Sasuke keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk. Tetes-tetes air menciprati sekitarnya. Dia merapikan rambutnya sebelum duduk di samping Sakura yang tengah sibuk sendiri. Kasur dari tempat tidur tertarik ke arahnya sedikit. Matanya memperhatikan Sakura yang tampak serius. Sebuah tas jinjing berada di pangkuannya. Tangannya masuk ke dalam.

"Sedang apa?" tanya Sasuke.

Sakura menghentikan kegiatannya sejenak. Dia menegok ke arah Sasuke. "Membuka hadiah dari Ino," kata Sakura, lantas kembali membuka tas jinjing. Dia terperangah saat mendapati tiga buah kotak yang terdapat di sana. Ternyata ini bukan hanya dari Ino saja.

Salah satu kotaknya berwarna ungu muda. Terdapat sebuah pita putih yang membebatnya. Sakura menduga kado tersebut datang dari Hinata. Dugaannya tepat setelah membaca kartu ucapan pernikahan yang ditulis atas nama Naruto dan Hinata. Sakura tersenyum membaca pesannya.

"Ini dari Hinata dan Naruto," kata Sakura. Dia mengulurkan kartu ucapan tersebut pada Sasuke. Setelah kartu tersebut berpindah tangan, dia mengangkat isi kadonya. "Oh, ini lucu sekali!" Sebuah piama hitam untuk wanita menggantung di depan wajah Sakura. Di dalam kotak ada piama dengan warna yang sama tetapi untuk laki-laki. "Piama pasangan," kata Sakura sambil tersenyum geli.

Sakura lekas memasukkan piama tersebut ke dalam kotak. Dia membuka kotak lain yang dibungkus kertas kado berpola. Sakura mencari kartu ucapan sebelum melihat isi kadonya. Tanda tangan di kartu itu adalah dari Sai dan Ino. Sakura kebingungan saat membaca, "Hadiah ini hanya bisa dipakai Sakura. Tapi kami yakin Sasuke juga akan menyukainya." Dia lekas membuka kembali kotaknya dan mengangkat isinya. Belum sampai dua detik, dia buru-buru menaruhnya kembali ke dalam kotak. Kotak itu ditutup rapat-rapat. Wajah Sakura merona hebat.

Sasuke melirik Sakura. Dahinya mengernyit karena respons gadis itu. "Ada apa?"

Sakura menggeleng cepat. "Ti-tidak apa-apa."

Sasuke mengangkat sebelah alis. Dia meraih kartu ucapan yang masih dipegang Sakura. Kesulitan dialaminya ketika hendak menarik kartu tersebut karena Sakura menahannya, sampai akhirnya Sasuke mendapatkannya. Dia membaca isi kartunya.

Rasa bingung mewarnai wajah Sasuke. Dia membuka kotak yang masih berada di pangkuan Sakura. Sakura tampak sangat canggung. Kotak itu terbuka. Ada beberapa potong kain berbahan renda. Sasuke mengangkat salah satunya. Dia lekas menaruhnya lagi setelah sadar itu apa. Pakaian dalam wanita dengan potongan seksi.

Sasuke mengalihkan wajah setelah menutup kotaknya rapat-rapat. Wajah dan lehernya terasa memanas. Bayangan-bayangan kombinasi antara Sakura dan dalaman itu masuk ke dalam benaknya. Sasuke menutup wajahnya sendiri dengan tangan untuk berusaha menghilangkannya.

Sakura buru-buru menaruh kotak tersebut di belakang tubuhnya. Gerakannya tampak skeptis saat meraih kotak lain yang belum dibuka. Dia mengusap kado tersebut perlahan.

"Se-sepertinya ini hadiah dari Kakashi-sensei," kata Sakura berusaha memecah kecanggungan.

Tangannya mengangkat sebuah kotak berlapis kertas biru polos. Dia membukanya perlahan-lahan. Ada satu pak lilin berwarna merah muda halus—lebih halus daripada warna rambutnya. Sakura meraihnya dan mengendus wanginya.

"Ini lilin aromaterapi," katanya. Sakura tersenyum. Wanginya begitu menenangkan padahal hanya diendus dalam kondisi masih padat. Dia memejamkan mata dan membayangkan makan malam romantis bersama Sasuke dengan harum dari aromaterapi berterbangan di sekitarnya. "Kakashi-sensei manis sekali memberikan kita hadiah seperti ini."

Sasuke tak menjawab. Matanya masih terfokus pada kotak yang tutupnya menempel, berbeda dengan dua kotak yang sudah dibuka lebih dulu. Posisi kotak itu miring di pangkuan Sakura. "Masih ada isinya," kata Sasuke.

Sakura mengangkat kotak tersebut dan mengintip dari mulut kotak yang kecil. Terdapat tumpukan buku di sana. Dia menariknya hingga sampulnya kelihatan. Seri lengkap Icha Icha Paradise. Dia dan Sasuke mendengus bersamaan. Mata Sakura membeliak.

"Entah mengapa aku tidak terkejut dengan hadiah ini," kata Sakura.

"Kau bukan satu-satunya."

Sakura membaca ucapan selamat yang tertulis di kartu keras-keras. Tiba-tiba dia berhenti. Sasuke keheranan dan meraih kartu itu kemudian membacanya sendiri. Bagian yang belum Sakura baca adalah: "Nyalakan lilin aromaterapi untuk menemani malam panjang kalian."

Sakura menepuk dahinya. Memahami arti dari kiasan "malam panjang", merah pekat mewarnai wajahnya. "Ugh, ada apa dengan orang-orang ini?" keluhnya dengan suara kecil. Dia jadi tak berani menatap Sasuke. "Hadiah yang tidak macam-macam hanya datang dari Naruto dan Hinata. Aku yakin ini karena Hinata. Kalau Naruto saja yang berikan pasti tidak ada senormal ini."

Sakura lekas berdiri dan memasukkan semua hadiah itu ke dalam tas jinjing. "Aku mau mandi dulu," katanya sebelum menghilang ke dalam kamar mandi.

Mandinya berlangsung lebih lama daripada biasanya karena dia ingin menunda bertemu dengan Sasuke lagi. Perasaan malu saat digoda teman-temannya tadi merambati tubuhnya kembali dengan takaran yang jauh lebih besar. Ketika Sakura merasa bahwa dia sudah terlalu lama berada di kamar mandi, dia menyelesaikan kegiatan mandinya.

Tubuhnya dilap menggunakan handuk hingga kering. Matanya melirik pakaian tidur yang digantung di belakang pintu. Dia belum pernah mengenakannya sejak membelinya beberapa hari yang lalu. Pakaian tidur itu berwarna merah marun, berbahan satin, berbentuk terusan yang hanya akan menutupi dada sampai setengah pahanya. Bahunya hanya tertutupi sepasang tali spaghetti jika luaran tak dia kenakan. Pipinya memanas saat mengenakannya. Ini adalah pertama kali dia akan mengenakan pakaian tidur feminin di depan Sasuke.

Sakura pikir luaran berbentuk jubah yang sama panjang dengan gaun tidurnya itu akan membuat rasa malunya menghilang. Nyatanya tidak. Pakaian tidur itu masih membuatnya merasa terlalu terbuka. Padahal pakaian misinya saja mengekspos lengannya, sementara jubah ini menutupi seluruh lengannya sampai siku. Gaun ini bahkan menjuntai lebih panjang daripada pakaian misinya. Lantas, apa yang berbeda?

Dia menunduk dan memperhatikan tubuhnya sendiri. Ketemu. Gaun ini jauh lebih lahak daripada pakaian misinya yang menutupi setengah lehernya. Gaun tidur ini ... mengekspos kulitnya seluas lima jari di bawah tulang selangka. Wajahnya memerah lagi. Apa yang dia pikirkan hingga memutuskan untuk mengenakan pakaian tidur seperti ini?!

Rasanya Sakura ingin mengganti pakaiannya. Namun, yang tengah dikenakannya adalah satu-satunya pakaian ganti yang dibawa ke dalam kamar mandi. Dia teringat akan pakaian yang dikenakan sebelum mandi. Jejak-jejak basah terpeta di banyak tempat. Dia mengerang. Tak ada pilihan selain pakaian tidur yang dikenakannya saat ini.

Sakura menyugesti diri bahwa penampilannya saat ini tidak macam-macam. Sebuah ide melintas di benaknya. Dia merapatkan luaran gaun hingga bagian lahaknya tertutupi. Rasa percaya diri mengiringinya saat melewati pintu dan masuk ke dalam kamar tidur. Dan kepercayaan diri itu melenyap saat dia bertatapan dengan Sasuke yang tengah duduk di sisi tempat tidur.

Sakura sontak mengalihkan pandangan dan lekas merapikan rambutnya yang dibiarkan kering. Saat menoleh ke arah Sasuke lagi, lelaki itu tengah sibuk dengan suatu bungkusan berbentuk kain yang diikat. Kepercayaan diri Sakura kembali lagi. Dia duduk di samping Sasuke.

"Sedang apa?" tanyanya, tanpa sadar mengulang pertanyaan Sasuke beberapa saat sebelumnya.

Sasuke menoleh ke arah Sakura. Bungkusan dari kain itu diulurkan pada istrinya. Sakura menerimanya dan lekas membuka ikatan talinya. Bordir simbol klan Uchiha mengisi penglihatannya saat simpulnya terbuka. Jumlahnya ada banyak, hingga sulit diketahui kuantitasnya hanya dengan melihat sekilas. Sakura mengangkat dagu dan menatap Sasuke.

"Jahitlah ini di pakaianmu," kata Sasuke. "Agar semua orang tahu bahwa kau," milikku, "bagian dari Uchiha." Sasuke membasahi bibirnya. "Uchiha Sakura." Dia menyukai bagaimana nama itu meluncur di lidahnya.

Sakura menekan dua belah bibirnya pada satu sama lain. Senyumnya tertahan, nyaris mengembang, tapi ditunda oleh rasa malu yang bermuara di tubuhnya. Dia mengangkat wajah dan menatap Sasuke. Tiba-tiba sekelumit rasa tak nyaman hinggap di dadanya. Dia menggigit bibirnya. Tangannya terulur untuk menaruh barang yang diberikan Sasuke padanya di atas meja.

"Apakah ini tidak apa-apa?" tanya Sakura. Dia menangkap heran di wajah Sasuke. "Maksudku, aku bukan keturunan Uchiha. Dan klanmu itu hebat. Sementara aku—"

"Aku menikahimu dan otomatis mengganti nama keluargamu. Bukankah itu sudah sangat jelas?" potong Sasuke dengan nada geram. "Jangan berkata seperti itu, Sakura. Itu membuatku kesal."

"Maaf," kata Sakura sambil menunduk.

Sasuke mengangkat dagu Sakura agar gadis itu langsung menatapnya. "Aku tidak memedulikan klan asalmu, bahkan bila Haruno bukan klan sekalipun."

"Memang bukan."

Sasuke tampak kesal karena kalimatnya dipotong. Dia melanjutkan, "Aku tidak memahami rasa tidak percaya dirimu. Kita sudah menikah, seharusnya kau paham bahwa aku tidak mempermasalahkan hal itu."

"Aku minta maaf sudah membuatmu kesal, Sasuke-kun. Tapi ..." Dia menggantungkan suaranya di udara. Matanya terpejam sejenak dan mengingat kata-kata yang baru diucap Sasuke. Rasa tak nyaman itu sudah hilang entah ke mana. Senyum timbul lagi di bibirnya.

"Tapi?"

"Tidak." Sakura menggeleng. "Memakai lambang klan Uchiha di punggungku adalah suatu kehormatan bagiku."

"Kau harus ingat bahwa kau tidak memakainya sembarangan. Kau memakainya karena kau adalah istriku."

Kau adalah istriku. Kata-kata itu menggetarkan hati Sakura. Senyumnya mengembang lagi. "Aku akan menjahitnya besok."

Sasuke tersenyum tipis dan menepuk kepala Sakura. Setelahnya, keheningan merajai mereka. Kedua tangan Sakura masih setia merapatkan pakaiannya. Tempat tidur berguncang. Tanpa menoleh, Sakura tahu Sasuke sudah menaikkan seluruh tubuhnya ke atas ranjang. Tiba-tiba dia merasakan tarikan lembut di bahunya. Hangat sentuhan Sasuke terasa menembus pakaian tipisnya. Sakura memundurkan tubuh, mengikuti ke mana tangan itu menariknya.

Sakura merasakan tangan Sasuke merambat ke pinggangnya, kemudian menetap di perutnya setelah kepalanya menyandar pada dada lelaki itu. Jantung Sakura berdebar kencang. Ini adalah pertama kali Sasuke memeluknya dari belakang dan meletakkan tangan di atas perutnya. Detakan itu nyaris membuat Sakura tak merasakan ketidaknyaman dari posisinya. Tubuhnya masih miring dan tidak menyandar pada Sasuke sepenuhnya. Dia bergerak perlahan sampai Sasuke melepas dekapannya. Sakura menyandarkan kepala pada sebelah paha Sasuke yang tengah bersila.

Tangan Sasuke berpindah ke rambutnya. Lelaki itu mengusapnya perlahan dan menyisirkan jemari pada kulit kepalanya. Mata Sakura terpejam begitu saja.

"Bahumu masih pegal?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Pegal apa?"

"Kau bilang shiromuku berat hingga bahumu pegal tadi."

"Oh. Tidak."

Tiba-tiba benak Sasuke memutar pertemuan dirinya dan Sakura dengan orangtua gadis itu. Dia ingat bagaimana cara mereka menatap putrinya, dan cara mereka menatapnya. Dia ingat segala detail kecil perbedaannya seolah-olah dia tengah menggunakan sharingan saat melihatnya. Tatapan mereka pada Sakura dipancarkan melalui sorot mata lembut dan wajah yang rileks. Sementara padanya ... ada sebersit kesamaan dengan cara orang-orang yang membencinya menatapnya. Terdapat kernyitan di dahi, serta wajah yang diliputi keengganan; walaupun ada senyum yang disungging untuknya, walaupun ada rasa percaya yang ditujukan padanya. Sasuke tahu orangtua Sakura masih tak menyukainya meskipun sudah menerima dirinya sebagai menantu mereka, bagian dari keluarga mereka. Dia tahu mungkin mereka sedang dalam upaya untuk melenyapkan rasa tidak suka tersebut demi Sakura, tetapi kenyataan saat ini tetaplah sama: Orangtua Sakura masih tak menyukainya.

Dia melewatkan hal tersebut seharian karena keterlibatan banyak orang dari detik ke detiknya. Dan, saat ini, saat dia merasa tenggelam dalam pikirannya sendiri meskipun Sakura ada di jangkauan tangannya, semuanya terasa lebih jelas.

Sentuhan Sasuke di kepala Sakura tiba-tiba berhenti. Sakura berkedip. Tubuhnya dibuat telentang hingga mendapati mata Sasuke yang terpejam. Dia tak tampak sedang tidur. Ada kernyitan tak nyaman di keningnya.

Sakura terbangun dan menatap wajah Sasuke. "Memikirkan apa?"

Sasuke membuka matanya. "Tidak ada," dustanya.

Sakura menangkup pipi Sasuke. "Kau bisa berbagi denganku, Sasuke-kun."

"Tidak. Aku hanya ..." Dia mengatup bibirnya ketika menatap Sakura. Sorot matanya hangat dan tulus. Bibir gadis itu melengkungkan ke khawatiran. Sasuke ingin melihatnya tersenyum. Dikecupnya puncak hidung Sakura. Senyumnya timbul. Wajahnya merona tipis. Matanya berbinar-binar, membuat iris hijaunya tampak lebih menarik. Mata Sasuke memperhatikan sekujur tubuh Sakura. Warna pakaian tidur femininnya semakin menegaskan warna mata Sakura, juga tampak kontras dengan warna kulitnya yang terang dan membuatnya semakin menarik. Rambutnya jatuh menutupi mata, lantas Sasuke lekas menyelipkannya ke belakang telinga. "Kau sangat cantik." Tanpa sadar dia menyuarakan pikirannya.

Sasuke nyaris lupa apa yang hendak dia sembunyikan dari Sakura. Bahkan sekarang, dia sama sekali tak ingat lagi.

Merah di wajah Sakura mendadak memekat, sorot matanya melembut. Senyumnya melebar lagi dan Sasuke tak tahu bahwa Sakura bisa lebih cantik lagi. Itu adalah pujian verbal pertama Sasuke terhadap fisik Sakura setelah beberapa lama mereka bersama. Ritme jantung Sakura bertambah. Tangannya menggantung di kedua sisi tubuh, melupakan gaun tidurnya yang lahak.

Sakura merasa darahnya bergejolak ketika Sasuke menyentuh pipinya. Ibu jarinya mengusap lembut, menyusuri struktur wajah; dari dahi, kelopak mata, hidung, ke pipi lagi, lantas Sasuke menyelipkan rambut yang menempel pada wajah Sakura ke belakang telinga. Tubuh Sakura mendadak menggigil sejenak saat ibu jari Sasuke mengusap kedua belah bibirnya secara perlahan. Dan Sakura memejamkan mata saat ibu jari Sasuke digantikan oleh bibirnya.

Sakura dapat merasakan bibir Sasuke bergerak di atas bibirnya. Kecupan-kecupan menghujani dari sudut ke sudut. Ketika kecupan-kecupan itu berubah menjadi lumatan pada bibir bawahnya, tangan Sakura refleks meremas kaus Sasuke. Dia merintih lirih sebelum memutuskan untuk membalas lumatan bibir Sasuke.

Tubuhnya gemetar ketika Sasuke menekan batas bibirnya menggunakan lidah. Sakura membuka mulutnya ragu-ragu. Dia melenguh saat lidah Sasuke menyentuh isi mulutnya. Tangan pria itu merambat ke tengkuk, membelai kulit yang sontak terasa bergidik. Sakura dapat merasakan bahwa darahnya mengalir lebih banyak pada wajah hingga terasa memanas. Sebelah tangannya menyentuh wajah Sasuke. Panas merambat pada telapak tangannya.

Ciuman panjang itu terputus. Sakura berusaha sekeras mungkin untuk mengalahkan perasaan malu yang bermuara di tubuhnya. Matanya mencoba untuk tetap menatap Sasuke tanpa perlu mengalihkannya. Sasuke terengah, wajahnya memerah. Sakura sama sekali tak mampu menahan senyum.

Jantung Sasuke berdebar kencang sampai terdengar telinganya sendiri. Dia memandang Sakura. Bahu gadis itu naik turun dalam jarak pendek. Warna pipinya senada dengan helaian rambutnya. Bibirnya basah, ukurannya membengkak jika dibandingan dengan sebelumnya. Leher dan keningnya tampak mengilap karena keringat. Kedua mata hijaunya memandang Sasuke dengan ketulusan tak terperi.

Dia ingin mendekap Sakura. Dia ingin mengecup, mencium, melumat bibir Sakura sekali lagi, dan tak yakin akan merasa cukup dengan itu. Dia ingin berada sedekat mungkin dengan Sakura, seintim seorang pria dan wanita dapat terikat, dan sadar bahwa jarak kurang dari tiga puluh sentimeter yang membatasi dirinya dan Sakura masih terlalu jauh. Dia menginginkan Sakura. Dia menginginkan istrinya.

Sasuke mencium bibir Sakura sekali lagi. Ciumannya semakin dalam. Tangannya memegangi punggung Sakura. Jarak mereka semakin merapat. Dia merasakan kerasnya debaran jantung Sakura saling bersahutan dengan detak jantungnya. Halusnya kain satin terasa di telapak tangannya. Dia mengusap punggung Sakura terus-menerus hingga ciumannya terlepas.

Sasuke menarik diri saat sisa oksigen dalam paru-parunya terlalu sedikit hingga membuat kepalanya pening. Dia mengecup dahi, kedua kelopak mata, ujung hidung, pipi, dan dagu Sakura. Bibirnya menyapu rahangnya sekilas, lantas dia menarik diri kembali. Ditatapnya mata Sakura dalam-dalam sembari tangannya perlahan melepas jubah tidur Sakura dari salah satu bahunya. Darahnya berdesir saat berkontak dengan Sakura dari kulit ke kulit.

"Tidak apa-apa?" bisiknya. Suaranya parau.

Sakura menyentuh wajah, lantas berpindah pada bahu Sasuke dan mengusapnya dengan tekanan. Dia bergidik saat mendengar desisan Sasuke dan mendapati mata hitamnya berubah menjadi semerah darah—representasi dari efek kejut dari sentuhan Sakura. Lelaki itu memejamkan matanya lama hingga saat terbuka kembali ke kondisi sebelumnya. Kedua tangannya mengalung di leher lelak yang kini telah menjadi suaminya. Bohong jika Sakura mengatakan jika dirinya tidak gugup, malu atau bahkan ... takut. Namun, dia percayakan dirinya pada Sasuke sepenuhnya. Sakura menatap mata Sasuke dan memantapkan hatinya. Dia tersenyum kikuk dan menggeleng. Dikecupnya bibir Sasuke sebagai jawaban yang terlalu malu diungkapkan dengan kata-kata.

Sasuke mengusap bahu Sakura yang kini terbuka. Tangannya melepas jubah itu dari bahu Sakura yang lainnya. Sakura menahan napasnya saat merasakan kain satin itu perlahan-lahan turun dari lengannya hingga menyentuh tempat tidur. Yang dia kenakan saat ini hanyalah gaun tidurnya. Sakura melipat tangannya di depan dada untuk menutupi diri sebisanya.

"Kau tidak takut?" tanya Sasuke sembari menarik tangannya ke sisi tubuh.

"Aku tidak seharusnya takut," kata Sakura. Dia tersenyum. "Kau suamiku."

Sasuke balas tersenyum tipis. Dia mengecup rahang istrinya sekali, berhenti sejenak untuk mempelajari respons tubuh Sakura. Gadis itu sempat terkesiap. Sasuke menarik diri dan menatap mata Sakura. Dari pancaran emosinya, dia mengetahui bahwa terkesiapnya tadi bukanlah representasi dari sebuah penolakan. Area kecupannya semakin meluas hingga merambat ke leher. Gadis itu terkesiap lagi. Dia tak perlu menarik diri untuk memahami perasaan Sakura karena tangan gadis itu menariknya mendekat. Sasuke mengulangi tindakannya di bagian leher yang lain. Aroma menyenangkan masuk ke dalam hidungnya.

Sasuke melakukan apa pun yang dia inginkan, sembari mempelajari dan mempertimbangkan respons Sakura, bukan berdasarkan pengetahuan tentang cara menyenangkan wanita di atas tempat tidur. Pengetahuannya minim soal itu. Dia selalu pergi setiap kali orang-orang di sekitarnya mulai membicarakan hal itu, dia tak pernah menikmati pornografi dalam bentuk apa pun, godaan yang ditujukan padanya di meja makan restoran tadi pun tak menjelaskan apa-apa. Wawasannya soal ini hanya datang dari mimpi-mimpi samar—benar-benar samar hingga dia tak tahu apa yang seharusnya dia lakukan untuk memanja Sakura—yang datang mengganggu tidurnya.

Dia ingin merasakan hangat kulit Sakura dengan jemari dan bibirnya. Dia ingin mengecap aroma manis yang terhidu hidungnya menggunakan indra lain. Dia ingin menandai Sakura sebagai miliknya dengan sebuah tanda yang kasatmata. Keinginannya diwujudkan dengan hati-hati dan lembut, sembari memastikan bahwa Sakura menyukainya seperti dirinya menyukai hal tersebut. Dia tak yakin apa yang tengah dirasakan Sakura, tapi dia merasa bahwa Sakura memang menyukainya.

Sasuke kembali mencium bibir Sakura sembari menurunkan sepasang tali yang menahan gaun di bahu Sakura. Tubuh Sakura gemetar saat merasakan gaun itu merosot dengan sendirinya hingga hawa dingin membelai perutnya. Jantung Sasuke berdebar kencang ketika tak menemukan tali gaun Sakura di sepanjang lengan gadis itu. Bayangan seberapa jauh gaun itu sudah jatuh tak bisa ditunda untuk memasuki benaknya. Sasuke terdorong untuk memastikannya sendiri.

Dia menarik diri dan membuka matanya. Mata Sakura masih terpejam erat-erat. Dia sudah memastikan kebenaran sekelebat bayangan di benaknya. Gairah semakin menjalarkan panas pada seluruh saraf-sarafnya.

"Sakura," ucap Sasuke lirih.

Sakura membuka matanya dan langsung menatap mata Sasuke. Telinga lelaki itu memerah. Tangannya memegang ujung kausnya sendiri dan melepasnya. Lelaki itu tampak begitu rupawan meski dengan ketidaksempurnaan fisiknya.

Sakura mengulurkan tangannya dan menyentuh dada Sasuke. Jemarinya mengusap bagian yang Sasuke ingat merupakan bekas lukanya. Napas pria itu memendek. Wajah Sakura semakin memerah lagi.

"Ini bekas luka apa?" tanya Sakura sembari menyentuh bilur yang tampak paling parah. Kikuk masih menempel di wajahnya. Tangannya masih belum berhenti mengusap. Salah satunya merambat ke bahu Sasuke, kemudian ke lengannya.

"Ditusuk katana-ku sendiri."

"Apa?" Sakura tersentak. "Bagaimana bisa?"

"Madara yang melakukannya setelah membuat tubuhku tidak bisa bergerak."

Sentuhan Sakura merambat ke punggung Sasuke. Dia dapat merasakan bekas luka yang sejajar dengan bekas luka yang berada di dada Sasuke. Mata Sakura melebar. "Sebuah keajaiban kau masih bisa hidup setelah mengalami luka ini."

"Aku tertolong."

Sakura memeluk Sasuke atas rasa syukurnya karena lelaki itu masih bisa ada di sini bersamanya setelah luka yang merusak bagian vital tersebut. Matanya terpejam ketika merasakan sengatan listrik atas pertemuan kulit ke kulit. Dia mengecup bahu Sasuke, kemudian lehernya, dan menarik diri hingga cukup untuk mengecup bekas lukanya.

"Aku bersyukur kau selamat dari ini," ucap Sakura tulus.

Sakura semakin mundur dan menutupi tubuhnya sendiri menggunakan kedua tangannya. Selain karena malu, ada sepintas rasa tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya. Dia sadar dirinya terlalu kurus dan tidak seksi. Hal yang membuatnya sedikit percaya diri adalah pinggangnya yang cenderung berukuran bagus—setidaknya itulah menurutnya. Dan pinggang yang membuatnya percaya diri tersebut masih disamarkan oleh gundukan pakaian yang belum sepenuhnya lepas dari tubuhnya.

Sasuke membuka silangan tangan gadis itu pelan-pelan. Dia mengusap kulit Sakura lembut. Matanya menatap Sakura dengan tatapan mendamba dan memuja, membuat seluruh rasa tidak percaya diri Sakura melenyap seketika. Sakura menggigit bibir; merasakan jejak panas dari setiap sentuhan lembut Sasuke. Sentuhan yang memanjakannya itu berhenti di perutnya.

"Ini ulah Madara juga?" tanya Sasuke sembari mengelus bekas luka di perut Sakura. Dia ingat Madara pernah menusuk Sakura di perutnya hingga menembus ke punggung.

Sakura menggeleng. "Ulah Sasori, anggota Akatsuki. Bekas luka yang ditimbulkan Madara langsung lenyap berkat ini," dia menunjuk tanda di dahinya, "sementara saat melawan Sasori aku belum menguasai jurus itu." Dia menarik napas panjang. "Aku hampir mati. Sepertimu, aku tertolong. Nenek Chiyo, tetua Suna, yang menolongku."

Sasuke pernah mendengar bahwa Sasori memang dikalahkan Sakura dan seorang tetua dari Suna. Namun, dia baru mendengar cuplikan ceritanya secara langsung dari Sakura.

Tatapan Sasuke beralih pada lengan kanan Sakura. Dia mengusap tiga bilur yang tampak muncul di saat yang sama. "Bagaimana dengan ini?"

Sakura menyentuh lengannya sendiri hingga bersinggungan dengan tangan Sasuke. "Tercambuk ekor Kyuubi," desah Sakura. "Aku tahu Naruto tidak bermaksud melakukannya. Aku tahu itu bukan Naruto. Dia sangat marah saat bertemu Orochimaru dan pria itu berkata seolah-olah kau adalah propertinya hingga lepas kendali dan menimbulkan munculnya ekor keempat Kyuubi."

Sasuke tertegun. Dia tahu Sakura adalah gadis yang kuat, tapi tak menduga bahwa dia sekuat itu. Cambukan ekor Kyuubi pasti terasa sakit sekali hingga bekasnya masih ada sampai sekarang—meskipun tampak sangat samar yang membuat Sasuke tak menyadari bekas itu ada sampai ketika dia memperhatikan sekujur tubuh Sakura. Luka-luka parah yang pernah dialami Sakura tak cukup untuk membunuhnya. Dia masih hidup dan tampak baik-baik saja. Sasuke mengecup bekas cambukan itu. Dia menarik diri dan menatap mata Sakura. "Kau adalah gadis yang kuat."

Sakura terenyuh. Dia tersenyum lembut. "Kau adalah salah satu alasan mengapa aku ingin menjadi lebih kuat."

Percakapan tentang cerita di balik bekas luka ini membuat Sakura rileks dan kehilangan rasa gugup dan takutnya. Ada beberapa bilur lain yang ingin Sakura tanyakan sebabnya, tapi pertanyaannya ditelan kembali setelah Sasuke berkata, "Aku pernah menyakitimu di sini." Intonasi penyesalan menuturkannya. Tangan lelaki itu mengusap lehernya.

Mata Sakura terpejam. Ada sekelumit rasa perih yang melanda hatinya ketika mengingat kenangan menyakitkan itu. "Aku tahu itu bukan kau," ujarnya lirih. "Itulah sebabnya ... aku berkehendak untuk ... menghentikanmu."

Sasuke memejamkan matanya penuh penyesalan. Dia membukanya lagi seiring satu embus napas panjang. "Itu adalah salah satu hal yang paling kusesali," katanya.

Dia menatap mata Sakura yang sudah terbuka. Sorot pengertian terpancar dari sana hingga menyentuh hatinya. Sakura sudah memaafkan rasa sakit yang Sasuke torehkan padanya sejak lelaki itu meminta maaf dengan tulus di lembah akhir yang sudah hancur.

Sasuke mencium bibir Sakura lagi. Ciumannya itu membuatnya semakin haus dari kecup ke kecup yang entah bagaimana menimbulkan dorongan untuk membaringkan Sakura di atas tempat tidur. Dia memutus ciumannya saat sadar bahwa Sakura sudah terbaring di bawahnya. Tangannya membelai bahu Sakura lagi.

"Katakan apa yang kaubutuhkan."

Wajah Sakura memerah hebat hingga merambat ke leher dan telinganya. Bagaimana mungkin Sasuke memintanya begitu?! Ketidakpekaannya terpancar dengan jelas dalam permintaannya. Sakura tidak mungkin mengungkapkan apa yang tubuhnya butuhkan dari Sasuke. Mendengar permintaannya saja sudah membuatnya teramat sangat malu. Dia menggeleng. "Lakukan apa pun yang kauinginkan. Aku akan memberitahumu ji-jika aku ... tidak me-menyukainya."

Sentuhan Sasuke merambat ke payudaranya. Napas Sakura tersengal. "Bagaimana aku bisa tahu jika kau menyukainya?"

Sakura menggigit bibir. "Kau—kau akan tahu sendiri."

Sasuke menyeringai tipis. "Kau perlu lilin aromaterapi?"

Sakura tertawa hingga bahunya terguncang. Sasuke menatapnya tanpa berkedip. Istrinya cantik, cantik sekali. Dia bersukacita gadis itu miliknya.

"Oh, Sasuke-kun, itu akan romantis sekali," katanya. Dia menatap Sasuke dengan tatapan mendamba. Tangannya mengalung di leher suaminya. "Tapi aku tidak sedang ingin berpisah darimu barang satu detik pun."

Sasuke mendengus, dengusan yang keluar sebagai tawa. Kecupan ditujukan pada kening Sakura. Dia lantas kembali membelai tubuh Sakura dan memberi tekanan tertentu pada bagian-bagian yang diinginkannya—penasaran bagaimana respons yang akan ditunjukan istrinya. Sakura terkesiap di setiap sentuhannya. Namanya disebut dengan intonasi yang membuatnya kecanduan untuk mendengarnya lagi dan lagi.

Sakura tak tampak tersakiti, tapi Sasuke masih takut melukainya. "Katakan padaku jika aku menyakitimu."

Sakura mengangguk. Sasuke menyentuhnya lagi menggunakan tangannya, bibirnya, lidahnya, dan sentuhan lain yang terjadi dari kulit ke kulit. Buncahan euforia meledak di dadanya saat Sasuke menerima apa yang selama ini sudah dia jaga hanya untuk suaminya—untuk Sasuke-nya. Dia berupaya untuk tetap membuka matanya sampai malam panjang itu ditutup dengan dekapan hangat dari Sasuke serta kecupan di keningnya.

Sebelum Sakura menutup matanya, dia tersadar bahwa malam ini adalah malam paling indah dalam hidupnya. Malam yang tak akan pernah tanggal dari ingatannya sampai kapan pun.

.

.

Bersambung

.

.

A/n:

Ngerasa penutup chapter ini abal tapi udah gak tau gimana benerinnya lagi u,u Di fic ini gak ada lemon, but I didn't say anything about lime:) /heh. Atau segini jg masih kurang halus buat lime, ya ... (/-\) yang jelas saya gak mau banget nulis lemon eksplisit.

Buat yang tanya fic lain bakal dilanjut atau nggak, iya bakal dilanjut kok, tapi ... gak tau kapan (...) Fic yang masih ada di akun saya dan gak ada label "discontinued" pasti akan dilanjut.

Btw saya sadar banget alur fic ini tuh ke mana-mana. Plot hole juga kehitung banyak. Intinya, saya ngerasa fic ini berantakan lol jadi ada rencana ingin remake, tapi remake-nya bakal saya buat light novel dan saya bakal buka po untuk itu. Yang di ffn bakal tetap ada tapi ya versi berantakannya. Remake-nya gak akan saya publish di sini www. Adakah yang minat? :"D ini baru rencana sih, belum tau ada realisasi atau nggak :")

Terima kasih sudah membaca sampai sini!

daffodila.