LIBRARY OF MARKHYUCK
ㅡ" Sekali lagi aku mendengar kalian berdua bertengkar seperti ini, aku tak akan segan membunuh kalian!"ㅡ
Pairing: MarkHyuck (+nomin dikit)
Warning: typo(s), OOC, cringe, yaoi
DLDR, Happy Reading
Cr: foxpudu
.
.
.
Jaemin mengurut keningnya melihat kedua sahabat baiknya, Donghyuck dan Mark adu mulut tanpa peduli sekelilinya. Penghuni kantinpun tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang tersebut mengingat ini bukan yang pertama kali. Jaemin mendorong mangkuk berisi ramyeon didepannya dan menggebrak meja untuk menarik perhatian dua orang didepannya.
"Sekali lagi aku mendengar kalian berdua bertengkar seperti ini, aku tak akan segan membunuh kalian! Kalau perlu kalian berdua kuberikan pisau masing-masing satu saja, biar sekalian saling membunuh dari pada bertengkar tidak berguna seperti ini!"
Donghyuck menatap salah satu sahabatnya sejak kecil itu dengan tatapan tidak peduli, sedangkan Mark hanya menghela napasnya lalu melanjutkan aktivitas memakan roti coklatnyanya yang tadi sempat terhenti karna adu mulutnya dengan Donghyuck.
Jaemin yang tidak mendapat respon berarti dari kedua orang didepannya merasa ingin mencekik leher kedua sahabat bodohnya itu, atau mungkin mencekik lehernya sendiri sanking gemasnya.
Ia sebenarnya sudah cukup, ah bukan, sangat muak mendengar pertengkaran sahabat kecilnya itu. Padahal dulu yang paling sering bertengkar itu Jaemin dengan Donghyuck, tapi semenjak kedua orang tadi mengikrarkan kalau mereka adalah sepasang kekasih, sejak saat itulah cacian, makian, dan umpatan secara silih berganti keluar dari mulut keduanya.
Padahal yang dipermasalahkan bukanlah hal besar, seperti topik pertengkaran mereka barusan, Donghyuck yang menginginkan es krim tapi Mark yang melarangnya habis-habisan karena ini akhir bulan, dan uangnya sudah tinggal beberapa ribu won saja. Tentu karena tidak terima, Donghyuck berteriak mengatakan ia tidak semiskin itu dan masih mampu membeli satu cone es krim sendiri, yang Mark perlu lakukan hanya mengantarnya saja. Namun Mark dengan segala harga diri setinggi langitnya mengatakan mana puas makan satu cone saja, dan tidak mungkin Donghyuck yang pada akhirnya membayar belanjaannya sendiri, karna lelaki itu pasti akan merengek untuk dibayari.
Dan akhirnya pertengkaran dengan caci maki tidak dapat terelakkan lagi diantara keduanya.
Kadang keduanya berhenti karna kelelahan, terkadang karna Jaemin yang marah-marah (seperti barusan). Jaemin sendiri selalu heran kenapa pasangan kekasih yang notabene adalah sahabatnya ini selalu bertengkar bukannya memamerkan kemesraan.
"Kalian berdua itu kan sepasang kekasih, jadi bertingkahlah romantic satu dengan yang lainnya. Jangan bertengkar saja kerjaannya, capek tau orang mendengarnya." Omel Jaemin ketus.
"Salah Donghyuck dia susah dikasih tau."
"Mark terlalu kekanakkan."
Jaemin cengo mendengar jawaban keduanya. Melihat perubahan muka keduanya, Jaemin memutuskan untuk cabut sesegera mungkin dari kantin karna…
"Oh? Jadi maksudmu aku susah diberi tahu begitu?"
"Memang."
"Dasar menyebalkan, kau pikir kau juga tidak sus—"
Kepala Jaemin ingin pecah rasanya.
.
.
.
Hari ini lapangan basket SMA NCT dipenuhi suara decitan sepatu dan pantulan bola. Bau keringat pun menguar bersamaan dengan oksigen yang silih berganti dengan karbon dioksida. Dua tim sedang asik memperebutkan bola oranye tanpa peduli dengan keadaan yang pengap dan bau. Disisi lapangan berdiri pelatih tim basket dan kaptennya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Lee Donghyuck.
"Sepertinya sudah cukup hari ini aku memantau kalian semua. Kerja bagus, Kapten. Sampaikan juga pada semuanya bahwa mereka sudah berlatih dengan baik. Aku harus pulang sekarang, karna ada acara yang harus kudatangi." Ujar pelatih sembari menepuk pelan pundak Donghyuck.
Donghyuck sendiri hanya mangut-mangut sambil terus menatap bawahannya berlatih, tidak peduli kalau pelatihnya pergi begitu saja. Ia terus memantau sampai pada akhirnya dilihatnya duo Jaemin dan Jeno berebut bola dan berakhir pada bola oranye itu menggelinding keluar lapangan, mengarah pada kaki Donghyuck yang dengan segera ia ambil..
"Sampai disini saja latihannya." Teriak Donghyuck yang disambut dengan dengusan napas dan suara tubrukan antara lantai lapangan dengan pantat dimana-mana.
Mark, iya ia tetap ikut latihan sekalipun masanya mengabdi pada tim ini sudah berakhir sejak ia memasuki kelas tiga, mengacak sedikit rambutnya yang basah karena keringat lalu berjalan menghampiri sang kekasih tercinta.
Donghyuck yang menyadari Mark menghampirinya, hanya menatap wajah datar Mark dengan malas. Mark yang disuguhi tatapan seperti itupun menghela napas lagi lalu mengibaskan sedikit poni Donghyuck dan mengecup kening Donghyuck cepat. Dahi Donghyuck sedikit berkerut.
"Apa-apaan?"
"Tidak apa-apa."
Donghyuck memutar bola matanya malas.
Huh bilang saja memang lagi ingin cium cium, batin Donghyuck.
Mark yang tidak memperdulikan reaksi Donghyuckpun melanjutkan kegiatan mari-mencium-lee-donghyuck dari pipi, hidung, mata, bahkan bibir.
"Kenapa sih Hyung? Aneh banget." seru Donghyuck sambil mendorong dada Mark pelan. Ia tak habis pikir kenapa Mark tiba-tiba menciumnya seperti tadi. Secara tak sadarpun, Donghyuck sudah memanggil Mark dengan panggilan sayangnya, tanda lelaki yang satu senti lebih pendek itu gugup.
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Kau hanya sangat manis saja kalau sedang serius seperti tadi. Untunglah aku membuat pilihan bagus dalam menyerahkan jabatan kaptenku dulu kepadamu." bisik Mark lembut.
"Kau kesambet hyung? Tiba-tiba manis seperti ini. Mau minta yang aneh-aneh ya? Ah! Kau mau pulang Bersama Yeri ya, makanya kau menjilatku seperti ini?! " seru Donghyuck terbata. Ia mengalihkan mukanya, karna ia menyadari sudah ada rona merah yang menjalar cepat pada kedua pipinya.
"Engga kok. Tapi kalau kau ingin dijilat, kita bisa lakukan dirumahku."
"Apa? Ya Mark L—"
Belum sempat Donghuyck menyelesaikan kalimatnya, sepasang bibir sudang terlebih dulu membungkamnya.
Sial, Mark Lee dan segala kehebatannya dalam berciuman membuat kaki Donghyuck lemas.
Setelah beberapa saat, Mark melepas pagutannya dan menatap Donghyuck.
"Ayo pulang, kau lelah kan? Nanti kita ke kedai es krim untuk membeli beberapa cup untukmu karena kau sudah bekerja keras, bagaimana?"
.
END
.
.
.
OMAKE
Jaemin, yang tadinya asik berebut bola dengan Jeno, terduduk lelah ditengah lapangan.
Tiba-tiba ada botol minuman yang digelindingkan kearahnya. Ia menatap kearah asal botol tadi yang melihat Jeno yang tengah tersenyum manis disana. Jaeminpun sedikit mendengus untuk menyembunyikan senyum yang terbentuk dibibirnya.
Saat sedang asik minum, ia melihat Mark yang berjalan kearah Donghyuck.
Yakin deh, setelah ini mereka pasti bertengkar. pikinya.Jaeminpun memutuskan untu tidak terlalu peduli lagi kepada sepasang kekasih itu dan memilih sibuk dengan minumannya.
"Itu Mark Hyung tumben cium-cium Hyuckie."
Perkataan Jeno barusan membuat Jaemin tersedak saat minum. Dengan Jeno yang menepuk punggungnya lembut, ia menatap kearah duo sahabatnya dan benar-benar menemukan Mark yang tengah mencium Donghyuck lembut. Lihat saja bagaimana cara Mark merengkuh tubuh Donghyuck dan bagaimana Donghyuck yang terlihat sekali menikmati permainan bibir Mark dari lengannya yang ia lingkarkan pada leher Mark. Tak sampai disitu saja, Jaemin juga menyaksikan bagaimana Mark yang tengah tersenyum lembut pada Donghyuck dan Donghyuck yang tersenyum malu-malu, menggenggam tangan kekasihnya itu untuk menuntunnya berjalan kearah loker.
"Apa-apaan?!" jerit Jaemin tertahan.
.
(Beneran) END
.
Hai kembali lagi dengan cerita gaje ini
Kemarin ini aku tulis dengan bahas informal btw, tapi karna kata kalian enakan ake formnal ya aku ganti dehh. Jadi kalo ngerasa ada yg aneh dengan ceritanya maap yaaa hahaha
Makasi untuk yang masih mau baca
