di tengah emosinya yang tengah teraduk karena ikut terbawa suasana yang Sasuke tebar di udara. Pipinya menempel pada tanah tanpa memedulikan efek sampingnya. Ujung-ujung jemarinya masih menempel di pipi Sasuke. "Namun, kau harus tahu bahwa ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat dalam kegelapan. Dan banyak juga yang akan semakin indah jika eksistensinya ada di tengah-tengah kegelapan. Aku yakin suatu hari nanti kau akan segera menemukan satu di antara keduanya, atau bahkan dua-duanya."

Sasuke tak menjawab dengan suara, tapi tatapan matanya mengatakan segalanya. Dia mengiyakan ucapan Sakura. Dia mencoba percaya apa yang gadis itu katakan padanya. Dulu, ketika Sakura merawatnya di rumah sakit setelah perang besar terjadi, dia selalu menganggap bahwa kata-katanya yang bersifat menenangkan merupakan omong kosong. Gadis itu belum pernah merasakan apa yang namanya kehilangan secara besar-besaran dan bertubi-tubi. Meski tak diucap melalui lisannya, tapi tatapan terganggu yang dia pasang sudah cukup untuk membuat Sakura mengerti bahwa Sasuke tak menyukai kata-katanya waktu itu.

Namun, kali ini responsnya berbeda. Sasuke yakin Sakura sedikit terkejut akan tanggapannya jika dilihat air mukanya yang meneduh. Bahkan, dia tak mempermasalahkan tangan yang masih menempel di pipinya. Tulusnya penuturan Sakura sanggup menggerakkan dagu Sasuke hingga melakukan sebuah anggukan kecil.

Senyum masih belum terlepas dari bibir Sakura. Hatinya menghangat mendapati Sasuke yang kelihatan jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Dia ingin memeluknya. Menciumnya. Namun, itu tak mungkin dia lakukan. Dia bukan lagi gadis berumur dua belas yang menunjukkan perasaannya secara transparan. Sekarang, dia belajar memperhitungkan segalanya sebelum bertindak. Termasuk untuk ini. Maka, tangan yang sedari tadi menempel di pipi Sasuke ditariknya secara perlahan, tubuhnya diputar hingga langit malam lurus kembali dengan pandangan.

"Rembulan itu satu hal yang akan semakin indah jika dilihat di tengah-tengah kegelapan," tukas Sakura. "Iya, 'kan?"

Sasuke tak menjawab. Sakura melirik melalui ujung matanya. Netra lelaki itu terpejam, seakan sedang mencari kedamaian dalam diam. Kalau napasnya teratur, Sakura pasti sudah mengira bahwa Sasuke tertidur. Dia hanya berharap bahwa pejaman mata kali ini tak akan diikuti napas yang terputus-putus seperti tadi.

Tangan lelaki itu diangkat. Kini, Sakura berasumsi bahwa Sasuke hendak menutup matanya untuk menghalau silau, atau menyembunyikan wajahnya yang akan segera tertidur. Namun, yang dia pikirkan sangat berbeda dengan apa yang terjadi.

Tuk.

Sasuke mengetuk dahinya sendiri menggunakan dua ujung jari. Sakura tertegun. Secara refleks telapak tangannya menempel pada keningnya sendiri. Gestur itu ...

"Sasuke-kun."

"Hn."

"Aku mau tanya."

"Tanya saja."

"Maksud ketukan di kening yang kaulakukan padaku itu apa?"

Sasuke terdiam sesaat. Kedua kelopak matanya langsung terbuka begitu saja. Dia masih mengingatnya, batinnya. Sorot matanya seakan mengarah ke dunia lain. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab yang sebenarnya, maka diucapnya kata-kata lain.

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Hmm ... aku hanya penasaran."

Sasuke menarik napas panjang. Tanpa Sakura sadari, Sasuke berada di atas tubuhnya, mengungkung badannya dengan lutut dan telapak tangan yang tertanam ke dalam tanah. Sakura menahan napasnya. Selain karena terkejut, juga karena Sasukelah yang ada di posisi yang bisa dia kategorikan sebagai ... intim.

Entah matanya yang salah, tapi dia merasa wajah Sasuke semakin mendekat pada wajahnya. Dekat, kian dekat, hingga embusan napas lelaki itu membelai pipinya. Sakura menutup matanya rapat. Jantungnya berdegup dengan tempo paling kencang yang pernah dipompanya. Ketika ujung hidung mereka saling bersinggungan, Sakura memejamkan matanya semakin erat. Kepalanya secara otomatis melesak ke belakang.

Tuk.

Mata Sakura terbuka lebar ketika merasakan gestur yang familier di keningnya. Sekujur tubuhnya membeku, tak sanggup melakukan pergerakan sejauh satu milimeter pun. Pandangannya masih terkunci pada sosok Sasuke yang rambutnya tertarik gravitasi ke arahnya. Dia tidak bisa melakukan apa pun, sedikit pun.

"Mungkin lain kali," bisik Sasuke. Dia menyeringai tipis ketika melihat wajah Sakura yang sudah sangat merona.

Perhatiannya tersedot pada sepasang mata hijau yang kelihatan kontras dengan merah yang mewarnai wajah gadis itu. Netra tersebut berbinar di dalam cahaya temaram yang nyaris tidak ada—cenderung gelap—karena kungkungan tubuhnya. Detak jantung Sasuke terhenti sesaat.

Dia baru saja menemukan sesuatu yang semakin indah jika dilihat dalam kegelapan.

.

.

Bersambung