fanfic ini akan dijadikan fanbook! rencana yang dulu, tahun 2017 kayaknya, saya bilang di sini baru terealisasi sekarang, haha. pre-order sudah dibuka mulai hari ini (8 mei 2020) sampai 8 juli 2020. untuk yang berminat bisa langsung isi form di bit . ly / PO-DPS yap!
.
Menurut Sakura, hari masih terlalu pagi untuk mulai membereskan barang bawaan mereka yang tersebar di beberapa bagian kamar penginapan. Yang dilakukannya hanyalah duduk di sisi tempat tidur sambil memandangi Sasuke yang membereskan barang bawaannya. Selain itu, mual yang melandanya pun menjadi pencegah kegiatannya meskipun baru beberapa saat yang lalu dia mengeluarkan isi perutnya. Tangannya memijat tengkuknya dan memegang lehernya sendiri.
Meskipun sudah terhitung sepuluh hari sejak Sakura mulai mual-mual, dia sama sekali belum merasa terbiasa. Ditambah lagi sakit kepala dan nyeri payudara yang dialaminya. Tubuhnya terasa benar-benar lemah sekarang, walaupun tidak selemah tiga hari yang lalu, saat dirinya nyaris pingsan ketika menjalankan tugasnya di rumah sakit. Untung saja dia masih mampu mengendalikan kesadarannya. Namun, dia tak yakin dirinya masih mampu dalam beberapa hari ke depan.
"Sasuke-kun?"
Sasuke menghentikan kegiatannya. Dia menoleh ke belakang hingga menatap istrinya.
"Bisakah kita menetap di sini lebih lama?" tanya Sakura hati-hati. Walaupun kondisinya tidak optimal, menunda perjalanan mereka masih menjadi hal terakhir yang diinginkannya. Akan tetapi, dia benar-benar tidak bisa membayangkan merasa kesulitan di tengah perjalanan. Itu tentu akan turut menyulitkan Sasuke.
Tatapan Sasuke terarah pada tangan Sakura yang masih memegangi tengkuknya. "Karena kondisimu? "
"Iya."
Sasuke berdiri, lantas melangkah ke samping tempat tidur. Dia mendudukkan dirinya tepat di sebelah Sakura.
"Aku baru saja mau bertanya apakah kau mau kembali ke Konoha."
Sakura terdiam. Pulang ke Konoha sama sekali tidak terlintas di pikirannya. Terakhir dia berada di sana adalah sekitar enam minggu yang lalu, dan perjalanan ke sana termasuk waktu istirahat kurang lebih akan memakan waktu yang sama. Dalam kondisinya sekarang, mungkin akan memakan waktu lebih lama lagi. Selain itu, ada alasan lain yang mengganjal hati Sakura.
"Tidak sekarang. Aku masih ingin bersamamu," jawab Sakura setelah menggeleng.
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Kau pikir aku akan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini?"
Sakura terdiam. Dia menatap Sasuke dengan serius. Dia sadar dirinya sudah salah bicara walaupun yang dia maksud sama sekali bukan seperti yang Sasuke tangkap. Sakura memegang tangan Sasuke. "Maksudku bukan begitu," ujar Sakura tanpa keraguan. "Kau sadar bukan bahwa kau tidak bisa menetap di satu tempat terlalu lama? Bukankah kau masih diincar? Aku percaya Sasuke-kun bisa mengatasi mereka. Tapi … mereka bisa saja membahayakan orang lain."
"Kau sudah mempertimbangkan kehamilanmu?" tanya Sasuke. Dia tidak berminat memperpanjang topik yang baru saja Sakura buka meskipun itu adalah kebenaran. Hal tersebut masih membuatnya berpikir bahwa keberadaan dirinya di sisi Sakura pun akan membahayakan wanita itu.
Senyum mengembang di bibir Sakura saat memikirkan kehamilannya. Setelah melihatnya, risau yang melanda Sasuke hilang seketika. Tangan Sakura memegang perutnya sendiri secara refleks. "Tentu saja. Walaupun sekarang kondisiku begini, aku yakin ke depannya akan baik-baik saja. Dan kau tahu aku mampu melindungi diriku sendiri."
Tangan Sasuke menyentuh lengan Sakura dan mengusapnya. Dia bisa merasakan kencangnya otot Sakura di sana. "Aku tahu. Kau adalah wanita paling kuat yang pernah kulihat," ucapnya sungguh-sungguh.
Dahi Sakura mengernyit, tampak ragu. Sasuke sama sekali tak mengerti apa yang Sakura ragukan dari dirinya sendiri ketika tangan Sasuke sedang menyentuh salah satu buktinya.
"Tapi kau pernah melihat Tsunade-sama."
"Kupikir kau sudah melampauinya."
Sakura tertawa. "Tentu saja tidak! Kurasa pandanganmu bias, Sasuke-kun. Kau pasti mengatakannya karena aku adalah istrimu dan kau tidak pernah akrab dengan Tsunade-sama sama sekali."
"Tidak. Aku bersungguh-sungguh."
Sakura tersenyum lagi dengan wajah berseri-seri. Wanita itu sedikit menunduk. Kemerahan mewarnai pipinya. Sasuke menatapnya dalam-dalam. Ekspresi itu selalu muncul setiap kali dia memuji Sakura, sama persis dengan yang selalu dia tampilkan sejak masih berusia sebelas sampai dua belas tahun. Sasuke menyadari begitu banyak hal yang sudah berubah dalam diri Sakura, tetapi ada beberapa yang tetap sama.
"Hm. Itu tidak penting. Yang penting kau mengakui bahwa aku sanggup menghadapi semua ini tanpa kembali ke Konoha secepatnya, 'kan? Jadi, kau tidak perlu memaksaku untuk itu."
"Aku tidak pernah berniat untuk memaksamu. Aku hanya menanyakan pendapatmu."
Sakura mengangguk. "Kau sudah tahu apa pendapatku sekarang."
Kali ini, Sasuke yang mengangguk. Wajahnya mendadak dipenuhi rasa khawatir saat mendengar suara seperti seseorang yang tercekik dari Sakura. Dia menyentuh punggung wanita itu dan mengusapnya perlahan. Sakura membekap mulutnya sendiri menggunakan tangan.
"Ini lebih parah daripada tadi, Sasuke-kun," ujar Sakura dari balik bekapannya. Suaranya lirih dan lemah. "Padahal rasanya aku sudah mengeluarkan semuanya. Tak ada lagi yang bisa kukeluarkan."
Sasuke tak tahu harus melakukan apa. Tangan yang masih menyentuh punggung istrinya itu bergerak menekan hingga tubuh Sakura sedikit condong padanya. Dikecupnya pelipis Sakura. Lingkaran tangannya mengetat hingga menjadi pelukan. Tangan Sakura turut mendekapnya.
"Kau membutuhkan sesuatu?"
"Aku mau minum."
"Tunggu sebentar."
Sebelum Sasuke melepas tangannya dari tubuh Sakura, wanita itu sudah melakukannya lebih dulu. Sasuke segera beranjak untuk mengambil air hangat. Diberikannya gelas pada Sakura. Sakura meneguknya pelan-pelan, tetapi keras, hingga suara setiap tegukannya terdengar jelas oleh Sasuke. Gelasnya yang hampir kosong ditaruh di atas meja nakas sebelah tempat tidur.
"Kau harus makan lagi," kata Sasuke. "Apa yang kauinginkan?"
Sakura berpikir sambil bergumam. Alisnya tertekuk seperti orang bingung. "Apa saja," katanya. Kemudian dia mempertimbangkan apa yang baru saja diucapnya. Tangannya memegang pergelangan tangan Sasuke keras-keras. "Apa saja selain tomat."
Dahi Sasuke mengerut. "Aku tidak tahu kau tidak suka tomat," ucapnya. Terdengar sekilas nada terganggu di sana.
Sakura tertawa kecil melihat dan mendengar tanggapan Sasuke. Walaupun dia memang sungguh-sungguh tidak ingin memakan tomat sekarang, atau olahan tomat apa pun, dia tetap menikmati ekspresi wajah tak biasa dari Sasuke.
"Jangan tersinggung begitu," kata Sakura. Kedua tangannya merangkum wajah Sasuke dan menekannya. "Aku tahu kau suka tomat. Aku juga bukannya tidak suka tomat. Tapi entahlah, aku hanya sedang tidak ingin memakannya. Pengaruh kehamilan, mungkin?"
"Baiklah."
Sasuke pergi keluar untuk membelikan Sakura makanan. Dia kembali dengan makanan untuk Sakura serta sebungkus tomat untuk dirinya sendiri.
Sakura mengernyit. "Sudah kubilang aku tidak mau tomat," keluhnya.
Sasuke mendengus. "Siapa bilang ini untukmu?" Dia meraih sebuah tomat dari kantong plastik dan menggigitnya dengan mulut yang dibuka lebar. "Asal kau tahu saja, ini enak, Sakura."
Tawa kecil sekaligus jengkel lepas dari bibir Sakura. Dia menggeleng-geleng sekaligus gemas atas tindakan Sasuke yang masih tidak terima soal dia yang tidak mau makan tomat. Rasa gemas itu membuat dia ingin mencium suaminya, tetapi mengingat rasa tomat akan masih menempel di bibirnya membatalkan niatnya.
.
Penginapan tempat Sasuke dan Sakura menetap masih sama. Walaupun harga sewanya cukup murah, tetapi jika dikalikan berhari-hari terasa memberatkan ekonomi mereka. Sakura masih menghasilkan uang di sini dengan pekerjaannya, Sasuke masih memiliki perbekalan dari warisan keluarganya, tetapi boros tetap tidak menjadi pilihan Sakura.
Di lobi rumah sakit, Sasuke sudah menunggu untuk menjemput Sakura pulang. Rutinitas ini baru terjadi sejak kabar kehamilan Sakura sudah datang pada mereka.
Sebelumnya, Sasuke terkadang menanti di penginapan atau mengurusi urusannya sendiri. Pria itu masih berkelana dan menjaga diri dari musuh yang mengincarnya atau terkadang membantu warga desa mengurusi sesuatu. Jadwal pulang Sakura tidak pernah tetap, dia selalu berharap Sakura sudah menunggunya di tempat mereka bernaung, tetapi itu tidak terjadi setiap hari. Sejak kondisi tubuh Sakura melemah, Sasuke selalu menyempatkan diri untuk menjemput dari waktu tercepat istrinya biasa pulang dan menanti tanpa batas.
Sakura tersenyum saat sinar di mata Sasuke menyala saat melihatnya. Dia melambaikan tangan dan terus mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke.
Wajah Sakura memasam. Dia berdeham. "Um, aku muntah lagi tadi siang. Tapi aku baik-baik saja."
Rambut yang menutupi wajah Sakura segera Sasuke selipkan ke belakang telinga. Ujung jemarinya mengusap pipi Sakura dalam perjalanannya. Dia mengembuskan napas panjang.
"Jangan sembunyikan apa pun dariku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Sakura menyentuh tangan Sasuke yang masih berada di pipinya. "Iya. Aku sudah bilang semuanya, kok. Aku sungguh-sungguh baik-baik saja, Sasuke-kun." Dia menekuk tangannya untuk memperlihatkan ototnya. "Aku kuat."
Sasuke menyeringai. "Tentu saja."
Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera mengambil jalan pulang. Di perjalanan, Sakura kembali memikirkan keluar masuknya ekonomi mereka.
"Sampai kapan kita akan berada di sini?"
Langkah Sasuke tiba-tiba berhenti. Sakura mengikuti. Pria itu menoleh ke arah istrinya dan menaikkan sebelah alis.
"Kenapa?"
"Kalau masih lama, kurasa lebih baik kita mencari tempat tinggal yang bayar sewanya mingguan atau bulanan saja, serta mencari tempat yang lebih seperti rumah atau apartemen? Yang ada dapur dan sebagainya." Sebelum Sasuke menanggapi, Sakura buru-buru menambahkan. "Aku ingin memasak sesuatu untukmu, Sasuke-kun."
"Kita bicarakan lagi nanti," tanggap Sasuke. "Kau mau makan apa?"
"Kau mau makan apa?"
Sasuke mengernyit mendengar Sakura membalikkan pertanyaannya. Kemudian dia mendengus kecil. "Tomat."
Sakura memberengut. "Sasuke-kun," rajuk Sakura.
Sasuke menyeringai lagi dan berjalan meninggalkan Sakura. Sakura menyusul dengan langkah lebar.
"Tega sekali kau meninggalkan istrimu yang sedang hamil!"
Angin yang bertiup kencang membuat volume suara Sakura bertambah. Sasuke mengedikkan bahu. "Istriku yang hamil dan juga kuat."
"Sasuke-kun!"
Dengusan menahan tawa lepas lagi dari hidung Sasuke. Dia langsung menarik tangan Sakura dan mengaitkan jemari mereka untuk menuntun Sakura. Sakura sontak terdiam dengan pipi memerah. Sasuke tersenyum tipis karena sikap Sakura yang menenang.
"Kita makan di restoran keluarga saja," putus Sasuke.
Sakura hanya diam dan mengangguk. Dia mengeratkan tautan jemari mereka dan menikmati hangat yang suaminya bagi melalui itu.
.
Kamar penginapan Sasuke dan Sakura terdengar sepi selama Sakura berada di kamar mandi. Kesunyian itu dipecahkan oleh senandung Sakura saat selesai membersihkan diri dengan handuk masih menggulung rambutnya yang basah dan handuk lain yang menutupi dada sampai pahanya.
Sakura langsung berjalan menuju lemari tempat mereka menyimpan pakaian tanpa melihat ke arah Sasuke yang sedang sibuk membaca gulungan di atas pahanya. Dia melepas handuk yang membalut tubuhnya dengan posisi menghadap ke lemari. Pakaian yang sudah dipilihnya sudah dipegang bersamaan dengan pakaian dalam. Dia melepas balutan handuk di rambutnya agar dapat memakai pakaiannya dengan lebih mudah.
Tatapan Sasuke terangkat pada Sakura yang tengah berpakaian. Fokusnya sudah tertuju ke sana sejak Sakura melepas handuknya dan menjatuhkannya ke lantai. Sasuke menopang dagunya, meninggalkan atensinya pada gulungan yang dia baca. Dia tersenyum selama menatap tubuh istrinya yang indah meskipun dilihat dari belakang. Pakaian mulai menutupi kulitnya satu per satu dan pandangan Sasuke masih jatuh pada Sakura selama itu. Senandung Sakura berhenti saat pakaian yang dikenakannya sudah lengkap.
Handuk yang tadi dijatuhkan segera dipungut oleh Sakura. Dia menggosok rambutnya sekali lagi dan kembali membalutnya. Tubuhnya berputar dan matanya langsung bersirobok dengan tatapan Sasuke. Wajah Sakura memerah melihat tatapan mendamba yang terpancar dari wajah suaminya.
"Kau … kau memperhatikanku sejak tadi?" tanyanya dengan nada menuduh.
Sasuke mendengus dan menyeringai. "Apa yang belum kulihat, Sakura?"
Sakura memutar bola mata selagi mengikis jarak di antara mereka. Dia menyingkirkan gulungan yang berada di atas paha Sasuke, kemudian membaringkan kepalanya di atas paha suaminya. Wajahnya menghadap perut Sasuke. Dia memeluk tubuh pria itu.
Jemari Sasuke mengusap wajah Sakura yang terasa lebih lembut setelah wanita itu mandi. Sakura langsung memejamkan matanya.
"Kau lelah?"
Sakura mengangguk. "Mm-hm."
Handuk yang membalut rambut Sakura dilepas oleh Sasuke secara perlahan. Dia menyugar rambut Sakura dan memijat kulit kepalanya.
"Istirahatlah."
Sakura menggeleng. "Nanti. Ada yang perlu kita bicarakan."
"Hm?"
Sakura beranjak dari baringannya dan menatap Sasuke. Tangan yang sebelumnya berada di tengah-tengah rambutnya segera Sakura genggam menggunakan kedua tangan. Wajahnya tampak serius.
"Aku butuh waktu lama di sini, Sasuke-kun. Rumah sakit membutuhkan banyak orang. Ninja medis di sini tidak banyak."
"Aku belum menyampaikan padamu soal berapa lama kita menetap di sini," sahut Sasuke. "Ada chakra aneh yang berkeliaran di sekitar sini dan sifatnya kuat. Aku perlu mengidentifikasinya karena itu hanya bisa dirasakan dengan rinnengan. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya selain aku."
Bahu Sakura sontak menegang. Keseriusan semakin pekat di wajahnya. "Chakra apa? Apakah berbahaya?"
"Akan kuberitahu setelah aku mendapatkan jawabannya."
Tangan Sakura menangkup tangan Sasuke dan memegangnya erat-erat. "Jaga dirimu baik-baik selama melakukan itu."
Sasuke membalik tangannya hingga telapak tangan mereka saling bertemu. "Kau tidak usah khawatir."
"Aku tahu kau adalah shinobi paling kuat, tetapi sebagai istrimu, rasa khawatir tetap saja akan ada. Namun, aku yakin kau mampu mengatasi apa pun itu. Suamiku adalah orang yang hebat!"
Bibir Sasuke melengkungkan senyum tipis. Tangannya menggenggam tangan Sakura lebih erat. Ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya.
"Kita berada di situasi yang sama. Jadi …"
"Jadi?"
"Kau ingat usulanku soal menyewa apartemen atau sebagainya? Daripada biaya tempat tinggal kita dihitung harian seperti ini."
Sasuke mengangguk. "Boleh saja."
"Besok aku libur," kata Sakura. "Kau bisa menyisihkan waktu untuk menemaniku mencari apartemen?"
"Hn."
Kedua tangan Sakura langsung direntangkan untuk memeluk tubuh Sasuke. Sakura mengecup pipi suaminya dan berbisik tepat di telinganya, "Terima kasih, Sasuke-kun."
"Hn. Sudah, 'kan? Kau beristirahatlah."
"Iya."
Sakura beranjak untuk menggantungkan handuknya di kamar mandi. Tanpa melakukan apa pun lagi, dia membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Posisinya menghadap Sasuke yang masih duduk di sisi ranjang membelakanginya. Dia kembali berkutat dengan gulungan yang sempat dia singkirkan.
"Kapan kau tidur?" tanya Sakura.
"Sebentar lagi."
Sakura mengangguk walaupun Sasuke tidak dapat melihatnya. "Peluk aku saat kau tidur, ya?"
Dengusan karena tawa lepas dari hidung Sasuke. Dia membalik tubuh dan mengacak rambut Sakura. Istrinya memang menjadi lebih manja.
"Hn."
Mata Sakura terpejam setelah menerima konfirmasi dari Sasuke. Selimut membungkus tubuhnya, tetapi terasa ada kehangatan yang hilang. Di alam bawah sadarnya, semuanya berubah dan terasa lengkap. Sasuke sudah bergabung dengannya di atas tempat tidur dan mendekapnya erat-erat.
.
Pencarian tempat tinggal yang dapat dibayar mingguan atau bulanan dimulai pagi-pagi sekali. Hal tersebut diawali dengan Sakura yang bertanya pada resepsionis penginapan dan meminta rekomendasi. Di tangannya sudah terdapat catatan yang berisi daftar tempat tinggal berjumlah enam yang bisa mereka survei.
Langkah yang mereka ambil lambat karena Sasuke yang terus-menerus mengkhawatirkan Sakura. Sakura meyakinkan Sasuke bahwa dia baik-baik saja, sampai mereka melewati tempat sampah terbuka dan wanita itu langsung membekap mulutnya untuk menahan muntah. Ironisnya, dia harus mengeluarkan isi perutnya di tempat sampah yang sama.
Perjalanan mereka terhenti karena mengunjungi toko untuk membeli minum bagi Sakura. Sakura meminumnya pelan-pelan sembari duduk di depan toko tersebut. Mulutnya masih terasa asam dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Kau masih mau melanjutkannya sekarang?" tanya Sasuke. Sakura tidak menjawab karena masih meminum air untuk menghilangkan asam di mulutnya. "Kau istirahat saja. Biar aku yang cari."
Sakura tampak hendak protes. Namun, kini kepalanya pun terasa sakit. Terlebih, Sasuke menatapnya dengan pandangan mutlak yang enggan dibantah. Dia menelan ludah dan memegangi kepalanya. Wajahnya murung. Dia ingin sekali mencari tempat tinggal dalam jangka waktu lama dengan Sasuke, tetapi dia mengakui bahwa keinginannya tidak didukung kondisi.
"Baiklah," putusnya pasrah.
Sasuke mengembuskan napas lega karena Sakura langsung menurut. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Sakura bangkit. Sakura meraihnya dan berdiri dengan badan terhuyung. Sasuke lekas menyelipkan tangannya di antara pertemuan lengan bahunya untuk membopong Sakura.
"Kau bisa berjalan?"
Rasa gengsi menerpa dada Sakura untuk menjawab. Sebagai kunoichi yang kuat, rasanya memalukan untuk mengakui bahwa dia akan terhuyung-huyung saat melangkah pulang. Dia hanya menyandarkan kepalanya pada bahu Sasuke dan membekap mulutnya lagi.
"Kepalaku sakit."
Rasa khawatir menyerang dada Sasuke. Jika saja bisa, dia akan menarik derita yang kini dialami istrinya. Dia segera memosisikan Sakura untuk duduk kembali, lantas berjongkok dengan posisi membelakangi Sakura. Dia menoleh ke belakang.
"Naiklah."
Sakura mengernyit. Wajahnya memerah. "Malu, Sasuke-kun."
"Tidak apa-apa. Daripada kau jatuh dan itu lebih berisiko."
Sakura menuruti apa kata Sasuke dengan gestur ragu-ragu. Dia memeluk leher Sasuke dari belakang dan menempelkan keningnya pada ubun-ubun Sasuke. Merah di wajahnya semakin memekat ketika merasakan Sasuke memeganginya melalui bokong agar posisinya seimbang; tangan Sasuke hanya ada satu. Wajah Sakura semakin disembunyikan di belakang kepala Sasuke. Aroma mint dari rambut Sasuke mengurangi mualnya sedikit demi sedikit.
Resepsionis penginapan memperhatikan mereka dan Sakura merasa lebih malu. Dia memeluk leher Sasuke lebih erat. Didekatkannya bibirnya pada telinga Sasuke.
"Kau tidak malu, Sasuke-kun?"
Sasuke hanya merespons dengan kedikan bahu. Dia tetap berjalan sampai depan kamar sewaan mereka. Dia menoleh ke arah Sakura.
"Turunlah. Aku harus membuka pintu. Tidak apa-apa, 'kan?" tanya Sasuke.
Wajah Sakura masih merah. "Aku 'kan sudah bilang aku malu sedari tadi. Tentu saja tidak masalah jika aku harus turun," katanya sembari menapakkan kaki ke lantai.
Sasuke menuntun Sakura selama masuk ke dalam kamar. Dia menanti sampai Sakura berbaring.
"Kau membutuhkan sesuatu lagi?"
Sakura menggeleng. "Tidak untuk sekarang," katanya. "Tapi bisa tidak bawakan aku dango saat kau pulang?"
"Ya." Sasuke duduk di sisi ranjang. "Kau mau tempat tinggal yang seperti apa?"
Tangan Sakura menopang dagunya. Matanya melirik ke atas untuk berpikir. Dia bergumam panjang. "Punya akses cahaya matahari yang bagus. Ada balkon. Bersih. Itu saja."
Sasuke mengangguk. "Tidak apa-apa kau kutinggal sendiri?"
"Iya. Aku baik-baik saja, Sasuke-kun."
Alis Sasuke tertarik sebelah, tampak tidak percaya.
"Sungguh! Mungkin aku hanya butuh tidur."
Sasuke menarik diri dan membentuk segel menggunakan tangannya setelah menggigit jari. Burung gagak muncul dan langsung bertengger di kepala ranjang. Sasuke menatapnya lurus-lurus.
"Jaga Sakura dan sampaikan pesan padaku jika terjadi sesuatu padanya," ujar Sasuke.
Sakura menggeleng-geleng kecil dan memijat pelipis. Dia terkekeh. "Tidak perlu seperti ini, Sasuke-kun."
"Cerewet. Kau istirahat saja."
"Hei! Yang sedari tadi cerewet itu kau!"
Sasuke mendengus dan menyeringai kecil. "Berikan daftarnya padaku." Dia merentangkan tangan pada Sakura dan langsung menerimanya. "Aku pergi dulu."
Respons dari Sakura berupa anggukan dan ucapan hati-hati.
.
Satu hari setelah pencarian tempat tinggal bukanlah hari libur bagi Sakura. Sasuke bilang, dia sudah menemukan satu apartemen yang memenuhi kualifikasi Sakura dan sudah mulai bisa ditinggali hari ini. Dia terpaksa menunda kunjungan pertamanya karena masih memiliki urusan di rumah sakit. Sasuke akan mengurus semua urusan perpindahan dan setelah Sakura pulang dari rumah sakit, dia hanya tahu jadi.
Di masa-masa Sakura mengenal Sasuke di masa kecil, dia selalu tahu Sasuke adalah lelaki yang bertanggung jawab. Namun, dia masih terpesona dan berdebar-debar ketika melihat tanggung jawab yang dilakukan Sasuke sebagai seorang suami. Sakura merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena begitu pengertiannya Sasuke dan betapa dia merasa jauh lebih nyaman serta aman ketika berada di sekitarnya.
Sasuke menjemputnya lagi ketika pulang dari rumah sakit. Mereka membeli makanan dan dibawa pulang untuk dimakan bersama di apartemen nanti. Langkah Sakura sedikit terburu-buru untuk melihat pilihan apartemen Sasuke. Selama Sasuke mengatakan bahwa apartemen ini memenuhi apa yang dia syaratkan, dia tidak akan kecewa.
Sakura menarik napas panjang ketika berada di depan pintu geser dari apartemen yang Sasuke pilih. Dahinya sedikit mengernyit mengingat dia meminta tempat yang memiliki balkon, sementara apartemen ini ada di lantai satu. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa dulu.
Pintu apartemen sudah Sasuke buka dan Sakura tidak kecewa. Seluruh ruangan itu tampak rapi dan bersih. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin luas ruangan utamanya hanya sekitar 22 meter dan langsung tersambung dengan dapur. Dindingnya bercatkan putih gading, terdapat tanaman artificial yang menghiasi sehingga suasananya tampak menenangkan. Ada satu kamar yang memiliki ranjang besar dan sudah terdapat sebuah lemari. Di belakang dapur, terdapat pintu geser transparan yang jika mereka sedang menginjak waktu siang, itulah yang menjadi akses matahari untuk menerangi apartemen yang mereka sewa.
"Tidak ada balkon karena jika mencari balkon, kita harus tinggal di lantai atas. Sebaiknya kau menghindari naik-turun tangga." Sakura tertegun karena tidak terpikir soal itu sama sekali. Sasuke menarik tangannya dan menuntun menuju pintu geser transparan di paling belakang apartemen mereka. Dia menggeser pintunya yang menyingkap teras belakang berukuran sekitar enam meter dengan bahan kayu. "Ini bisa mengganti balkon."
Sakura tercengang. Dia menengadah dan menemukan bulan dalam bentuk penuh. Kehangatan menerpa dadanya. Dia melepas tangan Sasuke seketika.
"Aku mau duduk di sini."
Sasuke mengangguk. Sakura mengernyit dan muncul sekilas rasa kecewa di dadanya karena Sasuke memilih masuk ke dalam ketimbang menemaninya. Kekecewaan itu luntur saat dia merasakan selimut diletakkan di bahunya. Dia menengadah dan menatap Sasuke.
"Udaranya dingin," kata Sasuke.
Sakura tersenyum lepas. "Terima kasih, Sasuke-kun." Saat Sasuke hendak duduk di sampingnya, Sakura memotong dengan, "Bisa sekalian buatkan aku teh?"
Kening Sasuke mengernyit dan dia mendengus jengkel. Namun, Sasuke tetap berdiri dan memenuhi apa yang Sakura pinta. Dia membawa satu teko dan dua buah gelas yang diposisikan terbalik di atasnya. Saat duduk di samping Sakura dan membiarkan Sakura menuangkan teh ke dalam dua gelas tersebut, dia tidak sadar ketika tiba-tiba Sakura mengecup pipinya.
"Kau suami yang baik sekali," puji Sakura. Dia membagi selimut yang terpasang di bahunya dengan Sasuke dan menyandarkan kepala pada bahu Sasuke.
Tiba-tiba Sakura tertawa dan beranjak dari bahu Sasuke. "Sasuke-kun, aku bahkan belum mandi."
Sasuke mengedikkan bahu. "Ya sudah. Biasanya kalau di hutan saja bisa tidak mandi berhari-hari."
"Tapi ini berbeda!" Sakura menaikkan volume suaranya sembari tertawa. Dia memukul lengan Sasuke main-main.
Sasuke menyeringai. Kemudian, mereka terdiam, menikmati keheningan yang nyaman mengudara di sekitar mereka. Sasuke menengadah dan menatap bulan. Dia meneguk ludah sebelum berkata, "Sakura …."
"Hm?"
"Bukankah bulannya indah?(1)"
Bulan yang penuh dan terang tanpa ditutupi sedikit pun awan itu kembali ditatap Sakura. Bibirnya mengulas senyum lepas. "Bulannya memang-tunggu! Apakah kau baru saja …?"
Sasuke memalingkan wajah dari Sakura dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia berdeham.
Sakura menangkup wajah Sasuke di tengah kedua tangannya dan menggerakkan kepala Sasuke agar mereka saling bertatapan. Ketulusan terpancar dari mata Sakura. "Aku juga mencintaimu. Sangat."
Entah siapa yang memulai, bibir mereka saling bertaut dan Sakura merasa seperti melayang. Entah apa yang membuatnya begitu emosional, mungkin kehamilannya, tetapi ciuman ini, situasi ini, membawa air mata haru turun di pipinya. Tangannya masih menangkup wajah Sasuke saat ciuman mereka terlepas. Tatapan yang Sasuke berikan padanya membuat dia meleleh.
Rambut yang menghalangi sebagian wajah Sasuke disingkirkan oleh Sakura dengan menariknya ke atas. Dia melengkungkan senyum. Wajahnya memerah. Kekehan yang biasa dia lepaskan semasa dia masih gadis keluar lagi dari bibirnya.
"Kau tampan sekali berada di bawah sinar bulan, Sasuke-kun," puji Sakura. Dia masih enggan berhenti menatap wajah Sasuke dan memperhatikan setiap strukturnya. Bulu matanya panjang. Kulitnya yang sedikit menggelap tampak bersih. Hidungnya mancung. Bibirnya proporsional. Rahangnya tajam. Semua itu membawa Sakura ke dalam kondisi jantung berdebar-debar. Tiba-tiba dia memikirkan bagaimana bisa suaminya tampak setampan ini. "Kau mirip siapa?"
Sasuke tampak kikuk. Dia menggosok hidungnya dan mengalihkan pandangan dari Sakura. "Orang bilang aku mirip sekali dengan ibuku."
Sakura tersenyum. Matanya merefleksikan sebuah khayalan. "Ibumu pasti cantik sekali."
"Ya." Sasuke mengulas senyum tipis. Kemudian dia menunduk, menatap tangannya sendiri yang ditaruh di atas paha.
Atmosfer di sekitar mereka tiba-tiba berubah. Sakura menangkup tangan Sasuke dan mengusapnya. "Apakah kau merindukannya? Merindukan mereka?"
"Lebih dari yang kau kira."
Tangkupan tangan Sakura mengerat. Dia menggenggam tangan Sasuke sepenuhnya. "Aku bisa mengira-ngiranya. Mereka keluargamu." Sebelah tangan Sakura yang bebas mengelus pipi Sasuke. "Tapi kau sudah punya keluarga lagi di sini. Bersamaku."
Senyum yang sempat hilang dari wajah Sasuke kini muncul lagi. Matanya memancarkan kemurnian yang dirasakan dadanya. Tangannya yang masih digenggam Sakura digerakkan untuk menyentuh perut istrinya. Dia mempertemukan kening mereka. "Dan anak kita."
Kecupan ringan Sakura berikan pada bibir Sasuke. Dia menarik mundur wajahnya untuk menatap Sasuke lebih jelas. Tangannya mengelus tangan Sasuke yang masih menyentuh perutnya.
"Apakah kau bahagia sekarang?"
Sasuke mengangguk. "Karenamu."
Sakura memejamkan mata erat-erat untuk menahan air mata haru lain yang hendak jatuh. Namun, upayanya gagal karena kini bulu matanya tetap membasah. Saat matanya dibuka, ada satu tetes yang jatuh dan sekarang Sasuke usap agar hilang.
"Aku senang," ucap Sakura. Suaranya serak, nyaris terisak. "Aku senang kau bahagia. Setelah semua ini. Setelah apa yang terjadi padamu. Oh, Sasuke-kun. Kebahagiaanmu adalah tingkat kebahagiaanku yang paling tinggi."
Tangan Sasuke memutari tubuh Sakura untuk mendekap wanita itu. Dadanya basah karena air mata istrinya. Dia mengecup pucuk kepala Sakura. Angin yang berembus semakin kencang membuat Sasuke mengeratkan selimut yang melapisi tubuh mereka berdua.
"Seandainya … seandainya waktu bisa berhenti saat ini juga. Aku selalu ingin bersamamu, Sasuke-kun," ucap Sakura. Suaranya terdengar lebih stabil.
"Waktu tidak perlu berhenti untuk itu."
Senyum Sakura melebar lagi. Dia menghapus jejak air matanya dan menatap Sasuke dengan berseri-seri. "Kau benar. Kita sudah menikah. Kita akan selalu bersama. Dan kau akan selalu ada di hatiku."
Gelitikan menyenangkan muncul di perut Sasuke. Dia tersenyum lagi. "Apa pun yang terjadi, perasaan kita terhubung, Sakura."
Mereka berbagi ciuman lagi. Sasuke mengecap asin di bibit Sakura dan mengabaikannya karena ciuman ini begitu murni dan tulus. Dia bisa merasakan cinta yang Sakura labuhkan untuknya melalui tautan bibir mereka. Darahnya berdesir lebih keras.
Saat ciuman terlepas, Sakura terkikik geli. Deretan giginya terpamerkan. "Aku masih tidak percaya kau adalah suamiku dan namaku adalah Uchiha Sakura sekarang."
Sasuke menyelipkan rambut Sakura ke belakang telinga. "Ini nyata."
Sakura mengangguk. "Tapi aku takut tiba-tiba terbangun dari semua mimpi indah yang panjang ini."
"Besok kau akan terbangun di sisiku dan merasa yakin bahwa ini bukan mimpi."
"Ya. Aku harap begitu."
"Pasti akan begitu."
Sakura tertawa lagi. Tiba-tiba dia tersadar akan tempat tinggal mereka yang sudah tampak seperti rumah karena adanya dapur dan bukan sekadar penginapan yang bayarnya dihitung per malam.
"Kau mau makan apa besok?" Dia dilanda semangat yang menggebu-gebu karena memiliki kesempatan untuk memasak sesuatu bagi Sasuke sebagai istrinya untuk pertama kalinya.
"Apa pun yang kau mau. Kau yang perlu menyesuaikan makanan di sini."
"Benar juga!"
Sasuke menarik tangan Sakura lagi dan kali ini bukan sekadar menggenggamnya; dia menyelipkan jemarinya di antara spasi di jemari Sakura. Muncul sekilas ekspresi khawatir di wajahnya. "Kau tidak keberatan hidup seperti ini denganku?"
Alis Sakura terangkat. "Memangnya kenapa?"
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Kita tidak seperti pasangan suami istri yang lain."
"Memangnya semuanya harus sama? Ini hidup kita, Sasuke-kun. Dan aku akan bersamamu bahkan sampai ke ujung dunia."
Raut khawatir hilang dari wajah Sasuke. Dia mendengus dan terkekeh kecil. "Berlebihan sekali, Sakura."
"Yang terpenting kita bersama sekarang, saling mencintai, menanti anak kita lahir." Sakura menjeda untuk tersenyum. "Sesederhana itu."
Angin malam berembus semakin kencang dan mengecilkan suara Sakura. Awan telah menutupi bulan yang sebelumnya bersinar penuh. Rambut mereka terus menerus berkibar-kibar ke arah wajah dan itu terasa mengganggu. Sakura langsung meraih teko dan dua gelas yang tergeletak di lantai.
"Kurasa sudah waktunya kita masuk," ucap Sakura.
Sasuke menyetujui dengan langsung berdiri dan berjalan di belakang Sakura.
Sakura langsung membersihkan diri yang sempat tertunda tadi. Saat sudah selesai, Sasuke sudah di tempat tidur, berbaring dengan posisi miring, menepuk-nepuk spasi di sisinya sebagai isyarat Sakura agar segera bergabung dengannya. Sakura tidak menunda-nunda lagi untuk membaringkan tubuhnya dan memeluk Sasuke. Posisi mereka saling berhadapan.
"Sudah mengantuk?" tanya Sakura. Dibalas oleh anggukan. "Sebelum kau tidur, aku ingin mengatakan ini. Apa pun yang terjadi, kita pasti bisa menghadapinya bersama, Sasuke-kun."
Dengan mata yang sudah sayu, Sasuke menjawab. "Aku tahu. Selamat malam, Sakura."
"Selamat malam, Sasuke-kun."
Pelukan mereka erat dengan kaki yang saling berkaitan. Dada mereka meledak-ledak oleh perasaan istimewa memikirkan mereka sudah sampai di sini setelah segala yang terjadi. Sasuke dan Sakura sama-sama merasa seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Mereka terlelap dengan kebahagiaan yang membuncah karena saling memiliki satu sama lain.
.
Part I - Tamat
.
keterangan:
(1) "Bukankah bulannya indah?" atau "Tsuki ga kirei desu ne" itu ungkapan "aku cinta kamu" di Jepang yang kuno (CMIIW). Ini ada di lagu Sayonara Moon Town dan kerasa Sasuke banget yang bilang cintanya gak secara langsung ;;
a/n:
setelah sekian purnama akhirnya update juga dan tamat! ;_; huhu saya nangis terharu. setelah hampir lima tahun nulis ini … aaaaaaaa! yap, ini masih part I. nanti ada lanjutannya dan sepertinya … agak lama, ehe. semoga saya masih hidup sampai saat itu /y
oiya, di fanbook nanti bakal banyak direvisi dari fic ini dan dibuat lebih akurat sama fakta-fakta canon yang baru keluar. dan fic ini gak akan dihapus dari sini, tapi tetap versi lama. yang revisi dan lebih rapi cuma ada di fanbook, yap. fanbook ini pun cuma sampai part I aja, karena ini pun udah puanjaang banget, hampir 400 halaman. makanya saya bagi dua. dan fanbook juga punya dua buah ilustrasi, bakal dapet bonus-bonus juga. detailnya cek link aja, ya! daaan bakal ada giveaway! untuk update-nya pantengin aja akun-akun yang saya cantumkan di link PO, ya!
terima kasih banyak udah baca sampai sini dan menunggu dengan sabar :") terima kasih support, review, favorite, follow, dan semuanya semuanyaaa! maaf gak bisa sebut semuanya satu-satu, ya.
daffodeela pamit dari fic ini. ciao!
