A/n:
In case ada yang belum tau, saya update beberapa scene di chapter 12 (chapter sebelum ini) tanggal 25 Juni 2017. Kenapa nggak di-update di sini? Karena atmosfernya lebih cocok kalau ditaruh di sana. Dan tema(?) chapter-nya juga yang bikin lebih cocok untuk taruh scene-scene itu di sana. Untuk yang belum baca, silakan baca dulu sebelum baca chapter ini. Selamat membaca! :)
.
Jendela yang dibingkai kayu pintu itu memperlihatkan bahwa Sakura baik-baik saja. Wajah Sakura sudah tidak sepucat saat terakhir kali Sasuke melihatnya. Posisinya yang tengah terduduk serta tangan yang diangkat sembari memegang sebuah buku membuktikan bahwa tubuhnya sudah bisa digerakkan. Mimik mukanya tampak tenang, sama persis seperti bagaimana ekspresinya setiap kali tengah tenggelam dalam bacaan. Walaupun terasa sulit dipercaya, tapi Sasuke dapat melihat sendiri bahwa Sakura baik-baik saja. Baik-baik saja tanpanya.
Sasuke meneguk ludah, berniat mundur dari sana. Dia merasa bahwa kehadirannya tak lagi dibutuhkan di sini. Sakura sungguh terlihat baik-baik saja tanpanya. Bila dia masuk lagi ke kehidupan Sakura, mungkin eksistensinya akan merusak kondisi baik-baik saja itu. Rasanya lebih baik dia tak ada di sini sama sekali. Walaupun sesungguhnya Sasuke masih menginginkan Sakura; ini adalah sisi egois yang sulit dia berangus habis. Namun, gagasan bahwa Sakura layak mendapatkan yang jauh lebih baik membuatnya memaksa diri untuk tak mementingkan diri sendiri.
Niatnya terpatahkan ketika tatapan mereka saling bertumbukkan melalui kaca jendela. Tubuh Sasuke membeku. Raut wajah Sakura tercampur aduk dan berubah-ubah dalam waktu cepat. Terkejut, terluka, ragu, terluka lagi, marah, dan terluka lagi. Melihat sorot mata itu membuat Sasuke membuang jauh asumsinya. Sakura jelas tidak baik-baik saja. Secara fisik, mungkin ya, tetapi psikisnya tidak. Atau mungkin secara fisik pun tidak sebaik yang dia pikirkan, karena Sakura masih berada di kamar rawatnya setelah lebih dari dua minggu terlewati sejak dirinya tak sadarkan diri. Dan kelopak mata Sakura yang bengkak menegaskan rasa sakit gadis itu. Sasuke meringis membayangkan seberapa banyak air mata yang dia tumpahkan lagi dari sudut mata Sakura.
Sasuke memberanikan diri untuk memutar kenop pintu dan masuk ke dalam kamar rawat Sakura. Tatapan mata mereka sama sekali tidak terputus. Deru napas Sasuke memendek, jantungnya berdetak sangat kencang. Keheningan menyelimuti mereka. Pematah keheningan yang terjadi secara berkala hanyalah ketukan sepatu Sasuke pada lantai.
Kini raut wajah Sakura stagnan. Hanya ada dua ekspresi yang terkontaminasi: marah dan terluka. Rasanya Sasuke tinggal menunggu Sakura mengusirnya.
"Apa yang kaulakukan di sini?" Suara Sakura meluncur tajam layaknya mata pedang. Tak ada kehangatan yang biasanya selalu tertutur setiap kali dia berbicara. Sorot matanya pun begitu dingin selagi mengucapkannya.
Otak genius Sasuke sama sekali tidak memperoleh jawaban. Sasuke sudah tak tahu lagi apa yang dia lakukan di sini. Langkah yang sempat terhenti kini dilanjutkan lagi dengan bibir yang terkatup rapat. Wajah Sakura diwarnai ekspresi tak percaya.
"Kau tidak seharusnya ada di sini." Kata-kata itu masih meluncur dengan tenang dan dingin, tanpa ada sentakan ataupun penekanan. "Kau memutuskan untuk meninggalkanku."
Sasuke menarik napas panjang. "Aku tahu."
Kelopak mata Sakura semakin melebar. Api kemarahan semakin berkobar di matanya. Bukunya sudah ditaruh di atas paha. Kedua tangannya yang mengepal tampak bergetar. Dada Sasuke tertohok keras ketika menyadari bahwa cincin pemberiannya tak lagi melilit jemari Sakura.
Sakura menarik napas panjang hingga bahunya bergetar. Matanya terpejam erat-erat sebelum dibuka untuk menatap tajam kembali ke arah Sasuke. Air sudah berkumpul di pelupuk matanya. Sasuke yakin gadis itu ingin menangis, tetapi masih berupaya keras untuk menahannya. Terlihat jelas dari dagunya yang diangkat tinggi dan matanya yang dikerjapkan berkali-kali.
"Aku sama sekali tidak bisa memahami isi kepalamu, Sasuke," sengit Sakura. "Kau meninggalkanku setelah berjanji tak akan melakukan itu. Kau meninggalkanku setelah membuatku percaya bahwa kau mencintaiku. Kau meninggalkanku setelah kau melamarku, berniat untuk menikahiku, menawarkan seluruh hidupmu untuk dijalani bersamaku!"
Air mata yang berusaha Sakura tahan mulai tumpah. Gadis itu mengusap wajahnya menggunakan punggung tangan dengan gerakan kasar. Dia menggigit bibirnya hingga memutih. Aliran air mata yang enggan berhenti kini tak dihapus lagi, Sakura membiarkannya mengalir hingga menetes dari ujung dagu.
"Sakura, aku—"
"Aku tak butuh alasanmu!" sergah Sakura. "Aku tidak mengerti. Kau bahkan meninggalkanku di tempat asing. Aku terbangun dengan kenyataan bahwa aku kehilangan kau dan pengendalian chakra-ku." Isakan yang Sakura tahan mati-matian kini lepas begitu saja.
Sasuke tersentak. Kedua matanya melebar. Dia baru mengetahui perihal Sakura kehilangan pengendalian chakra-nya. Dia merasa semakin bodoh sudah meninggalkan Sakura di saat-saat terberat yang gadis itu alami. Pengendalian chakra adalah salah satu penyokong yang membuat Sakura bisa sekuat sebelum gadis itu terbaring di sini. Sasuke yakin rasanya lebih menyakitkan daripada saat dia kehilangan tangan kirinya. Dan dia bahkan menambah rasa sakit yang gadis itu rasakan dengan cara meninggalkannya.
"Sekarang kau kembali saat aku percaya bahwa kau meninggalkanku dan tak akan pernah kembali lagi. Dan kau … kau bahkan masih tampak terkejut saat sadar bahwa aku belum sepenuhnya percaya padamu. Kau sungguh-sungguh berengsek, Sasuke!"
Buku tebal yang berada di pangkuan Sakura dilempar. Sasuke bisa saja menghindari buku tersebut, tetapi dia menetap di tempatnya dan membiarkan buku itu menumbuk keras dada kirinya. Napasnya seolah tertarik paksa. Nyeri di dadanya menyebar ke mana-mana.
"Aku tahu," ucap Sasuke lirih dengan napas terengah. "Aku sungguh-sungguh minta maaf, Sakura."
Sakura menggeleng. Giginya menggertak. "Kau seharusnya memikirkan ini, akankah kau memaafkan dirimu sendiri sekarang? Apakah aku yang memaafkanmu saja sudah cukup?" Sakura meneguk salivanya. Bibirnya bergetar selaras dengan bahunya. "Tidak, bukan? Kau bahkan belum memaafkan dirimu sendiri sebelumnya. Itulah akar utama dari permasalahan ini."
Sasuke semakin kehilangan arah akan apa yang harus dia lakukan. Kata-kata saja jelas tidak cukup.
"Apa yang kuucapkan masuk ke dalam telingamu, tapi kau tak sungguh-sungguh mendengarkanku. Sampai kapan kau akan begini terus, Sasuke? Sampai kapan kau tidak memaafkan dirimu sendiri?" Sakura mengusap wajahnya yang sudah semakin kacau. Ketinggian suaranya menurun. Kemarahan yang menyala di matanya terbiaskan oleh pandangan terluka. "Aku yang memaafkanmu hanya akan menjadi sia-sia. Kejadian seperti itu akan terus terulang lagi selama kau masih menyalahkan dirimu atas hal buruk yang terjadi padaku—pada kita. Kau tahu? Aku marah dan terluka bukan hanya karena kau meninggalkanku, tapi karena aku tahu alasan kau melakukan itu adalah kau yang sepenuhnya menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku. Bagaimana bisa kau hidup seperti itu terus?"
Sasuke masih membisu. Kata-kata Sakura membuatnya sadar dan tersentak di saat yang sama. Sakura benar, dia tak bisa begini terus. Dia pernah mengatakan bahwa dirinya akan berusaha memaafkan dirinya sendiri saat Sakura memintanya dulu, tetapi belum ada upaya apa pun semenjak itu. Dia harus memulainya dari sekarang. Namun, dia tak tahu bagaimana caranya. Ini bukanlah sesuatu yang bisa terpikir otaknya. Ini lebih rumit daripada strategi melawan musuh dan hal semacamnya.
"Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semua ini?" Suara Sasuke diliputi penyesalan yang mendalam. Dia tahu bahwa dirinya salah, dan setelah semua dialog ini, dia semakin menyadari letak kesalahannya.
"Aku tidak tahu," jawab Sakura. "Yang jelas kutahu hanyalah bahwa aku mencintaimu dan kau mencintaiku saja tidak akan pernah bisa cukup …."
Air mata Sakura yang sempat berhenti sejenak kini meleleh lagi. Sakura memeluk tubuhnya sendiri. Dia tak lagi memandang wajah Sasuke.
Sasuke merasa dadanya tertusuk pedang yang diputar. Dari cara bicara Sakura, dia menyimpulkan dirinya sudah tak punya kesempatan lagi. Dan dia sama sekali tak tahu bagaimana caranya mengatasi hal ini.
"Aku tak akan memaksamu. Kalau kau mau memperbaiki semua ini, pikirkanlah caranya sendiri. Aku tak yakin solusi dariku bisa sungguh-sungguh membuatmu memaafkan dirimu sendiri. Membuatku percaya akan hal itu mungkin bisa, tetapi yang aku butuhkan—kita butuhkan—bukanlah itu. Kalau kau memang memilih untuk tidak memperbaikinya, jelas tak ada satu pun yang perlu kaulakukan," tandas Sakura. "Putuskanlah dari sekarang."
Asumsi Sasuke salah. Nyatanya, Sakura masih memberikan kesempatan. Kesempatan yang dia yakini merupakan kesempatan terakhir, yang bila dilewatkan tak akan pernah dia dapatkan kembali.
Dari kata-kata Sakura, gadis itu meminta Sasuke untuk meninggalkan ruangan ini secara halus. Sasuke memutar tubuhnya tanpa menjawab apa pun. Dia sudah melewati pintu. Proses memikirkan keputusannya dimulai dari sekarang. Sejak Sakura mengungkapkan kesempatan itu padanya, Sasuke memilih untuk memperbaiki semuanya. Yang dia butuhkan saat ini adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk melakukannya.
.
Ada sepiring potongan apel di meja sebelah tempat tidur saat Sakura terbangun. Dia mengerjap, matanya masih tak menemukan makanan lain di meja. Selama ini makanan yang diantar tak pernah setengah-setengah, selalu datang sekaligus. Dia tak mengerti mengapa kali ini hanya buah saja yang diantar ke kamarnya. Dan ini adalah pertama kali apel mengisi mejanya.
Sakura beranjak dari baringannya. Dia mencoba untuk meraih segelas air mineral di meja untuk memberangus kering di kerongkongan. Kakinya masih belum terasa. Gerak tubuhnya masih terasa seperti ditahan oleh gelang chakra. Sakura memejamkan matanya erat-erat, dia masih tak merasakan chakra-nya bukan karena adanya gelang chakra yang membuatnya tersendat, tapi karena kondisi tubuhnyalah yang begitu.
Saat tangannya direntangkan untuk meraih gelas, suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Sakura. Sasuke baru saja masuk. Atmosfer dalam ruangan mendadak memberat. Sakura masih mempertahankan pandangannya pada Sasuke. Sebesar apa pun lelaki itu berusaha menyembunyikannya, Sakura masih bisa mengindra rasa ragu yang menyelimutinya. Sakura merasakan Sasuke berusaha membaca raut wajahnya. Dia tak menunjukkan wajah mengusir atau apa pun. Setelah cukup lama berdiri di depan pintu, Sasuke melangkahkan kakinya, menutup jarak yang terbentang di antara dirinya dan Sakura.
Sasuke mengambilkan gelas itu untuknya. Sakura menerimanya tanpa menatap wajah Sasuke. Dia meneguk isi gelas tersebut seperlunya, kemudian menyerahkan gelas itu pada Sasuke saat lelaki itu mengisyaratkan untuk begitu. Sakura masih enggan menatap wajahnya. Ruangan itu masih sehening saat dia sendiri, tetapi terasa lebih sempit karena eksistensi Sasuke.
"Apa yang kaulakukan di sini?"
Kalimat yang sama dengan yang ditanyakannya kemarin. Namun, kali ini Sakura sungguh-sungguh bertanya, berbeda dengan kemarin yang tujuan dari pertanyaan itu adalah untuk mengintimidasi Sasuke dan pelampiasan atas emosinya.
"Melakukan apa yang seharusnya kulakukan," jawab Sasuke.
Sakura mengangkat dagu. Dia menatap wajah Sasuke dan mencoba membaca raut wajahnya. Kesungguhan terpancar dari sana. Tiba-tiba Sakura kehilangan kemampuan untuk menanggapi.
Samar-samar Sakura mendengar Sasuke menelan sesuatu.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Baik," jawab Sakura singkat. Jawaban itu sama sekali tidak mewakili isi hatinya. Sakura tak merasa baik. Dia ingin kondisinya kembali normal seperti sebelumnya, tetapi dia enggan berbicara banyak dengan Sasuke. Dia tak lagi menatap wajah Sasuke.
Suara kursi yang menggesek lantai membuat bahu Sakura menegak. Dia merasa Sasuke akan duduk di sana. Tidak, batinnya. Jangan duduk di sini. Jangan menetap lama di sini. Dia hanya bisa memejamkan matanya erat-erat saat Sasuke benar-benar duduk di kursi sebelah tempat tidurnya.
Suasana mendadak hening lagi dan Sakura sama sekali tak berniat untuk mengubahnya. Bila ada satu hal yang ingin diubah, itu adalah eksistensi Sasuke di sini. Kehadiran lelaki itu di sisinya sekarang membuatnya tidak nyaman.
Sasuke meneguk ludahnya. "Aku menduga kau sudah kembali ke Konoha."
"Kau sekarang tahu kondisiku tidak memungkinkan untuk itu," ucap Sakura getir. Nada bicaranya masih tidak seramah biasanya. "Lagi pula, apa yang membuatmu berpikir aku akan menuruti kata-kata yang kautitipkan pada orang lain setelah kau meninggalkanku?"
"Sakura, aku sungguh-sungguh minta—"
"Hentikan," potong Sakura. Tatapannya masih tertuju pada kedua tangan yang ditaruh di atas paha. "Aku tidak ingin mendengar permintaan maafmu lagi."
Hening lagi setelah embusan napas panjang Sasuke. Sakura bisa merasakan tatapan Sasuke terhadapnya dan dia sama sekali tak berniat untuk membalasnya.
"Kita perlu bicara tentang ... tentang ini," kata Sasuke.
Sakura menggeleng. "Aku tidak sedang ingin bicara."
Sasuke berkesah lagi, kemudian diikuti keheningan lagi. Sakura semakin tak menginginkan kehadiran Sasuke di sini. Yang lelaki itu lakukan hanyalah mengusik kondisi batinnya, dan dia sama sekali tak merasa nyaman akan hal itu.
"Kalau begitu, katakan apa yang harus kulakukan, Sakura," ujar Sasuke lirih. Sakura menoleh ke arah Sasuke sesaat. Wajah lelaki itu dipenuhi penyesalan lagi. Dan entah mengapa, Sakura merasa ingin menangis.
"Seperti yang kukatakan kemarin, aku tidak tahu," jawabnya. Sakura menggigit bibirnya. "Aku tak yakin apa pun yang kaulakukan akan cukup untuk memperbaiki semua ini …."
Ruangan itu senyap lagi. Ini adalah keheningan yang paling mengusik dan membuat Sakura tidak nyaman. Dia melirik Sasuke sesekali. Jika pandangannya tidak salah, Sasuke pun merasakan hal yang sama.
Asumsinya terbuktikan oleh Sasuke yang tiba-tiba berdiri. Tangan lelaki itu terulur dan nyaris menyentuh pipinya, namun terhenti saat Sakura menatapnya dengan pandangan terkejut. Tangan itu dikepalnya dan ditarik lagi dengan canggung. Sepintas raut terluka tertangkap pandangan Sakura.
"Aku akan berada di luar. Katakanlah kalau kau membutuhkan sesuatu," kata Sasuke.
Sakura memutuskan untuk tidak menanggapi. Dia mengalihkan pandangan dari Sasuke yang tengah menjauh darinya. Suara pintu yang tertutup membuat Sakura memejamkan matanya. Entah mengapa hatinya terasa sakit sekali. Dia tak mengerti bagaimana bisa hatinya berdenyut nyeri saat Sasuke tak ada di sisinya dan tetap tak berubah saat lelaki itu kembali.
.
Sakura menduga perawat yang masuk ke dalam kamar rawatnya, namun yang masuk justru adalah orang yang paling tak diduganya. Dia pikir Sasuke tak akan masuk lagi kecuali dia memintanya. Lelaki itu melangkah tanpa keraguan, tidak seperti sebelumnya. Sakura bertanya-tanya apa yang akan Sasuke lakukan kali ini.
"Aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya," kata Sasuke. Dia terdengar begitu yakin atas apa yang diucapnya. "Sakura, lihat aku."
Sakura masih menunduk dan tak berniat menuruti apa yang Sasuke pinta.
"Sakura ...," bujuk Sasuke.
Sakura meneguk ludah. Dia menarik napas panjang sebelum perlahan-lahan mengangkat dagu dan menatap Sasuke.
"Berjanjilah kau akan membiarkan aku melakukan apa pun untuk itu," pinta Sasuke. Sorot matanya memancarkan kesungguhan yang mendalam. Sekilas kecemasan melintas di wajahnya. Suara saliva yang diteguk terdengar beberapa kali.
Pandangannya teralih ke arah lain. Sakura masih tak yakin. "Apa pun" adalah lingkup yang luas dan abstrak. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan lelaki itu lakukan. "Apa pun" bukanlah sesuatu yang terlihat batasannya. Sakura takut Sasuke akan membahayakan diri sendiri nantinya. Sakura takut Sasuke akan melukai dirinya sendiri. Bagaimanapun, dia masih memedulikan lelaki itu sepenuhnya. Cintanya pun tetap tak bisa hilang meskipun lelaki itu melukainya begitu dalam.
"Kumohon," bisik Sasuke, tetapi cukup keras untuk Sakura dengarkan.
Sakura mencoba berpikir lebih dalam lagi. Apabila kasusnya adalah ingin memperbaiki semuanya, menyakiti diri sendiri tentu saja tak akan Sasuke lakukan. Dia menatap Sasuke lagi. Tatapan penuh asa terpancar dari matanya. Dan entah bagaimana, Sakura kehilangan seluruh keraguannya. Dia menarik napas panjang. "Aku janji," katanya.
Kemelut di wajah Sasuke menghilang dalam sekejap. Tatapannya melembut. Sakura tak bisa menahan diri untuk tidak terenyuh.
Tiba-tiba Sasuke mencondongkan tubuh ke arahnya. Sakura tersentak.
"Aku sudah mengatakan pada perawat, aku yang akan membawamu ke ruang terapi." Jantung Sakura mendadak berdetak lebih kencang. Dia sudah berjanji akan membiarkan Sasuke melakukan apa pun, dan ini adalah salah satu hal yang harus dibiarkannya. "Kalungkan tanganmu di leherku."
Sakura masih mematung. Dia menatap Sasuke dengan pandangan tak percaya.
"Kumohon," ucap Sasuke.
Sakura sangat yakin ini adalah hari tersering dia mendengar Sasuke memohon dalam seumur hidupnya. Dia mengangguk perlahan. Tangannya diangkat untuk mengalungi leher Sasuke dengan gerakan skeptis. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi saat Sasuke menyelipkan tangan kanannya di balik lututnya, kemudian tubuhnya terangkat begitu saja.
Pandangan mereka bertemu sesaat. Sakura mendapati leher dan telinga Sasuke memerah, dan kedekatan ini membuatnya mampu mendengar debaran jantung Sasuke yang sama kerasnya dengan miliknya.
Ini adalah kali pertama Sasuke menggendongnya di depan tubuh dalam kondisi keduanya tengah sadar.
Walaupun posisi tubuhnya membuat Sakura tak memiliki kesempatan untuk bergerak bebas lagi, dia tetap merasakan kecanggungan merasuk ke pori-pori di sekujur tubuhnya. Dia sudah mengalihkan pandangan dari wajah Sasuke, tapi pandangan lelaki itu padanya masih terasa.
Sasuke menendang pintu pelan-pelan yang sebelumnya sengaja tidak ditutup rapat. Sakura terasa lebih ringan daripada yang dia ingat. Padahal sebelum berada di sini pun gadis itu sudah tampak kurus, dan kelihatannya berat badannya turun lagi. Bentuk wajahnya pun lebih tirus hingga tulang pipinya nyaris tercetak langsung di bawah kulitnya.
Saat melewati pintu, Sasuke baru sadar bahwa canggung yang dirasakan mereka baru sungguh-sungguh dimulai. Beberapa orang di lorong rumah sakit menahan pandangan pada mereka. Sasuke sama sekali tak ingin mengidentifikasi jenis pandangan mereka, dia justru berusaha mengabaikannya. Tatapannya teralih pada wajah Sakura lagi yang ditenggelamkan ke dadanya dan masih menolak menatapnya balik.
Sasuke menurunkan Sakura di ruang terapi, tepat di lokasi gadis itu melatih gerak kaki. Sakura berpegang pada bahunya saat sudah berdiri. Dia sudah bisa berdiri tapi masih membutuhkan pegangan untuk menyeimbangkannya, layaknya balita yang baru belajar berdiri di atas kedua kakinya. Sementara gerak untuk melangkah masih perlu dipicu lebih jauh lagi. Medis yang menangani Sakura menjamin persentase gadis itu akan kembali ke kondisi tubuhnya yang normal sebesar sembilan puluh persen, walaupun prosesnya memakan waktu lama.
Sakura beberapa kali terjatuh dan berusaha berdiri dari. Sasuke benar-benar ingin membantunya, namun dia tak bisa. Sungguh menyedihkan rasanya ketika peduli pada seseorang tapi tak ada satu pun yang bisa dilakukan. Terapi Sakura hari ini dicukupkan dengan kondisi terakhir Sakura yang sudah bisa melangkahkan kaki perlahan tanpa terjatuh lagi meskipun masih perlu berpegangan.
Sasuke menggendong Sakura lagi untuk membawa gadis itu ke kamar rawatnya. Perilaku Sakura masih sama, gadis itu masih menolak untuk menatapnya. Dia meninggalkan Sakura di kamarnya karena merasakan sendiri bahwa gadis itu tak nyaman atas kehadirannya.
Di hari ketiga, Sakura bisa berjalan perlahan tanpa berpegangan. Mengabaikan hal itu, Sasuke tetap menggendong Sakura. Sakura mengungkapkan keengganan tapi Sasuke tetap melakukannya. Dia masih menggenggam janji Sakura, gadis itu akan membiarkan Sasuke melakukan apa pun untuk memperbaiki semuanya.
Sakura terbangun di tengah malam pada hari kelima yang dihitung sejak Sasuke kembali. Tangan kirinya terasa digenggam kehangatan. Dia mengangkat kepalanya dan mendapati Sasuke terlelap di sisi kirinya. Sakura mengerjap. Lagi-lagi, hatinya terenyuh karena sikap Sasuke.
Luka yang baru lelaki itu torehkan kini mulai mengering. Eksistensi Sasuke di sekitarnya tak lagi membuatnya tak nyaman. Api kemarahan yang berkobar hebat karena Sasuke kini mulai padam. Semuanya belum kembali seperti sedia kala—Sakura ragu semuanya akan kembali seperti sedia kala—tapi setidaknya Sakura sudah lebih rileks sekarang. Dan dia pun tahu bahwa Sasuke merasakan hal yang sama. Relasi mereka sudah tidak setegang sebelumnya. Sakura tak yakin dirinya sudah bisa memaafkan Sasuke ataupun kembali bersamanya, tapi kondisi hubungan mereka sekarang sudah tak lagi memaksa air mata meluncur di pipinya.
Sakura menarik tangan kirinya dari genggaman Sasuke secara perlahan. Tubuhnya mengarah ke kanan, dia berniat untuk turun dan menuju toilet. Gerakannya terhenti saat dia mendengar Sasuke memanggilnya. Sakura menoleh dan mendapati Sasuke sudah menegakkan tubuh dan menatap ke arahnya.
"Ke mana?" tanyanya. Suaranya masih sengau.
"Toilet." Sakura berpaling lagi dan turun dari tempat tidur. Dia terperanjat ketika mendapati Sasuke sudah berdiri di hadapannya. Tangan lelaki itu membimbing tangannya untuk mengalung di leher seperti biasanya. Sakura menggeleng dan menarik lagi tangannya. "Aku bisa berjalan sendiri."
Sasuke menarik tangan Sakura lagi. "Kau sudah berjanji, Sakura," katanya.
Mata Sakura membelalak tak percaya. Namun, dia membiarkan Sasuke melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dan entah mengapa Sakura merasa teramat sangat malu saat tubuhnya sudah diangkat Sasuke. Inilah yang dirasakannya sejak awal Sasuke melakukannya, tetapi yang dirasakannya kali ini lebih intens daripada biasanya. Dan perasaannya masih tak berubah saat Sasuke kembali menggendongnya sampai tempat tidur.
"Istirahatlah lagi," kata Sasuke setelah membaringkannya.
Sakura tak menanggapi. Dia menoleh ke arah Sasuke saat derap langkah lelaki itu mengisi keheningan tengah malam. Punggungnyalah yang Sakura lihat.
"Kau ... kau mau ke mana?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Ke luar."
Sakura memahami maksudnya. Sasuke pasti keluar karena berpikir Sakura masih tak nyaman atas kehadirannya. Sakura tak memutus pandangan dari Sasuke yang terus melangkah menuju pintu. Dia menarik napas banyak-banyak. Entah mengapa jantungnya berdebar lebih kencang daripada biasanya. Saat Sasuke sudah memegang kenop pintu, Sakura lekas memanggilnya. Suaranya melengking dan terdengar bodoh. Dia menggigit lidah karenanya.
"Hm?"
Sakura menarik napas panjang. "Tetaplah di sini."
Sasuke memutar tubuh dan menatapnya. Sorot matanya menyiratkan sebuah pertanyaan.
"Tetaplah di sini," ulang Sakura dengan intonasi lebih yakin.
Sasuke menetap di tempatnya berdiri. Dia menahan pandangan pada wajah Sakura selama beberapa detik sebelum melangkah ke arah tempat tidur lagi. Sakura menatap Sasuke saat lelaki itu duduk di kursi sebelah tempat tidurnya. Dia tersenyum tipis. Sasuke menggenggam tangannya lagi dengan gerakan ragu dan Sakura tak menariknya. Kemudian mereka terlelap dengan tangan satu sama lain yang saling menggenggam.
Sebelum tertidur, Sakura berharap Sasuke masih menggenggam tangannya saat dia terbangun. Dan harapannya tidak terjawab. Namun, Sasuke masih ada di sisinya, baru saja menaruh piring di atas meja. Sakura mengangkat kepala dan mendapati potongan apel berkulit merah mengisi piring tersebut.
"Apel-apel itu ... itu dari kau," ucap Sakura tak percaya. Bagaimana mungkin dia tak menyadarinya? Apel-apel itu baru datang rutin setiap pagi di kamarnya semenjak Sasuke ada di sini.
Sasuke menoleh ke arah Sakura, dia baru sadar bahwa gadis itu sudah bangun. Piring itu diangkatnya lagi dan tangannya mengulur ke arah Sakura. Sakura menatap piring itu tanpa berkedip.
Sasuke berdeham. "Aku tak akan memukul piringnya."
Senyum mengembang di bibir Sakura. Kata-kata itu membuatnya teringat masa lalu saat dirinya memberikan Sasuke sepiring potongan apel dan lelaki itu malah memukulnya hingga terjatuh dan pecah. Kini posisi mereka berbalik, bedanya Sakura tak berniat untuk memecahkan piringnya.
"Kau memotongnya sendiri?"
"Hn."
Sakura melempar senyuman ke arah Sasuke. Sasuke terkejut karenanya.
"Terima kasih." Sakura mengambil satu potong dan memakannya. Dia meraih piring itu dan menaruhnya di pinggir tempat tidurnya. "Kau juga makanlah."
"Tidak. Untukmu saja."
Sakura hendak memaksa. Namun, dia belum merasa sedekat dulu dengan Sasuke hingga terasa canggung untuk melakukannya.
Sasuke masih menggendongnya meskipun jelas-jelas Sakura sudah bisa berjalan sekarang, walau langkahnya masih tertatih-tatih. Kali ini Sakura mengangkat dagu dan menatap Sasuke, tak seperti sebelumnya yang selalu menenggelamkan wajah ke dada. Dan Sasuke justru tak bisa menatap Sakura sekarang, ada sekelumit rasa malu yang menghalanginya.
Sakura yang sudah bisa berjalan normal menandakan bahwa chakra-nya mulai stabil. Dia mencoba mengaktifkan ninjutsu hingga chakra hijau mengalir ke tangannya. Dia terperangah karena hal itu terjadi seperti chakra Sakura tak pernah tersendat sebelumnya, meskipun mengawalinya sulit dan perlu dipicu chakra dari ninja medis lain. Sakura terus mengulanginya hingga sungguh-sungguh terasa stabil.
Sasuke jelas memahami kondisi Sakura yang nyaris mendekati normal, tetapi dia masih menggendongnya. Dia baru membalas tatapan Sakura padanya saat mereka sudah memasuki kamar rawat Sakura.
Sakura menyunggingkan seulas senyum tipis. Ada beberapa hal yang membuat harinya terasa lebih ringan: tak ada lagi perasaan tak nyaman akan kehadiran Sasuke dan kondisi tubuhnya yang nyaris 100% pulih. Dia masih enggan mengalihkan pandangan dari mata hitam yang tak tertutup rambut tersebut. Ada ketulusan yang menyentuh Sakura sampai ke hatinya. Dia pun sadar bahwa kehadiran Sasuke di sisinya selama beberapa hari ini adalah bukti bahwa lelaki itu mulai memaafkan dirinya sendiri. Dan dirinya yang selama ini membiarkan Sasuke—yang hanya memiliki satu tangan—menggendongnya adalah manifestasi dari rasa percaya.
Setelah berbaring, tangan Sakura masih mengalung di leher Sasuke. Matanya menatap mata hijau Sakura dan tak bisa lepas darinya. Mata Sakura tiba-tiba terpejam dan dia merasakan bibir gadis itu mengecup bibirnya. Sasuke membelalak tak percaya.
"Aku percaya padamu," ucap Sakura tulus. Entah mengapa matanya mendadak berkaca-kaca. "Terima kasih atas segala hal yang sudah kaulakukan untukku."
Sasuke tak bisa menahan diri untuk tidak membalas kecupan Sakura. Hatinya menghangat karena akhirnya dia mendapatkan kepercayaan Sakura. Kecupannya dalam, membuncahkan segala perasaan yang tak bisa dia ucap secara verbal. Sasuke merasakan Sakura meleleh dalam kecupannya. Dia menarik diri dan masih menempelkan kening mereka. Sorot matanya seolah-olah adalah magnet yang berbeda kutub dengan mata Sakura karena Sasuke merasa sulit sekali untuk mengalihkannya.
"Apa yang akan kaulakukan sekarang?" tanya Sasuke setelah perlahan-lahan menarik mundur kepalanya.
"Aku berniat untuk membantu di sini sebentar," jawab Sakura. "Dan ... dan kembali ke Konoha."
Sasuke mendadak merasa kesulitan untuk menelan ludahnya. Ada segelintir rasa kecewa karena jawaban Sakura menyiratkan bahwa gadis itu tak ingin kembali bersamanya. Sasuke menimbang-nimbang sejenak. Dia menarik napas sebelum berkata, "Aku akan meninggalkan desa ini besok malam."
Sakura terdiam. Bahunya menegang.
"Aku akan menunggu di perbatasan desa kalau kau mau ikut denganku."
Bibir Sakura masih terkatup rapat. Wajahnya tampak kaku.
"Kau tidak perlu memutuskannya sekarang."
Sasuke menyentuh pipi Sakura lembut—gerakannya terasa ragu—lantas menegakkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu.
Sakura masih mematung di tempatnya. Dia memahami situasi ini. Pernyataan Sasuke tadi adalah caranya untuk memastikan bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Sakura memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tak tahu bagaimana keputusannya, dan keputusan itu harus sudah ada sebelum besok malam datang.
.
Jingga di langit mulai dibiaskan kegelapan. Lampu-lampu di desa menyala satu per satu hingga kegelapan bisa terhindari. Sasuke berdiri di perbatasan dan membelakangi desa. Besar harapan Sakura akan datang padanya, tetapi dia enggan menunggu sembari menatap ke arah satu-satunya jalan Sakura menuju ke sana.
Waktu yang dilewatinya terasa berjalan begitu lama. Suhu yang cenderung hangat kini mulai turun beberapa angka. Hitam sudah memenuhi langit sekarang. Tak ada bulan ataupun bintang yang menghiasi. Jika Sakura memutuskan untuk ikut, seharusnya dia akan datang tak lama lagi.
Kaki yang sudah menopang tubuhnya cukup lama mulai terasa pegal. Sasuke membebani bobot tubuh hanya pada salah satu kakinya. Adanya derap langkah yang mendekatinya membuat Sasuke berdiri tegak lagi. Ekspektasinya adalah Sakura. Namun, nyatanya sosok itu berjalan melewatinya dan jelas-jelas bukan Sakura bila dilihat dari rambut hitamnya.
Waktu berdetak sampai tiupan angin semakin liar. Sasuke mulai menyimpulkan bahwa Sakura memang tak mau ikut dengannya lagi. Dia menarik napas panjang dan mencoba lapang dada atas situasi ini. Kelewat sulit. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan lagi.
Sasuke memutuskan untuk pergi saja. Rasanya sudah seperempat malam dia menunggu di sana dan tak ada tanda-tanda eksistensi Sakura. Sebelum mengambil langkah pertama, Sasuke menoleh ke belakang, memiliki asa dapat menemukan Sakura di sana berjalan ke arahnya. Dan asanya memang sungguh-sungguh terjadi beberapa detik setelah Sasuke membatinkannya.
Sakura ada di sana. Gadis itu berjalan dengan langkah setengah buru-buru. Tangannya melambai ke arah Sasuke.
Sasuke masih sulit memercayai pandangannya sendiri, padahal matanya adalah mata yang berkemampuan lebih dari mata normal. Dan saat kepercayaan itu sampai padanya, Sasuke tersenyum tipis ke arah Sakura. Gadis itu membalas dengan senyum yang lebih lebar lagi dan semakin mempercepat langkahnya sebisa mungkin.
Langkah Sakura tak berhenti di sisinya, justru melewatinya. Pada jarak dua meter di depannya, gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang. Dia mengangkat sebelah tangannya ke atas. "Ayo berangkat, Sasuke-kun!"
Sasuke sempat diam sejenak sebelum akhirnya mengikis jarak di antara dirinya dan Sakura. Jika dia tak salah ingat, dirinya tak pernah merasa lebih tentram daripada sekarang.
.
.
Bersambung
