LIBRARY OF MARKHYUCK

Haechan berusaha keras menjelaskan pada Jeno jika ia dan Mark hanyalah sepasang sahabat, tak seperti Jeno dan Jaemin yang memang berselingkuh

Pairing: NoHyuck!breakup, Markhyuck (+nomin nyempil)

Warning: typo(s), OOC, a bit hurt, yaoi

DLDR, Happy Reading

Cr: foxpudu

.

.

.

Haechan menghela napasnya, lalu ditatapnya orang didepannya sekarang dengan tatapan datar. Ia sekarang hanya berhadapan dengan orang ini didalam ruang loker yang kosong. Sekolah sudah sangat sepi karena ini sudah lebih dari jam pulang sekolah, serta semua kegiatan ekskul juga sudah berakhir sedari tadi. Tapi Haechan masih harus disini, ia harus menyelesaikan permasalahn yang tengah melanda hubungannya denggan orang ada didepannya ini.

"Jadi alasan apa yang akan kau katakan sekarang? Tidak sengaja mencium Jaemin? Atau bibir Jaemin tengah terluka sehingga kau harus menciumnya agar luka itu sembuh? Kebohongan apa yang kali ini mau kau katakan Lee Jeno?"

Orang itu, Lee Jeno, hanya terdiam tak berkutik didepannya. Matanya bergerak liar tanda gugup, "Maafkan aku Haechan-ah. Tapi aku benar-benar khilaf. Aku dan Jaemin hanya berteman, aku berani bersumpah! Hanya saja,tadi—em tadi aku benar-benar kelepasan saja, namun tidak ada perasaan apa-apa"

Haechan mendengus geli mendengar alasan tidak masuk akal Jeno. Saat ini yang ingin dilakukannya hanyalah menangis dan berteriak dihadapan Jeno, menuntut penjelasan atas apa yang dilihatnya tadi. Tapi ia tak akan sudi memperlihatkan kelemahannya pada Jeno, tidak akan pernah. Ia akan berusaha keras untuk menahan sakit hatinya, sekalipun ia tahu sudah tidak ada harapan lagi atas hubungan yang sudah ia jalin bersama Jeno selama setahun ini.

"Khilaf hanya jika kau melakukannya sekali. Ini sudah yang ketiga kalinya aku melihatmu memperlakukan Jaemin lebih dari teman, pertama kalian pergi hanya berdua tanpa memberitahuku, lalu kau meninggalkanku sendiri tanpa alasaan ketika kita berkencan hanya karena ia menelponmu, dan sekarang kalian berciuman, dan itu tepat dibibir. Aku akan menjadi manusia paling tolol jika aku kembali memaafkanmu. Kita akhiri saja." Seru Haechan final. Yang ingin dilakukan haechan sekarang hanyalah pulang, menyelimuti tubuhnya dengan berlapis-lapis selimut, lalu menangis sampai ia tertidur, berharap semua sakit yang dirasakan dihatinya sekarang segera menghilang.

"Kau memperlakukanku seperti ini seolah kau tidak sama Lee Haechan. Kau pikir hubunganmu dengan Mark itu kau anggap apa, hah? Kau juga sama! Kalian sering pergi hanya berdua lalu melakukan skinship seperti memeluk dan memegang tangan. Aku pernah protes? Tidak! Kenapa? Karna aku percaya padamu, tapi kau tak percaya padak—"

"Ya, tentu berbeda bodoh! Tidak pernah sekalipun aku pergi dengan Mark tanpa memberitahumu! Malah aku hanya pergi dengan Mark saat aku menginginkan pergi kesuatu tempat tapi kau tak bisa menemaniku! Mark hanyalah sahabatku, dan kau tau itu!" potong Haechan emosi. Oh ayolah, yang sedang jadi tersangka disini adalah Jeno tapi bisa-bisanya ia mengalihkan topik hingga membuat Haechan menjadi seorang tersangka juga.

"Justru karena itu! Aku juga berkata padamu kalau Jaemin hanya temanku, tapi kau malah menuduhku macam-macam padahal yang kulakukan dengan Jaemin sama saja denganmu dan Mark!" ucap Jeno balik. Haechan mengatupkan bibirnya emosi, tak menyangka Jeno bisa sebodoh ini.

"Apa kau pernah melihatku mencium Mark? Apa aku pernah meninggalkanmu demi Mark?! Kutanya sekali lagi Jeno, apa aku pernah melakukan itu?!" jerit Haechan. Kepalanya sudah sangat pusing, dan ruangan loker basket sangat pengap.

"Sudahlah Haechan-ah, bilang saja kau ingin mengakhiri ini karena ingin segera menjadi milik Mark kan? Dasar jalang."

Badan Haechan mendadak mematung mendengar ucapan Jeno. Matanya memanas mendengar tuduhan jahat Jeno yang dilayangkan padanya. Perlahan tapi pasti buliran air mata mulai terjatuh dari mata indah Haechan. Pertahanannya roboh sudah.

"T-tidak begitu, berhenti menuduhku." Ucap Haechan terbata disela isakan yang mulai lolos dari balik bibirnya.

"Kenapa menangis, huh? Tidak terima dengan kenyataan kalau kau juga sama denganku? Ya biar kau tahu saja aku memang berselingkuh dengan Jaemin. Puas?"

Isakan Haechan semakin keras terdengar setelahnya. Ia memang sudah memprediksi hal ini, tapi untuk mendengarnya langsung dari bibir Jeno terasa sangat menyakitkan.

"Jahat." Bisik Haechan. Jeno sendiri malah tertawa mendengar bisikan Haechan.

"Aku jahat? Berkacalah Lee Haechan, kau juga tak lebih baik dari aku. Setidaknya aku sudah mengaku padamu kalau aku memang berselingkuh. Tapi kau? Apa kau masih akan bertahan dengan argument Mark hanyalah sahabatmu?! Siapa yang paling jahat disini hah?!" bentak Jeno.

Seumur-umur tak pernah sekalipun Jeno membentak Haechan. Jeno yang Haechan kenal adalah sosok ramah nan lembut, Jeno yang mencintainya dan tidak mungkin menyakitinya, yang membuat pemuda bersurai coklat itupun jatuh hati pada Jeno hingga pada akhirnya mereka bisa menjalin sebuah hubungan khusus. Tapi kemana Jenonya yang dulu itu?

"Demi Tuhan, Mark hanyalah sahabatku tak lebih. Kumohon berhenti menuduhku." Isak Haechan. Iapun sudah tidak kuat menahan bobot badannya, yang akhirnya membuatnya jatuh terduduk dilantai.

"Berhenti menangis seperti bayi, kau tidak pan—"

"Lee Jeno, hentikan."

Jeno membeku ditempatnya kala mendengar suara yang dikenalnya milik Mark, sebelum tertawa remeh.

"Ah Haechan-ahh, lihat! Pahlawanmu datang."

Haechan masih sibuk terisak namun ia bisa melihat bagaimana tangan Mark yang terkepal erat.

"Kubilang hentikan Lee Jeno. Sebelum aku menghancurkan wajahmu lebih baik kau pergi dari sini, dan pulanglah. Lagipula selingkuhanmu itu sudah menanyakanmu diluar sana."

Wajah Jeno mengeras mendengar perkataan Mark, namun ia tetap pergi dari sana setelah memberikan tawa sinis pada Haecahn yang masih menangis sesenggukan.

"Chan-ah."

Mark menghampiri Haechan lalu merengkuh sosok itu kedalam pelukan hangat miliknya. Haechan kembali terisak keras sembari meracau hal-hal seperti 'Jeno selingkuh, tapi aku tidak.' ,'Mark itu sahabatku saja.', dan 'Aku bukan seorang jalang.'. Mark yang memang mendengar semua perdebatan keduanya dari balik pintupun paham maksud dari Haechan. Ia sedikit menyesal karena tidak langsung menghentikan perdebatan Haechan dengan mantan kekasihnya tadi kala Jeno sudah mulai menaikkan nada suaranya pada Haechan. Sekarang menyesalpun sudah tidak ada artinya, jadi yang Mark lakukan hanyalah memeluk Haechan erat sembari membisikkan kata-kata manis pada telinga orang yang paling disayanginya itu.

Hampir setengah jam mereka tetap pada posisi mereka dan akhirnya isakan milik Haechan sudah berganti dengan napas teratur dari pria bersurai coklat itu. Mark tersenyum teduh lalu mengangkat badan Haechan lembut, seolah yang ia angkat adalah sebuah barang yang mudah hancur.

Perjalanan menuju mobil milik Mark yang terparkir dihalaman sekolah berlangsung singkat. Mark langsung memasukkan Haechan pada mobilnnya, meyakinkan dirinya agar Haechan sudah duduk nyaman dibalik selimut yang tadi ia ambil dari kursi belakang mobilnya. Barulah setelahnya Mark masuk kedalam kursi pengemudi.

"Terima kasih."

Mark menolehkan wajahnya pada Haechan yang sudah menyamankan dirinya pada selimut yang disampirkan Mark tadi.

"Tidak apa. Tidur saja, nanti sampai rumahmu kubangunkan."

"Tidak, terima kasih karena kau disini. Terima kasih juga karena kau sudah mengusir Jeno."

Mark tersenyum sedih. Tangannya ia ulurkan untuk mengelus pelan surai lembut milik Haechan. Ketika didengarnya kembali napas teratur milik Haechan, barulah ia mulai menjalankan mobilnya.

Sesampainya didepan rumah Haechan tak membuat Mark langsung membangunkannya. Yang dilakukannya hanyalah menatapi Haechan yang tengah tertidur pulas. Titik-titik air mata masih membekas dipipinya. Mark sangat tergoda untuk mengusapnya, namun ia takut membangunkan pemuda itu sehingga diurungkannya niatnya tadi.

"Maaf karena aku tidak bisa melindungimu dari Jeno."

Kalau ditanya jujur, Mark sangat menyesal tidak langsung membawa Haechan pulang sesaat keduanya memergoki Jeno dan Jaemin yang asik memakan wajah masing-masing setelah latihan rutin basket tadi. Namun karena segala bujuk rayu Haechan, serta rasa percayanya pada Jeno bahwa pemuda itu tak akan mungkin menyakiti Haechan, membuat Mark membiarkan keduanya berbicara.

Yang tak disangkanya adalah Jeno yang malah semakin menyakiti Haechan. Giginya bergemelutuk setiap kali diingatnya kata-kata Jeno di ruang loker tadi. Haechan tidak pantas mendapatkan hal menyakitkan seperti ini. Yang boleh Haechan rasakan hanyalah kebahagiaan, dan itulah tekad Mark mulai sekarang. Ia tak akan lagi memberikan Haechannya pada orang lain. Biarlah hanya ia saja yang akan membahagiakan Haechan, membuatnya lupa dengan Jeno.

Tangan Mark menyingkap lembut poni milik Haechan yang terjatuh dikeningnya, lalu dikecupnya lama kening Haechan.

"Aku sangat menyayangimu sahabatku."

.

END(?)

.

Zonk banget gasi wkwkwk

Dibikin sequelnya gak nih biar naik pangkat jadi pacar, atau biarin sahabat aja mereka? Wkwk

Btw kalian Sukanya pake haechan atau donghyuck? Ku labih nih

Btw (lagi) makasii yang sudah baca dan meninggalkan jejaknya disiniii hihihi

Btw (lagi) (lagi) makasi buat sarannya yang nyuruh aku pindahin ini ke watty, sebenernya ini awalnya mau aku pub di watty, tapi aku gaenak soalnya cerita markhyuck aku belum bisa aku selesaiin karna lupa jalan ceritanya HAHAHA yauda jadinya aku pub disini deh ceritanya~