Sasuke tak ingat sejak kapan Sakura sudah berhenti menangis. Yang dia ketahui adalah gadis itu tak beranjak dari dekapannya sama sekali sampai kantuk merajai. Sebelah tangan yang tadinya mencengkeram erat kain yang melapisi dadanya melemah, berubah menjadi sentuhan ringan telapak tangan pada dada. Isakan yang sebelumnya dibantu gema oleh gua, kini menjelma menjadi hela dan embus napas ringan. Sakura tertidur di dalam tangannya seperti tak terjadi apa pun sebelumnya.
Sakura adalah seseorang yang penuh dengan kasih sayang secara alami, sementara Sasuke justru adalah seseorang yang dipaksa melupakan hal tersebut karena memang terenggut begitu saja. Sasuke banyak belajar dari Sakura mengenai ini. Dia tahu betapa nyamannya ketika Sakura menyentuh pipinya, maka kini dia melakukan hal yang sama, sembari menghapus jejak-jejak air mata yang justru menjadi kotor karena sentuhannya. Dia lupa bahwa jemarinya baru saja menyentuh jelaga sebelumnya.
Apa yang terjadi barusan seolah-olah menekankan sesuatu. Tangan Sasuke adalah tangan yang merusak, bahkan cocok jika dianalogikan dengan apa yang baru saja dia lakukan terhadap pipi Sakura. Sementara tangan Sakura merupakan tangan-tangan penyembuh, tangan-tangan yang mengobati luka. Kentara sekali bahwa keduanya berbeda 180 derajat. Akan tetapi, dengan tangan yang merusaknya, Sasuke masih ingin merengkuh Sakura untuk tetap bersamanya. Meski dia tahu jelas akan ada hati yang terluka di sini karena rasa rindu yang tak bisa diobati. Tangan itu merusak lagi.
Dia tahu dirinya berkeputusan egois. Dia belum mau melawan egonya untuk menguatkan diri menetap di Konoha meski dia tahu jelas bahwa Sakura akan menemaninya, membimbingnya, kapan pun dia mau. Yang dia inginkan adalah Sakura menemaninya dalam pengelanaannya, bukan di Konoha, untuk sekarang. Konoha memang tanah kelahirannya, tetapi bukanlah rumahnya. Rumahnya adalah Sakura. Dan Sakura ada tepat di sisinya sekarang. Maka, dia tak perlu pulang.
Dalam keadaan seperti ini, hal-hal yang sudah berusaha dia kubur dalam-dalam seakan-akan merangkak keluar lagi. Dia ingat betul pernah mengunjungi salah satu desa ninja tersembunyi di pengelanaan pertamanya. Dan di sana dia tidak diperlakukan baik-baik. Kesinisan sering kali dia terima, apalagi ketika kabar bahwa adanya eksistensi seorang mantan kriminal kelas internasional sampai ke pemimpin daerah. Meski status "mantan" masih disebut-sebut, tetapi Sasuke sama sekali tak merasakan keringanan. Dia ingat pahitnya dicemooh, disudutkan, dan diusir. Dirinya memang tak mau mengakui, tetapi salah satu alasan dia belum mau menetap di Konoha adalah dia khawatir hal-hal yang terjadi di desa tersebut akan terulang lagi di tanah kelahirannya sendiri.
Hukum negara bisa memaafkannya hanya dengan modal hitam di atas putih, tetapi hukum masyarakat bertaraf jauh lebih rumit daripada itu. Dan Sasuke sangat memahaminya, bahkan mengalaminya dengan fisik dan batinnya sendiri.
Ketika dia menapakkan kaki di Konoha untuk menemui Sakura sesuai dengan janjinya, awalnya segalanya terasa begitu mudah. Dia merasa segalanya baik-baik saja dan benar. Namun, setelah berminggu-minggu terlewati, Sasuke sadar bahwa dia belum menemukan maupun merasakan penebusan yang menjadi tujuannya sebelum ini. Belum saatnya dia pulang, belum saatnya dia menetap dan merasa nyaman. Dia perlu pergi lagi lebih lama, entah sampai kapan, hingga dia merasa kesalahannya bertahun-tahun terbalaskan oleh tubuhnya sendiri yang telah merasa lelah mengembara.
Karena sadar bahwa Sakura akan memberatkan langkahnya, meski gadis itu mempersilakan dengan kata-katanya sendiri, dia pergi tanpa mengatakan apa-apa pada Sakura. Dan perasaannya mengkhianati prinsipnya, dia lega ketika Sakura meminta ikut dengannya. Padahal itu salah. Tidak seharusnya begitu. Apalagi, sekarang dia yang berharap bahwa surat Sakura dibalas lebih lama lagi agar dia masih punya waktu sebelum menetap di Konoha (meski dia mengerti hal ini akan memberi kesan bahwa kedua orangtua Sakura tak menginginkan mereka kembali ke Konoha, yang mana sedikit menyentilnya), pun berharap Sakura tetap di sisinya sampai entah kapan. Ini lebih salah. Dia mengutuk diri sendiri atas ini, tetapi tak sanggup menyangkalnya.
Sasuke memperbaiki posisi tidur Sakura hingga kepala gadis itu menyandar di atas pangkuannya. Dengan segala pikiran yang berputar di otaknya, dia tahu dirinya tak akan bisa tidur malam ini. Dia menepuk telapaknya pada sisi tubuh hingga jejak jelaga menghilang, kemudian menyentuh rambut Sakura dengan hati-hati. Rontok. Barangkali efek dari terlalu sering terkena sinar matahari, hujan, atau perubahan cuaca yang tak tentu. Di Konoha pun itu sering terjadi. Namun, di sana Sakura bisa merawat rambutnya, berbeda dengan di sini. Satu hal lagi yang menyudutkan Sasuke untuk membawa Sakura kembali ke Konoha. Akan tetapi, dia belum bisa.
Dengan embusan napas berat, tatapan mata yang tak terlepas dari wajah Sakura, Sasuke bergumam pelan sekali, "Sakura, beri aku waktu lebih lama lagi."
.
.
Api masih menyala. Sakura nyaris terperanjat panik karena takut gua ini telah terbakar akibat dirinya dan Sasuke yang lalai tak mematikan api sebelum tidur. Namun, satu-satunya hal yang terbakar adalah kayu-kayu di perapian. Sedikit aneh, kecuali jika Sasuke memang terjaga semalaman. Dan itulah yang menjadi satu-satunya kesimpulan saat ini. Kesimpulan yang membuatnya khawatir karena memikirkan apa penyebab Sasuke sampai terjaga.
Kedua mata Sakura terbuka sepenuhnya. Dia melirik ke mulut gua, langit cenderung masih gelap. Jika diterka dari betapa lebih dinginnya udara, Sakura menebak saat ini adalah pukul tiga atau empat pagi. Setelah pandangan memindai, dia tak menemukan Sasuke di mana pun. Dia menggigit bibirnya dengan cemas. Tiba-tiba matanya terasa berat, dan hal tersebut membuatnya tersadar bahwa dia menangis semalaman. Dia meringis membayangkan alasan tangisnya yang membentuk pikiran-pikiran di kepala Sasuke hingga lelaki itu sama sekali tak bisa memejamkan mata. Karena Sakura tahu, Sasuke memanglah tipikal orang yang seperti itu.
Sakura menyalakan lentera ketika mendapati jejak seukuran kaki Sasuke mengarah ke luar. Dia mengikuti langkah kaki tersebut dengan sumber pencahayaan seadanya setelah mematikan perapian. Jejak yang terbentuk di hamparan salju mengarah ke bidang miring menuju atas gua. Gua tempat mereka beristirahat memang berada di dasar tebing.
Setelah melangkahkan kakinya cukup jauh, Sakura menemukan Sasuke yang duduk membelakangi tubuhnya. Dia tampak tengah berkontemplasi. Pandangannya terfokus pada punggung Sasuke. Gadis itu berjalan perlahan hingga akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Sasuke yang kelihatan sama sekali tak terkejut.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Sakura langsung ke inti. Matanya meneliti ekspresi Sasuke. Datar. Dia tahu lelaki itu tengah menyembunyikan emosinya.
Sasuke bergeming. Sama sekali tak menjawab pertanyaan Sakura, maupun memiliki niat untuk menjawabnya. Kepalan tangannya mengerat di sisi tubuh. Dia tahu seharusnya api dimatikan agar Sakura tak sadar ataupun curiga bahwa dirinya tidak tidur sama sekali. Sesungguhnya ini bukanlah masalah, hanya saja, Sasuke enggan menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan Sakura setelah menyadari kondisinya. Dan kalaupun terpaksa harus menjawab, dia pun tak tahu harus menjawab apa.
"Sasuke-kun," kesah Sakura setelah menerima keheningan panjang atas pertanyaannya. "Apa yang kaulakukan di sini?"
"Aku tidak tahu." Sasuke menanggapi dengan suara dingin.
Sakura memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Dia masih menahan pandangan pada wajah Sasuke dari samping. Mimik muka lelaki itu begitu tak terbaca. Tampak ... kosong sekaligus rapuh. Sakura ingin merengkuhnya seperti Sasuke yang mendekapnya untuk menenangkan semalam. Namun, entah kenapa dia ragu. Dalam diam, dia merapatkan tubuhnya ke arah Sasuke dan menyandarkan kepalanya pada bahu. Hanya itulah yang bisa dia lakukan saat ini.
"Kau keberatan jika aku begini?" Mengingat ini bukan pertama kalinya, seharusnya Sakura tidak perlu bertanya. Namun, melihat kondisi Sasuke saat ini—yang sama sekali tak terbaca olehnya—membuat lidahnya mendesak untuk melakukan itu.
Ditanggapi oleh sebuah gelengan. Sakura merasakan lengan kiri atas Sasuke menyangga punggungnya. Dia memejamkan mata dan menyamankan diri. "Mau cerita sesuatu?" tanya Sakura dengan hati-hati.
Sasuke masih membisu. Ujung-ujung kuku tangannya menggertak sisi celana sembari melakukan pertimbangan untuk mengatakan sesuatu pada Sakura atau tidak. Dalam hati dia merutuki Sakura yang bangun lebih cepat daripada biasanya. Dia sedang membutuhkan waktu sendiri untuk merenung sejenak. Meski begitu, bukan berarti dia tak menyukai kehadiran Sakura di sisinya.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Sasuke memutuskan untuk berujar, "Ini hal yang biasa kulakukan ketika aku tiba-tiba ingin kembali ke Konoha—padamu." Jeda sejenak untuk menelan ludah. Dia melirik Sakura yang tampak memejamkan matanya. "Buka matamu."
Sakura mengikuti instruksi dari Sasuke. Kedua matanya berbinar terang dan menatap takjub pada apa yang dilihatnya. Dia sama sekali tak menyadari ini sedari tadi karena fokus pada keberadaan Sasuke. Gradasi langit yang berwarna kebirumudaan di paling bawah, semakin ke atas semakin menggelap, keunguan, nila, biru tua, dan hitam. Gradasi warna tersebut diselingi titik-titik sinar yang bersumber dari kumpulan bintang yang terletak sangat, sangat jauh di atas bumi. Pemandangan ini membuat tenggorokan Sakura mengering. Dia kehilangan kata-katanya.
Keduanya terpusatkan ke dalam pikiran masing-masing. Sasuke yang masih berusaha membuka otak dan menyusun jawaban untuk masalah yang dihadapinya, dan Sakura yang terbuai dengan apa yang dilihatnya. Tebakan Sakura mengenai pukul berapa ketika dia terbangun tampaknya nyaris tepat. Terbukti dari beberapa saat dia menikmati apa yang terekam retinanya, bulatan jingga yang muncul malu-malu dari balik awan terdapat di sisi kiri. Campuran warna semakin bertambah kembali. Kini, jingga yang menenangkan hati turut mengontaminasikan diri.
"Ini ... matahari terbit paling cantik yang pernah aku lihat," komentar Sakura tanpa harus berpikir dua kali. Selama berbulan-bulan berkelana bersama, dia sudah melihat fenomena matahari terbit ataupun tenggelam yang cantik, letusan-letusan kembang api indah yang dia lihat dari ketinggian karena memang tengah berdiri jauh di atas permukaan laut, gerhana, dan lain-lainnya.
Bagi Sakura, inilah yang paling indah. Jika dikaitkan dengan kondisi geografis tempatnya berpijak, dia memang dekat dengan langit hingga bintang seolah bisa diraihnya dalam sekali lompat. Sementara gradasi warna memukau itu bisa dilihat dengan jelas karena lokasi yang memang sangat, sangat jauh dari permukiman, sehingga tak terkena polusi dari cahaya lampu.
Hal-hal cantik biasanya memang sulit untuk ditemui. Dan inilah salah satunya. Membutuhkan perjalanan yang begitu panjang jika diambil dari permukiman terdekat untuk mencapai tempat ini. Akan tetapi, apa yang menunggu di ujung akan membayar rasa lelah yang dirasakan selama perjalanan.
"Terima kasih sudah menunjukkan ini, Sasuke-kun."
Yang diucap terima kasih masih memilih kembali ke dalam sosoknya yang pendiam. Tanggapan yang diberikan bukanlah suara, melainkan tarikan bibir tipis yang tampak miring. Dia pun yakin bahwa Sakura tak bisa melihatnya, karena hingga saat ini gadis itu tak melepas pandangan dari langit.
"Aku merasa licik menunjukkan ini padamu." Sasuke berbisik perlahan, tetapi cukup keras hingga bisa sampai ke telinga Sakura. Sebenarnya dia sama sekali tak menargetkan hal ini. Dia tak tahu bahwa puncak tebing dari tempat mereka beristirahat akan memberikan panorama yang begitu indah. Ini merupakan sebuah kebetulan yang menguntungkan. Seperti panorama-panorama cantik yang mereka temui sebelumnya, semuanya murni ditemui secara kebetulan.
Dan ketakjuban Sakura terhadap apa yang tengah memanja matanya runtuh seketika. Meski dia tak memahami maksud dari kata-kata Sasuke, tetapi entah apa alasannya kalimat tersebut begitu menohok dadanya. Sakura tak bertanya maksudnya. Dia hanya menatap Sasuke dan melemparkan tatapan bertanya.
"Aku melakukan ini setiap kali aku merasa harus menahan diri untuk pulang." Kepalan tangan Sasuke mengerat. Napasnya tersekat.
Dan memang begitulah kenyataannya. Kadang-kadang alam yang mengusik Sasuke untuk pulang dan berlindung di bawah kenyamanan, tetapi di saat yang sama alam pula yang menahannya untuk tetap memegang teguh prinsipnya.
Mulai memahami maksud dari kata-kata Sasuke, Sakura membeku. Pantas saja Sasuke merasa dirinya licik. Apa yang dilakukannya tadi adalah meminta Sakura untuk membuka mata terhadap apa yang selama ini selalu berhasil menahan Sasuke pulang ke Konoha. Dan barangkali ... Sasuke pun melakukan hal tersebut sembari berharap hal ini akan memberi efek yang sama bagi Sakura, apabila mengingat kata licik yang disebut-sebut.
"Sasuke-kun, kau—"
"Hn."
"Tapi—"
"Sakura, beri aku waktu lebih lama lagi."
Sakura tertegun. Dia tahu Sasuke berusaha membuat suaranya terdengar normal. Akan tetapi, telinga Sakura tetap menangkapnya sebagai intonasi yang begitu pedih. Dia sadar bahwa dirinya baru saja membebani Sasuke dengan kerinduannya yang mendalam terhadap kampung halaman dan segala isinya. Hal tersebut membuatnya tak enak hati. Tenggorokannya semakin mengering hingga meneguk ludah pun terasa sulit.
"A-aku—Sasuke-kun ...," Sakura menggigit bibirnya lamat-lamat, "maaf, aku—"
"Aku hanya meminta waktu, bukan kata maaf." Sasuke merasakan Sakura menarik diri dari tubuhnya. Gadis itu kembali menelaah mimik mukanya. Masih datar. "Itu lebih pantas untuk kuucapkan."
Sakura memeluk Sasuke erat-erat. Tanpa suara. Dia tak mengujar apa-apa. Sasuke bisa merasakan betapa tegang tubuh yang memeluknya saat ini. Maka, dia menyentuh punggungnya, membantunya rileks. Namun, tak begitu berpengaruh banyak. Dia merasa tubuhnya memberat karena Sakura menumpu bobotnya pada tubuh Sasuke. Dan hal tersebut membuat Sasuke paham bahwa sesuatu di dalam diri Sakura sedang melemah dan merapuh, hingga menopang tubuh pun rasanya begitu berat.
"Sakura."
Gadis itu menenggelamkan wajah ke dalam bahu. Dia menggeleng lemah. Lalu, diteguknya ludah sepelan mungkin, agar suara mengalirnya cairan di tenggorokannya tak mencapai daun telinga Sasuke. "Tidak apa-apa. Kau bisa melupakan kata-kataku semalam. Anggap saja itu tidak terjadi sama sekali," ucap Sakura dengan napas gemetar.
"Aku tidak akan melupakannya. Aku hanya butuh waktu."
"Kalau begitu aku akan memberikanmu waktu." Sakura memejamkan kedua matanya erat-erat. Dia sengaja meredam suaranya ke dalam bahu Sasuke agar lelaki itu tak mendapati getaran pada suaranya. "Ambillah sebanyak yang kauperlukan."
Demi apa pun, separuh diri Sakura benar-benar ingin pulang. Ingin sekali. Namun, separuhnya lagi tak tega melihat Sasuke tampak terbebani. Dia sangat mencintai Sasuke. Dan seperti apa yang dia bilang sebelumnya, dia rela menanggung segala rasa sakit yang Sasuke derita jika bisa. Kali inilah kesempatannya. Meski dia tahu, hatinya akan sakit sekali setiap kali mengingat tentang kedua orangtua, teman-temannya, dan Konoha.
Tidak apa-apa, batinnya. Penderitaan Sasuke-kun jauh lebih menyakitkan daripada ini.
Bagaimanapun Sakura berusaha menyembunyikan keraguan dalam kata-katanya, Sasuke tetap menyadarinya. Memang tak terdengar dengan jelas dari suara gadis itu yang diredam di bahunya. Akan tetapi, terasa jelas dari getaran yang beresonansi dari suara Sakura di bahunya. Dan dia pun tahu, kalau memang tak ada yang ingin Sakura sembunyikan, gadis itu akan berbicara sembari menatap matanya. Bukan seperti ini. Bukan meredam suara ataupun menyembunyikan ekspresi.
"Kau ... yakin?"
Pelukan di leher Sasuke semakin mengerat. "Memangnya aku terdengar tidak yakin?"
Sasuke mendorong pelan bahu Sakura hingga gadis itu melepas dekapannya. Ditahannya posisi yang cukup untuk dirinya mendapati ekspresi wajah gadis di hadapannya. Waktu yang dimintanya tidaklah bersifat memaksa. Jika Sakura tak memenuhi permintaannya, Sasuke akan berusaha menerimanya dengan tangan terbuka. Meski dia masih menginginkan Sakura untuk berada di sisinya, tetapi dia tak bisa mendorong keadaan seenaknya.
"Katakan lagi."
"Mmm ... aku ..." Mata Sakura melirik ke arah kiri secara refleks, melakukan gerak-gerik yang menandakan seseorang tengah berbohong. Menyadari hal tersebut, Sakura langsung menatap mata Sasuke lurus-lurus kembali. Dia tahu dirinya bukanlah seseorang yang pandai berbohong. Dia tak sanggup mengucap sesuatu yang tak sesuai dengan kenyataan sembari menatap mata Sasuke seperti ini.
"Kenapa? Memangnya yang tadi kurang jelas?" Maka, yang bisa Sakura lakukan hanyalah mengelak.
Sesuai dugaannya, kata-kata Sakura tadi memanglah tidak berdasarkan hatinya yang mendalam. Dia akan mencoba mengujinya sekali lagi. "Katakan saja, Sakura."
"A-aku ..."
Sakura masih kelihatan tidak yakin, sebesar apa pun gadis itu berusaha untuk tidak terlihat begitu. Sasuke mendesah. Dia tak akan memaksakan keadaan jika begini. Demi kenyamanan Sakura, dia akan mengalah pada keinginan besarnya mengenai Sakura yang tetap berada di sisinya. Matanya terpejam membayangkan hari-hari ke depan dia akan melalui segalanya sendiri lagi, seperti apa yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Masalah sanggup atau tidak, Sasuke harus sanggup. Dia seorang laki-laki. Seharusnya hal-hal seperti ini tak perlu mengusiknya.
"Hari ini kita kembali ke Konoha," putus Sasuke secara sepihak.
"Apa? Tadi kau bilang—"
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Jadi maksudmu hanya mengantar? Kau akan pergi lagi setelahnya?"
"Hn."
Seolah-olah tulang punggungnya terkena sengatan listrik mendadak, Sakura menegakkan tubuhnya seketika. Kedua kelopak matanya melebar dan melempar tatapan tak setuju pada Sasuke. "Apa?! Tidak. Tidak!"
"Sakura," bisik Sasuke sebagai upayanya untuk membuat gadis yang namanya disebut tenang. Meski dia tahu, hal ini hanya akan berpengaruh kecil bagi Sakura.
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya secara berulang. Kedua tangannya saling meremas untuk menenangkan diri dari keterkejutan. "Pilihannya hanya dua. Kita sama-sama menetap di Konoha atau aku tetap bersamamu selama bepergian!"
"Keputusanku tidak ada di pilihan itu."
"Aku tidak peduli. Di luar itu aku tidak mau menurutimu!" Sakura menggigit bibirnya lamat-lamat setelah mengalihkan pandangan. Kedua tangannya disilang di depan dada. Dia marah pada Sasuke karena memutuskan sesuatu seenaknya. Apalagi, yang diputuskan adalah langkah kaki Sakura, tanpa keputusan orang yang terkait pula.
Sasuke menarik dagu Sakura dan memaksa gadis itu untuk menatap matanya. Sakura yang masih berang terus memberontak. Sekalipun Sasuke berhasil membuat wajahnya menghadap wajah lelaki itu, Sakura tetap mengalihkan pandangan pada hal lain.
Sebelum dia memutuskan hal ini, Sasuke sudah tahu akan seperti apa respons Sakura. Gadis itu pasti akan menentangnya. Namun, Sasuke tak akan menyerah dengan hal itu. Ini adalah hal yang adil bagi kedua-duanya. Sakura yang rindu kampung halaman bisa pulang, dirinya yang belum mau menetap di mana pun bisa tetap mengelana. Meski separuh hatinya tak mau ini terjadi, tetapi inilah satu-satunya jalan yang seimbang. Tidak memberi condong ke sisi mana pun. Bahkan ... rasa sakit mengenai akan kehilangan satu sama lain di sisi masing-masing pun seimbang. Apalagi, dia tahu inilah yang terbaik untuk Sakura. Secara mental maupun fisiknya.
"Sakura, kau semakin kurus. Bahkan rambutmu rontok. Kalau kau menetap di Konoha, ini tak akan terjadi." Sasuke mengulurkan tangan untuk menyentuh ujung rambut Sakura, tetapi Sakura menepisnya. "Kau harus dan perlu pulang. Jangan membantahku."
Bagi Sakura, kata-kata Sasuke terdengar sangat konyol. Yang disebut barusan bukanlah masalah-masalah yang tidak memiliki solusi. Barangkali, Sasuke hanya mencari-cari alasan kecil maupun besar agar Sakura bisa menuruti keputusannya. Hal ini membuat dada Sakura terasa perih. Apakah Sasuke tidak menginginkannya lagi?
Mengabaikan pemikiran terakhirnya dengan cara berperangai tegar, Sakura meneguk ludah sebelum berkata, "Aku akan makan lebih banyak kalau begitu. Dan rambutku yang rontok tak akan membuatku sampai botak, sialan!"
"Aku serius," dengus Sasuke ketika mendengar tanggapan Sakura yang berkesan sedang bercanda. Namun, sorot mata beriris hijau yang dipenuhi emosi tersebut justru menunjukkan sebaliknya, dan membuat Sasuke menyesal telah menyatakan keseriusan di kondisi yang memang sudah terbangun seperti itu.
"Kau pikir aku bercanda? Aku juga serius, Sasuke-kun!"
Sasuke ingat ini bukanlah pertengkaran pertama mereka. Akan tetapi, ini adalah pertengkaran pertama yang nyata, bukan mendebatkan hal-hal sepele yang bisa dilupakan kapan saja seperti biasanya. Sangat serius, sampai-sampai gejolak batin di antara kedua-duanya seolah-olah turut memercik udara yang dingin menjadi panas. Di pertengkaran sepele sebelumnya, Sasuke masih ingat apa yang membuat Sakura bungkam dan tak melawannya lagi. Dalam diam dia berharap bahwa hal itu akan berlaku juga untuk sekarang.
Dengan tangan yang masih menempel di dagu Sakura untuk tetap membuat gadis itu menghadap wajahnya, jemarinya merambat naik hingga ke pipi. Kukunya ditanamkan pada pipi Sakura, meski dia meringis dalam hati karena akan menyakiti gadisnya. Kedua matanya dipertahankan untuk tetap terbuka dan dipicingkan ke arah Sakura. Menandakan bahwa kata-katanya mutlak dan tak bisa dibantah. "Sakura, jangan seperti ini terus!"
"Seperti ini apa?"
"Kau terlalu memikirkan kenyamananku tanpa memikirkan dirimu sendiri."
Meski Sasuke tak meninggikan nada suaranya, tetapi suara yang lebih dingin, tegas, dan tajam cukup untuk membuat Sakura menggigil. Mencoba menutupi rasa takut, dia balas memicingkan mata tanpa sorot gentar. Dugaan Sasuke salah. Meski dia menangkap Sakura sempat meringis karena dia menyakitinya, tetapi gadis itu tampak abai. Hal ini membuat Sasuke mengerti bahwa Sakura benar-benar marah.
"Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu!"
"Jangan munafik. Aku tahu kau memberiku waktu secara terpaksa sampai kau menyembunyikan wajahmu ketika mengatakannya." Secara perlahan, dia melepas cengkeraman kukunya, tetapi tak melepas tangannya dari sana. Mimik mukanya masih bertahan dengan sorot berang karena terus-menerus dilawan.
Mencoba mengabaikan jantungnya yang terasa dihunjam keras karena dikatai munafik, oleh Sasuke, Sakura memutar kedua bola matanya dan tertawa sinis. Dia tak mengacuhkan denyutan di pipinya yang sepertinya membekas ... atau bahkan akan berdarah saking kerasnya cengkeraman tangan Sasuke tadi. "Munafik? Yang munafik itu siapa, Sasuke-kun? Bukankah kau juga sesungguhnya menginginkan aku tetap bersamamu tetapi kau malah memaksaku pulang?"
Sasuke mendecih keras. Dia tak menanggapi apa-apa lagi. Tangannya yang menekan pipi Sakura dilepas dengan kasar. Dia mencoba mengabaikan cekungan-cekungan di pipi Sakura yang memerah dan gadis itu yang menyentuhnya sembari mendesis.
"Aku tidak mau pulang jika kau harus pergi lagi. Titik."
Sasuke masih diam. Dia tahu Sakura mengorbankan perasaan demi dirinya. Gadis itu berlagak kuat, membohongi perasaannya sendiri. Sasuke sadar dia tak layak menerima hal tersebut. Apa yang Sakura berikan padanya sudah lebih dari cukup. Bahkan ... apabila Sasuke berusaha menekan perasaannya sendiri terhadap Sakura, dia sangat sadar bahwa Sakura layak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik daripada dirinya. Seseorang yang bukan mantan kriminal dan nyaris membunuhnya jika saja tak ada yang menolong.
Dia benar-benar tak mau mengalah pada kekeraskepalaan Sakura kali ini. Tidak lagi. Terlepas dari Sakura yang rindu orangtuanya, teman-temannya, dan pekerjaannya; Konoha merupakan tempat teraman. Tak akan ada yang namanya kekurangan makanan dan minuman. Tak perlu kedinginan karena Sasuke tahu rumah maupun apartemen Sakura memiliki pemanas ruangan. Tak perlu kesulitan mencari tempat berlindung dari panas dan hujan. Tak akan ada jurang yang membuat gadis itu terluka separah-parahnya sampai pingsan lebih dari dua puluh empat jam. Meski dia tahu mungkin misi-misi yang diberikan untuk Sakura pun akan membahayakan nyawanya, tetapi tak akan separah di sini.
Maka, Sasuke akan melakukan apa saja, mengatakan apa saja, asalkan Sakura tak akan lagi melawannya. Barangkali Sakura akan merasa sakit sekali, tetapi bagi Sasuke hal itu lebih baik daripada Sakura yang mengorbankan perasaannya sendiri dan hidup di bawah bayang-bayang ketidakamanan.
"Kau tahu, sekarang kau bertindak sok kuat seperti ini, membohongi dirimu sendiri atas apa yang sebenarnya kaurasakan, ini sama sekali tak ada bedanya dengan saat kau menyatakan cinta pada Naruto!"
Hening.
Kali ini, Sakura tak melawan. Dia merasa tersentak. Keduanya tahu betapa ini merupakan topik paling sensitif yang tak mau Sakura bahas lebih dari satu kali. Sebuah masalah yang membuat Sakura ingat bahwa dia pernah menyakiti seseorang separah itu, membohongi diri sendiri sebesar itu, hal-hal yang membuatnya mengerang keras lantaran sangat menyesal setiap kali mengingatnya.
Sakura tahu bahwa Sasuke sadar mengenai hal tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah Sasuke mengatakannya dengan sengaja, seolah-olah memang berniat menyakitinya. Dan kesengajaan tersebut membuat rasa sakitnya semakin mendalam. Begitu dalam, hingga dia lupa bahwa pipinya pun terluka. Luka yang sama-sama dibentuk oleh Sasuke.
Kepala Sakura tertunduk hingga poninya menutupi wajah. Sasuke tahu usahanya berhasil ketika mendapati Sakura yang tak melawannya lagi. Bukannya merasa lega atau merasa menang, Sasuke justru semakin merasa tak enak hati. Dan perasaan tak enak tersebut berlipat menjadi berkali-kali ketika Sakura menampar wajahnya menggunakan tangannya sendiri, kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah pun kata.
Sasuke langsung tersadar bahwa dia benar-benar menyakiti Sakura kali ini. Memang, ini bukan pengalaman pertamanya dalam menerima serangan yang Sakura lancarkan. Akan tetapi, rasa sakitnya berbeda. Sengatan yang terasa di pipinya seolah-olah merepresentasikan sakitnya hati Sakura, hingga perih itu merambat ke dadanya. Dia melirik Sakura yang berjalan menjauh melalui ujung matanya. Tubuhnya masih membeku. Hatinya berteriak untuk menyusul dan mengatakan maaf, tetapi tak satu pun saraf di tubuhnya yang mau merespons.
Dengan langkah tertatih, Sakura membentuk tangan yang baru saja menampar Sasuke menjadi kepalan erat. Bekas kontak kerasnya masih terasa. Dia mengigit bibirnya yang dingin. Matanya yang masih bengkak bekas semalam justru membuatnya jadi lebih mudah menangis. Dia tahu, Sasuke sengaja menyakitinya dengan kata-kata agar dirinya mau pulang ke Konoha dan berpisah dengan lelaki itu secara lokasi, atau bahkan lebih dari itu.
Justru inilah yang paling menyakiti Sakura. Bagaimana bisa tidak sakit dan merasa dicampakkan, apabila dia sadar bahwa Sasuke berusaha keras untuk membuatnya mau pulang—secara tidak langsung mendorongnya menjauh. Kali ini dia tak punya alasan untuk mengabaikan pikiran bahwa Sasuke tak menginginkannya lagi. Meski tebakan menyakitkan tersebut masih bisa dipatahkan oleh pelukan hangat Sasuke semalam, atau cara lelaki itu berbisik lirih mengenai permintaannya akan waktu yang lebih lama.
Namun, hati Sakura terlalu sakit hingga menumpulkan jalan otak untuk memutar memori-memori yang masih hangat itu. Apa yang berkelebat di dalam benaknya saat ini adalah Sasuke yang mengatainya munafik, menyama-nyamakan apa yang terjadi saat ini dengan salah satu hal yang dia sesali dengan sungguh-sungguh, mencoba mendorongnya menjauh, melukai fisiknya tanpa ada sorot penyesalan sama sekali setelahnya, dan segala hal tersebut mencabik hatinya sedalam-dalamnya. Apalagi, jika mengingat dugaan adanya unsur kesengajaan di dalam segala aksi Sasuke.
Dia tahu dirinya terlalu naif jika masih mengharapkan Sasuke menyusulnya dan mengatakan kata maaf. Akan tetapi, dia memang senaif itu. Meski sesungguhnya dia pun tak yakin bisa memaafkan Sasuke dengan mudah apabila itu terjadi. Namun ... hati kecil Sakura masih ingin memberikan kesempatan. Jika dalam hitungan sepuluh Sasuke melakukan pergerakan untuk mendekatinya kembali dan mengucap maaf, Sakura akan memaafkannya. Lebih dari itu urusannya lain.
Dan sampai kalkulasi kesepuluh, Sakura tak menalar pergerakan apa-apa. Dengan secercah asa, dia menghentikan langkah dan melirik ke belakang untuk memastikan apakah Sasuke melakukan sebuah usaha, yang nyatanya tidak. Lelaki itu masih duduk di tempat yang sama ... dengan posisi tubuh yang membelakanginya.
Tiba-tiba Sakura merasa jantungnya merosot ke perut. Dadanya ditekan oleh sebuah beban terberat hingga napasnya sesak. Air matanya tumpah jauh lebih banyak setelah mendapati Sasuke yang tampak tak menyesali apa-apa. Hal tersebut cukup untuk membuat langkah tertatih Sakura berubah menjadi langkah-langkah besar dalam bentuk pelarian.
Sakura sudah berkali-kali merasa sakit karena Sasuke, entah akibat dari yang sengaja lelaki itu lakukan ataupun tidak. Namun, kali ini rasanya jauh lebih sakit daripada apa pun. Sebelumnya dia sudah memegang kepercayaan besar terhadap Sasuke dan yakin bahwa lelaki itu tak akan menyakitinya lagi. Ternyata Sasuke mengkhianati kepercayaan Sakura tentang itu. Yang dia rasakan sekarang adalah tekanan berlapis, disakiti dan dikhianati. Itulah yang menyebabkan dirinya merasa rapuh serapuh-rapuhnya.
.
.
Barang-barang milik Sakura berceceran di mana-mana. Sasuke menatap Sakura yang membelakangi tubuhnya dan sempat menangkap bahu gadis itu yang menegang ketika dia secara terang-terangan menunjukkan eksistensinya di dalam gua. Langkah kakinya masih dibuat keras, agar Sakura benar-benar paham bahwa dia ada di sana. Namun, Sakura masih tampak tak acuh dan terus membelakangi tubuhnya.
"Aku bisa lihat kau benar-benar tidak mau pulang," komentar Sasuke mengenai barang-barang yang berantakan. Bukan hanya pulang, bahkan berpindah tempat, tambahnya dalam hati.
Sakura tak menanggapi sama sekali. Gadis itu masih bertingkah layaknya Sasuke sama sekali tak ada di sini ataupun mengajaknya bicara.
Merasa diabaikan, Sasuke mendengus keras. Dia tahu jelas bahwa Sakura masih marah atau bahkan benar-benar sakit hati karenanya. Maka dari itu dia ingin menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Setelah berdiam diri lama, hingga mentari semakin naik ke atas, Sasuke menyimpulkan sesuatu. Pasti ada alasan lain yang membuat Sakura sekukuh itu untuk tidak mau ditinggal di Konoha sendiri. Sejak awal Sakura menyusulnya pun dia terkejut, karena menurut dugaannya Sakura akan tetap menunggunya dengan sabar. Gadis itu memiliki kehidupan yang nyaris sempurna di Konoha. Butuh pertimbangan yang sangat besar untuk pergi. Kecuali ... ada hal lain yang menimpa Sakura, yang sama sekali tidak dia ketahui.
"Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," sahut Sakura dingin.
Sasuke sudah menyangka seperti itulah tanggapan Sakura. Maka, dia tak terkejut ataupun merasa jengkel. Dengan langkah yang dibuat santai, dia berjalan mendekati Sakura dan duduk di sisinya. Sesuai dugaannya lagi, gadis itu langsung beringsut menjauh.
"Kau tidak mau kutinggal sendiri di desa, bukan?" Sasuke berkata tanpa memutus pandangan dari Sakura yang masih saja memalingkan wajahnya. "Katakan padaku apa alasannya. Buat aku yakin."
Sakura akhirnya mau menatap wajah Sasuke, meski disoroti mimik marah. Bibirnya bergetar keras. Rasa sakit yang dialaminya beberapa jam lalu masih membekas seperti pertama kali dia merasakannya. "Maksudmu kau memintaku untuk membujukmu!?"
Sasuke tersentak mendapati bekas luka di pipi Sakura belum menghilang. Entah apa maksud Sakura membiarkan bilur-bilur itu tetap ada di sana meski dia mampu untuk mengobatinya. "Tidak. Bukan itu." Dia menarik napas dalam-dalam yang sempat terasa sulit karena merasa bersalah. "Aku punya alasan mengapa aku tidak mau memaksamu tetap bersamaku ataupun menetap di Konoha dalam waktu dekat. Aku yakin kau juga pasti memiliki alasan."
Sakura enggan menanggapi kembali. Dia beringsut semakin menjauh lagi sembari menutupi wajah menggunakan satu tangan. Sasuke tak akan langsung menyerah. Mereka perlu membicarakan masalah ini baik-baik. Maka, dia menarik salah satu lengan Sakura sampai gadis itu menyentak tangan dan berteriak, "Jangan sentuh aku!"
"Sakura, kita selesaikan masalah ini baik-baik," bujuk Sasuke. "Jangan seperti anak kecil."
"Munafik, anak kecil, apa lagi, Sasuke-kun? Aku apa lagi?"
Sasuke mengembuskan napas panjang. Dadanya terus-menerus dihunjam perasaan bersalah yang mendalam. Dia tahu rasa sakit Sakura jauh lebih mendalam daripada perasaan bersalahnya. Dan itu membuatnya menyesal sesungguh-sungguhnya. Seharusnya dari awal dia berpikir untuk menyelesaikan masalah ini baik-baik tanpa membawa emosi, ataupun mencampurinya dengan kata-kata yang membuat Sakura sakit hati.
"Maafkan aku, Sakura. Tidak semua yang kukatakan tadi itu sungguh-sungguh. Dan pipimu ...," dia hendak mengangkat tangannya untuk mengusap luka di wajah Sakura. Namun, teriakan Sakura yang melarangnya untuk menyentuhnya tadi seketika membuatnya urung. "Aku benar-benar menyesal."
"Aku tahu kau membohongi dirimu sendiri untuk mendorongku menjauh. Aku tahu kau sengaja menyakitiku agar aku mau kautinggalkan. Bukankah semua itu terdengar familier? Apa ... apa bedanya dengan ... aku?"
Sasuke kehilangan kata-katanya. Sakura benar. Dia menghujat Sakura tentang hal yang dia lakukan sendiri. Itu membuat pahit di tenggorokannya semakin memekat. Matanya menatap Sakura penuh penyesalan. Meski setidaknya, Sakura paham bahwa dia tak bersungguh-sungguh dalam semua kata-katanya.
"Baik, aku akan mengatakan apa alasanku." Sakura berujar setelah menenangkan diri dengan cara mengatur napas. Dia perlu tenang. Jika pembicaraan ini dilanjutkan dengan campuran emosi, maka akhirnya tak akan jauh seperti fajar tadi. Dan setidaknya, dengan mengatakan alasannya, barangkali itu bisa meyakinkan Sasuke untuk tidak membawanya pulang ketika lelaki itu masih enggan menetap. "Aku tidak akan bertindak seperti anak kecil," imbuhnya sembari menyindir.
Sakura mengatur napas lagi. Apa yang dia katakan sekarang adalah sesuatu yang dia sembunyikan dari Sasuke selama ini. Entah kenapa, rasanya dia tak mau menceritakannya sama sekali. Apalagi, Sasuke tak bertanya sebelumnya. Dia mencoba memberanikan diri menatap mata Sasuke. Kedua mata berbeda warna itu masih sama dengan yang membentaknya fajar tadi. Dia meringis merasakan dadanya berdenyut nyeri kembali. Namun, Sakura berusaha menguatkan diri mengingat Sasuke yang hampir mengibarkan bendera putih di dalam masalah ini.
"Misi yang hanya bisa dilakukan seorang kunoichi berumur delapan belas tahun ke atas ... dan yang belum menikah. Itu alasanku. Saat di akademi, pernah dijelaskan bahwa kunoichi adalah ninja yang melawan musuh dengan cara mengecoh dengan kecantikannya. Awalnya kupikir itu cukup dilakukan dengan perias wajah atau semacamnya. Seiring berjalannya waktu, aku paham bahwa tidaklah sesederhana itu. Kecantikan yang dimaksud bukan hanya dari wajah ... kau pasti mengerti maksudku.
"Sebagai seseorang yang dekat denganku, Kakashi-sensei tidak akan tega mengatur misi seperti itu untukku. Namun sebagai hokage yang profesional ... tidak akan sama. Meskipun aku yakin sekali kalaupun terpaksa, aku akan ada di daftar paling bawah. Antara karena Kakashi-sensei memikirkan perasaanku ... atau karena tubuhku yang rata-rata.
"Aku ... takut. Semenjak umurku delapan belas, aku terus mengkhawatirkan misi itu. Aku bisa diperintahkan untuk itu kapan saja, dan aku tahu aku tak akan pernah siap. Sementara siap ataupun tidak, aku tetap harus menjalaninya. Hinata ... Ino ... mereka tak perlu khawatir karena sudah menikah. Naruto dan Sai mungkin akan menentang Kakashi-sensei jika memberikan misi semacam itu padaku, tetapi semenjak mereka berkeluarga, waktu yang kami lalui bersama tidak sebanyak dulu. Aku tidak punya kesempatan untuk membicarakannya dengan mereka. Itulah sebabnya aku benar-benar panik saat kau pergi lagi. Selain itu aku pun marah karena kau tidak mengatakan apa-apa padaku. Kalau aku memang menerima misi itu ketika kau sedang ada di Konoha ... kau akan menentang Kakashi-sensei, bukan? Setidaknya aku berpikir begitu, dan pemikiran itu membuatku tenang."
Sakura terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa tersekat ketika dia sadari bahwa air matanya meluncur lagi.
"Katakanlah aku seorang kunoichi yang pengecut, pergi menyusulmu karena takut pada sebuah misi. Tetapi aku benar-benar takut, Sasuke-kun. Takut sekali. Bahkan ... bahkan saat kau mengganti pakaianku ketika aku tak sadarkan diri, aku benar-benar marah padamu. Dan ketika kupikir kau akan melakukan ... mmm ... itu padaku, aku gemetaran. Padahal itu kau, seseorang yang kucintai dengan sepenuh hatiku. Bisa kaubayangkan betapa takutnya aku jika aku harus menghadapi hal semacam itu dengan orang lain yang tak kukenali ... bahkan musuh? Aku takut. Kumohon ... jangan paksa aku pulang jika kau akan pergi lagi. Meskipun aku rindu Konoha, tetapi aku tidak mau merasa seperti itu lagi ..."
"Kenapa tidak beri tahu aku lebih awal?"
Sasuke tidak pernah tahu apa-apa soal misi semacam itu. Memang, dia tahu di akademi. Seperti Sakura pada awalnya, asumsi Sasuke terhadap misi itu sama. Barangkali saat topik itu sedang hangat di kalangan teman-teman seangkatannya, dia masih sibuk dengan rencana balas dendamnya. Dan ketika usia Sakura memadai untuk diikutkan ke dalam misi itu, dia bahkan sudah pergi meninggalkan Konoha untuk perjalanan penebusannya.
Dia menggeser tubuhnya mendekati Sakura. Tangannya terulur untuk menghapus air mata yang tak henti-hentinya mengalir dari sudut mata Sakura. Ketika Sakura menyandarkan kepala pada dadanya, dia tahu gadis itu sudah memaafkannya. Namun, rasa bersalah masih tertumpuk di dalam dadanya. Sakura pernah bilang sesuatu tentang bekas luka yang akan sulit hilang sekalipun sumber rasa sakit itu sudah tidak ada. Gadis itu pasti akan mengalami itu.
Apalagi, pernyataan Sakura tadi menunjukkan bahwa semua ini adalah salah Sasuke dari awal. Dia tak ada di sisi Sakura ketika gadis itu takut. Padahal seharusnya dia melindunginya. Terlebih dari hal-hal seperti itu ... meski dalam bentuk misi.
"Sakura, aku ... maafkan aku. Aku tidak akan memaksamu pulang tanpa aku lagi." Sasuke merengkuh Sakura perlahan. Tak adanya pemberontakan membuat Sasuke semakin yakin bahwa Sakura sudah tak marah lagi. Tetapi, itu hanya mampu membuatnya merasa lebih baik sedikit.
"Terima kasih sudah mengerti." Sakura mencoba menghentikan isakannya. Dia mengutuk diri mengingat betapa seringnya dia menangis selama dua hari ke belakang. "Bisa kita melupakan masalah ini sekarang?"
"Ya. Tentu saja." Meski sebenarnya, Sasuke tak yakin bisa melupakan rasa bersalahnya. Dia melepas dekapan ketika merasa Sakura memundurkan tubuhnya. Tangannya mengusap bekas luka di pipi Sakura yang pasti terasa sakit ketika terbasahi air mata. Dia merasa lega akhirnya Sakura kembali mengizinkan untuk menyentuhnya. "Masih sakit?"
"Sedikit. Tak apa, ini bisa kusembuhkan sendiri."
"Aku benar-benar menyesal."
"Tidak apa-apa." Sakura menggeleng dan tersenyum kecil. Kemudian senyumnya menghilang ketika memikirkan alasan-alasan atas pernyataan Sasuke yang disebut sebelum membahas alasannya. "Sasuke-kun, apa kau masih belum bisa memaafkan dirimu sendiri?"
"Aku tidak tahu." Sasuke terdiam sejenak. Dia mendapati Sakura tampak murung. Wajar, mengingat untuk memaafkan diri sendiri merupakan permintaan yang gadis itu berikan sejak lama. "Hanya saja ... kadang-kadang kau yang membuatku sadar bahwa seseorang sepertiku masih layak dicintai setulus itu. Bahkan aku tidak menyayangi diriku sendiri sebesar itu. Karena kau, aku mulai berusaha melupakan apa yang kulakukan di masa lalu dan memikirkan aku harus apa di masa depan."
"Aku senang mendengarnya." Sakura meremas tangan Sasuke yang tadi menempel di pipinya. "Lantas, apa alasanmu belum mau menetap di Konoha?"
Sasuke menceritakan segala hal tentang dicemooh, disudutkan, dan diusir. Pun dia mengatakan betapa hal tersebut begitu membekas di hatinya hingga dia khawatir akan terulang lagi. Sakura mendekapnya ke dalam kehangatan setelahnya. Dan bagi Sasuke ... rasa nyaman semacam ini sudah lebih dari cukup.
"Jadi ... bagaimana?" tanya Sakura ketika sadar bahwa mereka belum menentukan solusi tentang masalah pulang atau tidak.
"Aku belum bisa menetap di Konoha dan kau tak bisa kutinggal sendiri di sana," simpul Sasuke. "Kau tidak masalah jika memberi aku waktu?"
"Tidak masalah. Meski, yah, sejujurnya aku benar-benar rindu Konoha. Dan aku masih memikirkan kenapa orangtuaku tidak membalas surat. Tetapi ... aku lebih takut jika harus menetap di Konoha tanpamu."
Sasuke mengangguk paham. Segalanya jelas sekarang. Dia meringis memikirkan jika saja mereka membuka segalanya seperti ini di pembicaraan awal, pasti tak akan ada pertengkaran yang membentuk rasa sakit di fisik dan batin Sakura. Dan semua ini membuat Sasuke memiliki harapan: dia bisa sanggup kembali ke Konoha secepatnya dan segera menikahi Sakura agar gadis itu tak lagi memenuhi syarat-syarat dari misi yang disebut-sebut tadi.
"Oh, iya. Bisakah kita menetap di sini semalam lagi? Kau tahu, matahari terbitnya cantik sekali. Aku ingin melihatnya sekali lagi."
Sasuke tersenyum tipis. Ternyata alam memberi efek yang sama bagi Sakura. "Kenapa tidak?"
.
.
Bersambung
