Disclaimer : Charaters and Setting world was adapted from anime/manga Naruto

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Semi-canon, contain OC, oneshoot.

A Place that I Call Home

Hatake Kakashi melabuhkan letihnya pada seonggok batu yang bertengger di tepi sungai. Tangannya terulur ke belakang untuk meraih sebotol air dan meneguk hingga meredam rasa haus yang mendera. Lantas, ia membiarkan tangan tanpa balutan apapun itu terkulai. Menyibak jubah yang nyaris menyekik leher sang mantan Rokudaime Hokage.

Selesai dengan masalah politik desa dan tumpukan dokumen terkutuk, ia memutuskan untuk menjelajah dengan melepas seluruh jati diri sebagai seorang shinobi. Petualangannya berbeda dengan Sasuke yang menyokong Naruto untuk mempertahankan kedamaian, Kakashi lebih kepada keinginan dalam diri sendiri. Dengan menjelajah semesta berkilo-kilometer jauhnya tanpa perintah di atas kertas mungkin bisa menghidupkan jiwa yang mati akibat serangan pekerjaan dan berbagai macam insiden kelam yang mengiringi hidup sang Rokudaime Hokage. Ia adalah seorang bocah yang tumbuh di arena perang.

Kakashi beranjak menghampiri tepi sungai. Menjebak beberapa ikan lewat dengan ranting yang ia tajamkan dengan kunai. Ia telah menghitung hari, dan sekarang adalah fajar keempat sejak Kakashi meninggalkan desa.

Kakashi telah kehilangan sharingan, sehingga untuk membuat api, ia tak dapat menggunakan Gokakyu yang ditirunya dari jutsu milik klan Uchiha. Maka, tak ada pilihan lain kecuali membuat api secara manual, memanfaatkan prinsip ilmu dasar kehidupan dan cara bertahan hidup yang sudah ia khatamkan sejak masih belia. Percikan tersebut semakin membesar seiring ranting yang Kakashi seret ke dalamnya. Kemudian, pria itu menancapkan ranting lain yang menyokong tubuh ikan sungai yang masih segar. Menunggu hingga ikan tersebut meneteskan cairan dan berwarna lebih gelap.

Tindakan itu menarik perhatian seekor kucing liar yang menyusup malu-malu menghampirinya. Kucing itu berbulu hitam lebat—jika menurut mitologi, bertemu kucing dengan bulu hitam adalah tanda kesialan, maka habislah. Namun, Kakashi sedikit agnostik. Ia tak pernah percaya pada suatu hal tanpa dasar yang jelas. Kucing itu terus mendekat dan mulai sedikit berani.

Kakashi tersadar ikan itu telah matang. Ia menjatuhkan pandangan pada kucing liar yang tampak tergoda itu. Tangannya melepas satu ekor kemudian diletakkan dekat kaki. Memancing kucing tersebut untuk mendekat—dan berhasil.

Kakashi menikmati makan siang dengan seekor tamu tak diundangnya. Setelah selesai, ia membersihkan bekas pembakaran dan kembali memacu langkah. Kucing itu tetap setia mengikutinya.

Kakashi jarang berurusan dengan kucing sebelumnya. Ia tak pernah paham benar tabiat mamalia berdarah panas itu. Namun, ia tampak tak keberatan sama sekali dengan mahluk yang mengikuti. Sesekali Kakashi mengerling, dibalas suara lembut mengeong yang membuatnya mendengus geli dalam perjalanan. Pria itu tahu dirinya menarik. Ya, sangat menarik sampai-sampai seekor kucing pun menjadi korban juga.

Naruto akan menyemprotnya dengan kata 'narsis' ketika mendengar hal ini.

"Kurasa kau tidak punya tempat yang disebut rumah, sama sepertiku," gumam Kakashi pada kucing itu tanpa menatapnya. Ia bertaruh kewarasannya kini diculik entah ke mana sampai-sampai mengajak seekor kucing liar berbicara. Kucing itu hanya mengeong sebagai balasan yang ditangkap persetujuan oleh telinga Kakashi. Pria itu terkekeh pelan.

"Tapi ... siapa yang peduli, 'kan? Dunia ini tidak akan menelanmu hanya karena kau tidak punya atap untuk bernaung dari hujan atau lemari pendingin untuk menyimpan bahan makanan." Kakashi bermonolog. Ia menghembuskan napas melewati kain hitam yang masih setia menutupi wajahnya. Bersiul kecil dan menarik perhatian beberapa spesies burung yang menyambut siulannya.

Kucing itu menerkam seekor kadal yang mencoba melarikan diri ke air dengan cakarnya. Mengerang agresif sambil berusaha mencopot ekor dari reptil tersebut. Kakashi menghentikan langkah, menarik kawan kecilnya itu sambil terkekeh.

"Hei, itu tidak baik. Kau sudah makan ikanku tadi," tegur Kakashi setengah berkelakar. Kucing itu kembali mengeong padanya. Ia mengikuti sang mantan Rokudaime Hokage ketika kakinya kembali memijak tanah.

Langkah Kakashi terhenti. Matanya menatap jauh ke depan, menyisir area yang ia pijak. Sejenak tenggelam dalam nostalgia yang memenuhi atmosfer tempat ini. Gua tempat kawannya tertindih batu pada Perang Dunia Shinobi Ketiga. Ada banyak emosi yang bertebaran, merengkuh Kakashi melalui semilir angin lembut yang menyapu helaian peraknya. Ia menghampiri sebuah pohon yang ditandai dengan gundukan batu serta bunga azalea putih yang merimbun di sana. Di atas batu itu, pada waktu Perang Dunia Shinobi Keempat usai, tangannya mengukir sebuah nama yang tak berhenti membuat sang Rokudaime berterima kasih setiap mengingat sosok itu. Dan mengutuk mengapa sosok itu harus pergi untuk kali kedua.

Kakashi menghela napas. Ia bersihkan beberapa daun kering yang menutupi huruf katakana yang terukir itu. Tangannya terulur, merogoh sesuatu di dalam tas. Sebuah kacamata pelindung dengan kaca transparan oranye, membuatnya tersenyum miris dan senang untuk waktu yang sama.

Terima kasih, Obito.

Ia meletakkan kacamata itu tepat di atas katakana yang tersusun membentuk dua suku kata. Obito Uchiha. Menatap nelangsa dalam diam untuk beberapa saat kemudian memasang senyum sok kuat dibalik masker hitamnya. Ia berjongkok, mengusap pelan batu yang diibaratkan sebagai nisan itu. Kucing yang sedari tadi mengikuti ikut mengusap-usap nisan tersebut dengan kaki berbulunya. Membuat Kakashi terkekeh pelan.

Ia kembali beranjak, menoleh ke kiri.

"Keluarlah. Aku sudah menyadari keberadaanmu."

Sosok yang berada di balik salah satu pohon itu terperanjat. Dengan bimbang ia terdiam sebelum memutuskan untuk menampakkan diri. Ia melempar senyum tulus. Kucing yang mengikuti Kakashi bertolak menghampiri sosok gadis itu.

"Apa aku mengenalmu?" tanya Kakashi.

Gadis itu menggeleng. "Tidak. Tapi aku mengenalmu, Hatake Kakashi."

Angin berhembus pelan, menjeda dialog mereka. Kakashi tak melepaskan pandangan dari sosok yang diperkirakan sekitar lima tahun lebih muda darinya. Kakashi menghela napas lega.

"Kucing itu bukan hewan yang suka dekat-dekat dengan air, bukan?"

Gadis itu mengangguk, tetap tersenyum. Mata Kakashi menyipit. Memang sebuah keanehan melihat seekor kucing yang biasanya berkeliaran di pemukiman penduduk atau hutan yang jauh dari sumber aliran tiba-tiba datang ke tepi sungai. Dalam rengkuhan dan belaian gadis itu, si kucing tampak merasa nyaman dan aman.

"Rumah itu ... tidak selalu berarti tempat pulang atau sekumpulan material yang disatukan membentuk sebuah bangunan. Tapi, itu merupakan tempat di mana kau merasa aman dan diterima," lirih sang gadis misterius. Kakashi mendengarkan dengan seksama dan masih memilih untuk membisu.

"Bukankah begitu, Hatake Kakashi?" Gadis itu menelengkan kepala.

Kakashi masih diam. Membiarkan angin yang menjawab. Perasaannya berkecamuk, semua emosi menjadi tumpang tindih, pikiran yang tak karuan. Untuk sebuah alasan yang buram.

"Kau memiliki rumah itu, Hatake Kakashi," tutup sang gadis yang langsung menghilang di telan bayu. Kakashi sempat terperanjat. Ia mengaktifkan chakra tetapi tak merasakan hawa manusia selain dirinya. Pada akhirnya, Kakashi menghela napas. Tersenyum ketika menyadari maksud dibalik ucapan sang gadis misterius.

Kepalanya meninjau langit berbingkai kanopi.

Fin