Sudah tiga hari ini apa yang menjulang di kanan dan kiri hanyalah pepohonan berbatang lebar dan berdahan banyak. Kulit yang terbuka tak pernah terbakar matahari meski berdiri di alam bebas. Di tengah hutan, cahaya ultraviolet perlu mencari celah melalui daun-daun yang saling berdekatan untuk menyentuh tanah. Namun, hal itu tak cukup untuk membuat suasana menjadi gulita.

Setengah jam melangkah, cahaya besar terekam ke dalam indra penglihatan. Sakura tahu bahwa beberapa meter di depan bukan lagi hutan, melainkan sebuah lapangan. Kebosanannya selama berhari-hari karena hanya bisa berjalan di bawah hutan membuatnya melonjak senang.

"Sasuke-kun, di sana ada lapangan!" Dia menarik lengan Sasuke dan memeluknya secara refleks.

Sasuke menoleh terkejut akan perilaku Sakura yang mulai atraktif. Ditatap seperti itu membuat Sakura melepas kontak dan memalingkan wajah yang tersipu. Setiap kali mata mereka saling bertemu, benak Sakura secara otomatis memutar saat-saat Sasuke mengetuk dahinya dengan posisi yang bisa dikatakan intim, yang tak ayal membuatnya dirundung malu. Jantungnya masih saja berdebar kencang meski itu terjadi di masa lampau.

Dahi Sasuke mengernyit begitu saja ketika melihat Sakura malah jadi seperti putri malu yang tersentuh. Akhir-akhir ini dia sering bertindak seperti itu dan membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Tak tahan dengan rasa ingin tahunya, Sasuke berniat untuk menyuarakan pertanyaannya.

"Ada apa?"

Sakura melonjak mundur karena terkejut. Dia mengangkat dagu dan sontak merasa terintimidasi tatapan tenang dari Sasuke. Kedua tangannya dikibaskan dan disilang di depan dada. "Ti-tidak ada apa-apa! Aku hanya senang akhirnya bisa keluar dari hutan," elak Sakura sembari mengalihkan pandangan.

Sasuke menahan pandangannya sekejap. Jawaban Sakura agak aneh jika disambungkan dengan perilakunya yang malu-malu. Namun, dia tak mau berpikir terlalu jauh. Diangkatnya kedua bahu dengan tak acuh. "Oh."

Kemudian keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Di langkahnya yang ringan, Sakura sesekali mencuri pandang ke arah Sasuke. Lama-kelamaan dia kesal dengan respons tubuhnya yang berlebihan setiap kali kejadian mengejutkan itu melintas di kepalanya. Hubungannya dengan Sasuke jadi terasa canggung. Padahal, mereka akan melakukan perjalanan bersama entah sampai kapan. Kedua tangan Sakura mengepal erat karena jengkel pada diri sendiri. Bahkan benaknya tak sanggup membayangkan akan jadi perjalanan macam apa jika dia terus-menerus begini. Dia harus membulatkan tekad untuk menghilangkan sifat malu-malunya yang terasa begitu lembek!

Dan ketika langkah pertamanya di tanah lapang, Sakura menambah kecepatan pergerakannya. Sasuke tertinggal di belakang punggungnya. Dia menarik napas dalam-dalam untuk meyakinkan diri. Dia yakin bahwa rencananya kali ini ampuh untuk meluruhkan perasaan malu yang sering muncul dengan tak terperi.

Sakura memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Sasuke. Diabaikannya detak jantung yang semakin cepat ketika mata mereka saling bersitatap. Dia memantapkan dirinya.

"Sasuke-kun, lawan aku," tantangnya dengan suara keras. Kedua kaki Sakura terbuka selebar bahu. Kaki kanannya dilempar ke depan. Kedua tangannya yang terkepal diangkat di depan dada.

Langkah kaki Sasuke membeku. "Kau serius?" Kernyitan di dahinya terbentuk lagi. "Kau benar-benar mau melawanku?"

Sakura mengangguk tanpa ragu. Dia sangat yakin kalau mereka melakukan sparring, akan ada sesuatu dalam dirinya yang sanggup membuang jauh-jauh sifatnya yang malu-malu. "Tentu."

Sasuke masih bergeming dan tak berkutik. Dia menatap bahasa tubuh Sakura yang memang menunjukkan bahwa gadis itu serius dengan apa yang dikatakannya. Namun, dia merasa belum yakin dengan tantangan yang Sakura lempar.

"Aku tidak lemah, kalau itu yang membuatmu ragu. Haruskah kuingatkan kembali bahwa Naruto saja segan pada kekuatanku? Dan ... tulang rusukmu?"

Putri malu tadi sudah berubah menjadi seseorang yang kelihatan begitu tangguh. Bibir Sasuke membentuk seringai karenanya. "Sombong sekali, eh." Kemudian dia melepas tas dari punggungnya.

Sakura tersenyum puas melihat Sasuke yang mulai menanggapi tantangannya. Dia pun turut melepas tasnya. "Coba tebak dari mana aku mempelajari sifat sombong ini," kata Sakura dengan mata yang disipitkan.

Sasuke mengabaikan pertanyaan Sakura yang jelas-jelas meledeknya. Dia mendecih pelan, sangat yakin Sakura tak akan dengar. Matanya menatap batu yang Sakura pegang, kemudian dilempar. Proses jatuhnya batu tersebut hingga menumbuk tanah terasa begitu lama bagi Sasuke.

Dan ketika yang ditunggu sudah terjadi, Sakura langsung mendekati tubuhnya dengan kepalan tangan kiri diangkat di sebelah telinga. Sasuke cukup cepat untuk menangkis tonjokan Sakura yang mengarah ke perutnya, meski tubuhnya terseret cukup jauh ke belakang hingga merusak rerumputan.

Sasuke mencengkeram kepalan tangan Sakura untuk meminta jeda. "Di sini tidak ada garis batas yang bisa menentukan siapa yang menang dan kalah."

"Kalau begitu," Sakura menahan tangan kanan yang sudah membentuk tinju, "orang pertama yang berbaring di atas tanahlah yang kalah. Setuju?"

"Setuju."

Dan Sakura kembali melempar tinjuannya, lagi-lagi ditangkis Sasuke menggunakan lengan atas kirinya. Kaki Sasuke berusaha menakal kaki Sakura yang kelihatan santai di belakang. Namun, gadis itu cepat tanggap dan menarik tubuhnya menjauh sehingga Sasuke menendang udara kosong.

Sasuke tahu Sakura bukan gadis lemah. Dia melihat sendiri bagaimana tinjuan gadis itu cukup untuk membentuk sebuah lembah. Bahkan, Sakura berani menonjok kepala seorang dewi—Kaguya. Namun, ketika Sasuke menempatkan diri sebagai lawan Sakura, kesadaran tersebut semakin naik drastis. Beberapa kali dia mulai kewalahan dengan tinjuan demi tinjuan yang Sakura lakukan—meski sampai saat ini belum ada yang berhasil melukainya. Apalagi kelincahan gadis itu sudah bertambah pesat semenjak terakhir kali Sasuke melihatnya bertarung—di perang dunia keempat. Dia tak tahu bahwa sparring dengan Sakura akan membutuhkan pengaktifan mata sharingan. Ya, dia memang sempat meremehkan Sakura sebelumnya.

Salah satu sudut bibir Sakura tertarik ketika sadar bahwa dirinya cukup untuk membuat Sasuke mengaktifkan sharingan-nya.

Sasuke sama sekali belum punya kesempatan untuk menyerang selain menakal kaki tadi. Yang dia lakukan sedari tadi hanyalah menangkis atau menghindari serangan dari Sakura. Namun, dia tak akan membuat sharingan-nya sia-sia. Dia membaca pergerakan Sakura setiap kali menyerangnya, dan berusaha mencari celah dari kelincahannya.

Sebuah tonjokan dari Sasuke mendarat di bahu Sakura hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Sakura menyapu bahunya dan kembali membentuk kuda-kuda. Untuk pertama kali dalam sparring ini, dia menggunakan kakinya. Kena tepat di perut Sasuke. Namun, ternyata sosok yang ditendang tadi berubah menjadi sebuah batang pohon.

Sakura langsung waspada. Tiba-tiba tohokan siku mengenai punggungnya. Sasuke mendecak menyadari bahwa keseimbangan Sakura tidak selengah yang dia kira. Gadis itu hanya tersentak ke depan sedikit dan langsung membalik tubuhnya. Sebuah tendangan dilancarkannya lagi, tapi Sasuke cukup cepat untuk menghindar. Kaki Sakura yang belum menyentuh tanah itu dicengkeramnya erat-erat, kemudian dilempar ke bawah dan justru malah membentuk retakan di permukaan tanah. Sasuke langsung menarik mundur tubuhnya sebelum retakan tersebut membuatnya limbung.

Sakura merintih setiap kali terkena serangan dari Sasuke. Dia merasa lepas karena Sasuke pun tak lagi menahan diri seperti saat awal-awal. Sudah lama semenjak Sakura terakhir kali berlatih taijutsu seperti ini. Selama dua tahun terakhir, dia lebih sering memperuncing ninjutsu medisnya saja, karena dirinya adalah jōnin medis. Awalnya dia memang sedikit kaku sparring lagi seperti ini, apalagi jika mengingat sifat malu-malunya tadi. Namun, seiring berjalannya waktu, gerakannya semakin lincah dan terbisa kembali. Dan yang terpenting ... dia sudah berani menatap mata Sasuke tanpa tersipu-sipu. Sparring ini membuatnya memosisikan Sasuke sebagai lawan, dan dia sama sekali tak mungkin tersipu di depan lawan.

Dalam urusan tenaga, Sakura memang jauh lebih unggul. Namun, untuk ketangkasan, Sasuke tetaplah yang memegang nomor satu. Kedua keunggulan tersebut membuat keduanya seimbang. Sasuke tentu saja tak menggunakan jurus-jurus luar biasanya seperti Katon, Amaterasu, Susano'o, atau yang lainnya. Sparring ini hanyalah adu taijutsu. Itulah sebabnya Sasuke beberapa kali nyaris jatuh di atas tanah dan dinyatakan kalah. Sama seperti Sakura, dia sudah lama tidak berlatih taijutsu. Dia lebih sering mengeksplor kekuatan lain yang sanggup matanya lakukan.

Sakura tidak mengalirkan chakra pada tinjuannya karena Sasuke pun tak menggunakannya. Pukulan atau tendangannya kali ini tak cukup untuk membuat tulang patah, tapi cukup untuk membuat tanah retak. Bukan karena dia menahan diri, tapi dia hanya ingin berperilaku adil mengingat Sasuke pun bertarung tanpa chakra. Sharingan yang aktif pun hanya digunakan untuk membaca gerakan.

Intensitas pertarungan mereka semakin naik. Sakura menyadari hal tersebut ketika Sasuke mulai melompat untuk menyerangnya. Meski dia tak memiliki sharingan, tapi mata telanjang pun cukup untuk mempelajari bahwa Sasuke mengunggulkan kaki sebagai penyerang.

Waktu terus berputar tanpa terasa. Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Kegelapan yang menyelimuti menjadi tantangan lain untuk bertarung. Sampai saat ini, pemenang dan pecundang masih belum bisa ditentukan, kendatipun napas keduanya sudah terengah-engah, pun banyak lebam bekas pukulan atau tendangan yang terukir di permukaan kulit mereka.

Mereka masih berusaha saling menyerang di bawah cahaya yang sangat temaram. Sakura menahan tangan dan lengan Sasuke sebelum lelaki itu melancarkan serangan. Dan sebelum kedua kakinya bisa mengambil kesempatan, Sakura membenturkan lututnya pada perut Sasuke hingga dia kehilangan keseimbangan di atas kedua kakinya. Sakura tak mempersiapkan perlawanan lain karena begitu yakin beberapa detik lagi dia akan dinyatakan menang, hanya tinggal menunggu terhuyungnya tubuh Sasuke menempel pada tanah.

Kepercayaan diri tersebut membuatnya lengah, hingga tanpa dia ketahui, Sasuke pun menakal kakinya dan berhasil berdiri kembali di atas kedua kakinya. Mata Sakura melebar karena beberapa detik lagi justru dia yang akan dinyatakan kalah. Namun, secara tiba-tiba Sasuke menangkap pinggang Sakura sebelum punggung gadis itu membentur tanah. Kaki kiri Sakura menumpu di atas tanah, sementara kaki lainnya melayang di udara. Punggungnya tertekuk kebelakang.

Sakura menahan napasnya. Matanya meneliti ekspresi yang Sasuke pasang. Hanya ada air muka ketenangan di sana. Bulir-bulir keringat masih menetes dari dahinya dan membasahi seluruh wajahnya. Napasnya yang terengah-engah terasa hingga ke permukaan kulitnya. Di wajah rupawan itu sama sekali tak ada lebam, tak seperti tangan dan bagian tubuh lainnya. Meski tertutupi pakaian, Sakura yakin ada banyak lebam di sekujur tubuh Sasuke.

Getaran dari tangan Sasuke yang memegangi pinggangnya terasa sampai ke kulit Sakura. Mungkin karena tangan itu sudah terkena tinju beberapa kali. "Menyerahlah, Sakura," bisik Sasuke dengan suara serak.

Sakura hampir menyerah. Tubuhnya sudah lelah, dan mereka pun sudah bertarung sampai malam datang. Namun, dia memantapkan diri untuk tak menyerah semudah itu. "Tidak."

"Kau akan kalah," ejek Sasuke. "Posisimu sudah terdesak."

Sakura mencebikkan bibir dan memutar kedua bola mata. Dalam hati dia bertanya-tanya mengapa Sasuke mendesaknya untuk menyerah, alih-alih membiarkannya kalah saat nyaris jatuh menyentuh tanah. "Punggungku bahkan tidak menyentuh tanah. Kau sendiri yang tidak mengizinkan aku kalah."

"Aku bisa melepas peganganku kapan saja. Tak ada lagi yang bisa kaulakukan, Sakura."

Sakura mendengus. "Ugh, jangan congkak, Sasuke-kun."

"Coba tebak sparring ini dimulai dari kecongkakan siapa." Sasuke menyeringai sambil mengikuti kata-kata Sakura sebelum adu taijutsu tadi. Dia tak melewatkan pipi Sakura yang mengembung, tampak menahan tawa.

"Omong-omong—" Sakura menonjok Sasuke tepat di wajah hingga lelaki itu tersungkur dan otomatis melepas pegangannya. Samar-samar terdengar rintihan dari bibir Sasuke. Punggung Sakura pun menumbuk tanah, tapi tidak menimbulkan sakit yang kentara. "—itu titipan dari Naruto."

Dan bersamaan dengan itu, gagak yang Sasuke panggil untuk mengirim surat pada Naruto bersuara dengan keras di udara.

.

.

Surat balasan dari Naruto membuat keduanya tak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kenyataannya, yang kalah adalah Sakura, karena dialah yang pertama kali menumbuk tanah meski disusul Sasuke sepersekian detik setelahnya. Sakura memekik-mekik senang ketika membaca surat, seolah-olah tak pernah mengalami kegiatan yang menguras tenaga sebelumnya. Sasuke menaikkan sebelah alis untuk bertanya.

"Hinata hamil! Astaga, Naruto akan segera memiliki anak. Aku tidak percaya ini!" Surat di tangannya terguncang-guncang karena Sakura begitu bersemangat. Isi surat itu adalah ucapan rasa syukur karena Sakura baik-baik saja dan berhasil menemukan Sasuke dan juga pemberitahuan soal kehamilan Hinata. Guncangan tersebut membuat kertas lain jatuh ke tanah. Sakura terdiam seketika dan meraihnya.

Dan untuk Sasuke, kau memang berengsek, Teme! Aku harap Sakura-chan sudah membuatmu bonyok!

Sakura tertawa kencang. Sementara Sasuke mengerang dan mengusap mukanya kasar. Dia merintih kecil ketika gesekan tangannya mengenai lebam yang Sakura bentuk di wajahnya. Harapan Naruto sudah terkabul, dan dia merasa kesal sendiri karenanya.

Keduanya sepakat tidak menggunakan ninjutsu medis Sakura untuk menyembuhkan luka keduanya (Sasuke yang bersikeras agar keduanya sepakat). Maka, yang digunakan untuk menghilangkan bilur hanyalah obat merah atau alkohol, apa pun yang terdapat di dalam kotak obat. Sebenarnya Sasuke heran kenapa Sakura membawa obat-obatan kecil seperti itu ketika ninjutsu-nya sudah lebih dari cukup. Namun, Sasuke mengabaikannya, karena tanpa kotak obat tersebut Sakura harus memaksakan diri mengaktifkan chakra setelah dirinya begitu kelelahan.

Setelah selesai mengobati, Sakura kembali membaca surat balasan dari Naruto. Dia masih saja tertawa-tawa. Bagi Sasuke, surat tersebut tidak selucu itu—bahkan sama sekali tidak lucu. Dia mengerti mengapa gadis itu tertawa dengan begitu lepasnya. Surat itu meledeknya. Ledekan yang sama persis dengan salam pertemuan yang Sakura katakan padanya. Padahal, dia ingat bahwa setiap kali Naruto mengejeknya dengan kata-kata tak pantas, tinjuan sukarela dari Sakura untuk membelanya akan terlepas begitu saja. Kali ini justru sebaliknya. Sasuke tak bisa menahan diri untuk tidak mendengus kesal. Dia terganggu dengan kesamaan pikiran dua mantan rekan satu timnya tersebut.

Sasuke masih menekuk wajahnya. Tawa Sakura semakin lama semakin menjengkelkan, meski intensitasnya sudah berubah hingga dapat dikatakan bahwa yang gadis itu lakukan hanyalah mengekeh. Sakura tertawa selama itu karena dua kemungkinan: surat dari Naruto benar-benar lucu baginya, atau karena dia sudah lama tidak tertawa lantaran Sasuke memang bukan tipe orang yang bisa membuatnya tertawa. Dan kedua hal tersebut jelas-jelas membuatnya kesal. Dapat disimpulkan bahwa latar belakang Sakura tertawa panjang adalah kelebihan Naruto yang bersifat lucu, atau kekurangan Sasuke dalam hal tersebut. Sasuke jelas tidak suka ini.

Kalau Naruto belum menikah saat ini ... Sasuke pasti akan berpikir lebih jauh. Namun, dia yakin sahabatnya itu lelaki yang setia. Kemungkinan-kemungkinan terjauh itu pasti salah telak. Meskipun tetap saja fakta bahwa Naruto pernah menaruh hati pada Sakura sanggup membuatnya menggertakkan gigi sekarang.

Ingatan Sasuke berputar ke masa lampau. Tak pernah luput dari benaknya terakhir kali Sakura menyatakan cinta padanya, bersamaan dengan isak tangis dan air yang mengalir deras di pipi. Sudah tiga tahun terlewati semenjak masa-masa itu. Tahun pertama, dia masih ada di sisi Sakura dan melihat sendiri bahwa senyum paling manis itu hanya ditujukan padanya. Namun, dua tahun selanjutnya lepas dari pengawasannya. Dia sama sekali tak tahu dan tak punya jaminan bahwa perasaan gadis itu masih sama. Dia ingin tahu. Benar-benar ingin tahu.

"Sakura."

Tawa Sakura berhenti seketika. Meskipun masih ada kekehan kecil yang menyusup melalui celah bibirnya. "Ya, Sasuke-kun?"

Panggilan Sakura yang menggunakan embel-embel kesayangan itu masih sama. Dia nyaris merasa lega jika tak mengingat Naruto yang menggodanya dengan cara menceritakan bahwa kini gadis itu pun memanggil Gaara dengan sufiks yang tak berbeda. Dadanya memanas begitu saja. Apalagi jika mengingat persaingannya dulu dengan lelaki berstatus kazekage tersebut.

"Kau ... pernah menjalin hubungan dengan seseorang?" Satu detik setelah pertanyaan itu terlepas dari lidahnya, Sasuke mengerang dalam hati. Seandainya kata-kata bisa ditarik kembali, dia akan melakukan itu. Sekarang juga. Pertanyaan itu terdengar begitu bodoh jika meluncur dari bibirnya.

Tawa Sakura terhenti sepenuhnya. Dia menatap mata Sasuke lurus-lurus. "Hmm ... tidak."

Ada jeda beberapa detik yang terbentang untuk menarik napas. Pertanyaan tadi sudah terlanjur diucapkan. Sia-sia saja kalau pengetahuannya hanya sebatas Sakura tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Itu belum cukup. Maka, dia membuang gengsinya jauh-jauh.

"Kenapa?" tanyanya dengan suara parau—antara ingin ditahan, tapi akhirnya terlepaskan.

Sakura mengulum senyum. "Kau tahu kenapa."

Sasuke tidak tahu jelas alasannya. Jawaban Sakura ambigu. Dan jika dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dia bisa saja berpikir bahwa Sakura tak pernah berpacaran dengan siapa pun karena masih menunggunya. Karena masih cinta padanya. Sayangnya, Sasuke tidak memiliki kepercayaan diri semacam itu. Yang dia miliki hanyalah rasa bersalah dan rasa tak pantas. Namun, dia masih ingin tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya sekarang.

Apa kau masih mencintaiku? Pertanyaan itu menyangkut di tenggorokannya dan siap diucap kapan saja. Namun, Sasuke masih memiliki pengendalian diri yang cukup besar untuk tidak bertanya. Tangannya terkepal di dalam saku celana. Giginya pun menggertak keras.

"Aku pernah berusaha untuk jatuh cinta pada orang lain."

Perkataan tiba-tiba dari Sakura sukses membuat sekujur tubuh Sasuke membeku. Dia menoleh ke arah Sakura dengan pergerakan paling sigap untuk menyiratkan sebuah pertanyaan. Bibirnya terkatup rapat. Dia tak punya nyali untuk bertanya ... dan untuk mendengar jawabannya.

Sakura memalingkan wajahnya dan melempar pandangan pada rembulan. Ada seulas senyum getir di garis bibirnya.

Dulu, satelit alami bumi itu adalah temannya berkeluh kesah. Sering kali dia bergumam sendiri, mengatakan hal-hal yang ingin dia katakan kepada Sasuke. Kata-kata yang disisipi isakan dan aliran air mata di pipi. Sambil berharap, kalau memang pesannya tak mungkin sampai, dia hanya ingin Sasuke tengah menatap bulan juga. Setidaknya arah pandang mereka sama. Dan sekarang, lelaki yang selalu diucap dalam harapannya, dalam tangisnya, tepat ada di sisinya. Hangat tubuhnya pun menguar sebagai penegasan bahwa dia benar-benar ada.

"Naruto. Siapa lagi kalau bukan dia? Dia lelaki paling baik hati yang kukenali. Dia berkorban banyak hanya untuk menepati janji. Ya, janjinya padaku untuk membawamu kembali. Tak peduli seberapa tetes darah yang harus terpaksa keluar dari tubuhnya. Tak peduli berapa banyak tulang yang patah. Tak peduli bahwa ada kalanya hatinya sudah lelah. Dia terus berusaha, demi aku. Bisa kau bayangkan seberapa besar rasa bersalahku padanya setiap kali kuingat bahwa lelaki yang bisa kucintai hanya kau? Sementara semua orang tahu, bahwa Naruto menaruh perasaannya padaku. Setidaknya waktu itu.

"Bisik-bisik bahwa aku adalah gadis bodoh yang menyia-nyiakan lelaki baik hati dan mengharapkan seseorang yang sangat, sangat sulit digapai sampai ke telingaku. Selain bodoh, mereka bilang aku egois. Bersikap sangat jahat pada Naruto karena membebaninya dengan janji. Janji yang justru akan membuatnya tak akan pernah bisa bersamaku, karena kalau kau ada, aku hanya ingin bersamamu, dan Naruto pun tak akan tega memaksaku untuk bersamanya.

"Sampai kabar bahwa kau bergabung dengan Akatsuki kudengar, dan Naruto masih ingin membawamu pulang, aku tak bisa lagi tenggelam ke dalam fantasi cintaku. Naruto sudah berkorban banyak, dan kupikir waktu itu adalah giliranku. Meski aku tidak berkorban nyawa, setidaknya aku bisa mengorbankan perasaanku padamu. Aku tak peduli lagi akan seperti apa rasa sakitnya. Asalkan Naruto berhenti memaksakan diri, aku akan melakukannya. Maka, kunyatakan bahwa aku cinta padanya. Dan ... tidak ada seorang pun yang percaya ... begitu pula aku. Bahkan Naruto melepas tubuhku saat aku memeluknya, kemudian mengatakan bahwa dia tak suka orang yang membohongi perasaannya sendiri. Aku menangis. Aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa, sekalipun kuabaikan segalanya."

Napas Sasuke tertahan di dalam tenggorokan. Bahunya menegang dan sulit direnggangkan kembali. Sasuke entah harus merasa seperti apa. Lidahnya kelu. Dia ingin bercerita pada Sakura. Mengatakan bahwa sejak awal dia tak pernah bersikap lebih peduli kepada gadis selain dirinya. Dia pernah menyatakan bahwa Sakura adalah sosok yang disayanginya. Dia pernah meminta Naruto untuk melindungi Sakura ketika dia mulai sadar bahwa dia tak sanggup. Dia pernah mendorong diri hingga ke batasnya sampai jurus baru dari mata rinnengan-nya aktif hanya untuk menyelamatkan Sakura. Dan di detik ini dia baru saja sadar ... betapa dirinya tidak seabai itu. Dan sikapnya yang satu ini hanya tertuju pada satu perempuan: Haruno Sakura.

Semua kesadaran atas banyak hal yang berlalu membuatnya mengerti akan perasaannya sendiri. Rasa peduli, khawatir, nyaman, rasa bersalah, dan emosi sejalur lainnya jika diakumulasikan dapat disebut dengan satu perasaan spesifik. Perasaan yang sudah sangat lama terkubur di balik kebencian, dan muncul kembali ke permukaan semenjak dirinya tertampar kenyataan akan adanya kesalahan besar dalam ideologi bodohnya sendiri. Perasaan yang nyatanya sudah lama dia rasakan, tetapi baru sanggup disadari. Perasaan cinta; yang seharusnya tidak asing jika dia ingat bahwa klannya dipenuhi emosi macam apa.

Sasuke masih tak sanggup memandang Sakura di mata. Kata-kata panjangnya sesekali mengiris jantungnya hingga terasa kebas. Dia sulit percaya bahwa perasaan yang orang bilang manis itu justru malah membuat gadis itu hancur sehancur-hancurnya. Ah, tidak. Itu bukan salah cinta, tapi salah dari orang yang dicintainya. Jika Sasuke masih memiliki ego tinggi, dia akan menyalahi Sakura karena memilih menaruh hati padanya. Namun, pemikiran itu langsung karam ketika dia sadar bahwa dia yang jatuh cinta pada Sakura pun terjadi sebelum dia memilih. Perasaan itu seolah-olah muncul dengan cara paling natural, hingga Sasuke tak sadar sejak kapan, bagaimana, dan mengapa. Dan mungkin ... Sakura pun sama.

Sakura menggigit bibirnya lamat-lamat. Napasnya yang terputus-putus disembunyikan di balik bekapan tangan. Tangan tersebut dikepal dan ditaruh di atas tanah. Sekujur tubuhnya bergetar karena tak mendengar atau mendapati respons apa pun dari Sasuke setelah dia berbicara panjang. Dan apa yang dikatakannya tadi merupakan hal yang begitu sensitif, hingga Sakura merasa bodoh lantaran membiarkan semua itu terucap semudah dia bernapas di udara terbuka.

"Ah, maaf. Aku terlalu banyak bicara, ya?"

Bohong jika Sasuke tak menangkap getaran familier di suara Sakura. Dia cepat-cepat menoleh, dan hal yang diduga memang ada benarnya. Setetes air mata mengalir di pipi kanan Sakura. Itu cukup membuat jantungnya terasa diremas.

Tanpa keraguan, Sasuke menyentuh garis rahang Sakura hingga gadis itu menoleh ke arahnya. Ujung jemarinya menelusuri garis tersebut, hingga berhenti di dagu. Mata Sakura membulat karena sentuhan lembut dari Sasuke. Jari telunjuk Sasuke memaksanya menengadah sedikit. Kumpulan air yang nyaris jatuh dari pelupuk matanya seolah-olah membeku.

Sasuke ingin mengatakan semuanya. Segalanya. Agar Sakura tahu bahwa dia menyimpan sebuah perasaan asing untuknya. Agar Sakura tahu bahwa cintanya tak lagi membuat dia seperti orang bodoh. Namun, lidahnya kelu. Pita suaranya seakan disfungsi hingga tak ada satu frekuensi pun suara yang keluar ketika dia membuka mulut. Kata-katanya disalurkan melalui organ tubuh lain. Tangannya terangkat lagi dan menyentuh pipi Sakura, menyejajarkan arah pandang keduanya. Dikecupnya pipi Sakura yang basah, kemudian bibirnya mengeja sebuah kalimat larangan tanpa suara. "Jangan menangis lagi."

Dia menarik diri kembali. Dan tepat setelah sorot mata keduanya saling mengunci, Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir Sakura. Dia mencium bibir Sakura lembut, membuncahkan semua kata yang mau dia ucapkan serta seluruh isi hatinya melalui sebuah pengakuan sunyi.

Awalnya, ini terasa begitu asing sampai Sasuke ingin menarik diri. Namun, dia tahu ini belum cukup. Sesuatu yang bergejolak di dadanya sama sekali belum tersampaikan. Maka, dia memiringkan wajahnya untuk mencari kenyamanan. Kaku masih menyelubungi apa yang tengah dilakukannya. Ada pertentangan di batinnya untuk melakukan ini, atau tidak melakukan itu. Dia abaikan segalanya. Panduan yang diberlakukan dalam aksinya sekarang hanyalah intuisi. Dibiarkannya ciuman ini mengalir begitu saja.

Dan intuisinya terus memberi indikasi, hingga akhirnya Sasuke sadari bahwa dia mencium Sakura layaknya dia sedang tenggelam, sementara Sakura adalah udara yang paling dibutuhkannya.

Kedua mata Sakura masih terbuka sepenuhnya. Apa yang dia lihat kini adalah lentiknya rambut di setiap sisi mata Sasuke. Lelaki itu memejamkan matanya erat sembari meninggalkan kecupan cepat secara bertubi-tubi. Sakura masih pasif. Bibirnya masih kaku, seolah organ tubuhnya yang satu itu memiliki tulang. Dia sadar Sasuke sedang mencari kenyamanan atas apa yang dia lakukan. Pergerakannya memberi tahu Sakura bahwa dia sedang mencoba. Dan Sakura mampu menerjemahkan pesannya, ini adalah ciuman pertama—yang sesungguhnya—bagi Sasuke.

Intensitas dari ciuman Sasuke semakin naik. Sesuatu dalam dada Sakura meleleh, meluruh, dan terjerang saat lidah mereka tanpa sengaja saling bersentuhan. Saraf-sarafnya memberi isyarat bahwa yang tengah dia rasakan kini merupakan hal yang baru. Perutnya bergejolak dan tergelitik, seolah ada sesuatu yang menari-nari tanpa beban. Kelopak matanya bahkan tak sanggup lagi terbuka untuk menerima sensasi yang tak kunjung reda. Dalam diam, Sakura mencoba menjadi responsif. Dia membalas ciuman Sasuke berdasarkan keamatiran yang dia punya. Ini adalah ciuman pertama—ciuman yang sungguh-sungguh ciuman—bagi Sakura juga.

Kalau tadi dia merasa bibirnya bertulang, kini dia justru merasa sekujur tubuhnya tak memiliki sistem penopang sama sekali. Badannya lumpuh, seluruh sarafnya tersita untuk menafsirkan rangsangan emosi ini. Sebelum Sakura membiarkan tubuhnya meleleh akibat aura yang menguar dari tubuh Sasuke, sebelum Sakura benar-benar merata dengan tanah setelah mencair sebab sensasi yang bergerilya di sekujur tubuhnya, dia menggerakkan tangannya untuk mencari pegangan. Pencariannya terhenti ketika kedua telapak tangannya merangkum wajah lelaki yang tengah menciumnya dengan lembut. Dari celah bibir Sasuke terlepas sebuah rintihan kecil ketika Sakura tak sengaja menekan lebam di pipinya. Menyadari itu, Sakura segera memindahkan pegangan tangannya. Kedua bibir berbeda pemilik itu saling bertaut dalam keselarasan. Darah Sakura berdesir dengan aliran paling cepat ketika merasakan lengkungan ke bawah pada bibir yang bertaut dengan bibirnya.

Sakura benar-benar mencintai Sasuke. Dia bertahan, masih, dan tetap mencinta meski ada ratusan mudarat yang muncul akibat perasaannya sebelum ini. Namun, cintanya memang sebuah set yang dikirim tanpa syarat. Sakura tak pernah paham apa yang membuat dia begitu mencintai lelaki ini. Cintanya jelaslah tak beralasan, layaknya mentari yang membantu rembulan menyinari bumi.

Ciuman ini, afeksi ini, membuat Sakura melambung setinggi-tingginya. Dia ingin yakin bahwa Sasuke merasakan hal yang sama dengan bukti degupan jantung yang jauh lebih cepat dari miliknya, yang kini terasa di tangannya. Sakura tak ingin melepas tangannya dari dada Sasuke—lokasi di mana jantungnya berada. Dentuman dari balik tulang rusuk itu adalah pertanda adanya kehidupan, juga perasaan yang selama ini tak pernah Sakura duga. Matanya terpejam semakin erat dan membasah untuk mewakili kebahagiaannya.

Udara di dalam paru-parunya semakin menipis, terus-menerus tercuri oleh Sasuke. Dan tanpa Sakura sadari, dia pun memberi efek yang sama bagi Sasuke. Mereka saling melepaskan diri dalam diam. Tangan Sasuke masih melingkari tubuh Sakura dengan posesif. Kening yang sebagiannya tertutupi poni masih saling bertemu. Mendadak pipi Sakura diselubungi suhu paling panas yang pernah ditoleransi tubuhnya tatkala menatap sepasang mata berbeda warna di hadapannya. Bibirnya melengkungkan senyum. Senyum yang muncul tanpa intruksi, yang datang sendiri didorong nurani.

"Aku mencintaimu, Sasuke-kun."

Sasuke mengeratkan pelukannya terhadap tubuh Sakura. Dia menunduk, meletakkan kepala di lekukan lehernya. Aku juga cinta padamu. Diciumnya nadi yang berdenyut di leher Sakura. Denyutan itu terhenti sesaat. Sakura merasa dia meleleh seperti coklat yang berada di tengah genggaman ketika merasakan bibir Sasuke membentuk sebuah senyuman di atas kulitnya.

Sakura masih mencintaiku. Sasuke memejamkan matanya erat-erat. Sebenarnya hatinya terbuat dari apa?

Dekapan antartubuh itu melonggar. Sasukelah yang pertama kali menarik diri. Namun, upayanya tidak berjalan lancar. Tekanan telapak tangan Sakura di punggungnya semakin mengencang, seolah-olah tak pernah mau melepasnya barang sedetik pun.

"Jangan," bisiknya. "Jangan lepas. Tetaplah seperti ini lebih lama."

Dan Sasuke mengikuti permintaan Sakura. Dia tak melepas pelukannya. Kalau tadi Sakura yang menyandar pada pohon, kini Sasukelah yang ada di tempat tersebut karena dia memutar posisi keduanya dengan tangan yang masih melingkar. Sakura menjatuhkan kepalanya pada bahu Sasuke. Lelaki itu menoleh dan menenggelamkan hidung ke dalam helaian merah muda yang ditiupi angin malam. Tanpa sadar, mata keduanya terpejam dan terbawa ke alam mimpi masing-masing.

Terlelap di dalam dekapan satu sama lain menjadi kebiasaan yang seolah-olah sudah melekat lama di malam-malam berikutnya.

.

.

Bersambung