Mual. Itulah hal pertama yang Sakura rasakan ketika membuka mata. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan mengabaikan kepalanya yang memberat. Langkah yang diambilnya berintensitas cepat sebelum isi perutnya keluar di tempat yang tidak seharusnya. Bahunya menyandar pada dinding, sanggaan kedua kaki ternyata tak cukup untuk membuatnya berdiri. Dia merintih sebelum tangannya membekap mulut yang terasa kering.

Sasuke membuka kedua matanya. Punggungnya masih menempel pada kepala ranjang. Sengaja tertidur dengan posisi siaga. Mengingat alasan dia terbangun adalah mendengar rintihan, Sasuke langsung menoleh ke sampingnya. Kosong. Kemudian matanya menangkap gerakan cahaya yang menyusup dari celah pintu kamar mandi serta suara seseorang yang sedang muntah.

Yakin bahwa Sakura tak membutuhkan privasi dari caranya yang membiarkan pintu terbuka, Sasuke mendorong pintu agar jalan masuknya lebih lebar. Diabaikannya kepala yang sedikit memberat. Dia mendapati Sakura berjongkok dan menunduk ke arah toilet, memegangi kunciran rambut merah muda yang panjangnya sudah melewati bahu. Sasuke berjongkok di samping Sakura dan mengambil alih tugas memegangi rambut menggunakan jari tengah, jari manis, dan kelingking. Sementara ibu jari dan jari telunjuknya digunakan untuk memijat tengkuk Sakura pelan-pelan.

Setelah menyiram toilet dengan cara menarik tuas, Sakura memegangi bahu Sasuke sebagai penyangganya untuk berdiri. Sasuke menghentikan kegiatannya dan memerhatikan Sakura yang masih berkumur di depan wastafel. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran wastafel erat-erat. Wajahnya yang kusut terefleksi di cermin.

"Ugh, apa yang terjadi semalam?" ujar Sakura sembari memegangi kepalanya. Beberapa bagian di rambutnya membasah ketika terkena tangan yang baru saja dicuci.

"Kau mabuk." Sasuke turut berdiri. Dia menatap mata Sakura melalui pantulan cermin. "Kuingatkan, Sakura, kau tidak boleh mabuk lagi!" ucapnya dengan nada tegas, seolah-olah bukan seseorang yang baru saja bangun tidur.

"Aku tahu kalau yang itu. Apa yang terjadi ketika aku mabuk? Aku harap aku ketiduran di kedai saja setelah minum, daripada ... err ... bertingkah aneh." Sakura memejamkan matanya erat. Dia merinding sendiri mengingat kelakuan Ino saat mabuk. Gadis pirang itu berubah menjadi manusia paling jujur dan frontal, yang bahkan mengungkapkan ukuran dalaman. Dia tak bisa membayangkan jika dirinya berperilaku seperti itu, atau bahkan lebih parah.

Sasuke meringis dalam hati mengingat apa yang terjadi semalam. Kendati begitu, tampang yang dia pasang sekarang masihlah tenang. "Tidak ada." Dia memilih untuk menutupi segalanya daripada membuat Sakura bertanya-tanya lebih lanjut bagaimana tanggapannya terhadap sikap gadis itu saat mabuk.

Sakura menyipit curiga dan menatap Sasuke langsung di mata. "Bohong."

"Kubilang tidak ada." Sasuke masih mencoba berekspresi tenang. Arah pandangnya lurus, berusaha tak melirik ke kiri—salah satu ciri-ciri seseorang yang berdusta.

"Kalau tidak ada, kau tidak mungkin menekanku sekeras itu untuk tidak mabuk lagi." Sakura melempar tatapan menyelidik. Kemudian kepalanya terasa dipukul palu godam, membuat tangannya otomatis berpegangan pada lengan Sasuke.

"Hn." Sasuke menarik tangan Sakura ke lehernya dan membantu gadis itu melangkah ke luar kamar mandi.

"Sasuke-kun!" Sakura berdecak mendapati Sasuke yang tak memberikan jawaban. Tiba-tiba wajahnya menegang. "Jangan-jangan aku menghancurkan sesuatu?" Hal ini akan sangat memalukan jika tak terjadi di tengah-tengah pertempuran.

"Mabuk atau tidak kau sama-sama sanggup melakukan itu."

Tonjokan ringan mendarat di dada Sasuke hingga langkahnya sedikit terseret ke belakang. Itu adalah tenaga Sakura yang tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja. "Kau tahu bukan itu maksudku, bodoh!"

Sasuke mendengus kesal. "Kau berat, Sakura. Sial, aku harus menggendongmu dari kedai minum sampai sini! Dan aku hanya punya satu tangan. Itu yang membuatku menekanmu untuk jangan pernah mabuk lagi," ungkapnya. Setidaknya dia mengatakan sebagian dari apa yang benar-benar terjadi semalam.

Satu tonjokan lagi di bahu. Kali ini lebih keras. "Kau mulai seperti Naruto, ya. Dasar tidak peka. Jangan bilang berat pada seorang wanita!"

"Tch, terserah." Mengabaikan dadanya yang dilanda sakit, Sasuke melepaskan rangkulan tangan Sakura di lehernya ketika tempat tidur sudah benar-benar ada di hadapannya. "Tidurlah lagi. Sebelum itu, minum yang banyak."

Dan Sakura menuruti kata-kata Sasuke sampai sodoran gelas yang dipenuhi air mineral keempat. Dia mendorong gelas itu agak kasar hingga beberapa tetes membasahi celana Sasuke, membuat lelaki itu mendecak kesal. "Sudah. Perutku kembung!"

"Terserah kalau kau memang mau dehidrasi." Sasuke berkata dengan nada sinis.

Sakura mengerang menyadari kebenaran dalam kata-kata Sasuke. Alkohol yang barangkali masih bercampur dengan darahnya pasti akan membuat cairan di dalam tubuhnya menipis dan menyebabkan dehidrasi berat. Dengan terpaksa dia mengabaikan kembung di perutnya, dan meraih gelas yang belum Sasuke simpan di mana-mana sembari mendecak.

"Kau bisa tidur lagi sekarang," kata Sasuke ketika cerek yang sebelumnya dipenuhi air mineral yang sudah dia siapkan semenjak semalam sudah kehilangan volumenya.

Sakura mengangguk. Dia menarik selimut sampai menutupi pinggang. Erangan tertahan di dalam tenggorokan mengingat dirinya sudah bertingkah menjengkelkan ketika Sasuke justru mencurahkan perhatian. Sebelum kepalanya menyangga ke bantal, dia memeluk Sasuke dan mengecup pipinya. "Terima kasih, Sasuke-kun. Maaf aku bertingkah menjengkelkan."

Ketika Sakura menarik diri, gadis itu bersin sebanyak tiga kali berturut-turut. Sasuke mengernyitkan dahi, keheranan. Tiba-tiba dia teringat Sakura sudah bersin-bersin begini semenjak dua hari yang lalu, meski sebelumnya tidak sering, seperti hanya memberi pertanda. Punggung tangannya ditempelkan pada kening Sakura. Panas. Pantas saja embusan napas yang membelai pipinya saat gadis itu mengecupnya pun terasa panas. Meski dia bukan seseorang yang begitu mengerti medis, tapi Sasuke tahu alkohol tak akan membuat peminumnya bersin-bersin dan mengalami kenaikan suhu yang drastis pada tubuhnya.

"Oh, sial," rutuk Sasuke.

"Apa? Kenapa?" tanya Sakura khawatir sekaligus keheranan.

"Kurasa kau terkena flu. Mungkin kau lebih memahami ini, tapi tak merasakannya karena kau yang mengalami sendiri."

Sakura menggeleng. "Bukan masalah. Aku bisa mengobati diriku sendiri."

"Tidak. Jangan gunakan chakra-mu. Kau harus istirahat. Tidurlah, nanti kubangunkan lagi."

Sakura tidak mengeraskan kepalanya kali ini. Dia mengangguk dan berbaring. Sasuke membenarkan posisi selimutnya, dan mengawasi sampai napas gadis itu benar-benar teratur.

Beberapa jam setelahnya, Sasuke keluar dan kembali dengan semangkuk sup ayam. Dia bilang pada Sakura bahwa itulah yang selalu ibunya berikan setiap kali dia terkena flu, mempercepat proses sembuh atau tidaknya dia tidak tahu. Makanan habis, Sasuke meminta Sakura untuk tidur lagi agar cepat sembuh. Dan setiap kali gadis itu berhasil tidur, dia akan mengecup bibirnya diam-diam sembari berbisik, "Cepatlah sembuh."

Hal tersebut terjadi berulang sampai Sakura sembuh di tiga hari setelahnya.

.

.

Tenggorokan Sasuke terasa kering dan gatal. Sudah dibasahi dan dibersihkan, tapi gatalnya sama sekali tak mau hilang. Embusan napas yang melewati hidungnya terasa panas. Entah kenapa persendian di tubuhnya pun jadi lebih cepat pegal.

Sasuke bergabung dengan Sakura yang tengah duduk dengan kepala ranjang sebagai sandaran. Di tangan gadis itu ada sebuah buku yang di mata Sasuke sudah familier, saking sering dibaca. Dia bahkan yakin bahwa buku itu sudah habis sampai halaman terakhir.

"Bukankah kau sudah menyelesaikan buku itu?"

Sakura menoleh dan menurunkan bukunya sekejap. "Memang. Aku membaca ulang beberapa bagian yang kutandai untuk dipahami kembali. Aku takut lupa banyak hal karena sudah lama tidak bekerja di rumah sakit."

Sasuke menggumam pelan dan menyelipkan tangan ke balik punggung Sakura. Telapaknya berhenti di pinggang. Wajahnya dimajukan hingga hidung tenggelam ke dalam helaian rambut Sakura. Dia menarik napas panjang secara perlahan agar yang tertarik hanyalah udara—bukan hal lain yang mengganjal napasnya—menghirup aroma yang begitu dia sukai. Dia pun mengangkat wajah dan menempelkan dagu ke pucuk kepala Sakura, kemudian memejamkan mata.

Sakura melipat halaman yang sedang dibacanya, lantas buku itu ditutup. Sikap Sasuke agak berbeda. Entah memang perasaannya saja, tapi dia merasa lelaki itu bersifat sedikit manja. Sasuke tak pernah mengomentari Sakura yang membaca buku lebih dari satu kali, dan kali ini dia melakukannya. Sakura yakin ada sesuatu di balik itu. Dari caranya bertanya, sebuah permintaan tersirat untuk menghentikan kegiatannya, barangkali?

"Sasuke-kun?" panggil Sakura sembari meremas jemari Sasuke yang menempel di pinggangnya.

"Hnn ...," gumam Sasuke asal, terdengar malas-malasan. Sakura semakin heran mendengar lelaki itu seolah kehilangan ketegasan dalam suaranya.

"Kau ... berbeda," simpul Sakura. "Ada apa?"

Sasuke diam, tak menjawab. Yang dia lakukan hanyalah menarik tubuh Sakura semakin mendekat. Sakura semakin bertanya-tanya. Dia berasumsi bahwa Sasuke tertidur karena tak menjawab pertanyaannya. Tak bisa melihat melalui mata, tangannya diangkat untuk menyentuh pipi Sasuke. Panas. Tangan itu menjalar ke kening dan leher, dan dua tempat itu memancarkan suhu yang lebih tinggi.

"Sasuke-kun, kau sakit!"

Sasuke mengerang. "Aku baik-baik saja, Sakura."

"Kau tidak baik-baik saja! Cepat berbaring di atas bantal!"

"Tetaplah seperti ini dulu."

Sakura mendesah, dia bahkan hanya punya sedikit akses untuk bergerak jika posisinya seperti ini. "Kalau begini aku tidak bisa merawatmu."

"Hn."

"Bergerak sendiri atau aku yang paksa?" Sakura berkata dengan suara mengancam. Keduanya jelas tahu apa yang akan terjadi jika Sakura yang paksa.

Sasuke mendecih membayangkan apa yang terjadi setelah ini jika dia terus melawan. Sakura pasti akan bertindak agak kasar. "Baiklah," ucapnya pasrah.

Sakura segera beranjak dan duduk di samping tempat tidur. Dipeganginya dahi Sasuke sembari mengalirkan chakra penyembuh. Butuh waktu tiga menit sampai Sakura memastikan bahwa prosesnya cukup. Kemudian dia berbalik dan mencari-cari tisu. Tisu tersebut ditempelkan di atas hidung Sasuke dan dijepit di antara ibu jari dan jari telunjuk.

"Buang lendirnya," titah Sakura.

Sasuke mengerang dan memalingkan wajah sampai tisu itu tak lagi ada di atas hidungnya. Dia pun beranjak dari tempat tidur. "Aku buang di toilet saja."

Bahu Sasuke ditahan dengan kuat. "Sasuke-kun, tidak apa-apa. Ini aku, bukan orang lain." Sakura meyakinkan Sasuke. Semakin cepat Sasuke membuangnya, semakin cepat juga lelaki itu bisa istirahat. Dan akhirnya Sasuke menuruti apa yang Sakura katakan.

Setelah membuang tisu dan yakin bahwa hidung Sasuke sudah bersih, Sakura kembali menempelkan punggung tangan pada leher. Sudah tidak panas. Diembuskannya napas lega. Sasuke tinggal istirahat sekarang, tapi ada pertanyaan yang mengganggu pikiran Sakura. "Aku mau tanya, tapi kau harus menjawabnya dengan jujur."

"Hn." Sasuke menatap Sakura hanya dengan sebelah matanya yang terbuka.

Sasuke sakit pasti karena tertular virus yang sebelumnya menjadi inang di tubuh Sakura. Padahal, Sakura yakin sekali dia sudah menghindari kontak-kontak yang sekiranya akan menyebar virus. Dia selalu membekap mulut menggunakan lengan ketika bersin, menghindari penggunaan alat makan yang sama, bahkan tidur pun selalu membelakangi agar saat dia bersin secara tak sadar pun, Sasuke tak akan terkena. Namun, sepertinya usahanya sia-sia. Dia berasumsi bahwa Sasuke mencari penyakitnya sendiri. Entah secara sadar maupun tidak.

"Berapa kali kau menciumku diam-diam selama aku sakit, hm?" Itulah salah satu penyebab sakitnya Sasuke yang muncul di kepala Sakura. Perkiraan ini pun didukung oleh sarafnya yang terkadang merasakan Sasuke menempelkan bibir pada permukaan bibirnya. Awalnya dia beranggapan bahwa itu hanyalah mimpi. Namun, jika dikaitkan dengan kenyataan, semuanya terasa masuk akal.

Mendengar pertanyaan Sakura, Sasuke langsung menutupi wajah menggunakan tangannya, kemudian pura-pura tidur. Dia pun mengabaikan tangan Sakura yang sedikit mengguncang bahunya. Tanpa sadar seringai terbentuk di balik tangannya. Decakan kesal dari Sakura tak terlewatkan oleh indra pendengarannya.

"Hei, jawab dulu!"

.

.

Negara Air merupakan negara dengan curah hujan paling tinggi, setidaknya dibandingkan dengan semua negara yang sudah Sakura kunjungi. Udaranya di mana pun sama sekali tak sehangat Negara Api, karena tetesan air dan awan yang mengembun berandil besar dalam menurunkan temperatur. Mengingat langit yang begitu sering berawan, cahaya matahari pun tidak mencium tanah di negara tersebut selama di negara lain.

Semak belukar yang Sasuke sibak menggunakan senjata tajam sering mencipratkan air yang menempel di dedaunan. Tanah yang diinjak begitu becek. Jika berdiri lama di atas satu titik, sepatu pasti akan tenggelam ke dalam lumpur. Itulah sebabnya Sakura merasa begitu lega ketika akhirnya menemukan pijakan yang tak menelan apa pun yang menginjaknya.

Sakura merapatkan jubah kremnya untuk menghalau dingin yang menyusup melalui celah terbuka. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena darahnya berkumpul di sana untuk menangkis dingin. Dia bergerak kelewat aktif ketika sedang memasang tenda, sengaja memanaskan tubuhnya. Biasanya dia dan Sasuke tak pernah memasang tenda selama masih berpijak di Negara Api. Namun, karena Negara Air memiliki ciri khas hujan, maka tenda jelas dibutuhkan.

Tiga meter di belakang Sakura, Sasuke tengah menumpukkan kayu yang tak basah, atau setidaknya yang tidak begitu basah. Mustahil memang membentuk perapian dengan cairan-cairan yang melekat erat pada kayu-kayu ini. Namun, Sasuke hanya melakukan usahanya dan akan memikirkan jalan keluarnya nanti. Setelah tumpukan kayu-kayu tersebut meruncing ke atas, Sasuke menatap tangan kanannya dan mendesah berat.

Sakura bergabung di sampingnya dengan tas yang dipeluk di depan dada. Dirogohnya saku terdepan dari tas tersebut. Dahinya mengernyit ketika tangannya berhasil menggenggam apa yang dia cari, tapi sepertinya tak sesuai harapan. Dan ketika dia menariknya ke luar, dugaannya benar.

"Yah, korek apinya basah," keluh Sakura sembari menggoyangkan kotak kertas basah di tangannya. Tak ada suara yang terbentuk, barangkali karena basah membuat korek api itu menempel satu sama lain. "Seharusnya aku menaruh ini di bagian yang dilapisi bahan parasut." Wajahnya merengut.

Sasuke mengangkat bahu. "Aku tak yakin api bisa menyala meskipun korek api tersebut tak basah."

Pandangan Sakura dilempar pada Sasuke, meminta penjelasan dari kata-katanya. Dia mengikuti tatapan Sasuke yang tertuju pada tumpukan kayu. Disentuhnya kayu itu. Basah. Kali ini Sakura yang mendesah.

"Padahal di sini dingin sekali. Sungguh!" Sakura memeluk tubuhnya sendiri di balik jubah. Telapak tangannya digosok di depan wajah, karbon dioksida yang dilepas dari mulut turut menghangatkan kulit meski sedikit. "Jadi ... bagaimana?"

Sasuke terdiam. Otaknya berputar mencari solusi. Ditatapnya lagi telapak tangannya yang kosong. Jika tangan kirinya masih ada, dia bisa membentuk segel dan menghasilkan api yang cukup besar bahkan untuk mengeringkan kayu dari mulutnya. Dengan satu tangan, segel yang dibentuknya tak akan maksimal dan hanya akan menelurkan api kecil.

Dia melempar pandangan pada Sakura. Kedua sisi tubuh gadis itu bergerak-gerak dari balik jubah, telapak tangannya tengah menggosok kulit di baliknya. Selain Sakura, dirinya pun kedinginan. Napas yang ditarik ataupun yang diembuskan sesekali menusuk bagian dalam hidung karena saking dinginnya. Mereka betul-betul membutuhkan api.

Sebenarnya ada solusi yang merangkak di otak Sasuke sedari tadi. Namun, dia belum begitu yakin. Dia mengernyit ketika benaknya seolah-olah berbisik, "Coba saja dulu." Dan akhirnya dia mengikuti petunjuk tersebut.

Sasuke berjongkok di depan tumpukan kayu. "Sakura, pinjam tangan kirimu."

"Hm?" Sakura menaikkan sebelah alisnya keheranan, tapi mengikuti apa yang Sasuke pinta. Dia turut berjongkok dan menjulurkan tangan kirinya ke arah Sasuke.

Tangan kanan Sasuke meremas tangan Sakura sekejap, kemudian membimbing tangan itu untuk membentuk beberapa segel. "Sesuaikan tangan kirimu dengan milikku," pinta Sasuke. Sakura mengangguk, masih tercengang.

"Ini segel untuk jutsu katon yang dapat menghasilkan api yang cukup besar. Aku butuh bantuanmu." Sasuke menjelaskan tanpa memerlukan pertanyaan dari Sakura. Dia membimbing Sakura sekali lagi. "Sudah hafal?"

Lagi-lagi Sakura hanya bisa mengangguk. Entah kenapa pita suaranya terasa disfungsi. Dia mengikuti pergerakan Sasuke yang lebih cepat daripada sebelumnya. Dia berasumsi bahwa ini bukanlah percobaan lagi, melainkan pelepasan jutsu-nya. Dan ketika Sasuke melepas tangan kirinya kemudian membentuk huruf C di depan mulutnya, Sakura memerhatikannya lamat-lamat. Sepersekian detik setelahnya api besar keluar dari dalam mulut Sasuke, mengeringkan kayu hingga membakarnya.

"Berhasil!" pekik Sakura di balik bekapan tangannya. Yang melakukannya memanglah Sasuke, dirinya hanya membantu menyempurnakan segel. Namun, sesuatu dalam dada Sakura meletup-letup bahagia.

"Aku sama terkejutnya denganmu," komentar Sasuke ketika mendapati kedua mata gadis di sampingnya melebar. Matanya kembali menatap puas ke arah api yang mulai membesar dibantu tiupan angin.

"Tapi, Sasuke-kun, ba-bagaimana ...?" Sakura menatap tangan kirinya sendiri.

"Aku tidak tahu." Sasuke menjawab apa adanya. Dirinya pun tak pernah tahu bahwa penyempurnaan segel bisa dilakukan dengan cara tadi. Dia senang menemukannya pertama kali ketika mencobanya bersama Sakura.

Telinga Sakura mendengar suara Sasuke memundurkan tubuhnya hingga terduduk di atas batang pohon yang sudah ditebang entah oleh siapa sebelumnya. Sakura mengikutinya. Dia menyandarkan tubuhnya pada Sasuke dan menempelkan pelipis pada bahu lelaki itu. Diangkatnya tangan kirinya, kemudian dibuka-ditutup sambil ditatap.

"Jurus yang tadi itu ... teknik yang wajib dikuasai oleh setiap anggota klan Uchiha. Apa aku benar?" tanya Sakura skeptis. Dia pernah mendengar tentang Uchiha dan bola api di masa kecilnya. Terang saja, klan Uchiha cukup eksis di Konoha, dengan api dan kepolisiannya.

Sasuke mengangguk. "Tepat."

Kehangatan mulai berbaur di udara, tapi Sakura punya kehangatan spesial lain yang melekat di hatinya. Kejadian tadi begitu berkesan pada dirinya. Sekali lagi, dia sadar bahwa Sasukelah yang melepas jurusnya. Dia hanya pihak yang membantu. Namun, rasanya tetap saja tak cukup meninggalkan kesan biasa saja.

Hampir semua perlakuan Sasuke padanya akan membekas di hatinya. Entah itu yang manis ataupun yang pahit. Namun, Sakura memiliki daftar tersendiri untuk yang paling melekat di hatinya. Di dalam daftar hal manis, sebelumnya hanya ada dua. Ketukan dua ujung jari di kening (meski sampai saat ini Sasuke masih terus menjawab: "Mungkin lain kali," setiap kali dia bertanya apa artinya) dan ciuman pertama. Kali ini bertambah satu. Sasuke yang menyempurnakan segel untuk mengaktifkan jurus wajib bagi seluruh anggota klannya dengan bantuan tangan kirinya dirasa cukup untuk masuk ke dalam kategori yang hanya diisi dua kenangan itu.

Sakura tak punya alasan khusus. Hanya saja, hal ini terjadi karena Sasuke cukup percaya padanya untuk turut andil dalam teknik spesial dari klan Uchiha tersebut, bukan? Sakura sangat mengenal Sasuke. Kalau Sasuke tak mau dan tak sudi akan sesuatu, dia pasti tak akan melakukannya dan memilih mengambil risiko. Sementara yang dia lakukan tadi merepresentasikan kesudiannya mencampurkan tangan Sakura untuk mengaktifkan teknik khusus dari klannya, padahal dia bisa saja mengambil risiko untuk menahan dingin. Yang nyatanya tak dia lakukan. Ini bahkan jauh, jauh lebih spesial daripada Sasuke yang mengganti pakaian Sakura dengan pakaiannya yang memiliki simbol uchiwa di punggungnya. Dalam kasus ini, Sasuke seolah semakin membuka kunci pada gerbang tinggi di klannya secara perlahan-lahan bagi Sakura.

"Mau teh?" tanya Sakura setelah tertarik kembali dari pikirannya.

Sasuke hanya menanggapi dengan sebuah anggukan. Ketika Sakura beranjak menuju tenda, dia mengulurkan tangan ke depan dada. Kepalanya tertunduk dan menatapi telapaknya. Bibirnya mengulas senyum tipis mengingat Sakuralah yang menyempurnakan jutsu-nya hingga api bisa berkobar untuk menghangatkan udara yang menyelubungi keduanya. Perasaan bagaimana kedua tangan berbeda pemilik yang saling bertautan dan bekerja sama untuk membentuk segel masih melekat erat di kulitnya. Meski tidak secara langsung, Sakura cocok dengan teknik wajib di klannya.

Mengantungkan pegangan cerek pada kayu yang terbentang di atas perapian, Sakura menjerang air dan menunggu sampai mendidih. Setelah perputaran air terlihat dengan adanya gelembung-gelembung yang membumbung melawan gravitasi, dia segera mengangkatnya dan menyeduh teh ke dalam dua gelas. Sakura memberikan salah satunya pada Sasuke sebelum bergabung duduk di sampingnya.

Suara kayu yang terbakar api berbaur bersama suara jangkrik. Mata Sakura tak terlepas dari kobaran yang menari-nari di hadapannya. Terlepas dari betapa lebih dinginnya tempat ini dibandingkan dengan Konoha, Sakura punya empat sumber kehangatan. Perapian, gelas berisi teh panas di tangannya, kalor yang berkonduksi dari tubuh Sasuke, serta hangat di hatinya yang tak kunjung hilang. Dari wajah tenang tanpa kernyitan yang Sasuke pasang, Sakura tahu bahwa dingin pun tak lagi mengganggunya.

"Bagaimana dengan hidupmu di Konoha?" tanya Sasuke tiba-tiba. Bibirnya ditempelkan pada ujung gelas, menyeruput teh secara perlahan agar lidahnya tak terbakar. "Kurang lebih tiga bulan sudah kau melewatkannya."

Otak Sakura menyusun sebuah jawaban. "Sebelum aku pergi semuanya masih baik-baik saja."

Sasuke mengernyit. Maksud dari pertanyaannya adalah sekarang, bukan sebelum Sakura pergi. "Kau jonin, bukan? Bagaimana dengan pekerjaanmu?"

"Oh, Sasuke-kun. Asal kau tahu, hampir semua orang bilang aku ini gila kerja." Sakura terkekeh pelan. Nyaris tersedak karena ternyata masih ada sisa teh yang belum tertelan di mulutnya. "Karena setiap diberi jatah cuti atau diminta untuk mengambil cuti aku menolak, nah saat aku memintanya, aku bisa mendapatkannya dengan mudah."

"Oh." Sasuke mengangguk. "Kau punya murid?"

Sakura terdiam sejenak. Mereka sudah berkelana bersama kurang lebih tiga bulan, dan dia heran bagaimana bisa topik ini baru dibahas sekarang. Awalnya Sakura berpikir Sasuke sudah tahu tentang hidupnya sebagai jonin sebelum ikut dengannya, tapi jika dilihat dari pertanyaannya jelas menunjukkan sebaliknya.

"Kalau maksudmu adalah murid yang terdiri dari tiga orang dalam satu tim, maka jawabannya adalah aku tidak punya," jawabnya sembari mengeratkan pegangan pada gelas untuk menghangatkan telapak. "Tapi aku punya murid di rumah sakit. Calon-calon ninja medis. Sebenarnya Kaka—ehm, Rokudaime-sama sudah menawarkan aku untuk menjadi guru, tapi aku menundanya untuk tahun depan. Kurasa medis lebih penting."

"Tahun depan," ulang Sasuke dengan nada datar. Tinggi air yang hanya tinggal satu centimeter dari dasar gelas itu bergoyang-goyang, seiring dengan tangan pemegangnya. "Bagaimana jika kau harus cuti selamanya?"

Sakura sontak menoleh ke arah Sasuke. Wajah lelaki itu tak setenang sebelumnya. "Apakah itu berarti kau akan berkelana selamanya? Tidak akan pernah pulang?"

"Kau satu-satunya tempatku pulang, Sakura. Lagi pula aku tak punya hidup lagi di sana."

Kata-kata Sasuke mengulas sebuah senyum di bibir Sakura, tapi tergantikan oleh ekspresi muram setelahnya. "Hmm ... boleh jujur?"

Salah satu alis Sasuke tertarik ke atas. "Tentu."

"Tsunade-sama senang aku akhirnya meminta cuti, tapi beliau tidak menyukai alasanku. Meski tetap saja keputusannya untuk memberiku izin tak ditarik lagi. Beliau mengharuskan aku untuk kembali ke Konoha. Katanya aku adalah murid terbaiknya, yang suatu hari akan mengganti posisinya."

Sakura tak berani menatap Sasuke untuk melanjutkan kata-katanya. Dia menarik napas panjang. "Sasuke-kun, meski kau separuh hidupku, tapi aku masih punya separuh lagi di Konoha. Aku mau menemanimu berkelana selamanya, tapi aku yakin akan datang hari di mana aku harus kembali ke Konoha."

Sasuke sama sekali tak menanggapi. Selama ini topik mengenai kehidupan Sakura di Konoha selalu dia hindari, karena adanya rasa gamang akan kata-kata yang justru sudah Sakura perdengarkan padanya. Jika mengingat persyaratan Sakura diperbolehkan ikut dengannya dulu, seharusnya ini tak masalah. Sakura ada di sini bukan untuknya, atau setidaknya bukan hanya untuknya. Dia tak bisa egois untuk meminta Sakura tetap bersamanya. Hal itu jelas-jelas akan merusak prinsipnya.

Jika keadaan dibalik, di mana dia yang mengikuti Sakura, dirinya tak yakin dia siap untuk menetap di Konoha—desa yang bahkan pernah masuk daftar hal-hal yang ingin dia hancurkan. Apalagi masih ada rasa tak pantas untuk menikmati fasilitas yang nyaman, di mana sebenarnya dia yakin bahwa dia lebih pantas berada di dalam penjara bawah tanah yang busuk. Karena Konoha tak mau menghukumnya, maka dialah yang memutuskan untuk menghukum diri sendiri. Dengan cara hidup mengembara hanya dengan satu tangan. Seharusnya ini hanya hukumannya, sama sekali tak melibatkan Sakura. Setidaknya bukan aku yang menghendaki kehadiran Sakura di sini, batinnya selama ini untuk menyangkal keegoisannya.

Sakura menelan tegukan terakhir dari gelasnya. Suara air yang melewati tenggorokan memecah keheningan. "Boleh aku pinta sesuatu?" tanyanya sembari mengeratkan pegangan pada gelas. Kali ini bukan mencari kehangatan, melainkan sebagai pelampiasan.

"Hn?"

"Kumohon ... maafkanlah dirimu sendiri." Kedua mata Sakura terpejam erat. Kepalanya tertunduk dalam, meski sisi tubuhnya dan tubuh Sasuke masih saling bersinggungan. Dari cara Sasuke menolak tangan kiri regenerasi, memilih berkelana daripada menetap, memberi syarat bahwa Sakura ikut mengembara bukan demi dirinya, Sakura yakin Sasuke masih menghukum dirinya sendiri, dan hal itu terjadi karena lelaki itu belum memaafkan apa yang sudah dia lakukan.

Sasuke tertegun hingga tenggorokannya tercekat. Dia tak pernah bilang apa pun pada Sakura mengenai ini, tapi gadis itu memahaminya. Hal tersebut tak ayal menyebabkan sebuah tohokan di dada Sasuke. "Aku ... akan berusaha."

Pejaman mata Sakura semakin erat. Dia memutar tubuhnya ke arah Sasuke dan memeluknya dengan salah satu tangan yang masih memegang gelas. "Terima kasih."

"Jika hari itu datang ...," Sasuke menarik napas panjang sebagai upayanya untuk mengumpulkan suara, "... aku akan ikut kembali ke Konoha bersamamu."

Sakura mengangguk dan menenggelamkan wajah ke dalam bahu Sasuke. Setetes air mata haru mengalir dari ujung matanya. "Aku akan membantu untuk mencari hidupmu lagi di sana."

"Aku punya kau."

"Kau manis sekali," kekeh Sakura, tetesan air mata lain berlinang lagi di pipinya, "tapi tidak mungkin, kan, hanya itu saja?" Dia melepas pelukannya dan menarik diri.

"Kau benar, Sakura. Kita akan cari bersama-sama."

Sakura mengangguk dan tersenyum lepas. Dia meraih cerek dan digoyangkan, memberi isyarat pada Sasuke apakah mau menambah tehnya lagi atau tidak. Sasuke mengulurkan tangannya sebagai persetujuan. Dan Sakura pun menuangkan tehnya ke dalam dua gelas.

Kuapan terlepas dari bibir Sakura beberapa menit setelah isi gelasnya habis. Dia merentangkan kedua tangannya ke samping.

Memahami keadaan Sakura, Sasuke menepuk bahunya. Dia pun segera berbicara, "Masuklah ke tenda. Aku akan matikan apinya."

Sakura menurut. Dia beranjak dan memutar tubuh ke arah tenda. Sasuke menyusul beberapa menit setelahnya. Dia mendapati Sakura sudah bergulung di dalam kantung tidur, tapi kedua matanya masih terbuka lebar.

"Bukankah tadi kau mengantuk?" tanya Sasuke sembari menyelinap ke dalam kantung tidurnya sendiri.

"Memang." Sakura beringsut dan menyandarkan kepalanya pada dada Sasuke. Detak jantung lelaki itu sampai ke telinganya. "Ada satu hal yang mau aku tanyakan sebelum tidur."

"Apa?"

Sakura diam. Dia meyakinkan diri untuk bertanya, meski masih ada rasa takut untuk mendengar pertanyaannya. "Apa kau menyesal membiarkan aku ikut?"

"Tidak."

Embusan napas lega terlepas dari hidung Sakura. Dia menenggelamkan wajah ke dada Sasuke segenap. Sebelah tangannya keluar dari kantung tidur, kemudian memeluk Sasuke erat-erat. "Aku senang bisa selalu ada di sisimu."

"Hn." Sasuke sama-sama mengeluarkan tangannya dari kantung tidur, dan langsung mendekap Sakura. "Tidurlah."

"Lampionnya?"

"Nanti aku matikan."

Sakura mengecup pipi Sasuke. "Oyasumi." Kemudian dia menyandar kembali pada dada kekasihnya, dan memejamkan kedua matanya.

Sasuke mengusap rambut Sakura perlahan. "Oyasumi, Sakura." Kedua matanya masih terbuka lebar, menerawang ke arah langit-langit tenda. Helaian rambut Sakura menempel di bibirnya, tapi dia tak keberatan.

Ada beberapa hal yang berseliweran di benak Sasuke. Sakura adalah satu-satunya gadis yang paling memahami dirinya. Juga satu-satunya gadis yang bisa menyeimbangkan sikapnya. Entah sejak kapan dia menganggap bahwa gadis itu begitu berharga baginya. Lebih dari sekadar berharga, bahkan merupakan rumahnya. Satu-satunya tempatnya pulang.

Tanpa tempat menetap, tanpa atap dan dinding-dinding yang menjulang, dia sudah beranggapan bahwa dirinya punya rumah sekarang. Rumah yang memiliki definisi yang jauh lebih berarti dari sekadar tempat tinggal. Namun, hal ini dapat dikatakan masihlah bersifat interem. Dan yang harus dia lakukan agar rumah itu selalu ada untuknya adalah dengan cara membuatnya menjadi permanen.

Sasuke menggeser tubuhnya ke bawah hingga wajahnya dan wajah Sakura berada di dalam satu garis lurus. Kedua mata Sakura sudah terpejam. Sasuke mengusap pipi Sakura dengan lembut, mengenyahkan rambut-rambut yang menempel di wajah, kemudian menyapu dahi Sakura menggunakan ibu jari. Sentuhan yang dia lakukan selalu lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Sasuke hanya mencintai gadis ini dengan begitu besar, sampai tak satu detik pun dia lewati untuk terus berusaha tak menyakiti gadisnya lagi. Penyesalan atas bekas luka yang dia tinggalkan pada Sakura pun masih terus ada. Gadis ini terlalu berharga baginya. Dia tak punya siapa-siapa lagi selain Sakura. Dan bahkan Sakura pun belum menjadi miliknya secara utuh.

Dikecupnya pipi, dahi, ujung hidung, dan kening Sakura. Kecupan terakhir di kedua kelopak mata membuat gadis itu membuka matanya secara perlahan. Kemudian Sakura tersenyum manis. "Sasuke-kun, kenapa belum tidur? Mimpi buruk lagi?" tanyanya dengan suara lembut.

Tak menjawab, Sasuke justru menekan bibirnya pada bibir Sakura. Dia menciumnya dalam, dengan tangan yang mengusap tengkuk dan jari telunjuk yang memelintir rambut yang tumbuh di sana. Ciumannya lembut, penuh kasih sayang, mesra, dan bukan semata-mata pelampiasan nafsu. Dari setiap lumatan bibir yang Sasuke berikan berarti setiap perasaan cinta yang jarang diungkap dengan kata.

Sakura meleleh dalam ciumannya. Dia tak ingat kapan terakhir Sasuke menciumnya sedalam ini lantaran lelaki itu bukanlah seseorang yang melakukan sesuatu dengan sembarangan. Dia bisa merasakan apa yang Sasuke rasakan saat ini jika dilihat dari kelembutannya. Ini memang bukanlah ciuman pertamanya dengan Sasuke, tapi setiap sentuhan yang terjadi selalu terasa spesial dan berbeda. Bukan yang pertama, tapi perasaan yang membuncah di perutnya pastilah sebuah emosi baru yang menjadi fondasi dari euforia.

Sasuke melepas tautan bibir keduanya dan menarik diri. Tatapannya bertumbukkan dengan sorot mata Sakura. Pandangan gadis itu kuyu, menampakkan seseorang yang tengah mengantuk. "Aku membangunkanmu?"

Sakura menggeleng. "Aku belum benar-benar tidur sedari tadi." Telapak tangannya ditempelkan ke pipi Sasuke. Dia mengerti, ada yang mau lelaki itu katakan padanya jika dilihat dari sorot mata yang terpantul oleh cahaya temaram dari lampion. "Ada apa?"

Helaan napas panjang dilakukan oleh Sasuke. Sangat kentara, hingga Sakura menyadarinya. Sasuke tampak seperti tengah mencari keberanian untuk mengucap sesuatu. "Aku akan menyusul Naruto," ungkapnya. Tangannya memegang tangan kiri Sakura yang menempel di pipinya.

"Hm? Menyusul apa?" Rasa heran meliputi Sakura. Dia memejamkan mata sejenak dan membayangkan apa yang Sasuke maksud. Jawaban yang diberikan otaknya adalah nihil. Rasa-rasanya kedua mantan rekan satu timnya itu sudah setara sekarang. "Kalian sudah sama-sama kuat."

Sasuke terdiam sejenak. Otot yang melekat di tulang rusuknya naik dan turun, menampung detakan jantung yang begitu cepat serta tarikan dan embusan napas yang sebisa mungkin masih dibuat teratur. "Dia sudah menikah."

Mulut Sakura menganga. "Apa maksudmu ...?" Dia menggantungkan suaranya di udara, terlalu gugup untuk melanjutkan asumsinya. Darah di balik kulitnya mengalir dengan deras, hingga dia yakin jika di sini tak ada suara lain sama sekali, dia akan bisa mendengar desirannya.

Sasuke menarik tangan Sakura dan mengecup buku-buku jarinya dengan lembut. Sakura terdiam, terbuai oleh sentuhan-sentuhan lembut dari Sasuke sekaligus berdebar-debar ketika berhipotesis mengenai maksud kekasihnya dari kata-katanya tadi.

"Sakura, menikahlah denganku."

Debaran jantung Sasuke meningkat dengan begitu pesat. Dia tidak tahu yang dirinya lakukan sekarang merupakan hal benar atau justru sebaliknya. Tak ada pertimbangan atas apa yang dikatakannya, sama sekali. Sasuke memang ingin menikahi Sakura. Niatan ini sudah ada sejak lama dan sudah dia pikirkan secara baik-baik. Namun, yang dilakukannya sekarang sama sekali terlepas dari apa yang disebut rencana. Ini merupakan sebuah spontanitas yang terbentuk dari rasa nyaman akan keberadaan Sakura di sisinya—yang telah mengembalikan definisi rumah yang sudah sangat lama hilang dari benaknya—akhirnya mencapai titik paling maksimal.

Kegugupan menjalari sekujur tubuh Sasuke. Meski dia tahu Sakura mencintainya dan merupakan kekasihnya saat ini, tapi dia tak yakin bahwa gadis itu mau menjalin komitmen seserius pernikahan dengannya. Sasuke ragu Sakura mau turut menyandang nama Uchiha yang sesungguhnya dia banggakan tetapi memiliki banyak kutukan. Sasuke takut Sakura berpikir ini merupakan sebuah kesalahan, karena terlalu cepat atau apa pun. Sasuke khawatir Sakura tak cukup percaya padanya untuk dijadikan seorang suami.

Dan kegugupan Sasuke ditanggapi oleh Sakura yang berkedip dua kali, kemudian tertawa kencang. Sontak kepercayaan diri yang Sasuke miliki semakin menciut. Harga dirinya terasa dipermainkan. Selain itu, dia merasa adanya kesalahan dalam apa yang telah dia lakukan.

.

.

Bersambung