Misi yang Sakura ceritakan hanya berlaku bagi kunoichi yang belum menikah.
Sasuke mencamkan kenyataan itu baik-baik di dalam kepalanya. Meski tanpa dicamkan pun, kalimat tersebut terus berputar-putar di dalam benaknya seperti kaset rusak. Apa yang ingin Sasuke lakukan adalah melindungi Sakura. Dan membawa Sakura jauh dari Konoha adalah cara melindungi yang bisa dikatakan akan dipilih oleh seorang pengecut. Sasuke mengakuinya, meski dirinya terganggu dengan kenyataan bahwa dia memang tengah mengambil jalan pengecut itu. Dan dia tahu ada cara lain yang membuatnya tak seperti pengecut. Cara yang memang sudah ingin dia lakukan sebelum tahu perihal misi itu.
Mata Sasuke tak terlepas dari Sakura yang berjalan mendahuluinya. Tubuh gadis itu tampak berisi lantaran dibungkus pakaian musim dingin yang tebal. Bagi Sakura, suhu lingkungan akhir-akhir ini sudah kelewat dingin dan tak cukup dihalau sehelai jubah. Bahkan, lehernya yang ditempeli rambut-rambut dibungkus syal tebal. Cukup panjang hingga ujung-ujung helaian merah muda itu bermunculan dari bagian bawah syal.
"Sakura." Bersamaan dengan panggilan tersebut, Sasuke menghentikan langkahnya. Begitu juga Sakura.
Sakura memilih untuk memutar tubuh ketimbang merotasikan leher. Pegerakannya sedikit terbatasi bungkusan syal. "Ya, Sasuke-kun?"
Sasuke membersihkan tenggorokan sembari mengikis jarak yang terbentang di antara dirinya dan Sakura. Dia menggenggam tangan Sakura yang dibungkus sarung tangan erat-erat. Dia sedikit merasa terganggu karena logam yang melingkari jari manis Sakura tak bisa dirasanya.
"Dalam waktu dekat, kau tidak perlu mengkhawatirkan misi itu lagi." Sasuke berujar tanpa ragu. Sorot mata yang ditujukan pada sepasang mata hijau Sakura begitu sungguh-sungguh.
Sakura tertegun hingga terlambat berkedip. Kata-kata Sasuke begitu tiba-tiba dan dia memahami maksud yang terselip di dalam sana. Pematah syarat misi yang paling memungkinkan hanyalah dengan cara menikah, karena mengurangi ataupun menambah umur merupakan suatu hal yang irasional. Beberapa menit yang lalu mereka hanya sedang berjalan, tepat setelah mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal, tetapi pernikahan tak pernah menjadi topik. Alih-alih bertanya, Sakura hanya melebarkan senyumnya. Dia mengangguk dan berucap, "Aku percaya padamu."
Pengetahuan Sakura berdasarkan cincin yang melingkari tangannya. Dia tahu Sasuke bukanlah seseorang yang akan bermain-main dengan kata-katanya. Tanpa berkata lagi, Sakura tahu Sasuke pasti akan menikahinya. Meski dia masih belum tahu kapan tepatnya.
Sakura mengamit lengan Sasuke seraya melangkah ke depan. "Kau harus bicara dengan orangtuaku soal ini."
Suasana akan menjadi hening apabila suara alas kaki yang menjejak tanah tidak dihitung. Sakura ingin menangkap raut wajah Sasuke saat ini, tetapi dia sendiri ragu. Dia takut ekspresi yang didapatinya nanti jauh dari ekspektasinya. Dia takut kecewa dan jatuh terpuruk tepat setelah kejadian yang melambungkannya. Sakura merasakan langkah Sasuke melambat lantaran memengaruhi derap langkahnya juga. Suara tenggorokan yang dibersihkan membangun ketegangan di dalam dirinya.
"Aku tahu," kata Sasuke. "Aku akan melakukannya."
Senyum Sakura mengembang lebar. Kepalanya secara refleks bertumpu pada lengan Sasuke yang tengah dia peluk. "Kapan?" tanyanya. "Maksudku, aku tidak mendesakmu. Namun, hal ini memang perlu kepastian, bukan?"
"Segera."
"'Segera' itu relatif, Sasuke-kun."
"Aku belum memiliki estimasi." Napas panjang terhela dari hidung Sasuke. "Tapi, kupikir kita perlu kembali ke Negara Api untuk meminimalisir rentang waktu dari 'segera' itu."
"Kau serius?" Sakura memutuskan untuk menoleh. Memandang dari sisi wajah ternyata tak cukup untuk memperoleh kebenaran dari kata-kata. Namun, tanpa hal itu dia tetap saja memegang rasa percaya terhadap Sasuke di hatinya. "Maksudmu ... kita ke Negara Api agar jarak dan waktu menuju Konoha tidak jauh lagi? Atau kita memang akan kembali ke Konoha?"
Merasakan genggaman tangan Sakura merenggang, Sasuke mengangkat tangannya. Kedua ujung jari yang dilapisi sarung tangan mengetuk dahi Sakura agak keras, membuat gadis itu otomatis mendongak dan menatapnya. "Belum, Sakura. Maaf."
Sakura meringis kecil dan menyentuh keningnya sendiri. Di balik ringisan tersebut, terbentuk senyum kecil yang lekas menghilang ditelan kuluman. "Berarti yang benar adalah pertanyaanku yang pertama, ya?"
Sasuke hanya mengangguk menanggapinya. Sebuah kial sederhana yang cukup untuk menghangatkan hati Sakura, meskipun harapan terbesarnya masih digenggam erat oleh pertanyaan yang kedua.
"Jadi, sekarang kita ke pelabuhan?"
"Kita memang mengarah ke pelabuhan sedari tadi," dengus Sasuke.
Dahi Sakura mengernyit. "Benarkah? Aku sama sekali tidak menyadarinya. Padahal aku yang memimpin jalan."
"Hn."
"Ngomong-ngomong, Sasuke-kun," Sakura menggantungkan kata-katanya sampai mendengar sahutan berupa gumaman dari Sasuke, "sepertinya sisa uang kita tidak banyak. Kita harus berhemat. Jadi, mungkin kita harus mengurangi menginap di penginapan."
"Aku punya solusi."
"Benarkah? Apa?"
"Kita bisa bermalam di markas Orochimaru."
Jaket yang membungkus tubuh Sakura terasa tidak berguna karena tubuhnya membeku. Meskipun dia mendengar bahwa Orochimaru berperan penting di pihak aliansi shinobi dalam perang yang terjadi beberapa tahun lalu lantaran membantu menyembuhkan kondisi lima kage, tetapi Sakura masih menganggap pria itu sedikit ... menyeramkan dan eksentrik. Dia melirik Sasuke dengan sedikit ragu-ragu.
"Kau masih berkomunikasi dengannya?" tanyanya sembari menggigit bibir.
"Semacam itu. Di pengelanaanku sebelum ini, aku beberapa kali bermalam di sana."
Napas yang tertahan di dalam perut Sakura terembus begitu saja. Pelepasan udara dari hidung Sakura membuat Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Dia menoleh dan mendapati wajah gadis itu sedikit diliputi rasa takut. "Ada apa?"
Air liur membasahi tenggorokan Sakura sesuai dengan instruksi pemilik tubuhnya. "Hmm, jangan tersinggung, ya, Sasuke-kun. Aku tahu Orochimaru itu gurumu, tapi ... aku sama sekali tidak bisa menganggap dia biasa-biasa saja. Kau pasti mengerti maksudku."
Sasuke mendengus. "Aku mengerti maksudmu. Namun, kurasa tak ada hal yang perlu kau khawatirkan."
"Iya, tapi mengingat dia yang terobsesi pada tubuhmu rasanya masih membuatku sedikit takut."
"Kau takut, Sakura?" tanya Sasuke dengan nada terkejut yang tersirat. Mendapati wajah Sakura yang mengecut, dia menarik sudut bibirnya. "Lagi pula, dia sudah tidak punya obsesi semacam itu. Dan bila ada gerak-gerik yang mencurigakan, aku bisa melawannya. Bahkan kau juga bisa."
Sakura menggumam kecil tanpa membuka mulut sebagai tanggapan. Dia menatap alas kaki yang tenggelam ke dalam tumpukan salju. Secara tersirat pandangannya tampak tengah menimbang-nimbang apa yang Sasuke katakan. Lelaki itu memang benar, Sakura akui itu. Sasuke bahkan pernah membunuh pria tua itu sebelumnya. Namun, terlepas dari itu, rasanya masih ada sesuatu yang tidak pas di hati Sakura jika dia menyetujui gagasan Sasuke soal bermalam di markas itu sebelumnya. Dia sendiri tak begitu yakin apa dasarnya.
"Jadi?" Sasuke meminta kepastian dari Sakura.
Sakura menghela napas panjang sebelum memutuskan. "Baiklah. Sepertinya gagasanmu lebih baik daripada kita harus bermalam di alam terbuka lebih sering."
.
.
Perlu dua kali melintasi lautan untuk kembali lagi ke Negara Api. Setelah mencapai daratan, Sasuke memutuskan untuk mengaktifkan jurus kuchiyose dan memanggil Garuda. Dia meminta bantuan elang tersebut untuk membawanya dan Sakura ke markas Orochimaru lebih cepat, agar tidak perlu bermalam di mana-mana lagi. Bila ditempuh dengan kaki mungkin bisa sampai dua hari, dengan bantuan Garuda waktu tempuhnya hanya sekitar tiga sampai empat jam.
Sakura tahu Orochimaru memiliki banyak markas. Namun, dia tak mengerti mengapa Sasuke memutuskan untuk bermalam di markas yang ini. Dirinya memahami mengapa dia merasa tak yakin ketika Sasuke bersolusi bermalam di tempat ini sebagai upaya berhemat. Dia masih ingat tempat ini. Entah bagaimana bisa, tiba-tiba kakinya terasa tengah berlari, bersama Naruto dan Yamato. Mereka mendobrak pintu yang ada satu per satu untuk mendapati eksistensi Sasuke yang tak kunjung ditemukan. Ukiran di temboknya masih serupa dengan yang Sakura ingat. Pencahayaan berupa lilin yang menempel di dinding pun masih sama. Suara derap langkah yang timbul ketika kakinya memijak lantai—meski kali ini langkah yang dilakukannya jauh lebih santai daripada waktu itu—seolah-olah berputar ulang di telinganya. Dan segala hal-hal yang bersifat deja vu lainnya.
Semua itu membuat lutut Sakura bergetar dan melemas. Jantungnya terasa terhimpit erat oleh beban imajiner yang menumpuk di atas dadanya. Reka ulang yang dia alami bukan hanya dalam bentuk penglihatan, pendengaran, dan kepekaan saraf. Namun, perasaan perih di hatinya juga. Kesadarannya mengatakan bahwa dia tidak sedang berlari mencari Sasuke, karena lelaki itu sudah kelewat jelas tengah berjalan santai di sisinya. Akan tetapi, hatinya tak menerima kenyataan itu, hingga napas yang sebelumnya teratur tiba-tiba berubah menjadi memburu dan pandangan yang fokus menjadi bergerak-gerak penuh kepanikan.
"... ra."
"... kura."
"Sakura!"
Sakura nyaris terjatuh apabila Sasuke tak menahannya. Panggilan Sasuke tadi kembali menariknya ke dunia nyata sekaligus membuatnya terkejut hingga kehilangan keseimbangan. Dari hangat yang menjalar melalui telapak tangan Sasuke pada lengannya sudah cukup untuk meyakinkan hati Sakura bahwa lelaki itu ada di sisinya. Secara refleks Sakura melingkari bahu Sasuke untuk memperkuat keseimbangan tubuhnya dan meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya. Dia ada di masa sekarang, Sasuke ada di sisinya, bukan di masa lalu ketika Sasuke bahkan tak ditemukan batang hidungnya.
"Sakura," bisik Sasuke saat gadis itu mendekapnya semakin erat. Dia merasa kurang nyaman lantaran di sini siapa saja bisa lewat dan mendapati keduanya dengan posisi seperti ini. Akan tetapi, dia tak melakukan upaya apa pun untuk mendorong Sakura menjauh. "Kau kelihatan tidak sehat. Ada apa?"
"Aku ...," suara Sakura teredam tubuh yang tengah didekapnya, "tidak apa-apa." Dia menggelengkan kepala lantaran tak yakin untuk menceritakan apa yang dirinya rasakan sebelum ini.
"Katakan padaku."
"Tidak, Sasuke-kun. Aku tidak apa-apa."
"Sakura ..."
Suara dehaman seorang perempuan membuat perasaan nyaman Sakura selama memeluk Sasuke menghilang seketika. Dia buru-buru menarik mundur tubuhnya dan melepas lingkaran tangannya. Kepalanya mendongak dan menatap Sasuke yang juga menyiratkan ketidaknyamanan di wajahnya. Arah pandang Sakura mengikuti apa yang Sasuke tatap tepat di tempat sumber suara.
"Sudah kuduga. Itu kau, Sasuke. Meski chakra-mu sedikit berbeda sekarang." Suara Karin menggema pada setiap sisi ruangan. Tangan yang sebelumnya disilang di depan dada, salah satunya bergerak untuk menaikkan kacamata yang merosot dari pangkal hidungnya. "Dan ternyata penampilanmu juga."
"Karin."
Sakura masih terdiam sedari tadi. Dia menatap Karin tanpa berkedip. Otaknya tak mungkin melupakan gadis berhelaian merah pekat itu. Gadis yang disembuhkannya setelah terkena serangan dari Sasuke, setidaknya itulah opininya. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya lantaran belum tiba di sana. Dan ingatan mengenai apa yang terjadi sebelum dia merawat Karin semakin membuat lututnya melemas. Dilepaskannya napas panjang sembari menutup mata. Kenapa yang diingat sedari tadi selalu kenangan menyakitkan mengenai Sasuke-kun?
"Dan ... aku ingat kau." Karin tiba-tiba berucap lagi. Sakura segera membuka mata menyadari bahwa kata-kata itu ditujukan padanya. Entah mengapa ada sekelumit perasaan tidak enak ketika matanya berpapasan dengan mata Karin melalui lensa kacamatanya. "Kalau tidak salah ... namamu Sakura, bukan?"
Senyum terulas di bibir Sakura dengan tulus. "Benar, Karin. Boleh aku memanggilmu begitu?"
"Tentu saja." Kedua sudut bibir Karin ikut tertarik setelah mendapati senyum di wajah Sakura. Kemudian gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya kembali pada Sasuke. Sakura merasa bahwa Karin memang tak mau menatapnya lama-lama, entah apa latar belakangnya.
"Apa yang mau kaulakukan di sini, Sasuke?"
"Aku hanya membutuhkan tempat istirahat selama beberapa hari." Kemudian Sasuke teringat di pengelanaan pertamanya, setiap kali dia bermalam di sini, dia tak pernah bertemu dengan Karin dan dua rekan satu Tim Taka sisanya. Maka, dia tahu bahwa keberadaan Karin di sini pasti memiliki alasan, sama seperti dirinya. "Kau?"
Sakura mendapati keterkejutan yang kentara di wajah Karin. Dia berasumsi bahwa raut wajah tersebut timbul karena Sasuke yang bertanya balik, meskipun kata-kata yang digunakannya begitu irit.
"Biasanya aku menjaga markas lain," tanggap Karin. "Tetapi saat ini ada hal yang hanya bisa kulakukan di sini. Bisa dikatakan sebuah penelitian. Isi laboratorium di sini lebih lengkap, kau tahu?"
"Hn."
"Baiklah, Sasuke. Kurasa kau memang mau istirahat sekarang." Karin menegakkan tubuhnya setelah menjauh dari dinding sebagai sandaran. "Dan Sakura, kau kelihatan sedikit tidak sehat."
Sakura menggeleng. Benarkah wajahnya sepucat itu hingga seseorang yang sesungguhnya masih asing untuknya dapat berpendapat begitu? Padahal dia tahu dirinya tidak sakit. Hanya saja, pikirannya sedikit terganggu hal-hal yang melukai hatinya di masa lalu. "Aku tidak apa-apa."
Karin mengangguk meskipun ketidakyakinan tersirat di wajahnya. "Kau pernah membantuku dulu," katanya perlahan. Sakura terdiam sejenak untuk mencerna kapan dia membantu Karin. Otaknya menyambungkan kata-kata Karin dengan kejadian yang dia pikirkan sedari tadi. Sakura mengerti, barangkali Karin sengaja menghaluskan kata-katanya karena ada Sasuke yang dapat mendengar pembicaraan keduanya. "Kalau kau butuh bantuanku, maksudku, aku juga ninja medis, tanya saja Sasuke jalan menuju laboratorium."
"Terima kasih, Karin. Kau baik sekali."
Senyum melengkung di bibir Karin. Dia menanggapi kata-kata Sakura kemudian undur diri dari keduanya untuk melanjutkan penelitian yang tertunda. Sasuke melanjutkan langkahnya lagi, diikuti oleh Sakura dari sampingnya.
Sakura tahu jelas bahwa ini adalah markas Orochimaru. Maka, seharusnya dia tidak terkejut berpapasan dengan Orochimaru. Walau pria itu tidak sedang memakai ekspresi menyeramkan, tapi seringai ular itu tetap saja membuat Sakura bergidik. Dia pun melirik ke arah Sasuke yang tampak tenang.
"Sungguh mengejutkan menerima kedatanganmu di sini, Sasuke-kun," kata Orochimaru. Rambut hitam panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Semakin memperkeruh aura kelam yang menusuk tengkuk Sakura.
"Hn."
"Ah, dan kau membawa Sakura kemari."
Mendengar namanya disebut tak membuat Sakura ingin menanggapi. Kehadiran Orochimaru di dekatnya benar-benar bukanlah hal biasa.
"Kau pasti datang kemari bukan tanpa alasan, bukan?" Orochimaru terkekeh menyeramkan (menurut Sakura). Wajah Sakura semakin mengerut. "Tipikal dirimu sekali."
"Aku hanya membutuhkan tempat istirahat selama beberapa hari."
"Hm? Jadi kalian butuh dua kamar? Kurasa ada—"
"Tidak," potong Sasuke.
Seketika bahu Sakura menegang. Dia menatap Sasuke dengan waspada. Kemudian perhatiannya berpindah pada Karin yang menghampiri Orochimaru untuk menanyakan hal-hal seputar laboratorium. Ketegangan ototnya menghilang dengan mudahnya. Kemudian dia mendapati Orochimaru mengalihkan perhatian pada Sasuke lagi.
"Jadi kau hanya butuh kamar lamamu?"
"Hn."
"Bagaimana dengan Sakura?"
Sakura mengangkat kepalanya. "I-itu—"
"Dia bersamaku."
Secara refleks Sakura menyiku tulang rusuk Sasuke keras-keras hingga lelaki itu kehilangan keseimbangan. Sebelum dia menenggelamkan wajah ke dalam kedua tangan, dia sempat menangkap keterkejutan di wajah Karin dan Orochimaru. Dan dia jelas tahu apa sebab di balik keterkejutan itu. Sebenarnya ada dua kemungkinan: karena pernyataan terakhir Sasuke, atau karena Sakura yang berani menyiku Sasuke keras-keras.
Dan yang mana pun alasannya, tetap saja tak cukup untuk menghapus rasa malu Sakura.
.
.
"Kau terlalu berlebihan."
Sasuke mendengus keras melihat Sakura yang masih belum santai. Sedari tadi dia tak berhenti mondar-mandir di lantai kamar lama Sasuke yang baru selesai dibersihkan. Selama membersihkan ruangan ini pun, telinga Sasuke harus kebal menerima omelan demi omelan yang terlontar dari bibir Sakura akibat pernyataannya mengenai Sakura yang tidak membutuhkan kamar lain.
Sakura menoleh dan memelototi Sasuke. "Aku tidak berlebihan!"
Sasuke mengerang kesal. "Sebelumnya kau tidak pernah mempermasalahkan hal ini."
Kedua tangan Sakura ditaruh di pinggangnya. Matanya menyipit kesal. Dia sempat berpikir bahwa Sasuke tak serius dalam kata-katanya, tetapi setelah menatap matanya, dia tahu bahwa lelaki itu serius. "Itu karena yang dihadapi bukanlah orang yang kita kenali sebelumnya. Apa kau lupa bahwa tadi kau bilang bahwa aku akan tidur satu kamar denganmu di depan gurumu dan mantan rekan satu timmu?"
"Kenapa kau harus memikirkan hal itu? Ini bukan urusan mereka." Sasuke mengangkat bahunya tak acuh.
"Aku malu, tahu!"
"Kau tidur di sini, aku akan tidur di luar, kalau begitu."
Sakura menepuk dahinya. "Tidak ada bedanya. Mereka pasti sudah berpikir macam-macam. Aaaah, Sasuke-kun, kenapa kau benar-benar tidak peka, sih!?"
"Sudah kubilang, itu bukan urusan mereka."
"Coba saja bayangkan sendiri apabila laki-lakiku tahu bahwa aku tidur sekamar denganmu. Karena mereka tidak tahu apa-apa soal kita benar-benar hanya tidur, mungkin kau sudah dihabisi." Kedua mata Sakura menyalang menantang. Kedua tangan yang sebelumnya melakukan kacak pinggang, kini disilang di depan dada.
"Laki-lakimu?" Tersirat dengan jelas ada nada ketidaksukaan di sana.
"Naruto dan Sai. Kau juga termasuk, sih, sebelumnya." Sakura berdeham. Rona merah tipis merambat di pipinya. "Tapi, sekarang keadaannya berbeda."
"Kenapa kau bilang mereka laki-lakimu?" Sekarang bergantian Sasuke yang mengintimidasi Sakura menggunakan sorot matanya. Namun, dia tahu Sakura sudah punya imunitas akan hal itu, dan itu membuat Sasuke sedikit kesal.
"Itu normal. Mereka teman satu timku, dan kau juga. Mereka laki-laki, dan kadang masih bertindak kekanakan, bahkan Kakashi-sensei juga. Astaga!"
"Aku tidak menemukan apa korelasinya." Sasuke menatap mata Sakura semakin tajam. Langkah mundur yang Sakura ambil membuat Sasuke merasa di atas angin lantaran dia sudah membobol imunitas gadis itu. "Sejak kapan kau menganggap mereka "laki-laki"-mu, huh?"
"K-kau ini tidak mengerti atau bagaimana, sih!? Kadang-kadang keadaan di Tim Tujuh memaksaku untuk mengisi posisi "ibu"." Sakura meneguk ludahnya menadapati Sasuke mulai berdiri dan melangkah ke depan, membuatnya otomatis mundur semakin jauh. "Kau mengerti se-sekarang?"
"Aku yakin itu tidak akan berlaku sama jika rekan satu timku perempuan semua, dan aku menganggap mereka "gadis-gadisku"."
"Apa-apaan itu?" Keberanian Sakura mendadak terkumpul lagi. Dia buru-buru menahan dada Sasuke dengan telapak tangannya agar tidak bisa mendesaknya lagi setelah punggungnya membentur dinding. Berhasil. Bagaimanapun tenaga yang dia miliki melampaui tenaga Sasuke.
"Kau tidak suka, bukan?"
Kini keduanya saling melempar tatapan tajam. Menunggu satu sama lain untuk takluk di bawah sorot mata tersebut. Yang sepertinya akan berakhir seri.
"Jangan bilang kau cemburu."
"Tidak."
"Bohong."
"Aku hanya merasa terganggu dengan caramu memanggil mereka."
"Itu cemburu!"
Sasuke mendengus. "Tidak."
"Terserah. Pokoknya aku akan tetap memanggil mereka begitu karena itu sudah kebiasaan dari sebelum aku bersamamu."
"Tsk. Mereka suami orang."
"Hmmm." Sakura melempar senyuman menantang. Dia terhibur dengaan kecemburuan Sasuke meski lelaki itu terus menyangkal. Padahal, emosi itu sudah tergambar jelas di kedua mata berbeda warnanya.
Sasuke mengerutkan dahi sebagai representasi rasa kesal melihat raut yang terlukis di wajah Sakura. Dia kembali mendesak Sakura lagi hingga gadis itu melepas sebuah engah. Disentuhnya kerah tinggi Sakura dan menyibaknya sedikit. Wajahnya dimiringkan hingga berada di dalam satu garis lurus dengan perpotongan leher Sakura. Kemudian, dia mengecup satu titik di sana, sedikit menghisap, dan menggigitnya, mengabaikan Sakura yang merintih kegelian. Dia menyeringai tipis ketika tanda kemerahan di leher Sakura dia sentuh sendiri. Kerah tinggi gadis itu diperbaiki kembali. "Dan kau milikku, Sakura."
Sakura mendorong dada Sasuke hingga jaraknya cukup untuk menatap wajah Sasuke tanpa perlu mendongak terlalu jauh. "Terus kau kapan jadi suamiku?"
"Kau sudah tahu jawabannya."
Kali ini Sakura benar-benar mendorong dada Sasuke. "Jawabanmu pun tidak pernah jelas walau kau sudah melamarku." Dia memalingkan wajah dan melangkah mendekati cermin. Belum sempat Sasuke menyahuti tutur kata Sakura, gadis itu berujar, "Hei, cermin ini rusak karena kau tonjok, ya?"
Sasuke mengangkat wajahnya dan melirik ke arah cermin. Dia mengangkat alis kebingungan sebab Sakura seolah-olah mengalihkan pembicaraannya sendiri. Mata mereka bertemu di salah satu potongan cermin, lalu Sasuke lekas mengalihkan pandangan. "Aku tidak mau membicarakan hal itu."
"Baiklah," kata Sakura sembari mengusap wajahnya. "Soal kata-kataku sebelumnya ... satu sampai dua bulan dari sekarang, ya? Maaf, aku sempat lupa akan hal itu."
"Hn."
Di bawah cahaya temaram yang memantulkan bayangan di cermin, Sakura mengernyit mendapati kejanggalan di lehernya. Merah. Lantas dia mencari mata Sasuke untuk meminta penjelasan. Yang dia dapati adalah Sasuke yang memalingkan wajah dan menggaruk pipinya canggung. Kemerahan di pipi Sakura merambat ke pipi hingga ujung telinganya. "Ini ... apa-apaan?"
Sasuke mengangkat bahunya, pura-pura tak acuh. Dan hal tersebut membuat Sakura geram. Namun, rasa malunya sudah mengubur niat untuk marah-marah pada Sasuke. Lagi pula, dia pun terlalu malu untuk bertanya lebih lanjut.
Dengan langkah buru-buru, Sakura menghampiri tasnya, lalu meraih kapas dan alkohol. Kapas yang sudah dibasahi alkohol itu ditempelkan ke lehernya dengan harapan bekas ciuman Sasuke di sana akan hilang.
Berbeda dengan sikapnya ketika melepas kecupan di leher Sakura, kini Sasuke justru malah tak berani menoleh ke arah gadis itu. Dia merasa ujung telinganya memanas. Bila pencahayaan di sini memadai dia yakin mungkin Sakura sudah tertawa mendapati kemerahan di sana.
Rasa dari kulit Sakura masih terkecap lidahnya. Aroma tubuh gadis itu pun seolah-olah masih menari-nari di sekitar cuping hidungnya. Ada sebuah desakan di dalam diri Sasuke yang membuatnya ingin mengecapnya lagi, menghirupkanya lagi. Tanpa sadar dia melangkah mendekati Sakura yang tengah duduk di sisi tempat tidur. Gadis itu sudah berhenti berusaha menghapus kemerahan di lehernya.
Sasuke menyentuh bahu Sakura dan mendorongnya sedikit hingga punggung gadis itu perlahan-lahan semakin menempel pada tempat tidur. Seketika napas Sakura tersentak. Dia sama sekali tak mengalihkan pandangan dari wajah Sasuke untuk terus meneliti perubahan ekspresi dari lelaki itu. Cara Sasuke memandangnya masih dengan sorot yang sama. Dengan tatapan intens, begitu pekat akan emosi yang tak Sakura mengerti, dan membuatnya bergidik sendiri. Keningnya dan kening Sasuke masih saling bersentuhan. Begitu pula ujung hidungnya. Sakura mulai panik ketika tubuh Sasuke mulai menghimpit tubuhnya, meski kedua telapak kaki lelaki itu masih menempel di lantai. Ditambah lagi, Sasuke menenggelamkan wajah ke leher Sakura yang tak terbalur alkohol agar raksinya tak terbaur. Sakura lekas menahan dada Sasuke menggunakan kedua telapak tangannya, dan menatap mata lelaki itu lurus-lurus. "Sasuke-kun, kau tidak melupakan janjimu, bukan?"
Desakan dari Sasuke tak terasa lagi. Kedua mata lelaki itu terpejam. Hangat napas halusnya membelai pipi Sakura. "Tentu saja," bisiknya. Sasuke mengerang dalam hati menyadari dia sudah membuat Sakura berpikir macam-macam. Atau memang berlaku macam-macam bila diukur dari sejauh apa kontak yang pernah terjadi di antara mereka. Sebuah kecupan lembut mendarat di dahi Sakura, untuk menenangkan gadis itu, sekaligus dirinya sendiri. "Istirahatlah."
Sasuke lantas menarik diri dari tubuh Sakura. Dia duduk di sisi tempat tidur, kemudian segera berdiri. Dia mendapati Sakura masih menatapnya. Kemerahan di wajahnya belum hilang sedari tadi.
"Aku bukannya tidak mau." Sakura menggigit bibirnya lamat-lamat. Diselipkannya rambut ke belakang telinga. Meski dia membenahi posisinya agar lebih mudah menatap Sasuke, kedua matanya tetap lebih memilih melirik ke samping. "Hanya saja ..."
"Aku tidak bermaksud—ini sudah pernah kita bicarakan," potong Sasuke.
Sakura mengangguk, menelan kembali kata-kata yang sudah siap dia ucapkan untuk menjelaskan. Tiba-tiba dia meringis, merasakan nyeri di perutnya. Sakura kenal rasa sakit ini. Sakit yang selalu dia alami setiap kali datang bulan, terutama semenjak berkelana bersama Sasuke (karena selama itu air minum yang dikonsumsinya lebih sedikit daripada biasanya). Dia buru-buru turun dari tempat tidur dan merogoh tas untuk mencari sebuah benda yang dibutuhkan pada masa-masa ini. Dan nihil.
"Sasuke-kun, di mana laboratoriumnya?"
"Kenapa? Kau benar-benar sakit?"
"Tidak. Uh ... ini urusan perempuan. Aku perlu menemui Karin."
Sasuke menarik sebelah alisnya. Dia yakin Sakura memang sedang menahan sakit. Namun, setelah Sakura bilang ini urusan perempuan, rasanya Sasuke memang tak mau tahu lebih lanjut. Karenanya, Sasuke memberi tahu lokasi laboratorium di mana Karin berada.
Sakura sudah memutuskan untuk tidak duduk di mana pun setelah sadar akan kondisinya. Dia tak mau mengotori apa pun, apalagi di depan Sasuke. Pasti akan canggung sekali. Dia berjalan mendekati pintu. Sebelum membukanya, dia menoleh ke belakang dan berkata, "Sasuke-kun, kau juga butuh istirahat. Jangan menungguku."
Sebelum Sasuke sempat menyahut, Sakura sudah menutup pintu terlebih dahulu. Suara derapan langkah Sakura semakin mengecil. Sasuke mengusap wajah dan mendengus lantaran Sakura sama sekali tak memberi kesempatan untuk menanggapi.
Tak butuh waktu lama sampai Sakura menemukan letak laboratorium. Dia menjulurkan kepala ke dalam, memastikan bahwa Karin masih ada di sana. Dan perempuan berambut merah tersebut memang masih ada di sana. Sakura berdeham pelan, kemudian berkata, "Karin, apa aku mengganggumu?"
Karin menoleh ke belakang setelah meletakkan sebuah gelas ukur. "Tidak. Aku baru saja selesai. Ada apa?"
"Hmm." Sakura diam sejenak sebelum melangkah masuk. Entah mengapa dia urung mengungkapkan maksud kedatangannya kemari keras-keras, walau di tempat ini hanya ada mereka berdua. Bibirnya mendekati telinga Karin dan membisikkan maksudnya.
"Oh," gumam Karin. "Jadi kau kelihatan pucat karena ini, ya?"
Sakura mengulum bibirnya. "Hm, sepertinya."
"Tunggu sebentar."
Karin kembali dengan benda yang Sakura butuhkan. Sakura buru-buru masuk ke dalam toilet. Setelah urusannya selesai, dia kembali lagi dan mendapati Karin masih membereskan sisa-sisa penelitiannya.
"Kalau aku boleh tahu, kau habis melakukan penelitian apa?" Sakura berjalan ke samping Karin yang nyaris menyelesaikan kegiatan terakhirnya.
Tanpa menoleh ke arah Sakura dan lebih milih fokus pada rak tabung reaksi di tangannya, Karin menanggapi, "Sampel darah dari seseorang yang dianggap terkena penyakit aneh di markas lain. Ternyata penyakitnya tidak 'aneh' dan baru, tetapi tifus. Meski tetap saja ini bukan sesuatu yang bisa disyukuri."
"Menganalisis antigen O dan H, ya."
"Kau benar."
Sakura mengembuskan napas panjang. "Sayang sekali tifus tidak bisa langsung sembuh dengan chakra."
"Makanya kubilang ini bukan sesuatu yang bisa kusyukuri. Bahkan makanannya pun harus diatur."
"Jadi kau akan kembali ke markas lain itu untuk mengurus ini?"
Karin menggeleng. "Tidak. Aku hanya menganalisis saja. Hasilnya sudah kukirim dengan burung pengantar pesan. Di sana ada orang lain yang bisa mengurus lebih cepat."
"Syukurlah kalau bisa ditangani lebih cepat."
Karin mengangguk setuju. Kegiatan beres-beresnya sudah selesai. Dia akhirnya menoleh ke arah Sakura sepenuhnya dan mendapati gadis itu memegangi perut bagian bawahnya dengan wajah sedikit kecut.
"Sakura, perutmu sakit?"
"Mm-hm. Biasa," keluh Sakura. "Sebentar lagi juga hilang."
"Mau antidepresan? Setidaknya agar sakitnya tidak lebih lama lagi."
"Tidak. Tidak perlu. Terima kasih, Karin."
Suasana menjadi hening. Sakura ataupun Karin sama-sama tak beranjak dari sana, seolah-olah ada yang mau dibicarakan, tetapi terlalu enggan untuk memulai. Keduanya sama-sama menyadari hal tersebut, dan malah menunggu satu sama lain untuk membukanya. Dan Sakura pun berpikir dia tak masalah berlama-lama di sini. Dia sudah bilang pada Sasuke untuk tidak menunggunya.
"Mm, Sakura," kata Karin ragu-ragu. "Kalau aku boleh tahu, sejak kapan kau bersama Sasuke? Maksudku, kalian bepergian bersama, bukan?"
Sakura terdiam sebentar. Dia mencoba mengingat-ingat sudah berapa lama dia dan Sasuke berkelana bersama. "Setengah tahun, kurasa. Aku tidak begitu ingat."
"Sudah cukup lama, ya, ternyata."
Perubahan ekspresi di wajah Karin tertangkap oleh Sakura. Walaupun Sakura tahu bahwa Karin berusaha menutupinya, yang nyatanya gagal. Seketika dia merasa tak enak hati, karena rasanya dia mulai mengerti kondisi ini. Dia dan Karin sama-sama perempuan. Dan sepertinya Sakura memahami apa yang Karin rasakan.
"Karin, boleh kutanya sesuatu?"
"Tentu saja. Apa?"
Sakura meneguk ludahnya. Dia mempertimbangkan apakah pertanyaan yang sudah menempel di ujung lidahnya pantas ditanyakan atau tidak. Dan bila memang pantas, dia pun tak yakin akan siap mendengar jawabannya. Namun, dorongan-dorongan untuk bertanya terus terasa. "Kau ... menyukai Sasuke-kun?"
"Aku tidak tahu." Karin lekas membekap mulutnya lantaran merasa salah bicara. Dia yakin sekali relasi yang terjalin di antara Sasuke dan Sakura bukan lagi sekadar teman satu tim ataupun teman berkelana. Pasti lebih dari itu. Apalagi mengingat Sasuke yang tampak santai ketika bersama Sakura dan tak tampak risi tatkala gadis itu memeluknya.
Sakura menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Karin. Katakan saja. Sejujurnya."
Karin mengembuskan napas panjang. "Aku tidak tahu ... sekarang. Melihat Sasuke datang bersamamu ... memang sedikit membuatku tercubit. Tapi rasanya tidak sesakit dulu." Ada jeda yang cukup panjang sampai Sakura menduga bahwa ucapan Karin telah selesai. "Kau tahu, kadang-kadang kita akan berpikir bahwa kita sudah melupakan seseorang, tetapi saat bertemu dengan orang itu, rasanya akan berbeda."
"Dulu?"
"Ya ... saat sadar bahwa aku kalah. Maksudku, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa ... cintamu lebih tulus daripada aku. Saat di jembatan."
"O-oh." Sakura membersihkan tenggorokannya. Pipinya seketika memanas. Rasanya tetap saja memalukan jika mengingat hampir semua orang tahu hatinya berlabuh pada siapa. Bahkan di mata orang asing sekalipun. Apakah perasaannya setransparan itu? Selain itu, dia merasa hatinya tercubit karena Karin mengingatkan pada memori di mana dirinya dan Sasuke nyaris saling membunuh.
"Tapi tidak perlu kaupikirkan, Sakura. Sasuke memang ingin bersamamu, bukan? Jadi ... yah ..." Karin mengangkat kedua bahunya. Dia menoleh ke arah Sakura dan tersenyum tipis. Lagi pula, sudah lama sekali semenjak dia berhenti mengharapkan Sasuke, meskipun perasaan di hatinya berkata lain. Maka, ketika datang saat di mana dia harus merelakan perasaannya seperti sekarang, rasanya tidak seberat itu lagi.
Wajah Sakura menampilkan ekspresi gelisah. Dia tidak bisa menatap Karin lama-lama. Perasaan tidak enak terus menghantuinya. Dulu saat dia bersaing dengan Ino untuk mendapatkan Sasuke, dan Sakura selalu memiliki kesempatan yang bagus, bahkan sampai bisa menjadi satu tim, dia merasa sangat puas dan di atas angin. Namun, kali ini dia jauh lebih dewasa dari masa-masa itu. Sakura sempat menempatkan diri di posisi Karin, yang jelas merasa tidak enak.
"Hei, Sakura, kau ini memang terlalu baik atau bagaimana, sih?" tanya Karin saat mendapati raut di wajah Sakura. "Kita ini bisa dikatakan baru saling kenal. Kenapa sepertinya kau memikirkan soal perasaanku terhadap ...," tiba-tiba matanya menangkap cincin di jari manis Sakura. Seketika dia meneguk ludahnya, "tunanganmu segala? Kelihatan merasa bersalah pula. Yah, aku sudah menduga bahwa kau memang orang yang seperti itu. Kau bahkan menangis di depan musuhmu."
Sakura masih tak mau menatap Karin. Namun, dia sempat terkekeh geli mengingat dirinya menangis di depan musuh. Bahkan menjatuhkan air mata pada tubuh musuh itu sendiri. Dia mengibaskan salah satu tangannya.
"Dan ... itu membuatku berpikir bahwa akan sangat menyenangkan jika memiliki teman sepertimu." Karin tersenyum lembut. Menunggu sampai Sakura akhirnya menoleh ke arahnya. Dan kata-kata itu cukup untuk membuat gadis merah muda itu menggeser pandangannya.
Sakura tersenyum tulus, tersentuh oleh kata-kata Karin sebelumnya. "Yah, kita bisa jadi teman yang baik."
"Aku serius. Kau tahu, orang-orang di markas ini ataupun markasku itu aneh-aneh, apalagi Suigetsu. Hiiih, untung saja dia tak ada di sini sekarang!" Karin memeluk tubuhnya sendiri dan bergidik. "Makanya aku senang bisa bertemu orang normal sepertimu."
Sakura menyipitkan matanya, merasa terhibur. "Jadi, pernyataanmu tadi itu hanya berdasarkan aku-satu-satunya-orang-yang-normal, begitu?"
"Eeeh ..." Karin tampak terkejut. Dia mengibaskan kedua tangannya. "Sakura, kau mengerti maksudku bukan itu."
"Memang."
"Hei!"
Tawa kencang terlepas dari bibir Sakura. Suasana tak mengenakan tadi telah menguap entah ke mana.
"Aku juga rindu teman perempuan. Selama lima atau enam bulan terakhir, teman bicaraku benar-benar hanya Sasuke-kun. Aku berinteraksi dengan orang lain paling-paling hanya saat membeli sesuatu atau semacam itu. Dan kau tahu sendiri, kan, bahwa Sasuke-kun itu—"
"Aku apa?"
Sakura menoleh ke sumber suara dan mendengus keras. "Hei, sana pergi! Dasar tukang menguping!"
Sasuke mendecak dan menajamkan sorot matanya. "Seharusnya aku tahu bahwa urusan perempuan itu selalu lama."
"Sudah kubilang jangan menungguku."
"Hn." Sasuke kemudian berjalan menjauh dari ambang pintu hingga Sakura dan Karin tak bisa melihatnya lagi. Sakura kembali menoleh ke arah Karin, lantas mengangkat bahu.
"Kurasa kita sama-sama butuh istirahat, Sakura," kata Karin. Penuturannya didukung punggungnya yang mulai terasa pegal akibat kegiatannya sedari tadi.
"Kau benar." Sakura mengangguk setuju. Dia melangkah ke luar bersamaan dengan perempuan berkacamata tersebut. Ketika sudah ada di pintu dan jalan yang mereka ambil berseberangan, Sakura berkata, "Sampai jumpa besok."
"Ya."
Ketika mendapati Sasuke sudah menghilang di lorong panjang, Sakura semakin sadar bahwa langkah kaki Sasuke cepat sekali bila tengah berjalan sendiri. Tak butuh waktu lama sampai Sakura kembali lagi ke kamar Sasuke. Pintu terbuka dan aroma debu masih menyeruak ke dalam hidungnya. Dia membersihkan tenggorokan sekejap untuk menghilangkan rasa gatal. Padahal, tadi keduanya sudah membersihkan tempat ini sampai debu tak tertangkap lagi oleh mata. Mungkin aroma masih membaur lantaran minimnya udara menuju alam terbuka.
"Ada apa?" tanya Sakura langsung ke inti.
"Apa?"
"Kau tahu apa. Kau tidak pernah menyusulku begitu. Pasti ada yang penting, 'kan?" Sakura duduk di sisi ranjang, tepat di samping Sasuke.
"Nanti saja," tanggap Sasuke. "Kau terlalu lama tadi. Sekarang istirahat."
Sakura mendecak. Namun, dia tak ingin menekan Sasuke sekarang. Terlepas dari lelah, nyeri di perutnya pun membuat dirinya ingin segera berbaring. Dia memutuskan untuk menyimpan chakra-nya saja ketimbang menyembuhkan diri dari perih yang selalu dia anggap kecil ini. "Terserah padamu."
Sasuke menepuk tempat tidur di belakangnya. Dia berdiri dan membiarkan Sakura menjadi satu-satunya orang yang duduk di atas tempat tidur. "Tempat tidur ini sempit. Kau saja yang tidur di sini."
"Bagaimana denganmu?"
"Di bawah." Mata Sasuke melirik ke lantai.
"Tapi—"
"Jangan melawan, Sakura. Aku tahu perutmu sakit."
Sakura mendesah pasrah. "Baiklah."
Setelah melihat Sasuke membuka alas tidur yang selama ini selalu mereka gunakan di atas lantai, Sakura segera menempelkan punggungnya pada kasur. Alas tidurnya bukanlah sesuatu yang empuk seperti yang ada di apartemennya ataupun kamar-kamar penginapan, tapi Sakura tidak terlalu memikirkan itu. Yang dia inginkan saat ini hanyalah tidur agar perih di perut dan nyeri di pinggangnya tak terasa lagi.
Sakura tidur dengan posisi meringkuk menghadap ke arah di mana Sasuke berbaring di atas lantai. Dia menjulurkan tangannya ke ujung tempat tidur, kemudian menggumamkan nama Sasuke.
"Hn?"
Sakura mendorong tangan kirinya semakin jauh hingga menggantung di sisi ranjang. "Pinjam tanganmu."
"Kenapa?"
Wajah Sakura ditenggelamkan ke dalam bantal. "Agar setidaknya aku masih bisa merasakan kehadiranmu selama tidur."
Sasuke diam. Tak menanggapi dengan suara, tetapi langsung membungkus tangan Sakura ke dalam genggamannya yang hangat.
"Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku tidur tanpa membutuhkan selimut. Um ... kita, mungkin?"
"Aa." Sasuke memejamkan sebelah mata yang berada di sisi tumpuan. Sakura benar, kemarin-kemarin mereka berdiri di tanah yang bercuaca dingin. Berbeda dengan negara Api yang cenderung selalu hangat.
"Kalau kau belum mengantuk, katakanlah apa yang mau kau bilang tadi," pinta Sakura dengan suara halus. Suara yang dengan kentara menunjukkan bahwa gadis itu memang sudah mengantuk, tetapi masih memutuskan untuk menahannya.
"Orochimaru bilang tahanannya dulu sedang mengincarku. Mataku, tepatnya," kata Sasuke datar. Sama sekali tak tersirat nada khawatir atau apa pun. Pada dasarnya Sasuke memanglah seorang lelaki yang tak mengenal rasa takut.
"Astaga," desah Sakura. "Rasanya shinobi tidak pernah berhenti memiliki musuh." Suara embusan napas panjang membumbung ke langit-langit ruangan.
Sasuke menggumam setuju. Dalam hati dia ingin tahu apakah Sakura memiliki musuh juga atau tidak. Namun, dia memutuskan untuk tidak bertanya. Dari kalimat Sakura, mungkin gadis itu memang memilikinya, tetapi tak terlalu dia ambil pusing.
"Mungkin setelah ini perjalanan akan sedikit berbahaya." Sasuke mulai menutup kedua matanya. Ibu jarinya mengusap pergelangan tangan Sakura lembut.
"Mungkin. Tapi kau cukup kuat untuk membuat mereka tak berkutik. Lebih dari cukup malah." Suara Sakura semakin mengecil. Kini bagian matanya yang tertutup.
"Hn. Aku tak akan menempatkanmu ke dalam bahaya."
"Aku juga tak akan membiarkan hal itu terjadi pada diriku sendiri." Sakura menggeliatkan lehernya untuk menyamankan diri. Tangan yang menggantung di sisi ranjang sudah benar-benar melemas, seolah-olah tak ada lagi tenaga yang mengalir ke sana. "Aku belum," kuapan terlepas dari bibir Sakura, "mengecup pipi-mu, Sa-su-ke-kunh."
Mendengar suara Sakura yang terputus-putus, Sasuke tak menanggapi apa-apa lagi. Dia menunggu sampai gadis itu menuturkan sesuatu setelahnya, tetapi yang tertangkap oleh telinganya hanyalah keheningan. Tanpa perlu melihat dengan mata, dia tahu bahwa Sakura sudah jatuh tertidur. Sudut-sudut bibir Sasuke tertarik sedikit, lalu dia menggumam, "Oyasumi, Sakura."
Tak adanya tanggapan selain suara tarikan dan embusan napas dalam interval panjang membuat Sasuke semakin yakin akan asumsinya. Dia sedikit mengeratkan genggamannya, kemudian menuruti perasaan kantuknya.
.
.
Bersambung
