Akhir-akhir ini bahu Sasuke bukanlah hal yang asing bagi ubun-ubun Sakura. Hal yang sama berlaku juga bagi lengan tunggal miliknya. Malam-malam yang Sakura lewati terasa begitu sempurna, tanpa celah, membuatnya nyaman luar biasa, sampai sekonyong-konyong sebuah pertanyaan melesat di dalam benaknya. Pertanyaan yang membuat kesempurnaan dari apa yang dirasakannya runtuh seketika. Pertanyaan yang berbunyi, "Apa maksud Sasuke-kun melakukan semua ini padaku?"

Sakura memang sempat menjadi naif. Dia tak pernah bertanya-tanya dan terus menikmati kompilasi debaran jantung yang beralih menjadi euforia tak berujung setiap kali menerima apa yang Sasuke lakukan atau sekadar mengingatnya. Namun, pertanyaan tadi menghentikan kenaifannya. Dia mendadak merasa gelisah. Sikap Sasuke padanya akhir-akhir ini begitu berbeda dan terasa lebih dari akrab. Dia tak akan menjadi sesosok hipokrit yang menyangkal bahwa dirinya memang menyukai apa yang lelaki itu lakukan padanya. Namun, dia takut ini merupakan satu hal yang salah, atau kalaupun benar, di hari mendatang akan membentuk sebuah kesalahan.

Sasuke sudah lama sekali mulai bersikap jauh lebih ramah padanya. Sakura ingat dia sangat jarang mendengar ketus dalam suara lelaki itu semenjak perang dunia shinobi keempat berakhir. Dan Sakura baru saja sadar bahwa sikap turun ke bumi Sasuke tak hanya diberlakukan padanya. Dalam perjalanan ini, dia pun menjadi saksi mata atas perubahan sikap Sasuke yang kian baik setiap harinya.

Sakura memang tidak sepatutnya merasa dirinya memiliki tempat spesial di dalam hati Sasuke jika mengingat hal tersebut. Mungkin memang ada tempat untuknya, sebagai anggota Tim Tujuh, sebagai orang-orang yang paling dekat dengan Sasuke, bahkan Sasuke sendiri yang mengungkap bahwa dia merasakan sebuah ikatan layaknya keluarga di Tim Tujuh. Barangkali hanya sebatas itu. Tidak lebih. Namun, sebuah ciuman di bibir, dekapan hangat sepanjang malam, dan hidung yang ditenggelamkan ke dalam helaian rambut jelas sekali menyatakan bahwa tempat di hati Sasuke untuknya lebih dari itu ... tapi Sakura terlalu takut berharap.

Kebisuan Sasuke dalam membahas hal ini—menyatakan seperti apa hubungan mereka sekarang, mengujar apa yang dirasakannya mengenai Sakura—adalah sebuah senyawa yang membuat gadis berhelaian merah muda itu resah. Hipotesis-hipotesis merangkak ke dalam benaknya. Semuanya nyaris membuat risau. Dia tak berani berasumsi bahwa Sasuke merasakan emosi yang sama sepertinya. Itu merupakan kemungkinan terjauh—terlalu jauh—sampai-sampai dia terlalu gamang untuk meraihnya apabila memikirkan setinggi apa dia harus melompat.

Spekulasi lainnyalah yang membuat Sakura nanar. Benaknya memutar sebuah reka ulang dari susunan memori. Dia mencoba mengingat semenjak kapan Sasuke mulai melakukan kontak-kontak roman padanya—terlepas dari sikapnya yang cenderung perhatian.

Ujung jemarinya mengusap-usap garis bibir. Kontak roman yang pertama kali Sakura perhitungkan merupakan ciuman yang Sasuke lakukan padanya. Dan apa yang terjadi sebelum itu adalah ... Sakura yang bercerita panjang mengenai usahanya untuk mencintai orang selain Sasuke.

Napas Sakura tertahan di dalam dada hingga tubuhnya terus membusung. Berkebalikan dengan bahunya yang justru jatuh dan melemas. Kenyataan yang dia simpulkan dari hasil asumsinya tadi membuat dadanya sakit. Barangkali ... Sasuke melakukan itu hanya untuk membuatnya yang hampir menangis tenang, menghiburnya, atau membayar segala rasa bersalahnya. Dan yang membuat Sakura semakin terpuruk adalah Sasuke yang kelihatannya hanya bersandiwara dalam kontak-kontak roman yang dilakukan padanya.

Konklusi ini merupakan senyawa paling masuk akal jika mengingat sikap Sasuke yang tidak pernah seintim itu sebelum pengujaran cerita panjangnya. Lelaki itu pernah membohongi Naruto dan Kakashi, maka sandiwara pun masuk akal jika dilakukan. Asumsinya sudah begitu cocok, layaknya susunan teka-teki yang akhirnya lengkap.

Sungguh, begitu Sakura ingin meneriaki wajah Sasuke saat ini juga dengan kata-kata, "Kau tidak perlu bersikap manis padaku apabila kau tidak bersungguh-sungguh! Kau tidak perlu bersandiwara hanya untuk membuatku senang atau membayar rasa bersalahmu! Kau lebih baik bertindak seolah-olah aku memang tak punya tempat istimewa di hatimu—bertindak jujur! Tahukah kau bahwa kebohonganmu ini justru jauh lebih menyakitiku ketimbang menghiburku?"

Namun, dia tak bisa. Sasuke yang berwajah tenang, yang lurus dengan arah pandangnya, membuat nyalinya ciut. Dia tak bisa melakukan itu pada Sasuke yang sudah sembuh, tapi masih memiliki banyak bekas luka sensitif. Dia tak bisa. Dia tak tega. Maka, dia hanya akan membungkam mulutnya dan menjaga jarak secara perlahan, seapik mungkin hingga Sasuke tak menyadarinya sama sekali.

Sakura menggigit bibirnya agar tidak perlu mengisak. Biarlah air mata saja yang menggenang di ujung kelopak mata bawah, dan kedua mata itu dipejamkan sebelum setetes pun mengalir ke pipi. Dia sama sekali tak mau memastikan kebenaran akan hipotesisnya. Dia terlalu takut untuk bertanya, dan jauh, jauh lebih takut lagi untuk mendengar jawaban dari pertanyannya. Dia khawatir jawaban dari Sasuke nanti justru malah akan melukai keduanya dengan cara apa pun—apalagi dirinya.

Maka, Sakura mulai membiasakan diri agar tidak terbuai, untuk tidak mengandai. Dia harus menjaga hati agar tak tersakiti lagi lebih dari ini. Jatuh cinta pada Sasuke dan merasakan sakit hati karenanya memang tak pernah membuatnya trauma (terbukti dari dirinya yang masih bertahan hingga saat ini juga), tapi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya melindungi nurani dan mulai bersikap waspada.

Dia akan bertindak seakan-akan ciuman di malam itu tak ada, Sasuke tak pernah memeluknya atau diam-diam mengecup keningnya. Dia akan berperan sebagai mantan rekan satu tim yang tak menyimpan perasaan apa-apa. Barangkali ... semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Ah, tidak. Sesungguhnya akan jauh lebih mudah jika Sakura membenci Sasuke saja ... tapi dia tak bisa, dan yakin tak akan pernah bisa.

Ubun-ubun yang tadinya menyandar di bahu Sasuke kini terangkat, kedua tangan yang melingkari perutnya dilepas, dan Sakura beringsut menjauh, tapi tak cukup jauh hingga sanggup membuat lingkaran tangan Sasuke terlepas. Sakura menghindari pergerakan yang terlalu dinamis hingga membuat Sasuke terbangun. Apabila itu terjadi, dia tebak Sasuke akan bertanya padanya ada apa, dan Sakura sama sekali tak siap untuk menjawab pertanyaannya.

Sakura tak siap untuk menyatakan bahwa dia ingin menjaga jarak dan menurunkan angan cintanya.

Sakura tak siap untuk menyatakan bahwa dia sudah menguak yang Sasuke lakukan selama ini hanyalah sandiwara untuk menghiburnya.

Dan ... Sakura tak siap untuk menangis kembali karena Sasuke entah untuk yang keberapa kalinya.

.

.

"Niisan ..."

Meski lokasi tubuh Sakura dan Sasuke terpaut satu meter, tapi telinga Sakura sanggup menangkap suara Sasuke yang jelas-jelas bukan memanggil namanya. Dia menoleh dan mendapati lelaki itu masih memejamkan matanya, meski wajahnya meringis. Ini adalah kali pertama Sakura melihat Sasuke mengigau selama kurang lebih tiga pekan berkelana bersama. Itulah sebabnya dia mendapati ini sedikit aneh.

"Niisan ..."

Lagi. Dan kali ini tubuh Sasuke bergerak-gerak tak tenang. Sakura menggigit bibirnya khawatir dan langsung meninggalkan tas yang tadi sedang dibukanya. Dia memantapkan hati bahwa membangunkan Sasuke masih termasuk sikap yang berada di dalam ranah mantan teman satu tim, tidak lebih dan tidak kurang. Setidaknya ini tak akan membuatnya menyesal di kemudian waktu.

Sakura mengguncang bahu Sasuke. "Sasuke ... kun?" Dia meneguk ludah ketika lidahnya masih tak sanggup untuk memendekkan panggilannya terhadap Sasuke. Sasuke yang kembali mengigau membuat Sakura melupakan rutukan terhadap diri sendiri. Diguncangnya bahu tersebut semakin keras.

"Sasuke! Bangun!" Satu sentakan lain di bahu cukup untuk membuat Sasuke membuka matanya. Napasnya tersenggal layaknya habis berlari kencang. Peluh membasahi seluruh bagian wajah. Dia mengusap kasar wajahnya dan menelaah keadaan sekitar. Ada Sakura yang tampak khawatir tepat di depan wajahnya. Yang tadi hanya mimpi.

"Apa yang terjadi?"

Sasuke mengabaikan pertanyaan Sakura. Matanya terpejam kembali untuk menenangkan diri. Dalam hati dia bertanya-tanya kapan terakhir kali dia didatangi mimpi yang membuatnya tak tenang setiap bangun di pagi hari. Selagi Sakura ada di sisinya—secara spesifik berada di dalam lingkaran tangannya—dia tak pernah bermimpi buruk, sama sekali. Tidurnya selalu tenang, hingga kantung mata tak pernah lagi mengurangi kerupawanan parasnya.

"Sasuke?"

Sasuke? Sasuke langsung mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah Sakura dengan alis yang terangkat. Tadi dia tak salah dengar, bukan? Panggilan baru Sakura terasa begitu asing di telinganya. Namun, tak ditemukannya jawaban dari pertanyaan tersiratnya. Maka, dia berusaha mengabaikannya saja.

Sementara Sakura langsung melebarkan mata ketika sadar bahwa dia berhasil berperan sesuai rencana. Meski tak bisa dipungkiri bahwa lidahnya masih terasa aneh karena tak terbiasa.

"Aku baik-baik saja."

Salah satu tangan yang memegangi bahu Sasuke langsung berpindah ke kening, pipi, dan leher. Suhu tubuhnya normal. Berarti bukanlah demam yang menyebabkannya mengigau. Sakura terdiam sejenak dan meneliti wajah Sasuke. Napasnya sudah teratur. Ringisan tak lagi terlukis di parasnya. Maka, Sakura berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Sasuke memang baik-baik saja. Sama sekali tak akan mendesak Sasuke untuk berbicara lebih lanjut.

"Oh, syukurlah."

Sasuke tertegun. Ada yang ... berbeda. "Hn."

Sakura beringsut menjauh. Dia kembali menekuni perhitungan sisa perbekalan di dalam tasnya yang tadi tertunda. Mata Sasuke tak terlepas dari punggung Sakura yang tampak begitu rapuh. Selama ini dia sering menatapi punggung itu, tapi tak pernah melihat sisi lainnya. Sekali lagi, ada yang berbeda.

Pagi ini, seketika Sasuke merasa dia terbangun di tengah-tengah dunia yang lain. Bukan karena udara hari ini jauh lebih dingin dari sebelumnya. Bukan juga karena pijakan yang strategis dan tak mengotori pakaian. Singkatnya, bukan karena lingkungan sekitar. Namun, karena Sakura.

Dan ternyata, hidup di dunia yang lain menurut Sasuke tadi tak hanya berlaku untuk hari ini saja. Besoknya, lusa, dan seterusnya masih sama. Sakura masih membantunya menyiapkan makanan, atau justru menyiapkan sendiri. Dia masih berkomunikasi dengannya mengenai dunia shinobi atau persenjataan. Masih mengobatinya kala adanya daging yang tergores, karena apa pun itu. Namun, Sasuke merasa semua interaksi itu kosong, kebas, dan bahkan berkesan ... palsu.

Butuh beberapa waktu hingga Sasuke sadar bahwa senyum di bibir Sakura meluruh dari hari ke hari, dan dia sangat yakin hilangnya ekspresi manis itulah yang membuat segalanya berbeda. Ditambah lagi, akhir-akhir ini dia selalu terbangun dengan tangan yang terasa begitu kosong sepanjang malam, padahal dia yakin sekali sebelum matanya terpejam Sakura masih ada di sana. Apakah Sakura beringsut menjauh kala dia sudah terlelap, Sasuke tak pernah tahu maupun sadar. Namun, dia sangat yakin jika Sakura berada di dalam dekapannya, mimpi buruk tak akan mengganggunya. Dan apa yang terjadi dalam malam-malam terakhir justru sebaliknya.

Sasuke sadar ada beberapa kebiasaan Sakura yang menghilang. Sakura selalu mengecup pipinya secara diam-diam—meski sebenarnya Sasuke mengetahui dan merasakan kecupan itu—setiap kali Sasuke sudah memejamkan matanya cukup lama. Pun dia tak pernah lupa untuk melingkari tangan pada perut dan menyandarkan kepala pada bahu Sasuke. Namun, semuanya hilang, seolah-olah tak pernah terjadi sama sekali sebelumnya. Bahkan saat Sasuke terjaga tetapi memejamkan mata pun, dia tetap tak merasakan apa-apa.

Sampai datang hari di mana mereka menemukan sebuah gua yang cenderung kering dan cukup strategis untuk dijadikan tempat istirahat. Sasuke menaruh tasnya di atas tanah dengan kasar hingga beberapa isinya tumpah ke luar. Sebuah peta bergulir ke ujung kaki Sakura. Gadis itu membukanya dan membaca peta tersebut dengan sumber cahaya dari lampion yang menggantung di sisinya.

"Yang ditandai ini tempat-tempat yang sudah kau kunjungi selama dua tahun ke belakang?"

Sasuke mengintip ke arah peta yang Sakura pegang untuk memastikan. "Hn."

Jari telunjuk Sakura menelusuri setiap bagian pada peta. "Kalau diperhatikan, dari Konoha kau mengambil jalan ke barat dan dilanjut ke utara."

"Itulah sebabnya aku mengambil jalan ke selatan dan timur sekarang." Sasuke mendudukkan diri di samping Sakura, dan tak melewatkan bagaimana tubuh gadis itu sedikit bergeser menjauh. Benar-benar menghindari kontak, meski hanya bersentuhan lutut sekalipun. Sasuke mengembuskan napas, merasa dihindari.

"Begitu." Sakura membaca peta ke arah selatan dan timur. "Jadi, kita akan ke Negara Air? Desa Kiri?"

"Ya dan tidak."

Sakura menaikkan sebelah alisnya dan melempar pandangan ke arah Sasuke. "Maksudmu?"

"Kita tidak akan ke desa ninja."

"Lho, kenapa?" Kerutan di alis Sakura semakin dalam. Satu detik setelahnya, dia menggigit lidah karena sebuah gagasan jawaban yang akan Sasuke berikan. Sasuke adalah seorang mantan kriminal internasional di mata shinobi seluruh dunia. Wajar saja jika Sasuke menghindari berkunjung ke desa ninja. Sakura segera mengalihkan pandangan karena mulai menyesali pertanyaannya.

"Di perjalananku sebelum ini, aku lebih banyak mempelajari sesuatu dari hidup para warga sipil. Hidup mereka tentram, tak memiliki embel-embel ancaman mati karena kebencian. Mungkin ada beberapa yang begitu, tapi tentu saja hidup mereka tidak serumit ninja."

Sakura mengangguk paham tanpa menanggapi lebih lanjut. Dalam hati dia sangat bersyukur bahwa asumsinya ternyata salah. Dia menggulung peta kembali dan memberikannya pada Sasuke. Lampion yang digantung di sisi kepalanya diraih, kemudian dimatikan apinya. Tanpa kata pun Sasuke memahami bahwa Sakura sudah mau tidur.

Sasuke menarik napas dan melakukan rutinitasnya sebelum tidur akhir-akhir ini. Tangan satu-satunya dilingkarkan ke pinggang Sakura, dan saraf-sarafnya sanggup merasakan tubuh gadis itu yang mendadak kaku. Sasuke merasakan punggung tangannya disentuh Sakura. Dia nyaris saja merasa lega, merasa sikap Sakura sebelum berubah menjadi penuh kepalsuan (menurut Sasuke) telah kembali lagi. Namun, kelegaan itu menguap sampai habis ketika tangan Sakura justru mengenyahkan tangan Sasuke dari pinggangnya.

"Maaf, Sasuke. Aku butuh spasi yang lebih luas untuk tidur saat ini."

Kali ini tubuh Sasuke yang menjadi kaku. Dia akhirnya merasakan betapa tidak enaknya ditolak. Satu kalimat tersebut cukup baginya untuk akhirnya menarik kesimpulan dari segala sikap Sakura. Gadis itu tengah menjaga jarak, atau malah memang menghindarinya. Entah karena apa.

.

.

"Kenapa kau tidak bilang sejak awal bahwa tujuan kita adalah Negara Air?" tanya Sakura sembari melangkah lebar. Sasuke sesekali tertinggal di belakang karena perangainya yang santai. "Padahal jarak dari tempat kita bertemu pertama kali ke pelabuhan di Negeri Ombak hanyalah sekitar empat hari kalau kita memutuskan untuk jalan santai."

Sakura masih baik hati. Dia tidak datar dan bersikap acuh tak acuh. Dia masih peduli pada Sasuke—sebagai mantan rekan satu tim. Namun, gadis itu tak lagi bersikap manis, apalagi menjual senyumnya. Kalau sebelumnya Sasuke keheranan mengapa Sakura selalu tersenyum padanya meski dia tak melakukan sesuatu yang spesial, kini dia bertanya-tanya mengapa tarikan bibir itu sangat sulit muncul sekarang.

"Aku sengaja mengambil jalan memutar." Sasuke memasukkan tangannya ke dalam kantung di celana. Dia meneguk ludahnya perlahan. Dadanya masih terasa kebas setelah menghadapi sikap Sakura yang begitu berbeda. Dan perbedaan itu muncul setelah satu lusin hari semenjak dia tahu bahwa Sakura masih mencintainya.

"Mengapa?"

"Di perjalanan ini aku tidak punya tujuan akhir, Sakura. Aku hanya ingin melihat seluruh dunia dengan sudut pandang baru. Kalau tidak mengambil jalan memutar, tentu saja akan ada banyak hal yang aku lewatkan." Sasuke masih berupaya menjawab meski batinnya tengah bergejolak karena gadis yang tengah mengajaknya bicara.

"Oh, pantas saja dalam dua tahun kau hanya sempat mengunjungi dua negara besar dan beberapa negara kecil. Apalagi jika mengingat langkah kita yang begitu santai."

"Hn."

Sasuke menggertakkan giginya untuk menahan diri agar tidak bertanya. Sikap Sakura yang seperti ini sedikit mengingatkannya pada saat-saat dia dirawat di rumah sakit setelah pertarungan dahsyatnya dengan Naruto. Kala itu, Sakura memang merawatnya sebaik dia merawat orang lain. Namun, dia tak pernah melewatkan gemetar di tangan gadis itu ketika membalut lukanya atau mengalirkan chakra. Dia tak perlu bertanya ada apa, karena sorot mata Sakura pun sudah jelas-jelas memancarkan ketakutan.

Dan saat itu Sasuke sadar, betapa kata maaf saja tak cukup untuk menghilangkan luka. Buktinya, dia butuh waktu cukup lama hingga dapat menggenggam lagi kepercayaan Sakura. Hingga gadis itu berani menatap matanya kembali dan kehilangan getaran ketika merawatnya. Sampai datang hari di mana Sakura menyatakan bahwa dia percaya pada Sasuke secara verbal.

Dan kali ini, sikap Sakura justru jauh lebih sulit dihadapi daripada masa-masa itu. Kalau dulu Sakura menolak dengan halus karena masih belum percaya sepenuhnya, kini dia menolak dengan terang-terangan dan Sasuke tak punya petunjuk karena apa. Sakura bilang dia cinta Sasuke dan Sasuke mengakui bahwa dia sangat lega mendengarnya, tapi yang membuatnya bertanya-tanya adalah mengapa caranya bersikap justru seperti gadis yang tak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya? Bahkan memberikan senyum pun terasa dibatasi sekali. Dan ketika dia menyadari bahwa Sakura masih memanggilnya, "Sasuke-kun," pun dia merasa lega, tapi justru sekarang panggilan itu hilang.

Apakah Sasuke dilarang merasa lega, jika mengingat apa yang membuatnya merasa seperti itu justru malah menghilang setelahnya? Sasuke sama sekali tak tahu jawabannya.

"Sasuke, coba baca tulisan di depan itu apa!" pekik Sakura.

Sasuke mengembuskan napas dan berusaha menenangkan diri dari pemikirannya sendiri. "Jembatan Naruto," jawabnya datar. Dia tidak merasa sesenang itu meski tulisan besar tersebut adalah pertanda bahwa lokasi yang mereka tuju semakin dekat.

"Sakura-nee!"

Panggilan dari suara asing tersebut membuat langkah keduanya berhenti. Sakura menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya mendadak cerah mendapati sosok yang dia kenali. Ekspresi wajah yang sempat Sasuke yakini sudah hilang ditelan bumi. "Eh, kau Inari, 'kan?"

"Yup, benar!" Inari membuka topinya dan dilipat di depan dada. "Dan kau ... oh, ya ampun, Sasuke-nii?"

"Hn." Sasuke mengangguk menanggapi Inari. Dia masih ingat jelas anak lelaki ini meski pertemuan terakhir terjadi lebih dari lima tahun yang lalu. Anak lelaki ini adalah cucu dari klien misi pertamanya keluar desa saat genin dulu. Misi yang diakhiri dengan kematian Zabuza dan Haku.

"Kau sudah tinggi sekali, ya. Bahkan hampir menyusulku." Sakura terkekeh melihat pertumbuhan tubuh Inari. Terakhir dia melihatnya, tingginya masih satu jengkal di bawahnya. Sekarang barangkali hanya terpaut beberapa centimeter. "Dan tadi sepertinya kau memanggilku dari jauh, ya?"

"Ya, tidak sulit mengenali rambut merah muda milik Sakura-nee."

Sakura terkekeh lagi. Sementara Sasuke terdiam, menyadari bahwa kekehan itu pun sama-sama telah lama hilang.

"Kalian mau ke mana? Di mana Naruto-nii?" tanya Inari sembari berjinjit dan memutar leher, bergelagat mencari-cari.

"Kami mau ke pelabuhan dan melanjutkan perjalanan ke Negara Air. Naruto tidak ikut, dia ada di Konoha," jawab Sakura.

Inari mengangguk paham. "Begitu. Apa kalian sedang terburu-buru? Bagaimana kalau mampir sebentar ke rumahku? Tazuna-jiisan pasti senang bertemu kalian!"

Sakura melempar pandangan pada Sasuke. Mengerti pertanyaan tersirat dari Sakura, dia mengalihkan pandangan pada Inari. "Kalau tidak merepotkan," jawabnya menyetujui. Sakura tersenyum mendengarnya.

"Tentu saja tidak. Ayo!"

Inari menuntun Sasuke dan Sakura menuju rumahnya. Di sana mereka dijamu beberapa potong semangka dan air minum. Sangat cocok untuk membasahi tenggorokan yang kering akibat suhu tinggi. Tazuna masuk ke ruang tamu dan terperanjat mendapati kehadiran dua orang yang dia kenali. Mereka berbincang sebentar, sesekali mengulas masa lalu. Kebanyakan Sakura yang menanggapi memang. Sampai pertanyaan mengenai Sasuke diangkat ke permukaan.

"Ah, aku jadi ingat saat Konoha sedang rekonstruksi setelah hancur, aku tidak bertemu dengan Sasuke. Rasanya Naruto mengatakan padaku Sasuke ke mana saat itu, tapi aku lupa."

Tiba-tiba keheningan berdiri di antara semuanya. Sasuke dan Sakura jelas tahu di mana Sasuke saat itu. Dia baru saja melawan kakaknya, dimanfaatkan Obito untuk bergabung pada Akatsuki dan membuat gempar. Sasuke sama sekali tak bisa menanggapi, karena akan sama saja seperti membuka borok yang sudah mengering hingga bau tak sedapnya mengotori udara lagi.

"Iya, Jisan." Sakura angkat suara. Seketika jantung Sasuke berdebar lebih kencang menunggu kata-kata selanjutnya. "Sasuke, kan, waktu itu sedang bertengkar dengan Naruto, jadi keluar desa untuk menenangkan diri. Kekanakan sekali, ya? Kau ini Sasuke, hahaha." Dia menjawab seperti bagaimana Naruto menjawab saat itu sambil menyenggol tulang rusuk Sasuke menggunakan sikunya.

Sasuke mengangguk dan tersenyum tipis. Terima kasih, Sakura.

"Sasuke-nii dan Sakura-nee pacaran, ya?" Kali ini pertanyaan Inari membuat keduanya terdiam karena tersentak. "Habisnya Naruto-nii, kan, sudah menikah. Aku dan Jiisan datang juga ke sana waktu itu." Dia melanjutkan kata-katanya meski mendapat senggolan siku dari sang ibu.

Sasuke sadar betapa terganggunya dia karena pertanyaan terakhir Inari. Dia tak pernah menyatakan hubungan apa yang terjalin di antara dirinya dan Sakura, meski dia menciumnya malam itu. Namun, tak ada proklamasi cinta apa pun dari bibirnya. Tak ada kata-kata apa pun. Maka, dia tak tahu harus menjawab apa.

"Apa? Ah, hahaha, tentu saja tidak." Sakura menjawab disertai tawa canggung. Jawaban yang semakin membuat Sasuke merasa tersentak. Selama ini Sasuke berpikir bahwa pernyataan cinta dari Sakura akan membuat gadis itu menjadi miliknya, tapi ternyata Sakura memiliki sudut pandang yang jauh berbeda. Bertambah lagi kesenjangan dari sikap Sakura.

"Yang benar?"

"Iya, benar, kok." Sakura tersenyum ke arah Inari. Sasuke menangkap sebuah getaran di bibir Sakura ketika meliriknya. Senyum itu ... tidak tulus.

"Kudengar dari Inari kalian mau ke Negara Air. Sudah ada kapal untuk ke sana?"

Keduanya menggeleng.

"Kalau begitu, biar kubantu carikan. Sekalian agar mereka memberi diskon juga untuk kalian. Kalau nama kalian sudah disebut, Tim Tujuh: Kakashi, Naruto, Sasuke, dan Sakura, pasti mereka pun akan dengan senang hati membantu."

Sakura menyilangkan tangan di depan wajah. "Tidak, tidak perlu. Maksud kami berkunjung kemari bukan itu. Kami bisa mencari sendiri. Tidak apa-apa, Jisan."

"Tidak apa-apa, Sakura. Aku akan senang membantu kalian. Ini bukan apa-apa."

Sakura masih bungkam, entah harus menanggapi apa. Sementara Sasuke mengangguk dan berkata, "Terima kasih, Jisan." Dan hati Sakura menghangat mendengarnya ... satu hal yang sedang diupayakan untuk dihindari.

.

.

Riak-riak air terbentuk dan tenang kembali ketika kapal membelah permukaan air yang memantulkan sinar jingga dari langit sore. Sakura membungkuk di ujung kapal, menatapi refleksi wajahnya di cermin pada permukaan air yang bergoyang-goyang. Jarak wajahnya dan laut memang cukup jauh, melebihi satu meter. Namun, dari refleksi yang terpantul, dia dapat melihat sendiri betapa bengkak dan berkantungnya kedua kelopak mata atas dan bawahnya.

Ditangkupnya kedua pipi menggunakan kedua telapak tangannya sendiri. Wajahnya kelihatan kacau. Tidak aneh jika mengingat akhir-akhir ini dia memang sulit tidur dan menangis dalam diam sesekali. Dia menggigit bagian dalam mulut ketika mengingat apa penyebabnya.

Sasuke melukai hatinya lagi, meski dia berupaya sekeras mungkin agar lelaki itu tak tahu bahwa dia merasa seperti itu. Karena dia tahu, Sasuke pasti akan melakukan sandiwara lainnya untuk menghiburnya. Padahal kenyataannya malah akan membuatnya semakin terluka.

Sakura terdiam di geladak kapal sampai matahari terbenam dan langit menggelap. Dia tak mendapati kehadiran Sasuke sedari tadi. Barangkali lelaki itu ada di dalam kabin, istirahat karena kelelahan. Terserah, Sakura berusaha tak peduli.

Sakura meringkuk dengan wajah yang ditenggelamkan ke dalam lutut. Suara laut yang berdebur dengan kapal mengisi keheningan. Dia berdiri lagi, kembali pada posisi saat menatap refleksi di permukaan air tadi. Telinganya menangkap suara langkah kaki dari belakangnya. Dia yakin itu adalah Sasuke, karena yang ada di atas kapal ini hanyalah dirinya, Sasuke, nakhoda, dan asistennya.

"Sakura," panggil Sasuke sembari melangkah ke sisi kapal.

"Sasuke." Sakura tak mengalihkan pandangan dari cahaya bulan di atas air. Ketika Sasuke sudah berdiri tepat di sisinya, dia menoleh sedikit. Tangannya bergetar saat mendapati bahwa wajah Sasuke pun sama kacaunya dengan dirinya.

Tanpa perlu bertanya pun, Sakura tahu pola tidur Sasuke kacau akhir-akhir ini. Apalagi, dari igauan yang terlepas dari bibirnya sepanjang malam dapat dilihat bahwa tidurnya pun diganggu mimpi buruk. Setidaknya Sakura lebih beruntung di sini, dia sangat jarang didatangi mimpi yang membuat tidurnya tak tenang. Meski keadaan mereka sama-sama memiliki jam tidur yang kacau.

"Kau kadang-kadang menggumam "Niisan" ketika kau tidur. Mau berbagi sesuatu?" Sakura memutuskan untuk memecahkan keheningan. Bagaimanapun, dia prihatin jika Sasuke terus-menerus diganggu mimpi buruk setiap malamnya. Dia berpikir bahwa mungkin jika Sasuke mau berbagi cerita, bebannya akan berkurang meski sedikit dan barangkali mimpi itu tak akan datang lagi.

Sasuke tampak tak bereaksi sama sekali. Pegangan tangannya pada sisi kapal mengerat, tapi Sakura melewatkan hal tersebut. Dia tak tahu bahwa mimpi buruk mengenai kakak dan klannya yang menghantui sampai membuatnya mengigau. Sedikit memalukan juga jika dipikir-pikir.

"Setiap kali kau seperti itu, peluh pasti membasahi wajahmu, sedingin apa pun temperatur di udara."

Sasuke menarik napas dan mengembuskannya banyak-banyak. Kalau kau ada di sisiku, aku tak akan mimpi buruk.

"Kalau kau memang masih mau menyimpannya sendiri, tidak apa-apa."

Keheningan berdiri di antara keduanya. Sasuke menimbang-nimbang apakah dia mau berbagi cerita pada Sakura atau tidak. Dipejamkannya mata sembari mengatur napas. Dia ... memercayai Sakura.

"Kau pasti tahu cerita tentang pembantaian klan Uchiha yang dilakukan kakakku." Jantung Sasuke berdebar kencang. Dia menahan erangan di tenggorokan. Setiap kali dia mengingat hal ini, dadanya masih saja terasa sakit meski sudah lama berlalu. "Itu tidak seperti berita yang tersebar. Kakakku tidak melakukan itu dengan semena-mena, bukan hanya untuk mengukur kekuatannya."

Sakura tertegun. Selama ini apa yang dia pahami mengenai pembantaian klan Uchiha adalah apa yang Sasuke bantah saat ini. Dan ternyata pemahamannya salah. Betapa dia sadari bahwa dirinya tak tahu apa-apa.

"Kakakku dipaksa petinggi Konoha. Katanya demi kedamaian desa, karena ada banyak desas-desus bahwa Uchiha akan melakukan kudeta. Tak ada kudeta yang dilakukan dengan kepala dingin, itulah sebabnya Uchiha dianggap ancaman yang harus dihancurkan. Dan tugas berat untuk menghancurkan klan Uchiha itu diemban di bahu kakakku seorang."

Sakura merasa oksigen yang dihirupnya menajam dan menikam paru-parunya. Sekarang dia tahu latar belakang Sasuke begitu membenci Konoha, bahkan sampai berniat untuk menghancurkannya. Tawa canda yang terlepas dari warga Konoha hingga saat ini terjadi karena pengorbanan klan Uchiha, pengorbanan Uchiha Itachi, dan ... penderitaan Sasuke. Dan dirinya termasuk ke dalam warga yang diselimuti kedamaian yang terjadi di bawah penderitaan orang itu. Penderitaan Sasuke, lelaki yang dia cinta.

"Kakakku bergabung dengan Akatsuki pun karena ingin melindungi Konoha dari luar, agar organisasi itu tak menyentuh Konoha sama sekali. Saat Akatsuki menghancurkan Konoha, kakakku sudah tidak ada, itulah sebabnya Akatsuki berhasil menyerang Konoha."

Sakura kehilangan kata-kata untuk menanggapi. Tak dia duga bahwa penyebab Sasuke terseret ke dalam kegelapan memanglah latar belakang yang segelap itu. Sakura tak berani memosisikan diri di tempat Sasuke, karena rasanya sama sekali tak terbayang. Sasuke selama ini bertahan hidup karena dendam, sebuah emosi kuat yang barangkali tak pernah Sakura rasakan.

"Kakakmu ... kakakmu orang yang menakjubkan. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi ..." Suara Sakura bergetar. Dia sangat paham Sasuke pasti membutuhkan segenap upaya untuk akhirnya memercayai Sakura dan menceritakan apa di balik mimpi buruknya. Tak heran jika Sasuke bermimpi buruk terus-menerus.

Sakura baru sadar bahwa cerita tadi merupakan sebuah rahasia penting milik Sasuke. Dan dia memiliki kesempatan untuk mendengar segalanya dari mulut Sasuke langsung. Entah mengapa Sakura merasa tersentuh, meski seharusnya saat ini bukanlah tentang apa yang dia rasakan.

"Aku orang yang beruntung. Di antara Tim Tujuh, hidupku pun paling baik. Aku masih punya keluarga yang utuh, guru-guruku masih ada semua, teman terdekatku juga. Aku tidak pernah merasakan betapa sakitnya ditinggal mati orang yang kusayangi. Tidak seperti Kakashi-sensei yang sudah kehilangan semua rekan satu tim, guru, dan keluarganya; Naruto yang kehilangan kedua orangtua semenjak lahir, juga gurunya; dan kau yang kehilangan keluarga beserta klanmu; bahkan Sai ... dia tak mengenal siapa orangtuanya dan kehilangan kakaknya. Tapi aku ..." Sakura menarik napas setelah berbicara panjang. Dia menggantungkan suaranya di udara karena tak sanggup melanjutkannya. Aku mengenal apa itu kehilangan ketika kau memutuskan untuk pergi dan tenggelam ke dalam kegelapan.

"Tapi?"

Sakura tak menanggapi permintaan Sasuke yang menuntutnya untuk melanjutkan kalimatnya. Tangannya tergerak untuk menggenggam tangan Sasuke yang dikepal di atas sisi kapal, dia ingin menenangkannya—atau menenangkan diri sendiri—melalui sebuah sentuhan. Namun, ketika jarak tangannya dan tangan Sasuke sudah menipis, dia segera menariknya kembali ketika mengingat dirinya yang ingin menjaga jarak. Dia seharusnya melewatkan interaksi intim semacam itu.

Dan Sasuke menyadari Sakura yang nyaris menggenggam tangannya, tapi menariknya kembali. Dia memberanikan diri untuk melakukan sebuah pemastian. Tangannya mendekati tangan Sakura untuk digenggam, dan Sakura langsung menarik kedua tangannya ke samping tubuhnya. Lagi, dia dihindari. Padahal Sasuke baru saja menunjukkan bahwa dia menyimpan kepercayaan terhadap Sakura dengan cara menceritakan masalah yang dia tutup untuk diri sendiri.

"Kau berbeda."

Tubuh Sakura menjadi kaku. Sebelum ini mereka berada di topik mengenai hal-hal yang membebani Sasuke dan dirinya yang mendadak bicara panjang. Sakura sangat terkejut lelaki itu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan mengenai perbedaan dirinya. Entah ke mana maksud kata-katanya. "Apa? Berbeda apanya?"

"Entahlah, tapi kau memang berbeda."

Sakura memberanikan diri untuk menoleh ke arah Sasuke. "Ini masih aku yang sama, yang kemarin, dua hari yang lalu, dan—"

"Tidak seperti kau di rentang satu sampai dua minggu yang lalu."

Sakura menahan napasnya. Dia tidak mungkin menyadarinya, bukan? Dan kalau memang sadar, kenapa itu jadi masalah untuknya? Bibirnya digigit lamat-lamat. Kedua tangannya terkepal erat. Seketika ujung matanya membasah.

"Kau menjaga jarak."

Sakura meneguk ludah untuk menyembunyikan getaran di suaranya. "Aku tidak—"

"Katakan, ada apa, Sakura?" Kali ini Sasuke menoleh ke arah Sakura. Dia memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke matanya di bawah cahaya remang dari kapal.

"Tidak ada—"

"Sakura." Tangan yang memegang bahu Sakura mencengkeram sedikit hingga gadis itu tersentak.

Sakura mengembuskan napas keras-keras. Dia memejamkan mata dan menunduk, menghindari pandangan yang bertumbukkan dengan Sasuke. Salah satu tangan yang terkepal di atas jahitan celananya terangkat dan menepis tangan Sasuke yang mencengkeram bahunya.

"Apa arti diriku untukmu, Sasuke?" Kedua matanya terbuka dan menyalang penuh emosi. Dia sudah tak bisa menyimpan semua ini sendiri. Sasuke cukup terkejut dengan tanggapan Sakura kali ini. Apalagi, dia mendapati adanya air mata yang menggantung di sudut mata Sakura. "Kau memelukku setiap malam, menempelkan bibir pada keningku, me-mencium bibirku, tapi kau tak pernah mengatakan apa arti di balik semua itu."

Sasuke membeku. Suaranya hilang entah ke mana. Bahkan jika suaranya masih ada, rasa-rasanya akan tetap percuma karena otaknya pun tak sanggup memberikan jawaban. Wajahnya masih tenang ketika menatap Sakura yang berapi-api. Dari dulu sampai sekarang ... dia masihlah sosok yang pintar dalam menyembunyikan emosi. Meski emosi bingung sekalipun.

Melihat Sasuke yang masih datar-datar saja, Sakura jadi salah persepsi. "Semua itu tidak ada artinya, ya? Aku sudah tahu. Seharusnya aku memang tidak mengharapkan lebih. Aku tahu itu hanya sandiwara untuk menghiburku, 'kan?"

Kali ini Sasuke tak sanggup menyembunyikan emosinya lagi. Kedua matanya melebar karena dikejutkan oleh penuturan Sakura yang terdengar tak masuk akal di benaknya. Sandiwara katanya? Dia kembali mencari mata Sakura dan menatapnya lurus-lurus. Air mata yang menggantung tadi sudah jatuh dan membasahi pipi. "Sakura, apa—"

"Mungkin kau merasa bersalah atas cerita tentang aku yang berusaha mencintai orang selain dirimu waktu itu." Suaranya semakin bergetar. Dia mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghapus air mata. Tubuhnya bergidik, tapi bukan karena embusan angin malam yang membelai tengkuknya.

"Sakura—"

"Aku tahu aku memang tak berarti apa-apa untukmu. Maaf, aku malah membebanimu dengan cerita yang mungkin sebenarnya tak ingin kau dengar sama sekali." Tubuh Sakura semakin bergetar. Isakan-isakan mulai terlepas dari bibirnya. Dia membekap mulut, mencoba menahannya, tapi tak mampu. Tangis yang selama ini dia simpan sendiri sudah tak bisa ditahan lagi. Layaknya gunung yang sudah lama tidak meletus dan ketika datang hari di mana harus meletus, letusan yang terjadi akanlah sangat dahsyat. Sama halnya dengan tangis Sakura.

"Kau—"

"Lupakan saja bahwa aku bilang bahwa aku mencintaimu." Sakura merasakan tangan Sasuke memegangi lengannya. Namun, dia mengabaikan Sasuke yang mau menanggapi kata-katanya. Dia takut mendengarnya. Dia sangat-sangat takut tersakiti lebih dari ini. Rasanya semuanya sudah cukup. "Aku pun akan berusaha—"

"SAKURA!" Emosi sudah mengendalikan Sasuke hingga dia membentak Sakura ... untuk yang pertama kalinya. Cengkeraman tangannya pada lengan Sakura mengerat hingga gadis itu melepas sebuah engah. Lupakan saja, katanya? Sasuke sama sekali tak mau melupakan hal itu. "Hentikan semua omong kosong itu!"

Tangis Sakura semakin pecah. Dia mencoba mengenyahkan tangan Sasuke dari lengannya. Namun, tenaganya seolah-olah hilang. Bahkan untuk hal sekecil itu pun dia tak mampu sekarang. "Lantas apa maksudmu, Sasuke! Katakan padaku agar aku mengerti. Aku tidak bisa seperti ini terus. Ini—ini benar-benar menyiksaku ..."

Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya ditenggelamkan ke dalam kedua telapak tangan. Frekuensi getaran di tubuhnya semakin besar.

Sasuke kehilangan suaranya lagi. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Sakura. Dua kata tersebut tersendat di tenggorokannya. Ketika dipaksa agar terdorong kembali, kalimat penuh arti tersebut hanya sampai di ujung lidahnya. Dia tak bisa mengatakannya, tapi sangat ingin menyampaikannya. Maka, tangannya merambat ke punggung Sakura dan menariknya mendekat. Ketika sudah cukup dekat, dia mengenyahkan kedua tangan gadis itu dari wajah. Wajahnya dimajukan hingga jarak antar ujung hidungnya dan ujung hidung Sakura semakin menipis. Namun, ketika satu centimeter udara kosong menjembatani bibir keduanya, Sasuke merasakan dadanya tersentak oleh sebuah dorongan keras hingga kakinya ikut mundur. Dorongan dari telapak tangan Sakura.

"Apa yang—"

"Jangan lakukan itu lagi!" Sakura meraung keras. Isakan membuat suara dan napasnya terdengar tersendat. Dalam hati dia menggerutui sikapnya yang selalu menjadi seorang gadis cengeng setiap kali berhadapan dengan Sasuke. "Kumohon, Sasuke, aku sudah tidak sanggup lagi ... aku tak mau berspekulasi lagi dan bertanya-tanya apakah asumsiku benar atau tidak ..."

Dan Sasuke masih tak mampu bicara.

"Kenapa ... kenapa kau selalu diam?"

Dalam hati, Sasuke merutuki diri sendiri karena otak tangkasnya selalu berjalan lambat untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

"Lupakan saja semuanya. Yang terjadi malam ini, di malam itu, semuanya. Agar perjalanan ini tidak tertunda karena apa pun."

Sakura menjauhkan diri dari tangan Sasuke dan memutar tubuh. Dia berjalan menuju kabin dan meninggalkan Sasuke di belakang. Pergerakannya terhenti ketika merasakan genggaman di pergelangan tangannya. Dia tak berani menoleh karena tak ingin memamerkan air mata yang masih mengalir deras pada Sasuke.

Sasuke meneguk ludahnya dengan sulit. Napasnya diatur hingga senormal mungkin. Detak jantung yang berdebar dengan keras berusaha dinetralisir, tapi gagal. Dia membuka mulut dan berusaha untuk bersuara. "Sakura, aku ..."

Sasuke menggigit lidahnya dan memaksa diri untuk berbicara. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku ... "... mencintaimu."

Sasuke mengembuskan napas lega. Namun, debaran jantungnya malah semakin tidak keruan. Dia tak percaya dirinya berhasil mengucapkan kata yang selalu tersendat di tenggorokan setiap kali melihat Sakura. Dan yang pertama memang selalu yang tersulit. Sasuke merasa dadanya telah kehilangan beban terberatnya, rasanya akan lebih mudah jika dia mau mengatakannya lagi. Dan dia memang sangat ingin mengatakannya lagi.

"Aku mencintaimu, Sakura."

Telinga Sasuke sanggup mendengar isakan Sakura yang semakin mengencang. Dia mendapati lutut gadis itu bergetar hebat. Ditariknya tubuh Sakura hingga tangannya bisa melingkari tubuh gadis itu. Air matanya membasahi kausnya.

Sakura masih terus menangis keras. Proklamasi cinta dari Sasuke sama sekali tak cukup untuk menghentikan tangisnya. Hal itu malah membuatnya jauh lebih emosional dan menangis semakin kencang. Namun, tangis tak membuat otaknya buntu.

Ada satu hal yang membuat pengakuan cintanya pada Sasuke berbeda dengan yang dituturkannya pada Naruto. Bagaimanapun keadaannya, saat mengatakan pada Sasuke, jantungnya akan berdebar dengan sangat kencang, berbeda dengan saat mengatakannya pada Naruto yang tak memacu adrenalin pada pompaan jantungnya. Itulah yang membedakan pengakuan cinta yang sebenarnya dan yang tidak. Maka, dia perlu mendengar detak jantung Sasuke ketika lelaki itu mengatakan bahwa dia mencintainya. Dia ingin tahu apakah ini sandiwara atau bukan.

Sakura menyentuh dada Sasuke, tepat di jantungnya. "Ka-katakan lagi," isaknya lirih. Dia merasakan tangan Sasuke memeluk tubuhnya semakin erat, seolah mengerti bahwa lututnya sudah melemah dan tak sanggup lagi menopang tubuhnya untuk berdiri.

"Aku mencintaimu." Debaran yang terasa di tangan Sakura mengencang dengan drastis. Air matanya mengalir dengan deras lagi tanpa bisa ditahan. Ini nyata. Ini bukan sandiwara. Sakura memercayai Sasuke kali ini. Dia benar-benar memercayainya. Pikirannya selama ini ternyata salah. Buktinya sudah terasa sendiri di telapak tangannya. Kemudian, dia merasakan Sasuke mengecup pucuk kepalanya. "Jadilah milikku, Sakura."

Tak ada lagi yang bisa membuat Sakura ragu untuk mengangguk mengiyakan.

.

.

Sudah berjam-jam semenjak Sakura berdiri di atas kapal, tapi dia baru menyadari bahwa kabin yang ada di sini hanya dua. Yang satu untuk kamar nakhoda, dan yang satunya lagi kosong. Dan ruangan kosong itulah tempat di mana Sasuke dan Sakura bisa beristirahat. Apa yang membuat Sakura yakin bahwa Tazuna salah perhitungan dengan kapal kecil ini adalah eksistensi ranjang yang hanya ada satu di setiap kamar. Memang, kasurnya besar, tapi itu tak menolong Sakura untuk tak bersikap gugup.

Sasuke yang memahami kegugupan Sakura langsung membuka lemari, barangkali ada futon yang bisa digelar di bawah. Kalau tidak ada pun tak masalah buatnya. Ada sofa atau dia bisa menggunakan kantung tidur. Dan ternyata memang ada futon. Sakura bisa bernapas lega jika saja futon tersebut tidak bau pesing.

Sakura jadi tak enak pada Sasuke karena harus tidur di atas sofa. Namun, Sasuke berkali-kali mengatakan tak masalah. Maka Sakura berusaha melupakannya. Lagi pula hal ini sudah terjadi saat dia pingsan di hutan dulu. Waktu itu bahkan lebih parah, Sasuke tidur di atas kursi meja rias.

Sakura yakin waktu yang terlewati semenjak dia berbaring di atas tempat tidur sudah lama. Namun, dia masih belum bisa tidur. Gangguan tidur ini masih ada meski ketegangan di antara dirinya dan Sasuke sudah berlalu. Terlebih lagi, kali ini justru hatinya melambung setinggi-tingginya.

Lampu di atas meja nakas dinyalakan. Cahayanya tak cukup untuk menerangi sofa di mana Sasuke berbaring.

"Sasuke-kun sudah tidur?" kata Sakura pelan.

"Kau tidak bisa tidur," sahut Sasuke. Bibirnya melengkungkan sebuah senyum tipis mendengar panggilan lamanya dari Sakura telah kembali lagi.

"Mm-hm. Sepertinya kau juga." Sakura telentang dan menatap langit-langit. "Atau kau terbangun karena suaraku? Maaf, aku—"

"Tidak, Sakura."

"Baiklah." Sakura meneguk ludahnya. Telapak tangannya mengusap-usap sprei di spasi kosong yang cukup lebar di sisinya. "Hmm ... kasur ini cukup besar untuk dibagi bersama."

"Hn?"

Sakura mendecak. Apa dia harus mengatakannya secara eksplisit sampai Sasuke mengerti maksudnya? Seharusnya ini pun tak masalah bagi Sakura. Sebelum ketegangan terjadi, mereka selalu tertidur di dalam pelukan satu sama lain sepanjang malam. Namun, anehnya Sakura masih gugup.

"Barangkali sofanya tidak nyaman sampai-sampai kau susah tidur ..."

Sasuke tak perlu kata-kata lagi. Dia beranjak dari sofa dan duduk di samping tempat tidur. Sakura menggeser tubuhnya untuk Sasuke. Dia memiringkan tubuh ke arah Sasuke ketika kasur terguncang, menandakan ada seseorang yang berbaring di sampingnya. Senyum manis yang dia tujukan untuk Sasuke kembali lagi.

Sasuke menyelipkan helaian rambut yang mengotori wajah Sakura ke belakang telinganya. Ditatapnya wajah gadisnya yang masih tampak sembap bekas menangis. Dia melingkari tangannya pada tubuh Sakura. "Tidurlah, Sakura."

Sakura mengangguk. Dia mengecup pipi Sasuke. "Hmm ... aku sering melakukan ini sebelumnya. Mungkin kau tak ta—"

"Aku tahu," potong Sasuke. Otot di wajahnya mengendur. "Tidurlah."

Kedua tangan Sakura melingkari tubuh Sasuke. "Aku akan berusaha tidur. Oyasumi, Sasuke-kun."

"Oyasumi, Sakura."

Tak butuh waktu lama hingga keduanya benar-benar terlelap. Dan malam ini, mimpi buruk tak mendatangi Sasuke lagi. Entah karena dia sudah menceritakan semuanya pada Sakura, atau karena ada Sakura di sisinya, atau malah kedua-duanya.

.

.

Bersambung