Jejak yang sebelumnya mendarat di atas lantai kayu geladak kapal kini mengalami sebuah transisi pada pijakannya. Kedua pasang kaki tersebut akhirnya menginjak tanah kembali setelah satu minggu berada di atas sarana transportasi air itu. Sakura menunduk dan membaca peta, memercayakan pandangan ke depan pada Sasuke. Dia yakin, jika kakinya tersandung karena tak menaruh atensi pada jalanan pun, Sasuke pasti akan tetap membuatnya berdiri di atas kedua kakinya kembali.

Jari telunjuk Sakura bernavigasi pada satu titik di peta. Dia menyenggol tulang rusuk Sasuke menggunakan sikunya. Akhirnya dia mengangkat kepala dan menoleh ke sampingnya. "Jadi, kita ada di sini sekarang?" tanyanya, lebih ke retoris.

"Jika petanya tidak salah, maka iya." Sasuke mengangkat dagunya kembali ketika peta di tangan Sakura digulung. Dia menjawab isyarat Sakura dengan cara memiringkan tubuh, sedikit memunggunginya untuk memberi akses pada tempat menyimpan peta sebelumnya.

"Padahal aku sedikit mengharapkan bisa melihat pantai," ungkap Sakura setelah melempar pandangan pada lingkungan sekitar. Panorama yang terekam ke dalam retinanya hanyalah puluhan kapal yang berlabuh di sisi perairan. Ketika melempar pandangan lebih jauh, yang dia dapati hanyalah gulungan ombak besar yang berdebur pada kaki tebing.

"Di Negara Air pasti ada pantai, tapi tak di sini."

"Sayang sekali," keluh Sakura. Namun dia tak benar-benar mengeluh. Pemandangan di sini tidak bisa dikatakan buruk. Sudah cukup untuk membuai mata setelah tujuh kali dua puluh empat jam yang bisa dilihat dari sejauh apa pun mata memandang hanyalah biru di lautan, ditambah jingga di horizon kala siang dan malam mengalami transisi. Bukan berarti Sakura tak menyukainya, dia hanya ingin menikmati hal selain itu.

"Kita bisa bertandang ke pantai nanti, kalau kau mau." Sasuke menanggapi kekecewaan tipis yang terlintang di wajah Sakura. Dia akan senang hati mengunjungi pantai. Bukan hanya karena panoramanya yang indah, dia pun ingin melihat melalui mata kepalanya sendiri bagaimana kehidupan penduduk di sana. Sasuke bayangkan pasti sederhana dan tentram, dia yakin akan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari balik dua kata tersebut.

Senyum di bibir Sakura melebar. "Aku akan senang sekali!"

Setelah beberapa langkah dijejak ke depan, Sakura menepuk ringan perutnya. Pandangannya menerawang, seperti seorang petani yang tengah memilih sayuran atau buah yang layak untuk dipetik.

"Sasuke-kun mau makan apa?" Sekali lagi Sakura menengadah, memastikan bahwa hari sudah cukup siang untuk melakukan makan siang. Kebetulan dia memang merasa lapar saat ini.

"Apa saja."

"Makanan laut?"

Sasuke mengangguk kecil. "Boleh."

"Arah jam dua," kata Sakura sembari menarik lengan Sasuke. "Eh, kau tidak punya alergi apa-apa, 'kan?"

"Tidak."

Tanpa kata-kata lagi, Sakura menyeret Sasuke ke tempat makan pilihannya. Suara lonceng berdering ketika Sakura membuka pintu. Dicarinya tempat duduk yang menurutnya strategis. Setelah ketemu, dia pun mendudukkan diri dengan Sasuke yang duduk berseberangan dengannya.

Mata Sakura tak melewatkan bagaimana pelayan wanita yang menghampiri mejanya untuk menanyakan menu mencuri-curi pandang ke arah Sasuke. Bahkan ketika tengah menulis pesanan mereka pun, dia masih melirik melalui ujung matanya. Pipi perempuan itu merona tipis ketika pertama kali mendengar suara Sasuke. Dalam posisi seperti ini, Sakura sebagai kekasih Sasuke seharusnya merasa cemburu, kesal, atau emosi sejalan lainnya. Namun, yang ada di hatinya justru kesan geli.

Sakura tak masalah dengan itu. Dia memercayai Sasuke, sebanyak apa pun wanita lain yang menyukai kekasihnya. Di sini Sakura justru merasa menjadi seseorang yang memegang kunci penting dalam hidup Sasuke lantaran lelaki itu tak pernah tebar pesona, juga hanya bersikap benar-benar melembut padanya. Pada orang lain hanyalah sebatas berperilaku sopan dan relevan.

Lain halnya dengan Sasuke. Dia merasa tak bisa merasakan ketenangan dari setiap suap dalam jepitan sumpitnya. Matanya melirik ke luar jendela, dan berpindah lagi pada Sakura. Ada beberapa lelaki yang menahan langkah dan menatap Sakura lebih dari dua detik di balik jendela. Dia mendecak dalam hati dan melempar tatapan tajam sesempat yang dia bisa, yang sepertinya sia-sia.

Sasuke kembali menatap Sakura dalam diam. Gadis itu masih begitu fokus dengan kegiatan makannya sehingga tak menyadari apa yang dia lakukan. Ingatannya berputar pada masa lampau, dari yang terdekat hingga yang terjauh. Dia ingat betul bagaimana orang-orang yang berdiri di atas kapal bersama mereka seluruhnya lelaki, dan Sakura adalah satu-satunya perawan di sana. Kadang-kadang dia menangkap basah asisten nakhoda yang menatapi Sakura sembari menopang dagu di waktu luangnya. Dan jika ingatannya diputar lebih jauh, dia pun ingat bahwa Sakura sering dirayu oleh klien-klien dari misi Tim Tujuh saat dulu. Dan di Konoha sendiri pun dia tahu bahwa Sakura adalah salah satu gadis yang banyak ditaksir.

Pikirannya berlabuh kembali pada masa kini. Dia mendapati helai-helai rambut Sakura menempel di bibir Sakura yang basah. Pemandangan yang sedikit menaikkan suhu tubuhnya juga membuat darah di balik kulitnya meletup-letup aktif. Ditambah lagi Sakura yang melenguh setiap kali makanan masuk ke mulutnya, merepresentasikan bahwa makanan itu nyaman di lidahnya. Gadis itu mengangkat tangannya yang bebas dan menyelipkan rambut ke belakang cuping telinga. Apa gunanya bandana yang dia pakai jika rambutnya masih bisa menutupi wajah? batin Sasuke.

Dan ketika rambut itu sudah benar-benar tak ada lagi yang mengotori parasnya, Sasuke menarik kembali apa yang dia ucapkan dalam hati tadi. Dia terpesona selama beberapa saat. Sakura kelihatan lebih cantik ketika wajahnya lebih menonjol daripada biasanya. Tatapannya fokus langsung ke muka, tanpa ada rambut yang membingkai wajahnya. Hal itu membuat dirinya ingin mencium kekasihnya sekarang juga, tapi ditahan mati-matian; dan jelas-jelas keelokan itu akan semakin menarik mata para kaum adam. Sasuke tak suka akan hal itu.

Mengabaikan keduanya masih dalam kegiatan makan yang seharusnya dilalui dengan tenang, Sasuke meletakkan tangan yang masih memegang sumpit di atas meja. "Berhenti bersolek," titahnya tegas. Sasuke sendiri sedikit terkejut akan intonasi yang terlepas dari bibirnya.

Tangan yang melayang di depan mulut Sakura dengan sesumpit nasi membeku. "Hah?" Sakura membuka mulut, bukan untuk menyambut suapan nasinya.

Sasuke meneguk ludahnya. Kepalang basah, Sakura tidak mungkin tidak mendengar suaranya tadi. Alih-alih mengabaikan, Sasuke lebih memilih untuk menegaskan. "Berhenti bersolek," ulangnya dengan nada bicara yang sedikit lebih lembut daripada sebelumnya.

"Ya, aku mengerti, maksudku, aku dengar itu sebelumnya, tapi aku tidak mengerti maksudmu," tutur Sakura setelah menaruh kembali sumpitan nasinya ke dalam mangkuk.

Dahinya masih mengernyit, tidak memahami kata-kata Sasuke. Saat ini dia sedang makan, bukan bersolek. Kalau maksud Sasuke adalah apa yang terjadi sebelum ini, itu pun sama tidak masuk akalnya lantaran dia hanya mengenakan pelembap kulit dan menata rambut. Apakah Sasuke lebih suka dirinya keluar dengan rambut berantakan? Itu sangat janggal.

"Lihat ke luar," sahut Sasuke tanpa menjawab pertanyaan di dalam kepala Sakura.

Sakura mengikuti apa yang Sasuke katakan. Dia mendapati tiga orang lelaki yang berpapasan dengannya, tapi langsung mengalihkan pandangan. Pipi Sakura merona seketika. Sasuke semakin tak suka.

Mendapati raut muka Sasuke yang tampak begitu terganggu, Sakura memutar kedua bola matanya. "Yang aku lakukan dari tadi hanya makan." Dia kembali menyumpit makanannya, kali ini berhasil mencapai mulut. Dikunyahnya hingga habis, kemudian cepat-cepat bicara lagi. "Pagi ini aku hanya menyisir rambut dan memakai pelembap. Kau, kan, tahu sendiri."

Sakura mendesah ketika tak menerima tanggapan dalam bentuk apa pun dari Sasuke. "Huh, coba tengok ke kananmu, sana!" Matanya menyipit menunggu reaksi Sasuke ketika mendapati gadis-gadis yang cekikikan geli sembari melempar tatapan memuja kepadanya. Tiba-tiba wajah Sasuke ditekuk.

"Cemburu, ya?" Sasuke langsung menatap Sakura lurus-lurus ketika mendengar gadis itu bicara. Apa yang didapatinya adalah sipitan mata dan sebuah senyum yang menjengkelkan untuk ditebar.

Sasuke mendengus kesal. "Habiskan makananmu," ucapnya untuk mengalihkan pembicaraan. Kemudian dia merutuki diri dalam hati ketika menunduk dan mendapati makanannya pun masih tersisa. Pengalihan bodoh, batinnya. Dan Sasuke sama sekali tak mau mengangkat wajah untuk melihat Sakura yang tampak begitu terhibur oleh kondisi saat ini.

Kemudian keduanya menghabiskan makanan dalam diam. Sasuke mendengar suara tegukan ketika Sakura menghabiskan cairan yang mengisi gelasnya. Dia menopang dagu dan melemparkan pandangan ke luar jendela. Keheningan cukup lama menyekap mulut keduanya. Sasuke melirik Sakura dan mendapati gadis itu tengah melakukan hal yang sama.

"Mau tambah?" Sakura tiba-tiba bertanya setelah menoleh. Ditanggapi oleh sebuah gelengan.

"Kalau begitu, ayo!" Sakura berdiri. Langkahnya terhenti ketika mendapati Sasuke mengambil beberapa buah permen yang memang disediakan di setiap meja untuk pelanggan. Kemudian keduanya melakukan transaksi pembayaran atas apa yang sudah mereka makan dan meninggalkan restoran.

"Sejak kapan kau suka permen?" Sakura mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi menyangkut di tenggorokan. Dia melangkahkan kaki di samping Sasuke yang sama-sama tengah membelah jalan. Hiruk pikuk memenuhi atmosfer di lingkungan ini. Namun, Sakura yakin Sasuke sanggup mendengar pertanyaannya tadi.

Sasuke mengangkat kedua bahu. "Aku punya firasat akan membutuhkan permen-permen ini."

"Itu ... aneh." Kedua alis Sakura bertaut. Dia ingat betul Sasuke tidak menyukai konsumsi manis.

"Memang." Sasuke menyetujui. Dia pun sama sekali tak memahami firasat ini. Kemudian sebuah kalimat ringan melintas di otaknya. "Mungkin untukmu yang bisa saja tiba-tiba kembali mabuk laut."

"Kapan aku mabuk laut! Lagi pula ini di daratan, mana mungkin mabuk laut." Sakura mendelik tak suka. Kedua pipinya dikembungkan. Dia melirik ke arah Sasuke kembali dan mendapati lelaki itu menayangkan ekspresi tak mau dibantah.

Sakura mendengus. "Ya, ya, aku memang muntah di hari kedua naik kapal. Namun itu karena aku tidak mengecek tanggal kadaluarsa dari makananku, bukan karena mabuk laut!"

Salah satu sudut bibir Sasuke terangkat. Mengingat Sakura sering meledeknya tak punya selera humor, barangkali sekali-kali dia bisa menyangkalnya. Dan dia rasa kali ini adalah salah satu waktu yang tepat. "Atau ... sedang mengandung."

"Hah?!" Sakura terperangah. Dia melempar tatapan tajam pada Sasuke, yang justru malah diterima sebagai hiburan ... sampai telapak tangan Sakura mendorong dadanya cukup keras. "Kau bicara apa, berengsek!"

Sasuke mengembuskan napas kesal. Untung pijakan kakinya cukup kuat untuk menahannya agar tidak terjatuh maupun terjerembap. Dia mencoba mengabaikan tatapan orang-orang yang tertuju pada keduanya ketika Sakura mengumpat cukup keras. Dengusan jengkel terlepas dari hidungnya memikirkan orang-orang itu pasti akan berpikir macam-macam tentang apa yang dia katakan pada Sakura.

"Aku tidak pernah melakukan—oh, astaga! Ja-jangan-jangan saat aku pingsan ...?" Wajah Sakura memucat. Kedua tangannya menempel di pipi yang rasanya benar-benar panas. Bibirnya terus-menerus mengucap astaga atas asumsinya.

Lagi, Sasuke mendengus kesal. Dia tak menyangka kata-kata asal-asalannya akan berpengaruh sebesar ini pada Sakura. Pipi Sakura dirangkum ke dalam satu tangan dan menjepitnya hingga gadis itu tak bisa berkata dengan jelas. Pipi tembamnya terjepit hingga tumpah ke depan dan menghimpit bibirnya. "Berisik. Aku hanya bercanda."

Sakura masih menggumam tidak jelas karena jepitan pipinya. Dia berusaha mengenyahkan tangan Sasuke, tapi kesulitan. Dipasangnya wajah bertanya sekaligus panik, dan Sasuke mengerti maksudnya. "Tidak. Aku tidak melakukan apa pun waktu itu."

Setelah terdengar embusan napas lega, barulah Sasuke berani melepas rangkuman tangannya. Sepertinya orang-orang sekitar pun tak lagi memedulikan reaksi berlebihan Sakura tadi, dan Sasuke bersyukur karenanya. Sakura mengusap kedua pipinya seolah-olah baru ditampar, padahal Sasuke yakin itu sama sekali tidak sakit bagi seorang kunoichi.

Sebuah tatapan tajam dilempar ke arah Sasuke. Pipi gadis itu masih memerah karena ronaan terkejut tadi. Wajahnya berusaha menayangkan ekspresi sangar, yang mana di mata Sasuke justru terlihat gagal. Sakura malah seperti kucing manis yang berusaha berlagak menjadi seorang singa buas. "Kau menjengkelkan," cerca Sakura, masih dengan suara malu-malu yang dibuat tegas.

"Hn." Sasuke hanya mengangkat bahu tak acuh. Yang penting dia merasa terhibur tadi. Salah satu sudut bibirnya tertarik, menayangkan ekspresi seseorang yang sombong tapi sedang terhibur.

"Kau gagal mematahkan pendapatku soal kau tidak punya selera humor," ujar Sakura dengan nada ketus. Entah hanya perasaan Sasuke saja, tapi dia mendengar suara dengusan menahan tawa dari Sakura.

"Oh?"

"Yang membuat tadi lucu adalah kau yang berusaha untuk begitu, tapi gagal." Kali ini kekehan terlepas dari bibir Sakura. Hanya sebentar, karena dia segera sadar bahwa dirinya tengah berperan sebagai seseorang yang sedang kesal pada Sasuke. Seseorang yang kesal tidak akan tertawa, seharusnya. Namun, sama dengan usaha Sasuke untuk bercanda, Sakura pun gagal. Suara tawanya membumbung ke udara, tawa kencang yang meledak setelah ditahan-tahan.

.

.

Tiga jam terlewati dan tak ada satu pun penginapan yang kosong. Cahaya matahari dihalau awan hingga hari mulai meneduh. Anak-anak kecil memenuhi jalan, dengan teriakan ringan pun tawa candanya. Sebuah atmosfer menceriakan, yang sudah lama tak Sakura rasakan semenjak berkelana bersama Sasuke.

Sakura sama sekali tak mendapati kehadiran orangtua yang ikut beramai-ramai di tengah jalan. Bisa dikatakan bahwa hanya Sasuke dan Sakuralah orang dewasa yang membelah jalan. Diasumsikan bahwa jalan ini memang tempat anak-anak berkumpul dan bermain, karena di jalan-jalan lain sebelum ini kebanyakan yang berlalu lalang adalah orang dewasa yang membawa atau tampak sibuk dengan pekerjaannya.

"Sasuke-kun, sepertinya di jalan ini tidak mungkin ada penginapan." Sakura masih melempar pandangan pada bangunan di kanan dan kiri, meneliti jalan dari ujung ke ujung. Tak ditemukannya satu pun plang bertuliskan penginapan.

"Kau benar." Sasuke mengangguk setuju.

Mereka baru tiga langkah dari ujung jalan. Sasuke tetap melanjutkan langkahnya meski sudah membenarkan pernyataan Sakura. Hal tersebut tak ayal membuat Sakura heran. Namun, dia tetap mengikuti langkah kekasihnya.

"Sasuke-kun, kenapa—"

"Ikuti saja," potong Sasuke.

Sakura mengangguk, tak peduli jika Sasuke tak dapat melihatnya. Pandangannya tak lurus ke depan, melainkan menunduk dan tersenyum ke arah anak kecil yang menghampirinya. Kadang-kadang dia pun menjawab pertanyaan polos "Neesan dan Niisan namanya siapa?" yang terlepas dari bibir beberapa anak kecil yang mereka lewati.

Setelah beberapa langkah terlampaui, Sasuke menghentikan langkahnya dan berbisik, "Sakura, di depanmu."

Sakura sontak mengangkat dagu. Yang lurus dengan pandangannya adalah dua anak lelaki yang tingginya bahkan tidak melebihi pinggangnya tengah bertengkar, berusaha saling pukul, dan ada satu anak perempuan yang menangis sambil memeluk lutut. Sesuai dengan penglihatan Sasuke dari ujung jalan tadi, air mata yang membasahi pipi gadis kecil itu semakin tumpah ketika dua anak lelaki itu mengabaikannya, bahkan dorongan-dorongan yang dilakukan kedua anak itu membuat si gadis kecil tersungkur jatuh hingga kedua lututnya terluka.

"Kau meneruskan langkah ke sini karena ini? Kenapa tidak bilang dari tadi!" Sakura mendecak kesal. Kalau dia sudah tahu ini dari awal, dia pasti akan melangkah lebih cepat mengingat anak-anak di sini lepas dari pengawasan orang dewasa.

Sasuke melebarkan langkahnya dan memisahkan kedua anak kecil yang tengah bertengkar dengan cara menarik tubuh salah satunya sampai tak lagi menginjak tanah. Sementara Sakura menghampiri si gadis kecil dan mengobati lukanya. Anak kecil yang Sasuke angkat memberontak, mengucapkan kata-kata yang terkesan sangat menjengkelkan. Sasuke mendengus kesal dan mencoba diam. Anak lelaki yang lainnya hanya melipat kedua tangan di depan dada dan memalingkan wajah.

"Lihat, teman kalian menangis dan terluka karena kalian bertengkar," kata Sasuke datar. Anak lelaki yang berdiri di atas tanah melepas lipatan tangannya dan menengok ke arah teman perempuan yang sedang diobati Sakura. Wajah sombongnya meluntur seketika.

Tak lagi merasakan pemberontakan dari anak lelaki yang dia angkat, Sasuke pun menurunkan tubuhnya. Dia paham bahwa anak ini tak akan melanjutkan pertengkarannya. Dan dugaan Sasuke tepat, kedua anak itu terdiam dan menghampiri anak perempuan yang hampir berhenti menangis.

Seperti tersadar dari kesalahannya, kedua anak itu meminta maaf karena sudah membuatnya terluka. Namun, anak perempuan itu justru mengencangkan tangisnya. Dari suaranya yang sesenggukan dia meminta mereka untuk tidak pernah bertengkar lagi di kemudian hari. Setelah kedua anak itu berjanji, tangisnya pun tetap belum sirna.

Sakura mengelus rambutnya dan berbisik, "Sudah, jangan menangis lagi." Namun, anak yang jika dilihat dari perawakannya berumur lima tahun itu masih tetap menangis kencang.

Sasuke merogoh sakunya. Dia berjongkok, menyamai tinggi anak-anak itu. Dia menyodorkan tangan di depan gadis kecil yang mengusap mata basahnya. "Mau permen?" tawar Sasuke.

Sakura langsung terdiam. Si gadis kecil melepas bekapan tangannya. Meski masih sesenggukan, dia berusaha menghentikan tangisnya. Dia mengangguk kecil dan mengambil permen dari tangan Sasuke. Sakura tersenyum lepas, firasat Sasuke soal permen ada benarnya.

"Te-terima kasih ...," ucapnya, masih dengan suara yang bergetar.

Sasuke merogoh sakunya lagi. Dia menoleh ke arah dua anak lelaki secara bergantian. Dibukanya tangan yang menggengam beberapa buah permen di depan mereka. "Kalau kalian mau."

Salah satu anak itu bersorak dan mengambilnya, sementara yang satunya lagi hanya menggeleng dengan pandangan tenang.

Keduanya segera melanjutkan perjalanan setelah berpamitan. Ketika langkah mereka belum terlalu jauh, ada dua orang dewasa yang menghampiri ketiga anak tersebut. Untung saja masalah mereka sudah selesai, sehingga tak perlu terkena tegur dari orang dewasa yang diduga orangtua dari dua di antara ketiganya dalam bentuk apa pun.

"Tiga anak kecil tadi mengingatkan aku pada kita," kata Sakura tiba-tiba.

"Kita?"

"Ya, kita." Sakura mengangguk. "Aku, kau, dan Naruto. Merasa seperti itu tidak?"

Sasuke mengangguk. "Hn."

"Anak laki-laki aktif itu mengingatkanku pada Naruto, dan yang sedikit kelihatan sombong dan pasif ... mengingatkanku pada kau." Sakura terkikik geli, memperoleh sebuah dengusan kesal dari Sasuke. Namun, dalam hati dia menyetujuinya. "Sama-sama bertengkar pula. Mirip sekali. Dan gadis yang mencoba melerai mereka itu aku ... yang akhirnya selalu menangis. Aku memang lemah sekali."

Mendengar Sakura yang menyatakan dirinya lemah, Sasuke mengernyitkan dahi tak suka. Kalaupun dia membicarakan tentang dirinya di masa lalu, efeknya bagi Sasuke saat ini masih sama. Mungkin dulu secara fisik Sakura tidak begitu unggul. Namun, gadis itu bagus di hal lain. Seperti menguasai pelepasan genjutsu salah satunya. Sasuke sendiri yang mengakui hal tersebut. Bukankah berarti dulu gadis itu kuat dalam hal lain, bukan?

"Sakura."

Sakura menoleh. "Ya, Sasuke-kun?"

"Pernah dengar perbincanganku dengan Naruto mengenai siapa saja yang ingin aku lawan ketika masih genin?"

"Kau masih genin sampai sekarang, tahu." Sakura cekikikan sambil membekap mulutnya. Kedua matanya mengerling jenaka.

Sasuke mendengus. "Saat kau yang masih genin."

Sakura segera meredam tawanya dan memutar otak. Rasanya dia pernah mencuri dengar tentang itu saat ujian chuunin pertama. Meski dia sendiri tak begitu yakin dengan ingatannya. "Hmm, sepertinya ingat. Kau bilang kau mau bertarung dengan Gaara, Lee, dan ... uhm ... Neji." Dia meneguk ludah pelan ketika menyebut nama terakhir. "Itu?"

Sasuke mengangguk. "Dan Naruto."

"Ya, dan Naruto."

"Kau tahu apa persamaan di antara mereka semua?"

Sakura terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Sasuke. "Mereka ... kuat?"

Sasuke mengangguk puas mendapati Sakura memahami arah pembicaraannya. "Kapan-kapan aku mau bertarung lagi denganmu."

Langkah Sakura terhenti. Dia sama sekali tidak memikirkan masalah Sasuke yang mau-maunya bertarung dengan perempuan, jika disamakan dengan ideologi Shikamaru. Yang ada di otaknya sekarang hanya satu: Sasuke baru saja mengakui bahwa dirinya kuat secara tidak langsung. Hal tersebut tak mungkin tidak membuat hati Sakura menghangat. Dia diakui. Oleh seorang Uchiha Sasuke. Seseorang yang dia pahami memiliki ego tinggi dan seringnya congkak, tapi baru saja mengakui bahwa dia kuat.

Sakura segera menyusul langkahnya yang tertinggal. Dia mengamit tangan Sasuke ke dalam lingkaran lengannya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkungan manis yang selalu cukup untuk membuat dada Sasuke menghangat. "Terima kasih, Sasuke-kun." Sasuke hanya mengangguk untuk menanggapinya. Dia mengulum bibir untuk menahan diri dari senyuman yang nyaris terbentuk karena Sakura yang memeluk lengannya.

Tiba-tiba tetesan hujan membasahi bumi. Hujan ini sama sekali tak diawali gerimis, melainkan langsung besar layaknya diguyur. Ternyata teduh tadi adalah permulaan dari awan mendung. Anak-anak kecil tadi segera berlarian ke dalam rumah di sepanjang jalan tadi. Pantas saja tidak ada penginapan di sana jika melihat hal itu dari awal.

Sakura memayungi wajah menggunakan sebelah tangannya. Tempat berteduh yang dia temukan ada di tengah-tengah sebuah taman bermain di depannya. Taman tersebut tak memiliki atap, tapi ada tiga ayunan yang memiliki atap. Hanya itulah tempat yang bisa digunakan untuk situasi mendesak ini. Dia menarik lengan Sasuke untuk mengikuti langkahnya.

Sakura meremas ujung pakaiannya untuk mengurangi air yang menempel di sana ketika sudah berteduh. Dia menggosok kedua tangan di depan dada untuk mencari kehangatan. "Coba saja kalau kita sudah menemukan penginapan sejak tadi," keluhnya pelan.

Sasuke diam, entah harus menanggapi apa.

"Selama ini aku membayangkan ketika kau berkelana, kau pasti tidur di tengah-tengah hutan." Sakura berkomentar sembari terus menggosokan kedua tangannya, berusaha melupakan kekesalannya soal sulit mendapat penginapan.

Sasuke menoleh. "Itu terdengar primitif."

"Aku memang berpikir kau menerapkan hidup yang primitif." Sakura tertawa pelan. Dia pernah membayangkan Sasuke tidur di gua, memasak di atas api unggun, dan lainnya secara terus-menerus selama dua tahun. Namun, jika dilihat sendiri sekarang, ternyata ada kalanya menginap di penginapan dan makan makanan yang dijual warga juga saat memang ada di dekat permukiman. "Ternyata pikiranku salah."

"Memang salah."

Tetesan air dari langit mulai mereda. Ternyata hujan besar tadi hanyalah hujan yang terjadi dalam sekejap mata. Namun, keduanya masih tampak enggan untuk beranjak dari sana. Sakura menarik napas dalam-dalam. Aroma hujan yang membasahi tanah menyusup ke dalam indra penciumannya. Sontak dia memejamkan mata, menikmati harum yang menenangkan ini. Kekesalannya pada hujan mulai sirna mengingat tanpa tetesan air itu, aroma ini tak akan pernah bisa dia hirup.

Sasuke masih diam, berbeda dengan Sakura yang terlarut dalam ketenangan. Benaknya diisi saat-saat makan siang tadi. Ada banyak lelaki yang tampak menyukai Sakura, meski Sasuke yakin hanya tertarik secara fisik. Memangnya apa lagi? Selain yang terjadi saat makan siang, ada juga penaksir Sakura di Konoha. Kalau Naruto belum menikah, dia bisa masuk ke dalam salah satunya. Dari cara bersikap, Naruto jauh, jauh lebih baik daripada Sasuke. Dan Sasuke yakin banyak juga yang lebih baik daripadanya jika dilihat dari sikap.

Sikap Sasuke dingin dan pasif. Dia bahkan tak tahu bagaimana menjalani hubungan dengan Sakura dengan benar dan menghindari sakitnya gadis itu lagi. Dan yang membuatnya berpikir keras adalah ... kenapa Sakura masih memilihnya? Bahkan nekat menyusul meski ada banyak lelaki yang lebih baik dari dirinya di desa kelahirannya? Jika alasannya cinta, Sasuke yakin cinta bisa dipelajari. Meski sesungguhnya dia pun tak rela apabila harus melihat Sakura bersama lelaki lain di depan matanya sendiri.

Sasuke yang sempat tenggelam ke dalam pikirannya sendiri tiba-tiba bertanya, "Sakura, kau benar-benar mau bersamaku?" Ludahnya diteguk, sedikit khawatir menyinggung Sakura.

Sakura tersentak. Dia menatap Sasuke penuh selidik. Pertanyaan tadi sedikit membuatnya tersinggung. "Kau meragukanku?" tanyanya skeptis.

"Bukan itu." Sasuke mengembuskan napas berat. Dia menariknya lagi sebelum melanjutkan kalimat. "Aku hanya tidak tahu bagaimana menjalani ini dengan benar." Dan berpikir ada banyak lelaki yang lebih baik daripada aku.

Sakura mendesah. Ternyata Sasuke meragukan dirinya sendiri. Padahal dengan begitu, secara tidak langsung meragukan hubungan mereka juga. Sakura mencoba menahan sayatan lemah di dadanya atas hal itu. Pegangan tangan pada rantai ayunan mengerat. "Lakukanlah apa yang menurutmu benar."

Sasuke terdiam sejenak. Sakura sempat khawatir dia salah bicara sampai Sasuke menambahkan, "Kau harus memberitahu jika menurutmu yang kulakukan salah." Dan bantu aku melepaskan pikiran kenapa kau memilihku dibanding orang lain.

Sakura tertegun. Dia menoleh dan mencari-cari mata Sasuke. Senyum diulasnya dengan penuh pengertian. Dia mengangguk mantap. "Pasti."

Arah pandang Sakura terangkat ketika Sasuke memutuskan untuk berdiri. Sasuke berbisik dalam hati, berharap apa yang akan dia lakukan sekarang bukanlah hal yang salah. Tangan lelaki itu membuka pegangan tangan kiri Sakura terhadap ayunan. Setelah terlepas, Sasuke menyelipkan jemarinya pada ruas jemari Sakura.

"Cari penginapan lagi?"

Samar-samar kemerahan mewarnai pipi Sakura. Sesuatu dalam perutnya berputar dengan menyenangkan merasakan kehangatan yang sedari tadi dia cari-cari kini sudah ditemukan di dalam genggaman Sasuke. Dia pun berdiri dan meremas tangan lelaki itu lembut, membagi kehangatan yang dia miliki juga. Sebuah genggaman tangan memanglah hal yang trivial. Namun, bagi Sakura ini terasa begitu sempurna. "Ayo."

Sasuke tersenyum tipis. Dari ekspresi wajah Sakura, dia tahu bahwa apa yang tengah dia lakukan sekarang tidaklah salah. Pun dia mengetahui bahwa tangan Sakura begitu pas di dalam genggaman tangannya. Seperti memang sudah dibuat untuk satu sama lain. Barangkali dia bisa belajar mengenai ini dan hal-hal yang mengganggu pikirannya tadi perlahan-lahan. Dia yakin Sakura cukup sabar untuk membimbing dan menghadapi sikapnya yang relatif membuat orang kesal. Dan Sasuke baru saja sadar, betapa beruntungnya dia memiliki gadis pengertian seperti Sakura di sisinya. Meski galak.

Ketika hari sudah berganti menjadi malam, barulah mereka menemukan sebuah penginapan yang kosong. Sasuke bilang tempat ini memang sering jadi tujuan wisata, tapi dia belum tahu apa sebabnya. Maka, wajar saja jika penginapan kosong sulit dicari.

Masih dengan tangan yang saling bertautan, mereka berdiri menghadap pemilik penginapan. Sakura harap-harap cemas, khawatir ibu paruh baya ini akan mengomentari pakaian mereka yang masih agak basah bekas hujan tadi. Namun, ternyata kekhawatirannya tak terbukti sama sekali.

Tanpa basa-basi lagi, ibu paruh baya itu bertanya, "Berapa kamar?"

Hening berdiri di antara mereka. Sasuke dan Sakura secara otomatis saling melempar pandangan pada satu sama lain, sama-sama meminta bantuan untuk menjawab. Sakura tersenyum kecil untuk menahan kekehan ketika sadar bahwa pergerakan mereka sama. Namun, otaknya masih kosong dan tak sanggup untuk membidani sebuah jawaban. Mulutnya masih bungkam.

Sasuke mengalihkan pandangan dari Sakura. Benaknya diisi kilas balik malam-malam di mana mereka terlelap bersama. Entah itu bersandar pada pohon, beralaskan tanah dan dibungkus kantung tidur, atau di dalam kabin kapal, mereka selalu memejamkan mata dalam pelukan satu sama lain. Mereka—dia—sudah terlalu terbiasa dengan ini, hingga tak yakin bahwa tenggelam ke dalam alam mimpi sendiri-sendiri akan bisa dilewati dengan mudah, atau bahkan tidak bisa dijalani sama sekali. Maka, tanpa ragu dia menjawab, "Satu."

Sontak Sakura merasa malu. Tatapan dari pemilik penginapan itu terasa menyelidik dan menguliti sebuah jawaban dari gestur tubuhnya. Dia merasakan remasan tangan Sasuke yang hangat. Kemudian Sakura teringat bahwa Sasuke adalah seseorang yang tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain jika tidak perlu. Dia akan belajar hal itu untuk saat ini. Karena dirinya takut Sasuke akan diganggu mimpi buruk jika tidur tanpanya, dan Sakura sendiri yang akan kesulitan tertidur di awal-awalnya karena hangat yang biasa dia rasakan hilang.

Dan saat harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain lantas terpaksa mengganti penginapan, jawaban yang diberikan Sasuke setiap kali ditanya demikian selalu sama.

.

.

"Aku sudah lama tidak minum." Itulah ucapan pertama Sakura ketika mereka baru keluar dari penginapan di tengah-tengah kota. Ini adalah kali pertama mereka mengunjungi kota setelah bertandang ke beberapa desa di Negara Air.

Sasuke mengernyit keheranan. "Sejak kapan kau suka minum?" tanyanya. Selama ini dia berpikir bahwa Sakura masihlah gadis yang benar-benar polos. Maka hal ini cukup membuatnya terkejut.

"Guruku itu Tsunade-sama, meski aku tidak minum sebanyak beliau." Sakura mengedikkan kedua bahu. Dia berpikir bahwa ucapannya tadi sama sekali tidak aneh, apalagi jika mengingat berapa usianya sekarang. "Dan, ya ampun, kita ini sudah berumur dua puluh satu tahun. Kenapa ekspresi yang kau tunjukan itu seakan-akan kau sedang berbicara dengan anak sepuluh tahun?"

Sasuke mendengus. "Umurku masih dua puluh."

"Berarti kau belum legal." Sakura menyipitkan mata, melempar tatapan meledek.

"Dua puluh, Sakura," erang Sasuke. "Bukan dua belas."

"Lho, bukannya batasannya itu minimal dua puluh satu tahun, ya?"

"Delapan belas. Umurku sudah cukup."

"Jadi kau mau?" Suara Sakura meninggi. Curah hujan di Negara Air memang tinggi, sehingga temperaturnya cenderung rendah. Itulah alasan utama Sakura menarik hal ini sebagai topik pembicaraan. Hitung-hitung sekalian menghangatkan tubuh.

"Di antara kita tidak boleh ada yang sampai mabuk." Sasuke memberikan ketegasan dalam suaranya.

Sakura sumringah. "Oke, Sasuke-chan!" Kemudian dia tergelak geli karena kata-katanya sendiri.

"Jangan panggil aku seperti itu, Sakura!" Sasuke mendelik dan melemparkan tatapan tajam. Namun, kelihatannya Sakura sudah memiliki imunitas terhadap tatapan yang biasanya cukup untuk membuat orang takut, meski sedikit.

"Tapi, kan, kau memang lebih muda dariku." Lagi, gadis itu melempar tatapan meledek.

Sasuke mengembuskan napas jengkel. Kadang-kadang dia rindu Sakura yang hanya akan bersikap manis padanya, bukan Sakura yang mulai berani seperti ini. Yah, meski dia tidak seharusnya berpikiran begitu mengingat hal-hal buruk yang sudah dilakukannya terhadap gadis itu.

"Berarti kau menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih muda." Kata-kata itu tergelincir begitu saja dari lidahnya. Bibirnya melengkungkan sebuah seringai tipis. Sasuke memiliki firasat hal ini akan membuat Sakura bungkam dan berhenti meledeknya.

"I-itu ..." Sakura kehilangan kata-katanya. Menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih muda memang bukanlah hal yang janggal. Namun, sekarang dia terlalu malu untuk membanggakan bahwa dirinya lebih tua setelah mendengar Sasuke mengatakan hal tadi. Entah karena apa.

Berusaha mengalihkan pembicaraan, Sasuke kembali menekankan pada Sakura bahwa keduanya tidak boleh mabuk. Mereka minum semata-mata hanya untuk menghalau hawa dingin di malam hari dari dalam saja. Sayangnya Sasuke kecolongan. Tidak, Sasuke tidak sampai mabuk. Yang mabuk justru Sakura.

Sakura berkali-kali meyakinkan Sasuke bahwa minum banyak tak akan membuat dirinya mabuk ketika sisa sake di botol masih banyak. Sasuke jelas tidak percaya itu. Namun, dia kurang cepat untuk mencegah gadis itu meminum sisa sake dalam botol secara langsung dari mulut botolnya. Awalnya dia percaya bahwa Sakura tidak mabuk, karena pandangan gadis itu masih fokus, pipinya pun tidak memerah. Kenyataannya Sasuke ketahui ketika Sakura berdiri dan berjalan sempoyongan.

Hal itulah yang membuat Sasuke kini menggendong Sakura di punggungnya. Gadis itu meracau tidak jelas dan membuat emosi Sasuke semakin naik. Dia benar-benar kesal sekarang, dan berencana untuk memarahi Sakura saat di penginapan nanti. Sekadar untuk meluapkan emosi, karena Sasuke yakin kata-katanya tak akan menempel sama sekali dalam kondisi Sakura yang seperti ini.

Deru napas Sakura terus-menerus meniupi telinganya. Gadis itu pun memanggil nama Sasuke dengan manja. Dia sesekali merendahkan kepala dan mengecupi bagian di belakang telinga Sasuke, membuat lelaki itu merinding seketika.

Sial, sudah kesal karena apa yang dia pinta dilanggar, terpaksa harus menggendong sampai penginapan, ditambah lagi sikap Sakura yang membuatnya nyaris gila. Sepasif apa pun, Sasuke tetaplah lelaki normal. Disuguhkan gadis yang menggodanya seperti ini pasti akan mengganggunya.

Sasuke melangkahkan kakinya selebar yang dia bisa. Sakura yang mabuk ini harus segera dihentikan. Satu-satunya cara adalah membuatnya tertidur. Dan hal itu hanya bisa dilakukan jika mereka sudah tiba di penginapan.

"Sudah kubilang kau tidak boleh mabuk!" Sasuke membentak Sakura ketika dia menurunkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Kedua mata berbeda warnanya menyalangkan sebuah emosi yang kentara. Marah-marah seperti ini memang jarang dia lakukan, tapi tak bisa ditahan saking kesalnya. Biarlah, besok juga Sakura akan lupa soal sikap Sasuke yang emosian ini.

Sakura mengembungkan kedua pipinya. "Sasuke-kun jahat! Kenapa bentak aku? Aku salah apa?" Sasuke mendapati sudut-sudut mata Sakura mulai membasah. Tangan gadis itu memukul-mukul bantal dengan gerakan tak beraturan.

Sasuke mendecih. Salah apa, katanya? Sudah sikapnya membuat sekujur tubuh Sasuke menegang, ditambah lebih emosional pula. Kedua giginya menggertak keras. "Kau yang mabuk itu merepotkan. Tidur sana!"

"Tidak mau!" Sakura memalingkan wajahnya. Ugh, kadang sikap Sakura yang memegang kendali penuh atas tubuhnya pun sudah menjengkelkan, apalagi yang sedang mabuk!

Sasuke semakin geram. Kepalan tangannya memukul pelan meja nakas. Dia sama sekali tidak suka dibantah, apalagi dalam keadaan seperti ini. Sakura harus menurut dan tidur. Itu mutlak. "Tidur, Sakura!"

Sakura terhenyak sejenak ketika mendengar suara pukulan pada kayu. Dia menatap mata Sasuke dengan intens, tapi diselipi ekspresi takut. Kepala yang tadinya bersandar pada kepala tempat tidur kini ditempelkan ke bantal. Selimutnya ditarik sebatas pinggang. "Baiklah, aku akan tidur, tapi cium dulu!" Mungkin, sebuah ciuman akan meredam emosi Sasuke.

Sasuke meringis. Mengingat keadaannya saat ini, dia benar-benar menghindari bersentuhan dengan Sakura. Apalagi sebuah ciuman. "Tidak. Kau mabuk."

Sakura mendelik. Dia merajuk lagi. Orang bilang seorang wanita sanggup memutar keadaan siapa yang marah sebenarnya dalam sebuah pertengkaran, dan terbukti oleh Sakura saat ini. "Tidak ada ciuman maka aku tidak akan tidur."

"..."

"Sasuke-kuuuun, ciuuuum."

Sasuke mendengus menatap Sakura yang mengerucutkan bibirnya. Mungkin jika hanya kecupan tidak akan membuatnya lepas kendali. Dia membungkuk dan mengecup ringan permukaan bibir Sakura. Ketika dia menarik diri, tangan gadis itu justru malah mengalung di lehernya dan menariknya mendekat. Tangan Sakura yang bebas menarik-narik pakaian yang Sasuke kenakan hingga tubuh mereka merapat. Sasuke mengerang kesal dan berusaha menarik diri kembali, tapi gagal.

Sakura menciumnya dengan berantakan. Ciuman yang melibatkan lumatan kasar, lidah yang masuk ke rongga mulut, tarikan keras di pakaian, dan semua itu membuat tubuh Sasuke semakin memanas. Dia menggeram ketika Sakura mulai menjambak-jambak rambutnya. Ketegangan di tubuhnya meninggi ketika Sakura melenguh di tengah-tengah pagutan bibir keduanya.

Ini adalah pertama kali mereka berciuman kasar. Sasuke bertanya-tanya dalam hati dari mana Sakura mempelajarinya. Atau mungkin yang terjadi sekarang hanyalah efek dari alkohol yang membuat gadis itu tak memegang kendali penuh atas tubuhnya. Sasuke tak tahu dan enggan bertanya. Dia tak akan membiarkan Sakura mengingat malam ini sama sekali. Ini kacau.

Kalau dibiarkan terus seperti ini, Sasuke yakin dia akan lepas kendali. Maka dia mendorong bahu Sakura untuk melepas pegangan kencang gadis itu terhadap tubuhnya. Dan kali ini berhasil. Napas keduanya terengah-engah. Bibir masih basah karena terkena air liur yang banyak. Sasuke mengalihkan pandangan ketika Sakura menghapus basah di bibirnya.

"Cepat tidur!" titah Sasuke dengan tegas. Suaranya serak. Detak jantungnya masih benar-benar keras. Sasuke beruntung dia masih sering memakai jubah hitamnya untuk menutupi tangannya yang hanya satu. Sekarang jubah itu memberi keuntungan lain dan menutupi bagian yang ingin dia sembunyikan saat ini.

Sakura melempar pandangan pada Sasuke. Matanya masih sayu, efek dari mabuk dan mengantuk, barangkali. Tatapan yang membuat Sasuke meneguk ludah dan mengepal tangannya kuat-kuat. Sakura menggeser tubuh dan menepuk spasi kosong di sampingnya, seakan-akan lupa bahwa Sasuke sedari tadi marah padanya. Atau memang lupa. "Kenapa tidak bergabung?"

Dengusan kesal terlepas dari hidung Sasuke. Dia kesal dengan kepolosan Sakura saat ini. Enath memang benar-benar polos, dibuat-buat, atau lagi-lagi mengambinghitamkan mabuk. "Aku ada urusan. Jika sudah selesai aku akan segera kembali ke sini. Kau harus tidur sekarang juga."

Untungnya kali ini Sakura langsung menurut. Dia memunggungi Sasuke dan menarik selimut. Sasuke langsung memutar tubuh dan meninggalkan kamar penginapan. Dia perlu mencari angin dan menunggu sampai kondisi otot di sekujur tubuhnya merenggang. Dia mengumpat dalam hati karena telah kecolongan membiarkan Sakura minum sebanyak itu.

Dan Sasuke bersumpah akan membuat catatan mental untuk tidak pernah membiarkan Sakura mabuk lagi selama dia masih harus menahan diri. Tak ada lagi alasan di balik itu selain Sakura yang akan berubah menjadi gadis yang berbahaya.

.

.

Bersambung