"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Sasuke ketika Sakura dan dirinya baru saja keluar dari penginapan.
Sakura melirik wajah Sasuke. Lelaki itu masih menatap lurus ke arah jalan. Dia menyentuhkan punggung tangannya pada punggung tangan Sasuke, mengharapkan sebuah genggaman. Embusan napas kecewa terlepas ketika tak ada gerakan berarti dari tangan Sasuke. Besok adalah pernikahan mereka, tetapi hal tersebut tak mengubah preferensi Sasuke akan mengumbar afeksi jika mereka tidak sedang berdua saja. Seharusnya Sakura tidak melakukan itu semenjak dia tahu modusnya akan sia-sia.
"Aku tahu. Tempat makan, 'kan?" tanya Sakura.
"Lihat saja nanti."
Sakura bergumam. Matanya melirik ke atas, mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Ini pertama kali kau mengajakku ke suatu tempat. Maksudku, benar-benar mengajak. Selama ini kau hanya mengungkapkan tujuan dan aku mengikutinya."
"Hn."
"Kita akan pergi kencan?" Sakura terkikik.
Sasuke mengedikkan bahu. "Kalau kau menganggapnya begitu."
Sakura memberungut. Langkahnya mengentak. "Ini tidak akan jadi kencan kalau hanya aku yang menganggapnya begitu," keluhnya.
"Baiklah, ini kencan. Puas?" ujar Sasuke. Dia mendecakkan lidahnya.
"Ya, puas!" Sakura tertawa. Wajahnya merona. "Ini yang pertama, kalau begitu."
Sasuke mengalihkan wajah dan berdeham. Dia menanggapi Sakura dengan gumaman.
Mereka terus berjalan melewati alun-alun desa. Langkah Sasuke tak berhenti bahkan di tempat makan paling ujung sekalipun. Sakura mengernyit. Tujuan mereka keluar dari penginapan tadi adalah untuk mencari makan. Lantas mengapa semua tempat makan dalam bentuk apa pun tak ada yang Sasuke hampiri?
Pertanyaan sudah bertengger di ujung lidah Sakura. Rasa penasaran tentang ke mana Sasuke akan membawanya terus berputar-putar di perutnya dan mengikis rasa lapar. Dia membuka mulut, kemudian menutupnya lagi. Dia tahu pertanyaannya hanya akan ditanggapi dengan sikap defensif Sasuke. Embusan napas panjang lepas dari hidungnya.
Semakin jauh melangkah, semakin keras suara deburan air laut. Spekulasi-spekulasi berkelebat di benaknya. Sakura melirik Sasuke lagi, menanti penjelasan. Namun, lelaki itu tetap diam dan terus memandang ke depan.
Bangunan-bangunan telah berganti menjadi pepohonan. Pepohonan di samping kirinya tidak selebat sebelumnya. Hamparan lautan luas terlihat dari celah antarpohon. Sakura sontak menahan napasnya. Salah satu spekulasinya dibenarkan oleh bentangan biru di samping kirinya. Namun, itu belum sepenuhnya tepat.
Langkah kaki Sasuke melambat ketika mata Sakura menangkap sebuah mercusuar yang menjulang tinggi. Kobaran api bergoyang-goyang di atasnya. Kini dia berdiri di atas sebuah tanjung yang diapit dua buah teluk kecil. Embusan angin meniup rambutnya semakin liar. Sakura menyelipkannya ke belakang telinga berkali-kali, tapi lepas dan lepas lagi sampai dia memutuskan untuk mengabaikannya saja. Dia merasakan tatapan Sasuke padanya. Tangan lelaki itu menggantikan tugas tangannya untuk menyelipkan rambut ke belakang telinga, yang beberapa detik kemudian menjadi sia-sia.
Sasuke menyelipkan jemarinya pada ruas jemari Sakura. Gadis itu tersentak, pipinya memerah, tapi tak mengatakan apa-apa. Dia mengikuti Sasuke yang menuntunnya menuju sebuah bangku panjang berbahan dasar kayu yang berada kurang lebih dua meter dari perbatasan daratan dan lautan. Sasuke membiarkannya duduk lebih dulu sebelum menyusul di sampingnya.
Suara koakan burung dan deburan air laut memecah keheningan di antara mereka. Genggaman tangannya sudah lepas. Sakura menyandarkan kepala pada bahu Sasuke. Matanya masih memandang lurus ke depan. Perbatasan daratan dan lautan itu dipagari oleh kayu yang disambung tali dalam jarak setiap satu meter. Permukaan air laut sama sekali tak tenang, sebagaimana lumrahnya, bergoyang-goyang karena tiupan angin. Cahaya matahari yang langsung tertuju pada permukaan air laut memantul hingga menimbulkan kelap-kelip yang samar.
Sakura tersenyum lembut. Hatinya menghangat. Dia akan mengingat kejadian ini selamanya.
"Kenapa kau mengajakku kemari?" tanya Sakura.
"Kau pernah bilang ingin berkunjung ke pantai. Kita tidak pernah melewati pantai dan tak pernah sengaja menuju ke sana," jawab Sasuke. "Ini memang bukan pantai, tapi hanya inilah yang ada."
Senyum Sakura mengembang lagi. Dia menyandarkan diri lebih lagi pada Sasuke. Sasuke memejamkan matanya sejenak. Dia membayangkan apabila tangan kirinya masih ada, tangan tersebut akan melingkari bahu Sakura sekarang.
"Terima kasih sudah mengajakku ke sini. Aku suka sekali."
"Hn." Sasuke menyeringai tipis mendapati keceriaan Sakura kembali lagi. Sejak mereka meninggalkan Konoha lagi, Sakura tidak pernah tersenyum selepas ini. Dia tak pernah sesantai ini. Dia tak pernah tampak tenang dan sedamai ini. Sasuke sungguh merasa puas atas tindakannya yang terasa tepat.
"Ini kencan pertama kita. Dan kau melakukannya satu hari sebelum pernikahan kita," kata Sakura dengan nada kesal main-main. Tawa kecil menyusul setelahnya.
"Hn."
Sakura membeliak. "Hn, hn, begitu saja terus!"
Sasuke mendengus geli. Dia mengusap kepala Sakura dan mengacak rambutnya.
"Tentang orangtuamu ..."
"Aku tidak ingin membicarakan ini," potong Sakura. "Tidak sekarang."
"Tapi aku ingin membicarakannya."
Dahi Sakura mengerut. "Sasuke-kun."
"Kau—kita—tetap harus berbicara dengan mereka."
"Tidakkah kau ingat kata-kata ibuku? Aku tidak mau kau mengalami hal seperti itu lagi. Dan mereka jelas-jelas tidak akan bisa diajak bernegosiasi."
Sasuke memejamkan matanya. Dia pribadi pun tak ingin mengalami penolakan dengan cara seperti itu lagi. Dia menarik dan mengembuskan napas panjang untuk mencoba melupakannya. Tidak bisa. Bahkan hinaan ibu Sakura masih terngiang di telinganya yang tak ayal membuat hatinya sakit. Tapi dia tahu dia tidak bisa hanya lari.
"Kau juga tidak bisa diajak bernegosiasi."
"Kita juga," koreksi Sakura.
"Aku bisa," kata Sasuke. "Orangtuamu hanya tidak setuju dengan rencanamu setelah kita menikah. Aku bisa menuruti apa yang orangtuamu inginkan."
Sakura menggeleng. "Tidak." Dia menegakkan tubuhnya. Napasnya diatur hingga dia merasa lebih tenang. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Hn?"
"Tsunade-sama tidak mengizinkan aku memperpanjang cuti." Sakura meneguk ludah. Dia tak berani menatap wajah Sasuke. "Aku masih harus bekerja, tapi tidak di Konoha. Tsunade-sama menugaskanku untuk berdiplomasi dengan banyak rumah sakit atau klinik di luar Konoha."
"Sebagai dokter?"
Sakura mengangguk. "Sebagai dokter."
"Itu kabar bagus," kata Sasuke. "Mengapa tidak memberi tahu lebih awal?"
"Benarkah?" Sakura berkedip tak percaya. Dia tak menduga ini akan menjadi kabar bagus bagi Sasuke. "Aku ... aku tidak ingin membahasnya karena topik ini pasti berkaitan dengan ... ketidaksetujuan orangtuaku—tepatnya ibuku."
"Kabar ini mungkin bisa mengubah itu."
"Hmm, mungkin." Sakura terdengar tidak yakin.
Sasuke sendiri pun sebenarnya tidak yakin. Malam itu, pendapat buruk dari ibu Sakura tentangnya seolah-olah tumpah semua. Sasuke merasa bahwa opini itu sudah ada sejak lama, tetapi ditelan habis karena putrinya memilihnya. Dia ingat beberapa wajah yang melempar tatapan kebencian atau tidak suka padanya setelah perang selesai, dan orangtua Sakura ada di antaranya. Mereka—lebih tepatnya ibu Sakura saja—mungkin hanya menyembunyikan rasa tidak sukanya. Menyimpannya rapat-rapat dalam hati, dilapisi selubung yang sangat rapuh, dan akan muncul ke permukaan kembali setelah disenggol picuan. Dan Sasuke sudah memicunya. Membangun lapisan itu kembali, menelan rasa sukanya lagi, pasti akan menjadi proses yang sulit.
Membayangkan seberapa sulitnya, Sasuke berkesimpulan sesuatu. Dia bisa membayangkan seberapa besar kasih sayang orangtua Sakura terhadap putrinya karena rela menanggung kesulitan itu. Walaupun pada akhirnya ... menjadi seperti ini.
Lalu, akan seperti apa respons orangtuanya terhadap Sakura? Fragmen-fragmen bayangan berputar di dalam benaknya. Sakura tidak terlahir dari garis keturunan Uchiha. Gadis itu pun berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol darinya. Ayah Sakura tidak dikenal sebagai ninja yang hebat, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Tak ada jutsu spesial yang mengaliri garis keturunannya. Apa yang Sakura kuasai sekarang adalah murni dari usahanya, bukanlah warisan dari kemampuan pendahulunya.
Ibunya mungkin akan menerima Sakura selama gadis itu sopan dan berperangai baik. Tapi ... bagaimana dengan ayahnya?
Sasuke memejamkan matanya. Dia mencoba melenyapkan pikiran itu dari otaknya. Jangan sampai Sakura menanyakan apa yang tengah dia pikirkan. Sakura pasti akan terluka karenanya.
"Kau harus berbicara dengan orangtuamu." Sakura terdiam. "Selagi mereka masih ada." Bahunya menegang. Dia menenggelamkan wajah pada tangannya.
Dia mengangguk samar. "Ya, aku akan melakukannya."
"Aku pun akan bertanggung jawab."
"Hm, aku berharap kali ini bisa dibicarakan baik-baik ...," ucap Sakura lirih. Dia menyandarkan kepala pada bahu Sasuke lagi. "Tapi kita sudah tidak punya waktu lagi. Mungkin kita akan bertemu dengan mereka setelah kita menikah."
"Hn."
Sakura membasahi kerongkongannya. "Kurasa ini tidak apa-apa, 'kan? Restu orangtuaku tidak ditarik, bukan? Orangtuaku, ibuku, hanya tidak menyetujui rencana kita setelah menikah. Pernikahannya tidak ditentang."
Sasuke terdiam. "Kuharap dua hal itu memang berbeda dan bisa dipisahkan."
Sakura menenggelamkan wajah pada bahu Sasuke. "Aku ... aku tidak tahu."
Tak ada yang berbicara lagi. Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh gelak tawa yang bersumber dari belakang mereka. Sasuke mengedikkan bahunya perlahan, Sakura langsung menegakkan tubuh. Dia menoleh ke belakang dan mendapati sepasang remaja tengah bercengkerama di depan mercusuar. Rasa tidak nyaman sontak memenuhi sekujur tubuh Sasuke.
Dia berdiri begitu saja, tanpa mengatakan apa pun. Sakura mengedipkan mata, tatapannya menyiratkan pertanyaan. Sasuke menggelengkan kepala dan menjauh dari bangku. Dengan raut yang dipenuhi kebingungan, Sakura berdiri dan menyusul Sasuke.
"Sasuke-kun, mau ke mana?"
"Makan."
"Tapi aku masih ingin di sini!"
Mata Sakura sontak membelalak merasakan perutnya bersuara. Dia menepuk dahinya untuk menyembunyikan sebagian wajah yang memerah.
Sasuke menyeringai. "Perutmu tidak."
"Tapi tadi itu baru dua setengah menit!"
"Aku pergi." Sasuke mengabaikan Sakura. Tapi, dahinya mengernyit. Sakura pasti mengada-ada. Tidak mungkin durasi mereka duduk di sana tadi hanyalah dua setengah menit.
"Sasuke-kun!" Sakura buru-buru mengejar Sasuke. Dalam pengejarannya, dia mendapati sepasang remaja yang tengah bercengkerama di dekat mercusuar. Sakura menggerutu. Dia tahu apa alasan Sasuke ingin pergi. Dasar asosial menyebalkan! "Kau mengakhiri kencan ini dengan sangat buruk!" Intonasi kesal memenuhi perkataannya.
Sasuke mendengus geli. Dia tahu Sakura akan merajuk, tapi dia tak berniat untuk menghindari hal tersebut. Hal itu akan menjadi hiburan baginya.
.
Hujan baru saja berhenti ketika waktu menunjukkan saatnya Sasuke dan Sakura berangkat ke kuil Shinto. Suara percikan air mengiringi setiap langkah kaki mereka. Tak ada satu orang pun yang bicara. Keduanya sama-sama tenggelam di dalam pikiran masing-masing. Namun, ada perbedaan yang kentara—Sasuke tampak tenang seperti biasanya, sementara Sakura membiarkan dunia tahu atas kegugupan yang dirasakannya dengan menggigit bibirnya.
Kelembapan teruar di lingkungan sekitar kuil tersebut. Basah terpampang di mana-mana, tapi kedamaian dan kesakralan dari tempat itu sama sekali tak terusik. Usapan angin hangat menyentuh wajah Sakura di setiap langkahnya memasuki bangunan kuil. Embusan itu terhenti ketika dia sudah masuk ke dalam dan menaiki tangga. Dua orang yang hendak mengurusi penampilannya hari ini menunggu di depan salah satu pintu. Dia berpisah dengan Sasuke di sana. Lelaki itu memasuki pintu yang tepat berada di seberang pintu ruangan tempat Sakura akan dipersiapkan untuk pernikahannya.
Sakura duduk di salah satu kursi pendek yang membuatnya paha terangkat. Berbagai macam emosi berkecamuk di dalam dirinya. Gugup, senang, sedih, takut, dan lain sebagainya. Sakura sama sekali tak yakin mana yang mendominasi di antara emosi-emosi tersebut. Dia memejamkan matanya erat-erat.
"Sakura-san, saya akan memasang riasan di wajah Anda terlebih dahulu," kata perempuan yang Sakura ketahui bernama Kimiko.
Sakura meneguk ludah. Perasaan tak keruan masih menggelutinya. Dia menggeleng. "Bisa beri aku waktu sebentar?"
Kimiko dan Chinatsu—perempuan yang satunya lagi—mengangguk mengerti dan menjauh beberapa langkah dari Sakura.
Pikiran Sakura berlabuh pada kejadian satu minggu yang lalu, saat ibunya jelas-jelas menentang rencana pascapernikahannya dengan Sasuke. Hatinya berdenyut sesakit-sakitnya. Hari itu ... ibu Sakura sama sekali tak menyembunyikan dirinya yang tak menerima Sasuke. Sekelumit rasa bersalah menyiksa dirinya. Dengan kenyataan itu, seharusnya dia tak akan di sini. Dia tak seharusnya menikah dengan Sasuke.
Tapi ... dia tak bisa. Inilah yang diinginkannya. Dan bila dipikir-pikir lagi, bila dicari celah bahkan yang paling kecil sekalipun, Sakura ingat bahwa tak ada ucapan orangtuanya yang menarik restu mereka secara langsung. Bahkan yang mengindikasikannya pun tak ada. Hal tersebutlah yang menguatkan Sakura untuk tetap melakukan ini. Meskipun dia tak yakin orangtuanya akan hadir hari ini, dan jika mereka memang tak hadir, hal itu akan tetap menghancurkan hati Sakura kendatipun gadis itu sudah mengantisipasinya.
Sakura membuka matanya. Dia melirik shiromuku yang akan dia kenakan hari ini. uchikake-nya bermotif bunga anggrek, tidak seperti impiannya, mengenakan shiromuku bermotif burung bangau milik ibunya. Nyatanya, yang bisa dia gunakan hari ini adalah milik ibu Sasuke. Sakura mengusap kainnya perlahan. Gumpalan pahit terasa di tenggorokannya.
"Aku siap," kata Sakura. Kemudian dia mendengar langkah yang mendekatinya dan disusul suara pintu yang dibuka. Sontak dia menoleh ke belakang dan terperangah atas apa yang sedang dilihatnya.
"Ino?" ujar Sakura diliputi intonasi tak percaya. "Apa yang kaulakukan di sini?"
Ino mengedikkan bahu. "Selama ini aku selalu mendadanimu, Sakura," katanya. Dia tersenyum. "Izinkan aku melakukannya lagi di hari pernikahanmu."
Sakura sama sekali tak bisa menahan senyumnya. "Jangan meminta izin padaku. Minta izinlah pada Kimiko-san dan Chinatsu-san," katanya sambil melirik ke arah dua perempuan yang dia maksud.
"Bolehkah ...?" Ino menatap dua orang yang mengenakan pakaian seragam berwarna cokelat tersebut.
"Anda boleh mengurus riasan wajah dan rambut. Kami yang urus shiromuku-nya," kata Chinatsu.
Ino mengangguk. Kepuasan terpancar di wajahnya. Dia buru-buru mendekati Sakura dan berdiri di atas lutut, menyejajarkan tinggi badannya dengan gadis itu yang tengah duduk. Dia menyentuh wajah Sakura.
"Kulitmu tidak berminyak, jadi tak perlu dibasuh lagi," katanya.
Sakura mengangguk. Matanya terfokus pada jinjingan yang digenggam tangan Ino yang bebas. "Kau bawa apa?" tanyanya.
Ino mengikuti arah pandang Sakura. Alih-alih menjawab, dia berdiri. Tangannya yang membawa jinjingan diulurkan pada Kimiko. "Ini shiromuku yang akan dipakai Sakura," katanya.
Sakura sontak menoleh. Dia memerhatikan jinjingan tersebut sampai isinya dikeluarkan oleh Kimiko. Apa yang dilihatnya membuat air mata meleleh di pipinya. Itu adalah ... shiromuku milik ibunya.
"Bagaimana ...?" tanya Sakura dengan suara parau.
Ino terkejut ketika melihat kondisi Sakura. Dia memiliki beberapa spekulasi yang menyebabkan perasaan Sakura saat ini. Spekulasi yang menutup mulut Ino untuk bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengatakan, "Aku bertemu orangtuamu di perjalanan kemari. Dan ibumu menitipkan itu padaku."
Sakura menggigit bibirnya. Dia tak percaya akan apa yang dikatakan Ino. Dia akan lebih percaya jika Ino bilang wanita itu mencurinya dari ibu Sakura. Tapi, itu jelas tidak mungkin. Ino tak tahu apa-apa tentang keinginannya untuk memakai shiromuku milik ibunya, serta masalah yang melanda dirinya. Apa yang dikatakan Ino pasti mewakili kebenaran.
Dia lekas menyeka air matanya menggunakan punggung tangan. Napasnya diatur sebisanya. Dia tak seharusnya menangis. Terlebih dia tak mau ditanyai mengapa menangis. Keberuntungan tengah berpihak padanya, tiga orang di ruangan tersebut sama sekali tak menanyainya.
Beberapa saat setelahnya, Ino memulas bedak di wajahnya. Hidung Sakura membersut karena aromanya yang asing. "Jangan terlalu tebal," pintanya.
"Kau diam saja, Sakura. Aku tidak akan membuatmu tampak buruk," kata Ino. Kemudian Sakura tak berkomentar apa-apa lagi.
Wajahnya sudah selesai dirias, kecuali polesan di bibirnya. Ino beralih menata rambutnya. Panjang rambutnya yang kini sudah mencapai dada cukup untuk ditata membentuk sanggulan tanpa tambahan rambut palsu. Lagi pula bila rambutnya pendek pun dia tak akan memakai rambut palsu. Tak ada rambut palsu yang memiliki warna sama persis dengan rambutnya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ino selagi menata rambutnya.
"Hm?"
"Kau sebentar lagi akan menjadi Nyonya Uchiha," kata Ino. Intonasinya diliputi rasa gemas.
Sakura bergeming. Perasaannya masih sama—bercampur aduk seperti tadi. Kehadiran shiromuku milik ibunya hanya mampu mengubahnya sedikit. Dia tak mengerti apa yang dirasakannya saat ini. "Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata," jawab Sakura.
"Lalu dijelaskan dengan apa?"
Sakura tersenyum. "Kau boleh menyimpulkannya sendiri dari ekspresi wajahku."
Ino tak berkomentar apa-apa lagi. Dia melanjutkan merapikan poni miring Sakura. Kepalanya menengadah untuk mencari mata salah satu di antara wanita yang akan memakaikan shiromuku di tubuh Sakura nanti. Saat bertemu dengan mata Chinatsu, dia bertanya, "Rambutnya tidak apa-apa seperti ini? Jidatnya terlihat lebar kalau dia tak pakai poni."
"Hei!" Sakura mengeluarkan protes sembari tertawa kecil.
Ino turut menggemakan tawanya. "Kau terlihat sangat bahagia, Sakura."
Sakura tertegun, kemudian tersenyum. Dia bersyukur apabila itulah yang orang lain lihat darinya hari ini.
Setelah selesai menata rambut, Ino menarik dari dan mengamati penampilan Sakura. Dia merasa puas dengan hasil kerjanya. Sakura tampak cantik dengan riasan sederhana meskipun gincu belum dipoles di bibirnya. Poninya miring seperti biasa, terdapat helai-helai yang menggantung di sebelah pipi, sisa-sisa dari sanggulan di belakang kepalanya. Sanggulan itu tampak renggang, sengaja dibuat seperti itu dan nyatanya memang cocok untuk Sakura. Ino memuji diri sendiri atas penampilan Sakura.
Kemudian shiromuku dipakaikan pada Sakura secara bertahap. Diawali dari pemakaian bantalan, pembalutan tubuhnya, pemasangan kakeshita, obi, dan uchikake. Ikatan demi ikatan disimpulkan dalam prosesnya. Bahu Sakura terasa berat setelah seluruh pakaian pernikahannya sudah terpasang. Pakaiannya berlapis-lapis hingga tubuh kurusnya tak terlihat sama sekali, dan uchikake sebagai lapisan terakhir pun memang sangat tebal. Tapi, dia pernah—cenderung sering—menanggung beban yang lebih berat daripada ini, sehingga dia bisa melaluinya. Hanya saja, dia sama sekali tak menduga bahwa perangkat shiromuku akan terasa seberat ini.
Ino memulas gincu di bibirnya sebelum wataboshi dipakaikan di kepalanya. Sakura sudah siap sepenuhnya sekarang. Dia keluar dari ruangan tersebut dan mendapati Sasuke sudah berdiri di sana. Dia tampak gagah dengan montsuki haori hakama yang membalut tubuhnya. Lelaki itu menahan pandangan padanya cukup lama. Tatapannya yang mendamba sama sekali tidak bisa disembunyikan. Tak ada kata yang bisa Sakura ucap padanya, hanya senyum refleks dan pipi merona yang bisa ditampilkannya.
"Hai, Sasuke-kun," sapa Ino.
Sasuke menoleh ke arah Ino. Dia mengangguk.
"Itu bukan shiromuku milik ibuku," kata Sasuke dalam perjalanan menuju paviliun untuk melaksanakan upacara pernikahan mereka.
"Ini milik ibuku," jawab Sakura. Haru mewarnai suaranya. "Ino yang membawanya. Katanya dia bertemu dengan orangtuaku dalam perjalanannya kemari dan ibuku menitipkan ini."
Sasuke tertegun. "Mereka datang?"
"Aku tidak tahu."
Pahit terkecap di lidah Sasuke. Dia memutuskan untuk tidak memperpanjang topik ini.
Sasuke memperoleh jawaban dari pertanyaan Sakura ketika dia menginjak tanah di luar empat dinding. Dia mendapati kedua orangtua Sakura berada di sini. Dari langkah Sakura yang tiba-tiba berhenti, dia yakin gadis itu pasti sudah menyadarinya. Namun, dia tetap diam, seolah-olah kehilangan seluruh kata-katanya. Orangtua gadis itu tampaknya belum menyadari kehadiran mereka yang memang cukup jauh jaraknya.
Sasuke memejamkan mata. Setelah perasaan lega membanjiri hatinya, benaknya tak bisa dicegah untuk membayangkan bagaimana jika orangtua dan kakaknya pun hadir hari ini ...
Mereka duduk berdampingan setelah tiba di dalam paviliun. Orangtua Sakura sungguh-sungguh hadir di sana, bersama Naruto, Hinata, Sai, Ino, dan Kakashi—dia tak menduga pria sibuk itu akan menyisihkan waktunya untuk ini. Dia melirik Sakura dan mendapati raut wajahnya jauh lebih cerah daripada saat mereka berangkat kemari. Gadis itu sempat mengungkapkan shiromuku-nya yang berat, tapi dia tak terlihat sedang menanggung beban apa pun sama sekali.
Pendeta shinto mengumumkan pernikahan mereka pada dewa. Jantung Sasuke berdebar keras. Ada rasa cemas dia akan mengacaukan ini. Matanya melirik ke arah Sakura, ketegangan jelas terpancar di wajah gadis itu. Setelahnya, Sasuke meminum sake dari cawan sebanyak tiga kali teguk, lantas diikuti oleh Sakura. Prosesi tersebut diulang sampai tiga kali hingga masing-masing menelan sembilan tegukan sake. Kemudian janji pernikahan diungkapkan. Pernikahan mereka ditutup dengan pemakaian cincin pada pasangan.
Tepat setelah seluruh rangkaian acara selesai, Sakura tak bisa berhenti menyunggingkan senyum. Namun, masih ada kegelisahan yang bergelut di dalam hatinya. Dia melirik Sasuke yang berdiri di sampingnya, lelaki itu mengangguk. Sakura memahami apa maksud anggukan yang diisyaratkan suaminya itu.
Dengan haori panjangnya yang menjuntai sampai ke tangan, Sasuke menggenggam tangan Sakura. Seolah-olah kekuatan telah ditransfer padanya, nyali Sakura untuk menghadap orangtuanya terasa lebih besar. Langkahnya masih ragu-ragu. Tatapannya tak terputus dari sosok kedua orangtuanya yang tampak enggan menatapnya meskipun tahu dirinya tengah mempersempit jarak di antara mereka. Hati Sakura terasa dicubit hingga menimbulkan perih.
Orangtua Sakura baru menoleh setelah Sakura memanggil mereka. Engah napas Sakura masih belum beraturan. Pegangan tangannya pada Sasuke semakin erat hingga dia takut akan meremukkan tulang lelaki itu. Sasuke yang mengeratkan genggaman balik menandakan bahwa tangan lelaki itu masih berfungsi dengan baik.
"Terima kasih sudah datang," kata Sakura. Kalimat tersebut terasa membakar tenggorokannya. Aneh sekali mengatakan hal seperti itu pada orangtuamu sendiri atas kehadiran mereka di pernikahanmu.
Kizashi mengangguk. "Kau membutuhkan saksi di pernikahanmu," ucapnya.
Sakura memejamkan mata ketika merasakan air matanya memaksa keluar. "Tousan tidak menentang pernikahan ini?"
Kizashi menggeleng. "Yang kutentang bukanlah pernikahan kalian. Aku sudah memberi restu dan aku tidak akan menariknya."
Air mata Sakura sudah tak bisa ditampung lagi. Alirannya membasahi pipi dan merusak riasan wajahnya. Dia tahu apa yang ayahnya tentang. Dan pengetahuan tentang ayahnya yang mengungkapkan langsung bahwa restu darinya tak akan ditarik sudah cukup untuk membuncahkan hati Sakura dengan rasa haru. Sakura tak sadar bahwa Sasuke pun merasa begitu.
"Kaasan," kata Sakura sambil menghapus air matanya. "Shiromuku-nya ..."
"Aku ingat kau selalu ingin mengenakannya di hari pernikahanmu." Mebuki tersenyum. Matanya meneliti Sakura dari kaki hingga kepala. "Kau cantik sekali, Sakura."
Sakura turut tersenyum. "Itu berarti ... Kaasan tidak menentangnya?"
Mebuki terdiam. Dia merasakan tatapan suaminya padanya. Saat dia menoleh, Kizashi mengangguk ke arahnya.
"Pendapatku sama dengan ayahmu," kata Mebuki. "Aku masih berharap kalian mau mempertimbangkan rencana kalian. Tapi kali ini kita akan membicarakannya baik-baik."
Sakura menunduk. Dia memejamkan mata dan membiarkan tetesan air matanya berjatuhan langsung ke bumi.
"Sasuke," panggil Mebuki.
Sasuke mengangguk. Putaran ingatan atas kata-kata menyakitkan yang meluncur dari bibir Mebuki merangsek ke dalam benaknya. Kerongkongannya terasa pahit. Napasnya terasa sulit.
"Aku tidak seharusnya mengatakan itu semua padamu." Intonasinya dipenuhi penyesalan.
Sasuke meneguk gumpalan ludahnya dengan sulit. "Apa yang Anda katakan tentangku memang tidak salah."
Mebuki menggeleng. "Tapi itu tetap saja tak bisa mewajarkan sikapku padamu. Aku harap kau bisa memaafkanku."
Sasuke terdiam. Dia bukanlah sosok pendendam seperti dulu, sehingga dia bisa mudah memaafkannya. Dia sadar bahwa dirinya pun harus memaafkan ibu Sakura atas kata-katanya, terlebih karena kata-kata itu benar adanya. Dia bisa memaafkannya, tapi tak akan pernah bisa melupakannya. Kejadian itu mungkin akan terus tertancap pada benaknya seumur hidup.
"Kami tidak bisa mengubah rencana kami," Sakura membuka suara lagi. Kedua mata Mebuki membelalak. Kizashi jelas-jelas tersentak. "Meskipun aku atau Sasuke-kun menjelaskannya, aku tak yakin Kaasan dan Tousan akan mengerti."
Membaca raut wajah ibunya yang pasti akan mendebatnya, Sakura lekas menambahkan, "Tapi, aku tidak berhenti bekerja, Kaasan, Tousan. Tsunade-sama tetap memperkerjakanku walaupun aku tidak menetap di desa. Sebagai dokter. Tugasku masih sama, tapi tempatnya saja yang berbeda. Tak ada yang rusak dari hidupku. Dan Sasuke-kun—"
"Anda tahu kesalahan-kesalahanku di masa lalu. Ini adalah jalan yang kupilih untuk menebusnya," potong Sasuke. Dia ingin berbicara sendiri atas dirinya.
"Sasuke-kun selalu membantu orang-orang yang sedang kesulitan tanpa pamrih."
"Dan aku banyak belajar dari mereka."
"Aku pun begitu. Apalagi dengan tugasku sekarang. Ini ... ini bukanlah hal yang bisa didapatkan jika kami menetap di Konoha. Ya, mungkin bisa saja kami mendapatkannya juga jika menetap di Konoha, tapi tidak sebesar saat berkelana."
Kizashi dan Mebuki membisu. Tak ada tanggapan yang mereka berikan dalam bentuk apa pun. Keheningan berdiri dengan lama di antara mereka. Sakura menggigit bibirnya gelisah. "Kaasan? Tousan?"
"Kita bicarakan ini lagi nanti," kata Mebuki.
"Sekarang pergilah. Teman-teman kalian sedang menunggu," ujar Kizashi. Dia memegang bahu Sakura dan membuatnya berbalik. Tamu-tamu lain tengah saling bercakap-cakap. Sakura tahu Sasuke dan dirinya harus segera bergabung dengan mereka.
Sakura mengangguk. Dia membalik tubuh dan melangkah menuju tamu lainnya bersama Sasuke. Keduanya sama-sama berharap yang terbaik atas pembicaraan mereka dengan orangtua Sakura tadi.
Yang pertama kali mereka hampiri adalah sang hokage. Wajah Sakura tampak cerah saat menghadapinya. "Terima kasih banyak sudah datang, Sensei," kata Sakura. Formalitas antara hokage dan penduduk desa lenyap begitu saja. Karena Sakura tahu Kakashi hadir di sini bukan sebagai hokage, tapi sebagai gurunya dan Sasuke. "Aku tahu seberapa sibuknya dirimu."
Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Aku tidak akan melewatkan pernikahan murid kesayanganku."
"Yang kau maksud pasti Sasuke-kun."
"Bukan. Itu kau, Sakura," kata Kakashi sembari terkekeh. "Kau satu-satunya muridku di Tim Tujuh yang tak pernah meninggalkanku, tidak seperti dua sisanya."
Sakura tersenyum lebar. Sementara Sasuke mendengus tampak kesal. Sakura menyikut Sasuke karenanya.
"Aku kesayanganmu, tapi Sasuke-kun favoritmu. Ya, 'kan, Sensei?" kata Sakura. Dia ingat betul Kakashi selalu condong pada Sasuke di latihan ataupun misi karena dialah yang paling cekatan di antara mereka bertiga.
"Hei, lalu aku apa?" desak Naruto.
Kakashi tertawa. "Kau penerusku, bukan?"
Naruto tampak puas dengan kata-kata Kakashi. "Tentu saja!" sahutnya sambil menyengir lebar. Kemudian tatapannya beralih pada Sakura dan Sasuke. "Selamat atas pernikahan kalian! Kau lihat, Teme, aku hadir di pernikahanmu, tidak hanya mengirim surat berisi satu kata."
Sakura tertawa. "Naruto, tapi aku hadir di pernikahanmu."
Ino, Hinata, dan Sai turut bergabung dan mengucapkan selamat.
Mereka tidak mengadakan resepsi, tapi Sakura memutuskan untuk mengundang tamu mereka untuk makan bersama di salah satu restoran keluarga, Sasuke menyetujuinya. Mereka berganti pakaian dan saling membantu melepas pakaian pernikahan satu sama lain yang memang sulit dilepas sendiri karena banyaknya simpul di mana-mana. Sakura merasa malu saat melepas ikatan demi ikatan di pakaian Sasuke, tetapi merasa lebih malu lagi saat Sasuke melepas ikatan di pakaiannya.
Acara makan itu berlangsung dengan sederhana; hanya makan dan berbincang-bincang saja. Awalnya mereka tergabung dalam satu koloni, hingga lama kelamaan terpecah menjadi koloni perempuan dan koloni lelaki. Tapi, ayah dan ibu Sakura terpisah sendiri, hanya bertindak sebagai pengamat dan penyimak. Saat itulah Ino memberikan hadiah di dalam sebuah tas jinjing dan mulai menggoda Sakura tentang malam pertama. Hinata mengucapkan bahwa dirinya menunggu sampai Sakura sama-sama hamil seperti dirinya dan Ino. Wajah Sakura memerah, dia sungguh-sungguh tak bisa bersembunyi dari rasa malu. Matanya menemukan Sasuke. Lelaki itu merautkan wajah terganggu dengan telinga yang memerah. Tamu-tamu lelakinya tertawa. Sakura berasumsi bahwa topik pembicaraan mereka kurang lebih sama dengan topik pembicaraannya di meja ini.
Datang waktu bagi mereka untuk berpamitan. Sakura masih tidak menduga Kakashi masih ada di sini sampai sekarang. "Aku sengaja menyelesaikan tugasku lebih cepat agar bisa kemari," begitu katanya. Dan Sakura sungguh-sungguh merasa senang sekaligus terhormat menerima perlakuan spesial dari sang hokage.
Orangtuanya adalah yang pergi paling terakhir. Tak ada indikasi bahwa mereka ingin melanjutkan pembicaraan tadi sampai mereka hendak pulang. Sakura sempat karenanya. Dan kecemasannya hilang ketika ibunya berkata, "Kami harap keputusan kalian adalah yang terbaik."
Sakura tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk ibunya. Dia mengecup pipinya dengan air mata yang sudah tumpah. "Terima kasih, Kaasan," bisiknya lirih. Dia melepas dekapannya dan melakukan hal yang sama pada ayahnya.
"Aku berterima kasih atas penerimaan Kizashi-san dan Mebuki-san terhadapku, terhadap kami," kata Sasuke sambil membungkuk.
Kizashi menepuk bahu Sasuke. "Berhentilah formal seperti itu, Nak. Kau hampir membuatku tertawa," kata Kizashi.
"Sasuke, kau menantuku sekarang. Anakku. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami," kata Mebuki. Dia tersenyum. "Panggillah kami seperti Sakura memanggil kami, kalau kau mau."
"Aku tahu Sakura bisa menjaga dirinya baik-baik, tapi dia tanggung jawabmu sekarang. Kau harus menjaganya baik-baik," kata Kizashi.
Sasuke mengangguk.
"Kami pulang dulu, Sakura, Sasuke. Sering-seringlah mengunjungi kami," ucap Mebuki.
"Kami akan menyempatkan diri," kata Sakura. Dia memeluk ayah dan ibunya sekali lagi. "Hati-hati di jalan, Kaasan, Tousan."
Sasuke menatap wajah mertuanya satu per satu. "Selamat jalan ... Kaasan, Tousan." Tak bisa dipungkiri, ada rasa canggung yang terselip di hatinya, tapi ada juga hangat yang membanjirinya.
Sakura menatapnya penuh haru. Dan perasaan yang sama tersirat di ekspresi wajah ayah dan ibunya. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan sebelum pergi.
Sasuke merasakan punggung tangannya bersentuhan dengan punggung tangan Sakura. Tangan itu digenggamnya erat dalam perjalanan menuju penginapan. Dia mengingat prinsip dalam pernikahan keluarga tradisional, seperti keluarganya, yaitu prinsip yang menyatakan bahwa pernikahan sama dengan sang istri yang sepenuhnya meninggalkan keluarganya, dan bergabung dengan keluarga suaminya. Sasuke tidak merasakan hal tersebut. Yang dirasakannya adalah pernikahan membuatnya memiliki keluarga baru. Tak hanya memiliki istri, kini dia memiliki ibu dan ayah ... yang masih hidup. Hal itu tak cukup untuk menghilangkan kesedihan akan keluarganya yang tak ada di sini, tetapi cukup untuk membuatnya merasakan kehangatan hidup di tengah-tengah keluarga lagi.
.
.
Bersambung
.
.
A/n:
Tadinya scene pertama itu mau malem2, sambil lihat langit atau apalah. Tapi diganti jadi begitu gegara hint lokasi kencan pertama SasuSaku B") btw Sakura mau ke pantai emang disebut di fic ini, ada di chapter 6.
Dan, yeay, SasuSaku udah nikah! ❤ Gak yakin ini sesuai ekspektasi pembaca but I like how this turns out :")
Terima kasih sudah membaca sampai sini!
daffodila.
