Tak sepatah kata pun terucap untuk membahas apa yang terjadi ketika mereka terpisah. Bagi Sasuke, ini terasa salah. Seolah-olah penyebab luka yang dia torehkan pada Sakura tak pernah terjadi sama sekali. Mungkin, Sakura merasa penebusan Sasuke sudah cukup, seperti yang gadis itu rasakan setelah perang selesai. Mungkin. Atau gadis itu teramat sangat tak ingin membahasnya karena tak ingin mengorek luka yang baru sembuh. Atau dia ingin melupakannya saja—tidak, untuk yang ini Sasuke teramat sangat tidak yakin. Memaafkan mungkin bisa. Tapi, melupakan? Jangan terlalu berharap.

Dalam beberapa hari perjalanan mereka, Sakura tak pernah mempertanyakan ke mana kaki mereka akan melangkah. Gadis itu hanya mengikuti alur saja, berbeda dari biasanya, seakan rasa penasaran yang menggelutinya telah ditarik paksa. Dan entah mengapa selama ini pun Sasuke belum mau mengungkapnya. Terlebih saat interaksi mereka belum kembali seperti sedia kala. Mereka bercakap-cakap, berjalan bersama, melakukan kegiatan bersama, tapi ada suatu jarak kentara yang tak bisa ditembus. Jarak yang sebelumnya sudah lama diberangus oleh mereka.

Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang tengah duduk di seberang api unggun. Kedua telapak tangannya saling melekat dan digosokkan pada satu sama lain. Raut wajahnya tampak tenang, tak terlihat adanya satu garis pun terbebani. Sasuke menarik kesimpulan bahwa Sakura sungguh-sungguh ingin berada di sini, bersamanya, tanpa adanya dorongan atau paksaan apa pun.

Sasuke beringsut ke samping Sakura. Di tangannya sudah terdapat secarik kertas yang dilintangi garis-garis jejak dilipat. Dia merasa bersalah baru hendak menyerahkan surat itu pada Sakura. Namun, selama ini dia memang tak pernah menemukan waktu yang tepat. Dan sekaranglah waktu yang dirasanya tepat.

"Sakura," panggil Sasuke.

Gadis itu menjawab dengan tolehan kepala. Sasuke langsung mengulurkan tangannya. Tatapan Sakura tertuju pada surat.

"Ini apa?"

"Baca saja."

Sakura menatap Sasuke sejenak sebelum membuka suratnya. Sasuke mengamati raut wajah Sakura lagi. Mimik muka yang awalnya tampak serius itu tiba-tiba berubah. Sebelah tangannya yang bebas membekap mulut, matanya menyipit dan terpejam erat beberapa kali. Raut haru mendominasi wajahnya. Dia melipat surat itu dan menatap Sasuke.

"Kupikir ... kupikir mereka membenciku karena sudah pergi," katanya parau. Air mata menetes dari sudut matanya dan langsung dia seka. "Sasuke-kun, kupikir surat ini tak akan pernah datang."

Sasuke menarik napas panjang. "Aku menerima surat itu beberapa minggu yang lalu. Aku tak bisa menemukan waktu yang tepat untuk memberikannya padamu selain sekarang."

Sakura menggeleng. Sasuke butuh berpikir untuk memahami maksudnya.

"Kau sudah membacanya?"

"Hn." Sasuke meneguk ludahnya. "Kau keberatan?"

Sakura menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan ada bagian yang memang ditujukan padamu." Dia mengusap wajahnya lagi. "Kau sudah membacanya bukan? Kau pernah berpikir bahwa mereka tak suka padamu. Dugaanmu salah, Sasuke-kun."

Sasuke mengangguk. Dia memahami itu lebih dari yang Sakura ucap karena sudah membaca suratnya langsung. Sakura beringsut mendekatinya. Tangan gadis itu yang melingkarinya tubuhnya membuat Sasuke terkejut. Ini adalah pertama kali Sakura memeluknya lagi setelah pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu. Getaran di tubuh Sakura membuatnya meletakkan tangannya sendiri di punggung gadis itu.

"Sakura," kata Sasuke. "Kau mau pulang ke Konoha?"

Anggukan terasa di bahunya. Sasuke memegang bahu Sakura dan mendorong tubuh gadis itu agar dapat bertatapan dengan wajahnya. Air mata yang Sasuke yakini mengalir karena kerinduan itu disekanya menggunakan ibu jari. "Ayo pulang," kata Sasuke.

Kedua mata Sakura melebar. "Sungguh?"

"Tentu saja."

Sakura memeluk tubuh Sasuke lagi dengan dekapan yang lebih erat. Sasuke bahkan nyaris terjengkang dari duduknya karena terjangan Sakura yang terlalu dipenuhi semangat. Dagunya menempel pada bahu Sasuke. Kedua matanya terpejam, wajahnya mengumbar senyuman. Hatinya dipenuhi buncahan rasa senang dan rindu yang mendalam. Dengan keputusan itu, Sakura bisa merasakan Sasuke sungguh-sungguh berusaha memaafkan dirinya sendiri. Dan itu membuat beban yang memberati pundaknya menghilang seketika.

"Terima kasih, Sasuke-kun," ucap Sakura tulus. "Terima kasih."

"Itu bukan sesuatu yang perlu kau beri ucapan terima kasih."

Sakura tampaknya tak menghiraukan ucapan Sasuke. Gadis itu tetap memperlihatkan rasa terima kasihnya. Tiba-tiba Sasuke merasa jarak yang membatasi mereka sudah lenyap entah ke mana.

.

Tak banyak sosok familier yang ditemui selama perjalanan dari gerbang Konoha sampai ke menara hokage, baik bagi Sakura maupun bagi Sasuke. Mereka tetap menjadi pusat perhatian saat melewati tempat-tempat ramai karena memang belum sempat membersihkan diri. Tapi hal tersebut tak mengurangi langkah Sakura yang terasa jauh lebih ringan karena ikut melayang oleh rasa senang dan semangat.

Yang mengetuk pintu ruang kerja hokage adalah Sasuke. Suara Kakashi yang mempersilakan masuk diredam masker dan pintu yang tertutup terdengar. Sasuke memutar kenop pintu dan membiarkan Sakura masuk lebih dulu. Entah mengapa dia enggan melihat perubahan ekspresi Kakashi saat melihat merekalah tamunya. Biar saja Sakura yang melihatnya.

"Oh, Sakura, kau sudah kembali," komentar Kakashi setelah menangkap eksistensi Sakura. "Bagaimana dengan ..." Sasuke masuk ke dalam ruangan tersebut sepenuhnya, "... Sasuke?"

"Hn."

"Aku lega kau benar-benar bertemu dengan Sasuke, Sakura." Kakashi mengenyampingkan tumpukan dokumen yang perlu dibaca dan ditandatangani kemudian berdiri. "Lihat betapa akurnya murid-muridku sekarang."

Sasuke mendecak. Dia sudah menduga pertemuan ini akan diisi dengan basa-basi.

"Jadi selama ini kalian benar-benar bersama?" tanya Kakashi.

Sakura mengangguk. Pipinya merona. Dagunya ditarik sehingga dia setengah menunduk. "Benar, Hokage-sama."

Kakashi terkekeh melihat Sakura yang tampak malu. Tiba-tiba dia membayangkan jika Naruto ada di sini, lelaki itu pasti sudah melayang karena tonjokan dalam bentuk representasi rasa malu Sakura.

"Apa saja yang sudah kalian lakukan bersama, hm?" Intonasi pertanyaannya terdengar provokatif, seolah-olah memang sengaja menggoda dua mantan murid di depannya. Dia tersenyum kecil di balik maskernya.

Entah mengapa bayangan Sasuke saat menciumnya muncul sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Wajah Sakura yang semakin memerah dipalingkan ke arah lain. "Ka-kami berkelana bersama, mengunjungi tempat-tempat tertentu, dan kadang-kadang menetap," jawab Sakura. Suaranya diusahakan terdengar setenang mungkin.

"Dan?"

Sasuke mendengus kesal. Pertemuan ini terasa semakin menyebalkan. "Diamlah, Kakashi. Apakah itu urusanmu? Kami datang kemari hanya untuk melaporkan bahwa kami kembali ke Konoha. Bukan untuk ditanyai hal-hal yang bukan urusanmu seperti ini."

"Oi, Sasuke!" Tiba-tiba Kakashi sudah berdiri di hadapan Sasuke. Kepalan tangan pria itu memukul ubun-ubun Sasuke pelan, seperti yang biasa dia lakukan pada murid-muridnya saat masih berumur dua belas tahun dan bertindak bodoh. "Aku hokage sekarang. Sopanlah sedikit."

Tanggapan yang Sasuke berikan hanyalah embusan napas kesal dan wajah yang dipalingkan.

"Tapi kuakui kau benar. Aku tidak punya banyak waktu karena masih banyak pekerjaan," kata Kakashi. "Baiklah, tak ada basa-basi lagi. Kalian akan menetap di sini?"

Sakura sontak melirik Sasuke dan mendapati lelaki itu melakukan hal yang sama. Dari sorot matanya, Sakura yakin Sasuke menyerahkan jawaban pertanyaan itu padanya. Mereka memang belum membicarakan tentang ini sebelumnya.

"Untuk sekarang, kami hanya menetap sementara. Mungkin hanya beberapa minggu saja," jawab Sakura tanpa ragu. Sasuke tak meralat kata-katanya sama sekali.

Kakashi tersenyum lagi. Dari Sasuke yang merasa bahwa kata-katanya sudah diwakili Sakura, dia yakin ada sesuatu yang terjadi di antara mereka selama absensi keduanya dari Konoha. Apalagi Sakura berbicara seolah-olah mereka adalah suatu substansi yang tak terpisahkan. Dan sekali lagi, Sasuke sama sekali tak menyangkalnya. Kakashi tak bisa menahan diri untuk turut senang atas hal tersebut.

"Aku mengerti," ucap Kakashi selagi melangkah kembali ke kursinya. "Jangan lupa melapor lagi saat kalian akan meninggalkan Konoha."

Sakura mengangguk. "Tentu, Hokage-sama."

"Ada lagi, Sakura?" Sakura menggeleng. "Sasuke?" Dijawab dengan tidak. "Baiklah kalau begitu. Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaanku. Kalian dibubarkan."

Sasuke dan Sakura sama-sama mengangguk dan langsung membalikkan tubuh. Kakashi menelusuri punggung Sakura. Sebelumnya dia menduga simbol yang terpeta di punggungnya adalah lambang klan Uchiha. Nyatanya masih simbol bulatan putih yang sama. Bahkan dia sempat berpikir mungkin Sakura sudah berbadan dua seperti teman-temannya. Kesimpulan bahwa mereka sudah menikah ternyata salah. Namun, jika melihat dinamik hubungan di antara keduanya—mereka yang tampak saling nyaman atas kehadiran satu sama lain di sisi mereka—Kakashi yakin itu akan terjadi sebentar lagi. Bahkan dia berani taruhan untuk hal ini.

.

Sakura nyaris mendobrak pintu apartemennya karena tak kunjung menemukan kunci. Sasuke ada di sana untuk menunda terjadinya hal tersebut dan meminta Sakura untuk mencari lebih teliti. Kuncinya ditemukan, terselip di tengah-tengah lipatan salah satu celana di dalam tasnya. Sakura sungguh-sungguh merasa bersyukur atas kehadiran Sasuke di sisinya.

Sasuke menatap retakan di kusen pintu yang paling dekat dengan engsel lekat-lekat. "Aku yakin hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya," kata Sasuke.

Sakura berdeham. Pipinya memerah. "Hm. Dan waktu itu tak ada yang menahanku."

Sasuke mendengus. "Bersabarlah sedikit. Tak biasanya kau ceroboh seperti itu."

"Tapi waktu itu kuncinya memang hilang! Sungguh!"

Sasuke memutuskan untuk tak menanggapi lagi.

Debu lebih dulu merasuk ke dalam hidung sebelum organ pernapasan itu ditutupi telapak tangan. Sakura terbatuk-batuk kecil sementara Sasuke mendengus berkali-kali hingga debu yang masuk ke dalam hidungnya sudah tak terasa mengganggu napasnya. Sakura langsung mengambil dua buah masker dan menyerahkan salah satunya pada Sasuke. Hal pertama yang dia bersihkan adalah sofa, dengan cara memukulinya hingga debu-debu melayang.

"Maaf, Sasuke-kun. Aku tidak menduga akan sekotor ini."

Sasuke memaklumi. Lagi pula apartemen ini kotor jelas-jelas bukan karena kemalasan Sakura. Sakura mempersilakannya duduk di sofa yang sudah bersih, kemudian gadis itu lanjut membersihkan apartemennya. Sasuke merasa tidak nyaman hanya berdiam diri saat Sakura sedang bersih-bersih, maka dia beranjak dan membantu Sakura.

Gadis itu menerima bantuan Sasuke dengan senang hati. Dengan bantuan lelaki itu, apartemennya bisa lebih cepat rapi dan bersih sehingga mereka bisa melanjutkan agenda yang sudah disepakati. Mereka setuju untuk mengunjungi rumah orangtua Sakura dalam kondisi rapi, sehingga mendatangi apartemen Sakura lebih dulu membersihkan diri.

Semuanya selesai dalam waktu kurang lebih dua jam. Dalam perjalanan ke rumah orangtua Sakura, Sasuke mencoba menetralisasi debaran jantungnya, dan hal tersebut tidak semudah yang dia kira. Ini adalah jenis detakan yang baru dia rasakan seumur hidupnya. Dia melirik Sakura, mencoba mencari penetral. Nyatanya raut wajah gadis itu pun memperlihatkan ketegangan.

Sakura memutar kenop pintu dengan gerakan perlahan. Dia mendorongnya ragu-ragu, kemudian mengucap, "Tadaima." Keheningan menyambut salamnya. Sakura mengernyit. Biasanya orangtua mereka sudah berada di rumah bila jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Samar-samar suara langkah kaki tertuju ke arahnya. Sakura menangkap sosok ibunya tengah memangkas jarak di antara mereka. Langkah terhenti sesaat. Dia berbisik, "Sakura?"

Sakura mengangguk. Dia tersenyum lepas dan segera memeluk ibunya. Haru membuncah di dadanya. Dekapannya benar-benar erat, melampiaskan kerinduan Sakura selama ini. Matanya dipejam. "Tadaima, Kaasan."

"Siapa itu?" Sakura mendengar suara ayahnya yang membahana.

"Kemarilah, Kizashi! Sakura sudah pulang!"

Suara derapan kaki yang terburu-buru terdengar. Saat melihat ayahnya, Sakura bergantian memeluk ayahnya. Sepasang orangtua itu menjawab salam Sakura berbarengan. Setelahnya, pandangan mereka berlabuh pada Sasuke.

"Kaasan, Tousan, ini Sasuke. Uchiha Sasuke." Sakura menoleh ke arah Sasuke. Bahu lelaki itu tampak menegang sejenak. Wajahnya kaku.

Sasuke menunduk singkat. "Konbanwa, Haruno-san."

Samar-samar dia mendengar ibu Sakura berbisik, "Dia lebih tampan dari yang kuingat." Telinganya terasa tergelitik.

"Kalian sudah makan?" tanya Mebuki.

"Belum," jawab Sakura.

"Ayo kita makan malam bersama. Kebetulan kami pun baru saja mau mulai makan." Tatapannya beralih pada Sasuke. "Maaf, ya, Sasuke. Makanannya seadanya. Aku tidak menduga kalian akan kemari."

Sasuke menggeleng maklum. "Tidak apa-apa, Haruno-san."

Sakura menggenggam tangannya saat berjalan menuju meja makan. Dia duduk berseberangan dengan Sakura dan bersebelahan dengan Kizashi. Nyaris seluruh kegiatan makan diisi oleh percakapan Sakura dengan kedua orangtuanya. Sasuke sama sekali tak memiliki celah untuk menyela ke dalam pembicaraan meskipun ada sepintas niat dalam hatinya. Itu terus bertahan sampai Mebuki berkata, "Aku harap Sakura tidak menyusahkanmu, Sasuke. Dia sudah besar, tapi kadang-kadang masih saja manja."

Sudut bibir Sasuke tergelitik melihat raut wajah Sakura yang mendadak canggung. "Sakura adalah perempuan yang mandiri. Dia justru sering membantu dan memudahkanku."

Sasuke tak melewatkan senyum di bibir Sakura sebelum gadis itu memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

"Jadi, apa yang membuatmu senang bepergian, Sasuke?" tanya Kizashi.

Sasuke mengunyah makanan di dalam mulutnya hingga cukup halus untuk ditelan tanpa rasa sakit. Sakura menatapnya. "Kalau tidak nyaman, tidak usah dijawab," kurang lebih itulah yang Sasuke tangkap dari gerak mulutnya. Sasuke menggeleng kecil untuk memastikan pada Sakura bahwa gadis itu tak perlu khawatir.

"Kurasa 'senang' bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya," jawab Sasuke. "Aku hanya nyaman melakukannya. Awalnya memang ada beberapa hal yang memicu kebiasaan itu, tapi seiring waktu alasan itu tak sama lagi. Sebelumnya aku merasa belum menemukan siapa aku, dan bepergian membantuku menemukannya."

"Begitu." Kizashi mengangguk-angguk paham. Tatapannya beralih pada Sakura. "Bagaimana denganmu, Sakura? Selama ini kau sibuk sekali. Bepergian pasti menjadi perubahan besar bagimu."

"Tousan benar. Tapi aku tidak menyesal melakukannya."

Kizashi terkekeh. "Tentu saja, kau melakukannya bersama lelaki yang kausukai sejak kecil!"

Mebuki turut menggemakan tawanya. Kedua telapak tangan Sakura memegang pipinya yang memerah. Meskipun Sasuke sudah jelas tahu perasaannya, tetapi digoda seperti ini tetap terasa sangat memalukan. Sementra Sasuke hanya berdeham walaupun tak ada makanan yang menyangkut di kerongkongannya.

"Bu-bukan hanya itu!" tandas Sakura. "Aku—"

"Kau dengar, Sasuke?" sela Kizashi. "Bukan hanya itu, katanya! Berarti dia tidak menyangkal kata-kataku!" Tawanya menggema lagi.

Sasuke menaruh atensinya pada wajah Sakura yang lebih merona daripada sebelumnya. Salah satu sudut bibirnya tertarik, membentuk seringai tipis. Saat pandangannya mereka bersirobok, Sakura sontak terperanjat dan langsung mengalihkan wajah. Sebenarnya Sasuke pun dilanda segelintir rasa malu, tapi dia jauh lebih baik dalam mengendalikan ekspresinya daripada Sakura.

"Tousan, berhenti menggodaku!" Sakura menoleh ke arah ibunya dan melemparkan tatapan memelas. "Kaasan, tolong. Kumohon."

"Kizashi, berhenti menggoda putrimu," ucap Mebuki. Sakura merasakan usaha ibunya yang setengah-setengah dan dia mengerang dalam hati. Jelas sudah bahwa ibunya pun menikmati keadaan ini. "Lihatlah, wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Kasihanilah dia." Ucapan itu ditutup dengan kekehan ringan.

Sakura menempelkan dahinya pada spasi meja yang tak diisi peralatan makan.

Percakapan di meja makan itu berlanjut cukup lama bahkan setelah makanan habis. Keempat orang yang duduk di sana terlibat secara keseluruhan. Makan malam ini jelas berbeda dengan keluarganya dulu, mereka jauh lebih tenang daripada ini, bahkan Sasuke-lah pihak yang paling berisik. Dan bersama keluarga Sakura, Sasuke jelas menjadi pihak yang tak banyak bicara tapi tetap melibatkan diri di setiap kesempatan. Dalam hati, dia berterima kasih pada Sakura sudah membawanya kemari, juga pada orangtuanya yang sudah menerima dirinya dengan tangan terbuka.

Sasuke merasakan atmosfer hangat menyelimuti hatinya. Kehangatan itu sudah lama sekali tak dirasakannya lagi. Kehangatan yang berbeda dengan yang dia rasakan saat bergaul dengan Tim Tujuh atau saat hanya dengan Sakura. Kehangatan ini sungguh-sungguh terasa seperti keluarga utuh.

Saat Mebuki dan Sakura beranjak dari meja makan dan membawa peralatan makan ke dapur sekaligus mencucinya, niat Sasuke yang sudah terbentuk dalam kata-kata sudah berada di ujung lidahnya. Niat dan rencana yang tak dia bahas dengan Sakura sama sekali tentang kedatangannya kemari dan Sasuke pastikan Sakura tak tahu sama sekali. Sasuke berdeham untuk mengendalikan diri.

"Kau masih haus, Sasuke?"

Sasuke menjawab tidak. Dia tak menduga dehamannya akan dianggap seperti itu oleh ayah Sakura.

"Sebenarnya," Kizashi menoleh ke arah Sasuke, "ada yang ingin kubicarakan denganmu, Haruno-san."

"Ada apa?"

Detak jantung Sasuke mendadak menggila. Dia bahkan khawatir Kizashi dapat mendengarnya.

"Ini tentang putrimu."

Kizashi menatap Sasuke dan menunggu lelaki itu untuk melanjutkan.

"Kuharap kau tidak keberatan melepas putrimu." Sasuke menarik napasnya banyak-banyak. Salivanya ditelan untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. "Aku ingin menikahi Sakura."

Kizashi tertegun. "Aku lebih siap mendengar cerita tentang hal gila yang dilakukan Sakura di depan umum dan kau merasa sangat malu karenanya. Atau ... atau berita bahwa Sakura dipecat dari pekerjaannya."

Sasuke semakin tegang karena tak bisa membayangkan ke arah mana Kizashi berbicara. Jantungnya berdetak sangat keras hingga terdengar telinganya sendiri. Tangannya mengepal dan merenggang berkali-kali. Tatapan lekat-lekat yang ditujukan Kizashi padanya sama sekali tidak membuat keadaan lebih baik.

"Apa yang kau punya untuk putriku?" Terdengar intonasi yang ditekan pada kata "putriku".

Sasuke mengatur napasnya. Saat ini, hanya ada satu hal yang dapat Sasuke berikan sebagai jawaban. Otaknya lambat untuk memproduksi jawaban lain. Dia tahu ini sulit untuk diungkapkan, tetapi dia harus mengusahakannya. "Aku," kata Sasuke, "mencintainya."

"Kau tahu itu saja tidak akan cukup."

Sasuke meremas celana yang melapisi pahanya. Keringat bercucuran dari pelipis dan tubuhnya, terasa bergulir tertarik gravitasi di balik pakaiannya. Entah mengapa ini terasa lebih menegangkan daripada saat dirinya diinterogasi ANBU, padahal senjata tertodong ke arahnya dulu. Kali ini otaknya terasa mati.

"Aku ingin membuatnya bahagia." Kata-kata itu bergulir begitu saja dari bibirnya. "Aku tak punya apa-apa selain warisan kedua orangtuaku yang tersisa." Karena Sasuke tidak menyentuh harta peninggalan klannya yang bukan dari keluarganya sendiri. "Bahkan bila aku kembali menerima misi, mungkin penghasilanku tidak akan sebesar penghasilan Sakura. Tapi aku akan selalu setia padanya. Aku tahu betapa sakitnya kehilangan dan aku tak akan membiarkannya merasakan hal itu lagi, setidaknya aku tak akan pernah membiarkan diriku menjadi alasannya merasakan itu. Aku akan selalu menjaganya dan ada di sisinya semampuku. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku akan berusaha untuk membuat putrimu bahagia."

Kizashi tak langsung menanggapi. Terbentang jeda yang cukup lama untuk menyiksa Sasuke dalam ketidakpastian. Tatapan pria di hadapannya semakin serius dari detik ke detik.

"Bisakah kau berjanji kau tak akan menyakitinya?"

Sasuke tertegun. Pertanyaan itu telak menohok dadanya. Dia meneguk ludah dan menggeleng kecil. "Aku tidak bisa ... menjanjikan hal seperti itu," jawabnya penuh sesal. Karena Sasuke sendiri tak yakin pada dirinya sendiri soal itu. Apabila dia tak pernah menyakiti Sakura secara sengaja, mungkin saja dia melakukannya tanpa sadar. "Tapi aku akan berusaha semampuku, sekeras mungkin, untuk tak melakukan apa pun yang akan menyakiti Sakura."

Ada jeda yang terbentang lebih panjang daripada sebelumnya. Sasuke merasa Kizashi tengah menilainya. Dia tak akan pernah bisa bernapas lega sampai mendengar ayah Sakura menerima lamarannya atas putrinya.

"Baiklah, aku memercayakan Sakura padamu." Bagi Kizashi, kata-kata Sasuke terdengar tulus dan apa adanya, bukan semata-mata rayuan gombal untuk menjerat izinnya. Dia tak menjanjikan hal yang nyaris mustahil untuk ditepati, tetapi mau berusaha untuk itu. Baginya itu sudah cukup. Dan dia yakin Sakura bisa bahagia bila bersama lelaki yang berada di hadapannya. Siapa Sasuke di masa lalu tak menjadi pertimbangannya, yang terpenting adalah siapa lelaki itu sekarang—tepat saat duduk di hadapannya dan meminta izin untuk menikahi putrinya. "Kau boleh menikahi putriku."

Kelopak mata Sasuke melebar setelah mendengar izin dari ayah Sakura. Napas leganya terlepas seiring dengan tubuhnya yang membungkuk ke arah pria itu dan mengucap "terima kasih" dengan suara lirih. Saat dia menegakkan tubuhnya, dia tersadar bahwa dia tak ingat kapan terakhir kali dia membungkukkan tubuh di hadapan seseorang seperti ini.

"Jangan mengecewakanku, Sasuke."

"Dalam hal apa Sasuke-kun tidak boleh mengecewakan Tousan?" Sakura melangkah menuju meja makan dan kembali bergabung di sana. Ibunya menyusul beberapa langkah di belakangnya.

Kizashi melirik Sasuke. Sasuke sontak memegangi tengkuknya sendiri. "Dalam hal menjadi suamimu," jawabnya ringan.

"Apa?" Sakura menganga tak percaya. Dia melirik Sasuke. "Sasuke-kun, kau—oh! Astaga!" Dia membekap mulutnya. "Ini sulit untuk dipercaya!" Tawa kecil bergelembung dalam bekapannya.

Mebuki yang tak keberatan dengan keputusan suaminya ikut tersenyum bahagia. Dia tak keberatan menyerahkan Sakura pada Sasuke karena tahu betul betapa besar putrinya mencintai lelaki itu, serta Sasuke sendiri yang memang layak. Sejujurnya Mebuki tak bisa melihat bagaimana perasaan Sasuke pada Sakura, tetapi dia yakin bahwa lelaki itu pun mencintai putrinya.

Sakura merangkul ayah dan ibunya meskipun meja mengganjal rangkulannya. Dia membisikkan ucapan terima kasih pada ayahnya dan mengecup pipi ayah dan ibunya bergantian. Rangkulan itu lepas dan dia menatap Sasuke. Senyum dilempar ke arahnya untuk memberi tahu sebahagia apa dirinya sekarang pada Sasuke.

Sakura tak menduga ini sama sekali. Beberapa hari yang lalu mereka baru saja bertengkar hebat, dan sekarang Sasuke telah meminta izin untuk menikahinya kepada orangtuanya. Terlebih diterima. Sakura tak yakin apakah dia bisa lebih bahagia daripada sekarang.

.

Sasuke dan Sakura kembali ke apartemen Sakura setelah kunjungannya ke rumah orangtua gadis itu. Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun mengenai kelelahan yang melanda tubuh masing-masing, tetapi sudah saling memahami. Sakura lebih dulu berbaring di tempat tidurnya; dia tampak lega karena sudah lama tak tidur di sana, kemudian merentangkan tangannya ke depan unruk membujuk Sasuke mengisi spasi kosong di sisinya. Saat tempat tidur itu memantul ringan, Sakura menoleh ke arah Sasuke di sebelahnya.

Tak ada kata yang terucap. Mereka membeku di sana dengan tatapan yang saling tertaut. Sakura menyunggingkan senyum. Tangannya membelai pipi Sasuke.

"Kau mengejutkanku," kata Sakura.

Sasuke menyeringai tipis. Dia tahu apa yang Sakura maksud. Bahunya berkedik. "Kejutan."

"Tapi itu pertama kali kau bertemu dengan ayahku. Oh, astaga! Aku sama sekali tak bisa melihat gelagatmu untuk itu."

"Kau senang?"

Sakura menggeleng. "Aku bahagia." Tangan Sakura merambat ke dahi Sasuke. Dia menyelipkan rambut hitam lelaki itu ke sela-sela jemarinya, kemudian menyisirnya ke atas. Wajahnya sama sekali tak tertutupi rambut sekarang. "Sasuke-kun, sejujurnya aku sempat merasa bahwa aku tak tahu apa hubungan kita setelah ... setelah ..."

"Aku merasakan hal yang sama saat mendapati cincin dariku menghilang dari jari manismu." Sasuke mengembuskan napas panjang. "Aku tak tahu bagaimana memulai pembicaraan soal ini denganmu, maka—"

"Kau langsung melamarku lagi melalui ayahku."

"Hn."

Hening terbentang cukup lama. Suara napas mereka adalah satu-satunya yang bersuara.

"Sakura," ucap Sasuke lirih. "Apakah kau menyetujui keputusan ayahmu?"

Sakura mendengus dan mengernyitkan dahi. "Kau serius masih menanyakan hal itu?"

Sasuke memberengut. "Jawab saja."

"Tentu saja aku setuju. Aku ... aku masih mau menikah denganmu." Rona merah menjalari pipi Sakura. Dia menyelipkan rambut yang jatuh menutupi wajahnya ke belakang telinga.

Sasuke merogoh saku celananya sebelum menarik tangan kiri Sakura. Dia menyelipkan cincin yang sama dengan yang Sakura tanggalkan beberapa hari yang lalu. Sakura melebarkan matanya. Raut wajahnya dipenuhi pertanyaan tersirat.

"Petugas kebersihan kamar rawatmu memberikan ini padaku saat aku hendak memasuki kamarmu."

Sakura membekap mulutnya. "Aku ... aku memang melepasnya waktu itu. Aku pikir cincin ini sudah hilang dan aku tak berani membahasnya denganmu. Waktu itu ... aku tak tahu harus apa. Kupikir kau akan meninggalkanku selamanya. Aku ... ah, sudahlah. Lebih baik kita tidak membicarakan ini."

Sasuke hanya membisu.

"Jangan tinggalkan aku seperti itu lagi, Sasuke-kun. Kau mungkin tak bisa selamanya ada di sisiku, tapi biarkan aku tahu saat kau pergi, kau akan pergi ke mana, dan beri kepastian kapan kau akan kembali. Dan kau harus selalu kembali," tutur Sakura. "Ya?"

"Ya," jawab Sasuke.

Sakura tersenyum. "Kupegang janjimu," katanya. Tiba-tiba benaknya bergulir pada makan malam bersama keluarganya tadi. "Bagaimana perasaanmu hari ini?"

Sasuke sudah menduga pertanyaan itu akan datang cepat atau lambat. "Aku tidak percaya orangtuamu bisa menerimaku sebaik itu."

"Kau harus. Kenyataannya memang begitu."

"Kau terlalu baik untukku." Sasuke berkesah. "Aku tidak pantas mendapatkanmu."

Raut kesedihan mewarnai wajah Sakura. Dia menggeleng keras. "Tidak. Jangan katakan itu."

"Tapi aku egois, Sakura. Aku tahu itu dan aku tetap ingin bersamamu."

Sakura memejamkan matanya erat-erat, berusaha menahan tangisnya. Ada sedikit yang menyelinap dari kelopak matanya yang tertutup, air mata itu hanya cukup untuk membasahi bulu matanya yang panjang.

"Kau tidak egois karena aku mencintaimu. Kau tidak egois karena aku juga ingin bersamamu." Sakura beringsut ke arah Sasuke dan menunduk hingga merasakan dagu lelaki itu di ubun-ubunnya. Kata-kata Sakura menjadi kalimat terakhir yang terucap sebelum keduanya terlelap dilahap kantuk dan rasa lelah yang timbul akibat belum istirahat sejak ketibaan mereka di Konoha.

Dia terbangun dengan spasi kosong di sisinya. Sakura menyisir rambutnya menggunakan jemari sebelum keluar dari kamar. Dia mendapati Sasuke di dapur, di depan kompornya. Lelaki itu membalik tubuhnya dengan sepiring telur dadar di tangannya.

"Selamat pagi, Sasuke-kun," sapa Sakura dengan senyum di wajahnya. Dia segera bergabung dengan Sasuke untuk menyantap sarapan yang dibuatkan lelaki itu untuknya.

Setelah sarapan selesai, Sakura mengungkapkan gagasan yang sudah muncul di benaknya sejak kemarin: "Bagaimana kalau kau mengunjungi makam orangtuamu?"

Sasuke membatu mendengarnya. Bibirnya terkatup rapat, sorot matanya tampak kaku.

Sakura yang langsung membaca perubahan Sasuke tampak cemas. "Ada apa, Sasuke-kun?" tanyanya cemas. "Apakah aku ... salah bicara?"

Terjadi jeda beberapa detik sebelum Sasuke menjawab, "Tidak. Aku hanya—aku tak ingat kapan terakhir kali aku melakukannya."

Sakura mendadak merasa tidak enak. "Jadi, bagaimana?" tanyanya kikuk.

"Aku akan ke sana."

"Kalau begitu aku akan pergi ke tempat lain hari ini."

"Ikutlah denganku." Wajah Sasuke sudah tidak sekaku sebelumnya.

Sakura menyetujuinya. Dia mencoba menarik kesimpulan di balik Sasuke yang memintanya untuk ikut, tetapi tak ditemukan satu pun yang tepat. Dia berhak bertanya, tetapi lebih memilih untuk bersikukuh mengajak Sasuke untuk membeli karangan bunga terlebih dahulu. Butuh sedikit usaha untuk membuat Sasuke menyetujuinya, dan Sakura yakin Sasuke belum sepenuhnya setuju karena tampak enggan memasuki Toko Bunga Yamanaka.

Besar harapan Sakura bisa bertemu dengan Ino di sini. Namun, semenjak dia masuk, dia belum menemukan sosok gadis berambut pirang itu sama sekali, sampai tiba-tiba ada seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dia menoleh dan mendapati sosok yang dicarinya.

"Ino!" pekiknya tak tertahan. Dia mendekap tubuh Ino dan merasakan sesuatu yang janggal. Perempuan itu terasa gemuk dalam pelukannya.

"Sakura! Sejak kapan kau pulang?"

Dekapan itu terlepas. Sakura baru ingat bahwa Ino sedang mengandung setelah melihat langsung bentuk tubuhnya.

"Baru kemarin," jawab Sakura. Matanya terfokus pada perut Ino. "Oh, Ino, aku belum mengucapkan selamat secara langsung!"

"Kau adalah orang paling terlambat yang mengucapkan itu!" kata Ino, pura-pura kesal tapi senyum masih ada di wajahnya. "Apakah kau datang ke sini hanya untuk mencariku?"

"Sayangnya tidak." Sakura terkekeh. "Aku memang berharap bisa bertemu denganmu di sini tapi itu bukan satu-satunya tujuanku."

Ino tersenyum. "Setidaknya aku masih dicari," katanya. "Kau mau beli bunga apa, Sakura? Oh, ya, tadi aku rasanya melihat Sasuke-kun, atau hanya perasaanku saja? Apakah dia memang datang ke sini bersamamu?"

Sakura mendengus. "Ino, tanya satu-satu," keluhnya. Disahuti oleh tawa Ino. "Aku mau membeli bunga kamboja dan bunga bakung. Ya, Sasuke-kun memang ada di sini. Tapi dia hanya duduk di sana," Sakura mengedikkan bahu ke arah Sasuke duduk, "dia datang ke sini bersamaku."

"Kau mau melayat siapa?" tanya Ino. Dia menatap wajah Sakura dengan raut khawatir.

"Orangtua Sasuke-kun. Itulah sebabnya dia ada di sini bersamaku."

Setelah mengangguk paham, mata Ino menyipit curiga. Sakura rasanya tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Mata biru perempuan itu menatap lekat-lekat ke arah tubuh Sakura dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sakura berdiri dengan kikuk.

"Kau berutang banyak cerita padaku, Sakura," tuntut Ino. "Apa saja yang sudah kalian lakukan, hm? Kalian hanya berdua saja 'kan selama ini?"

"Sasuke-kun menungguku. Aku tidak bisa lama-lama di sini." Sakura gelisah dengan wajah memerah.

Ino tampaknya enggan mengerti. "Itu cincin apa, Sakura?"

"Ini cincin tunanganku. Cepatlah berikan bunganya padaku dan aku akan menceritakan semuanya setelah ini, oke?"

Ino menganga tak percaya. Sakura bisa membaca ada pertanyaan bertubi-tubi yang hendak Ino lontarkan padanya, dan tak diduga, wanita itu masih bisa menahannya untuk nanti. Dia hanya mengucapkan selamat untuk pertunangan Sakura dan menyelesaikan transaksi. Sebelum Sakura meninggalkan toko bunga, dia menentukan waktu dan tempat mereka akan bertemu serta menyempatkan diri untuk menyapa Sasuke.

.

Sakura menaruh bunga kamboja dan bunga bakung di atas masing-masing makam ayah dan ibu Sasuke. Kedua makam itu tepat ditempatkan bersebelahan, entah disengaja atau tidak. Ada rasa ingin tahu yang menyusup di benaknya, tapi dia masih tahu kondisi untuk tidak bertanya.

Sasuke setengah berjongkok di tengah-tengah kedua makam tersebut. Telapak tangannya mengusap batu nisan yang menuliskan nama ayahnya dan menatap lurus-lurus ke sana. Raut wajahnya sama sekali tak bisa Sakura baca. Namun, embusan napas berat yang dilepas lelaki itu membuat Sakura yakin bahwa perasaan Sasuke pasti tidak sedang stabil.

Hening merajai suasana. Sakura menatap Sasuke lagi. Ekspresi wajah lelaki itu masih tak terbaca. Sementara tangannya masih mengusap ukiran nama ayahnya berulang-ulang, bahkan debu yang menempel di sana Sakura yakini sudah hilang. Dia memegang bahu Sasuke, berusaha menguatkannya meskipun lelaki itu tak menunjukkan kerapuhan. Namun, Sakura paham bahwa apa yang ditampilkan tak selalu merepresentasikan isinya.

"Uchiha Fugaku," Sakura menyuarakan apa yang dibacanya di batu nisan. "Ya?" tanyanya memastikan.

Sasuke mengangguk.

Sakura menatap batu nisan itu sekali lagi. Dia membenarkan posisi bunga kamboja yang merosot. "Fugaku-san," Sasuke tampak berjengit mendengarnya, "putramu, Uchiha Sasuke, dia telah menjadi ninja yang sangat hebat dan kuat. Dia turut andil dalam menyelamatkan dunia. Bahkan saat masih di akademi, dia menjadi murid terbaik di angkatan kami. Dia adalah seseorang yang membanggakan, dan aku yakin kau pun merasa begitu."

Sasuke meringis. Dia memejamkan matanya erat-erat dan bernapas semakin berat. "Aku sudah berusaha keras, Otousan, dan aku belum berhenti." Napas Sasuke gemetar. "Aku tak akan mempermalukan klan Uchiha meskipun aku adalah satu-satunya yang tersisa."

Sakura tertegun. Sebelumnya dia yakin Sasuke tak akan menyuarakan apa pun yang ingin dia katakan pada orangtuanya bila dilihat dari gelagatnya. Dan entah mengapa ucapan Sasuke pada ayahnya turut menyentuh hatinya.

Sasuke membalikkan tubuh ke arah makam ibunya. Dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, mengusap batu nisan hingga bersih dan nama yang terukir di sana terbaca lebih jelas. Uchiha Mikoto. Sasuke bergeming seperti tadi, sementara Sakura ingin mengatakan sesuatu. Namun, apa yang bisa diucapnya terasa sudah habis dikatakan pada ayah Sasuke.

"Okaasan," bisik Sasuke lirih. "Okaasan tidak perlu khawatir apabila aku terluka dan tak ada yang mengobatiku, karena Sakura ada bersamaku. Dia ninja medis yang hebat dan calon istriku."

Sakura tak bisa menahan lelehan air matanya. Dia memalingkan wajah dan menyekanya menggunakan jari tengah sebelum Sasuke menyadari gelagatnya. Matanya dikerjap-kerjapkan hingga tetesan lainnya tertahan.

"Aku harap Okaasan bisa bertemu dengannya, berbicara dengannya. Aku tahu Okaasan akan menyukai Sakura. Aku harap Okaasan masih a—"

Sasuke menarik napas melalui mulut, seolah-olah tenggorokannya tersekat. Dia menunduk dan menutup wajah menggunakan tangannya. Bahunya gemetar, Sakura dapat melihat kerapuhan Sasuke sekarang. "Sasuke-kun," bisiknya lirih sebelum melingkari tangan pada tubuh lelaki itu. Dahi Sasuke menempel pada bahu Sakura. Dalam dekapannya, Sakura merasakan gemetar pada tubuh Sasuke lebih keras. Baru pertama kali Sakura melihat Sasuke serapuh ini. Mungkin orang-orang yang tak mengenal Sasuke sama sekali tak menduga bahwa dia memiliki sisi ini. Tapi, bagi orang terdekat seperti Sakura, dia tahu dan mengerti. Dia tak bisa membayangkan seberat apa beban Sasuke selama ini, tapi dia memahaminya. Sakura ingin selalu berada di sisi Sasuke dan membuatnya bahagia, membuatnya setidaknya sedikit saja mengurangi beban hati yang melimpah dalam diri lelaki itu, kesedihan yang tak bisa Sakura bayangkan betapa sesaknya. Namun, yang bisa ditawarkannya sekarang hanyalah sebuah pelukan, serta telinga yang siap mendengar apa saja. Dia melonggarkan lingkaran tangannya saat getaran pada tubuh Sasuke berangsur-angsur menghilang.

Sasuke mengusap nisan kedua orangtuanya bergantian kemudian berdiri. Sakura turut berdiri dan masih memegang setangkai bunga kamboja dan bunga bakung. Sasuke mengisyaratkan bahwa sudah waktunya mereka pergi dari sini, tapi Sakura masih terpaku di pijakannya.

"Di mana makam kakakmu?"

"Makam kakakku tidak di sini," jawab Sasuke. "Aku tidak tahu di mana makam kakakku."

Sakura mengecap kegetiran dalam kalimat itu. Dia menunduk dan menaruh bunga kamboja di makam ayah Sasuke, dan menaruh bunga bakung di makam ibunya—sebelumnya kedua bunga tersebut hendak Sakura simpan di makam kakak Sasuke. Tubuhnya tegak kembali dan mengangguk ke arah Sasuke. Mereka meninggalkan tempat itu tanpa bicara apa-apa lagi.

.

Bersambung

.

A/n:

Oke. Saya nangis nulis scene terakhir :") udah lama nggak merasa emosional saat nulis huhu.

Maaf saya nggak bisa balas review satu per satu kayak dulu, saya udah gak punya waktu luang sebanyak dulu :") kalo ada yang mau ngobrol, pm aja ya!

Btw udah pada ikut BTC 2017 belum? Itu lho, Banjir TomatCeri 2017! Itu apaan sih? Bagi yang belum tau, yuk cek bit . ly / infoBTC7 atau bit . ly / handbookBTC7 kalau ada pertanyaan, tanyakan di bit . ly / askboxBTC (semua link diketik tanpa spasi)

Btw lagii, saya lagi buka writing commission. Apa sih commission itu? Mengutip dari grup facebook Commission Corner Indonesia, Commission atau komisi (gambar, tulisan, animasi dan karya seni lain) adalah memperkerjakan dan membayar seseorang untuk membuat sebuah karya seni (wikipedia). Bahasa mudahnya, request berbayar :") buat yang berminat komis tulisan saya, bisa cek bit . ly / FCdaffodila (link tanpa spasi) atau cek bio saya hehehe. Yang masih mau tanya-tanya juga boleh kok lewat PM :")

Terima kasih banyak sudah membaca sampai sini! Sampai jumpa di update selanjutnya!

daffodila.