Normal POV
Ketika bel sekolah berbunyi, lantas dia segera membangunkan diri.
Mendengar penjelasan dari seorang guru tua yang tidak menarik adalah sebuah kesialan yang selalu terjadi pada hari senin. Gemerlap yang tersirat dari awan merupakan sebuah pertanda yang dapat membuat hati menjadi lebih baik. Ia tidak perlu menarik diri, karena dari segala sesuatu yang terlihat telah menjadi sebuah bukti. Iris biru mengerjap dalam tidur, menatap kosong ke depan, merenungi nasib. Pemuda itu tampak tidak acuh pada beberapa teman yang sibuk berdiri dan bercengkrama mengenai rangkaian rencana saat mereka pergi dengan beragam spekulasi.
Naruto menguap begitu lebar, merenggangkan badan, berdiri untuk membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Ia tidak peduli dengan panggilan Kiba Inuzuka yang berisikan tentang ajakan untuk bersenang-senang di sebuah diskotik terkenal dan menikmati servis dari para pelacur bayaran. Naruto adalah pemuda normal, dia menyukai perempuan serta tubuh mereka yang indah; tetapi jika melakukan hal tidak senonoh seperti menebar benih secara sembarangan, hal tersebut dapat disebut sebagai sebuah kesalahan fatal.
— demi dunia manapun, dia bukan orang mesum.
Naruto pergi dari kelas, menuruni tangga, melewati gerbang; berjalan pulang dengan senja sebagai latar belakang.
.
.
.
TO THE SKY
Naruto by Masashi Kishimoto
To The Sky by stillewolfie
Naruto U. & Ino Y.
OOC, Alternate Universe, typos, etc.
.
.
.
Naruto Uzumaki, enam belas tahun.
Ia adalah lelaki yang dilahirkan dari keluarga normal; memiliki ayah, memiliki ibu, anak tunggal, diberikan kasih sayang, diberikan cinta, diajarkan dalam tata krama, serta memiliki teman dari segi kualitas. Pemuda itu tumbuh tanpa adanya sebuah halangan yang signifikan. Ia memiliki mantan pacar, bersenang-senang seperti seorang remaja, mencoba rokok saat senggang, menyukai permainan internet yang dapat memacu daya tahan, meminum alkohol kala dirinya sedang sendirian. Ia memiliki persamaan dengan manusia lainnya. Ia tidak pernah merasakan perbedaan; dia selalu mengerti bahwa dunia ini tidak ada hal yang dapat membuatnya panik hingga kiamat menunjukkan diri ke permukaan.
Naruto melangkah, bergabung dengan orang-orang yang berlalu-lalang serta bercengkrama dibalik kesopanan. Iris biru menatap ke depan, tas digantungkan pada bahu dengan kedua tangan berada di dalam saku. Ia terlihat bosan, namun otak memikirkan ide untuk menu makan malam. Ia menghela napas, merutuki nasib sebagai anak tunggal yang tidak memiliki adik perempuan.
Minato memiliki tugas untuk melakukan perjalanan dinas selama satu bulan; satu-satunya alasan yang membuat Kushina harus pergi demi mendampingi sang suami agar tujuan dapat tercapai secara sempurna. Naruto mengerti bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, namun meninggalkan anak seorang diri merupakan hal yang berlawanan dari prinsip. Ia tidak peduli dengan alasan mereka yang disebut dari awal hingga menuju akhir, walau dirinya sudah mengetahui sebuah tujuan spesifik yang dapat membuat keduanya bungkam dalam satu spekulasi; bulan madu ke Timur Tengah adalah rencana yang sangat idealis.
Naruto keluar dari toko roti, memilih isian dengan beragam variasi. Ia mengambil satu dari kantung belanja, habis dalam dua gigit. Ia kembali melangkah ke depan, menatap matahari yang mulai mengeluarkan semburat jingga. Ia tersenyum pelan, memikirkan bahwa fenomena dunia yang satu ini sangatlah cocok dengan dirinya, mengingat rambut pirang adalah sebuah ciri khas yang tak dapat terpisahkan.
— pluk.
Naruto seketika berhenti melangkah. Ia menggenggam kertas bekas yang mendadak terbang dan mengenai wajahnya.
Ia menoleh ke samping, ke depan, ke belakang, ke atas; tidak ada siapapun yang memiliki niat untuk bermain dengan seorang remaja berandal jika dilihat tanpa sebuah pengamatan. Genggaman pada kertas tersebut pun mengerat, memerasnya. Ia mengabaikan orang-orang tanpa memikirkan hal rumit seperti logaritma. Ia lebih memilih untuk memandang gumpalan kertas yang sudah setengah hancur akibat remasan kuat tak bertenaga.
Iris biru mengerjap dua kali sembari kedua jemari tangan memperbaiki; menatap satu kalimat yang seketika membuat dirinya tidak tahan untuk mengernyitkan dahi.
di sinilah aku akan mati; jembatan tua yang menjadi satu-satunya saksi.
— sederhana, tetapi makna yang tersirat sama sekali tidak sederhana.
Naruto adalah seorang lelaki yang tidak memiliki logika, ia lebih mengandalkan perbuatan dibanding pemikiran. Ia bukan sosok cerdas seperti Sasuke Uchiha. Ia bukan anak jenius yang mampu menyelesaikan ribuan kasus seperti seri cerita detektif cilik yang sampai sekarang belum memasuki kata tamat. Ia bukan bocah pahlawan yang diberi kekuatan super untuk menjadi nomor satu di sebuah negara. Ia bukanlah lelaki beruntung yang memiliki harem dengan kekuatan tanpa batas. Ia hanyalah pemuda biasa dengan otak pas-pasan; bodoh, tidak peka, emosian, tidak sabaran, dan pemalas.
— pemuda itu merupakan manusia biasa yang tidak menyangka akan menerima surat bunuh diri yang melayang-layang di tengah jalan.
Naruto tidak mengerti dengan gejolak yang mendadak muncul dalam dada; seperti ada dentuman kuat kala mengetahui bahwa salah satu manusia di negara ini akan membuang nyawa dengan cara bodoh tanpa pemikiran panjang. Ia bukanlah penganut agama tertentu, tidak memiliki kepercayaan terhadap dewa adalah sebuah hak sebagai masyarakat di sebuah negara maju. Meski begitu, Naruto tetaplah seorang manusia; ia memiliki akal, ia memiliki otak, ia memiliki hati nurani meski tidak pernah dipakai dengan baik. Ia hanya tidak ingin orang yang menulis surat ini akan mati di atas jembatan tanpa nama yang belum diketahui secara pasti.
— dirinya hanya memiliki dua pilihan; berlari ke satu-satunya jembatan di pusat kota, atau berbalik pulang dan melanjutkan kegiatan untuk bermalas-malasan.
Naruto tidak pernah percaya dengan keberadaan sebuah firasat. Tetapi, untuk pertama kali, ia mengikuti perintah dari apa yang disebut sebagai firasat itu.
Naruto berlari seperti orang kesetanan; saat seperti inilah telah diuji tingkat stamina sekaligus tenaganya sebagai seorang pria. Ia melewati orang-orang, menubruk seorang paman yang baru saja keluar dari toko olahraga, berbelok ke kanan agar menemukan jalan pintas, melompati tong sampah yang sedang dihuni oleh dua kucing liar, hingga berhenti sebentar untuk membiarkan kereta melewati rel yang telah dihalang oleh sebuah pembatas. Naruto tidak peduli dengan satpam yang mengawas, ia kembali berlari menuju kota sembari mengatur napas. Keringat bercucur dari dahi, menuruni pipi, turun ke dagu, sampai terjatuh dramatis di atas aspal yang dingin.
Naruto telah sampai ke sebuah jembatan gantung dipenuhi oleh kendaraan roda empat yang berlalu-lalang. Ia menahan napas agar tidak menghirup asapnya. Ia terus berlari ke depan untuk menemukan seorang manusia yang dapat menimbulkan kecurigaan akan melakukan hal tidak pantas. Surat tanpa nama masih berada di sana, digenggam kuat oleh tangan sebelah kanan. Iris biru menajam, gigi bergemelutuk kencang; menyumpahi insting yang sempat mengisi relung dada hingga membuat tidak nyaman.
— dari sanalah, seketika dia terdiam; terkejut oleh sebuah penampakan di ujung jalan.
Naruto sempat merasakan bahwa jantungnya telah berhenti berdetak.
Iris biru dapat memantulkan sebuah keindahan; helai panjang yang diikat satu, berkibar mengikuti angin musim gugur. Naruto dapat melihat postur tubuhnya yang bagus, berdiri menyamping sembari menatap sungai deras yang memiliki kedalaman tak terhitung. Tas sekolah terlihat tergeletak jatuh, tidak dipedulikan oleh sang pemilik yang sibuk dalam memikirkan sesuatu. Kendaraan di seberang mereka sama sekali tidak menggubris, tidak mengacuhkan tindakan sang pelaku yang telah mencondongkan diri agar segera terjatuh.
— dari sanalah, sang lelaki merasa bahwa dunia telah berhenti berputar.
Senja akan segera berakhir. Di depan kedua saksi, matahari telah bersiap untuk pergi; memberikan pantulan indah untuk seorang gadis yang terdiam karena sempat menoleh ke samping kiri.
Iris biru bagai langit musim panas membulat, terkejut akan keberadaan seseorang; menatap nanar seorang pemuda yang telah berlari mendekatinya; menatap dengan ekspresi penyesalan. Perempuan itu tidak dapat menjaga keseimbangan. Ia merasa kecewa karena tidak dapat menerima tangan seseorang yang dirinya kenal. Ia terlanjur memiliki tujuan untuk terjatuh dan tenggelam di sebuah sungai dengan senja sebagai latar belakang.
"…Naruto—"
Iris biru layaknya lautan pun melebar, ketakutan; pemuda pirang keemasan segera menjatuhkan tas dan meningkatkan kapasitas berlari, merentangkan tangan agar menggapai tubuh ramping yang tidak mampu untuk mengatur keseimbangan diri.
— dapat dia lihat, gadis itu menangis.
"INOOOOOOO!"
.
.
to the sky –
.
.
Ino Yamanaka, enam belas tahun.
Ia terlahir sebagai seorang perempuan sempurna. Ia adalah salah satu manusia di dunia ini yang tidak pernah mempunyai kekurangan; kaya, mempesona, cerdas, menarik, idealis. Ia adalah anak tunggal dari pasangan yang memiliki satu prinsip kuat. Ia adalah calon pewaris perusahaan bisnis yang memiliki kekuasaan dalam bidang properti. Ia memiliki rambut pirang pucat yang begitu halus dan atraktif, kedua mata biru yang memiliki sisi unik, tubuh yang bagus, tinggi, dan cantik. Ia adalah sosok yang dapat membuat semua orang merasakan apa itu iri. Ia adalah seorang gadis yang mampu memiliki segalanya hanya dengan satu jentikan jari.
Ino tumbuh di lingkungan yang memegang teguh akan satu prinsip; 'jadilah penguasa kalau tidak ingin menjadi sampah' telah dianggap sebagai pembenaran. Ino adalah perempuan sempurna, seorang pewaris dari sebuah perusahaan besar. Ia dituntut untuk menguasai berbagai hal saat usia masih menunjukkan angka enam. Ia berlatih piano hingga jemarinya keram, melakukan bimbel khusus dengan guru terbaik, menunggangi kuda, tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan teman sebaya karena harus belajar sampai larut malam. Ia menerima semua titah itu dari sang ayahanda. Inoichi Yamanaka adalah pria konservatif yang menjunjung kesempurnaan di atas segalanya. Ia tidak mengajarkan Ino dengan kasih sayang, melainkan dengan sikap disiplin seperti seorang raja kepada budaknya.
Ino hanyalah seorang anak kecil yang belum tahu apa-apa; terlebih ketika sang ibunda pergi menuju surga saat usianya baru memasuki angka delapan, dirinya tidak lagi memiliki tameng untuk melawan perintah dari sang penguasa. Ia pun selalu seperti itu; menerima, mengangguk, menurut.
Ino diperlakukan seperti seorang anjing yang menuruti semua perintah dari sang majikan; bukan hubungan normal yang sepatutnya terjadi antara ayah dan anak.
"Ayah," Ino berdiri di depan Inoichi di tengah ruangan. Jendela besar dapat menampilkan halaman mansion keluarga yang luas. "Saat tahun ajaran baru, aku ingin pergi ke sekolah umum. Kumohon, izinkan aku."
Inoichi mendongak, mengalihkan mata pada dokumen saham yang baru saja diberikan oleh sang asisten terpercaya. Iris biru itu menatap sang anak dengan datar, seolah pernyataan tadi bukanlah sebuah hal yang mengejutkan. Ia melepaskan kacamata, memberikan Ino sebuah tatapan tak terhingga. "Sebutkan alasan yang bisa membuatku menerima permintaanmu."
Ino mengerjap, menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap mata ayahnya secara langsung; ada sesuatu yang membuat pria itu terlihat menakutkan dari setiap sudut. Ia menarik napas begitu kuat, berusaha yakin dengan pilihan yang sudah dibuat selama sembilan tahun lamanya; home-schooling adalah satu-satunya alasan mengapa sampai saat ini gadis itu tidak pernah mempunyai teman. Ino ingin kala ia menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah atas, dia dapat menemukan hal baru, bertemu teman-teman, bersenang-senang seperti remaja biasa, dan menemukan definisi unik dari apa itu cinta. Ia berharap dapat memiliki pengalaman-pengalaman manis seperti sang tokoh utama di drama televisi dari negara tetangga.
"Baiklah."
Ino terkesiap. "M-Maaf?"
"Lakukan sesukamu," Inoichi berujar, tampak tidak peduli. "Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, kau boleh keluar."
Ketika mendengar pernyataan tersebut, Ino hanya diam membeku. Ia menunduk hormat. "T-Terima kasih, Ayah."
Ia tidak tahu apa yang telah membuat sang ayah memberikan restu, namun malam itu adalah hari terindah untuk sang perempuan lugu.
Ino pun diterima dan memasuki sekolah umum seperti yang dia inginkan. Ia bertemu beberapa orang dengan sikap mereka yang berbeda. Untuk pertama kali, dirinya merasa bebas; tidak dikekang dan dikunci seperti seorang tahanan. Ia bertemu dengan Sakura Haruno, gadis ceria dengan rambut merah jambu dan Hinata Hyuuga, gadis tradisional yang sangat pemalu. Mereka terlihat akrab, bergosip mengenai apapun yang bisa digosipkan. Ditambah lagi, Ino sedang didekati oleh Sasuke Uchiha, sang jenius tampan dari kelas sebelah.
Ino merasa lengkap. Ia menemukan apa itu kebahagiaan. Ia mencoba untuk menerima hidup ini dengan penuh sukacita. Ia tidak memerlukan rumah besar, kesempurnaan, atau ayah yang selalu membuatnya terkekang. Ini adalah tempatnya, lingkungannya, rumahnya, teman-temannya; mereka adalah alasan yang membuat gadis itu bertahan dari tuntutan keluarga yang menyesakkan.
— hingga satu tahun kemudian, masalah itu datang.
Ino berada di lorong sekolah, terdiam seribu bahasa. Ia menatap dinding mading yang berisikan foto-foto yang terkesan familiar. Ia terdiam di tengah-tengah, mengabaikan bisikan-bisikan negatif yang mulai terdengar dari ujung kaki hingga kepala. Ia tidak dapat berkata-kata. Ia hanya mematung dengan tatapan kosong, terkesan hampa.
Di sana, terdapat foto yang berisikan Ino sedang tertidur tak sadarkan diri di sebuah kasur besar. Ia telanjang, belahan dadanya terlihat, kulit putih pun tampak mulus dengan bercak merah di bagian pundak. Rambut panjang sepinggang terlihat sedikit acak-acakan, seperti dijambak akibat malam panas penuh gairah. Di sebelah perempuan itu terdapat seorang pria berbadan tegap, sedang memeluk pinggangnya dengan wajah disamarkan. Semua orang di sana tidak peduli dengan sosok sang pria yang tidak diketahui wajahnya, mereka lebih penasaran tentang alasan yang membuat sosok sempurna seperti Ino Yamanaka dapat melakukan hal tidak senonoh seperti bercinta sebelum menikah.
— semua orang tidak tahu, tapi dia tahu.
Ino segera berbalik, berlari dan menaiki atap. Ia mengabaikan tatapan jijik dari sebagian siswi di lorong sekolah. Ia lebih fokus dengan tujuan yang saat ini menjadi hal utama. Ia membuka pintu atap dan menemukan seseorang di sana, menoleh ke arahnya, menatap dingin dirinya.
Ino berjalan tanpa menutup pintu. Ia mengabaikan rambutnya yang terkena sapuan angin. Ia tidak menangis. Ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini; terlalu rumit hingga dirinya tidak dapat menampung rasa malu dalam diri. Sasuke Uchiha, kekasihnya, ada di sana—terdiam seribu bahasa, menatap datar seolah tidak bersalah apa-apa.
"Apa yang kau lakukan?" Ino bertanya langsung pada poin utama. "Apa kau tahu keributan macam apa yang sedang terjadi di bawah sana?"
Sasuke tidak langsung menjawab.
"Jelaskan padaku," Ino menggigit bibir. "Kau dengar aku? Jelaskan padaku, Sasuke-kun!"
Sasuke berbalik penuh. Ia menatap Ino dengan pandangan biasa, seolah melakukan perbuatan bejat seperti memotret kegiatan mereka setelah tidur bersama adalah hal yang biasa saja. "Apa yang perlu kujelaskan?"
"Aku tahu ini ulahmu," Ino meneguk ludah, menahan tangisan. "Kau bilang padaku; kau mencintaiku. Kau menginginkan diriku dan aku memberikannya padamu. Lalu, kenapa—" Tangisan tidak lagi terbendung. Ia pecah; hancur berkeping-keping, menghilang dalam serpih. "—kau melakukan ini padaku?"
Ino menangis, kencang. Sasuke hanya diam di sana, tidak melakukan apa-apa. Ia menutup kedua mata, pun menyebut satu kata yang sanggup membuat perempuan itu segera terdiam dalam tangisan.
"Ayahmu."
— dirinya pun bungkam, menunda kekecewaan.
"Ayahmu memintaku untuk melakukan ini padamu."
— ia mendongak, menatap nanar wajah sang pemuda yang kini menjadi perantara.
"Beliau menyuruhmu untuk pulang, Ino."
Ino sama sekali tidak ingin percaya.
Ia pun berjalan mundur, menjauhi Sasuke. Ino berbalik, berlari, berniat menemukan Sakura dan Hinata agar menjelaskan situasi ini. Ia membutuhkan sandaran. Ia menginginkan seseorang yang dapat menjadi pembela saat semua orang mulai menggunjing dirinya. Gadis itu menemukan mereka di depan kelas dengan ekspresi tidak nyaman. Ino berjalan mendekati mereka, tapi seketika berhenti saat melihat Sakura menarik tangan Hinata agar segera menjauh dari jangkauan.
"Sakura, kumohon dengarkan aku—"
"Maaf, Ino." Dua kata yang membuat hati Ino bertambah hancur. Sakura mengalihkan pandangan, menarik lengan Hinata agar segera pergi dari sana. "Ayo, Hinata."
"T-Tapi, Sakura-chan—"
Ino tetap berada di tempat yang sama; kembali ditinggalkan, sendirian.
.
.
to the sky –
.
.
Perlahan, senja pun menghilang. Kali ini, malam telah tiba dan menjadi saksi bisu akan dua orang yang sedang berpelukan di sebelah jalan.
Naruto memeluk Ino, terengah-engah. Ia berkeringat, bercucuran dengan wajah pucat, bersumpah tidak ingin mengalami kejadian seperti ini di masa depan. Ia berlutut, memeluk tubuh perempuan yang saat ini masih menangis tersedu-sedu. Wajah Ino memerah karena terlalu banyak menangis, terisak seperti anak kecil. Ia merasakan pelukan dieratkan, lelaki ini mencoba untuk membuatnya tenang. Ia sadar akan kehangatan yang mulai tertangkap, menyelimuti dengan penuh penghayatan; seolah mereka adalah pasangan yang hampir berpisah.
Naruto tidak mengerti mengapa sampai sekarang kendaraan-kendaraan yang ada di tengah jalan tampak mengabaikan mereka. Ino hampir saja bunuh diri di tempat keramaian, dan masyarakat tampak tidak peduli dengan kejadian yang hampir membuat satu orang kehilangan nyawa. Ia menggeram dalam hati; sebodoh apa orang-orang ini?
"Ino," Naruto mengelus punggung kecilnya, mencoba menenangkan dari tangis yang membuat pemuda itu terkesan tidak tega. Ia meringis. "Aku di sini, tidak apa. Ayolah, jangan menangis…"
Naruto tidak pernah melakukan pendekatan dengan perempuan. Ia memang memiliki mantan pacar, tapi menenangkan mereka saat menangis adalah pengalaman baru tanpa sebuah persiapan. Ia tidak mempunyai kata-kata romantis yang membuat wanita tersenyum dengan wajah memerah. Ia bukan sosok humoris yang dapat mengubah tangisan itu menjadi tawa. Ia adalah pemuda cuek yang tidak memikirkan segala hal begitu dalam, termasuk perempuan.
Naruto pun mengajak Ino untuk berdiri, memasangkan kemejanya—untunglah dia menggunakan kaus hitam sebagai dalaman—pada tubuh sang gadis yang lebih kecil, membawa tas mereka, menggenggam tangan kiri Ino agar tidak terlepas dan kembali melakukan hal-hal gila.
Naruto membawa Ino ke sebuah taman bermain yang mulai sepi karena malam telah menjadi situasi. Ia membawa gadis itu ke tempat terang; terdapat sebuah bangku panjang dengan tiang lampu di depan sana. Mereka duduk berdampingan. Naruto menoleh ke Ino yang menggigit bibir, menunduk dengan mata menyipit. Ia menghela napas, terkesan bosan sekaligus tidak tahu harus melakukan apa.
"…jangan mengagetkanku seperti itu," Naruto memasang wajah kesal. "Aku hampir terkena serangan jantung."
Ino menahan isakan, menghapus air mata. Ia mengatur napas, mencoba untuk bersikap seperti biasa. Ia menatap kedua kakinya yang menggantung, begitu kosong seperti makhluk tak lagi hidup. Ia melirik seorang lelaki yang tidak terlalu dikenal juga sedang memandanginya; kekesalan dan kecemasan dapat terlihat begitu jelas.
"…kau tidak membenciku?"
Naruto menaikkan alis, mengernyitkan dahi. "Kenapa aku harus membencimu?"
Ino tidak menjawab apapun. Naruto hanya mampu menelan perasaan bingung.
"Ino," Naruto kembali menarik napas. Ia mencoba untuk bersabar, mengingat perempuan ini barusan telah melakukan percobaan bunuh diri, sebuah tingkah tak masuk akal untuk sosok yang tampak diberkati. "—hei, aku tahu kau mendengarku."
"…kenapa aku masih hidup?"
Naruto hampir memutar bola mata. "Kau harus bersyukur karena kau masih hidup."
Ino tidak menjawab, ia hanya melamunkan pernyataan Naruto yang tampak berlawanan dari hatinya. Ia menghela napas, menahan tangisan dari dalam. "Aku tidak ingin hidup … semua orang membenciku."
Naruto terhenyak. Ia terheran-heran dengan jawaban Ino barusan.
Naruto Uzumaki tidak pernah mengenal Ino Yamanaka. Mereka memang berada di sekolah yang sama, perbedaan kelas adalah salah satu faktor yang memicu keduanya untuk tidak bertegur sapa. Ino adalah gadis populer; dia cerdas, dia mempesona, dia adalah seorang konglomerat. Naruto hampir tertawa akibat candaan barusan kalau tidak mengingat kondisi sebelumnya; di mana ia melihat tubuh Ino terjatuh dengan ketinggian tak terhingga.
"Aku tidak mengerti," Naruto berkata, apa adanya. "Kau punya hidup enak seperti ini dan sekarang kau berkata bahwa semua orang membencimu? Kau bodoh, ya?"
Ino melirik, kedua mata terlihat letih. "Idiot sepertimu tidak akan mengerti."
"Kau yang tidak mengerti, Ino."
"...apa maksudmu?"
"Saat melihatmu berdiri di ujung jembatan tadi, saat itu aku tahu—" Naruto berkata, ia menatap Ino dengan pandangan datar. "—kau merasa bahwa semua orang membencimu karena insiden tiga bulan lalu." Ino mematung; pajangan foto-foto hingga tindakan sang ayah kembali teringat bagai memori rusak yang tidak pantas untuk menjadi kenangan.
Naruto dapat melihat ekspresi perempuan itu; ketakutan, kecemasan, kebencian. Ia menggeser tubuhnya, menepuk-nepuk puncak kepala Ino tanpa tenaga. Gadis yang dimaksud pun hanya bisa terdiam, menerima perlakuan lelaki tak dikenal dengan perasaan gundah. Kembali, tangisan mulai keluar.
"Tidak semua orang tahu dengan hidupmu," Iris biru bergeming, menatap pantulan sang gadis yang terlihat kacau hingga kini. "—aku tidak pernah peduli dengan gosip-gosip tentangmu. Shikamaru juga, oh, Chouji pun sama. Kami adalah sekian banyak orang yang tidak menaruh perhatian dengan peristiwa itu."
Naruto tersenyum maklum, melepas tepukannya pada kepala Ino. Ia menyenderkan punggung, menatap langit gelap yang mulai menampakkan gemerlap bintang yang begitu syahdu. "Aku tidak tahu bagaimana bisa kau pacaran dengan si Teme itu. Sebagai mantan kekasih, kau pasti tahu kekuatannya di sekolah, 'kan? Jangan heran kalau kau menjadi korban karena tingkahnya yang kurang ajar." Naruto terkekeh. "Yah, meski itu tidak berlaku padaku. Kami memang berteman sejak kecil, tapi aku tidak pernah suka dengan tingkahnya yang sok berkuasa—karena itulah, aku lebih suka bergaul dengan Shikamaru dan Kiba."
Ino menunduk, merenungi perkataan Naruto. Sasuke Uchiha, siapa yang tidak mengenal orang itu? Dia adalah pemuda populer yang memiliki kekayaan tujuh turunan, seorang konglomerat yang akan menjadi pewaris utama dari perusahaan terbesar nomor lima. Sasuke adalah sosok sempurna, angkuh, jenius; semua orang mengaguminya, semua orang mencintainya. Ino adalah salah satu penggemar yang beruntung karena 'pernah' menjadi 'salah satu' pasangan sang pemuda yang selalu berada di atas rantai makanan. Ino begitu buta sampai tidak tahu sikap asli sang mantan ketika dirinya dicampakkan seperti sampah yang terbuang.
— terlebih, dalang utama berada dibalik kegelapan; sang ayah sama sekali tidak peduli dengan kondisi putrinya yang dihina dengan harga diri terinjak-injak.
"…tapi kurasa masalahmu bukan hanya dia, ya?" Naruto berkata, Ino tersenyum kecil; mengiyakan dalam hati. "Menurutku, air matamu terlalu mahal untuk menangisi hal bodoh seperti itu."
Ino terbelalak ketika menatap wajah Naruto yang kini begitu dekat. Pemuda itu tersenyum hangat dengan mata mengindikasi satu hal; kepercayaan.
Ino benar-benar tidak tahu mengapa ada perasaan asing yang tiba-tiba menghantam perutnya. Ia hanya tidak bisa berhenti untuk menangis kala merasakan elusan pada kepala. Ia menarik bahu Naruto dan meredam wajahnya di sana, menyandarkan diri kepada lelaki yang terus berada di sisinya, menyelamatkannya dari sesi mengakhiri nyawa tanpa berusaha untuk menjadi lebih kuat.
Naruto menghela napas. Ia menyumpahi Sasuke Uchiha yang selalu mencari masalah dengan para perempuan. Ia tidak tahu alasan macam apa yang membuat pemuda itu mengincar sang gadis pirang. Tetapi, dirinya tahu bahwa ini sudah kelewatan—mengekspos dan menyebarkan foto privasi seperti itu adalah pelanggaran meski aturan tidak berlaku untuk seorang penguasa. Namun, ia mencoba untuk berbalik. Ia tahu bahwa Ino tidak memiliki siapapun yang bisa membelanya kali ini. Gadis ini sendirian di dalam neraka. Ino tidak mampu melawan karena semua orang membencinya akibat jebakan yang telah dibuat oleh orang-orang jahat di luar sana.
Naruto Uzumaki memang tidak tahu apa-apa mengenai Ino Yamanaka. Ino Yamanaka pun hanya sekedar tahu bahwa Naruto Uzumaki adalah siswa cuek yang tidak memiliki dampak.
Tetapi, bolehkah mereka terlihat saling mengandalkan?
— keduanya merasa hal itu bukanlah masalah.
"Maaf kalau selama ini aku terlihat tidak peduli," Naruto berbisik. "Kali ini, izinkan aku untuk menjadi perisaimu; biarkan aku untuk melindungimu."
Entah mengapa, malam itu sangatlah indah. Ino dapat merasakannya. Ia pun mengangguk pelan. Ia memang tidak lagi sanggup berkata-kata, tetapi Naruto tahu bahwa dia merasa senang dengan pernyataan barusan.
— ucapan terima kasih dapat diterima secara tersirat.
.
.
ended
.
.
A/N: semoga hari kalian menyenangkan.
mind to review?
