Sakura menemui Ino beberapa jam setelah pulang dari pemakaman. Awalnya Sakura ragu pergi karena merasa tidak enak meninggalkan Sasuke setelah tadi. Namun, lelaki itu meyakinkannya bahwa dia tak keberatan, dan Sasuke sendiri pun memiliki urusan yang hendak dilakukannya. Saat Sakura bertanya, jawaban yang dia berikan adalah Sakura akan tahu setelah Sasuke kembali nanti.
Dia menceritakan segala hal yang perlu diceritakan pada Ino. Apa yang disampaikan pada Ino adalah hal-hal yang Kakashi dan orangtuanya tidak ketahui. Sakura merasa lebih bebas mengekspresikan dirinya di depan Ino, dan Ino sulit menahan dirinya untuk menahan komentar sampai cerita Sakura selesai. Sakura beberapa kali jengkel karena ceritanya terpotong, tapi dia tetap bersabar.
Ino pun turut menceritakan segala hal yang dilewatkan Sakura selama gadis itu tak ada di Konoha. Tentang hidup keluarganya, tentang hidup teman-teman seangkatannya, tentang Chouji yang tiba-tiba dekat dengan gadis dari Kumo, tentang Kiba yang tiba-tiba didapati tengah menggendong seekor kucing, dan banyak lagi.
Saat hendak pulang, Sakura berpapasan dengan Sai di pintu masuk. Sai terkejut melihat kehadiran Sakura di rumahnya meskipun sudah tahu bahwa gadis itu sudah kembali saat melaporkan misi pada hokage. Mereka berbicara sejenak dalam kondisi berdiri. Dari pembicaraan itu, dia mengetahui bahwa lelaki itu baru saja pulang dari misi yang dilaksanakan bersama dengan Naruto. Dan Sakura berjalan pulang sambil mengantongi kabar yang menurutnya baik.
Sasuke tengah duduk di sofa sambil membaca sebuah gulungan saat Sakura masuk ke dalam apartemennya. Lelaki itu sungguh-sungguh tampak baik-baik saja, seolah-olah kunjungannya ke makam orangtuanya tidak pernah terjadi. Sakura sudah yakin inilah yang akan didapatinya; Sasuke memang masih jarang mengekspresikan perasaannya.
"Jadi kau tadi mengambil gulungan-gulungan ini? Peninggalan klanmu?" tanya Sakura setelah turut duduk di sofa.
"Hn," sahut Sasuke. "Elemenmu apa?"
Sakura berkedip cepat karena pertanyaan Sasuke yang tiba-tiba. "Elemenku?" beonya. "Hmm, tanah, air, yin dan yang. Ada apa?"
"Bukan apa-apa."
Sakura merasa tidak puas akan jawaban Sasuke. Dia yakin ada tujuan di balik pertanyaan lelaki itu. Namun, dia memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut.
"Tadi aku bertemu Sai. Dia baru saja pulang dari misi yang dijalankannya bersama Naruto."
Sasuke diam. Tanggapannya hanyalah tatapan yang ditujukan pada Sakura selagi gadis itu berbicara.
"Naruto sudah ada di Konoha sekarang. Sebaiknya kita mengunjunginya. Entah mengapa aku punya firasat dia akan mendobrak pintu apartemenku bila kita tak mengunjunginya lebih dulu," kata Sakura sambil terkikik.
"Hn, aku bisa membayangkan hal itu sungguh-sungguh terjadi."
"Bagaimana kalau kita mengunjunginya besok? Sekarang dia pasti masih membutuhkan istirahat setelah—"
Suara ketukan pintu yang ceroboh membuat Sasuke dan Sakura saling pandang. Mereka jelas tahu siapa pelakunya.
Sakura mendesah. "Setidaknya dia tidak mendobraknya," komentarnya. "Sebentar, Naruto!"
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Naruto yang masih dibalut pakaian misi, beberapa bekas luka melintangi bagian-bagian tubuhnya. Benar juga, Sakura lupa bahwa Naruto adalah lelaki yang tak kenal lelah.
"Kau sudah pulang, Sakura-chan! Mengapa kau tidak mengabariku sebelumnya?"
Sakura memegang tengkuknya. "Aku tidak merasa itu perlu karena sudah berniat akan mengunjungimu setelah kembali ke sini." Mata Sakura terpaku pada sobekan di pakaian yang melapisi lengan Naruto. Kulitnya tersayat di sana. "Naruto, kau tidak sempat pulang ke rumahmu?"
"Tentu saja sudah! Aku kemari hanya untuk mengundangmu makan malam bersamaku dan istriku." Sakura tidak bisa menahan senyum mendengar kata ganti yang digunakan Naruto untuk Hinata. "Di mana Sasuke? Hokage bilang dia kembali bersamamu."
Entah mengapa, pipi Sakura merona mendengar pertanyaan Naruto. "Dia—"
"Naruto." Suara Sasuke memotong kata-kata Sakura. Tatapan Naruto langsung tertuju pada Sasuke yang kini tengah berdiri di depan sofa Sakura. Dia tampak terkejut, kemudian mimik mukanya berubah setelah matanya menyipit.
"Apa yang sedang kaulakukan di apartemen Sakura-chan?"
Sasuke dan Sakura saling pandang mendengarnya. Sakura memelas dan meminta Sasuke untuk menjawab pertanyaannya. Wajah gadis itu sudah semerah tomat kesukaan Sasuke sekarang.
"Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan-jangan kalian ...?" Mata Naruto membelalak setelah menyadari sesuatu. "Sakura-chan, siapa namamu?"
Sakura mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Nama lengkapmu?"
"Haruno Sakura," jawab Sakura setengah kesal. "Bodoh, kau lupa namaku?!"
Alih-alih takut akan emosi Sakura yang mulai naik, Naruto justru terkejut akan jawaban gadis itu. "Kalian belum menikah?! Aku baru saja mau marah karena tidak tahu apa-apa soal itu!" Volume suaranya mengencang.
Sasuke mendecak. "Usuratonkachi."
"Hei!" Naruto menyalang kesal ke arah Sasuke.
"Kau berisik sekali, Naruto! Jangan berteriak-teriak di depan apartemenku!" Sakura menarik pakaian Naruto hingga lelaki itu memasuki ambang pintu apartemennya. "Duduklah, bicara yang tenang! Dan sekalian kuobati lukamu." Tangan Sakura yang bebas sudah menyala-nyala karena chakra hijau.
"Tidak, aku hanya mau mengundang makan malam bersama. Hinata pasti sudah menungguku."
"Diamlah sebentar," kata Sakura. Dia mengarahkan tangannya pada luka di lengan Naruto. Sayatan itu berangsur-angsur tertutup. "Selesai."
"Terima kasih, Sakura-chan." Dia menyengir. Tangannya menepuk-nepuk lokasi bekas luka yang kini yang hanya ditandai oleh sobekan baju saja. Padahal dia berniat menyembuhkannya sendiri menggunakan chakra kyuubi saat pulang nanti. Syukurlah Sakura berbaik hati. "Aku pulang kalau begitu," katanya. Dia menatap Sakura dan Sasuke satu per satu. "Kutunggu kalian di rumahku. Awas saja kalau tidak datang!"
Apartemen itu terasa jauh lebih sepi setelah Naruto pergi. Padahal, kehadiran Naruto hanyalah beberapa menit di sini. Sakura memandang Sasuke dan terkikik geli.
"Dia sama sekali tidak berubah," kata Sakura.
"Hn, begitu pula panggilannya padamu," gerutu Sasuke. Rasa terganggu jelas-jelas melintangi wajahnya.
"Panggilannya padaku?" Sakura mengernyit. "Maksudmu "Sakura-chan"?"
"Kupikir setelah menikah dia akan berhenti memanggilmu begitu."
Sakura terkekeh. "Apa salahnya, Sasuke-kun? Mungkin dia sudah sangat terbiasa memanggilku begitu jadi sulit untuk mengubahnya," tuturnya. "Kau cemburu, ya?" Kilatan geli berbinar di matanya.
"Jangan bodoh. Dia sudah menikah, Sakura. Tak ada alasan untuk merasa begitu."
"Hmm, apa yang kaukatakan tidak seperti ekspresi yang dipancarkan matamu."
Sasuke sontak memalingkan wajah. "Tidak."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak memanggilku "Sakura-chan"?"
"Tidak."
Sakura memberungut. "Ayolah, Sasuke-kun. Selama ini aku selalu memanggilmu "Sasuke-kun", kapan kau akan membalasnya?"
"Tch, itu bukan sesuatu yang perlu dibalas."
"Sekali saja?" Sakura memelas.
Sasuke mengetuk dahi Sakura menggunakan ujung dua jari. "Lain kali," kata Sasuke. Dia melirik Sakura tanpa menoleh saat menyadari bahwa gadis itu mendadak diam. Merah memenuhi seluruh wajahnya. Dia tak membujuknya lagi.
Tangan Sakura memegangi dahinya sendiri. Senyum tersungging di wajahnya. "Ayo siap-siap berangkat ke rumah Naruto, Sasuke-kun," kata Sakura.
Sasuke mengangkat sebelah alis menyadari intonasi bicara Sakura tidak setegas biasanya. Dia hanya mengedikkan bahunya kecil karena tak tahu apa yang terjadi pada Sakura, kemudian bergumam untuk menanggapi kata-katanya.
.
Makan malam itu dilalui sambil bercengkrama. Sasuke lebih banyak mendengarkan dan menyimak daripada berbicara. Lagi pula, beberapa topik pembicaraan tiga orang lain di meja itu sama sekali tak dia pahami. Dia tak merasa memiliki celah untuk bergabung. Hal tersebut berlaku sampai kebersamaannya dengan Sakura diungkit oleh Naruto.
"Bagaimana pertemuan pertama kalian saat Sakura menyusul?"
Sakura melirik ke arah lain. Jelas-jelas gadis itu enggan menjawab pertanyaan ini.
Sasuke berdeham. "Dia menonjokku." Ini sedikit memalukan baginya.
Naruto membelalak, diikuti oleh bahakan. "Benarkah itu, Sakura-chan?"
Sakura mengangguk.
Naruto terbahak lagi. "Aku sungguh-sungguh ingin melihat bagaimana itu terjadi!"
Sasuke mendecak. Seharusnya dia tak perlu mengungkapkan itu pada Naruto.
"Kalian sudah bertunangan?" tanya Hinata tiba-tiba. Tatapannya tertuju pada jemari Sakura yang dililit cincin.
Pipi Sakura memerah. "Ya," jawabnya sambil tersenyum.
"Apa?" Naruto menganga tak percaya.
Sasuke mengangguk untuk menegaskan jawaban Sakura. Dia tak mengerti akan tanggapan Naruto. Beberapa saat yang lalu, lelaki itu menduga bahwa dia dan Sakura sudah menikah. Bagaimana mungkin pertunangan masih mengejutkannya juga?
"Kapan pernikahannya?" tanya Hinata lagi.
Sasuke dan Sakura menatap satu sama lain. "Kami belum menentukannya," jawab Sakura. "Sasuke-kun baru meminta restu ayahku kemarin, jadi kami belum sempat membicarakannya lagi."
"Kuharap secepatnya," kata Naruto. Dia menggenggam tangan Hinata dan menatap matanya. "Menikah itu ... melengkapi hidupmu."
Sakura mengangguk dan tersenyum. Sudah tak ada lagi yang dia dan Sasuke tunggu. Sudah tak ada lagi yang menunda pernikahan mereka. Mungkin memang bisa dilaksanakan secepatnya.
Perbicaraan mereka lama-kelamaan beralih pada pembicaraan seputar perempuan yang hanya diusung oleh Sakura dan Hinata. Sadar akan hal tersebut, mereka memisahkan diri dan meninggalkan Sasuke dan Naruto di meja makan. Naruto memperhatikan jemari Sasuke dan mencari cincin yang tersemat di sana. Jemarinya polos, tak ada satu hal pun yang melilitnya.
"Kenapa kau tidak pakai cincin?"
Sasuke mengangkat sebelah alis, heran akan pertanyaan Naruto. "Kami belum menikah," katanya. Setahunya, dalam pertunangan yang memakai cincin hanyalah pihak wanita. Entah pengetahuannya akurat atau tidak.
Naruto mengembuskan napas panjang. Ada sebuah pertanyaan yang tersemat di kerongkongannya semenjak dia tahu bahwa Sasuke dan Sakura kini bersama. Sekelumit prasangka menggelitinya. Dia menyipit.
"Kau tidak mengambil keuntungan apa pun dari Sakura-chan, 'kan?"
"Keuntungan apa yang kau maksud?" Sasuke mengernyit.
Naruto berdeham. "Maksudku—kau tidak menggunakannya untuk kepentinganmu, 'kan? Kau tahu dia mencintaimu. Dan aku tak akan suka jika kau hanya memanfaatkannya atau hal semacam itu."
Sasuke merasa terganggu atas kata-kata Naruto. Bukan hanya karena dirinya yang dituding seenaknya, juga karena penuturan itu yang mengindikasikan sesuatu. "Kenapa kau peduli? Kau masih menyukainya?" katanya sengit.
Naruto memandang Sasuke tak percaya. "Aku menyayangi Sakura-chan seperti saudaraku sendiri. Aku sudah menikah, Sasuke! Aku hanya tak mau kau menyakitinya."
"Aku berusaha untuk tak akan melakukan itu."
Lagi, Naruto memandang Sasuke tak percaya. Namun, kali ini dengan aura yang berbeda. Sasuke berucap dengan tulus meskipun intonasinya masih datar seperti biasa. Bila Naruto tidak mengenalnya dengan baik, dia pasti tak akan memahaminya. Cara Sasuke bertutur persis seperti saat lelaki itu meminta maaf pada Sakura setelah mereka bertarung hingga kehilangan satu tangan. Satu kesimpulan muncul di benaknya. Hempasan ombak rasa lega membanjiri hatinya.
"Kau mencintainya."
Benar atau tidaknya konklusi Naruto, dia punya firasat Sasuke akan tetap menyangkalnya.
"Ya."
Yang nyatanya salah. Dan Naruto terkejut akan itu.
"Sejak kapan?"
"Aku tidak tahu."
Naruto terdiam. Dia ingat Sakura adalah satu-satunya gadis yang pernah Sasuke pedulikan. Meskipun ada masa dia nyaris membunuh gadis itu, saat Sasuke tidak sedang dikendalikan oleh akal sehat, tapi Sakura tetaplah satu-satunya gadis yang pernah—nyaris selalu—Sasuke pedulikan dan perhatikan. Semuanya terdengar masuk akal sekarang.
"Jangan menyakitinya," peringat Naruto. "Kau sahabatku, tapi aku akan selalu ada di pihaknya."
"Aku tahu."
Percakapan mereka berlanjut hingga malam melarut dan nyaris melampaui waktu orang-orang memulai istirahat. Naruto sempat mengajak Sasuke latihan bersama saat ada waktu luang dan disetujui sebelum Sasuke dan Sakura berpamitan dan pulang.
Saat tiba di apartemen Sakura, gadis itu duduk di sofanya. Raut wajahnya tampak rileks dan senang. Dia bercerita tentang dirinya yang mengecek kehamilan Hinata dan kondisinya baik-baik saja. Dia pun mengetahui jenis kelamin bayi yang dikandung Hinata tanpa diberi tahu siapa pun, yaitu laki-laki. "Aku tidak bisa membayangkan seberapa bahagianya mereka karena aku pun sangat, sangat senang tentang hal ini," kata Sakura. "Fisiknya pasti mirip dengan Naruto. Tapi kuharap dia tidak akan menjadi ceroboh dan impulsif seperti ayahnya."
Pancaran rasa senang di wajah Sakura bertahan cukup lama hingga memias sedikit demi sedikit. Ekspresimya tak bisa lagi Sasuke baca. Kemudian Sakura terdiam. Dalam gemingannya, dia tampak tengah memikirkan sesuatu. Dia mengambil segelas air mineral dan meminumnya, dan setelah habis, dia berkata, "Aku tidak ingin menikah di sini."
"Apa?" Sasuke sontak menoleh ke arah Sakura. Keterkejutan melingkupinya. "Kenapa?"
"Karena itu lebih terasa seperti ... kita." Sakura baru menoleh ke arah Sasuke lagi. "Dan, entahlah, aku merasa jika kita menikah di luar desa, aku tak memiliki apa pun untuk dicemaskan."
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Kalau yang kaucemaskan itu adalah aku, lupakan saja. Tak masalah bila kita menikah di sini."
"Tidak. Aku hanya ingin merasa tenang, Sasuke-kun. Di sini ... di sini masih banyak orang yang merasa berhak untuk menghakimiku." Dan kau jelas-jelas tidak tampak senyaman saat berada di luar desa. Aku tidak ingin menyiksamu.
"Menghakimimu atas aku?" Entah mengapa seringai sinis muncul di wajahnya. Dan kilasan-kilasan tatapan kebencian yang ditujukan padanya setiap kali melewati jalanan ramai di Konoha terbit di benaknya. "Mereka memang tidak salah menilai."
"Hentikan." Sakura melempar tatapan terganggu. "Aku tak ingin mendengar itu. Aku akan benci sekali kalau kau menjadi satu di antara mereka yang menghakimiku." Dia mengembuskan napas panjang ketika sadar bahwa Sasuke enggan memperpanjang pembahasan yang sudah melenceng dari apa yang ingin Sakura bicarakan. "Bagaimana denganmu? Apa gagasanmu soal pernikahan kita nanti?"
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku inginkan. Tapi aku membayangkan kau mengenakan shiromuku."
"Kau pernah membayangkan pernikahan kita?"
Sasuke mengalihkan pandangan dari Sakura. Dia membersihkan tenggorokannya. "Itu bukan sesuatu yang bisa kucegah."
"Aku selalu ingin mengenakan shiromuku milik ibuku saat aku menikah nanti." Sakura tersenyum.
"Aku akan memakai montsuki haori hakama milik ayahku. Aku sudah menemukannya."
Kedua mata Sakura membelalak. Ingatannya berlabuh pada saat Pain menghancurkan Konoha sampai rata dengan tanah. Distrik Uchiha tak lagi dibangun berbarengan dengan bagian desa lainnya, walaupun dia tahu dari Sasuke bahwa barang-barang yang utuh masih disimpan di tempat khusus. Dia jelas terkejut mendengar barang serapuh kain masih utuh setelah kejadian itu. "Sungguh? Masih utuh?"
"Hn. Aku menemukannya di dalam peti yang juga berisi shiromuku milik ibuku."
"Oh," sahut Sakura. Mungkin kedua barang itu memang disimpan di dalam peti sejak awal, sehingga bisa tahan hancur saat penyerangan Pain ke Konoha.
"Untuk tanggalnya, sebaiknya kita lihat almanak saja."
Sasuke menyetujuinya. Sakura meraih almanak dari rak bukunya. Dia mencocokkan tanggal lahirnya dan tanggal lahir Sasuke. Tahun lahir mereka yang sama sedikit memudahkannya. Ada beberapa tanggal menguntungkan bagi Sakura, tetapi bagi Sasuke adalah kontradiksinya. Begitu pula sebaliknya. Dia mencari lagi sampai menemukan satu tanggal yang netral bagi keduanya. Tak ada pantangan dalam bentuk apa pun. Karena sangat sulit mencari tanggal yang sama-sama menguntungkan bagi keduanya di waktu dekat, dia memutuskan bahwa yang netral saja sudah cukup. Rabu ketiga di bulan Juni—tepatnya tanggal dua puluh satu.
"Kurang lebih tiga minggu dari sekarang," kata Sasuke. "Tidak terlalu cepat?"
Sakura menggeleng. "Tidak jika kita tidak mengadakan resepsi. Kurasa kita tidak membutuhkannya."
"Aku tidak," ujar Sasuke. "Tapi kau iya."
"Tidak. Aku tidak mau dihakimi—dalam bentuk apa pun—di hari pernikahanku. Berarti kita mengundang kerabat terdekat saja, dan sedikitnya undangan akan membuat resepsi sia-sia."
"Sakura—"
Sakura tersenyum lembut untuk meyakinkan Sasuke. "Aku hanya ingin bahagia di hari pernikahanku, Sasuke-kun. Pernikahan kita. Aku tidak ingin salah satu di antara kita terbebani oleh penilaian orang lain yang bisa dilihat secara langsung."
"Aku mengerti. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu."
"Ini yang terbaik untuk kita."
Sasuke mengangguk dan menepuk puncak kepala Sakura.
"Apa yang akan kaulakukan setelah kita menikah?"
"Aku tetap ikut denganmu," kata Sakura tegas. Matanya menyorot keyakinan penuh. "Aku mengerti sesuatu akhir-akhir ini, dari percakapanmu dengan ayahku, bahwa kau bepergian bukanlah sesuatu yang kauinginkan, tetapi adalah yang kaubutuhkan. Sementara aku membutuhkanmu."
"Aku bisa menghentikannya atau melakukannya tidak terlalu sering. Aku bisa membiasakan diri."
Sakura menggeleng. "Tapi menetap di sini pasti berat untukmu. Hampir semua orang ... mereka ..." Satu kata yang melengkapi kalimat yang diucapnya terasa pahit di lidah. Dia menggantungkan kata-katanya di udara.
Sasuke mengembuskan napas panjang. "... membenciku."
"Itu bukan hanya tak mudah untukmu, tapi untukku juga." Sakura tampak murung. Dia tak ingin membicarakan topik pahit ini lagi. Benaknya buru-buru memproduksi topik lain. "Dan aku akan membicarakan soal pekerjaanku dengan Tsunade-sama besok."
Sasuke tertegun. Perihal pekerjaan Sakura sama sekali luput dari benaknya. Dia nyaris lupa bahwa bagaimanapun hidup Sakura tetap berpusat di Konoha. "Sakura, aku tak yakin tentang ini. Dan orangtuamu—"
"Tapi aku yakin, Sasuke-kun. Aku akan membicarakan ini dengan orangtuaku."
"Aku tidak ingin merusak hidupmu." Melihat Sakura hendak mendebatnya, Sasuke buru-buru menambahkan, "Atau menjadi alasan kau merusak hidupmu sendiri."
"Tak satu pun dari dua hal yang tidak kauinginkan itu terjadi ataupun akan terjadi. Inilah jalan keluar yang paling tepat. Kau mendapatkan apa yang kaubutuhkan, dan aku juga. Seperti yang kubilang tadi, ini yang terbaik untuk kita," tutur Sakura. "Ya?"
"Kau meminta persetujuanku seolah-olah aku punya pilihan lain." Sasuke mendengus.
Sakura tertawa. "Dan aku tahu kau tidak menginginkan pilihan lain."
Sasuke tidak menyangkalnya.
.
Sasuke tidak menyangkalnya karena tak menduga keadaannya akan menjadi seperti ini.
"Aku turut menyetujui pernikahan kalian bukan untuk ini!" Mebuki berdiri dari duduknya dengan tergesa-gesa. Suara kursi yang menggeret lantai menyayat telinga.
"Kaasan!" Sakura membelalak tak percaya. Dia melirik khawatir ke arah Sasuke. Bahu lelaki itu menegang. Raut wajahnya lebih kaku daripada biasanya.
Sakura baru saja menyampaikan segala hal yang sudah direncanakannya dengan Sasuke kemarin. Suasananya masih damai saat rencana pernikahan disebutkan seluruhnya, dan ketenangan itu pecah berkeping-keping saat rencana pascapernikahan diutarakan.
"Aku sudah berusaha memahami perasaan Sakura. Aku mencoba menoleransi pasangannya yang merupakan mantan ninja pelarian, kriminal, dan narapidana, tapi tidak soal ini. Tidak soal ini!" Sorot mata Mebuki mengarah ke Sasuke yang menarik dagu dan tak menatapnya balik. "Aku sebelumnya memercayaimu, Uchiha, karena Sakura bilang bahwa kau sudah berubah, kau adalah lelaki baik-baik, tapi lelaki baik-baik jelas tak akan melakukan ini pada calon istrinya! Pada anakku!"
Sasuke meneguk ludahnya. Kata-kata Mebuki yang membawa-bawa keburukannya di masa lalu sama sekali tak asing baginya. Tak bisa dipungkiri ada sekelumit penyesalan dan dia tersinggung setiap kali mendengarnya—demi Kami-sama, dia sudah berusaha untuk berubah dan membayar kesalahannya di masa lalu!—namun dia mulai terbiasa dengan itu. Tapi saat mendengar ibu Sakura yang menyatakannya, seolah-olah kekebalan Sasuke atas cercaan orang-orang tidak pernah ada. Runtuh dan hancur menjadi debu. Tenggorokannya terasa disumbat hingga dia sulit bernapas sekarang.
Kizashi tak percaya Mebuki bisa berkata sefrontal itu. Sebenarnya dia pun tak setuju dengan keputusan Sakura dan calon menantunya. Dia pun hendak menyatakan ketidaksetujuannya, tapi sama sekali bukan seperti cara Mebuki. Dia berencana untuk membicarakannya baik-baik agar kedua belah pihak tak terbawa emosi. Sama sekali tidak seperti keadaan yang menjebaknya saat ini.
Dia bisa melihat seberapa terlukanya Sakura, tetapi dia tak bisa membaca apa yang Sasuke rasakan. Tak lama, kilatan yang sama dengan yang muncul di mata istrinya turut timbul di mata Sakura. Membaca itu, Kizashi lekas berkata, "Sakura, masuklah ke kamarmu atau kembalilah ke apartemenmu. Bawa Sasuke bersamamu."
Kedua tangan Mebuki mengepal di kedua sisi tubuh. Raut geram terpancar dari wajahnya. "Kau merusak hidup Sakura!"
"Mebuki, cukup." Kizashi segera berdiri dan menarik lengan istrinya untuk menjauh dari putri dan calon menantunya. Dia yakin kondisi bisa lebih parah dari ini.
"Kaasan! Akulah yang memutuskan semua itu!" Air mata mengaliri pipi Sakura, atas rasa sakit atau kemarahan, tak ada yang tahu. "Aku bahkan yang membujuk Sasuke untuk menyetujuinya. Dia tidak merusak hidupku!"
Mebuki menyentak lengannya, berusaha lepas dari pegangan Kizashi. "Kau tidak akan berkeputusan seperti itu jika kekasihmu bukanlah dia. Dia memang tak punya hidup di sini, tapi kau harus sadar bahwa kau masih memilikinya!" Matanya menyalang ke arah Sakura yang tampak menantangnya dengan turut berdiri. "Kau seharusnya memilih lelaki yang tidak bermasalah!"
Seluruh pembelaan dan perlawanan yang bermuara di tenggorokan Sakura melenyap dalam sekejap. Dia mematung. Rasa sakit melintang di wajahnya. Tangannya membekap mulut yang mulai menuai isakan. Pandangannya kosong, dia sama sekali tak berani melihat ke arah Sasuke. Dia saja merasa sangat, sangat sakit atas segala ucapan ibunya, dan dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sasuke. Dia bahkan takut untuk membayangkannya.
"Kembalilah ke apartemenmu." Samar-samar Sakura mendengar ayahnya berucap. Dia mengerjapkan mata dan menatap wajah ayahnya. Pandangannya memburam. "Sakura."
Sakura mengusap wajahnya agar pandangannya menjelas. Air mata muncul lagi dan kembali memburamkan penglihatannya. Dia memegang lengan Sasuke tanpa keberanian untuk menatapnya. Dengan langkah buru-buru tapi tak pasti, Sakura meninggalkan rumah orangtuanya.
Dalam perjalanan, Sakura melepas genggamannya dan melangkah lebih cepat daripada Sasuke. Sasuke tak menyusulnya. Dia tak punya alasan untuk itu. Dadanya masih terasa nyeri, bahunya masih berat, napasnya masih sesak. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Dia tak tahu bagaimana menyelesaikan semua ini.
Mereka tak saling bicara setelahnya. Tidur dilalui dengan posisi punggung menghadap punggung dan saling berjauhan walaupun mereka sama sekali tidak bertengkar. Ini bahkan jauh lebih buruk daripada bertengkar.
Hal tersebut terulang terus setiap hari dan malam. Seharusnya mereka rutin makan malam di rumah orangtua Sakura, itulah yang ibu Sakura pinta sebelum ini terjadi, tetapi malam itu menjadi yang terakhir kali. Paginya Sasuke akan berlatih bersama Naruto, ditanyai "Ada apa?" karena beberapa kali kedapatan melamun, Sasuke menolak bercerita apa pun, kembali lagi ke apartemen Sakura untuk menyambut kehampaan. Ada atau tidaknya gadis itu sama sekali tak memberi perbedaan. Bangunan itu masih sama hampanya baik dengan hadirnya Sakura atau tidak. Bahkan terasa lebih menyesakkan saat Sakura berada di sana.
Sakura beberapa kali keluar lama dan Sasuke sama sekali tak tahu ke mana tujuannya—dia pun tak mencari tahu. Sampai satu hari dia mengetahui bahwa Sakura menerima misi ke luar desa hingga bermalam, dan dia tak tahu apa-apa soal itu, Sasuke tak bisa memungkiri kemarahan yang membuncah di tubuhnya. Tapi dia tak mengatakan apa-apa. Juga tak melakukan apa-apa. Tak melakukan apa-apa selain tidur di sofa, tak seperti biasanya, di kamar Sakura, walaupun mereka tak saling bicara dan saling membelakangi.
Mereka berusaha untuk tak berada di dalam ruangan yang sama setelahnya.
Sasuke ingin Sakura bicara padanya, menangis, berteriak, marah atau apa pun, apa pun selain diam seperti ini. Dan dia tak tahu betapa Sakura merasakan hal yang sama. Tapi mereka tetap diam. Membahas tentang yang terjadi malam itu terasa begitu menyakitkan. Mereka diam karena tak ada satu hal lain pun yang mengisi benak mereka selain kemarahan ibu Sakura. Dan itu membuat tak adanya gagasan topik pembicaraan yang tak akan menyakiti satu sama lain. Betapa kejadian itu melekat di benak mereka dan sama sekali tak bisa dihapus barang satu detik pun.
Di malam yang mereka rencanakan akan menjadi malam terakhir berada di Konoha, Sakura keluar dari kamarnya saat Sasuke berada di ruang tengah. Sasuke baru saja hendak berdiri, keluar dari apartemen itu, kemudian pergi ke mana saja—taman, hutan, lapangan latihan, puing-puing kuil Naka—ke mana saja asal tidak dalam ruangan yang sama dengan Sakura. Dia tak bisa lagi menoleransi rasa sesaknya.
Namun, niatnya untuk beranjak terhenti saat Sakura menaruh dua buah gelas berisi teh di atas meja. Salah satunya didorong ke arah Sasuke, dan satunya lagi diangkat oleh dirinya sendiri untuk disantap isinya. Sasuke menatap Sakura dalam diam. Gadis itu menaruh gelasnya di meja, menyandarkan punggung pada sofa, kemudian memeluk lututnya. Tiba-tiba tangisnya pecah.
Sasuke beringsut ke arah Sakura dengan ragu. Tangannya perlahan-lahan melingkari tubuh kecil gadis itu sembari menilai tanggapannya. Tak ada penolakan apa pun sampai Sasuke sepenuhnya mendekap Sakura. Kepala gadis itu menyandar pada dadanya. Suara tangisnya semakin keras dan getaran di tubuhnya semakin kencang. Sasuke mendekapnya semakin erat.
"Maafkan aku," isaknya. "Aku minta maaf, Sasuke-kun. Ini salahku. Ini salahku."
Sasuke memejamkan mata dan menggeleng. "Ini bukan salahmu."
"D-dan bukan salahmu juga," kata Sakura. Suaranya teredam karena wajahnya masih tenggelam di dada Sasuke. "Kau h-harus mengerti bahwa ini bukan salahmu."
Sasuke bergeming.
"Sasuke-kun."
Tak ada jawaban.
"Sasuke-kun." Sakura mengisak. Tangannya meremas kaus Sasuke. "Kumohon."
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Aku layak mendapatkannya. Dan apa yang," dia meneguk ludah, "apa yang ibumu katakan tentang aku memang tak salah. Tapi aku tak ingin melepasmu apa pun yang terjadi. Apa pun." Dia jelas terdengar egois dan menekankan hal tersebut dalam kalimat tersebut. Tapi dia tak peduli.
Sakura menggeleng. "Tapi ibuku bisa memilih untuk tidak menyampaikannya sekasar itu," bisiknya. "Aku bahkan sakit saat mendengarnya."
Mereka tak berbicara lagi dalam beberapa saat. Isakan Sakura berangsur-angsur berhenti.
"Kita ... kita lari saja," cetus Sakura. "Aku tidak peduli lagi."
Kau peduli, Sakura. Kalau tidak peduli kau tidak akan seperti ini.
Sakura menarik diri dari dekapan Sasuke. Dia menengadah dan langsung menatap wajahnya. "Tidak," dia tertawa kecil. Tawa itu terdengar menyakitkan baik bagi Sasuke maupun Sakura. Air matanya mengalir lagi. "Kalaupun kita pergi sekarang, kita tidak kawin lari. Ayahku tidak menarik restunya."
Sasuke masih diam.
"Semuanya akan tetap berjalan sesuai rencana. Semua ... kecuali ... shiromuku yang kupakai nanti." Sakura meneguk ludah dan menghapus jejak air matanya lagi.
Sasuke menarik napas panjang. "Kau," ucapnya ragu, "kau bisa memakai shiromuku milik ibuku."
Senyum kecil mengembang di bibir Sakura. Aliran air mata baru Sasuke hapus secepatnya. "Ya," katanya. "Itu akan sempurna." Napasnya tersekat di tenggorokan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi ..." Sakura berucap dengan nada lirih.
Kita berdua tahu itu tidak benar.
Sakura mendekap Sasuke lagi dan menenggelamkan wajah ke dadanya. Tangisnya pecah lagi. Sasuke tak melakukan apa pun selain melingkari tangannya di tubuh Sakura.
Beberapa saat setelah tangis Sakura berhenti, apartemen ini berubah sepi. Dua orang pengisi bangunan itu telah memutuskan untuk pergi.
.
Bersambung
.
Ket:
Shiromuku: Kimono pernikahan untuk perempuan
Montsuki haori hakama: Kimono pernikahan untuk laki-laki
A/n:
Tanggal nikahnya SasuSaku dicari dari ulang tahun Sarada dikurangi 9 bulan 10 hari HAHAHA /woi. Terus selain Sarada, gak yakin hitungan kehamilan yang lain akurat sih heheu karena waktu bahas soal itu di sini, ulang tahun next generation pada belum rilis. Semoga dimaklumi.
Maaf ada drama lagi karena kemungkinannya kecil ortu Sakura iya-iya aja sama semua keputusan Sakura dan Sasuke. Sesayang-sayangnya juga tetep aja sih :")
Terima kasih sudah membaca sampai sini!
daffodila.
