Sasuke begitu frustrasi. Paradigmanya sulit dibuat jernih, didominasi rasa panik dan kegamangan. Sakura merupakan gadis tangguh yang tak akan berteriak karena hal-hal remeh. Maka, apa yang menimpa gadis itu pastilah serius, bahkan bisa dikatakan sangat serius. Dia sudah kehilangan kedua orangtua, kakaknya, dan selama ini dia lupa bahwa Sakura pasti akan ada di daftar selanjutnya, meski entah kapan. Namun, dia tak tahu bahwa akan secepat ini.

Kepalan tangan Sasuke mengerat, napasnya terembus keras bersamaan dengan dibuangnya jauh-jauh kemungkinan terburuk yang baru saja melesat di otaknya. Semoga Sakura masih baik-baik saja, kata-kata itu terus diucap dalam hati sebagai sugesti untuk menenangkan diri. Dan agaknya, usaha tersebut tidak berjalan lancar. Hingga lebih dari dua puluh empat jam terlewati dengan otaknya yang kusut dan pergerakan yang dia lakukan menjadi terkesan tanpa perhitungan.

Ini adalah malam kedua semenjak Sasuke mendengar suara teriakan Sakura yang semakin menjauh. Kepanikan membuatnya enggan mengambil waktu untuk sekadar menelaah keadaan. Kalau sebelumnya dia geram pada Sakura karena asal bergerak tanpa berpikir dua kali, seharusnya dia geram pada diri sendiri sekarang. Mengingat hal tersebut, Sasuke mencoba tenang sejenak. Merenggangkan otot di sekujur tubuhnya agar paradigmanya bisa sejernih biasanya.

Seharusnya Sakura atau setidaknya jejak-jejaknya tidak sulit dicari jika mengingat bahwa teriakan gadis itu bisa sampai ke telinganya. Suara Sakura tidaklah sekeras itu. Jadi, Sasuke berkonklusi bahwa lokasi Sakura saat itu sesungguhnya tidak begitu jauh dengannya. Namun anehnya, dia tidak menemukan indikasi apa pun terhadap lokasi Sakura sekarang. Itulah yang membuatnya berpikir lebih keras.

Otak Sasuke terus menyusun akar kejadian yang membuatnya panik belakangan ini. Di mana kira-kira lokasi Sakura, sekuat apa sesuatu yang membuat gadis setangguh Sakura bisa berteriak seperti itu, bagaimana cara Sakura berteriak ... tunggu. Rasa-rasanya otak Sasuke mulai membuka jawaban atas masalah yang dia kategorikan pelik ini. Suara teriakan Sakura yang didengarnya saat itu seperti semakin menjauh, semakin mengecil layaknya ditelan dalam jangka waktu cepat. Kalau memang diculik, Sasuke yakin menjauhnya suara tersebut tak mungkin secepat itu. Memang terlalu cepat jika dia mengembuskan napas lega sekarang, tetapi dia yakin kesimpulan yang ditariknya merupakan hal benar. Yang dia harapkan saat ini adalah ketika dia berhasil menemukan Sakura, gadis itu ada di dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

.

.

Kesan pertama yang Sakura rasakan ketika kembali membuka mata adalah dia terkejut dirinya masih hidup. Dari kegelapan yang menyelubungi, dia memang sempat berpikiran sebaliknya. Namun, detak jantung normalnya yang terasa di dada membuatnya semakin meyakini hipotesis yang pertama.

Nyaris otot di sekujur tubuh Sakura terasa kebas dan nyeri. Ketika dia berusaha mendudukkan diri pun dilaluinya dengan sulit, seolah-olah tengah melakukan pekerjaan yang kelewat berat. Dia menghela napas, dan udara yang dihirupnya begitu pengap. Dagunya diangkat hingga kepalanya menengadah, menatap langit sehitam jelaga dari sentral sebuah jurang sempit sedalam lima kali lipat tinggi tubuhnya.

Sakura merasakan bagian-bagian di kulitnya yang paling terasa perih mengering, meski hanya beberapanya. Mungkin darah yang tadinya keluar karena luka yang menganga sudah diberhentikan darah putih. Menyadari hal tersebut, dia yakin dirinya sudah terjebak di sini cukup lama. Tangannya bergerak ke balik kepala, telapaknya merasakan basah dari cairan pekat. Dia meringis menyadari adanya luka di sana. Namun, dia benar-benar bersyukur masih bisa hidup setelah banyaknya luka yang menganga di sekujur tubuhnya. Di saat-saat seperti ini, profesinya sebagai shinobi sangat disyukuri. Karena tanpa hal tersebut, dia tak akan terbiasa dengan luka, dan kekacauan semacam ini bisa merenggut nyawanya begitu saja.

Yang membuatnya terjebak di kondisi seperti ini adalah kabut yang mengaburkan pandangannya dan dia yang terlalu ceroboh dalam mengambil langkah. Kakinya memijak mulut jurang yang memiliki dinding-dinding rapuh, hingga tak sanggup menahan bobot tubuhnya dan membuatnya terperosok. Tubuhnya berkali-kali terbanting kedua sisi jurang yang memang sempit. Benturan tubuh dengan dinding tersebut menimbulkan jatuhnya reruntuhan dalam bentuk besar maupun kecil, tangan dan kaki yang menyangga berusaha menghindarkan diri dari tabrakan keras dengan dasar jurang jadi sia-sia. Dan Sakura sama sekali belum menemukan solusi untuk bisa keluar dari sini, mengingat dinding-dinding di sampingnya yang kelewat rapuh.

Apa yang bisa Sakura harapkan saat ini adalah seseorang yang mampu menolongnya. Tiba-tiba dia memikirkan Sasuke. Apakah lelaki itu mencarinya selama dia menghilang? Sudah berapa lama dia terpisah darinya? Dia benar-benar buta dalam segala hal sekarang. Dari penglihatan, pencarian jalan keluar, dan mengenai waktu. Yang bisa dia ketahui adalah dia cukup lama berada di sini hingga luka-luka berukuran sedangnya mulai mengering, dan luka besarnya sudah tidak sebasah luka besar yang baru terbuka pada umumnya. Sakura meringis memikirkan seberapa besar kemungkinan dia terkena infeksi saat ini.

Harapan terbesar Sakura dijatuhkan pada Sasuke. Meski jika Sasuke tahu lokasinya sekarang, dia pun tak yakin bahwa lelaki itu bisa menemukan solusi untuk menyelamatkan dirinya (mengingat dinding rapuh jurang ini yang sangat menyulitkan untuk didaki, sekalipun menggunakan pemusatan chakra di tangan atau kaki). Setidaknya, kehadiran lelaki itu bisa membuatnya jauh lebih tenang. Namun, entahlah ... Sakura hanya bisa berharap saja.

Dan harapan Sakura terjawab oleh embusan angin keras yang membelai tubuhnya secara tiba-tiba, seolah-olah ada sesuatu yang melesat dengan begitu cepat di hadapannya. Dia tak mampu melihat, di sini terlalu gelap. Dan ketika sosok itu terasa merangkul tubuhnya yang ringkih, dia langsung tahu bahwa itu adalah Sasuke, dari cara sosok itu menyentuhnya, dari aroma tubuh yang menguar dari tubuhnya.

Sakura sudah diizinkan merasa lega ketika apa yang dilihatnya bukan lagi dinding-dinding kelewat tinggi yang menjulang di sisinya. Aroma alami dari pepohonan merasuk ke dalam hidungnya, suara arus air yang deras menabuh gendang telinganya. Dia sudah keluar dari jurang, dan mengutuk diri karena lupa bahwa Sasuke kapabel melakukan jurus perpindahan dengan mata rinnengan.

Tanpa tedeng aling-aling, Sakura langsung melengkapi rangkulannya pada tubuh Sasuke dengan pelukan erat yang kaku. Gerakannya meminimalisir rasa sakit yang menjalar di nyaris seluruh kulit pada tubuhnya. Dia hampir menangis karena tak percaya bisa selamat, dan yang menyelamatkannya adalah Sasuke. Wajahnya ditenggelamkan ke dalam bahu lelaki itu. Sementara Sasuke hanya diam, tak merespons. Tubuhnya bahkan sekaku pohon-pohon besar yang mengelilingi mereka.

"Kau menyelamatkanku, Sasuke-kun!" Suara Sakura bergetar, senada dengan kedua tangan yang melingkar di leher Sasuke. "Kalau kau tidak ada, mungkin aku akan mati membusuk di sana."

Sasuke masih diam. Tak merespons melalui kata-kata maupun bahasa tubuh. Sorot mata yang melewati bahu Sakura begitu kosong. Kedua netra hitam tersebut terbuka, tetapi tampaknya tak menatap apa-apa. Napas yang dihela dan dilepasnya sangat kaku, seolah jika tak diinstrusikan untuk begitu, dia tak akan bernapas sama sekali. Sasuke tampak seperti seseorang yang kelewat terguncang, hingga tak sanggup melakukan apa-apa. Mungkin aku akan mati membusuk di sana, ulangnya di dalam hati. Seketika dia meringis membayangkan hal tersebut benar-benar terjadi.

"Kau tahu, aku belum lama siuman dari pingsan saat kau menyelamatkanku." Suara Sakura teredam ke dalam bahu Sasuke. Dia berbicara dengan nada tenang, kedengarannya tak menyadari kakunya tubuh Sasuke saat ini. "Aku tidak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri."

Suara yang terdengar di sana hanyalah aliran arus air yang deras. Selain itu hanyalah keheningan yang bisa didengar. Sakura mulai sadar bahwa Sasuke belum berbicara sepatah kata pun padanya sedari tadi. Dalam keadaan masih mendekap, Sakura berbisik, "Sasuke-kun? Kenapa diam?"

Sasuke yang sedari tadi tampak tertegun kini menggerakkan tangannya, meletakkan telapaknya yang gemetar di pinggang Sakura. Telapak itu nyaris mencengkeram bagian tubuh Sakura. Pegangannya benar-benar erat, seolah-olah tengah menggenggam sebuah tiang yang akan menolongnya agar tak terjatuh ke dalam jurang.

"Sialan Sakura!" Suaranya keras, nadanya membentak. Kentara tampak seperti seseorang yang ketakutan, tetapi mencoba menenangkan dari bentakan-bentakan. "Kau benar-benar sialan!"

Sakura melebarkan kedua matanya. Sasuke yang tiba-tiba mengumpatinya setelah diam benar-benar mengejutkan. Dia ingin menarik diri dan menatap Sasuke, tetapi ada satu hal yang menahannya. "A-apa—"

"Jangan pernah lakukan ini lagi padaku! Jangan pernah!"

Kali ini Sasuke yang mengeratkan dekapannya. Menekan lengannya pada punggung Sakura, menenggelamkan wajah pada cerukan leher, hingga deru napasnya yang kini tak stabil menguapi kulit leher Sakura yang dilintangi beberapa lecet kecil. Kemudian telapak tangannya merambat dari pinggang dan semakin ke atas, menyentuh punggung, tengkuk, sampai berhenti di ubun-ubun.

Semuanya nyata. Gadis yang ada di dalam dekapannya benar-benar Sakura. Sakura yang menghilang dari sisinya selama lebih dari sehari dan semalam. Dia tidak kehilangan Sakura seperti apa yang sempat diduganya. Sakura masih di sini, bernapas, dengan jantung yang berdetak normal, hidup. Segala rasa takutnya sirna, terserap oleh eksistensi Sakura di hadapannya. Dia tidak tahu harus melampiaskan perasaan yang dinalarnya selain menarik tubuh Sakura semakin erat dengan tubuhnya.

"Sasuke-kun! A-aw, sssakit!" Sakura meringis. Sentuhan Sasuke terasa kasar dan menekan. Hal itu tak akan jadi masalah jika dia bukanlah seseorang yang baru saja jatuh ke dalam jurang. Rasa sakit yang sebelumnya bisa dia abaikan, kini justru bertambah dan melewati batas toleransi Sakura.

Mendengar keluhan Sakura, tubuh Sasuke membeku. Dia baru sadar bahwa di tangannya ada cairan kental setelah melarikan telapaknya pada punggung sampai ubun-ubun Sakura. Ketika dia mengepal tangannya, tak butuh waktu lama hingga sadar cairan itu adalah darah. Napasnya tertahan seketika. Ternyata kondisi Sakura tidak sebaik apa yang dia kira. "Apa yang terjadi?" bisiknya dengan nada cemas.

Merasakan Sasuke hendak menarik diri, Sakura segera mengeratkan dekapannya lagi. Menunda lelaki itu untuk melepaskan diri. "Jangan mundurkan tubuhmu dulu. Hmm ... boleh kupinjam jubahmu? Punyaku sepertinya tersangkut di jurang ... dan—ehm, pakaianku sobek di beberapa bagian." Tubuhnya merinding ketika merasakan angin menyusup ke tengah celah antara tubuhnya dan tubuh Sasuke, dan langsung menghunjam kulitnya yang terbuka.

Sasuke diam, melupakan kekalutan yang masih terasa meski Sakura sudah ada di dalam tangannya. Dia melepas jubah hitamnya dan langsung menyelimuti tubuh Sakura. Gadis itu memundurkan tubuhnya sedikit untuk memberi ruang pada kain hitam tersebut agar bisa menutupi bagian depannya yang terbuka. Semenjak Sakura diselamatkan oleh Sasuke, baru kali ini mereka saling bersitatap kembali. Tatapan yang teduh bertumbukkan dengan sorot mata penuh kecemasan.

"Maaf membuatmu khawatir," kata Sakura sembari menggenggam tangan Sasuke yang masih terasa gemetar. Dalam situasi lain, jika Sasuke membentak atau mengumpatinya, Sakura akan membalas sampai terjadi pertengkaran yang tak serius. Namun, kali ini kondisinya berbeda. Dari cara Sasuke menatapnya cemas, membentaknya seperti tadi, Sakura paham bahwa lelaki itu benar-benar khawatir, bahkan takut. Akan sangat tidak etis jika dia justru menjadi api yang melawan api. "Aku baik-baik saja. Luka ini bisa kuatasi."

"Jangan buat aku merasa seperti ini lagi, Sakura," peringat Sasuke dengan napas terputus. "Kau menghilang selama dua hari."

Sakura mengangguk dan mengecup bibir Sasuke singkat. "Aku janji."

.

.

Hal terakhir yang dilakukan di Negara Air adalah Sakura yang menulis surat untuk kedua orangtuanya. Saat itu dia mengutuk diri, lantaran membiarkan hal sepenting ini terlepas dari otaknya. Isi dari surat tersebut adalah mengabari tentang bagaimana kondisinya dan dengan siapa dia sekarang. Awalnya Sakura bingung, ingin membahas soal lamaran Sasuke di surat, tetapi rasanya aneh. Hal seperti ini perlu dibahas dengan serius. Maka, yang diberitahukan melalui suratnya hanyalah dia yang sudah menjalin hubungan dengan Sasuke, tak menyebut lamaran. Sakura harap dia tak dianggap berbohong, karena secara teknis memang tidak (mengingat jari manisnya sama sekali belum dilingkari cincin dalam bentuk apa pun). Kalimat terakhir yang tertulis di surat tersebut adalah pernyataan bahwa jika surat ini sudah dibalas, apa pun jawabannya, mereka akan segera kembali ke Konoha. Hal ini sudah dibicarakan dengan Sasuke sebelumnya.

Dua minggu sudah terlewati semenjak hari itu. Kini, Sasuke dan Sakura sudah menyeberangi lautan, berpijak di atas negeri yang didominasi warna putih, Negara Salju. Hal pertama yang ingin Sakura lakukan adalah belanja pakaian, dia bahkan tak ingat kapan terakhir kali dia belanja bahan sandang. Dan mencoba menjadi sosok yang pengertian, dia tak memaksa Sasuke untuk menemaninya, karena pasti akan teramat sangat membosankan bagi lelaki itu. Maka, dia dan Sasuke mengambil jalan yang berbeda ketika sudah memasuki daerah pertokoan.

Setelah keduanya selesai, mereka mencari penginapan, yang untungnya tak sulit ditemukan. Tepat setelah Sakura menyibak tirai jendela, badai salju terjadi di luar sana. Bukan badai yang besar, tetapi lebih dari cukup untuk membuat semua orang menetap di bawah atap. Sakura mendengus kesal, padahal dia masih ingin keluar. Namun, cuaca tampaknya tak mengizinkan.

Kejenuhan mulai merambat di hatinya. Sakura menopang dagu dan menatap kaca jendela yang menjadi media kondensasi. Sasuke baru saja keluar kamar, saking jenuhnya dia sampai lupa apa alasannya.

Kaca yang berembun di depannya membuat Sakura teringat akan kebiasaannya dulu yang suka menulis abstrak menggunakan jari. Tugas menopang dagu mengalami transisi, dari tangan kanan ke tangan kiri. Kini jemari telunjuk di tangan kanannya menyentuh kaca dan mengukir tulisan-tulisan. Seketika tubuhnya membeku saat mendengar suara pintu yang dibuka.

Melihat bahu Sakura yang tiba-tiba menegang tampak mencurigakan bagi Sasuke. Matanya menyipit melihat Sakura yang langsung menutup jendela dengan tirai. Dia duduk di sisi tempat tidur. Sakura masih membelakangi tubuhnya.

"Kau kelihatan kaget," ujar Sasuke. "Apa yang kaulakukan?"

Sakura memutar tubuh dan menahan tirai dengan tangannya. Tatapan matanya kaku. Diselipkannya rambut ke belakang telinga karena merasa gugup. "Tidak ada."

Dahi Sasuke mengernyit. Dia melempar tatapan bertanya pada Sakura. Lalu, dia beringsut mendekati jendela dan berusaha membuka tirai, tetapi ditahan oleh Sakura.

"Jangan dibuka!" larang Sakura.

Sasuke mendecak. "Ini masih siang."

Sakura melarangnya lagi. Namun, Sasuke bersikukuh untuk membukanya. Keduanya melakukan kegiatan tarik-menarik pada tirai sebagai pemaksaan kehendak masing-masing.

"Kalau sobek kita harus ganti rugi!"

"Makanya kubilang jangan dibuka!"

Sasuke diam, lalu mendecak keras. Dia melepas pegangannya pada tirai. Matanya melempar sebuah sorot mata tajam yang tampak curiga, hingga sekilas dia melihat Sakura merinding di bawah tatapannya. "Kau memerhatikan sesuatu yang aneh di balik jendela," tuduhnya.

"Aneh? Aneh apa? Tidak ada yang bisa kulihat selain badai salju!" Sakura menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dia membuang muka.

Melihat posisi Sakura yang tampak lengah, dia menyeringai tipis. Bagaimanapun dia masih penasaran apa yang gadis itu tutup-tutupi di balik jendela. Suara sibakan tirai yang menggema membuat Sakura melebarkan kedua matanya. Sontak dia teriak dan menutupi wajahnya. Dia baru sadar bahwa tangannya tak lagi menjaga tirai dari Sasuke.

Sementara Sasuke hanya mendengus menahan tawa melihat apa yang Sakura tutupi sedari tadi. Di jendela berembun tersebut terdapat gambar sebuah payung dengan nama Sasuke dan Sakura di masing-masing sisinya. "Ini yang kaututupi sedari tadi? Dasar anak kecil," ejeknya dengan seringai di bibir.

Sakura memekik dan langsung menghapus tulisan tersebut dengan tangannya. Dia tahu Sasuke akan mengejeknya setelah melihat hasil tangannya. Lagi pula dia malu. Dia tahu Sasuke bukanlah seseorang yang memamerkan afeksi dengan sesuatu yang klise seperti ini. Dan Sasuke benar, ini bukanlah hal yang dilakukan oleh seseorang yang berusia dua puluh satu tahun. Sakura merengut lantaran baru diejek anak kecil oleh Sasuke yang notabene berumur beberapa bulan lebih muda daripada dirinya.

"Ini salahmu karena pergi ketika aku sedang bosan! Dan yang tadi adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan," elak Sakura dengan pipi merona. Panas di wajahnya bertambah ketika melihat Sasuke masih saja menyeringai.

"Aku tidak mendengarmu protes tadi," balas Sasuke. Lalu dia mengangkat bahu. "Lagi pula tidak ada yang perlu dipersalahkan."

"Terserah."

Sakura menyilangkan tangan di depan dada lagi. Dia membuang muka ke arah jendela yang bekas-bekas kondensasinya telah hilang setengah. Mengingat Sasuke bilang tak ada yang perlu dipersalahkan, perasaan malunya tadi sudah menguap entah ke mana, meski dia tadi sok menanggapi dengan gestur tak acuh. "Pokoknya saat badai berhenti kita harus keluar!" katanya mutlak.

"Hn." Sasuke menanggapi sekenanya.

"Aku mau mengajakmu minum—"

"Tidak ada minum sake!" potong Sasuke dengan nada tegas dan mutlak. Matanya menatap mata Sakura yang memancarkan rasa heran.

Dengan dahi yang mengernyit, Sakura berujar, "Aku baru mau bilang "ke kedai kopi". Kenapa, sih, kau sentimen sekali mengenai aku yang minum sake? Hei, upacara pernikahan ada ritual minum sake, tahu!"

"Itu beda perkara," tanggap Sasuke. "Itu tak akan membuatmu sampai mabuk."

"Kau terus menerus menekanku untuk tidak mabuk, tetapi tak pernah mengatakan alasannya."

"Aku yakin kau tak mau mendengar alasannya."

"Coba saja."

"Tidak."

"Beri tahu aku, Sasuke-kun!"

"Tidak mau."

"Sasuke-kuun!"

"Tidak, Sakura."

Sakura benar-benar penasaran sekarang. Dia yakin memang terjadi sesuatu saat dia mabuk, karena tanggapan Sasuke sekarang dan tanggapannya dulu mengenai ini berbeda. Sebelumnya Sasuke menjawab dengan "Tidak ada" bukan "Tidak mau" atau "Kau tidak mau mendengarnya". Dia tak punya ide apa yang membuat Sasuke menutupi ini. Apakah begitu memalukan bagi dirinya ... atau bahkan untuk Sasuke sendiri? Entahlah, pikiran Sakura benar-benar kosong tentang ini.

"Kalau kau menolak memberi tahu, tidak apa-apa." Sakura tersenyum simpul. Entah kenapa senyum itu diterima sebagai ekspresi yang menyebalkan bagi Sasuke. "Aku bisa mencari tahu ... dengan cara ... mabuk."

"Tidak boleh!" Nah, benar, kan. Senyum itu senyum menyebalkan.

"Makanya katakan atau aku cari tahu sendiri!"

Sasuke mendengus kesal. Dia melempar tatapan terganggu, seperti apa yang sering dia lakukan pada Sakura saat keduanya masih genin dulu. "Jangan salahkan aku kalau kau menyesal mendengarnya."

"Oke."

Menarik napas panjang ternyata tak cukup untuk meyakinkan Sasuke membocorkan apa yang sudah dia tutupi selama ini. Dia yakin ini akan memalukan untuk Sakura, juga untuk dirinya. Itulah yang membuatnya menetap pada skeptisme. Namun, mengingat Sakura yang tak pernah bermain-main dalam kata-katanya memaksanya untuk membuka rahasia.

"Kau menggodaku." Sasuke mengalihkan pandangan dari mata Sakura. Dia berdeham untuk menetralisir kecanggungan. Di dalam benaknya berputar kembali masa-masa yang selama ini sangat Sasuke hindari, dan dia mengerang karenanya.

"Hah?" Sakura terperangah. "Ma-maksudmu? Katakan secara spesifik!"

"Sudah kubilang, kau akan menyesal." Diam-diam Sasuke berharap Sakura mau mengubah pikirannya.

"Tidak, tidak. Kumohon katakan saja," ucap Sakura dengan nada penasaran sekaligus gugup di saat yang sama. Dia khawatir kata-kata Sasuke tadi mengacu pada hal yang tidak-tidak. "Kalau aku tahu ... setidaknya hal ini akan membuatku benar-benar menuruti kata-katamu, bukan? Yah, kalau benar sampai membuatku menyesal bertanya."

Lagi-lagi Sasuke berdeham. Dia yakin seseorang seperti Sakura pasti akan malu setengah mati setelah mendengar apa yang berputar-putar di dalam kepala Sasuke. Bahkan, dia saja merasa malu untuk menceritakannya. Namun, kata-kata Sakura ada benarnya. Setidaknya ini akan membuat Sakura benar-benar menjauhi sebuah kondisi berbahaya yang dikatakan mabuk.

"Kau menciumku ...," Sasuke menangkap tatapan heran yang dilempar Sakura setelah mendengar kata-katanya, "... dengan kasar." Dan kini tatapan heran itu berubah menjadi tatapan horor. Sasuke merasa wajahnya memanas, entah sampai memerah atau tidak. "Kau bahkan mengecupi telingaku saat aku menggendongmu ke penginapan dan mende—"

"Kyaaaaaaa!" Sakura menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Seluruh mukanya memanas dan memerah, bahkan sampai merambat ke telinga dan leher ketika membayangkan dia ada di posisi yang Sasuke ceritakan. "Cukup, cukup! Jangan diteruskan!"

Sasuke mendengus. "Apa kubilang."

Sakura masih tenggelam ke dalam rasa malunya. Butuh waktu cukup lama hingga dia berhenti memekik. Dia menatap Sasuke melalui celah-celah jari yang menempel di wajahnya. Sorot matanya curiga. "Apa yang kaulakukan setelah itu?" tanyanya takut-takut.

Menangkap kecurigaan di mata Sakura, Sasuke mendecak kesal. "Seharusnya kau ingat bahwa kita sama-sama masih berpakaian lengkap saat bangun."

Sebuah bantal mendarat di wajah Sasuke dengan pukulan yang cukup keras. "Jangan jawab begitu, Sasuke-kun!" Sakura benar-benar malu sekarang. Apalagi otaknya sempat membayangkan kondisi yang 180 derajat berbeda dengan yang Sasuke katakan. Benar apa kata lelaki itu, dia akan menyesal karena sudah bertanya, dengan bersikukuh pula. Sekarang dia membuat catatan mental untuk tak akan mabuk lagi, tanpa ada keraguan sama sekali. Sakura mengerti sekarang mengapa Sasuke menghindari pemberian informasi mengenai ini.

Sasuke mendengus merasakan bekas pukulan bantal yang masih terasa di wajahnya, disertai tenaga Sakura pula. Bukankah tadi gadis itu mengiyakan untuk tidak menyalahkan dirinya jika dia menyesal bertanya? Dan yang terjadi justru lebih-lebih dari kesepakatan itu.

Setelah segala pernyataan yang sudah Sasuke berikan padanya, Sakura jadi sadar akan sesuatu. Dia pernah dengar orang-orang yang seusia dengan dirinya, atau bahkan yang lebih muda, melepas keperawanannya sebelum menikah karena kekasihnya yang meminta atau memulai. Sementara Sasuke sungguh-sungguh berbeda. Ketika memiliki kesempatan besar pun, lelaki itu justru menghindarinya. Dia ingat kesempatan semacam itu sudah pernah Sasuke hadapi lebih dari satu kali, dan dia sama sekali tak mengambil keuntungan. Entah kenapa kenyataan tersebut membuat Sakura tersenyum simpul setelah mulai melupakan rasa malunya.

"Sasuke-kun ... kau tidak pernah meminta lebih dariku." Kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari bibirnya. Sontak dia terkejut dengan perkataannya.

"Meminta lebih? Maksudmu?"

"Mmm ... ya ... itu." Dan Sakura menyesali pengendalian lidahnya yang buruk. Dia menatap Sasuke dengan pipi yang merona. "Hei, aku yakin kau pasti mengerti maksudku!"

Sasuke memasang ekspresi datar. Tangannya tergerak untuk mengusap pipi Sakura dan menyelipkan helai-helai merah muda ke balik cuping telinganya. Dia memajukan tubuh, mengikis jarak yang terbentang di antara dirinya dan Sakura. Jarak tersebut dihapus oleh bibir yang saling menempel erat dan lumatan pertama yang dilakukan Sasuke.

Tubuh Sakura mendadak bergetar. Dia gugup, gugup, dan gugup, juga teramat sangat takut. Memang, ini bukan ciuman pertama, seharusnya dia tidak gugup dan takut seperti ini. Namun, rasanya kelewat lain jika terjadi setelah Sakura berbicara seperti tadi. Dia memang membahas, tetapi bukan berarti hal tersebut merupakan undangan terbuka bagi Sasuke. Matanya terpejam erat-erat ketika tangan yang menempel di pipinya merambat ke bawah, membelai rahang, dan menyelinap ke balik kerah tingginya. Dan rasa takut Sakura semakin membumbung tinggi. Padahal, baru saja dia tersenyum karena berpikir bahwa Sasuke berbeda dengan lelaki lain. Dia ingin mendorong Sasuke saat ini juga. Akan tetapi, tangannya terasa kaku. Rasa takut telah membuat sarafnya lumpuh.

Napasnya tertahan ketika bibirnya yang terkatup rapat dan kaku merasakan kontak dengan lidah Sasuke. Organ tak bertulang itu menyapu bibirnya, dan menekan-nekan batas bibirnya. Sesekali dia merasa Sasuke menggigit bibir bawahnya, meski tak sampai sakit. Tak cukup sampai di situ, ujung jari-jari Sasuke mengusap lehernya, menekan-nekan tengkuknya, dan melakukan gerakan memutar di tulang selangkanya. Sakura nyaris memekik kencang membayangkan tangan itu akan merambat semakin ke bawah, bawah, dan bawah, tetapi tertahan karena pagutan sepihak tersebut terlepas begitu saja.

Perlahan-lahan dia membuka matanya, tetapi masih tak punya nyali untuk menatap wajah Sasuke setelah apa yang terjadi. Gemetar masih menghantui tubuhnya. Dia teramat takut, alih-alih merona malu seperti terlepas dari ciuman-ciuman yang sebelumnya. Namun, gemetar itu berhenti sedikit demi sedikit setelah Sasuke mengetuk dahinya menggunakan kedua ujung jari. Matanya langsung mencari-cari mata Sasuke untuk melemparkan pertanyaan tersirat, meski dia masih takut.

Yang didapatinya adalah Sasuke yang menggeleng, lantas berbisik, "Nanti."

Dan tubuh Sakura merosot ke bawah karena dilingkupi perasaan lega, meski dia tak tahu secara spesifik kapan yang dimaksud dari kata-kata Sasuke. Setidaknya bukan sekarang. Dia masih takut dan jauh dari kata siap. Namun, ada sebuah pertanyaan sensitif yang muncul di kepalanya. Yang jawabannya mungkin akan membuatnya lega luar biasa, atau justru membuatnya sangat kecewa.

"Ka-kau berhenti karena merasakan aku ... mmm ... ta-takut?"

"Kau takut atau tidak aku akan berhenti sampai di situ." Wajah datar itu meneduh. Kemudian Sasuke menggenggam tangan Sakura yang masih gemetar. "Sakura, dengarkan aku. Di dalam pikiran pria hanya ada satu hal, kebanyakannya. Kau pasti mengerti maksudku. Tapi aku bukanlah satu dari kebanyakan itu."

"Tapi tadi kau—"

"Aku tidak akan pernah melakukan yang lebih dari itu sampai kau menjadi istriku." Sasuke mendesah mendapati Sakura yang tampaknya sempat berpikir macam-macam atas apa yang dia lakukan. Awalnya dia tak mengerti maksud dari kata-kata Sakura. Apakah itu mengajak, meminta, atau sekadar mengomentari. Dia ingat betul dirinya masih harus memutar otak untuk memahami Sakura dan segala tindakan-tindakan yang dilakukannya. Maka, dia memastikan sendiri dengan cara tadi. Dari tubuh Sakura yang gemetar tanpa henti, dia tahu bahwa pernyataan Sakura sama sekali tak bersifat persuasif, melainkan hanya sebuah komentar.

Sakura nyaris menangis sebelum merasakan sesuatu yang asing di tangannya. Tepatnya di jari manisnya. Sesuatu yang dingin dan melingkar, tak butuh waktu lama hingga dia menyadari bahwa itu cincin. Kapan Sasuke memasangnya, dia sama sekali tidak tahu.

"Sasuke-kun, i-ini ...?"

"Hn."

Dan ketika melihat cincin tersebut dan tatapan mata Sasuke yang melembut dengan mata kepalanya sendiri, Sakura benar-benar menumpahkan air matanya.

"Kau yang terbaik!" Kedua tangannya mendekap tubuh Sasuke erat-erat. "Aku mencintaimu."

Sasuke diam, meresapi kehangatan yang menguar dari tubuh Sakura. "Aku tahu." Kemudian bibirnya mengulas sebuah senyum tipis, menyukai presensi benda dingin yang terasa di tengah-tengah kehangatan telapak tangan yang menempel di tengkuknya. "Aku juga mencintaimu."

.

.

Sakura menambahkan kayu pada api unggun yang intensitasnya mulai mengecil. Di Negara Salju, nyala api tak hanya dibutuhkan di malam hari, melainkan di siang hari juga, sekalipun ada di dalam gua yang notabene tidak sedingin di ruangan terbuka. Dia mengangkat dagu ketika mendengar suara benturan berkali-kali dengan tanah. Sumber suaranya adalah Sasuke yang sengaja menjatuhkan persediaan kayu untuk dibakar lagi jika yang menyala-nyala sekarang sudah mengubah tumpukan benda tersebut menjadi jelaga.

Ketika api mulai membesar kembali, Sakura merentangkan tangannya ke depan. Dia tak meniup telapak tangan untuk menghangatkan diri seperti yang biasa dilakukan, karena situasi sekarang membuat hal tersebut menjadi jauh dari kata cukup. Matanya melirik pada jubah krem yang dia beli saat baru mendarat di Negara Salju dan jubah hitam milik Sasuke yang masih tampak basah karena sempat terhujani salju yang mencair. Kalau api membantu kain-kain tersebut mengering dan menghasilkan hal bagus, untuk tetesan es yang sebelumnya beku di langit-langit gua justru sebaliknya. Saat awal-awal menyalakan api, mereka sempat mengalami apa yang namanya hujan lokal dari es mencair di atas kepala. Kedua-duanya sempat tak memperhitungkan hal tersebut, hingga nyaris seluruh barang bawaan yang sudah dikeluarkan menjadi basah.

Semenjak peristiwa tersebut, Sakura terus berdiam diri sampai Sasuke keheranan karenanya. Biasanya Sakura akan cerewet, berbicara apa saja untuk memecah keheningan. Dan kalaupun tak bicara, dia akan melakukan sesuatu yang akan membuat mereka berdebat atau interaksi lainnya, bukan membisu dan pasif seperti ini. Sasuke sempat bertanya ada apa, tetapi dijawab dengan pernyataan bahwa dia baik-baik dengan senyum yang entah mengapa tampak getir di matanya.

Sebenarnya Sakura tidak baik-baik saja. Kondisi seperti ini seolah-olah tengah menamparnya. Dinding-dinding gua dan segala yang ada di dalamnya seakan berbisik secara berkala, "Ini bukan rumah. Ini bukan rumah. Ini bukan rumah." Hal tersebut membuat tumpukan rindu di dalam dadanya semakin meninggi dan saking tingginya nyaris tumpah. Selama ini Sakura diam-diam selalu mengharapkan surat balasan dari kedua orangtuanya segera datang, agar dia bisa pulang tanpa meminta lagi pada Sasuke. Dia bisa saja bilang bahwa dia rindu rumah, rindu Konoha, dan meminta Sasuke untuk membawanya pulang. Akan tetapi, hatinya tak sampai. Dia takut Sasuke merasa bersalah. Dia takut Sasuke merasa tertekan. Dan dia takut kalau-kalau Sasuke belum siap. Meski segala hal tersebut harus dihadapi saat surat balasan datang, tetapi Sakura tetap berpikir bahwa dia yang meminta pulang akan terasa salah.

Sasuke duduk bersila di sampingnya. Keheningan masih menyelubungi keduanya. Tiba-tiba Sakura menoleh ke arah Sasuke dan bertanya, "Sasuke-kun, sekarang tanggal berapa, ya?"

Sasuke mencoba mengingat sekarang tanggal berapa. Namun, dia tak memiliki jawaban. Berkelana seperti ini membuatnya buta tanggal, bahkan sekarang hari apa pun dia tidak tahu. Hal-hal tersebut tak bisa dinalar dari alam. Paling-paling hanya dari kondisi bulan. Jika sudah purnama, berarti menunjukkan tengah bulan, tak menunjukkan secara spesifik.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. Akhir-akhir ini pun dia tak begitu memerhatikan bentuk bulan. "Kenapa?"

"Hmm ... tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan apakah perkiraanku bahwa surat belum dibalas selama satu bulan benar atau tidak." Sakura menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia memeluk dirinya sendiri. Satu bulan merupakan waktu yang lama. Terlepas dari rasa rindunya terhadap rumah, dia tak punya ide kenapa orangtuanya belum membalas hingga saat ini juga. Apakah perkataan Sasuke mengenai orangtuanya yang tak menyukai dirinya itu benar-benar serius dan mengindikasikan pada tidak suka yang tak bersifat bercanda seperti yang dia kira sebelumnya? Ini merupakan spekulasi berdasar. Menggunakan burung, surat tidak mungkin sampai selama itu. Ketiadaan balasan surat membuat Sakura merasa diabaikan, bahkan tak diinginkan. Jika orangtuanya memang tak membalas surat, bukankah berarti kasusnya bisa sama dengan tak menginginkan Sakura pulang? Hati Sakura terasa sangat pedih memikirkannya.

Sasuke tertegun. Rasanya dia mulai memahami latar belakang Sakura yang tampak galau sedari tadi. Gadis itu merindukan kedua orangtuanya. Dia tak tahu harus menanggapi apa selain dengan keheningan. Dia tak akan menyamakan apa yang Sakura rasakan sekarang dengan rindu yang dia rasakan semenjak kehilangan kedua orangtuanya. Dia yakin yang melanda Sakura tidak sekompleks itu. Maka, dia menyamakan apa yang Sakura rasakan sekarang dengan saat-saat dia harus tinggal berdua dengan sang kakak karena kedua orangtuanya memiliki keperluan di luar desa dalam jangka waktu panjang. Sasuke pikir dia memahami perasaan Sakura. Padahal, apa yang Sakura alami sekarang lebih dari sekadar rindu.

Mata Sakura terasa gatal. Dia menguceknya sebelum penyebab gatal itu memunculkan diri. Dalam hati dia berharap dinginnya temperatur di udara cukup untuk membekukan air matanya. Dia sama sekali tak mau menangis di hadapan Sasuke ketika masalah yang melandanya sama sekali tak mau dia bagi.

Sementara Sasuke masih kehabisan kata-katanya. Dia sadar betul Sakura tengah menahan diri untuk tak menangis. Kemudian dia membayangkan seberapa banyak tangis yang Sakura tumpahkan selagi rindu padanya, mengingat sikap gadis ini masihlah cengeng hingga sekarang.

"Omong-omong, aku jadi penasaran sebesar apa perut Hinata sekarang," ungkap Sakura sebagai pengalihan. Tanpa disadari, suaranya sengau. "Aku juga sudah lama tidak kontak dengan yang lain. Ino juga mungkin sudah hamil ... mungkin? Temari juga."

Mendengar kekehan yang terasa janggal di telinga, Sasuke menoleh dan menatap wajah Sakura. Yang diduganya merupakan ekspresi ceria yang tidak tulus. Namun, yang dia dapati adalah wajah yang tampak sedang bermimpi dan membayangkan sesuatu. Akan tetapi, Sasuke tak melewatkan mata Sakura yang berkaca-kaca dari pantulan jingganya api. Dan Sasuke memiliki sebuah kesimpulan baru, bahwa—

"Kau merindukan Konoha."

Sesuatu seperti itu luput dari benak Sasuke selama ini. Dia tak pernah mengalami apa yang namanya merindukan kampung halaman. Selama berkelana, yang dirasakannya hanyalah merindukan Sakura secara spesifik. Sekarang pun dia tak merindukan apa-apa. Kecuali persaingannya dengan Naruto, barangkali?

Sakura diam. Air matanya nyaris tumpah begitu saja. Dia sama sekali tak sadar bahwa kata-katanya tadi mengindikasikan apa yang dia rasakan. Dan tangisnya pecah saat merasakan Sasuke merangkul tubuhnya, hingga wajahnya tenggelam ke dalam dada lelaki itu. Sasuke sangat jarang memeluk Sakura duluan seperti ini, dan dia melakukannya karena tahu bahwa Sakura membutuhkannya. Dan jauh di dalam lubuk hatinya ... dia pun merasa bahwa dia membutuhkan hal ini juga.

Isakan-isakan yang menabuh gendang telinga Sasuke mulai menusuk dadanya. Air mata gadis itu merembesi pakaiannya. Meski tak diucap secara vebal, dia tahu bahwa Sakura ingin pulang, dan yakin ini bukanlah sebuah emosi temporer. Yang membuatnya mengutuk diri adalah dirinya yang sama sekali belum siap mengantar Sakura pulang. Dia tak yakin sanggup menetap di Konoha. Rasanya benar-benar sulit untuk memaafkan diri sendiri seperti apa yang Sakura pinta. Dan kalaupun dia berhasil mengantar Sakura pulang kemudian diizinkan untuk pergi lagi, Sasuke sendiri tak yakin bisa hidup berjauhan dari Sakura setelah segala hal yang terjadi. Dan sekarang ... dia tak tahu harus membuahkan solusi macam apa untuk persoalan yang tengah dihadapi.

.

.

Bersambung