Sudah tiga hari Luffy sendirian. Keempat sahabatnya telah berpisah, mencari pergaulan baru di antara orang-orang penipu. Hatinya hancur. Ia paling benci sendiri. Seolah dunia membencinya, ditambah hubungan kakek dan kakaknya di rumah semakin hancur. Setiap hari mereka bertengkar, saling melempar cacian dan barang, tak jarang dirinya menjadi korban amarah mereka. Matanya panas, hatinya sakit. Sudah lama ia berjuang agar tak jatuh, namun saat ini ia merasa kalah. Kepalanya yang ia senderkan di dinding gudang dibenturkan dengan keras, ingin menggantikan sakit di hatinya dengan sakit yang lebih gampang untuknya obati.

"Lebih baik kamu hentikan itu, sebelum aku harus menghubungi ambulans karena seseorang mengalami gegar otak."

Sebuah suara berat membuyarkan lamuan sang gadis. Dicarinya sumber suara, dari arah pintu belakang sekolah tampak sesosok pemuda tinggi berkulit gelap. Pemuda itu berjalan santai, dengan kedua tangannya di maskkan ke kantong jaket hitamnya. Manik kelabunya menatap tajam sosok Luffy yang menatapnya lemas, seolah menilainya. Dengan hembusan nafas berat sang gadis mengalihkan pandangannya dan berkata, "Apa maumu Ketua OSIS? Minta tidur denganku? Maaf ya, aku bukan jalang seperti gadis-gadis lain."

Sebuah seringai terpampang di wajah tampan sang pemuda, "Tentu saja kau bukan, mana ada wanita jalang yang memukul wajah pria yang menggodanya. Ya kecuali kalau mereka seperti itu karena keterpaksaan."

Luffy masih menundukkan kepalanya ketika ia merasakan seseorang duduk di sebelahnya. Manik cokelatnya mengerling ke samping, mendapati sang ketua OSIS duduk bersandar dengan santai, manik kelabunya menatap langit, seulas senyum pahit terlukis di bibir tipisnya.

"Ngapain kamu ke sini huh? Bukannya ketua OSIS sepertimu biasanya sibuk dan nggak peduli dengan orang-orang sepertinya?"

"Apa salah aku khawatir?"

"Tentu saja, kalau kamu melihat tingkah manusia-manusia sialan itu."

"Maaf saja, aku bukan bagian dari mereka. Justru, aku juga membenci mereka. Mereka tak hendaknya benalu yang menyebalkan."

Alis Luffy terangkat, matanya menatap sang pemuda dengan selidik. Mengerti maksud tatapan sang gadis, pemuda itu menambahkan, "Salah satu temanku nyaris bunuh diri karena mereka. Alasannya sederhana, mereka iri. Bepo anak yang baik, juga pintar, meski ia berasal dari keluarga pas-pasan. Tapi apa daya, dunia ini penuh manusia pendengki. Mereka menyebarkan berita-berita bohong tentang Bepo hingga ia tak kuat. Jika bukan karena kak Zepo pulang lebih cepat mungkin aku akan kehilangan salah satu sahabat terbaikku."

Ingin rasanya Luffy tak percaya. Namun melihat tatapan itu, kebencian yang dalam serta amarah yang terlalu lama dipendam, membuatnya yakin bahwa ia mengatakan yang sebenarnya. Namun masih ada yang ganjal…

"Itu bukan semuanya kan?" tanyanya hati-hati.

Manik keduanya saling bertatapan, sebelum manik kelabu itu beralih kembali menatap langit, "Kalaupun ada, bukan berarti aku mau memberitahumu."

Luffy menatapnya dalam, berusaha melihat ekspresinya, mengerti akan apa yang ia pikirkan. Ekspresi sang lawan bicara keras, dengan mata yang menatap benci pada langit, seolah mengingat kenangan yang kelam, dan marah akan nasibnya. Meletakkan dirinya pada posisi Law, ia mengerti maksunya. Ia pun tak akan mau menceritakan masa lalunya pada orang yang baru dikenal. Ia bahkan tak yakin apa ia berani menceritakannya pada sahabat-sahabatnya dulu.

Sebuah desahan nafas menariknya dari lamuan, matanya melirik ke asal suara dan menemukan Law memberinya sebuah senyuman pahit, "Tapi aku bisa bilang padamu, bahwa sebuah rumor telah menghancurkan orang-orang yang kucintai. Aku hanya tidak mau kamu bernasib sama denganku. Sudah terlalu banyak orang di dunia ini yang hancur karena rumor palsu."

Luffy tertegun. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, hatinya terasa seperti diremas oleh sesuatu. Harusnya ia tidak seemosional ini, namun apa daya, ia sudah lelah. Mendapat uluran tangan yang tak terduga ini cukup membuatnya sedih bercampur bahagia.

Tangan tangan kecilnya terulur dan merangkul pemuda di sampingnya. Air matanya tak dapat ia bendung. Ia menangis tersedu-sedu di bahu Law, tak mengindahkan usaha sang pemuda untuk mendorongnya. 5 menit berlalu dan Law akhirnya menyerah, memilih untuk balas merangkul sang gadis dengan kikuk, mengelus rambut hitam pendeknya dengan tangan bergetar.

Mereka duduk dalam posisi itu hingga Luffy berhenti menangis. Mereka melepaskan pelukan dan saling menjauhkan diri dengan wajah memerah, Luffy sendiri tak tahu apa warna merah di wajahnya karena menangis atau suatu hal lain. Keduanya tak menatap satu sama lain, keheningan pun menyelimuti mereka, yang terkadang terisi oleh Luffy yang berusaha menghilankan air matanya.

Setelah beberapa menit Law pun berkata, "Tapi bukan berarti aku melakukan ini dengan hati ikhlas ya. Aku juga punya tujuan tersendiri untuk menolongmu."

Luffy menoleh dan menatap balik manik kelabu itu.

"Aku pikir aku tahu siapa yang menyebarkan rumor-rumor itu, dan jika tebakkan ku tidak salah, maka orang itu adalah orang yang sama yang telah menghancurkan reputasi banyak orang di kota ini." Lanjut Law dengan wajah serius.

"Siapa?"

Law menarik nafasnya dalam dan berkata, "Donquixote Doflamingo. Kepala sekolah kita."