A/n:
Ini update tapi di dalam chapter yang sama (?) Chapter ini saya perbarui dengan menambah dua scene. Saya nggak masukkan ke chapter selanjutnya karena atmosfernya lebih cocok masuk di sini. Jadi, bagi yang udah baca chapter 12 sebelumnya, bisa langsung skip ke bagian setelah scene terakhir yang saya update di sini sebelumnya. Selamat membaca! :)
.
.
Sakura selalu menikmati setiap detik yang dilaluinya ketika memperhatikan Sasuke melakukan latihan. Dari banyak aspek yang ada pada diri Sasuke setiap kali lelaki itu melatih diri, kegigihannyalah yang paling Sakura kagumi. Terutama saat ini. Saat kegigihannya tidak didasari balas dendam. Saat kegigihannya tidak didasari persaingan. Saat kegigihannya hanya didasari oleh rasa ingin menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya—dari sisi kemampuan.
Meskipun Sasuke tidak mengatakan apa pun, Sakura paham tujuan utama dari latihan Sasuke saat ini. Dari langkah demi langkah yang Sasuke lakukan saja sudah membuat segalanya jadi transparan. Lelaki itu berkali-kali mengulang segel jurus bola api, namun tanpa meminta uluran tangan Sakura sama sekali. Perkembangan latihannya tampak lebih lambat daripada saat Sasuke masih berumur dua belas, dan Sakura menggigit lidahnya sendiri karena sadar betul apa penyebabnya.
Sasuke baru berhenti latihan ketika hasil latihannya sudah sesuai harapan. Bola api terakhir yang lepas dari mulutnya sudah cukup besar untuk nyaris membakar ujung-ujung dedaunan dari pohon yang mengelilingi danau. Sasuke bisa saja membakarnya, jika mau. Namun, dia mengendalikan jurusnya untuk tidak melakukan hal tersebut. Dan berhasilnya pengendalian itu adalah salah satu bukti konkret bahwa keterbatasannya untuk membentuk segel sebagaimana semestinya sudah tidak menjadi kendala dalam melepas salah satu jurus andalan klannya.
"Itu bagus sekali, Sasuke-kun," ucap Sakura ketika Sasuke sudah duduk di dekatnya. Matanya sama sekali tak lepas dari sosok Sasuke. Keringat yang masih membanjiri wajahnya menyatakan dengan telak bahwa latihan tadi pasti sangat menguras tenaga. "Jangan latihan lagi setidaknya sampai satu jam ke depan. Istirahat dulu."
Sakura sudah menduga Sasuke akan menoleh dan melempar tatapan protes padanya. Mata Sakura langsung menyipit. "Ini hanya latihan, bukan perang, oke? Kau tidak perlu memaksakan diri. Kita masih punya banyak waktu."
Sasuke mendengus. Dia mengalihkan pamdangan dari Sakura. "Hn," Sasuke menanggapi sekenanya. Samar-samar dia mendengar Sakura mendecak di sisinya.
"Hei, apakah itu ... luka bakar?"
Sasuke refleks menyentuh sudut bibirnya dan mendesis rendah. "Tidak apa-apa," katanya. "Ini biasa terjadi."
Dia terpaksa menoleh karena Sakura mendorong pipinya menggunakan jemarinya. Mata gadis itu memerhatikan luka bakar yang melintang di bibir Sasuke dengan intens. "Tapi ini parah, Sasuke-kun!" pekiknya. "Kalau aku tahu bahwa tubuhmu tidak memiliki resistansi absolut terhadap jurus yang kaulakukan, aku pasti sudah membatasimu dari awal. Ah, tentu saja, bahkan chidori pun bisa membuat tanganmu lecet, 'kan? Aku ini bodoh sekali!"
Sasuke mendecak. "Itulah mengapa kau lebih baik tidak tahu."
"Sehingga kau bisa melukai dirimu sesukamu?" ucap Sakura sarkastis.
"Jangan berkata seolah-olah jurus-jurusmu tidak memiliki risiko apa pun." Sasuke melempar tatapan tajam.
Bibir Sakura mengatup rapat. Pikirannya langsung berlabuh pada salah satu jurus yang bahkan dapat memperpendek usianya. Dia tak mampu mendebat lagi karena sadar bahwa dirinya pun tetap melakukan jurus itu saat perang dulu, sekalipun tahu apa risikonya. Dan Sakura pun mengakui dalam hati bahwa dia setuju dengan Sasuke. Lebih baik Sasuke tidak tahu.
Kedua telapak tangan Sakura menangkup pipi Sasuke. "Jangan bergerak," bisiknya. "Biarkan aku mengobati lukamu."
Ibu jari Sakura mengusap luka bakar yang melintang di sekitar bibir Sasuke. Tiba-tiba perih yang berdenyut di wajahnya tak terasa lagi. Sorot matanya melembut, arahnya tertuju pada kedua mata Sakura yang menyiratkan senyuman. Gadis itu melepas tangannya dari wajah Sasuke. "Selesai," katanya. "Istirahat dulu, ya? Aku paham bahwa semua jurus pasti memiliki risiko, tapi jangan memaksakan dirimu saat latihan."
Sasuke tak menjawab dengan kata, tetapi dia menetap di sana. Tatapannya masih tertuju pada Sakura meskipun tidak langsung terarah ke bola matanya. Sakura menoleh lagi, mata mereka bertemu lagi. Sebelah alis Sakura tertarik ke atas.
"Apa?" kata Sakura.
Sasuke menggeleng. "Tidak," ujarnya. "Yang kaulakukan tadi mengingatkanku pada ... ibuku."
Sorot mata Sakura tampak diliputi kekhawatiran. Sasuke mendesah. Menurutnya, Sakura tidak perlu mengkhawatirkan apa pun sekarang.
"Apa yang kulakukan?"
"Kau mengobati luka bakarku setelah aku latihan." Sasuke menjawab dengan tenang. "Yang pernah melakukan itu padaku hanya ibuku dan kau."
"Ibumu ninja medis?"
"Bukan. Ibu mengobatiku menggunakan obat, tidak menggunakan ninjutsu sepertimu."
Wajah Sakura diliputi raut penuh pertimbangan. "Apakah itu hal bagus?" Dia menggigit bibirnya. "Maksudku, tentang apa yang kulakukan mengingatkanmu pada ibumu. Apakah itu hal bagus? Atau ... atau sebaliknya?"
"Ini bukan soal bagus atau tidak, tapi aku tidak terganggu dengan itu."
Sakura masih mengamati raut wajah Sasuke meskipun pria itu sudah memalingkan wajah. Mimik mukanya setenang biasanya, tetapi sorot matanya tidak. Ada emosi kuat yang terpancar di sana. Dan rasanya Sakura dapat memahami apa yang tengah Sasuke rasakan.
"Sasuke-kun, kau merindukan ibumu?"
Sasuke meneguk ludahnya. "Selalu." Dia menarik napas panjang. "Yang samar-samar kuingat dari orangtuaku adalah wajah mereka saat aku berumur tujuh tahun."
"Dan kau membayangkan bagaimana rupa mereka bila kau masih dapat bertemu dengan mereka saat ini."
Sasuke sontak menoleh ke arah Sakura. Kedua kelopak matanya melebar.
"Itu yang kurasakan setiap kali aku terpisah lama denganmu," ungkap Sakura. Pipinya memerah, tetapi raut masam mewarnai wajahnya. "Aku merasa beruntung masih bisa mengetahui apa yang aku tanyakan sendiri. Sementara kau—" mata Sakura sontak melebar, dia buru-buru mengatup mulutnya, "oh, tidak, lupakan saja."
"Aku tidak akan pernah memiliki kesempatan itu," timpal Sasuke. Napas berat terlepas setelahnya. Matanya terpejam sejenak. Bayang-bayang mimpi yang diisi eksistensi orangtuanya berkelebat di dalam benaknya. Semuanya sama; rupa orangtuanya masih sama saat terakhir kali dia melihatnya. Warna gelap pada rambut mereka tak tampak diselipi uban. Gurat-gurat bekas ekspresi di wajah mereka kembali seperti sebelumnya, tidak membekas dan meninggalkan kerutan tanda menua. Tubuh mereka masih berdiri tegap.
Kata orang, hati seorang anak pasti dihinggapi kesedihan setiap kali menyadari bahwa setiap hari orangtuanya semakin menua. Bagi Sasuke, tak melihatnya sama sekali jauh lebih menyedihkan daripada itu.
Sakura meneguk ludah karena merasa bersalah. "Sasuke-kun ...," bisiknya lirih. Sasuke tak menampakkan kesedihan di wajah ataupun melalui perangai lainnya. Dia memang tak suka menampilkan sisi lemahnya di hadapan siapa pun. Akan tetapi, Sakura tahu apa yang tengah lelaki itu rasakan.
Tangan Sakura terulur hingga menyentuh punggung Sasuke. Dia memeluk lelaki itu dengan gerakan penuh sangsi. Saat tak sedikit pun terasa penolakan, Sakura baru mengeratkan dekapannya. Sasuke tak balas memeluknya; tangan lelaki itu menetap di sisi tubuhnya. Namun, Sakura merasakan Sasuke menyandarkan sebagian beban kepalanya di bahunya. Napasnya tak terasa natural, seolah-olah embus dan engahnya diatur secara manual. Ketegangan di tubuhnya berangsur-angsur berkurang.
"Aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu ada untukmu, Sasuke-kun."
"Aku tahu."
Entah bagaimana, Sakura dapat merasakan betapa besar rasa percaya Sasuke padanya. Sasuke tak menunjukkan sisi lemahnya, tetapi membiarkan Sakura untuk merasakannya. Tiba-tiba Sakura diserang rasa sesak di dadanya. Kepercayaannya pada Sasuke bahkan tidak sebesar itu. Dia masih takut Sasuke suatu saat akan menyakitinya atau meninggalkannya lagi. Bahkan rasa panik tak pernah bisa absen dari paginya setiap kali dia terbangun tanpa Sasuke di sisinya. Itulah sebabnya dia tak bisa memberikan segalanya pada Sasuke sekarang, tidak ketika tak ada jaminan bahwa lelaki itu tak akan pergi lagi darinya. Dan ketika Sasuke menarik mundur tubuhnya, Sakura tak memiliki kesanggupan untuk menatap matanya. Sasuke cukup peka untuk merasakannya.
"Ada apa?"
Sakura menggeleng gelisah. "Tidak—tidak apa-apa."
Mata Sasuke memicing. "Kau pembohong yang buruk, Sakura."
Sakura menggeleng lagi. "Ini bukan sesuatu yang perlu kaukhawatirkan."
Sasuke baru saja hendak menerima kata-kata Sakura. Namun, dia mencoba membaca keadaan sekali lagi secara lebih mendalam. Tiba-tiba dia merasakan denyutan nyeri di dadanya. Satu kesimpulan yang relevan melintas di benaknya.
"Kau tidak percaya padaku," ucap Sasuke, nyaris seperti bisikan, tetapi cukup keras untuk membuat Sakura mendengarnya. Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang diluncurkan untuk memastikan kebenaran, melainkan pernyataan yang diungkap sebagai sebuah kesimpulan.
Reaksi tubuh Sakura yang tampak menegang memperkuat konklusi Sasuke. Matanya melebar, tampak terkejut. Napas Sasuke mendadak memberat. Kegelisahan Sakura semakin kentara, gadis itu tampak mencari sebuah sanggahan. Dan apa pun sanggahan itu tak akan pernah bisa mengubah kesimpulan Sasuke sekarang. Tidak ketika apa yang terjadi sudah begitu relevan.
"Apa? Aku tidak—"
"Sudahlah. Aku tidak bisa menyalahkanmu atas itu," ucap Sasuke pasrah. Salivanya terasa sulit untuk ditelan. Raut wajah Sakura diliputi rasa bersalah. "Dan kau tidak perlu merasa bersalah."
Sasuke beranjak berdiri. Tak ada alasan untuknya menetap di sini. Sementara Sakura masih menganga tak percaya. Dia buru-buru menggenggam pergelangan tangan Sasuke. "Sasuke-kun," panggilnya lirih. Sasuke menarik tangannya dengan tenaga yang cukup besar hingga tangan Sakura tersentak. Langkah kaki Sasuke menjauhi Sakura. Sakura membekap mulutnya karena tersadar bahwa Sasuke baru saja disakitinya tanpa sadar.
Sakura menetap di sana. Dia tidak menunda Sasuke yang menjauhkan diri darinya ataupun mengejarnya. Tak ada yang bisa dilakukan atau dikatakan bila mereka bersisian. Dia tak bisa mengubah kepercayaannya pada Sasuke dalam sekejap, dan Sasuke pun akan semakin terluka jika mendengar bahwa Sakura tiba-tiba percaya padanya, yang tentu saja dia ketahui sebagai dusta. Mereka butuh waktu untuk menjauh dari satu sama lain sementara.
.
Sasuke mencintai Sakura karena dia memercayai gadis itu. Atau mungkin justru sebaliknya. Dia percaya pada Sakura karena mencintainya. Entahlah, dia sendiri sebenarnya tidak mengerti. Dia bahkan tak tahu sejak kapan, bagaimana, dan mengapa dia bisa jatuh cinta pada Sakura. Namun, satu hal yang dia pahami, kepercayaan dan rasa cinta merupakan suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Dia tak mengerti bagaimana Sakura bisa sungguh-sungguh mencintainya tanpa menaruh kepercayaan sepenuhnya padanya.
Tangan Sasuke membentuk segel jurus lagi. Dia memilih untuk berlatih kembali ketimbang memikirkan hal yang akan mengganggu ketenangan hatinya. Jurus bola api yang dilepasnya berkali-kali sudah tanpa cacat, seolah-olah segel yang dibentuknya dilakukan menggunakan dua tangan. Dia hendak beralih melatih membentuk chidori, kemudian sempat urung karena selama ini jurus itu dilakukan menggunakan tangan kiri. Dia menarik napas panjang karena sadar ini akan menjadi latihan yang lebih berat lagi.
Butuh waktu dari matahari berada tepat di atas kepalanya hingga langit menjingga untuk menstabilkan chidori di tangan kanannya. Sasuke menghentikan jurusnya. Napasnya terengah-engah; paru-parunya terasa terbakar. Tenggorokannya terasa serat karena dibiarkan kering selama beberapa jam.
Tiba-tiba ingatannya kembali berlabuh pada Sakura. Dan ingatan tentang kejadian tadi mengikutinya. Dia mengesah, masih tak tahu harus bertindak seperti apa di hadapan Sakura. Dan entah mengapa dia pun yakin Sakura pasti merasakan hal yang sama. Hal itu membuatnya enggan untuk menghampiri Sakura, dan kenyataan bahwa Sakura tak menghampirinya pun membuktikan bahwa perasaan mereka tentang hal ini selaras.
Sasuke duduk hingga napasnya teratur kembali. Keringat yang membasahi keningnya dihapus menggunakan punggung tangan. Tangannya diletakkan di atas tanah setelahnya, kemudian dia merasakan getaran dari bumi. Sasuke mengernyit. Otaknya bersimpul bahwa getaran ini terjadi karena pukulan Sakura. Dan ingatan mengenai desas-desus terkait orang-orang yang mengincarnya melengkapi asumsi Sasuke.
Sasuke lekas berdiri dan berlari ke posisi terakhir Sakura tadi. Kerenggangan perasaan yang meliputi mereka dia abaikan, yang paling penting sekarang adalah keselamatan Sakura. Dari jauh, Sakura tampak terengah-engah dengan kepalan tangan yang mengerat. Tanah di sekitarnya retak dan menghambur tak keruan. Dugaan Sasuke benar, dan hal tersebut membuat Sasuke mempercepat langkah kakinya. Dia belum bisa tenang sekalipun tiga orang lelaki yang terkapar tak berdaya di sekitar Sakura menunjukkan bahwa gadis itu sudah mengalahkan mereka.
"Sakura," seru Sasuke.
Gadis itu menoleh, wajahnya tidak diselimuti rasa panik ataupun rasa takut. Kini Sasuke bisa menyimpulkan bahwa Sakura baik-baik saja.
"Apa yang terjadi?"
"Mereka berusaha membawaku," tutur Sakura. Napas lega lepas dari hidungnya. "Tapi kau tidak perlu khawatir, aku berhasil menghentikan mereka."
Perangai Sakura sama sekali tidak memperlihatkan seseorang yang nyaris dibawa oleh tiga orang asing. Sasuke baru saja hendak merasa lega karena yang dihadapi gadis itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkannya sampai tiba-tiba Sakura terduduk dan meringis. "Aku tidak bisa merasakan kakiku," desis Sakura. Gadis itu mengerang ketika upayanya untuk berdiri berkali-kali gagal.
Debaran jantung Sasuke meningkat pesat. Dia lekas meluruskan kedua kaki Sakura hingga gadis itu berselonjor. Salah satu tangan Sakura dililitkan ke bahunya, kemudian dia mencoba untuk membantu Sakura berdiri. Kaki Sakura masih tak bisa menopang tubuhnya. Sasuke membimbing kedua tangan Sakura untuk mengalungi lehernya, kemudian menaruh tangan di belakang kedua lutut Sakura dan menariknya ke atas.
"Apa yang terjadi?"
Sakura tampak panik. "Aku tidak bisa merasakan chakra-ku!" Pegangan tangan Sakura pada lehernya merenggang. "Sasuke-kun, aku mulai tidak bisa merasakan tanganku!" Sakura memekik panik. Sasuke lekas memunculkan susano'o di tangan kirinya untuk menahan tubuh Sakura agar tetap berada dalam gendongannya.
"Katakan apa yang harus kulakukan," desis Sasuke. Dia sama sekali tidak bisa tenang kali ini.
"Bawa aku ke rumah sakit. Aku sudah tidak bisa mengatasi ini sendiri."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Sakura?" Sasuke melompati dahan-dahan pohon dengan cepat. Dia memperhatikan setiap inci tubuh Sakura, sama sekali tak ada luka yang melintang di tubuhnya. Lantas apa yang membuatnya begini?
"Mereka hendak membawaku untuk memancingmu. Itu yang aku tangkap dari percakapan mereka," kata Sakura. "Saat aku melawan, kurasa mereka tidak menduga aku bisa melawan mereka, salah satunya mencengkeram bahuku hingga membuat chakra-ku tidak stabil selama sesaat. Kurasa cengkeraman itu mirip dengan jurus klan Hyuuga yang dapat menggangu aliran chakra. Dan itu mungkin adalah penyebabku menjadi ... begini."
Setelah mendengar penjelasan Sakura, Sasuke berpikir untuk membawa Sakura pada Karin. Namun, jarak mereka sudah cukup jauh dari markas Orochimaru dan lebih dekat ke rumah sakit. Sakura butuh penanganan secepatnya jika gadis itu bahkan sudah tak bisa merasakan chakra-nya.
"Aku tidak seharusnya meninggalkanmu terlalu lama," ucap Sasuke getir.
Sakura meneguk ludahnya. "Sekarang bukan waktunya untuk menyesali apa pun. Tolong bawa saja aku ke rumah sakit secepatnya."
Sasuke lekas mempercepat langkahnya. Tiba-tiba ada tiga orang lain yang menghadang jalannya. Ada satu buah kunai yang menusuk punggungnya dari belakang, daya kejutnya nyaris membuat Sasuke menjatuhkan Sakura. Dia menatap Sakura yang sudah tak sadar. Ada satu buah kunai lagi yang membesit luka di pipinya dari belakang. Sasuke mengerang kesal. Emosinya sudah tidak stabil kali ini. Dia perlu menyelesaikannya dengan cepat. Apalagi orang-orang yang dihadapinya pastilah satu komplotan dengan orang-orang yang membuat Sakura seperti ini.
Susano'o diaktifkan sekalipun tidak terlalu dibutuhkan. Sasuke tak peduli, dia ingin menghabisi mereka dalam waktu cepat dan tak ingin menurunkan Sakura sama sekali. Mereka bahkan tak memiliki kesempatan untuk menyentuh atau melukai Sasuke sama sekali sebelum terkalahkan. Sasuke kembali fokus untuk membawa Sakura ke rumah sakit secepatnya.
Saat tiba di rumah sakit, Sasuke meminta agar yang mengatasi Sakura adalah ninja medis. Permintaannya dikabulkan karena desa ini merupakan desa ninja juga. Walaupun tak ada yang sebaik Sakura ataupun Tsunade, tapi Sasuke berusaha meyakinkan diri bahwa kemampuan mereka cukup untuk mengatasi kondisi Sakura.
Sasuke diminta untuk keluar dari kamar rawat Sakura setelah membaringkan gadis itu di atas tempat tidur. Dia masih tak diizinkan masuk kembali sampai satu hari ke depan. Tanpa sadar, dia tertidur di bangku yang berada di kamar rawat Sakura. Saat tebangun, ada seorang perawat yang baru saja keluar dari kamar rawat Sakura. Sasuke lekas menghampirinya tanpa ragu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sasuke.
Perawat itu menggeleng penuh penyesalan. "Belum sadar dan chakra-nya masih tersendat."
Bahu Sasuke terasa memberat. "Kapan dia bisa sadar?"
"Dokter belum bisa mengonfirmasi hal tersebut."
Pahit terasa di kecapan lidah Sasuke. Dia membiarkan perawat tersebut kembali melakukan tugasnya. Matanya menatap Sakura melalui jendela kecil di pintu. Dia sudah diizinkan masuk tetapi entah mengapa ada rasa enggan yang menyelubungi hatinya.
"Aku tak akan menempatkanmu ke dalam bahaya."
Ucapannya pada Sakura beberapa malam sebelumnya terngiang. Dia tak bisa menepati ucapannya. Dan hal itu semakin memperjelas bahwa Sakura ada dalam kondisi seperti ini merupakan kesalahannya. Oknum-oknum itu ingin menyandera Sakura demi memancingnya. Jika mereka tak tahu bahwa Sakura begitu berarti untuknya, dirinya yakin orang-orang itu tak akan mengincar Sakura.
Sasuke semakin enggan untuk masuk ke dalam kamar rawat Sakura meskipun rasa khawatirnya lebih besar dari yang dia kira. Dirinya tahu, sekali dia masuk ke sana, dia akan sulit untuk pergi lagi. Sementara untuk keselamatan Sakura, dia perlu menjauh dari Sakura. Dia tak bisa menjamin kondisi Sakura akan terus aman setelah dia pergi, tapi setidaknya tak ada lagi musuh-musuhnya yang akan mengincar Sakura.
"Permisi."
Sasuke menoleh ke belakang dan mendapati seorang perawat. Dia langsung menjauh dari pintu dan memberi jalan. Sebelum pintu tertutup sebelumnya, Sasuke segera menahan agar tetap terbuka. Perawat yang baru saja masuk menoleh ke arah Sasuke.
"Bisakah kau sampaikan padanya untuk segera kembali ke Konoha setelah dia sadar?"
Perawat itu tampak ragu, namun mengangguk di akhirnya. Sasuke segera menutup pintu. Keraguan kembali menyelimutinya. Tetapi, kata-kata sudah diucap, dan dia tak mungkin meralat yang baru saja dikatakannya pada perawat. Sasuke lekas meninggalkan rumah sakit dan desa itu tanpa memikirkan apa-apa lagi selain keselamatan Sakura.
Dan Sasuke baru tersadar bahwa dia sendirilah yang membuktikan bahwa dirinya memang tak pantas menjadi seseorang yang Sakura percayai sepenuhnya setelah langkahnya sudah terlalu jauh untuk kembali.
.
Suara tirai yang dibuka samar-samar terdengar telinga Sakura. Kepalanya yang disangga bantal empuk terasa begitu berat dan berdenyut-denyut. Sakura mengangkat tangannya dan memegangi kepalanya yang entah bagaimana terasa akan jatuh. Kedua matanya dibuka secara perlahan. Pandangannya buram, membuatnya memejamkan matanya lagi dan membukanya kembali. Masih buram. Saat sudah menjelas, yang memasuki sudut pandangnya adalah seorang perawat berambut cokelat.
"Syukurlah, Anda sudah sadar," katanya.
Mata Sakura mengerjap. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Sudah berapa lama aku tidak sadar?"
"Aliran chakra Anda sempat berhenti dan Anda tidak sadar selama satu minggu. Jika Anda sudah sadar, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi sekarang. Tapi tolong jangan lakukan ninjutsu apa pun selama chakra Anda belum stabil."
Sakura terdiam sejenak. Tiba-tiba perih di perutnya terasa. Tentu saja, dia tak sadar selama satu minggu, artinya dia belum makan selama itu. Rasanya Sakura ingin segera makan makanan favoritnya tanpa memikirkan kondisinya. Lagi pula, dia tahu apa yang terjadi padanya tidak akan menyebabkan adanya pantangan makanan apa pun.
Pikirannya lantas berlabuh pada Sasuke. Lelaki itu pasti khawatir sekali selama Sakura tak sadarkan diri. Apalagi, waktunya mencapai satu minggu. Lehernya yang masih terasa pegal diputar secara perlahan untuk menangkap pandangan seluruh ruangan. Dia tak menangkap eksistensi Sasuke di mana pun.
"Apakah sebelumnya ada lelaki yang bersamaku? Maksudku, yang membawaku kemari. Kau tahu di mana dia sekarang?" tanya Sakura pada perawat.
Sakura mengernyit saat mendapati perawat yang ditanyanya tampak menimbang-nimbang. Ah, mungkin perawat ini baru bertugas hari ini hingga tak tahu apa-apa tentang Sasuke.
"Dia pergi beberapa hari yang lalu dan belum kembali lagi sejak itu." Asumsi Sakura dipatahkan dengan jawaban perawat tersebut. Mata Sakura melebar tak percaya. Tiba-tiba rasa takut menghampirinya. "Dan dia menitipkan pesan, katanya Anda segeralah kembali ke Konoha setelah sadar."
"A-apa?"
"Hanya itulah yang saya tahu." Raut wajah perawat tersebut tampak menyesal dan prihatin di saat yang sama.
Sakura merasakan firasat buruk. Jika penuturan perawat tersebut disimpulkan, maka konklusi yang paling tepat adalah Sasuke pergi meninggalkannya. Dan dari pesan yang dititipkannya, tak ada pertanda bahwa Sasuke akan kembali lagi. Lapar yang terasa Sakura kini terlupakan dan menguap entah ke mana. Satu-satunya hal yang mengisi benaknya adalah kepergian Sasuke.
Dia tidak mengerti apa alasan lelaki itu jika memang inilah yang terjadi. Apakah Sakura belum cukup baik untuknya? Apakah Sasuke bosan padanya? Terakhir yang dia ingat, Sasuke menaruh kepercayaan yang mendalam padanya. Tidak mungkin Sasuke pergi karena dua alasan yang melintas pertama di otaknya. Tiba-tiba jantung Sakura terasa dihunjam keras. Apakah Sasuke pergi karena tahu bahwa Sakura tak sungguh-sungguh percaya padanya?
Sakura menggigit bibirnya gelisah. Itulah permasalahan terakhir yang melanda dirinya dan Sasuke. Itulah interaksi normal terakhir mereka sebelum datangnya orang-orang yang berusaha menculiknya. Kerongkongan yang sudah kering kini terasa lebih kering lagi. Bahkan terasa serat hingga sampai pada tahap menyakitkan. Sakura yakin kekeringan ini tak dapat disembuhkan dengan segelas air.
Ini adalah kepergian Sasuke yang paling menyakitkan baginya. Dulu, lelaki itu tak pernah menjanjikan apa pun padanya. Dan hubungan mereka pun hanyalah sebatas teman satu tim saja. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Mereka bahkan sudah merencanakan untuk menikah, dan Sasuke menyatakan sendiri bahwa dia tak akan pernah meninggalkan Sakura seperti ini.
Daripada ditinggalkan, Sakura lebih merasa dikhianati. Tatapan matanya kosong. Napasnya memberat. Sekujur tubuhnya sekonyong-konyong terasa nyeri, kemudian diikuti mati rasa. Jika mengacu pada kata-kata perawat, kondisi tubuhnya sekarang sudah baik-baik saja. Seharusnya mati rasa tak dialaminya lagi. Hal tersebut membuatnya yakin bahwa yang menderanya saat ini bukan disebabkan oleh kondisi fisiknya.
Perawat mengatakan sesuatu soal makanan yang akan diantar dan Sakura yang kondisinya akan dicek lagi. Dia hanya menanggapi seperlunya. Tubuhnya diposisikan menyamping setelah perawat meninggalkan kamarnya. Di tengah pergerakannya, dia baru sadar bahwa dirinya masih kesulitan menggerakkan kedua kakinya. Namun, hal itu tak begitu mengganggu pikirannya ketika hatinya diusik rasa sakit yang sungguh-sungguh tak Sakura ketahui apa penawarnya.
Tenggorokannya serat, napasnya tersekat; Sakura ingin menangis sekarang juga. Tapi di sisi lain, dia tak bisa. Apa yang dialaminya terlalu menyakitkan hingga menangis pun tak akan cukup untuk mengurangi bebannya.
Sakura menatap tangan kirinya. Cincin yang melilit jari manisnya semakin membuat hatinya sakit. Dia meneguk salivanya; napasnya bergetar. Matanya dipejamkan erat-erat sebelum Sakura memutuskan untuk melepas cincin itu dari jemarinya dan membiarkannya jatuh ke lantai, menimbulkan suara dentingan samar-samar, hingga suara itu tak terdengar lagi sama sekali.
Kemudian, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Alirannya membasahi pipi dan bantal yang menyangga kepalanya. Sakura menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dia menangis dalam diam karena tak sanggup memendam rasa sakitnya lagi.
.
Sasuke terbangun karena mimpi buruk yang sama setiap harinya. Kalau dulu mimpi buruknya selalu tentang keluarganya, kini Sakura terlibat di dalamnya. Setiap kali dia terbangun, Sasuke akan memindai sekitarnya. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak panik setiap kali tak mendapati Sakura di sekelilingnya. Butuh beberapa detik hingga Sasuke sadar bahwa dia tak lagi bersama Sakura. Gadis itu mungkin masih berada di rumah sakit atau sudah kembali ke Konoha.
Sasuke meletakkan telapak tangannya di dahi. Ingatan tentang Sakura membuat bahunya terasa ditimpa beban yang sangat berat. Dia tahu seberapa besar luka yang ditorehkannya pada Sakura. Dia meninggalkannya ketika janji tak akan pergi sudah terucap, ketika gadis itu yakin bahwa dia mencintainya, setelah dia menawarkan seluruh hidupnya untuk selalu dijalani bersama. Sasuke tak yakin Sakura akan memaafkannya atau memberi kesempatan lagi.
Hal ini pun tak mudah baginya. Meninggalkan Sakura adalah salah satu hal terberat yang pernah dilakukannya seumur hidup. Namun, dia harus melakukannya karena dirinya tak bisa selalu melindungi Sakura setiap waktu. Lebih baik dirinya terpisah dari Sakura dan keselamatan gadis itu terjamin daripada sebaliknya. Itu yang terpenting baginya. Meskipun dia tahu seberapa besar Sakura akan membencinya, seberapa sakit dirinya setiap kali teringat akan Sakura, dan tak akan ada satu orang pun yang dapat mengganti posisi gadis itu di sisinya.
Musuh-musuh yang Sasuke asumsikan masih satu komplotan dengan yang tempo hari berusaha menculik Sakura masih berdatangan. Sasuke tak mengalami kesulitan saat menghadapinya. Setiap kali itu terjadi, dia tak bisa menahan otaknya untuk tidak berpikir bahwa jika ada Sakura di sisinya, musuh-musuh itu pasti lebih cepat diatasi. Namun, di sisi lain dia berpikir bahwa lebih baik Sakura tak ada di sini sama sekali.
Terhitung dua minggu sejak dia meninggalkan Sakura di rumah sakit dan Sasuke masih kesulitan menyesuaikan diri tanpa Sakura di sisinya. Sudah lama sejak terakhir kali hari-harinya diisi kesenyapan. Saat Sakura ada di sisinya, tak pernah ada satu hari pun dia merasa sepi, baik dalam arti kiasan maupun secara harafiah. Dua minggu ini dilalui dengan kondisi yang sebaliknya, dan Sasuke terus-menerus terusik karenanya.
Sekitarnya terlalu sepi tanpa adanya Sakura sekalipun dia berada di tengah-tengah festival yang kegaduhannya membuat telinga sakit. Temperatur terasa terlalu dingin tanpa adanya kalor yang menguar dari tubuh Sakura di dekatnya sekalipun matahari bersinar terik. Suasana terlalu suram tanpa adanya keceriaan Sakura meskipun dia berada di tengah orang-orang yang bergegap gempita.
Sasuke sungguh-sungguh kehilangan Sakura. Dan untuk pertama kalinya, Sasuke berharap keadaan bisa berbeda bagi mereka. Seandainya saja dia bukan shinobi dan Sakura bukan kunoichi. Seandainya tak ada satu orang pun yang mengincarnya dan tahu bahwa Sakura-lah kelemahannya. Seandainya dia ada di dekat Sakura saat ada oknum yang hendak menculiknya. Seandainya dia tak pergi hanya karena perasaannya terusik ketika tahu bahwa Sakura tak percaya padanya.
Suara gemerisik membuat Sasuke menoleh ke arah perbekalannya. Ada seekor kucing hutan kecil yang mengais-ngais barang bawaannya. Sasuke meraih perbekalannya dan menaruhnya di atas pangkuan. Kucing itu mengeong, pandangannya tak lepas dari perbekalan yang dijauhkan darinya, dan entah bagaimana risau yang melandanya bisa berkurang walaupun hanya sedikit.
Dia mengeluarkan makanan untuk kucing tersebut, dan itu mengingatkannya bahwa dirinya pun belum makan. Hanya ada satu onigiri tersisa. Onigiri tersebut dibagi sama rata. Napas Sasuke menajam. Biasanya dia membagi makanan seperti ini dengan Sakura.
Tangan Sasuke mengelus bulu kucing itu setelah makanannya habis. Bulunya terasa kasar. Kucing itu menggigit tangannya setelah beberapa usapan, lantas menggerung dan menjauh secara perlahan.
Sasuke mengernyit. Dia menelaah sekitar dan mencari-cari penyebab dari perubahan drastis perangai kucing itu. Pencariannya terjawab oleh elang panggilannya yang baru saja bertengger di lengan. Kucing itu menggerung semakin keras dan mundur semakin jauh.
Dia tak tahu bagaimana elang itu tiba-tiba datang. Tak terlintas sedikit pun di benaknya bahwa dia memanggilnya dalam waktu dekat. Tak ingin bergelut lebih lama dengan pertanyaan, Sasuke lekas meraih sesuatu yang terikat di cakar elang. Sebuah surat. Dia masih tak punya ide bagaimana surat ini bisa datang.
Elang tersebut segera terbang setelah surat sudah Sasuke lepas. Dia membuka surat itu perlahan. Hal pertama yang terasa setelah membaca huruf demi huruf yang tertulis di sana adalah seolah-olah jantungnya jatuh ke perut. Ini adalah surat balasan dari orangtua Sakura. Surat yang sudah berbulan-bulan gadis itu tunggu kedatangannya, dan malah datang ketika Sasuke sudah tak lagi bersamanya.
Sasuke tidak tahu siapa yang kira-kira menjadi penulis surat tersebut. Namun, jika diperkirakan dari untaian katanya, penulisnya adalah ibu Sakura. Pembuka surat itu adalah penyampaian bahwa kondisi mereka baik-baik saja, alasan mengapa butuh waktu lama untuk membalasnya (mereka tidak sadar bahwa elang yang menetap di depan rumah selama ini ternyata membawa surat), disertai harapan bahwa Sakura pun sama. Sasuke meringis saat membacanya.
Dia tak tahu seperti apa isi surat yang Sakura kirimkan untuk orangtuanya. Namun, dia dapat mengira-ngira bila dilihat dari balasannya. Ada satu paragraf yang menyatakan bahwa ... mereka ikut senang atas Sakura dan dirinya yang sudah bersama. Mereka ingin Sakura untuk mempertemukan mereka dengan dirinya saat pulang ke Konoha nanti. Ada pesan yang berisi Sakura jangan sampai mempermalukan diri sendiri dan ibunya di depan Sasuke dengan bertindak lalai terkait kerapian.
Ada pesan lain yang membuat jantung Sasuke terasa dihunjam sekeras-kerasnya. Pesan itu ditujukan langsung untuknya, penulis surat meminta Sakura membacakannya langsung padanya. Mereka tak peduli siapa Sasuke selama dia menghargai dan mencintai Sakura setulus hatinya, terus menjaganya, dan bisa membuatnya bahagia apa pun yang terjadi. Mereka tahu seberapa besar Sakura mencintainya dan menitipkan jangan sampai dia menyakiti putri mereka satu-satunya. Mereka mempercayakan Sakura sepenuhnya padanya. Semua itu disampaikan secara tersurat, bahkan bila tak yakin pun Sasuke masih bisa membacanya secara berulang.
Isi surat itu nyata. Padahal Sasuke ingat dia merasa bahwa orangtua Sakura tak menyukainya. Dia pikir butuh usaha keras agar orangtua Sakura mempercayakan putri mereka padanya. Nyatanya tidak sesulit yang dibayangkannya. Baginya, orangtua Sakura adalah orang-orang yang paling pengertian. Selama Sakura yakin akan pilihannya, selama Sakura bahagia, selama Sakura bisa bersama orang yang dicintai setulus hatinya, mereka tak menuntut apa-apa.
Semua itu membuat Sasuke sungguh-sungguh merasa menjadi orang yang sangat buruk. Dia membuang jauh kepercayaan yang selama ini didambakannya. Bahkan Sakura sendiri tidak percaya padanya sebesar rasa percaya orangtua gadis itu padanya. Dia sudah menyakiti Sakura, mengabaikan titipan orangtua gadis itu atas putrinya, dan tak lagi menjaganya serta melindunginya secara langsung.
Di detik itu juga, Sasuke sadar bahwa meninggalkan Sakura adalah salah satu kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya seumur hidup.
.
.
Bersambung
.
.
A/n:
Judul saya potong karena rasanya lebih enak begini.
Saya nggak baca ataupun nonton Sasuke Shinden dan hal selain manga Naruto. Jadi, nggak bisa janji ini sesuai dengan ceritanya. Semoga dimaklumi.
Terima kasih kepada teman-teman yang sudah sabar menunggu update-nya fic ini :") Terima kasih juga untuk yang sudah review, fav, follow, dan membaca sampai sini!
daffodila.
