Seberapa besar pun keinginan Sasuke untuk menutupi bahwa dia tersinggung atas tawa kencang yang terlepas dari bibir Sakura, tetapi ternyata otot-otot di mukanya tak bisa menahan kerutan-kerutan yang membentuk sebuah ekspresi merengut. Ini bukan pertama kali Sakura menertawakan dirinya, dan dia tidak pernah menganggap itu masalah—meski ada kalanya dia sedikit terusik. Namun, tentu saja hal tersebut tak berlaku ketika dia melamar Sakura, dan yang dilamar justru malah menertawakannya. Sementara Sasuke sangat, sangat yakin bahwa tak ada satu pun yang lucu di sini.
Sorot mata yang tadinya lurus dengan kedua iris hijau milik Sakura kini titik jatuhnya berpindah pada langit-langit tenda. Sasuke beranjak dari baringannya dengan otot di sekujur tubuh yang begitu kaku. Sakura sama sekali tak diliriknya. Gema tawa gadis itu masih terngiang di telinganya. Sasuke menyipitkan mata dan mengusap wajahnya kasar.
"Yang tadi ... aku hanya ... tch, kurasa yang kulakukan sangat salah hingga begitu lucu di matamu."
Kedua bibir Sakura langsung terkatup rapat, bersamaan dengan detak jantungnya yang terhenti. Dia mengernyitkan dahi kebingungan. Tak butuh lebih dari dua detik untuk menyadari bahwa dirinyalah yang salah di sini. Tanpa melihat ekspresi wajah Sasuke, Sakura sadar bahwa lelaki itu tersinggung. Dia tak akan menilai Sasuke terlalu sensitif, karena dirinya pun sadar bahwa tawa refleks yang terbentuk dari partikel-partikel kebahagiaan di dalam perutnya tadi memang terlepas bukan di saatnya. Meski refleks, tetapi Sasuke jelas tak tahu akan hal itu.
Kepala Sasuke benar-benar terasa penat saat ini. Rasa-rasanya udara segar pun tak cukup untuk membuatnya tenang, tetapi dia ingin keluar dari tenda sekarang juga. Dia berharap bahwa dinginnya udara di luar cukup untuk mendinginkan kepalanya, meski Sasuke benar-benar tidak yakin akan hal ini. Dia mengeluarkan kakinya dari kantung tidur dan menggumam, "Maaf, aku—"
Sakura menelan kata-kata Sasuke dengan sebuah ciuman lembut yang diusahakan membuat tenang. Matanya terpejam ketika menyadari bahwa pergerakannya barusan betul-betul cepat saking dia merasa panik. Dari deru napas pendek yang terasa membelai pipinya, dia yakin emosi Sasuke masih kacau saat ini. Ragu-ragu Sakura menarik diri dan segera berbicara sebelum Sasuke berargumen lagi.
"Jangan minta maaf karena melamarku." Sakura menatap Sasuke tepat di mata, dan menyibak rambut hitamnya ke belakang agar penglihatannya lebih jelas. Dalam hati dia bersyukur Sasuke belum mematikan lampion, sehingga dia masih bisa melihat raut wajah Sasuke dari pantulan cahaya minim berwarna kuning dan Sasuke pun bisa melihat mimik mukanya dengan jelas. Bibir Sakura melengkungkan sebuah senyum, berbeda 180 derajat dengan mimik muka yang dipasang Sasuke. Sorot mata lelaki itu masih tajam. Dan garis-garis terluka di wajahnya membuat Sakura semakin merasa bersalah hingga seolah-olah isi perutnya memaksa keluar.
"Seharusnya aku yang minta maaf." Ujung jemari Sakura mengusap pipi Sasuke perlahan. Otot wajah yang tadinya menegang mulai melemas seketika di bawah sentuhannya. "Aku tidak seharusnya tertawa, tapi astaga, Sasuke-kun, kau melamarku!" Tawa terselip lagi dari celah bibirnya. Sebelum Sasuke kembali berasumsi macam-macam, dia cepat-cepat menambahkan, "Aku hanya ... aku tidak tahu apakah ada kata lain yang bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini selain bahagia. Jika ada kata yang mewakilkan perasaan "lebih dari bahagia", maka aku merasakan hal tersebut saat ini juga."
Tubuh Sasuke condong ke belakang ketika Sakura menerjang dan memeluknya erat. Hangat dari karbon dioksida yang melesat dari mulut Sakura ketika gadis itu tertawa masih terus menguapi lehernya. Samar-samar Sasuke mendengar isakan-isakan, kemudian disusul oleh kulitnya yang merasakan tetesan air tak wajar. Sasuke tak yakin Sakura sedang menangis atau tertawa saat ini, atau malah kedua-duanya.
Perasaan Sasuke sudah tidak sesensitif tadi. Akan tetapi, sebelum Sakura memberi penjelasan atas tawanya, dia sempat memikirkan apakah memang ada kesalahan atas apa yang dia lakukan atau tidak. Ini bukan lamaran yang baik, dia tahu itu. Lamaran tanpa adanya cincin maupun tempat yang bagus. Lamaran yang dilakukan ketika sosok yang dilamarnya tengah diserang kantuk dan baru terbangun di tengah-tengah tenda yang lusuh lantaran sudah sering dihujani. Lamaran yang seharusnya bisa jauh, jauh lebih baik bagi gadis seperti Sakura, yang sudah mencintainya dengan segala rasa sakit dan penantian panjangnya. Sasuke tahu, kesabaran Sakura seharusnya bisa berujung sesuatu yang spesial dan terencana, bukan sesuatu yang spontan seperti ini.
Sasuke meneguk ludah dan mengepalkan tangannya erat-erat. Dia sama sekali tak membalas pelukan Sakura. Mau dia tahu Sakura bahagia atau tidak, pikiran-pikiran tadi sudah terlanjur meracuni otaknya dan sangat sulit untuk dia abaikan begitu saja.
"Seharusnya ini bisa lebih baik," kata Sasuke dengan nada putus asa. Dia tidak menyesal telah melamar Sakura, sama sekali tidak. Yang dia gerutui dalam hati sekarang adalah caranya melamar gadis yang dicintanya.
Gelengan kepala Sakura terasa di bahunya. "Aku tidak peduli." Suaranya masih disenggal isakan. Dekapannya semakin mengerat, tak menyadari keadaan tubuh Sasuke yang semakin menegang. Dia tidak peduli akan kondisi sekitar dan bagaimana cara Sasuke melamarnya. Sama sekali tidak. Yang dia garis bawahi sekarang adalah Sasuke yang menginginkannya untuk menjadi istrinya, pendamping hidup untuk selamanya.
Sakura tahu Sasuke tidak main-main. Kurang lebih dua bulan menjalin hubungan dengannya membuat Sakura paham bahwa Sasuke adalah seseorang yang sering memberi tanda afeksi padanya ketika ada sebuah perasaan emosional yang menekan batinnya. Terlepas dari itu, Sasuke paling-paling hanya memeluknya di malam hari. Lelaki itu bukanlah seseorang yang asal sosor. Maka, ciuman-ciuman lembut yang dihujani ke wajahnya dan diakhiri oleh pagutan mesra di bibirnya pasti didasari buncahan emosi yang bergelembung dalam perutnya. Sakura sangat ingin tahu emosi seperti apa yang Sasuke rasakan saat itu. Dan kalaupun dia tak bisa tahu, untuk membayangkannya saja sudah cukup untuk mengalirkan air mata bahagia di pipinya.
Kebahagiaan Sakura sama sekali tak bisa dideskripsikan dalam kata-kata. Segala energi positif seolah-olah teraduk di dalam perutnya, hingga melebur bersamaan. Hal tersebut membuatnya bingung harus mengekspresikan perasaannya seperti apa, sampai-sampai tawa dan tangisnya terkontaminasi menjadi satu.
"Kau melamarku, Sasuke-kun." Sakura membekap mulutnya, berusaha agar tidak terdengar kekanakan. Dia memejamkan matanya erat-erat. "Kau melamarku."
Sasuke masih kehilangan kata-katanya. Perasaan terlukanya tadi telah sirna secara bertahap. Debaran kencang dari jantung Sakura terasa begitu pekat di dadanya. Bahunya semakin membasah dihujani air mata yang meluncur mengikuti gravitasi bersamaan dengan tawa Sakura. Kebahagiaan gadis itu seakan-akan menyerap melalui pori-pori di sekujur tubuhnya dan kembali mendongkrak kepercayaan dirinya. Kini dia semakin yakin bahwa cinta Sakura merupakan cinta yang begitu tulus, terbukti dari caranya menerima segala hal yang Sasuke berikan dengan tangan terbuka, tanpa adanya keluhan atau penolakan.
Tangan tunggal Sasuke merambat ke punggung Sakura dan menarik gadis itu merapat. Senyum tipis terlukis di wajahnya. Sekarang dia tahu bahwa dirinya tidak seharusnya merasa salah di tempat awal. Sakura tertawa bukan karena menertawakan dirinya ataupun menertawakan kesalahan yang dia perbuat, melainkan sebuah ekspresi dari kebahagiaan yang barangkali tak terbendung sampai tak bisa dikontrol dan ditahan.
Butuh segenap kekuatan untuk saling memisahkan diri dari pelukan. Telapak tangan Sasuke memegangi pipi Sakura. Gadis itu bisa merasakan gemetar dari tangan yang ada di pipinya. Dia membayangkan seberapa besar pertarungan Sasuke dengan kegugupannya hingga akhirnya berhasil melamarnya, tetapi ternyata kegugupan itu masih ada jika dirasa dari sentuhannya.
Kedua pasang mata itu saling bersirobok. Sakura sudah sering menatap kedua netra berbeda warna tersebut melembut ketika bertumbukkan dengan miliknya. Namun, kelembutan kali ini adalah level baru yang pernah dia lihat. Apalagi tukikan bibir yang jauh lebih dalam dari segala senyum yang terekam di dalam benaknya. Segala hal tersebut membuat Sakura semakin yakin bahwa tak ada permainan dari permintaan Sasuke, dan lelaki itu bersungguh-sungguh, pun memintanya dengan sepenuh hati.
"Apakah kau menyetujuinya?" tutur Sasuke dengan napas tertahan.
Sakura menggigit bibir untuk menahan tawa lain. "Kau serius bertanya lagi? Apa kau tidak lihat sebahagia apa aku sekarang?"
Sasuke mengangguk. Dia perlu mendengar jawaban Sakura. Jawaban yang suatu hari nanti akan menjadi pengingatnya akan malam ini, malam di saat dia melamarnya. Karena ketiadaan cincin, setidaknya hal itu bisa mengingatkan untuk sementara ikatan mereka yang lebih erat daripada sebelumnya. Pun agar otaknya bisa memutar memori berupa audiovisual, sebagai sebuah ingatan yang paling utuh. Bagaimana ekspresi Sakura saat dia melamarnya, bagaimana suara dan kata-kata Sakura saat menjawabnya ... dia butuh hal-hal tersebut di dalam kotak memorinya.
"Jawablah secara verbal," pinta Sasuke. Ibu jarinya mengusap bagian wajah di bawah mata Sakura.
Sakura terkikik, sisa-sisa dari tawa kencangnya tadi. Dia memegang tangan Sasuke dan menariknya ke bawah, kemudian menggenggamnya erat-erat. Kehangatan menggumpal di dada Sakura ketika genggaman itu terasa begitu utuh. Dia sudah beberapa kali merasakan bahwa tautan tangan Sasuke dan miliknya begitu pas, layaknya memang diciptakan untuk satu sama lain. Dan dalam keadaan seperti ini ... saat Sasuke meminta jawaban atas lamaran terhadap dirinya, jemari-jemari lelaki itu yang terkait di ruas-ruas milik Sakura seolah ditegaskan memang telah diciptakan untuk satu sama lain.
"Menjadi istri dari seseorang yang kucinta selalu ada di dalam angan-anganku." Air mata masih tak henti-hentinya menetes dari sudut matanya, tetapi tawa kecil tak pernah lupa untuk menemani.
"Uchiha Sasuke, aku mau menikah denganmu," ujar Sakura sembari menahan pekikan, intonasi yang mengingatkan Sasuke pada cara gadis itu bicara saat masih berusia dua belas. Sakura tak punya jawaban lain. Terlepas dari rasa cintanya yang begitu mendalam pada lelaki ini, dia pun memercayai Sasuke. Percaya untuk dijadikan pendamping hidup untuk selamanya, percaya akan selalu menjaga hatinya, percaya tak akan pernah mengulangi apa yang terjadi di masa lampau, segalanya. Meski Sasuke tak pernah mengucap semua itu dengan bibirnya, tetapi Sakura paham. Sakura mengerti.
"Terima kasih," bisik Sasuke sembari mengecup dahi Sakura tepat di tanda wajiknya. Gadis itu bisa merasakan senyuman dari bibir yang menempel di keningnya.
.
.
Adalah pagi pertama Sasuke malas beranjak dari tidur semenjak dia berkelana bersama Sakura. Semalam adalah salah satu dari malam yang dilalui dengan tidur paling nyenyak yang pernah dialaminya. Bisa dikatakan paling nyenyak, jika dilihat dari pencapaian kegiatan istirahat tersebut yang membuatnya agak enggan beranjak. Wajar, sesuatu yang terjadi sebelum dirinya terlelap membuatnya sangat, sangat tenang dan nyaman. Dia akan menikahi Sakura ketika menemukan waktu dan tempat yang tepat. Dan hal tersebut cukup untuk membuka harinya dengan sebuah senyuman.
Terlepas dari itu, dia yakin Sakura pun sudah membuka mata dari tidurnya. Akan tetapi, gadis itu sama sekali tidak membangunkannya seperti bagaimana biasanya. Tak ada omelan karena sulit bangun, goncangan keras di bahu, hidung yang dijepit, atau apa pun yang mengusik Sasuke. Yang ada hanyalah tangan yang melingkari perutnya erat, serta beban di dadanya dari kepala Sakura.
Kegelapan mengisi isi seluruh tenda. Satu-satunya sumber cahaya berupa lampion sudah dimatikan beberapa jam yang lalu dan belum difungsikan kembali. Sasuke rasa beberapa waktu ke depan cahaya lampion tak akan dibutuhkan lagi, lantaran akan ada sinar matahari yang intensitasnya jauh lebih besar. Maka, dia akan diam dalam kegelapan ini dan menunggu sampai matahari terbit di ufuk timur.
"Hei, sudah bangun, ya?"
Suara Sakura yang memecah keheningan dalam tenda menyatakan bahwa dugaan Sasuke tepat. Sakura memang sudah terbangun sedari tadi. Suaranya tak parau, seolah-olah nyawanya sudah terkumpul secara penuh. Dan hal tersebut semakin menekankan bahwa Sakura sudah bangun lama. "Hn."
"Tumben tidak membangunkan aku." Sasuke mendengar Sakura berbicara lagi, kemudian melepas kuapan panjang.
Sasuke terdiam sejenak. Benar juga, jika dia yang bangun lebih dulu, dia pun akan membangunkan Sakura. Namun, kali ini dia mengurungkan rutinitasnya. Dia malas bangun lantaran merasa posisinya sudah begitu nyaman. "Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu."
"Sebenarnya aku malas bangun."
Sama, batin Sasuke. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah alasan Sakura sama dengan alasannya.
Sakura menggeliatkan lehernya, membuat Sasuke berpikir bahwa gadis itu akan melanjutkan tidurnya. Akan tetapi, dugaannya salah. Sakura justru beranjak dan merentangkan kedua tangannya. "Sayangnya, pagi ini sangat dingin. Kalau diam di sini terus pasti bertambah dingin. Kita harus banyak bergerak."
Sasuke menahan erangan di dalam tenggorokan. Dia melihat Sakura membuka resleting dari tenda dan membiarkan angin penghujung pagi merasuk ke dalamnya. Dia memiliki niat untuk kembali menenggelamkan diri ke dalam kantung tidur, tetapi nyaman yang dirasakannya tadi sudah sirna. Sumber kehangatan yang membantu tubuhnya untuk menaikkan temperatur telah beringsut menjauh. Lagi pula, memikirkan apa yang akan Sakura lakukan padanya jika dia menolak bangun telah menepis niatnya itu secara telak.
Langit yang semalam berwarna hitam pekat kini mulai dipiasi cahaya hingga membiru gelap. Sinar matahari memang belum terlihat dengan jelas. Sakura kembali memundurkan tubuh ke dalam tenda dan meraih jubah kremnya. Matanya melirik Sasuke yang masih mengusap wajahnya. Tangannya mengatup mulut untuk menahan kikikan yang tadinya akan terlepas karena mendapati Sasuke yang tampak sedikit merajuk.
Tubuh Sakura merangkak ke luar tenda ketika sepatu sudah melekat erat di kakinya. Lalu, telapak kaki yang sudah dialasi itu menghentak-hentak pada tanah lembap, sebagai isyarat bahwa dia masih menunggu Sasuke. Yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga dengan jubah hitam yang membungkus tubuhnya. Dari langit yang sudah tidak segelap semalam, Sakura mampu mendapati merah yang mewarnai pipi dan hidung Sasuke—tanda bahwa lelaki itu masih kedinginan. Dari setiap helaan napas yang menusuk bagian dalam hidungnya, Sakura pun merasakan hal yang sama.
"Ke mana?"
Mendengar Sasuke bertanya, Sakura menengadahkan wajahnya dan menatap langit. Di dalam kepalanya terdapat perkiraan berapa lama lagi matahari akan terbit. Kerutan dahinya menghilang, pertanda bahwa hitungan akan perkiraannya sudah selesai. Hal tersebut membuahkan jawaban untuk pertanyaan Sasuke. "Bagaimana kalau kebun teh yang kemarin kita lewati? Saat sampai di sana, matahari pasti sudah terbit dan udara akan jadi lebih hangat."
Sasuke memberi tanda setuju berupa anggukan. Sebelum kakinya melangkah, dia merogoh Sakunya dan menggenggam erat-erat kain berupa ban pergelangan tangan yang ada di sana. Dia sering berpura-pura lupa bahwa perjalanan ini tak dia lalui sendiri. Kekeraskepalaan dan harga diri tingginya menuntut dirinya untuk melakukan segalanya secara mandiri. Dia meraih ban pergelangan tangan dan memasukkan jari-jarinya ke dalam sana. Ban elastis itu tersangkut di ibu jarinya. Giginya menjadi pengganti peranan tangan kiri dengan cara menarik kain itu hingga nyaris melewati bagian di telapak tangannya yang paling lebar.
Menyadari apa yang tengah Sasuke lakukan saat ini, Sakura menepis tangan Sasuke hingga terasa menyengat. "Kebiasaan jelek!" makinya pada Sasuke.
Sasuke mendengus dan menahan sengatan yang terasa di tangannya. "Aku masih bisa mengatasi ini sendiri," ungkapnya ketika mendapati Sakura memasangkan ban pergelangan tangan itu dengan cepat. Bekas tepisan tangan Sakura tadi masih begitu pekat di permukaan kulitnya.
"Daripada menggunakan gigimu, kau bisa meminta tolong. Kenapa, sih, keras kepala sekali?" Sakura mendecakkan lidahnya. Entah sudah berapa kali dia mengatakan ini pada Sasuke. Kadang-kadang gengsi yang memiliki konsentrasi tinggi di kumpulan darahnya menyulitkan diri Sasuke sendiri, dan hal tersebut membuat Sakura benar-benar kesal.
Sasuke mengangkat bahu. "Yang masih bisa kulakukan sendiri, akan kulakukan sendiri." Dia menarik tangannya yang sudah terlepas dari pegangan Sakura. Matanya berpaling dari wajah Sakura yang menayangkan ekspresi kesal.
"Sombong." Sakura mengejek, atau lebih tepatnya mengomentari. Kakinya melangkah ke depan. Ujung matanya menangkap bahwa Sasuke pun tengah mengikuti. "Kau harus ingat bantuan orang lain akan mempermudah segala proses yang kau bilang bisa kaulakukan sendiri itu."
Sasuke menarik salah satu sudut bibirnya, menayangkan ekspresi yang mencerminkan sikap yang Sakura komentari tadi. "Bergantung pada orang lain bukanlah caraku."
Sakura mendengus dan memutar kedua bola matanya. "Kadang-kadang kau membuat kesal, Sasuke-kun. Oh, bukan kadang-kadang, tetapi sering."
"Heh." Sasuke menarik sebelah alis dan memamerkan seringai. Entah kenapa dia tidak merasa terhina atas kata-kata Sakura. Sebaliknya, justru merasa terhibur.
Sakura memalingkan wajah, menutupi ronaan di pipinya ketika mendapati ekspresi Sasuke yang membuat lelaki itu terlihat lebih tampan. Lalu, dia memalsukan sebuah batuk, tak mengizinkan dirinya merasa canggung. "Dan yang paling aneh adalah kau kelihatan bangga akan hal itu ..."
"Kau kenal aku ..." ... dari luar maupun dalam. Dia sadar bahwa Sakura adalah seseorang yang paling memahaminya, termasuk juga peranan anggota Tim Tujuh sisanya. Dan yang membuatnya tersentuh adalah bagaimana gadis itu bertahan bersamanya, meski sudah menalar segala tabiat buruk yang memang sulit dihilangkan, atau bahkan sudah melekat erat dan menjadi sikap khasnya.
Sakura tertawa kecil. "Ya, tentu saja. Dan kau sangat sombong, menjengkelkan, punya selera humor yang buruk, tidak peka, gengsian, pilih-pilih ..."
Sasuke mendecih. Dia akui bahwa dia tersentuh, tetapi cara Sakura mengutarakan semua tabiat buruknya malah terasa mengusiknya. Wajahnya tertekuk secara refleks. "Teruskan, Sakura. Teruskan."
"Tetapi aku tetap mencintaimu." Sakura menyanyikan kata-katanya. Lensa matanya bergerak ke ujung untuk melihat ekspresi Sasuke setelah mendengar semua yang dia katakan. Namun, yang didapatinya adalah punggung yang bergerak menjauh karena langkah lebar yang diambil si empunya.
Menjengkelkan, batin Sasuke sembari menahan seringai. Selalu menjengkelkan.
Sakura tertawa-tawa lagi. Dia menduga Sasuke melebarkan langkah untuk menghindari kontak mata dengannya. Entah kenapa hal tersebut terasa begitu menggemaskan di matanya. Matanya tak terlepas dari Sasuke yang tiba-tiba mengerang karena jubahnya menyangkut pada batang pohon yang tampak tajam. Dalam keadaan normal, Sasuke akan mengabaikan hal remeh seperti itu. Kali ini benar-benar berbeda. Apakah Sasuke sedang tidak dalam keadaan normal? Sakura mengedikkan bahu, tetapi dia tertawa kecil lagi ketika sebuah asumsi melesat di otaknya. Sasuke-kun salah tingkah.
Tangan Sakura memeluk tubuhnya sendiri dan merapatkan jubah untuk menghindari basahnya embun dari dedaunan. Cahaya matahari sudah mulai menerobos pepohonan yang melingkupi jalannya. Sebentar lagi temperatur di udara akan segera naik, dan suasana di sini akan terasa lebih nyaman. Sakura mengeluarkan tangannya dan sengaja menyentuh embun-embun yang menempel di ujung daun, nyaris terjatuh karena tertarik gravitasi. Basah di tangannya seolah menegaskan bahwa dia tidak sedang di rumah, di Konoha dengan suhu yang jauh lebih nyaman daripada di sini, tetapi tengah berkelana bersama Sasuke. Hal tersebut sudah terjadi selama berbulan-bulan. Namun, rasa senang yang Sakura rasakan tak cukup dikecap satu kali saja.
Bicara soal senang, puncak dari emosi positif tersebut sejauh ini adalah semalam. Sambil membelah jalan setapak di hutan, matanya terus menatap punggung dari sosok yang memintanya untuk menjadi pasangan hidup yang terikat janji sakral di masa depan. Sakura sebenarnya ingin Sasuke memastikan mengenai hal ini. Kapan dan di mana akan terjadinya, serta bagaimana cara Sasuke berbicara pada kedua orangtuanya. Yang membuat Sakura memikirkan hal ini adalah pijakannya sekarang begitu jauh dari Konoha. Namun, Sakura ragu untuk bertanya. Sebesar apa pun rasa ingin tahunya, entah kenapa Sakura ingin membuat segalanya mengalir begitu saja. Yang terpenting adalah dia sudah mengantungi ingatan nyata mengenai Sasuke yang bersungguh-sungguh ketika melamarnya.
Kalkulasi Sakura mengenai cahaya matahari di kebun teh tampaknya akurat. Garis-garis cahaya memantulkan hamparan hijau dari dedaunan di tanaman teh yang rata. Sakura masih waspada pada pijakannya. Tempat ini merupakan lahan miring, becek, dan licin. Dia bahkan sampai merasa pemusatan chakra pada telapak kaki begitu dibutuhkan saat ini.
Meski sebelum sang surya bersinar sebesar ini pun, tubuhnya sudah mengalami oksidasi dari gerakan yang banyak dilakukan selama perjalanannya dari tenda hingga kebun teh. Dia menatap Sasuke yang sudah kehilangan kemerahan di pipi dan ujung hidungnya, pertanda bahwa suhu tubuhnya pun sudah naik.
"Sarapan?"
Sasuke menoleh ke arah Sakura ketika gadis itu menawarkan sesuatu. Jika dia menyetujui, maka keduanya harus kembali lagi ke tenda. Entah kenapa tiba-tiba Sasuke punya perasaan tidak enak. Namun, dia menepis perasaan tersebut jauh-jauh dan mengangguk untuk menanggapi Sakura. "Ya."
Setelah menunggu Sakura selesai menikmati hamparan daun teh dan melewati petak-petak yang ada, barulah keduanya memutar tubuh dan kembali ke tenda. Gadis itu terus berceloteh mengenai ibu-ibu yang bekerja untuk memetik daun di pucuk batang tanaman teh. Dia mengagumi usahanya setiap hari menyusuri tanjakan-tanjakan curam yang sudah Sasuke dan Sakura lewati sampai bisa berada di sini untuk melanjutkan profesinya. Jika tak memiliki chakra yang dapat ditumpu di kaki, proses menanjak itu pastilah jauh lebih sulit daripada yang Sasuke dan Sakura lewati. Oh, Sakura baru sadar kenapa udara jauh, jauh lebih dingin. Mereka sedang memijak pegunungan yang menjadi perbatasan antardesa.
Sasuke meringis ketika menyadari bahwa perasaan tidak enaknya tadi ternyata memang memiliki arti saat mendengar teriakan Sakura yang mengeluh bahwa perbekalan pangan mereka telah hilang—dicuri. Dari sekeliling yang tidak berantakan, pencuri ini tidak mungkin hewan, melainkan manusia. Sasuke masih merasa bersyukur senjata-senjata yang mereka bawa masih utuh dan tak ada yang hilang satu pun. Namun, tabiat Sakura memang tidak setenang dirinya. Sesuai dugaan, gadis itu terus melampiaskan kemarahannya melalui kata-kata.
"Tenanglah, Sakura," saran Sasuke. "Sebelumnya aku pernah mengalami ini beberapa kali. Kita bisa mencari bahan makanan dengan berburu atau apa pun."
Sasuke tak ambil pusing. Dia tahu bahwa lokasi mereka sekarang sangat jauh dari permukiman yang membuat tak memungkinkan untuk membeli perbekalan pengganti. Sakura pun tak masalah jika harus mencari makanan di alam seperti ini. Yang membuatnya geram adalah perbekalan yang mereka miliki sebelumnya memang tinggal sedikit. Dan pencuri tersebut tega-teganya mengambil apa yang tinggal sedikit.
"Tidak, aku akan mencari siapa pencurinya." Kedua tangan Sakura terkepal di kedua sisi tubuhnya. "Ya, aku tahu kita bisa menahan lapar dan mencari pengganti isi perut. Namun, ini masalah kasus mencurinya. Kalau aku diam saja, orang ini pasti akan mengulanginya. Bisa saja aku memaafkan dia. Tapi, bagaimana jika suatu hari nanti target mencurinya adalah seorang psikopat yang bisa langsung membunuhnya tanpa berpikir dua kali?"
Sasuke mengembuskan napas pasrah. "Terserah padamu."
Untuk pertama kalinya semenjak Sakura memasuki hutan ini dia mensyukuri tanah becek. Jejak kaki tercetak jelas di tanah dan menuntun Sakura pada pelaku. Sasuke mengawasi pergerakan Sakura di belakang, takut-takut yang dia ikuti justru mengantarnya pada mara bahaya.
Ujung dari petunjuk yang tercetak di permukaan tanah itu adalah pada sebuah tanah lapang yang tidak begitu luas. Sasuke langsung mencengkeram lengan Sakura erta-erat untuk mencegahnya melangkah lebih jauh. Dia meminta gadis itu untuk memindai keadaan lebih dulu. Orang-orang yang berkumpul di sana merupakan lelaki-lelaki yang berpenampilan serampangan. Bungkus-bungkus makanan yang merupakan perbekalan milik Sasuke dan Sakura berserakan di atas tanah.
Sasuke memicingkan mata dan semakin menarik tangan Sakura. Dia yakin keputusan untuk melarang Sakura berurusan dengan orang-orang itu bukanlah hal yang salah, meski dia tahu Sakura bisa mengatasi jika mereka macam-macam. "Sakura, tahan dulu."
Bukan berarti Sasuke takut. Hanya saja, dia tahu bahwa ini tidak perlu. Membuang waktu dan tenaga secara sia-sia. Lagi pula, wajah-wajah itu rasanya tak asing bagi Sasuke. Dan tak asing yang dimaksud bukan berarti mereka kenal baik, tetapi justru sebaliknya. Wajah-wajah itu adalah sosok yang pernah melempar tatapan benci padanya setiap kali melewati sel-sel di persembunyian Orochimaru. Entah karena iri atau apa, dulu Sasuke sama sekali tak peduli. Sasuke jelas menganggap bahwa berurusan dengan mereka merupakan hal terakhir yang ingin dia lakukan saat ini.
"Kau kenal mereka, ya?" Sakura bertanya dengan mata memicing. Dia berusaha mengenyahkan cengkeraman Sasuke di lengannya. Mata Sasuke yang melempar pandangan pada orang-orang itu begitu tajam, berbeda dengan cara lelaki itu memandang sosok asing biasanya.
"Aku yakin kau tidak mau dan tidak perlu berurusan dengan mereka." Sasuke memundurkan tubuh dan menarik Sakura bersamanya. Namun, gadis itu masih saja memberontak.
"Sakura," panggil Sasuke dengan nada geram. Cara gadis itu melawannya mulai membuat dirinya kesal. Dia melepas cengkeraman pada lengan, dan berpindah ke pipi untuk memaksa Sakura menatap matanya yang memicing tajam. "Dengarkan aku, kita kembali saja. Mereka bukan orang-orang yang mau mendengar kata-katamu."
Sakura yang merasakan kuku-kuku di jemari Sasuke menusuk pipinya langsung bungkam. Dia mengangguk dan menatap Sasuke dengan kelopak mata yang gemetar. Entah kapan terakhir kali melihat tatapan Sasuke yang terasa menghunjam sampai menembus tulangnya seperti ini, hingga sekarang dia merasa saraf di bibir dan lidahnya memaksa untuk membisu.
Sasuke langsung melepas tangannya ketika mendapati tatapan gentar dari Sakura. Cekungan-cekungan dalam berbentuk bulan sabit tercetak di pipi gadis itu. Napasnya tertahan mengingat hal tersebut terjadi karena ulahnya. Dia mengusap pipi Sakura perlahan, menyesali lengkungan-lengkungan merah yang terbentuk karena kuku-kukunya. "Sakura, aku—"
"Tidak. Ini bukan masalah." Tatapan mata Sakura meneduh lagi. Dia meremas tangan Sasuke lembut. Sakura sadar ini salahnya karena begitu keras kepala, sampai-sampai membuat Sasuke kesal dan nyaris melukainya. Dia tahu Sasuke hanya mengkhawatirkannya. "Aku mengerti sekarang. Kita kembali. Tapi berjanjilah akan cerita soal ini nanti, oke?"
Sasuke menggigit bagian dalam pipinya dan mengangguk. "Kita bicarakan ini nanti." Dalam hati dia bersyukur Sakura tidak memperpanjang masalah ini seperti apa yang ada di dalam bayangannya. Namun, matanya masih menyipit kesal mendapati garis-garis merah di pipi Sakura.
Remasan tangan Sakura terasa menghangat. Dia menundukkan kepalanya dan mendapati chakra hijau menyala dari sana, hingga mengalir ke ujung-ujung jarinya. Lalu, ujung jari Sasuke ditempelkan pada garis-garis merah yang menjorok ke dalam di pipi Sakura oleh gadis itu sendiri hingga bekasnya menghilangnya. Wajah Sakura kini bersih tanpa bekas luka, berkat chakra gadis itu yang mengalir melalui ujung jemarinya.
"Sudah tidak apa-apa, 'kan?" Sakura mengulas senyum lembut. "Kau yang menyembuhkannya."
Sasuke mengembuskan napas lega. Otot di wajahnya merenggang. Beban rasa bersalah yang sempat memberatkan bahunya tadi sudah menghilang. Sakura selalu tahu bagaimana cara membuat dirinya merasa lebih baik.
.
.
Suara arus air yang membentur bebatuan besar terkumpul di daun telinga dan menerobos masuk untuk menabuh gendangnya. Kedua mata Sakura berbinar mendapati aliran air jernih yang mengalir pada lahan beberapa meter di depannya. Dia menarik dagu dan mengernyit tak suka ketika sepatu yang kotor dipenuhi lumpur terekam ke dalam retinanya. Bahkan lumpur-lumpur tersebut sampai mengotori kuku kakinya. Sebuah kebetulan yang bagus ada sungai berair jernih di sini.
Sakura segera duduk di tepian, di atas batu yang agak basah tetapi tak dilapisi lumut. Dia mengumpulkan air pada tangan yang dibentuk menjadi mangkuk dan membasuh wajahnya. Ada air yang tertelan, tetapi Sakura tak mempermasalahkan hal tersebut karena air ini merupakan air yang mengalir dari mata air pegunungan.
Sambil membersihkan sepatu di tanah pinggiran sungai, kepalanya memutar pertanyaan yang menuntut jawaban mengenai kejelasan permintaan Sasuke semalam yang sudah dia setujui. Sakura tak tega mengotori air jernih tersebut dengan lumpur di sepatunya. Setidaknya tidak di tempat ini. Jika berjalan sedikit ke bawah mungkin tak masalah. Dia menatap Sasuke yang tengah menengadahkan kepala dan menatap langit. Ada sebuah pertanyaan yang mau dia tanyakan, tetapi masih ragu untuk diucapkan.
"Sasuke-kun," panggil Sakura sembari mengais air dan dibasuhkan pada sepatu yang ditaruh di atas tanah.
"Hn?"
"Lepas sepatumu. Sini, biar aku bersihkan."
"Tidak perlu."
Sakura mendecak. "Jorok. Cepat sini!"
Didakwa jorok jelas-jelas menggores harga dirinya. Sasuke mendengus dan berjongkok. Lalu, melepas sepatunya. Dia berniat membersihkannya sendiri, tetapi Sakura bersikukuh agar dia saja yang melakukannya. Maka, dia menyerahkan sepatu itu pada Sakura.
Sembari mengenyahkan lumpur, Sakura melirik ke arah Sasuke diam-diam. Tatapan lelaki itu tampak tenang, seperti apa yang tengah dipandangnya—aliran air. Padahal, dia ingat beberapa waktu lalu, saat melipat tenda, Sasuke terlihat begitu tergesa-gesa. Entah karena apa.
Pertanyaan yang berputar di kepalanya tadi menyangkut di tenggorokan lagi. Dia menarik napas untuk meyakinkan diri agar berani bertanya, apalagi posisi Sasuke sekarang sudah cukup enak untuk diajak bicara santai. "Sasuke-kun, menurutmu—menurutmu akan seperti apa pendapat orangtuamu tentang aku?"
Sakura memulai pembicaraan mengenai kejelasan yang ingin dia ketahui dengan pertanyaan barusan. Mengingat Sasuke merupakan seseorang yang cerdas, dia tahu lelaki itu pasti langsung memahami ke arah mana pembicaraan ini akan berjalan. Sakura pernah dengar bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan sepasang lelaki dan perempuan, tetapi menyatukan keluarga dari kedua pihak juga. Meski dia tahu keluarga Sasuke sudah tiada, entah kenapa dia merasa perlu menanyakan hal tersebut. Kendati dalam hati dia harap-harap cemas, khawatir pertanyaan ini membuka luka lama.
Mendapati Sasuke yang tenang-tenang saja, Sakura mengembuskan napas lega. "Itu pertanyaan yang agak sulit dijawab," sahut Sasuke.
Sakura berdeham. "Tapi kau bisa?"
Sebuah anggukan menjadi tanggapan. Sasuke memejamkan mata, terlihat seperti tengah memikirkan jawaban. "Kurasa ibuku akan menyukaimu, Sakura."
"Oh, ya?" Sakura tersenyum lepas. Dia pernah dengar, entah dari mana, bahwa ibu Sasuke sangat cantik. Tiba-tiba dia penasaran mengenaii hal tersebut setelah Sasuke membahas ibunya seperti ini, meski rasa penasaran tersebut merupakan hal yang sia-sia. Maka, dia simpan sendiri saja. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"Ibuku tidak pernah membentak atau memukul orang," Sasuke menahan dengusan tawa dan menatap Sakura yang tampak merengut sejenak, "tapi terlepas dari sikapmu yang itu, kau tidak jauh berbeda dengan ibuku. Entahlah, tapi jika ibuku dan kau berbincang, kurasa pembicaraan yang diangkat akan saling melengkapi satu sama lain. Lagi pula ibuku adalah seseorang yang ramah. Ibuku pasti akan menerimamu dengan tangan yang terbuka lebar-lebar."
Entah kenapa Sakura merasa lega. Namun, masih ada satu yang mengganjal. Kenapa Sasuke tidak langsung menerka-nerka mengenai pendapat ayahnya? Dengan sedikit gugup, Sakura bertanya, "Bagaimana dengan ayahmu?"
Sasuke sedikit tersentak, tetapi tak lama. Telapak tangannya ditutup dan dibuka secara berulang, entah dengan tujuan apa. Dia menatap mata Sakura dan mengulas sebuah senyum tipis yang tampak getir. "Aku tidak begitu memahami ayahku. Bahkan aku tahu pendapat ayah mengenai aku dari mulut ibu. Jadi ... aku tidak tahu."
"Begitu," ucap Sakura sembari mengangguk. Entah harus menanggapi seperti apa. Dia mengerti dan tak akan mendesak Sasuke untuk berbicara lebih banyak.
"Kau mungkin akan lebih menyukai kakakku jika dibandingkan dengan aku." Sasuke berbicara secara sekonyong-konyong. Matanya tak lagi menatap Sakura, dan beralih pada air jernih lagi.
Sakura mengernyitkan dahi tak suka. Entah sudah keberapa kalinya Sasuke bilang: "Kau mungkin akan lebih menyukai dia dibanding aku," dan hal tersebut benar-benar mengusik Sakura. Hal tersebut terkesan meragukan Sakura, meskipun Sasuke tak bermaksud begitu. Dia menggelengkan kepalanya, tak peduli bahwa Sasuke tak sedang melihatnya. "Sasuke-kun, jangan mulai lagi."
"Orangtuamu tidak menyukaiku." Kini tangan Sasuke terkepal erat. Ludahnya terteguk dengan sulit. Sasuke menebak-nebak apakah kedua orangtua Sakura tahu mengenai siapa yang menambat hati putrinya selama ini, dan orang itu justru adalah penyebab terbesar putrinya selalu menangis. Jika memang tahu, maka ketidaksukaan itu benar-benar wajar.
Kedua mata Sakura melebar. "Memangnya kalian pernah bertemu?"
"Pernah."
"Kapan?"
"Saat aku kalah taruhan dan harus mentraktirmu juga menjemputmu, kau tidak bilang bahwa kau sudah pindah ke apartemen agar lebih dekat dengan rumah sakit. Jadi, aku datang ke rumahmu."
"Dan?"
"Ibumu yang membuka pintu. Dari ekspresi wajahnya saja sudah kentara bahwa ibumu tidak menyukaiku. Ayahmu juga sama."
Sakura mengipaskan tangan agar basahnya berkurang. Dia menggenggam tangan Sasuke dan tersenyum lembut. "Jangan khawatir tentang itu."
"Kau mau menentang orangtuamu demi aku?" Sasuke sedikit terkejut dengan asumsinya sendiri. Namun, memang seperti itulah kesan dari kata-kata Sakura barusan.
"Apa? Tidak. Tentu saja tidak!" Sakura meninggikan suaranya. Memang, saat masih remaja dia terhitung anak yang sulit menurut. Namun, untuk menentang sebesar ini, dia tak akan mau, sama sekali. "Aku tidak akan menentang, hanya akan meyakinkan mereka. Demi kau—demi kita."
"Bagaimana jika gagal?"
"Percayalah, aku tidak mungkin gagal. Aku sudah mengerti orangtuaku dan bagaimana cara menghadapi mereka."
Dan Sasuke mengerti. Sasuke percaya. Karena jika saat ini kedua orangtuanya masih ada dan tak menyukai Sakura, dia pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang akan gadis itu lakukan di kemudian hari—entah kapan. Dia masih tak tahu kapan bisa mewujudkan lamarannya semalam, sudah disetujui pula. Rasanya terlalu canggung untuk membahas. Barangkali dia akan menunggu sampai Sakura yang bertanya duluan. Dan sayangnya, sepertinya sekarang bukanlah saatnya.
Sakura beranjak dari duduknya. Dia merogoh tasnya dan menatap Sasuke melalui bahunya. "Nanti titip tasku. Aku mau mandi di genangan air bawah, yang lebih tertutup."
Sasuke mengernyitkan dahi. "Air di sini terlalu jernih."
"Kenapa? Satu-satunya orang yang aku khawatirkan akan mengintip adalah kau. Di sini tidak ada siapa-siapa lagi. Aku yakin kau tidak akan mengintip." Mata Sakura memicing. "Aku benar, 'kan?"
"Ya, kau benar," dengus Sasuke. Dia memutar bola mata ketika menerima tatapan curiga dari Sakura. Sorot mata tersebut tak hilang dari benaknya meski Sakura sudah menghilang ke balik batuan.
Setelah segala urusan yang membutuhkan air sungai selesai, keduanya meninggalkan tempat tersebut. Jika saja ada ikan, mereka akan menetap lebih lama. Namun, perairan di sana dangkal, eksistensi ikan pastilah sangat minim. Maka, mereka mencari alternatif lain untuk pengganjal perut.
Mereka berpisah dan mencari bahan makanan sendiri-sendiri. Tujuannya adalah jika memang terpaksa berburu, keduanya bisa lebih fokus dan tak ada gangguan lain meski disengaja maupun tidak disengaja. Namun, ketika kabut mulai turun dan mengaburkan pandangan, Sasuke mulai khawatir akan keadaan Sakura. Perasaan tidak enaknya tadi pagi tiba-tiba kembali lagi entah karena apa.
Dia mencoba meyakinkan diri bahwa Sakura sanggup melindungi dirinya sendiri. Apa pun yang ada di hutan ini pasti bisa diatasi dengan kemampuan Sakura. Namun, sugesti terhadap diri sendiri tersebut tak cukup untuk menghilangkan firasat buruknya.
Tiba-tiba terdengar kepakan sayap burung yang tergesa-gesa dan disusul teriakan seorang perempuan yang semakin lama semakin menjauh. Dia mengenali suara tersebut. Itu suara Sakura. Dan benaknya langsung menyambungkan teriakan Sakura dengan orang-orang berpenampilan berantakan yang mereka temui tadi pagi.
Seharusnya Sasuke yakin bahwa Sakura mampu mengatasi mereka. Namun, teriakan kencang yang menjauh tadi cukup untuk meruntuhkan rasa yakin dan menumbuhkan rasa gentar.
.
.
Bersambung
