"Gadis bodoh!"
"Orang gila!"
"Aneh!"
Itulah hal pertama yang menyambut Luffy sesaat dia melewati gerbang sekolahnya. Manik coklat gelapnya menerawang jauh, tak melihat wajah wajah asing yang bagaikan coretan hitam tak jelas. Kaki-kaki kecilnya menapak senang, berjalan cepat melewati lautan manusia yang menghujaninya dengan caci maki dan hinaan. Tak satupun guru yang mengindahkan, meski semuanya terjadi di depan mata. Bibir tipis sang gadis terangkat, tat kala memikirkan sahabat-sahabatnya yang menunggunya di kelas.
Dengan larian kecil, sang gadis berambut hitam pendek itu berlari menaiki tangga menuju kelasnya di lantai 2. Sebuah tawa senang keluar dari bibirnya, tak sabar untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya setelah 3 hari tak bertemu. Alasannya sederhana, sang kakak jatuh sakit, dan tak ada seorang pun yang bisa merawatnya selain dia sendiri, tak menghitung kakeknya yang jarang berada di rumah selain untuk makan atau memarahi sang kakak angkat.
Tat kala iris cermelangnya menangkap papan nama kelasnya, senyumannya melebar, larian kecilnya mencepat, hingga tas merah using yang ia rangkul seolah akan terbang dari pundaknya. Ia berlari sangat cepat, hingga nyaris tergelincir saat berbelok memasuki kelasnya, menabrak daun pintu dengan keras hingga pundaknya terasa sakit, namun semuanya ia hiraukan dengan tawa. Terlalu bersemangat bertemu dengan orang-orang terkasihnya.
"Selamat pagi semua!"
Namun tak ada satu suara pun yang menyambutnya. 4 orang remaja, 3 laki-laki dan 1 perempuan, duduk saling berhadapan di tengah kelas. Wajah mereka keras, seolah memikirkan sesuatu. Tak seorang pun dari mereka yang mengindahkan dirinya. Tanda Tanya bermunculan di kepala Luffy, tak biasanya mereka tak menjawab sambutannya, justru biasanya mereka akan memarahinya karena membuat keributan di pagi hari. Dengan langkah kaki pelan, sang gadis kelas 11 itu berjalan mendekati mereka.
"Hei, kok diem aja sih? Ada apa?"
Seolah baru menyadari keberadaanya, keempat remaja itu menoleh dan menatapnya dengan pandangan kosong, membuat Luffy yang keheranan menjadi khawatir.
"O-oi, ada apa dengan kalian? Kalian nggak kenapa-napa kan?"
"Nggak usah sok peduli deh, kamu sebenarnya nggak suka kita kan?"
Perkataan dari Ussop itu membuatnya terdiam. Tak pernah sekalipun ia mendengar nada sekasar itu keluar dari bibir sahabatnya yang suka berbohong itu.
"Apa maksudmu Sop? Aku nggak ngerti-"
"Tentu saja kamu nggak ngerti, otak aja nggak pernah dipakek."
Celetukkan Nami memotong perkataannya. Mata besar Luffy melirik satu-satunya sahabat wanitanya. Manik cokelatnya yang biasanya hangat tampak menggelap, mengingatkannya pada seorang gadis penipu yang merupakan diri sahabatnya dulu, sebelum mereka mulai berteman saat kelas 8. Melihat tatapan dingin itu membuat jantung Luffy berdetak cepat.
"Na-Nami, kenapa…"
"Sudah deh nggak usah bohong! Bilang aja yang jujur, kamu itu hanya manfaatin kita kan!"
Mendengar bentakkan dari Zoro, sahabatnya dari SD yang selalu bersamanya itu membuat manik Luffy melebar. Tak pernah sekalipun sang sahabat yang gila pedang ini menaikkan suaranya pada Luffy. Bilapun marah, Zoro hanya akan mengomelinya, dan Luffy akan membalasnya dengan tawa. Tangan kecilnya bergetar, menggenggam erat tali ranselnya.
Luffy mengalihkan pandangannya pada sahabatnya yang terakhir. Sanji, pemuda blasteran Jepang-Prancis yang suka menggoda wanita namun tak pernah berpacaran dengan mereka. Biasanya ia akan memarahi Zoro karena bertingkah tidak sopan pada wanita, namun apa yang ditemukan Luffy adalah sosok Sanji yang mengalihkan pandangannya, dengan raut wajah sedih dan kecewa. Seketika tubuh Luffy dingin. Bibirnya bergetar, dan pandangannya kabur.
"Oh…"
Ia membalikkan badannya dan berjalan keluar kelas, meninggalkan keempat mantan sahabatnya yang kini berpencar menuju bangku mereka masing-masing. Tak usah berkata apa, ia sudah tahu maksud mereka. Rumor yang ia dengar dari Buk Robin telah terdengar oleh mereka. Sebuah rumor yang tidak tahu disebarkan oleh siapa, yang menyangkut kelima sekawan ini.
Sebuah rumor yang menyatakan bahwa Luffy hanya berteman dengan mereka dengan maksud buruk. Bahwa ia tak peduli dengan Ussop yang yatim dan suka menyebarkan gossip buruk tentangnya. Tentang ia yang berteman dengan Nami agar bisa mendapat rahasia gelapnya. Tentang bagaimana ia hanya mau berteman dengan Zoro agar bisa mendapat ketenaran. Bahwa Sanji tidak lain hanyalah mainan untuknya, dan dia tak peduli sama sekali dengan cowok cantik sepertinya.
Mau melawan pun, Luffy tak bisa. Rumor itu terlalu kuat untuk dipatahkan. Mereka punya bukti palsu yang kuat, apapun yang ia katakan tak aka nada gunanya. Meski begitu, dalam hati terkecilnya ia berharap keempat sahabatnya mau mendengarkan. Namun sepertinya harapan itu hanyalah omong kosong. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju belakang sekolah. Memilih bersembunyi di gudang kosong, dibandingkan menahan tangis di ruang kelas penuh serigala berbulu domba. Lagipula tak akan ada yang peduli, selain Buk Robin, Pak Franky, dan Pak Brook yang ketiganya tak mengajar di kelasnya hari ini.
Author's note:One Piece adalah milik Eichiro Oda, saya hanya seorang penulis fanfiksi biasa yang meminjam karakternya.
