Urban Legend Game!
Haikyuu!! Furudate Haruichi.
Warning : OOC, Typo dan lain sebagainya.
A/n : Jangan coba-coba melakukannya demi ingin membuktikan apakah ini benar atau tidak. Soalnya Hikari juga belum pernah mencobanya. :
Happy Reading~~
Hinata berjalan santai mengelilingi Universitas Shinzen, Ia bosan sedari tadi hanya melihat teman-temannya latih tanding.
Uh andai saja hantu kemarin tidak melukai lengannya sudah pasti Ia akan ikut latih tanding.
Merasa lelah berjalan-jalan, Hinata memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon yang agak rimbun oleh dedaunan.
Disana terasa sejuk, padahal ini masih musim panas.
Hinata memejamkan matanya, Ia mencoba menenangkan dirinya dari kejadian-kejadian yang baru-baru ini terjadi.
Ia mengatur pernafasannya. Ah suasana tenang dan sejuk ini membuatnya tenang.
Bolehkan Hinata bersembunyi disini saja, saat Teman-temannya memiki ide gila untuk melakukan permainan yang bersangkutan dengan hantu?
'Semoga hari ini tidak ada pikiran konyol untuk mencoba permainan berbahaya lainnya!' Batinnya.
Merasa sudah cukup lama Ia duduk sambil meresapi ketenangan yang sungguh bisa menghilangkan rasa stressnya, Hinata pun berniat untuk kembali ke gym. Tempat teman-temannya berada.
Dengan langkah santai Ia memasuki gym, suasananya seperti biasa. Ramai. Tapi... ada yang berbeda.
Pelatih serta pembimbing mereka.. tidak ada.
Oh Hinata tiba-tiba merasakan firasat buruk.
"Oh Hinata!! Ayo kemari!" Teriak Tanaka menyuruhnya mendekati kelompok Karasuno yang berada disalah satu sisi Ruangan.
"Hey hey hey!! Akhirnya Chibi-chan menampakkan dirinya!" Pekik Bokuto yang melihat Hinata memasuki gym.
"Bokuto kau berisik." Ucap orang disamping Bokuto, Akaashi.
"Aku tidak berisik! Aku hanya bersemangat!!"
"Oii Chibi cepat kemari!" Ucap Tsukishima bagai perintah.
"Iya iya, sabar sedikit kenapa." Gerutu Hinata. Padahal kan tadi Ia hanya memperhatikan tingkah Bokuto sebentar.
Setelah sampai ditempat teman-temannya berada. Ia sedikit mengernyit heran. Kenapa rasanya teman-temannya ini aneh ya?
"Ano.. kalian kenapa?"
"Shoyo.. kau tahu Kokkuri-san?" Tanya Nishinoya tersenyum.
"Tidak, aku tidak pernah tau ataupun kenal dengan orang yang bernama Kokkuri." Sahut Hinata polos.
"Bukan itu Shoyo." Nishinoya memutar bola matanya malas.
"Lalu? Oh Jangan bilang itu permainan pemanggil arwah lagi!"
"Ah haha.. em.. iya itu -" sahut Nishinoya kaku.
"Oh, Aku pergi saja. Kalau kalian mau main itu. Tidak usah ajak aku. Aku tidak ingin kembali merasakan hal-hal mengerikan seperti itu lagi!" Ucap Hinata menolak sebelum terkena jebakan Nishinoya untuk kedua kalinya.
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan teman-temannya, toh ia diizinkan untuk tidak mengikuti latihan, jadi Hinata tak ambil pusing. Semua yang ada disana menatapnya dengan pandangan bingung karena melihat Hinata yang keluar dari gym, kecuali tim Karasuno.
"Kau sih, kenapa malah menanyakan tentang Kokkuri-san." Sikut Tanaka pada Nishinoya.
"Ish, maaf aku keceplosan tadi."
"Yasudah, ajak yang lain saja. Bagaimana kalau Lev?" Ucap Nishinoya.
"Oh, ide bagus!!" Pekik Tanaka.
"Kenapa tidak Ousama saja?" Ucap Tsukishima.
"Hei kenapa malah aku? Kenapa tidak kau saja yang bermain."
"Hei aku ikut bermain juga. Kau saja yang plin plan, bingung mau ikut main atau tidak. Kalau takut bilang saja." Ejek Tsukishima.
"Cih. Oke! Aku ikut."
"Nah senpai, sudah lengkap. Biar si Ousama yang menggantikan posisi Hinata disini." Ucap Tsukishima.
"Uwaah.. Oke! Kita mainkan nanti setelah makan malam!" Pekik Nishinoya.
"Kalian yakin? Ini juga berbahayakan?" Ucap Sugawara agak khawatir.
"Tapi tidak seberbahaya yang dilakukan Hinata, senpai." Sahut Nishinoya.
"Ya, jadi tak usah khawatir!"
Sugawara hanya bisa diam, dalam hati dia berdoa semoga tidak terjadi hal buruk pada para kouhainya malam nanti.
Hinata yang tadinya tengah khikmad menyantap makan malamnya tiba-tiba terganggu karena melihat wajah suram partnernya. Apa yang tengah terjadi pada si partnernya yang cerdas itu?
Ia kemudian memperhatikan dengan intens gerak-gerik Kageyama yang agaknya terlihat aneh. Kageyama agak terlihat gugup. Oh apa Hinata harus menanyakan padanya, kenapa dia bisa terlihat gugup dengan wajah suram menakutkannya itu?
"Kageyama." Panggilnya, menyita perhatian teman-temannya.
Kageyama menatap Hinata bingung.
"Kau kenapa? Kau terlihat aneh." Ucap Hinata.
"Apa maksudmu bogee? Aku.. aku tidak kenapa-kenapa."
"Oh, kukira kau tadi sakit. Ternyata hanya perasaanku saja." Ucap Hinata memutar bola matanya malas.
"Oii Chibi-chan! Setelah ini kita menonton mereka main yuk!" Ajak Bokuto sembari menunjuk Teman satu timnya.
"Main? Main apa?"
"Katanya mereka mau main Kokkuri-san. Ah aku penasaran apa itu memang benar bisa menjawab pertanyaan kita."
Hinata hanya diam, uh apa tak apa jika Ia menonton temannya bermain Kokkuri-san.
Ia tidak akan terkena imbasnya juga bukan?
Yang bermain bukan dirinya, jadi otomatis dia akan selalu aman kan? Kan?
'Aman kan?' Batin Hinata.
"B-baiklah senpai."
"Uwooah!! Lihat Akaashi! Kau seharusnya seperti Chibi-chan!!" Tunjuk Bokuto kearah Hinata.
"Bokuto Urusai."
Tim Karasuno kini duduk membentuk lingkaran di ruang tidur mereka. Dan tentunya itu disaksikan oleh teman-teman mereka di tim lain.
"Ne Kenma.. Kokkuri-san itu apa sih?" Tanya Hinata pada Kenma yang masih asik memainkan gamenya di psp miliknya.
Mendengar pertanyaan Hinata, Ia langsung mempause gamenya. Kemudian memperhatikan Hinata yang menatapnya balik, menunggu jawaban.
"Kokkuri-san adalah nama dari roh yang akan dipanggil saat bermain."
"Iya aku tahu itu, tapi kenapa namanya jadi Kokkuri-san?"
"Nama Kokkuri sendiri diambil dari penggabungan nama 3 ekor binatang, diantaranya rubah, anjing, dan musang. "Kok" artinya kitsune (rubah), "ku" artinya inu (anjing), dan "Ri" artinya tanuki (musang)."
"Kenapa harus tiga hewan itu?"
"Karena, Rubah dipercaya bisa menjadi penipu yang licik, atau bisa juga menjadi guru yang dapat dipercaya. Anjing dikenal sebagai hewan pelindung. Sedangkan musang adalah hewan yang sangat nakal, tapi sering membawa keberuntungan. Ketiga dari unsur hewan-hewan di atas menjadi kombinasi untuk Kokkuri-san."
"Lalu? Oh apa permainan ini bisa dimainkan sendirian? Seperti Hitori Kakenranbu."
"Kurasa tidak bisa bermain sendiri seperti yang dilakukan saat bermain Hitori Kakenranbu itu. Yang bermain Kokkuri-san kebanyakan adalah anak muda, yang sering bertanya, "Kokkuri-san, siapa yang mencintaiku?" atau "Kokkuri-san, di universitas mana aku akan lulus nantinya?"
"Kenapa mereka malah bertanya pada hantu?"
"Mungkin karena hantu mengetahui masa depan?" Sahut Kenma dengan nada tanya.
"Lalu apa saja yang dibutuhkan untuk bermain permainan itu?"
"Untuk memulai permainan, kamu mesti minimal main berdua. Dan alat yang dibutuhkan adalah selembar kertas, sebuah pulpen, dan sekeping koin."
"Hm.. begitu. Terima kasih penjelasannya, Kenma."
"Hm."
Hinata mendekati teman-temannya, Ia ingin melihat bagaimana cara mainnya. Oh kenapa rasanya Ia jadi penasaran yah?
"Tsukishima kau sedang apa?" Tanya Hinata menatap Tsukishima yang asik menulis-nulis di atas selembar kertas.
"Aku sedang menggambarkan sebuah "torii" (portal kuno ala Jepang)."
"He? Lalu setelah menggambar torii kita harus membuat apa lagi?" Tanya Yaku penasaran.
"Di bagian atas-tengah dengan tinta merah. Kemudian tulis "YA" dan "TIDAK" disebelah kiri-kanan gambar torii. Jika sudah, tulis satu baris angka (0 sampai 9) dan juga tiga baris alfabet (A sampai Z)." Sahut Tsukishima sambil asik membuat kertas untuk bermain Kokkuri-san.
"Oh tolong buka semua jendela dan pintu disini agar Kokkuri-san bisa masuk kedalam ruangan ini dengan leluasa."
"Ano Tsukishima, kenapa harus gambar torii?" Tanya Hinata berjongkok disamping Tsukishima.
"Itu karena gambar torii akan dianggap sebagai gerbang kuil Shinto, dan roh akan masuk atau keluar permainan lewat sana."
"Cara bermainnya bagaimana?"
"Taruh koin di atas gambar torii. Setiap pemain mesti menyentuh koin untuk meninggalkan sidik jari disana. Lalu kita memanggil roh-nya dengan mengatakan, "Kokkuri-san, Kokkuri-san, jika kau ada disini, tolong gerakkan koin ini."
"Lalu kalau dia sudah ada disini?" Kali ini yang bertanya adalah Lev.
"Kamu boleh mengajukan pertanyaan apapun yang kau inginkan. Roh akan menjawabnya dengan menggerakkan koin ke arah bagian kertas sehingga akan membentuk jawaban."
"Hoo.. cepat mainkan. Aku ingin lihat." Titah Hinata membuat Tsukishima mendengus.
Sekitar lima menit, Tsukishima selesai membuatkan Torii serta yang lainnya.
"Baiklah, sudah selesai."
"Yeay main!!"
"Ayo yang mau ikut main mendekat." Ucap Tanaka.
Tsukishima, Kageyama, Tanaka, Nishinoya, dan Bokuto yang bermain kali ini. Hinata hanya memperhatikan dengan diawasi oleh Sugawara dan Daichi.
Mereka berlima pun menyentuh koin yang ada diatas kertas.
"Kokkuri-san, Kokkuri-san, Jika kau ada disini, tolong gerakkan koin ini." Ucap Mereka berlima bersamaan.
Sejenak tak terjadi apa-apa. Hinata bahkan sudah menatap ke arah Sugawara. Seakan berkata 'apa ini gagal?' Pada Sugawara.
'Tak tak.' Suara jendela ruangan mereka berbunyi, membuat semua atensi yang ada diruangan beralih pada Jendela yang baru saja berbunyi.
Semilir angin terasa berhembus. Hinata langsung memegang telapak tangan Sugawara. Tiba-tiba saja Ia merasa takut. Suasananya tiba-tiba berubah.
Mereka berlima pun kembali fokus pada koin yang mereka sentuh. Sedikit demi sedikit, koinnya bergerak kearah tulisan 'Yes'.
"W-woah! Koinnya bergerak!" Takjub Bokuto.
Semua yang ada disana hanya diam.
"Dia ada disini."
"Lalu?"
"Siapa yang ingin bertanya lebih dulu?" Tanya Tsukishima.
"Aku!"
"Kokkuri-san, Kokkuri-san. Apa makanan kesukaan si chibi-chan?" Tanya Bokuto.
Koin bergerak kederetan huruf. Perlahan tapi pasti koin itu bergerak membentuk sebuah kata.
"B-a-k-p-a-o D-a-g-i-n-g.. bakpao daging." Ucap mereka berlima.
Hinata yang mendengar dirinya dijadikan sebagai objek pertanyaan pun mendelik tajam.
"Sekarang giliranku, Kokkuri-san, Kokkuri-san.. apa Hinata Shoyo sekarang sedang diikuti sesosok makhluk halus?" Tanya Tsukishima. Hinata langsung menatap tajam kearah Tsukishima.
Koin bergerak..
"Koinnya bergerak lagi!"
Sedikit demi sedikit bergerak menuju sebuah kata. Hinata was-was. Oh semoga dia bilang tidak, pikirnya.
"Yes?" Ucap Tsukishima.
"A-apa maksudmu Tsukki!! Kau mau menakutiku lagi ya dengan bualanmu itu!" Pekik Hinata.
"Tidak, tapi lihat ini. Kokkuri-san bilang 'Yes' berarti kau tengah diikuti sosok tak kasat mata bukan?" Sahut Tsukishima.
"Tsukishima benar Shoyo. Kokkuri-san bilang 'yes'." Ucap Nishinoya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Huwaa.. Suga-senpai! Uuh kenapa mereka malah bertanya-tanya tentangku pada Kokkuri-san sih.. hiks..mereka kan bisa menanyakan tentangku padaku langsung." ucap Hinata memeluk Sugawara. Sugawara hanya bisa mengelus lembut punggung si pemilik nomor punggung 10 itu.
"Kokkuri-san Kokkuri-san, sosok apa yang tengah mengikuti Hinata Shoyo sekarang? Daruma-san atau Salah satu sosok dari permainan Hitori Kakurenbo?" Tanya Nishinoya.
Koin bergerak.. dari kata 'Yes' menuju kata 'No'.
"No?"
Tak lama koinnya bergerak lagi.. kearah deretan huruf.
"A-k-u.. aku?"
"Maksudnya apa?" Tanya Kageyama.
"Entahlah." Ucap Tanaka.
"Sudah hentikan saja permainannya. Kasihan Hinata." Ucap Akaashi yang sudah tidak tahan dengan aura yang ada disana.
"Tapi aku belum bertanya."
"Yasudah tanya cepat! Awas kalau kau bertanya tentang Hinata lagi!" Kali ini Daichi yang berucap.
"Ak-"
"Kokkuri-san Kokkuri-san.. sayonara." Ucap Kageyama. Kemudian bergerak kearah kata 'yes' Kageyama langsung menarik tangannya dari koin itu.
"Wah.. Kageyama apa yang kau lakukan? Kau menyerah lebih dulu?"
"Kurasa sudah cukup senpai, Hinata sangat ketakutan karena kita memakainya sebagai objek pertanyaan."
"Tunggu, aku bertanya sekali ini saja. Apa Hinata bisa melihat Hantu hanya karena dia sering melakukan hal berbau mistis?" Tanya Tanaka. Hinata langsung melemparkan botol yang ada didekatnya.
"Hinata!" Geramnya. Sedangkan Hinata langsung kembali memeluk Sugawara.
Koin bergerak kembali, perlahan.. Bokuto,Nishinoya, Tsukishima, Kageyama sontak membelalak kaget.
"Yes? Hinata kau bisa.. melihat hantu?"pekik Nishinoya.
"Tidak!" Teriak Hinata histeris dalam pelukan Sugawara.
"Sudah cukup. Kita hentikan saja." Ucap Tsukishima yang disetujui oleh Nishinoya.
"Kokkuri-san, Kokkuri-san.. Sayonara." Ucap mereka. Kemudian mereka menunggu koin bergerak ke kata yes dan kembali ke torii seperti semula. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Koin bergerak ke arah kata "No."
Mereka pun serempak melepaskan sentuhannya pada koin tersebut.
"Dia menolak untuk berhenti." Ucap Nishinoya dengan wajah pucatnya.
"Tsukishima.. kenapa ini? Bukankah seharusnya sudah berakhir?"
"Aku tidak tahu.. dia oh.. koinnya bergerak lagi."
'Aku akan menghantui kalian.. selamanya.'
"Sepertinya ada yang salah saat kita menghentikan permainan tadi." Ucap Tsukishima.
"Tsu-tsukki.. disebelahmu.." ucap Hinata terbata. Oh ini mengerikan. Makhluk apa itu. Rubah? Tapi.. bentuknya tidak seperti rubah.
"Apa maksudmu Hinata."
"Itu.. dia dia.. dia menatapku.. Oh Suga-senpai kumohon, Kirim aku pulang ke Miyagi sekarang!!" Ucap Hinata terdengar Frustasi.
Suasana ruangan berubah.. panas. Disekeliling mereka panas. Hinata bahkan memeluk kembali Sugawara erat.
"Hinata tenanglah.. disini sudah aman. Tidak ada makhluk yang kau katakan menyeramkan."
"Ada.. dia ada. Disebelah Tsukishima. Dia ada disana."
"Tidak ada.."
Hinata memberanikan dirinya melihat keadaan sekitarnya. Ia menghapus air matanya.
Awalnya memang tak ada lagi, namun saat melihat ke arah Nishinoya ia kembali melihat sosok menyeramkan tadi.
'Aku akan menghantui mereka.' Ucapnya menatap Hinata dengan mata merah menyalanya. Hinata menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
'Ini salah mereka sendiri. Mereka memanggilku dan dengan entengnya bilang 'sayonara' padaku.'
Hinata ingin sekali berucap menyahuti, namun yang ada mulutnya terasa kelu.
'Dan kau melihatku.. harusnya mereka yang melihatku! BUKANNYA KAU?!' Tubuh Hinata langsung berasa ditarik menuju segala arah.
Sugawara tak bisa berkata apa-apa melihat ini. Oh kenapa harus selalu Hinata?
Hinata mencoba tetap sadar walaupun tubuhnya terasa terombang ambing. Terbang kesana sini.
Entah darimana datangnya Hinata langsung berbicara "Tsukishima, salamnya salah! Kau harusnya mengatakan 'Kokkuri-san, Kokkuri-san, silakan kembali pulang.'"
Tsukishima tersentak kaget.
"Kita ulang."
"Kokkuri-san, Kokkuri-san, silakan kembali pulang."
Suasana hening, Hinata terjatuh di lantai pojok ruangan. Daichi langsung mendekati Hinata.
"Oh, kita hentikan semuanya. Jangan ada lagi yang mencoba memainkan permainan bodoh seperti ini!" Ucap Daichi sembari memangku kepala Hinata pada pahanya.
"Koinnya bagaimana? Apa menunjukkan kata 'Ya' ?" Tanya Kenma.
Kageyaka melirik kertas yang mereka pakai bermain. Koinnya sudah kembali ke gambar Torii. Tanda permainan sudah berakhir.
"Ya, Koinnya menunnjukan kata "YA" dan kembali pada gambar torii." Ucap Tsukishima.
"Syukurlah.. aku sangat ketakutan tadi. Terlebih saat Shoyo ditarik oleh sesuatu." Ucap Nishinoya.
"Kalian yakin dia sudah pergi?" Tanya Akaashi. Mereka berlima mengangguk.
"Kalau sudah yakin Kokkuri telah pergi, hancurkan kertasnya tadi. Terserah mau disobek-sobek sampai kecil, ataupun dibakar, yang penting kertasnya dihancurkan." Kali ini Kuroo bersuara.
"Sedangkan koin yang kalian pakai tadi, harus dibelanjakan keesokan harinya. HARUS." Tambah Kuroo penuh penekanan.
"Daichi, Hinata bagaimana?" Tanya Sugawara khawatir.
"Demam. Dia demam." Sahut Daichi sembari mengukur suhu tubuh Hinata yang panas.
"Kuperingatkan pada kalian untuk tidak bermain permainan seperti ini lagi. Terlebih jika ada Hinata." Tegas Sugawara memicingkan matanya.
"Daichi angkat Hinata, aku akan menggelar futon miliknya." Daichi mengangguk dan mengangkat tubuh ringan Hinata. Sedangkan Sugawara menggelarkan futon milik Hinata dengan Futon miliknya disamping kiri futon Hinata.
"Ne~ Suga.. menurutmu.. apa Hinata akan baik-baik saja setelah semua ini?" Ucap Daichi mengelus surai jingga Hinata lembut.
Daichi menggelar futonnya disebelah kanan futon Hinata. Mereka sekarang terlihat seperti, keluarga kecil yang sedang menjaga anak tersayangnya.
"Hm.. sepertinya." Sugawara menempelkan penurun panas di kening Hinata, kemudian menatap kembali kearah teman satu klub serta tim lainnya.
"Kalian beristirahatlah. Ingat jangan lakukan lagi hal ini. Kasihan Hinata kita." Yang lain hanya mengangguk, mereka mengerti akan maksud Sugawara.
*TBC
Okeh.. chap Kokkuri-san selesai :v
Maaf kalau rada aneh, atau.. ga jelas ya hehe.
Semoga kalian suka deh
