Di antara keduanya, Sakura adalah orang pertama yang membuka mata. Dia merasakan pagi ini hampir sama dengan pagi-pagi biasa; Sasuke ada di sisinya dan dia terbangun di dalam pelukan hangatnya. Kepalanya tepat berada di bawah dagu Sasuke. Tatapan mata Sakura lurus pada leher Sasuke.

Yang membuatnya tersadar akan perbedaan pagi ini adalah ketika matanya yang masih diiringi kantuk bergerak ke bawah hingga menemukan bahu polos Sasuke. Wajahnya mendadak memerah ketika kesadaran tersebut menghidupkan kesadaran lain: tubuhnya dan tubuh Sasuke saling bersentuhan antara kulit ke kulit.

Sakura memejamkan matanya lagi erat-erat sembari mengatur napas. Jantungnya berdetak terlalu kencang bagi seseorang yang baru saja bangun tidur. Saat mulai merasa berhasil menguasai diri dari rasa malu, dia memundurkan tubuhnya perlahan-lahan hingga wajahnya menghadap wajah Sasuke. Dadanya dilanda kehangatan secara tiba-tiba. Satu kesadaran kembali menghantamnya: Sasuke adalah suaminya.

Tangan yang sedari tadi menetap di punggung Sasuke kini merambat naik. Sakura membersihkan wajah Sasuke dari rambut hitam yang menutupinya. Dia tak akan pernah menyangkal bahwa suaminya memang tampan. Senyum tak bisa ditahan untuk timbul di wajahnya. Setelah tangannya menyusuri wajah Sasuke dengan lembut, dia memajukan kepala untuk mengecup dagunya. Kecupannya meleset ke bibir karena Sasuke yang bergerak tiba-tiba. Merah di wajah Sakura semakin pekat ketika mengingat bibir yang dikecupnya barusan adalah bibir yang mencium sekujur tubuhnya semalam.

Sakura menutup wajahnya sendiri. Dia memutar tubuhnya perlahan-lahan karena tetap menatap Sasuke terasa terlalu berlebihan untuk detak jantungnya saat ini. Dia hendak turun dari kasur dan segera membersihkan diri. Saat tubuhnya nyaris beranjak dari ranjang, tangan Sasuke yang sedari tadi melingkar pada tubuhnya tiba-tiba mengetatkan pelukan disertai bibir yang menempel di tengkuknya. Sakura mendadak menggigil.

"Kau mencuri ciuman dariku," bisik Sasuke parau.

Sakura menjawab dengan tawa kecil yang diliputi rasa gugup. "Selamat pagi, Sasuke-kun."

Sasuke tidak menjawab. Embusan napasnya menerpa tengkuk Sakura dan ibu jarinya mengusap perut Sakura. Tangannya merambat menuju bahu Sakura tanpa melepas kontak kulit sedikit pun dalam perjalanannya. Dia menekan bahu wanita itu perlahan-lahan sebagai isyarat untuk memutar tubuh. Sakura membalik tubuhnya lagi setelah melepaskan sebuah napas panjang.

Mata Sakura tertutup saat wajahnya sudah menghadap Sasuke lagi. Sasuke diam, menunggu sampai wanita itu balas menatapnya. Saat kelopaknya terbuka sedikit demi sedikit, gelombang perasaan membuncah di dada Sasuke. Mendadak wajahnya memanas dan dia merasa kikuk. Mata Sasuke terpejam lagi sebelum dia memajukan tubuh dan mencium bibir Sakura dengan lembut. Ciuman itu baru berhenti saat Sakura mendorong dadanya agar bisa menarik napas lagi.

Tatapan mereka saling terkunci. Kikuk yang sempat Sasuke rasakan dilawan dengan sentuhan pada wajah Sakura. Warna merah muda masih mewarnai parasnya walaupun setiap helai rambutnya sudah disibak ke belakang. Dari panas di wajahnya yang masih terasa, Sasuke yakin kondisi wajahnya tak jauh beda dari wajah istrinya.

Ibu jari Sasuke mengusap pipi Sakura. Usapannya merambat ke bibirnya yang penuh, rahangnya, dan lehernya. Sorot matanya tertuju pada ke mana ibu jarinya bergerak. Saat usapan Sasuke bergerak semakin ke bawah lagi, Sakura buru-buru membenahi selimut hingga menutupi dadanya.

"A-apa yang kau lihat, Sasuke-kun?"

Sasuke tersenyum tipis karena geli. Tangannya memegang tangan Sakura yang mencengkeram ujung selimut. "Apa yang kau sembunyikan?"

Sakura menggeleng kecil. Dia menyembunyikan wajah di bawah dagu Sasuke, kembali ke posisi saat dia baru terbangun tadi. Tangan Sasuke kembali ke punggung Sakura dan menarik wanita itu merapat. Sakura menarik napas dengan tajam.

"Bukankah tadi kau hendak beranjak?" tanya Sasuke.

Sakura mendengus. "Kita berdua tahu kau yang menahanku." Kalimat itu akan terdengar seperti keluhan jika Sakura tidak balas melingkarkan tangannya pada tubuh Sasuke.

.

Sasuke masih belum terbiasa melihat lambang klan Uchiha menempel di punggung Sakura. Terakhir kali dia melihat lambang klannya berada di tubuh orang lain sudah terjadi lama sekali, beberapa tahun yang lalu, pada pakaian yang dikenakan Uchiha Obito. Uchiha Madara bisa saja termasuk, tetapi seingatnya pria tua itu tak mengenakan atasan apa pun saat dia melihatnya di perang dulu. Melihatnya berada di punggung Sakura, meskipun terlihat setiap hari dalam waktu sebulan ini, menimbulkan kehangatan di dadanya secara berulang kali. Lambang klan Uchiha di punggung Sakura menegaskan bahwa dia tak lagi sendiri, ada keluarga yang menemani. Meskipun Sakura hanya menanggung nama—bukan keturunan Uchiha asli—hal tersebut tetaplah membuat Sasuke tidak menjadi satu-satunya Uchiha yang tersisa di dunia ini.

Kini ada dua: Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura.

Sakura jarang sekali mengenakan jubahnya lagi. Tidak aneh mengingat saat ini sedang dilanda musim panas. Sasuke tidak memiliki afeksi pada musim apa pun, tetapi kini dia mulai menyukai musim panas karena musim tersebut membuatnya dapat lebih sering melihat lambang klan Uchiha di punggung istrinya dalam perjalanan mereka.

Mereka memutuskan untuk beristirahat saat langit mulai menggelap. Sasuke menyentuh punggung Sakura saat keduanya sudah duduk. Dia menyusuri bordir lambang klannya dari bawah, menemukan bagian kain yang tidak tertutupi bordir apa pun, bertemu bordir lagi, sampai terasa ujung rambut Sakura di setengah bagian bordir atas. Dia merasakan punggung Sakura bergerak saat wanita itu menoleh ke arahnya.

"Kau benar-benar menghargai lambang klanmu," kata Sakura. Dia tersenyum kecil. "Tapi kau bisa menyentuh punyamu sendiri yang ada di dadamu daripada menyentuh punyaku, lho."

"Hn," gumam Sasuke. "Menyentuh punyamu terasa lebih berharga."

"Hm? Kenapa?"

"Itu menandakan kau adalah Uchiha Sakura," kata Sasuke. Dia memajukan tubuh sembari menyibak rambut panjang Sakura ke samping. Dikecupnya leher Sakura sekali. "Istriku." Tangannya menyentuh punggung Sakura lagi. "Dan aku bukan satu-satunya Uchiha di dunia ini lagi."

Sakura menanggapi dengan senyum yang tak bisa dilihat Sasuke. Saat tangan Sasuke kembali ke pinggir, dia lekas menggenggamnya. "Aku senang menemanimu," ujarnya.

Sudut bibir Sasuke tertarik ke atas. Dia mengecup leher Sakura lagi, sedikit menjepit kulitnya di antara dua belah bibir. Kali ini, Sakura mengedikkan bahunya hingga lehernya tertutup. Dia pun melepas genggamannya pada tangan Sasuke.

"Kita harus makan, Sasuke-kun," katanya sembari bergerak maju menuju perbekalan mereka. Dia berbalik ke belakang dengan dua buah cup ramen di tangannya. Sinar bulan memantulkan rona merah di wajahnya. Dia sedikit memberengut. "Hanya tersisa ini dan teh. Sepertinya kita terpaksa puasa sampai besok malam. Desa terdekat kira-kira berjarak satu hari dari sini, 'kan?"

"Ya," jawab Sasuke. Dahinya mengernyit. Jarang sekali mereka kehabisan perbekalan begini karena mereka selalu memperhitungkannya. Apakah mereka salah perhitungan? Rasanya kemungkinannya kecil karena dihitung oleh dua kepala. "Tidak apa-apa?"

"Kurasa tidak apa-apa. Lagi pula ini bukan pertama kalinya."

Mereka menyeduh ramen instan tersebut setelah menyalakan api unggun. Sasuke menatap Sakura dengan heran ketika wajahnya mengerut dan tangan wanita itu menjauhkan cup ramen dari wajahnya. Sebelah tangannya yang bebas membekap mulut dan hidungnya.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

Sakura membuka bekapannya. "Baunya buruk sekali," dia menjulurkan lidahnya, "kurasa ini basi."

Dahi Sasuke mengernyit. "Kurasa baunya biasa saja."

Sakura menggeleng keras. "Tidak sama sekali! Cium saja sendiri," katanya sembari merentangkan cup ramennya pada Sasuke.

Sasuke menaruh ramen miliknya ke tanah. Dia menerima ramen milik Sakura dan mengendus aromanya. Benar-benar biasa saja. Matanya menelusuri cup untuk mencari tanggal kedaluwarsa. Ramen tersebut baru akan kedaluwarsa tahun depan.

"Biasa saja," komentar Sasuke.

Sakura memandangnya dengan tatapan tidak percaya.

"Kita bertukar. Kau makan saja punyaku."

Sakura menyetujui dengan langsung meraih cup ramen milik Sasuke. Wajahnya merengut lagi. "Sama saja!" keluhnya.

"Kau bisa memakannya?"

Sakura mendesah. "Apa boleh buat. Daripada tidak makan sampai lusa. Aku buang kuahnya saja, supaya baunya hilang." Dia menatap Sasuke. "Bisakah kau makan jauh-jauh dariku?"

Sasuke nyaris menganga. Apakah Sakura baru saja mengusirnya? Rasanya sulit sekali untuk dipercaya! Enggan berdebat, dia menjauh dari Sakura sembari mendecak. Matanya menyipit saat memandangi Sakura yang sedang makan. Dia kembali ke samping Sakura saat makanannya sudah habis. Sakura yang tidak mengatakan apa-apa soal pengusirannya tadi entah mengapa membuat Sasuke sedikit jengkel.

Raut yang Sakura tayangkan selama makan tampak seperti seseorang yang tersiksa. Saat makanan sudah habis, dia menandaskan minumannya dengan cepat. Tangannya memegang lehernya sendiri. Dia terus-menerus menelan ludahnya seolah ingin membersihkan sesuatu dari kerongkongannya. Tiba-tiba dia membekap mulutnya, berdiri, dan berlari menjauh dari Sasuke ke belakang semak-semak. Sasuke langsung turut berdiri ketika mendengar suara Sakura yang sedang muntah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.

"Tidak," jawab Sakura dengan suara serak. "Jangan ke sini!"

Sasuke hendak tidak menghiraukan peringatan Sakura, tetapi wanita itu sudah kembali terlebih dahulu. Punggung tangannya menyeka bibirnya. Dia lekas berkumur dan minum lagi.

"Sudah kubilang, ramennya basi."

Sasuke baru sadar bahwa dia tidak mengecek tanggal kedaluwarsa ramen yang dimakan Sakura. Dia mengembuskan napas panjang karena menyesal sebelum mengeceknya. Nyatanya, tanggal kedaluwarsanya sama dengan ramen yang dimakannya.

"Tanggal kedaluwarsanya tahun depan," kata Sasuke mengklarifikasi. Dia menyentuh tengkuk Sakura dan memijatnya. "Kau sudah tidak apa-apa?"

"Hm. Aku sudah baik-baik saja." Dia menyandar pada bahu Sasuke. "Aku mau tidur, Sasuke-kun."

Sasuke mengedikkan bahunya agar Sakura beranjak sebentar. Api segera dimatikan. Dia menyandar pada pohon besar.

"Kemarilah," kata Sasuke.

Sakura menurutinya dan kembali menyandar pada bahu Sasuke. Tangan pria itu melingkari pinggangnya.

"Tidak apa-apa aku tidur seperti ini?" tanya Sakura.

"Tidak apa-apa."

"Baiklah." Sakura mengecup pipi Sasuke. "Selamat malam, Sasuke-kun."

"Selamat malam, Sakura."

Sasuke terjaga selama beberapa saat, sampai akhirnya menyandarkan kepalanya sendiri pada kepala Sakura dan memejamkan mata. Dia terbangun saat langit sudah mulai terang. Sakura sudah tak ada di sisinya dan lagi-lagi terdengar suara wanita itu sedang muntah. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, dia beranjak dan menghampiri Sakura. Dia menemukan Sakura di belakang semak-semak, berjongkok sambil mempertahankan rambutnya agar tetap di punggung.

"Sakura?"

Sakura menoleh ke belakang. Dia lekas berdiri. Wajahnya pucat dan tampak kelelahan.

"Masih mual karena semalam?"

"Entahlah. Yang kukeluarkan hanya cairan. Aku belum makan apa-apa lagi. Dan rasanya memang tak ingin makan apa pun." Tangannya memegangi lehernya sendiri. Dia mengatur napas sembari berjalan menuju perbekalan mereka dan membersihkan mulutnya.

Sasuke menatap Sakura dengan khawatir. Dia duduk di samping Sakura dan memijat tengkuknya lagi. Sakura tampak sakit sekarang, dan mereka masih di tengah hutan. Perbekalan makanan sudah kandas. Permukiman terdekat berjarak satu hari dari sini. Kondisi ini membuat Sasuke kepikiran.

"Kau tahu apa yang terjadi padamu?" tanya Sasuke.

"Keracunan makanan. Mungkin." Sakura memegangi perutnya. "Ugh, perutku rasanya tidak enak sekali."

Sasuke menyodorkan segelas air mineral lagi pada Sakura. "Minumlah yang banyak," katanya.

Sakura menerimanya dan meminumnya sampai habis. Tangannya membekap mulutnya lagi. Matanya terpejam erat-erat. Butuh waktu beberapa detik sampai Sakura tampak stabil. Lantas, dia mengangkat wajah untuk menatap Sasuke.

"Bagaimana denganmu, Sasuke-kun? Kau tidak mual? Kita selalu makan makanan yang sama."

"Aku baik-baik saja. Seharusnya ramen yang semalam tidak perlu ditukar," ucap Sasuke dengan wajah murung.

Sakura menggeleng. "Itu bukan salahmu. Kalau keracunan makanan saja, mungkin satu jam lagi pun sudah membaik. Kau tidak perlu khawatir."

"Kita masih sangat jauh dari permukiman. Seharusnya perutmu tidak kosong kalau sudah begini."

"Sementara ini air pun cukup. Aku baik-baik saja. Sungguh. Hanya perlu istirahat sebentar sebelum kita melanjutkan perjalanan."

"Katakan yang sejujurnya jika terjadi sesuatu padamu."

"Tentu saja."

Mereka melanjutkan perjalanan setelah menunggu selama dua jam. Sasuke terus mengamati Sakura dan bersyukur wanita itu tampak baik-baik saja, walaupun lebih mudah lelah. Sepertinya efek dari keracunan makanan sudah hilang. Sementara itu, Sakura beberapa kali menanyakan kondisi Sasuke karena khawatir pria itu cepat atau lambat merasakan yang Sakura alami kemarin malam dan tadi pagi. Namun, Sasuke sungguh-sungguh memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.

Toko-toko sudah tutup saat mereka tiba di permukiman. Sasuke mengeluh dalam hati, masih memikirkan perut Sakura yang kosong sejak pagi. Mereka lekas mencari penginapan. Sasuke harap di penginapan nanti setidaknya ada air yang bisa diminum karena air minum mereka sudah benar-benar habis saat ini. Apalagi, bibir Sakura sudah tampak mengering.

Harapan Sasuke terwujud saat dia menemukan galon air dalam kamar penginapan mereka. Sebelum disuruh, Sakura sudah mengonsumsi air cukup banyak. Sasuke turut minum karena kerongkongannya pun kering. Setelah sama-sama membersihkan diri, keduanya segera tidur.

.

Sakura muntah lagi untuk yang ketiga kalinya. Dia benar-benar heran sekarang. Ini jelas-jelas bukan keracunan makanan lagi—dia tak memakan apa pun sejak kemarin. Apakah mungkin air yang diminumnya mengandung bakteri? Kalaupun benar begitu, efek sampingnya tak akan sampai muntah-muntah begini. Dia yakin akan hal itu. Atau mungkin justru karena perutnya kosong hingga asam lambungnya bereaksi?

Suara ketukan pintu kamar mandi menggema. "Sakura, kau baik-baik saja?" Terdengar suara Sasuke yang teredam pintu yang tertutup.

Rasanya Sakura enggan menjawab dengan mulut yang dipenuhi rasa asam dan pahit begini. Seandainya Sasuke bisa melihatnya, dia hanya akan menggeleng. Kemudian pertanyaan Sasuke terulang lagi.

"Tidak," jawab Sakura dengan suara serak.

Dia menyiram toilet sebelum berdiri dan membersihkan mulutnya sendiri. Suara kenop pintu yang berputar terdengar. Sakura otomatis mengangkat wajah dan mendapati Sasuke yang menampilkan wajah yang masih diliputi kantuk, tetapi tampak waspada di saat yang sama.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Sasuke.

"Aku tidak tahu."

"Kau merasakan sesuatu?" Tangan Sasuke menyentuh dahi, pipi, dan leher Sakura untuk mengukur suhu tubuh. "Kau tidak demam."

"Yang kurasakan hanya mual saja."

"Tidak pusing? Atau yang lain?"

Sakura menyentuh pelipisnya sendiri. "Hmm, sedikit pusing."

"Kau harus istirahat."

Sakura mengangguk. Dia berjalan menuju tempat tidur dan mendudukinya. Sasuke menyusul dengan segelas air di tangannya. Dia menyerahkan gelas itu pada Sakura dan wanita itu segera menghabiskan isinya.

"Berbaringlah," kata Sasuke.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Sakura menurut. Sasuke menyelimuti tubuhnya.

"Apakah ini karena perutmu kosong sejak kemarin?"

"Kurasa begitu."

"Tunggu di sini. Aku akan membeli makanan."

Sebelum Sakura menjawab, Sasuke sudah berjalan menuju kamar mandi, keluar setelah beberapa saat, kemudian melangkah menuju pintu keluar. Sakura mengembuskan napas lelah dan memejamkan mata erat-erat. Dia menenggelamkan wajah pada selimut yang tadi dipakaikan Sasuke.

Sasuke kembali lebih cepat daripada yang dia kira. Dia meletakkan bungkusan makanan di atas meja nakas sebelum mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Sakura. Suhu tubuhnya masih normal.

"Masih pusing?"

"Tidak."

Napas lega lepas dari hidung Sasuke. Dia meraih bungkusan makanan dan menyodorkannya pada Sakura setelah mengambil makanan miliknya. Sakura tampak enggan makan, tetapi dia memaksa dirinya sendiri. Waktu makannya lebih lama tiga kali lipat dari Sasuke.

"Sakura," panggil Sasuke. "Apakah kau akan ke rumah sakit yang berada di desa ini hari ini?"

"Tentu saja. Aku harus laporan pada Tsunade-sama."

Sasuke terdiam. Dia menatap Sakura dengan pandangan menelisik. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi walaupun bibirnya masih kering. Dia menyentuh kening dan leher Sakura lagi. Suhu tubuhnya normal. Makanannya pun habis. Namun, kekhawatiran Sasuke sama sekali belum hilang.

"Kau bisa melakukannya besok. Hari ini istirahat saja."

Sakura menggeleng. "Aku baik-baik saja. Aku yakin istirahat satu jam sudah cukup membuatku fit kembali. Seperti kemarin. Tidak perlu khawatir."

"Jika dalam satu jam kau belum membaik, tundalah sampai besok."

"Ya. Aku janji tak akan memaksakan diri."

"Aku pegang kata-katamu."

Sakura menggenggam tangan Sasuke dan mengecupnya. "Mana mungkin aku melanggar janjiku pada suamiku sendiri." Dia turut tersenyum mendapati senyum tipis Sasuke. Ibu jarinya mengusap punggung tangan pria itu. "Ngomong-ngomong, kau tahu hari ini hari apa?"

"Hari Senin?"

Sakura menahan diri dari memutar bola matanya. Sepertinya Sasuke tidak ingat ulang tahunnya sendiri. Namun, jika ingat pun pria itu bukan tipikal orang yang akan menjawab 'Ini hari ulang tahunku'. Benar juga. Sakura baru sadar akan hal itu.

"Ah, ya. Tentu saja. Hari Senin."

.

Hari sudah gelap saat Sakura selesai dengan kegiatannya di rumah sakit. Di perjalanan menuju penginapan, otaknya berputar menentukan hadiah ulang tahun untuk Sasuke. Dia tidak kreatif dalam hal-hal seperti ini. Tak ada satu ide pun yang muncul di kepalanya kecuali masakannya sendiri untuk membuat onigiri—makanan kesukaan Sasuke. Jika saja dia berada di rumah, itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Nyatanya, dia jauh sekali dari rumah. Membeli dari luar tidak akan seistimewa buatannya sendiri. Terlebih, isi onigiri-nya tidak bisa dikustomisasi.

Sakura terpaksa kembali dengan tangan kosong. Dia merutuki otak tidak kreatifnya sebelum membuka pintu penginapan. "Tadaima," ucapnya ketika masuk ke dalam kamar.

Sasuke menjawab okaeri setelah membalik tubuh dan menghadap Sakura.

Sakura berjalan ke tempat tidur dan duduk di samping Sasuke yang masih memegang gulungan. Tatapannya tertuju pada tangan Sasuke yang lecet-lecet. Tanpa berkata apa pun, dia menarik tangan Sasuke sampai melepaskan gulungan, lantas menyembuhkannya menggunakan jurus medisnya.

"Kau latihan lagi?"

"Hn." Sasuke menarik tangannya saat aliran cakra hijau dari Sakura sudah padam. "Terima kasih."

Sakura mengangguk.

"Kau baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu selama di rumah sakit?" tanya Sasuke.

"Iya. Aku baik-baik saja. Kau sudah makan, Sasuke-kun?"

"Belum. Tapi aku sudah membeli makan." Bahu Sasuke mengedik pada bungkusan makanan di atas meja.

Sakura tersenyum masam. Dia sempat berpikir untuk makan di luar, tidak menduga Sasuke sudah membeli makanan duluan. Namun, dia tetap menghargai Sasuke. Menyadari ekspresi wajahnya menyiratkan yang sebaliknya, dia buru-buru membenahinya sebelum Sasuke menyadarinya.

"Aku mau mandi. Makanlah duluan," kata Sakura.

"Aku akan menunggu."

Sakura berniat mendebat Sasuke karena berpikir suaminya itu sudah menunda makan malam sejak tadi. Namun, sadar perdebatannya akan percuma, dia mengurungkan niatnya. Dia segera menuju kamar mandi dan menuntaskan mandi secepat yang dia bisa. Mereka pun makan setelahnya.

Saat makanan sudah habis, Sakura membersihkan sisa-sisa makanan mereka. Dia lekas kembali duduk di samping Sasuke. Tangannya menyentuh wajah pria itu, menariknya sedikit, lantas dia mengecup pipinya. Sasuke tampak heran dengan afeksi tiba-tiba dari Sakura. Sakura menyengir.

"Selamat ulang tahun, Sasuke-kun!" ucap Sakura dengan ceria.

Sasuke tertegun. Dahinya mengernyit. "Hari ini tanggal dua puluh tiga Juli?"

Kali ini, Sakura sama sekali tidak menahan diri dari memutar bola matanya. Ternyata dugaannya benar. Sasuke tidak sadar hari ini adalah ulang tahunnya.

"Iya. Ya ampun, bagaimana bisa, sih, kau lupa ulang tahunmu sendiri?"

Sasuke mengangkat bahu. "Itu tidak terlalu penting."

Entah mengapa, Sakura sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulut Sasuke.

"Apakah kau menginginkan sesuatu untuk ulang tahunmu?"

"Tidak juga."

Lagi-lagi, Sakura sudah menduga jawaban Sasuke. Dia mendesah. Padahal dia ingin sekali memberikan sesuatu untuk Sasuke. Tiba-tiba terlintas sesuatu di dalam benaknya sebagai solusi. Dia tak yakin Sasuke akan senang mengenai hal ini atau tidak.

"Ada … ada sesuatu yang perlu kau ketahui," kata Sakura ragu-ragu. Tatapan yang tadi tertuju pada tangannya sendiri kini mengarah pada mata Sasuke.

"Hm?"

"Sebenarnya saat ke klinik tadi, aku sekalian mengecek kondisi kesehatanku."

Wajah Sasuke menegang. Dia tampak cemas. "Bagaimana hasilnya? Kau sakit?"

"Tidak. Tidak sakit." Sakura menggigit bibirnya. Dia memegang perutnya sendiri. "Hanya saja …," satu tarikan napas panjang, "kau akan jadi ayah."

Sakura menatap Sasuke dengan gelisah. Jantungnya berdebar kencang menanti respons dari Sasuke. Mereka belum pernah membicarakan soal anak sebelumnya. Ini benar-benar terjadi di luar rencana. Secara pribadi, dia amat senang dengan kabar yang diterimanya dari hasil tes kesehatannya tadi. Namun, di sisi lain dia memikirkan Sasuke. Bagaimana jika Sasuke belum siap menjadi orang tua?

Kedua mata Sasuke melebar. Dia menatap wajah Sakura dengan serius, mencari kebenaran di sana. Sakura tidak tampak berbohong. Dan untuk apa juga Sakura berbohong soal ini?

"Kau hamil, Sakura?"

Sakura mengangguk. Dia tak sempat menilai mimik muka Sasuke karena pria itu sudah maju untuk mengecup keningnya. Tangan Sasuke yang semula memegang belakang kepalanya merambat menuju perutnya. Dia membelai perut Sakura dengan lembut dan penuh rasa sayang. Sakura sama sekali tidak bisa menahan air matanya. Dia memeluk tubuh Sasuke erat-erat.

Pelukan mereka melonggar. Sasuke menyeka air mata yang membasahi pipi Sakura menggunakan ibu jarinya. Bibirnya melengkungkan senyum tulus. Detak jantung Sakura bertambah cepat karenanya.

"Kau senang dengan ini?" tanya Sakura. Tiba-tiba dia merasa bodoh karena masih bertanya.

"Tentu saja."

Walaupun sudah dapat menebak jawaban Sasuke, rasa lega tetap menerpanya. Kebahagiaannya mendadak menjadi berkali-kali lipat. "Aku tidak menduga akan secepat ini. Kita bahkan baru menikah selama satu bulan lebih dua hari."

"Hn. Kau tahu usia kandunganmu?"

"Satu bulan … lebih dua hari." Entah mengapa rasa malu memenuhi dada Sakura saat menyadari sejak kapan ini terjadi. Wajahnya memerah sepenuhnya. Sasuke menyeringai. Sakura menutup wajahnya sendiri.

"Sakura." Panggilan Sasuke membuat Sakura menurunkan tangannya. "Apakah kabar ini adalah hadiah ulang tahunku?"

"Tidak juga. Kebetulan saja aku baru tahu hari ini. Kenapa?"

Sasuke menatapnya dengan intens. Sakura sontak menahan napasnya.

"Sebenarnya ada sesuatu yang kuinginkan."

Tangan Sasuke bergerak ke belakang kepala Sakura. Dia melepas ikat rambut Sakura yang dipasang untuk menghindari basahnya rambut saat mandi. Ruas-ruas jemari Sasuke diisi helaian merah muda Sakura. Dia menyugarnya sampai kedua bahu Sakura tertutupi rambut.

"Apa itu?"

Kecupan yang mendarat di bibirnya membuat Sakura berpikir bahwa keinginan Sasuke adalah sebuah ciuman. Saat tangan Sasuke menariknya mendekat hingga dia duduk di pangkuan pria itu, ciumannya menjalar pada rahang dan leher, dirinya sadar keinginan Sasuke bukanlah sebatas ciuman. Wajah yang masih merona kini tambah memerah lagi.

Tangan Sasuke menjelajahi sisi tubuhnya. Saat menyelipkan tangan ke balik kaus Sakura dan menyentuh perutnya, Sasuke berhenti bergerak. Dia mencari mata Sakura. "Tidak apa-apa melakukannya saat kau hamil?"

"Tidak apa-apa."

Tidak butuh waktu sedetik sampai Sasuke melanjutkan kegiatannya lagi.

.

.

Bersambung

.

.

A/n:

Akhirnyaaaa bisa update setelah terakhir update tahun 2017 *nangis* I thought I could never write again …. Makasih banyak buat yang masih bersedia menunggu :") mohon maaf kalo tulisan saya beda dari biasanya, soalnya udah lama banget gak nulis huhu. Pas baca ulang juga nggak puas, tapi gak bisa memperbaiki. Jadi, ya udah. Gini aja, ya ….

Oh, iya. Di chapter sebelumnya ada kata "lahak". Saya gak sadar itu ternyata bahasa daerah hahaha kirain bahasa Indonesia. Artinya bukan "bau busuk" kayak di KBBI, yah :") di bahasa Sunda lahak tuh artinya terbuka di bagian leher dan atas dada. Makasih Mayurahime udah bantu jelasin di review chapter sebelumnya! XD

Makasih banyaaaaaak buat yang udah review! Maaf nggak bisa balas satu-satu. Dan sekali lagi makasih masih nunggu fic ini update. Makasih juga udah baca sampai sini :") mari kita sama-sama berdoa semoga ke depannya gak butuh 2 tahun buat update lol saya juga pengen fic ini cepat tamat.

daffodeela.