Urban Legend Game!

Disclaimer : Furudate Haruichi.

Warning : OC,OOC, Typo dan lain sebagainya.

A/n : Dichapter kali ini sangat tidak dianjurkan untuk mencoba permainan ini, meski terlihat seperti permainan jelangkung. Tapi ini sangat tidak dianjurkan dilakukan dikarenakan berbeda dan lebih berbahaya dari permainan Jelangkung. Apapun alasannya!! Jangan coba-coba melakukannya demi ingin membuktikan apakah ini benar atau tidak. Mohon kerja samanya.

Happy reading...

Seminggu sudah berlalu sejak Hinata menyelesaikan permainan Daruma-san.

Sudah seminggu pula Hinata tak bertegur sapa dengan anggota klub Voli nya itu. Bahkan Kageyama yang menjemputnya untuk makan siang bersama pun tak Ia idahkan.

"Hinata!" Panggil Sugawara saat Ia tengah berjalan menuju kantin sendirian.

Hinata berbalik dan menatap senpainya itu dengan raut muka datar.

"Ano.. etto.. aku tahu k-kamu masih marah. Tapi em.. kumohon maafkan kami. Kami tidak akan melakukannya lagi." Ucap Sugawara membungkukkan badannya. Melihat ini Hinata hanya bisa menghela nafas.

"Baiklah senpai. Tapi, kuharap kalian tidak melakukannya lagi."

"T-tentu saja."

oOo

Hinata sibuk memperhatikan latih tanding antara Tim Karasuno melawan Nekoma. Dua hari lalu mereka mengikuti kamp pelatihan di Universitas Shinzen yang diadakan oleh Pelatih tim Nekoma.

Hinata menghembuskan nafasnya lelah, ini membosankan baginya. Ia juga ingin ikut bermain. Apalagi kalau lawannya adalah Nekoma.

"Huft.."

"Oi chibi-chan!!" Panggil seseorang sembari menepuk pundaknya.

Hinata berbalik dan menatap pemuda berambut campuran antara putih dan hitam.

"Oh Bokuto-san ada apa?"

"Kau pasti bosan bukan?" Hinata hanya mengangguk.

"Bagaimana kalau mendengar cerita dariku?"

"A-ah bagaimana ya. Tapi sekarang sedang latihan bukan?"

"Kalau begitu saat istirahat nanti. Mari kita bermain!!" Pekiknya senang.

"A-ah.. ya." Hinata tak tau ingin berkata apa lagi. Pasalnya mendengar suatu cerita membuatnya agak trauma.

oOo

Sesuai dengan perkataannya, Bokuto kini mengumpulkan orang-orang di gym satu. Dengan duduk melingkar pula.

Tak banyak, disana hanya ada tim Karasuno, BokuAkaa, Kuroo,Lev, Kenma dan Yaku. Karena hanya mereka yang berminat dengan apa yang ingin dilakukan oleh Bokuto.

"Jadi.. kita akan melakukan apa?" Tanya Akaashi malas.

"Hey hey hey!! Kau seharusnya lebih semangat, Akaashi!!"

"Sebenarnya kita mau apa sih?" Tanya Yaku.

"Kita akan bermain Truth or Dare!" Sahut Bokuto semangat. Sedangkan yang lainnya mengernyit heran, terlebih Hinata.

'Bukannya tadi Bokuto-san bilang ingin bercerita ya.' Batinnya.

"Tenang aku sudah menyiapkan botol kosong." Ucapnya tersenyum.

"Baiklah." Ucap Kenma malas.

"Aku duluan yang akan memutar botolnya." Ucapnya.

Bokuto memutar kencang botol yang tadi Ia bawa, entahlah dapat darimana author pun tak tahu.

Putaran botol semakin lama semakin melambat dan berakhir ke arah Akaashi.

"Akaashi yang kena. Kau ingin Truth atau Dare?" Tanya Bokuto. Akaashi terlihat menimbang-nimbang apa yang akan dia pilih.

"Dare!"

"Uwaah, ah karena tadi aku sudah berjanji pada Chibi-chan. Jadi darenya adalah.. bercerita, terserah apa yang ingin kau ceritakan." Ucap Bokuto asal.

"Baiklah, aku mulai ya?" Semua orang langsung mengangguk mantap.

"Cerita ini tentang permainan bernama Hitori Kakurenbo.

Permainan ini adalah permainan petak umpet yang dilakukan bersama hantu."

"T-tunggu, Akaashi-san.. i-ini kau menjelaskan tentang permainan h-horor?" Hinata menghentikan Akaashi.

"Ya, ah aku hanya bisa menjelaskan. Bukan bercerita. Jadi begini tak apa bukan?" Tanyanya pada Bokuto.

"Hm. Chibi-chan tenang saja. Permainan itu hanya mitos kok." Ucapnya sambil nyengir.

"Aku lanjut."

"Kata orang yang pernah memainkannya. Cara bermainya dengan menyiapkan sebuah boneka yang mempunyai tangan dan kaki, beras, pisau, gunting kuku, seuntai benang merah dan jarum jahit, air garam dan sebuah bathtub."

"Bathub? Kenapa harus bathub?" Kali ini Kageyama yang berbicara. Ia penasaran, kenapa selalu bathub? Kemarin Daruma-san juga di bathub.

"Aku juga tidak tahu, ini hanya cerita yang sudah ada sejak dulu." Sahut Akaashi agak malas.

"Sudah lebih baik lanjutkan saja!" Ucap Lev tak sabar kelanjutannya. Ia penasaran akan permainan apa saja yang ada di jepang itu.

"Kalau barang-barang yang diperlukan sudah lengkap. Berikan bonekamu sebuah nama. Belah dia dengan pisau dan keluarkan segala isinya, lalu tukar dengan beras dan beberapa potongan kukumu."

"Tapi aku juga pernah mendengar kalau kita harus memasukkan beberapa titik darah kita juga disana." Ujar Yaku. Akaashi langsung nampak berpikir.

"Aku tidak tahu, yang ku tahu hanya kuku yang dimasukkan." Sahutnya.

"Ah Yaku-san, bukannya kalau menambahkan darah akan sangat berbahaya. Maksudku, itu bisa saja menjadi kutukan nantinya." Ucap Hinata yang entah dapat darimana jawaban seperti ini.

"Benar kata Hinata, yang kutahu permainan ini campuran antara voodo orang barat dan kutukan orang jepang. Jadi kemungkinan sangat berbahaya kalau kita meneteskan darah kita." Sugawara ikut menambahkan.

"Kupikir kalian tak tahu akan urban legend ini." Ucap Akaashi menatap seluruh orang yang ada.

"Ya, kami tahu. Kecuali satu orang." Ucap Tsukishima.

"Satu orang?"

"Chibi-chan kah?" Semua anggota Karasuno mengangguk bersamaan.

"Wooah! Chibi-chan memang sangat polos sih!" Pekiknya.

"Jadi aku harus apa ini? Lanjut atau berhenti?"

"Lanjutkan saja."

"Tapi bagaimana kalau Hinata akan ketakutan."

"Dia memang ketakutan. Lihat saja mukanya sudah pucat."

"Kurang ajar kau Tsukishima! Tentu saja aku takut. Kau belum pernah merasakan diikuti oleh makhluk halus. Makanya bisa berbicara seperti itu!" Pekik Hinata sembari memukul lengan Tsukishima.

"Eh? Shoyo pernah diikuti oleh makhluk halus?" Ucap Kenma sedikit kaget.

"Um.. ini karena ulah mereka semua!" Tunjuknya pada anggota tim Karasuno.

"Tapi itu kau juga yang mau."

"Siapa yang mau? Kalau saja aku tidak berjanji pastinya tidak akan kulakukan!"

"Memangnya mereka menyuruhmu apa?" Tanya Yaku penasaran karena melihat Hinata yang terlihat kesal sekarang.

"Mereka menyuruhku memainkan Daruma-san!" Seketika semua yang ada disana dibuat kaget akan perkataan Hinata.

"K-kau berhasil?" Tanya Bokuto.

"Ya, untungnya berhasil." Sahut Hinata.

"W-wah kau memang hebat Chibi-chan!!!" Bokuto langsung mendekat dan memeluk Hinata erat.

"Jangan peluk seerat itu, Bokuto. kasihan Hinata tidak bisa bernafas." Ucap Akaashi. Bokuto melepaskan pelukannya.

"Jadi apa harus kulanjutkan atau dihentikan?" Tanya Akaashi.

"Lanjut saja senpai."

"Em.. Jahit kembali dengan benang merah. Pada jam 3 pagi, pergi ke kamar mandi dan isi bathtub dengan air."

"Pegang bonekamu dan sebut namanya. Dan kita harus mengatakan 'aku yang jadi pertama.' Dengan lantang sebanyak tiga kali."

"Kemudian Letakkan boneka itu dalam air. Matikan lampu di seluruh rumah. Televisi boleh menyala tapi harus disaluran kosong."

"Tapi bukankah sulit menemukan saluran kosong?" Ucap Hinata.

"Jam 3 pagi Bogee! Channel televisi jam segitu banyak yang menghentikan acara dan memasang saluran kosong." Ucap Kageyama.

"Tumben kau pintar, sedang sakit ya?" Celetuk Tsukishima membuat Kageyama menahan amarahnya agar tidak menghantamkan bola voli kemuka Tsukishima.

"Aku lanjut, Tutup matamu dan hitung sampai 10. Kembali ke ruangan boneka tadi berada dan teriakkan "Aku menemukanmu" lalu tusuk ia dengan pisau."

"T-tunggu Akaashi-san. Bukankah itu keterlaluan? Maksudku kita memanggil arwah itu masuk kedalan boneka itu. Lalu kita menikamnya dengan brutalnya. Tentunya akan membuat arwah itu marah bukan?"

"Kau memang benar, tapi aku juga tidak tahu. Ceritanya secara turun temurun seperti ini." Sahut Akaashi bingung.

"Baiklah lanjut saja Akaashi-san."

"Setelah Itu, katakan "Okay, sekarang giliranmu" ("mu" yakni iblis) dan letakkan boneka itu kembali. Lari keluar dan sembunyilah dengan mengambil air garam."

"Apa jika memainkan permainan ini akan mati?" Tanya Hinata penasaran.

"Aku tidak tahu juga sih. Tapi katanya kalau salah mengakhiri permainan ini, kita bisa diikuti oleh arwah itu seumur hidup atau bisa juga arwah itu mengambil tubuh kita begitu." Jelas Akaashi.

"Lalu cara menghentikannya?" Tanya Lev.

"Untuk mengakhiri permainan ini, masukkan air garam dalam mulutmu. Carilah boneka yang sudah kau beri nama tadi. Yang kemungkinan tidak mudah ditemukan, boneka itu akan berpindah-pindah ke ruangan yang tak terduga sebelumnya dan semburkan air garam. Lalu teriakkan "Aku menang!" tiga kali. Dan Bakar boneka itu biar tak dihantui."

"Ooh begitu.. ah aku jadi penasaran." Ucap Lev.

"Kau benar Lev, aku juga penasaran." Ucap Yaku.

"Yaku-san jangan, itu permainan berbahaya."

"Kita tidak tahu itu berbahaya atau tidak. Bukankah itu hanya mitos ?" Ucap Bokuto.

Tim Karasuno hanya diam, ah mereka sih sebenarnya penasaran juga. Tapi Mereka tidak ingin membuat Hinata kembali mencak-mencak sambil mengeluarkan sumpah serapahnya karena kembali berpotensi melibatkannya pada hal seperti ini.

"Jangan bilang begitu senpai, kalau Daruma-san saja sudah semengerikan itu apalagi Hitori Kakurenbo." Ucap Hinata serius.

"Ah baiklah."

"Giliranku untu memutar botolnya." Ucap Akaashi sembari memutar botol yang tadinya mengarah padanya.

Botol berputar searah jarum jam. Dan kemudian berhenti tepat ke arah Lev.

"Truth atau Dare?"

"Hm.. Dare saja!"

"Hm.. apa ya." Bokuto membisikkan sesuatu pada Akaashi.

"Tapi Bokuto.."

"Ayolah."

"Ano.. em.. mainkan permainan Hitori Kakurenbo. Kau boleh memilih orang untuk menemanimu bermain."

"Woaah!! Kalian mengetahui rasa penasaranku ya? Hm.. bagaimana ya. Hinata ayo kita mainkan permainan itu!" Pekiknya. Membuat tim Karasuno membuat posisi perlindungan untuk Hinata.

"Tidak boleh, ajak yang lain saja sana."

"What? Tapi aku ingin Hinata yang menemaniku. Kalau mama Yaku pasti nanti langsung menolak." Lev mengeluarkan jurus memelasnya.

"Tapi Hinata.."

"Baiklah.. tapi kalau aku kenapa-kenapa kalian harus bertanggung jawab! Dan kalau aku nantinya mati aku akan menghantui kalian semua agar kalian tidak ada yang hidup dengan tenang!" Ucap Hinata serius dengan mata memicing tajam. Sedangkan Lev langsung bersorak senang.

"Baiklah."

"Aku ikut boleh kan? Aku tidak ingin Hinata kenapa-kenapa." Ucap Sugawara. Dan tentunya diangguki oleh Akaashi.

"Oh iya semakin banyak orangnya permainan ini semakin berbahaya jadi hati-hati."

oOo

Jam meunjukkan pukul tiga pagi. Lev, Sugawara, Hinata dan Yaku yang tiba-tiba ingin ikut kini menatap boneka yang ada di tangan Lev. Lev memberinya nama Poo.

Mereka sekarang tengah berada di lantai satu, tempat kamar mandi berada.

Mereka melakukan sesuai dengan apa yang tadinya di katakan Akaashi.

"Kita memasukkan kuku atau darah?" Tanya Yaku.

"Kuku saja, Yaku-san." Sahut Hinata.

"Kenapa begitu?" Tanya Lev.

"Warna merah dianggap mewakili pembuluh darah. Dan kurasa kalau kita memasukkan darah kita, itu akan menjadi sebuah kutukan." Sahut Hinata.

"Baiklah kita gunakan kuku saja oke?" Ucap Sugawara. Mereka memotong beberapa kuku mereka dan memasukkannya kedalam perut boneka berbentuk teddy bear yang ada ditangan Lev.

Mereka juga menyiapkan beberapa gelas air garam, dan membuat garis di jalan menuju tempat teman-temannya tidur sekarang.

"Itu untuk apa?" tanya Lev penasaran.

"Harusnya, ini menghentikan roh yang ingin pergi ke suatu ruangan tertentu untuk menemukanmu."

"Jadi kita akan bersembunyi disana?" Tanya Hinata.

"Tidak! Kalau seperti itu hal ini tidak akan menyenangkan bukan?"

"Lalu untuk apa kita menaburkan banyak garam ini?" Ucap Hinata bingung.

"Supaya yang lain tidak dia ganggu."

Hinata hanya mengangguk dan membantu menaburkan garam agar lebih cepat selesai.

Setelah selesai mereka kembali kelantai satu, berdiri didepan pintu kamar mandi.

"Kalian yakin?" Ucap Hinata.

"Mau bagaimana lagi? Ini tantangan." Sahut Lev.

"Bukankah seharusnya permainan ini dilakukan ditempat kosong. Tapi ini teman-teman kita ada dilantai dua." Ucap Hinata beralasan.

"Tenang, maka dari itu tadi aku menanurkan garam. Agar tidak bisa menyentuh mereka."

"O-oh."

Mereka memasuki kamar mandi, meletakkan boneka itu wastafel yang mereka isi air. Karena disana tak ada bathub.

"Lev, Hinata, Sugawara dan Yaku jadi yang pertama!

Lev, Hinata, Sugawara dan Yaku jadi yang pertama!

Lev, Hinata, Sugawara dan Yaku jadi yang pertama!"

Ucap mereka, kemudian mereka berlari keluar. Mematikan semua lampu yang menyala di lantai satu dan kemudian kembali kedalam kamar mandi.

Lev mengeluarkan pisau lipat kecil dari kantong celananya.

"Poo. Lev, Hinata, Sugawara dan Yaku menemukanmu!"

Mereka menariknya keluar, Lev menusuk jantung boneka itu dan memastikan bahwa dia memutuskan banyak benang merah sebelum membuangnya kembali ke bak wastafel.

"Poo jadi yang kedua! Poo jadi yang kedua! Poo jadi yang kedua!" Mereka bernyanyi kecil, kemudian berlari kembali menuju tempat persembunyian mereka.

Mereka masing-masing meneguk air garam, memastikan untuk tidak menelannya, kemudian memegang botol mereka dengan erat sebelum bersembunyi di lemari besar yang ada disalah satu ruangan di Universitas itu.

Lima menit pertama mereka hanya diam menunggu. Tidak ada yang terjadi.

Di menit berikutnya mulai terdengar suara-suara aneh dari luar.

Suara Ketukan, langkah kaki dan beberapa barang terjatuh berbunyi saling bersahutan.

Hinata yang duduk dekat pintu lemari langsung memegang tangan Sugawara erat. Ia takut, sangat takut. Sugawara yang tahu sang Kouhai tengah ketakutan langsung memeluknya dan mencoba menenangkan sang Kouhai.

Lev dan Yaku langsung meringkuk mundur dalam lemari.

Suasana kini terasa semakin dingin. Hinata semakin tak bisa mengendalikan dirinya agar tidak ketakutan.

Suara-suara diluar lemari terdengar semakin jelas.

'Aku..'

'Akan..'

'Menemukan kalian..'

Suara aneh yang entah darimana itu terdengar sangat jelas. Hinata tentunya langsung memeluk erat tubuh senpainya.

'Astaga ini benar-benar mengerikan!' Batin Yaku dan Sugawara.

Suara langkah kaki terdengar. Seakan mendekati kearah tempat mereka bersembunyi.

Semakin lama suara itu semakin dekat. Sugawara perlahan bergerak mendekati Yaku dan Lev yang berada dibagian yang agak dalam, membawa Hinatanya perlahan.

Ia merasakan tubuh Hinata bergetar hebat, begitu pula Lev dan Yaku yang melihat Hinata.

Seberkas rasa bersalah menyerang Lev saat melihat Hinata yang seperti ini.

'Tak Tak Tak'

'Tok..Tok..Tok.. Tok.' Lemari tempat mereka bersembunyi diketuk dari luar. Sugawara langsung membekap mulutnya dan mulut Hinata agar tidak mengeluarkan suara karena kaget, begitu pula yang dilakukan Yaku dan Lev.

"Hiks.." Hinata kini mulai terisak, Ia sangat ketakutan. Ini melebihi hal yang Ia lakukan sebelumnya.

Suara dari luar pun berhenti. Keadaan kembali sunyi senyap. Sugawara mengelus punggung Hinata lembut agar Hinata tenang.

Hinata yang mengerti akan apa yang dilakukan senpainya pun mengangguk dan menghapus jejak air matanya.

Mereka merasa keadaan sudah aman pun mencoba mengintip dari sela lemari.

Tak ada siapa-siapa berarti mereka aman. Begitulah kira-kira pemikiran mereka.

Hingga saat Hinata bergeser sedikit karena Ia melihat Lev yang agak kesempitan membuat lemari sedikit bergerak.

Trak

Pintu lemari terbuka tiba-tiba dan disana sudah ada boneka teddy bear tadi tengah membawa sebuah pisau. Memang karena suasana yang gelap didalam sana dan hanya membuat Hinata yang terlihat.

Hinata langsung merasa ditarik oleh sesuatu untuk keluar dari dalam lemari. Ia berusaha mati-matian agar tidak bersuara.

Sedangkan Sugawara mecoba menarik Hinata agar tak keluar dari lemari.

Lev dan Yaku pun ikut membantu Sugawara menarik Hinata namun tiba-tiba sebuah pisau melayang menuju Hinata dan tepat mengenai lengan kanannya.

Seketika mata mereka membola ketika melihat pisau yang kini menancap lengan Hinata.

"Hentikan permainan ini senpai. Aww.. kumohon." gumam Hinata meringis karena tusukan pisau yang ada dilengannya.

Tanpa aba-aba Sugawara dan Yaku keluar dari lemari dan mencari jejak boneka itu.

Mereka melihatnya, ada di pojok ruangan dekat pintu masuk. Segera mereka mendekat dan menyemburkan air garam yang tadi mereka siapkan.

Seketika mereka berteriak "Kami menang!!" Sebanyak tiga kali. Dan seketika itupula keadaan menjadi tenang. Suasana dingin pun berhenti. Yaku langsunh menyalakan lampu yang ada diruangan dan menatap kearah boneka tadi.

"Kita harus membakarnya." Ucap Sugawara tegas. Yaku hanya mengangguk.

"Lev telepon ambulance, dan juga hati-hati mengeluarkan Hinata dari sana." Lev mengangguk. Oh sungguh, Ia jera memainkan permainan seperti ini.

Apalagi membuat salah satu temannya terluka. Sungguh Lev merasa sangat bersalah.

Ambulance datang dan itu tentunya membangunkan semua anggota yang tadinya tidur dilantai dua.

Mereka segera keluar dan melihat Hinata yang tengah mendapatkan pengobatan.

Sugawara dan Yaku kini membakar boneka itu tak jauh dari tempat Lev dan Hinata berada.

Setelah boneka itu berubah menjadi abu baru mereka mendekat kearah Hinata.

"Hinata maaf karena diriku kau terluka."

"Tak apa yang terpenting kita selamat."

"Kuta berhasil, syukurlah." Ucap Yaku menghela nafas.

"Hinata kenapa?" Tanya Daichi.

"Dia terluka terkena pisau yang dilemparkan oleh boneka yang kami gunakan tadi." Sahut Sugawara seadanya.

"Woah! Lagi-lagi urban legend itu agaknya benar." Ucap Tanaka.

"M-maafkan aku! Ternyata hal itu sangat berbahaya. Aku sungguh minta maaf. Terlebih padamu Chibi-chan." Ucap Bokuto. Hinata hanya mengangguk.

"Kau hebat Hinata! Kau sudah dua kali mengalami hal yang tidak menyenangkan!" Ucap Yamaguchi.

"Terima kasih, tapi.. kalau tidak ada Sugawara-senpai, Yaku-san dan Lev aku pasti sudah tiada." Ucapnya.

"Jadi.. terima kasih senpai, Yaku-san dan Lev." Tambah Hinata tersenyum. Membuat Sugawara, Yaku dan Lev langsung memeluknya dan mengucapkan 'maaf.' Berulang kali.

'Kuharap ini terakhir kalinya aku terperosok dalam permainan berhantu seperti ini.' Batin Hinata lelah.

*TBC

Beneran ini mengerikan..

Coba deh liat di youtube tentang ini.. uh.. makanya Hikari gak nyaranin mencoba urban legend yang ada disini.

Mending cari aman aja.

Maaf kalau ada kekurangannya. Tapi sekedar mengingatkan jangan berani-berani mencobanya.

Ending dari permainannya hanya imajinasi Author. Kalau yang sebenarnya, Hikari gak tau!

Terima kasih telah membaca Ff ini ...

Semoga kalian terhibur.